Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
KARIR LINTAS BATAS ORGANISASIONAL DAN KECOCOKAN KARIR (BOUNDARYLESS CAREER AND CAREER FIT)
The purpose of this paper is to give a bridge in understanding the relationship between boundaryless careers and organizational or individual outcomes. Career fit is assumed to have closer relationship with boundaryless career before we can further explain those outcomes. This relationship is explained by using organizational and individual perspectives both externally and internally in four types of boundaryless careers (i.e., internal psychological, internal enacted, external psychological, and external enacted), and by considering individual characteristics (i.e.,knowledge worker and non-knowledge worker). Two propositions are offered, first, knowledge worker is more suitable (has career fit) with organizational career process focusing on external boundaries, second, non-knowledge worker is more fit with organizational career process focusing on internal boundaries. Both internal and external orientation will require HR to have relevant practices and policies to support those fit.The purpose of this paper is to give a bridge in understanding the relationship between boundaryless careers and organizational or individual outcomes. Career fit is assumed to have closer relationship with boundaryless career before we can further explain those outcomes. This relationship is explained by using organizational and individual perspectives both externally and internally in four types of boundaryless careers (i.e., internal psychological, internal enacted, external psychological, and external enacted), and by considering individual characteristics (i.e.,knowledge worker and non-knowledge worker). Two propositions are offered, first, knowledge worker is more suitable (has career fit) with organizational career process focusing on external boundaries, second, non-knowledge worker is more fit with organizational career process focusing on internal boundaries. Both internal and external orientation will require HR to have relevant practices and policies to support those fit
Analisis Beban Kerja Fisik dan Mental Pada Operator Contact Center (Studi Kasus : PT. XYZ Samarinda)
The work requirements of the contact center operator in PT. XYZ Samarinda to always be friendly to customers in any circumstances and have to focus on work is likely to cause mental workload. In addition, the contact center operator must work monotonously by sitting in front of the computer within 8 hours can cause physical workload. Based on these problems, a study was conducted on the analysis of physical and mental workload on the contact center operators so that recommendations could be given to improve productivity and comfort while working. Measurement of physical workload is done using the %CVL measurement method at work. While the measurement of mental workload was carried out using the NASA-TLX method by distributing questionnaires to 9 contact center operators for 10 days. The results showed that the average physical workload of contact center operators was 13.5%. These results indicate that the physical workload of contact center operators is included in the low category, which means there is no significant burden. While the average mental workload of contact center operators is 65. Based on these results, the mental workload value of contact center operators is in the moderate category. Recommendations for improvements that can be given are doing the right way to sit, making improvements to the layout of the air conditioner so that the work environment becomes comfortable and using an ergonomic work chair. In addition it is necessary to build a good relationship that is by understanding the communication style between workers so that misunderstandings cannot be occur, conduct small celebrations, recreation, and hold ESQ Training to balance emotions and intelligence.Tuntutan perkerjaan operator contact center PT. XYZ Samarinda untuk selalu ramah kepada pelanggan dalam keadaan apapun dan harus fokus dalam bekerja kemungkinan dapat menimbulkan beban kerja mental. Selain itu operator contact center harus bekerja monoton dengan keadaan duduk di depan komputer dalam waktu 8 jam dapat saja menimbulkan beban kerja fisik. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai analisis beban kerja fisik dan mental pada operator contact center sehingga dapat diberikan rekomendasi perbaikan untuk meningkatkan produktivitas dan kenyamanan saat bekerja. Pengukuran beban kerja fisik dilakukan menggunakan metode pengukuran %CVL pada saat bekerja. Sedangkan pengukuran beban kerja mental dilakukan menggunakan metode NASA-TLX dengan membagikan kuesioner kepada 9 operator contact center selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata beban kerja fisik operator contact center adalah 13,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa beban kerja fisik operator contact center termasuk kategori ringan yang artinya tidak terjadi pembebanan yang berarti. Sedangkan rata-rata beban kerja mental operator contact center adalah 65. Berdasarkan hasil tersebut maka nilai beban kerja mental operator contact center dalam kategori sedang. Rekomendasi perbaikan yang dapat diberikan antara lain melakukan cara duduk yang benar, melakukan perbaikan tata letak AC agar lingkungan kerja menjadi nyaman dan menggunakan kursi kerja ergonomis. Selain itu perlu dibangun hubungan yang baik yaitu dengan memahami gaya komunikasi antar pekerja agar tidak terjadi kesalahpahaman, melakukan perayaan kecil, berolahraga atau berekreasi bersama, dan mengadakan Training ESQ untuk menyeimbangkan emosi dan kecerdasan
Optimasi Ekstraksi Fenolik Daun Legetan Warak (Adenostemma Lavenia (L.) Kuntze) Berbantu Gelombang Mikro
Legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) is a wild plant which has phenolic compounds and widely used as a natural antibacterial ingredient. The purpose of this study is to obtain the optimum condition of solvent concentration, microwave power and extraction time that appropriate with characteristic of phenolic compounds of leaf of Legetan warak.
