Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
892 research outputs found
Sort by
Anaisis Faktor-Faktor Penentu Niat Menggunakan Kembali Aplikasi Go-Med
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel kualitas layanan pada niat menggunakan kembali aplikasi Go-Med. Niat menggunakan kembali aplikasi Go-Med disebabkan oleh kualitas layanan dalam menggunakan aplikasi Go-Med. Kualitas layanan memberikan dampak pada niat menggunakan kembali aplikasi Go-Med. Data diperoleh melalui kuisioner yang dibagikan kepada masyarakat Kota Surakarta yang sudah pernah menggunakan aplikasi Go-Med. sampel yang digunakan berjumlah 200. Teknik penyampelan yang digunakan adalah purpose sampling. Uji hipotesis dilakukan dengan analisa SEM (Structural Equation Modeling) dengan metode analisis jalur. Hasil dalam penilitian ini menunjukkan bahwa seluruh hipotesis terdukung. Hubungan kualitas layanan berpengaruh positif pada niat menggunakan kembali aplikasi Go-Med. Variabel kenyamanan akses berpengaruh tehadap kualitas layanan. keamanan berpengaruh pada kualitas layanan. Variabel kompatibilitas berpengaruh positif pada kualitas layana
Analisis Risiko Ergonomi Menggunakan Agricultural Whole-Body Assessment (AWBA) serta Prevalensi Terjadinya Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Petani Karet
Likewise in most agricultural work, MSDs also appears in rubber farmers because it was done with an unusual posture. This study aimed to evaluate the prevalence of MSD and to analyze the ergonomic risk of rubber farmers working posture. The NBM (Nordic Body Map) method was used to measure the prevalence of MSDs and the AWBA (Agricultural Whole-Body Assessment) method was used to calculate the risk value of the farmer's work posture. Data collected by interview and direct observation to 15 rubber farmers from 4 different plantation in Perangat Selatan Village, Kutai Kartanegara, East Kalimantan. The results showed that majority of farmers had complaints of MSDs on their waist, back, right shoulder, right upper arm, right forearm and knee. AWBA results indicated that 53% working posture categorized as high risk; 40% as medium risk and 7% as safe. The safe category only occurs in sharpening knives activity, because farmers sit while doing this activity. Suggested improvements to minimize the risk of unusual postures are to provide assistive devices such as light chairs, strollers, tables to place rubber sap to be put into sacks and to improve the design of the tapping knife. The knife should have longer handle in order to minimize the bending down posture in rubber tapping activity.
Keywords: AWBA, ergonomic, NBM, rubber farmers, working postureSeperti halnya pada bidang pertanian yang lain, MSDs juga terjadi pada petani karet karena sebagian besar pekerjaannya dilakukan dengan postur tubuh yang janggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi prevalensi MSDs dan menilai resiko ergonomi pada postur kerja petani karet. Metode NBM (Nordic Body Map) digunakan untuk mengukur prevalensi MSDs dan metode AWBA (Agricultural Whole-Body Assessment) digunakan untuk menghitung nilai resiko postur kerja pada semua aktivitas petani karet mulai dari persiapan alat, panen, pengemasan dan perawatan kebun. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan observasi pada 15 petani dari 4 perkebunan karet yang berbeda di Desa Perangat Selatan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata petani karet mempunyai keluhan sakit MSDs pada pinggang dan keluhan agak sakit pada punggung, bahu kanan, lengan atas kanan, lengan bawah kanan, telapak tangan kanan, lutut kanan dan lutut kiri. Evaluasi resiko postur kerja petani karet dengan menggunakan metode AWBA, menunjukkan 53% postur kerja dari aktvitas-aktivitas petani karet termasuk kategori risiko tinggi, 40% risiko agak tinggi dan 7% aman. Kategori aman hanya terjadi pada satu aktivitas yaitu pengasahan pisau dimana petani duduk saat melakukan aktivitas ini. Perbaikan yang disarankan untuk meminimalkan risiko postur yang tidak biasa adalah dengan menyediakan alat bantu seperti kursi ringan, kereta dorong, meja untuk menempatkan getah karet untuk dimasukkan ke dalam karung dan memperbaiki desain pisau sadap. Pisau harus memiliki pegangan yang lebih panjang untuk meminimalkan postur membungkuk dalam aktivitas penyadapan karet.
