Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
Not a member yet
    892 research outputs found

    Pemodelan Peramalan Permintaan Produk Baru Sebelum Peluncuran menggunakan Difusi Bass di Industri Kreatif

    No full text
    Micro, Small, and Medium Industries (IMKM) necessitate significant focus due to their economic contributions. In Indonesia, the creative industry, exhibits diverse and complex product innovations and variations, alongside a heightened risk of market failure. A market forecasting prediction model is essential prior to the product launch. However, this task becomes challenging when sales data is insufficient. A forecasting model applicable to the pre-launch stage of a new product is the Bass diffusion model, which relies on the optimization of model parameters. This study seeks to model the forecasting of new product demand prior to launch using the Bass diffusion model, specifically for creative industry products, and to assess the adoption pattern of these products within IMKM. The study identified a bass diffusion model applicable to the creative industry through an analysis of fifteen batik products, determining the optimal p, q, and m parameters based on the minimal error value. This study evaluates the adoption characteristics of IMKM batik products, noting similarities to the sales patterns of computer products and a product life cycle ranging from twelve to thirty-six months. This study identifies the parameter values for creative industry products, with an average p parameter of 0.0336, a q parameter of 0.3770, and a m parameter of 497.27. The long dress, as a category of women's fashion, exhibits the longest product life cycle, significant market potential, and a rapid diffusion rate, characterized by an average p parameter of 0.0198, a q parameter of 0.3739, and a m parameter of 721.Industri Mikro, Kecil, dan Menengah (IMKM) memerlukan perhatian yang besar karena kontribusinya terhadap perekonomian. Terutama di Indonesia didominasi oleh IMKM, salah satunya yaitu industri kreatif dengan inovasi dan variasi produk yang lebih beragam dan kompleks, serta resiko kegagalan pasar yang juga tinggi. Sehingga, diperlukan model prediksi peramalan pasar sejak tahap awal sebelum peluncuran produk. Meskipun, sulit dilakukan ketika data penjualan belum memadai. Salah satu model peramalan yang dapat digunakan untuk kasus tahap pre-launch produk baru yaitu dengan memodelkan difusi bass berdasarkan optimasi parameter model. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan peramalan permintaan produk baru pada tahap sebelum peluncuran produk (early stage) menggunakan model difusi bass untuk kasus produk industri kreatif, serta mengevaluasi karakter pola adopsi produk industri kreatif di IMKM. Hasil penelitian menemukan model difusi bass untuk kasus industri kreatif dengan menggunakan lima belas produk batik, dan telah menemukan parameter p, q, dan m yang optimal berdasarkan nilai error terkecil. Selanjutnya, penelitian ini juga telah mengevaluasi karakteristik pola adopsi produk batik IMKM yang mirip dengan pola penjualan produk komputer, serta dengan siklus hidup produk selama dua belas hingga tiga puluh enam bulan. Penelitian ini telah menemukan bahwa nilai parameter untuk produk industri kreatif dengan nilai rata-rata untuk paramater p 0.0336, parameter q 0.3770, dan parameter m 497.27. Tipe produk fashion wanita dalam bentuk long dress, memiliki karakteristik siklus hidup produk yang paling lama dengan market potential yang paling banyak dan laju difusi lebih cepat, dengan rata-rata parameter p 0.0198, parameter q 0.3739, parameter m 721

    PERBEDAAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA PASANGAN BEDA AGAMA DAN SEAGAMA

    Full text link
    Marital satisfaction in Indonesia is closely related to religiosity and religious values. An individual's level of religiosity can influence satisfaction in their marriage. This research aims to see differences in marital satisfaction between couples of different religions and those of the same religion. This research used a quantitative approach with research participants of 40 wives in interfaith marriages and 40 wives in same religion marriages taken by non-probability sampling with a purposive sampling method. Measurement uses the ENRICH Marital Satisfaction scale (α = 0.860). The analysis used in this research is Mann Whitney. The research results are based on the results of the Mann Whitney test analysis using SPSS 26 with a probability value of (sig) 0.567 > 0.05, indicating that the proposed hypothesis is rejected. The conclusion of the research is that there is no significant difference in the marital satisfaction of interfaith couples and the marital satisfaction of same religious couples. The categorization of marital satisfaction between interfaith and same religious couples has the same category, namely in the high category.Kepuasan pernikahan di Indonesia erat kaitannya dengan religiusitas dan nilai-nilai religiusitas. Tingkatan religiusitas individu dapat memberi pengaruh pada kepuasan dalam pernikahannya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kepuasan pernikahan pada pasangan beda agama dan seagama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan penelitian 40 istri pada pernikahan beda agama dan 40 istri pada pernikahan seagama yang diambil secara non- probability sampling dengan metode purposive sampling. Pengukuran menggunakan skala ENRICH Marital Satisfaction (α = 0,860). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mann Whitney. Hasil penelitian berdasar hasil analisis uji Mann Whitney menggunakan bantuan SPSS 26 dengan nilai probabilitas adalah (sig) 0,567 > 0,05 menunjukkan, bahwa hipotesis yang diajukan ditolak. Kesimpulan penelitian yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kepuasan pernikahan pasangan beda agama dengan kepuasan pernikahan pasangan seagama. Kategorisasi kepuasan pernikahan pasangan beda agama dan seagama memiliki kategori yang sama, yaitu masuk dalam kategori tinggi