This experimental laboratory study developed a microwave asissted extraction method. The solvent concentrations which were tested are ethanol 50%, 60%, 70%, 80% and 90% in various extraction times, 1 minute, 3 minute, 5 minute and 9 minute. Meanwhile, the microwave powers which were used are 100 watt, 150 watt, 200 watt, 300 watt and 400 watt.
The results showed that the optimum condition of microwave asissted extraction process of leaf of the Legetan warak used ethanol 80% as the solvent with the microwave power 200 watt and the extraction time 5 minute.Legetan warak (Adenostemma lavenia (L.) Kuntze) adalah tumbuhan liar yang memiliki komponen fenolik dan mampu berfungsi sebagai antibakateri alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan konsentrasi pelarut, daya gelombang mikro dan waktu ekstraksi yang sesuai dengan karakteristik senyawa-senyawa fenolik daun legetan warak.
Penelitian ini mengembangkan metode ekstraksi gelomang mikro (Microwave asissted extraction). Konsentrasi pelarut yang diuji adalah etanol 50%, 60%, 70%, 80% dan 90% dengan waktu ekstraksi 1 menit, 3 menit, 5 menit dan 9 menit. Sedangkan daya microwave yang digunakan adalah 100 watt, 150 watt, 200 watt, 300 watt dan 400 watt.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses ekstraksi daun legetan warak berbantu gelombang mikro yang paling optimum adalah dengan pelarut etanol 80% dengan daya microwave 200 watt dan waktu ekstraksi selama 5 menit
Destik Wulandari PEMANFAATAN TANAMAN HERBAL SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN KRIM ANTI STRETCHMARK UNTUK MENGHILANGKAN GURATAN PADA KULIT DAN PELATIHAN PEMBUATANNYA SEBAGAI UPAYA PERINTISAN HOME INDUSTRY
Antistretchmark cream is a pharmaceutical preparation of cream used to treat skin problems in the form of stretch marks. Antistretchmark cream that will be made using active ingredients derived from plants, one of which is rose extract, vitamin E and Aloe vera extract which serves to disguise strokes and soften the skin. The purpose of this devotion is to provide counseling about stretchmark and the negative impacts it cause and to provide manufacture training of antistretchmark cream for RW 21 Nusukan Village community.
The method used in this devotion is the implementation of PPM is carried out by providing counseling, training and the provision of tools and materials for production. The target of PPM partners is a group of housewives in RW 21, Nusukan Village, Banjarsari, Surakarta.
The benefits of this devotion program is increasing public knowledge about stretchmark and natural ingredients that can be used to remove stretch marks. Another benefit is increased ability of the community to make antistretchmark using simple tools and ingredientsKrim anti stretchmark adalah suatu sediaan farmasi yang berbentuk krim yang digunakan untuk mengatasi masalah kulit yang berupa stretchmark. Krim anti stretchmark yang akan dibuat mengggunakan bahan aktif yang berasal dari tumbuhan salah satunya adalah ekstrak mawar, vitamin E dan ekstrak Aloe vera yang berfungsi untuk menyamarkan guratan dan memperhalus kulit. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan mengenai stretchmark dan dampak negative yang ditimbulkannya serta memberikan pelatihan pembuatan krim anti stretchmark kepada masyarakat RW 21 Kelurahan Nusukan.
Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah dengan pelaksanaan PPM ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pemberian alat dan bahan untuk produksi. Target mitra PPM ini adalah kelompok ibu-ibu rumah tangga di Wilayah RW 21 Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Surakarta.
Manfaat dari program pengabdian ini adalah bertambahnya pengetahuan masyarakat mengenai stretchmark dan bahan-bahan alamiah yang dapat digunakan untuk menghilangkan stretchmark. Manfaat lainnya adalah meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membuat krim anti stretchmark dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana
Adhie Tri Wahyudi PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK PADAT DAN PUPUK CAIR
PKK di RW 24, Bibis Baru, Kelurahan Kadipiro merupakan mitra pengabdian, sebagai produsen sampah setiap hari. Potensi sampah organik rumah tangga yang cukup besar, yaitu 100 Kg/ hari yang belum terolah dengan baik. Agar sampah tidak dibuang ke sungai Anyar, yang melewati kampong RW 24 Bibis Baru, maka diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat, agar mampu mengelola sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos. Tujuan utama pengabdian ini, warga RW 24 tidak lagi membuang sampah ke sungai anyar atau membakar sampah yang berakibat polusi.
Metode pelaksanaan kegiatan untuk memberikan solusi terkait sampah organik, dengan memberikan edukasi, pelatihan dan bantuan peralatan (komposter) untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk cair dan padat. Kegiatan dilakukan secara bertahap selama 3 bulan, termasuk melakukan pendampingan, monitoring dan evaluasi.
Pengabdian ini telah berhasil memberikan edukasi bahwa sampah organik dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat, yang dapat dimanfaat oleh warga untuk tanaman. Pendampingan yang telah dilakukan terhadap kelompok PKK, menjadikan masyarakat setempat mampu memproduksi pupuk cair dan padat dari sampah yang dihasilkan. Masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai Anyar.PKK di RW 24, Bibis Baru, Kelurahan Kadipiro merupakan mitra pengabdian, sebagai produsen sampah setiap hari. Potensi sampah organik rumah tangga yang cukup besar, yaitu 100 Kg/ hari yang belum terolah dengan baik. Agar sampah tidak dibuang ke sungai Anyar, yang melewati kampong RW 24 Bibis Baru, maka diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat, agar mampu mengelola sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos. Tujuan utama pengabdian ini, warga RW 24 tidak lagi membuang sampah ke sungai anyar atau membakar sampah yang berakibat polusi.
Metode pelaksanaan kegiatan untuk memberikan solusi terkait sampah organik, dengan memberikan edukasi, pelatihan dan bantuan peralatan (komposter) untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk cair dan padat. Kegiatan dilakukan secara bertahap selama 3 bulan, termasuk melakukan pendampingan, monitoring dan evaluasi.
Pengabdian ini telah berhasil memberikan edukasi bahwa sampah organik dapat diolah menjadi pupuk cair dan padat, yang dapat dimanfaat oleh warga untuk tanaman. Pendampingan yang telah dilakukan terhadap kelompok PKK, menjadikan masyarakat setempat mampu memproduksi pupuk cair dan padat dari sampah yang dihasilkan. Masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai Anyar
PEMANFAATAN LIMBAH CAIR TAHU SEBAGAI UPAYA SANITASI LINGKUNGAN DI SEKITAR UKM TAHU TEMPE DAERAH KRAJAN KALURAHAN MOJOSONGO KECAMATAN JEBRES