Kata kunci: AWBA, ergonomi, NBM, petani karet, postur kerj
PENGARUH TEACHER SUPPORT DAN PARENT SUPPORT TERHADAP STUDENT ENGAGEMENT DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH
Distance learning presents its own challenges for students. In the midst of these challenges, teachers and parents have a role in the learning process of the student engagement. This study aims to determine the effect of Teacher and Parent Support towards Student Engagement at the level of high school students in Bandung. The Samples came from two private senior high schools (n = 188). The Sampling is using proportionate stratified random sampling technique. The measuring instrument used is The Student Engagement Scale with a reliability of .879, The Teacher Support Scale with a reliability of .950 and The Parent Support Scale with a Chi-square value = 2181.02, df = 804, p = 0.00, RMSEA = 0.067, NFI = 0.95, CFI = 0.97, SRMR = 0.055, and GFI = 0.81. The results of the study simultaneously show that there is a significant influence between Teacher Support and Parent Support on Student Engagement. The result of this research also shows that there is an effect of Teacher Support on Student Engagement and the influence of Parent Support on Student Engagement. The support provided by teachers and parents will increase student engagement in learning activities.Pembelajaran jarak jauh memberikan tantangan tersendiri bagi siswa. Di tengah tantangan itulah maka guru dan orang tua memiliki peran terhadap keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Teacher Support dan Parent Support terhadap Student Engagement di tingkat siswa SMA di Bandung. Sampel berasal dari dua SMA swasta (n=188). Pengambilan sampel menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Student Engagement dengan reliabilitas .879, Skala Teacher Support dengan reliabilitas .950 dan Skala Parent Support dengan nilai Chi-square = 2181.02, df = 804, p = 0.00, RMSEA = 0.067, NFI = 0.95, CFI = 0.97, SRMR = 0.055, dan GFI = 0.81. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara Teacher Support dan Parent Support terhadap Student Engagement. Hasil penelitian secara pasial juga menunjukkan adanya pengaruh Teacher Support terhadap Student Engagement dan adanya pengaruh Parent Support terhadap Student Engagement. Dukungan yang diberikan oleh guru dan orang tua akan meningkatkan student engagement dalam aktivitas pembelajaran
Studi Potensi Interaksi Antibiotik Dengan Obat Lain Pada Peresepan Pasien Pneumonia Di Intensive Care Unit
Pneumonia is one of the most common acute lower respiratory tract infection that causes morbidity and mortality. Most of it is caused by bacteria. Antibiotics is the main therapy of bacterial infection cases. Concomitant use of antibiotics and other drugs may risk harmful interaction. This study aimed to determine the potential antibiotic drug interactions and their effects on the patient's condition based on clinical data and laboratory.
A retrospective study were conducted in ICU, NICU and PICU. Medical records of pneumonia patients in 2016 who met the inclusion criteria, including patients diagnosed with pneumonia with co-morbidities, received antibiotic therapy at least 3 days, and had bacterial culture data. Drug interactions were analyzed using Stockley's Drug Interaction, Drug Interaction Fact, and Medscape then calculated the percentage potential of interaction, phase, and significance of interactions.
The results showed that among 28 patient there were 17 types of drugs which potentially cause drug interactions in patients with pneumonia based on literature. Percentage of pharmacokinetics drug interaction was 80%; pharmacodynamics was 20%. Potential drug interactions on metabolism phase were 44%; excretion phase was 36%. The potential effect of drug interactions was major (10%), moderate (80%) and minor (10%). Potentially, most of drugs interact in the metabolic phase with moderate significance. The high drug interaction potential was gentamycin and furosemide with moderate significance about 16%.Pneumonia adalah salah satu infeksi saluran nafas bawah akut yang banyak menyebabkan morbiditas dan mortalitas. Antibiotik merupakan terapi utama yang digunakan pada kasus infeksi bakteri. Penggunaan bersamaan dengan obat lain memungkinkan terjadinya interaksi yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang berpotensi interaksi obat dan pengaruhnya terhadap kondisi pasien berdasarkan data klinis maupun laboratorium.