UKM industri Tahu daerah Mojosongo, memiliki masalah, melimpahnya limbah cair yang dihasilkan pada produksi, yang tidak dikelola dengan baik. Limbah cair tersebut mengandung asam cuka dan senyawa organik yang terlarut. Limbah cair langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan dan bermuara di sungai. Dampaknya menyebabkan bau tidak sedap. Salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran air dan meningkatkan nilai ekonomis limbah cair tahu, dengan merubahnya menjadi produk bermanfaat, seperti nata de soya. Pengabdian Bagi Masyarakat (IbM) Perajin tahu dilaksanakan dengan tujuan yaitu melakukan pelatihan dan pendampingan ibu-ibu PKK RW 3 di UKM industri tahu Krajan Mojosongo, Jebres, Surakarta, untuk membuat nata de soya dari limbah cair tahu . Meningkatkan pengetahuan tentang sanitasi lingkungan kerja dan kesehatann keselamatan Kerja . Tujuan jangka panjang pengabdian adalah mengurangi pencemaran air dan meningkatkan nilai ekonomi limbah cair tahu, serta pemberdayaan perempuan. Sasaran dalam pelaksanaan PKM adalah: UKM Perajin Tahu. UKM mendapatkan pendampingan pemanfaatan limbah cair industri tahu dengan produksi Nata de Soya, pengetahuan sanitasi lingkungan. Metode pengabdian adalah melakukan identifikasi masalah, melakukan pelatihan, pendampingan dan pemberian peralatan proses produksi nata de soya. Penyuluhan PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ), monitoring dan evaluasi unjuk kerja, evaluasi hasil kerja mengukur tingkat keberhasilan program sebelum dan sesudah pengabdian. Hasil pengabdian nata de soya dapat dipanen setelah 7-14 hari Rendemen nata de soya yang dihasilkan sebesar 40% dari total larutan, dengan ketebalan 1,4 cm. Nata de soya dapat dipanen setiap hari dengan rancangan tahapan secara kontinu. Tingkat pemahaman peserta pelatihan dan penyuluhan sebesar 73%, dan hasil analisis statistik menggunakan T Test menunjukkan ada beda nyata setelah dilakukan pelatihan dan penyuluhan..UKM industri Tahu daerah Mojosongo, memiliki masalah, melimpahnya limbah cair yang dihasilkan pada produksi, yang tidak dikelola dengan baik. Limbah cair tersebut mengandung asam cuka dan senyawa organik yang terlarut. Limbah cair langsung dibuang ke dalam saluran pembuangan dan bermuara di sungai. Dampaknya menyebabkan bau tidak sedap. Salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran air dan meningkatkan nilai ekonomis limbah cair tahu, dengan merubahnya menjadi produk bermanfaat, seperti nata de soya. Pengabdian Bagi Masyarakat (IbM) Perajin tahu dilaksanakan dengan tujuan yaitu melakukan pelatihan dan pendampingan ibu-ibu PKK RW 3 di UKM industri tahu Krajan Mojosongo, Jebres, Surakarta, untuk membuat nata de soya dari limbah cair tahu . Meningkatkan pengetahuan tentang sanitasi lingkungan kerja dan kesehatann keselamatan Kerja . Tujuan jangka panjang pengabdian adalah mengurangi pencemaran air dan meningkatkan nilai ekonomi limbah cair tahu, serta pemberdayaan perempuan. Sasaran dalam pelaksanaan PKM adalah: UKM Perajin Tahu. UKM mendapatkan pendampingan pemanfaatan limbah cair industri tahu dengan produksi Nata de Soya, pengetahuan sanitasi lingkungan. Metode pengabdian adalah melakukan identifikasi masalah, melakukan pelatihan, pendampingan dan pemberian peralatan proses produksi nata de soya. Penyuluhan PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ), monitoring dan evaluasi unjuk kerja, evaluasi hasil kerja mengukur tingkat keberhasilan program sebelum dan sesudah pengabdian. Hasil pengabdian nata de soya dapat dipanen setelah 7-14 hari Rendemen nata de soya yang dihasilkan sebesar 40% dari total larutan, dengan ketebalan 1,4 cm. Nata de soya dapat dipanen setiap hari dengan rancangan tahapan secara kontinu. Tingkat pemahaman peserta pelatihan dan penyuluhan sebesar 73%, dan hasil analisis statistik menggunakan T Test menunjukkan ada beda nyata setelah dilakukan pelatihan dan penyuluhan.
Karakteristik Kelompok Pendukung ASI dengan Kelancaran ASI
Giving ASI is the basic capital of forming a quality human being where this process starts at an early age, especially if the mother gives her ASI exclusively. Exclusive breastfeeding is carried out from birth to a 6 month old baby without other food or drinks. The coverage of exclusive 6 months breastfeeding in Indonesia is still far from the world average of 38%. This study aims to determine the characteristics of KP-ASI with the smooth operation of breast milk in Gayaman Village, Mojoanyar District. This study uses analytical survey methods with a correlational research design. Data collection method with cross sectional approach. The population in the study were breastfeeding mothers who had babies 0-6 months as many as 25 people. The results showed that from several characteristics there were 3 characteristics that influence the smoothness of breastfeeding, namely the characteristics of the number of children, education and sources of information, where each characteristic had a value of p value <0.05. While the characteristics of age and work are not related to the smooth operation of breast milk. Counseling from health workers needs to be improved in nursing mothers since pregnancy, especially in the third trimester. Support from the family and the environment is also needed so that nursing mothers feel calm, comfortable during the nursing process.Pemberian ASI adalah modal dasar pembentukan menjadi manusia yang berkualitas dimana proses ini dimulai sejak usia dini terutama jika ibu memberikan ASI secara eksklusif. Pemberian ASI eksklusif dilakukan sejak bayi lahir sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diselingi makanan atau minuman yang lain. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata dunia yaitu 38% Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Kelompok Pendukung Air Susu Ibu (KP-ASI) dengan kelancaran ASI di Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar. Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan rancangan penelitian korelasional. Metode pengambilan data dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan sebanyak 25 orang. Hasil penelitian menunjukkan dari beberapa karakteristik ada 3 karakteristik yang berpengaruh terhadap kelancaran ASI, yaitu karakteristik jumlah anak, pendidikan dan sumber informasi, dimana masing-masing karateristik terdapat nilai p value < 0,05. Karakteristik usia dan pekerjaan tidak berhubungan dengan kelancaran ASI. Penyuluhan dari tenaga kesehatan perlu ditingkatkan pada ibu menyusui sejak hamil terutama trimester III. Dukungan dari pihak keluarga dan lingkungan juga diperlukan agar ibu menyusui merasa tenang, nyaman selama proses penyusui berlangsung
Identifikasi Entamoeba hystolitica dan Balantidium coli pada Lalat di Pasar Legi Surakarta
Flies is one of the insects belonging to the Diptera Order whose presence can disturb human tranquility and as a mechanical vector of disease transmission. The habit of flies that like dirty places like markets that cause all the body parts of flies can easily carry intestinal protozoa type parasites on the body such as Entamoebahistolytica, Entamoeba coli, Giardia lamblia, and Balatidium coli. Some species of Flies receive considerable attention in health. Diseases that are usually transmitted flies include cholera, diarrhea, dysentery, typhus, and digestive diseases.The research was conducted at Parasitology Laboratory of Faculty of Health Sciences Setia Budi University, Surakarta. The sample used was 40 samples consisting of 20 samples of Muscadomestica and 20 samples of Chrysomyamegachepala. Identification of Entamoeba hystolitica, Balantidium coli in flies was performed by sedimentation method using NaCllauratan 0.9% and then microscopic observation. Based on identification result of Entamoeba hystolitica dan Balantidium coli on flies Muscadomestica and Chrysomya megacephala obtained in Legi Market, Surakarta found 1 Entamoeba histolytica cyst in Muscadomestica with percentage of 5% and 2 Trofozoit Balantidium coli at Chrysomyamegacephala with percentage 10%.Lalat merupakan salah satu serangga yang termasuk ke dalam Ordo Diptera yang kehadirannya dapat mengganggu ketentraman manusia dan sebagai vector