Penelitian deskriptif non eksperimental dilakukan dengan pendekatan pengambilan data secara retrospektif di ICU, NICU dan PICU. Data diperoleh dari rekam medik pasien pneumonia tahun 2016 yang memenuhi kriteria yaitu pasien yang didiagnosis pneumonia dengan penyakit penyerta, mendapatkan terapi antibiotik minimal 3 hari, dan memiliki data kultur bakteri. Interaksi obat dianalisis menggunakan Stockley’s Drug Interaction, Drug Interaction Fact, dan Medscape lalu dihitung persentase potensi interkasi, fase dan signifikansi interaksinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara 28 pasien terdapat 17 jenis obat yang berpotensi menyebabkan interaksi obat pada pasien pneumonia berdasarkan literatur. Persentase interaksi obat pada fase farmakokinetika 80% dan farmakodinamika 20%. Potensi interaksi obat fase farmakokinetik terbagi menjadi 2 fase yaitu metabolisme 44%; ekskresi 36%. Signifikasi interaksi obat yaitu mayor (10%), moderate (80%) dan minor (10%). Sebagian besar obat berpotensi berinteraksi pada fase metabolisme dengan signifikasi moderate. Potensi interaksi obat dengan persentase paling tinggi yaitu gentamycin dengan furosemide dengan signifikansi moderate sebesar 16%.  
Analisis Efektivitas Biaya Antinyeri Pasien Diabetik Neuropati Di Puskesmas Kaliwungu Kudus Dan RSI Sultan Agung Semarang
Diabetic neuropathy that affects peripheral nervous system as a complication of Diabetes Mellitus (DM). A total of 1785 DM patients in Indonesia, 63.5% experienced neuropathy. Choosing the right analgetics for diabetic neuropathy patients will improve therapy, so the costs of using the drugs will also be affordable. This study aims to cost effectiveness analysis of analgetics in diabetic neuropathy patients at Kaliwungu Kudus Health Center and Sultan Agung Islamic Hospital in Semarang. This study was hold in September - November 2020.
The research method was cohort retrospective and collected data with purposive sampling involving all populations who had complete medical record and include inclusion criteria. The instruments used were data report, medical record and details of the patient's payment. The cost data used was based on a payer perspective from direct medical costs related to drug prices based on perspective of the hospital and e-catalogue or BPJS. Then CEA to determine which therapy was more cost-effective therapy from the use of analgeticss by calculating the ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) and ICER (Incremental Cost Effectiveness Ratio).
The results show that the cost effectiveness of analgetics at the Kaliwungu Kudus Health Center is diclofenac sodium 50 mg and a combination of 500 mg paracetamol and 200 mg ibuprofen with ICER values of Rp. 2765.02 and Rp.-8,837.94. Meanwhile, at the Sultan Agung Islamic Hospital in Semarang, are single amitriptyline and a combination of amitriptyline and tramadol, with the ICER value on single amitriptyline which is Rp. -7,690.08.Diabetik neuropati adalah serangkaian klinis atau yang mempengaruhi sistem saraf perifer sebagai komplikasi dari Diabetes Melitus (DM). Sebanyak 1785 penderita DM di Indonesia 63,5% mengalami neuropati. Pemilihan terapi antinyeri pada pasien diabetik neuropati yang tepat akan meningkatkan keberhasilan terapi, sehingga biaya penggunaan obat yang dikeluarkan juga akan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis efektivitas biaya antinyeri pada pasien diabetik neuropati di Puskesmas Kaliwungu Kudus dan Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada September – November 2020.
Metode penelitian dilakukan secara kohort retrospektif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling melibatkan semua populasi yang memiliki rekam medik lengkap serta memenuhi kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan yaitu lembar pengumpulan data, rekam medik dan rincian pembayaran pasien. Data biaya yang digunakan berdasarkan perspektif payer dari biaya medis langsung terkait harga obat saja berdasarkan perspektif rumah sakit dan e-catalogue atau BPJS. Kemudian dilakukan analisis efektivitas biaya untuk mengetahui terapi yang lebih cost-effective dari penggunaan obat antinyeri dengan menghitung nilai ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) dan ICER (Incremental Cost Effectiveness Ratio).