mekanik penularan penyakit. Kebiasaan lalat yang menyukai tempat-tempat kotor seperti pasar yang menyebabkan semua bagian tubuh lalat dapat dengan mudah membawa parasit jenis protozoa usus pada tubuhnya seperti Entamoebahistolytica, Entamoeba coli, Giardia lamblia, dan Balatidium coli. Beberapa spesies Lalat mendapat perhatian cukup tinggi di bidang kesehatan. Penyakit-penyakit yang biasanya ditularkan lalat antara lain kolera, diare, disentri, tifus, dan penyakit pencernaan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi, Surakarta. Sampel yang digunakan sebanyak 40 sampel yang terdiri dari 20 sampel Musca domestica dan 20 sampel Chrysomya megachepala. Identifikasi Entamoeba hystolitica dan Balantidium coli pada lalat dilakukan dengan metode sedimentasi yang menggunakan lauratan NaCl 0,9% dan kemudian dilakukan pengamatan secara mikroskopis. Berdasarkan hasil identifikasi Entamoeba hystolitica dan Balantidium coli pada tubuh lalat Muscadomestica danChrysomyamegacephala yang diperoleh di Pasar Legi, Surakarta ditemukan 1 kista Entamoeba histolytica pada Musca domestica dengan prosentase 5% dan 2 Trofozoit Balantidium coli pada Chrysomya megacephala dengan prosentase 10%
PENURUNAN JUMLAH SEL SPERMATOSIT PRIMER DAN SEL SPERMATID TUBULUS SEMINIFERUS MENCIT (Mus musculus) YANG DIBERI EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Plucea indica Less)
ABSTRAK
Kepadatan penduduk menjadi masalah serius yang dihadapi oleh Indonesia. Angka pertumbuhan penduduk yang tinggi, mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu solusi untuk masalah ini yaitu dengan memanfaatkan ekstrak daun beluntas (P. indica Less) sebagai penghambat proses spermatogenesis pada mencit. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit jantan yang dikelompokkan kedalam 5 kelompok dengan 5 kali ulangan. Ekstrak daun beluntas (P. indicaLess) diberikan dengan dosis 12,5 mg/kg bb, 62,5 mg/kg bb, 125 mg/kg bb, 187,5 mg/kg bb dan kontrol. Setelah 36 hari pemberian ekstrak daun beluntas, mencit dibedah dan diambil testisnya serta di hitung jumlah sel spermatosit primer dan sel spermatid. Data di analisis menggunakan ANOVA satu arah, bila hasil analisis diperoleh nilai Fhitung > Ftabel 1 % maka dilanjutkan uji BNT dengan taraf signifikan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun beluntas mampu menurunkan jumlah sel spermatosit primer, spermatid. Dosis yang paling baik dalam penelitian ini adalah 187,5 mg/kg bb.
Kata kunci: Ekstrak daun beluntas, Spermatosit primer, Spermatid, Mus musculu
AKTIVITAS PENURUNAN PARASITEMIA EKSTRAK KULIT BATANG MUNDU SEBAGAI ANTIPLASMODIUM SECAR in vivo DENGAN PARAMETER ED50
Abstrak
Pengobatan malaria di Indonesia saat ini di beberapa daerah masih menggunakan obat standar kloroquin dengan dosis 600 mg hari pertama dan kedua serta 300 mg hari ketiga. Efektivitas pemberian kloroquin saat ini sudah mulai diragukan karena telah banyak ditemukan resistensi terhadap obat ini. Salah satu usaha menemukan antimalaria baru adalah melalui penelitian terhadap tanaman obat yang digunakansecara tradisional oleh masyarakat untuk mengobati malaria. Tanaman mundu termasuk familia garcinia, Marga Garnicia diketahui kaya kandungan senyawa xanton dan menunjukkan aktivitas biologi termasuk antimalaria (Merza, et al.,).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiplasmodium ekstrak etil asetat kulit batang mundu. Ekstraksi diperoleh secara maserasi bertingkat dengan pelarut n heksan dan etil asetat. Uji aktivitas antiplasmodium dilakukan secara in vivo pada mencit jantan galur Swiss yang diinduksi Plasmodium berghei dengan parameter pengujian persentase parasitemia, persentase penghambatan parasitemia dan penentuan dosis efektif 50% (ED50) menggunakan metode The 4-daySuppresive Test (Peters, 1970). Dosis yang diberikan ke hewan uji untuk ekstrak etil asetat kulit batang mundu yaitu 12,5; 25; 50; 100 mg/gr BB mencit Swiss. Dosis tablet klorokuin 5 mg/kg bb didapatkan 0.91 mg/ 20g bb dan sebagai kontrol normalCMC 0.5%. Pengujian aktivitas antiplasmodium ekstrak etil asetat kulit batang mundu diperoleh dosis ED50 adalah 5,01 mg/kg BB. Berdasarkan data tersebut, ekstrak etil asetat kulit batang mundu memiliki aktivitas antiplasmodium.
Keywords: Antiplasmodium, ED50, Kulit batang mundu, etil aseta