Hasil penelitian menunjukkan antinyeri yang cost effective di Puskesmas Kaliwungu Kudus adalah natrium diklofenak tablet 50 mg serta kombinasi parasetamol 500 mg dan ibuprofen 200 mg dengan nilai ICER sebesar Rp. 2765,02 dan Rp. -8.837,94. Sedangkan di RSI Sultan Agung Semarang yang cost effective yaitu Amitriptilin tunggal serta kombinasi amitriptilin dan tramadol, dengan nilai ICER terendah pada Amitriptilin tunggal yaitu Rp. -7.690,08
The Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Krim Fraksi Etanol Kulit Buah Jeruk Manis (Citrus sinensis (L.) Osbeck)
Sweet citrus fruit is generally used on the pulp, while the peel only becomes waste. Waste of sweet orange fruit peel is often found in the community which contains antioxidant compounds. Waste of sweet orange fruit peel can be processed into cream preparations that can be used by the community.
Cream from waste of sweet orange fruit peel is made using maceration extraction and liquid-liquid fractionation methods. The maceration extraction method used 70% ethanol as solvent, while the fractionation method used n-hexane, ethyl acetate and 70% ethanol as solvents. Cream of 70% ethanol fraction of sweet orange fruit peel is made in several formulas of FI (3%), FII (6%) and FIII (9%). Screening for the phytochemical content of sweet orange fruit peels was carried out using chemical reagents.
Sweet orange fruit peel contains vitamin C compounds, flavonoids and essential oils. Cream preparations with 70% ethanol fraction of orange fruit peels (FI, FII, FIII) indicate that the cream has good color, texture and physical properties.Buah jeruk manis umumnya dimanfaatkan pada bagian daging buah, sedangkan kulitnya hanya menjadi limbah. Limbah kulit buah jeruk manis banyak dijumpai di masyarakat memiliki kandungan senyawa antioksidan. Limbah kulit buah jeruk manis dapat diolah menjadi sediaan krim yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Krim dari limbah kulit buah jeruk manis dibuat menggunakan metode ekstraksi maserasi dan fraksinasi cair-cair. Metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, sedangkan metode fraksinasi menggunakan pelarut n-Heksana, etil asetat dan etanol 70%. Krim fraksi etanol 70% kulit buah jeruk manis dibuat dalam beberapa formula FI (3%), FII (6%) dan FIII (9%). Skrining kandungan fitokimia dari kulit buah jeruk manis dilakukan menggunakan pereaksi kimia.
Kulit buah jeruk manis memiliki kandungan senyawa vitamin C, flavonoid dan minyak atsiri. Sediaan krim fraksi etanol 70% kulit buah jeruk (FI, FII, FIII) menunjukkan bahwa krim memiliki warna, tekstur dan sifat fisik yang baik
Potensi Interaksi Antar Obat dalam Peresepan Rawat Jalan Pasien Penyakit Jantung Akibat Hipertensi
Hypertension or high blood pressure have contributed to the occurrence of cardiovascular disease. One of its complication is the development of Hypertensive Heart Disease (HHD). HHD pharmacological treatments usually combine antihypertensive and other agents that lead to polypharmacy. The use of multiple medications or polypharmacy will increase the potential of drug-drug interactions (PDDIs) that affect the therapeutic effect and increase adverse events. This study was aimed to analyze the prevalence and predictor of the PDDIs among HHD patients prescriptions in order to prevent the adverse effects and optimalize the therapy management.
A retrospective observational study was conducted on HHD outpatients prescriptions. Medscape Drug Interaction Checker application was used to identify PDDIs. The mechanism, severity, number of interaction per prescription and most common interaction pairs of PDDIs were documented. In addition, age, gender, and the number of drug prescribed were analyzed as predictors of PDDIs using logistic regression binomial test.
A total of 100 HHD outpatients prescriptions was analyzed and 94 of them had PDDIs. Majority of prescriptions had 3-4 and >4 PDDIs (33.00% each). Total of PDDIs observed were 397 cases. Most of PDDIs happened in the pharmacodynamic phase (86.40%) and need to monitored closely (93.20%). The concomitant use of Candesartan and Bisoprolol was found to be the most commpon interaction pair (11,08%) that can lead to the raise of potassium serum levels. The result of predictors analysis showed that the higher number of drug prescribed the higher the risk of the occurrence of PDDIs respectively (p-value 0,005) which addition 1 drug item will increase the PDDIs 7,232 time higher. In conclusion, the higher number of drug prescribed the closer monitoring need for PDDIs. In addition, closely monitoring in the elevating of potassium serum levels and the symptoms of hyperkalemia are needed in the treatment of HHD outpatientsHipertensi atau tekanan darah tinggi memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap timbulnya penyakit kardiovaskular. Salah satu komplikasi hipertensi adalah penyakit jantung akibat hipertensi atau Hypertensive Heart Disease (HHD). Terapi HHD melibatkan kombinasi obat-obat antihipertensi dan obat lain yang seringkali termasuk polifarmasi. Polifarmasi dapat meningkatkan potensi interaksi antar obat (PIAO) yang dapat menyebabkan perburukan efek terapi, munculnya efek obat yang merugikan yang dapat berlanjut ke kegagalan terapi dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi dan faktor predictor PIAO yang muncul pada peresepan pasien HHD guna mewaspadai reaksi obat yang tidak diinginkan serta dapat mengoptimalkan terapi.
Studi observasional secara retrospektif dilakukan pada peresepan pasien HHD di poli rawat jalan. Identifikasi potensi interaksi obat dalam peresepan menggunakan aplikasi Medscape Drug Interaction Checker. Prevalensi PIAO yang diamati mencangkup keparahan, mekanisme, jumlah PIAO tiap lembar resep serta obat-obat yang paling sering menimbulkan PIAO. Faktor usia, jenis kelamin, dan jumlah item obat yang diresepkan dianalisis sebagai faktor prediktor menggunakan uji regresi logistik biner.
Sebanyak 100 resep pasien HHD telah dianalisis dan 94 diantaranya memiliki PIAO. Jumlah PIAO tiap lembar resep berkisar 3-4 dan >4 PIAO (masing-masing 33,00%). Total PIAO yang diobservasi adalah sebanyak 397. Sebagian besar PIAO terjadi pada fase farmakodinamik (86,40%) dan membutuhkan pemantauan lebih dekat (93,20%). Kombinasi Candesartan dan Bisoprolol paling banyak ditemukan sebagai PIAO (11,08%) yang dapat bermanifestasi pada kenaikan kadar kalium dalam darah. Dari hasil analisis faktor prediktor, semakin banyak jumlah obat yang diresepkan memiliki pengaruh yang signifikan pada munculnya PIAO (p-value 0,005) dimana penambahan 1 item obat yang diresepkan akan meningkatkan resiko PIAO sebesar 7,232 kali. Semakin banyak obat yang diresepkan pada pasien HHD akan membutuhkan pemantauan yang lebih dekat pada munculnya interaksi obat. Selain itu, pemantauan lebih dekat pada kadar serum kalium dan tanda-tanda hiperkalemia sangat disaranka
Aktivitas Ekstrak Kasar Enzim Fibrinolitik Bakteri Bacillus cereus yang Diisolasi dari Air Hutan Mangrove Maroon Edupark Semarang secara In Vitro
Fibrinolytic enzymes are enzymes that work by degrading fibrin in blood clots. Fibrinolytic enzymes are produced by many organisms, one of which is the bacterium Bacillus cereus from the water of the Maroon Edupark mangrove forest, Semarang. Isolation of fibrinolytic enzymes from bacteria is very important because bacteria are easy to grow, have a fast generation time, do not require a large area for cultivation, and are easily genetically modified so that it will be more economically profitable. In addition, fibrinolytic enzymes from natural ingredients have fewer side effects than synthetic fibrinolytic drugs. This study aims to determine the activity of the crude extract of the fibrinolytic enzyme B. cereus in lysis blood clots in vitro.
The study began with confirmation of the presence of genes encoding fibrinolytic enzymes from bacteria B. cereus uses NCBI's popular resources 'nucleotide', identification of bacterial morphology in blood agar media, Gram staining, endospore staining, catalase and coagulase testing. Isolation of crude extract of fibrinolytic enzyme B. cereus is carried out by enzyme extraction. Protein concentration were determined using Bradford method and fibrinolytic activity test in vitro using fibrin plate media with nattokinase as positive control. The resulting clear zone shows the ability of the enzyme extract in degrading fibrin
The results of the identification of the B. cereus bacterial gene uses the NCBI data base registered as the AprE gene. The results of the identification of gram and endospore staining, B. cereus is a Gram-positive bacterium and has endospores. Identification of bacteria on blood agar media indicates that B. cereus represents the group of the β-hemolysis. Catalase and coagulase test results show that the bacteria produce catalase and coagulase enzymes. Total protein concentration from crude extract of B. cereus obtained at 19.63 mg/mL. Fibrinolytic activity at concentrations of 20, 40, 80% was 2.54; 6.11; and 7.94 mm respectively. Based on the above results it can be concluded that the crude extract of fibrinolytic enzyme B. cereus has the potential to be developed as a natural fibrinolytic agent.Enzim fibrinolitik merupakan enzim yang bekerja dengan cara mendegradasi fibrin dalam bekuan darah. Enzim fibrinolitik dihasilkan oleh banyak organisme, salah satunya adalah bakteri Bacillus cereus yang berasal dari air hutan mangrove Maroon Edupark Semarang. Isolasi enzim fibrinolitik dari bakteri sangat penting dilakukan karena bakteri mudah ditumbuhkan, memiliki waktu generasi yang cepat, tidak memerlukan lahan yang luas untuk kultivasi, serta mudah dimodifikasi secara genetik sehingga akan lebih menguntungkan secara ekonomi. Selain itu enzim fibrinolitik dari bahan alam memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan obat fibrinolitik sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak kasar enzim fibrinolitik B. cereus dari air hutan mangrove Maroon Edupark Semarang dalam melisisikan bekuan darah secara in vitro.
Penelitian diawali dengan konfirmasi keberadaan gen penyandi enzim fibrinolitik dari bakteri B. cereus menggunakan popular resources ‘nucleotide’ NCBI, identifikasi morfologi bakteri pada media agar darah, pewarnaan Gram, pewarnaan endospora, pengujian katalase dan koagulase. Isolasi ekstrak kasar enzim fibrinolitik B. cereus dilakukan dengan ekstraksi enzim. Kadar protein ekstrak kasar enzim ditetapkan menggunakan metode Bradford dan uji aktivitas fibrinolitik secara in vitro menggunakan media plat fibrin dengan kontrol positif nattokinase. Zona bening yang dihasilkan menunjukkan kemampuan ekstrak enzim dalam mendegradasi fibrin.
Hasil identifikasi gen bakteri B. cereus menggunakan data base NCBI terdaftar sebagai gen AprE. Hasil identifikasi pewarnaan Gram dan endospora, B. cereus merupakan bakteri Gram positif dan mempunyai endospora. Identifikasi bakteri pada media agar darah menunjukkan bahwa B. cereus merupakan kelompok β-hemolisis. Hasil uji katalase dan koagulase menunjukkan bahwa bakteri tersebut menghasilkan enzim katalase dan koagulase. Kadar protein ekstrak kasar enzim fibrinolitik B. cereus yang didapat sebesar 19,63 mg/mL. Aktivitas fibrinolitik pada konsentrasi 20, 40, 80% berturut-turut sebesar 2,54; 6,11; dan 7,94 mm. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa ekstrak kasar enzim fibrinolitik B. cereus berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen fibrinolitik alami
Determination Levels of Caffeine Isolated from Robusta Coffee Beans from Pagar Alam in Wistar Rat Blood
Coffee provides a genuine source of caffeine. Caffeine can have a variety of pharmacological effects on both central and peripheral nervous systems and most of these effects are related to the antagonistic mechanism at adenosine receptors. The most prominent effect of caffeine remains stimulation of brain function, improving mood and physical performance. Robusta coffee obtains an intense level of caffeine and Pagar Alam City is one of the cities in Indonesia that produces robusta coffees. This study aims to identify and characterize caffeine isolated from Pagar Alam robusta coffee beans using thin-layer chromatography methods, UV-Visible spectrophotometry and to determine caffeine levels in wistar rat blood using the ELISA method. This method is cost-effective, familiar to perform and has a considerable degree of accuracy and reproducibility. The isolated samples have similar characteristics to standard caffeine with an Rf value of 0.77, a maximum wavelength at 273 nm with the absorbance of 1.3 and from caffeine profile in the blood sample we obtained the maximum sample concentration in blood 0.582 ± 0.249 μg/ml and the time needed to reach the maximum concentration is 30 minutes.Coffee provides a genuine source of caffeine. Caffeine can have a variety of pharmacological effects on both central and peripheral nervous systems and most of these effects are related to the antagonistic mechanism at adenosine receptors. The most prominent effect of caffeine remains stimulation of brain function, improving mood and physical performance. Robusta coffee obtains an intense level of caffeine and Pagar Alam City is one of the cities in Indonesia that produces robusta coffees. This study aims to identify and characterize caffeine isolated from Pagar Alam robusta coffee beans using thin-layer chromatography methods, UV-Visible spectrophotometry and to determine caffeine levels in wistar rat blood using the ELISA method. This method is cost-effective, familiar to perform and has a considerable degree of accuracy and reproducibility. The isolated samples have similar characteristics to standard caffeine with an Rf value of 0.77, a maximum wavelength at 273 nm with the absorbance of 1.3 and from caffeine profile in the blood sample we obtained the maximum sample concentration in blood 0.582 ± 0.249 μg/ml and the time needed to reach the maximum concentration is 30 minutes
Analisis Perencanaan Dan Pengendalian Persediaan Pasokan Bahan Baku Menggunakan Metode Economic Order Quantity
CV Bintang Timur Graphic is a company that produces learning tools for schools with a make-to-order production system. However, the ups and downs of production capability and capacity are one of the variables in inventory planning and control that needs to be controlled. Inventory control activities are very important for the company. If there is a stockout, the company cannot meet customer needs. Because consumer demand often fluctuates, especially in terms of quantity, type, or frequency. The inventory policy implemented at CV Bintang Timur Graphic does not use past historical data so excess or shortage of inventory often occurs. This study aims to analyze the number of raw material supplies, to be able to provide effective and efficient planning. The method used is the Economic Order Quantity (EOQ). The proposed inventory control plan using the EOQ method provides significant cost efficiency. Based on the results of the EOQ, 3 items have the highest efficiency ratings, including CD paper, which can save up to 81% of inventory costs, HVS Indigo Roll 73, which can save up to 72% of inventory costs, and 58.5x84 size paper, which can save up to 53% of inventory costs. For other raw material items, the average cost-saving efficiency reaches 35%. Then the application of the Economic Order Quantity (EOQ) method is appropriate for inventory control at CV Bintang Timur Graphic.
Keywords: Efficiency, Fluctuation, Frequency, Make to Order, ProductionCV Bintang Timur Grafika adalah perusahaan yang memproduksi perangkat pembelajaran untuk sekolah dengan sistem produksi make to order. Tetapi, naik turunnya kemampuan dan kapasitas produksi menjadi salah satu variabel perencanaan dan pengendalian persediaan yang perlu dikendalikan. Aktivitas pengendalian persediaan ini sangat penting bagi perusahaan. Jika mengalami stockout maka perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Karena seringkali permintaan konsumen mengalami fluktuasi, khususnya pada variabel jumlah, jenis, atau frekuensinya. Kebijakan persediaan yang diterapkan di CV Bintang Timur Grafika tidak menggunakan history data masa lalu sehingga sering terjadi kelebihan atau kekurangan persediaan. Penelitian ini bertujan untuk menganalisis jumlah persediaan bahan baku, sehingga mampu memberikan perencanaan yang efektif dan sekaligus efisien. Metode yang digunakan adalah Economic Order Quantity (EOQ). Usulan perencanaan pengendalian persediaan menggunakan metode EOQ memberikan efisiensi biaya yang cukup besar. Berdasarkan hasil EOQ, terdapat 3 item yang memiliki peringkat efisiensi teratas, antara lain kertas CD yang biaya persediannya bisa dihemat mencapai 81%, HVS Indigo Roll 73 biaya persediannya bisa dihemat mencapai 72%, serta kertas ukuran 58,5x84 biaya persediannya bisa dihemat mencapai 53%. Pada item bahan baku yang lain efisiensi penghematan biayanya rata-rata mencapai 35%. Maka penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) tepat diaplikasikan untuk pengendalian persediaan di CV Bintang Timur Grafika.
Kata kunci: Efisiensi, Fluktuasi, Frekuensi, Make to Order, Produks