    Analisis Perbandingan Metode Peramalan Pada Produksi Air di PDAM XYZ

    Full text link
    Good production planning can meet the demand and availability of raw materials, as well as proper production planning and scheduling, production control, inventory control, and evaluation. PDAM XYZ produces clean water for the Banyumas Regency area. Water demand at PDAM XYZ is starting to exceed the production capacity limit, so a capacity addition plan is needed to meet the customer's clean water demand. The addition of capacity can be calculated by calculating demand forecasting. Thus, this study aims to determine the best forecasting method for making water demand forecasting calculations at PDAM XYZ and the estimated amount of water demand at PDAM XYZ in the next five years. The forecasting methods used are least square and regression. The accuracy values compared are MAD, MSE, RMSE, MAPE, and Tracking signal. The results of the comparison state that the regression method is better with a MAD value of 129938.4, MSE of 28536740000, RMSE of 168928.2, and MAPE of 0.05. So, in planning the addition of production capacity, the regression method can be used to forecast calculations as a reference for determining the additional production capacity. The forecasting results using the regression method show a value of 4,352,051 m3. Based on these results, it is expected that PDAM XYZ will be able to map the amount of clean water demand so that customer water needs can be met.PPerencanaan produksi yang baik adalah yang mampu memenuhi jumlah permintaan, tersedianya bahan baku, perencanaan dan penjadwalan produksi yang tepat, pengendalian produksi, pengendalian persediaan, dan evaluasi. PDAM XYZ memproduksi air bersih untuk wilayah Kabupaten Banyumas. Permintaan Air di PDAM XYZ mulai melebihi batas kapasitas produksi sehingga diperlukan sebuah perencanaan penambahan kapasitas untuk dapat memenuhi jumlah permintaan air bersih pelanggan. Penambahan jumlah kapasitas dapat dihitung melakukan perhitungan peramalan permintaan. Sehingga, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui metode peramalan terbaik dalam membuat perhitungan peramalan permintaan air di PDAM XYZ dan mengetahui perkiraan jumlah permintaan air yang ada di PDAM XYZ lima tahun ke depan. Metode peramalan yang digunakan yaitu least square dan regression. Nilai akurasi yang dibandingkan yaitu MAD, MSE, RMSE, MAPE, dan Tracking signal. Hasil dari perbandingan menyatakan bahwa metode regression lebih baik dengan nilai MAD sebesar 129938.4, MSE sebesar 28536740000, RMSE sebesar 168928.2 dan MAPE sebesar 0.05. Sehingga dalam perencanaan penambahan kapasitas produksi dapat menggunakan metode regression untuk perhitungan peramalan sebagai acuan untuk menentukan jumlah penambahan kapasitas produksi. Hasil peramalan menggunakan metode regression menunjukkan nilai 4,352,051 m3. Berdasarkan hasil ini diharapkan PDAM XYZ akan dapat memetakan jumlah permintaan air bersih sehingga kebutuhan air pelanggan dapat terpenuhi

    Analisis Pengaruh Service Quality, Food Quality, Value/Price Terhadap Customer Satisfaction

    Full text link
    Developments in the food and beverage sector are increasingly rapid; coffee shop businesses will experience an increase of 60.5% in 2022. Business actors will always strive for the best service for their customers. So, stakeholders must know the relationship between the services provided so that customers are satisfied. The purpose of this study was to see the magnitude of the relationship between service quality, presentation quality, value/price to customer satisfaction at Djamoean Café Pamekasan. The method used this time is structural equation modeling (SEM) with SmartPLS. This research shows that service quality has an AVE value <0.70, meaning that the service quality variable is not included in further analysis, the VIF value for all latent variables is below the threshold of 5, so there is no multicollinearity problem in the structural model. The first hypothesis looks for a positive influence of service quality on consumer satisfaction. This test shows that service quality has a positive effect on consumer satisfaction with a P value <0.05. The service quality reliability test showed that the results were unreliable, so service quality had no significant effect, so the first hypothesis was rejected. Serving quality has a positive influence on consumer satisfaction. The test results show that serving quality has a positive influence on consumer satisfaction with a P-value <0.05. So that hypothesis number two can be accepted. Value/price shows P-value> 0.05, then value/price does not have a positive effect on customer satisfaction. So that hypothesis number three is rejected. The author advises Djamoean Cafe Pamekasan to always maintain the quality of taste and hygiene of food and drinks, and provide sufficient serving portions to always provide customer satisfaction.Perkembangan pada sektor food and baverage semakin pesat, usaha coffee shop khususnya mengalami peningkatan sebesar 60,5% pada tahun 2022. Pelayanan terbaik akan selalu diupayakan para pelaku usaha kepada pelanggannya, Maka stakeholder harus mengetahui hubungan pelayanan-pelayanan yang diberikan agar pelanggan terpuaskan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya hubungan antara kualitas pelayanan, kualitas sajian, nilai/harga kepada kepuasan pelanggan pada Djamoean Café Pamekasan. Metode yang digunakan yaitu structural equation modelling (SEM) dengan SmartPLS. Penelitian ini menunjukkan kualitas pelayanan memiliki nilai AVE < 0,70 artinya variabel kualitas pelayanan tidak diikutkan analisis selanjutnya, nilai VIF pada seluruh variabel laten dibawah ambang batas 5, maka tidak terdapat masalah multikolinieritas pada model struktural. Hipotesis pertama mencari pengaruh positif dari kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen. Pengujian ini memperlihatkan kualitas pelyanan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen secara positif dengan P value < 0,05, uji reliabilitas kualitas pelayanan didapatkan hasil tidak reliable, maka kualitas pelayanan tidak berpengaruh signifikan sehingga hipotesis pertama ditolak. Kualitas sajian mempunyai pengaruh yang positif kepada kepuasan konsumen, Hasil pengujian bahwa kualitas sajian berpengaruh secara positif terhadap kepuasan konsumen dengan P-value < 0,05 Sehingga hipotesis nomer dua dapat diterima. Nilai menunjukkan P-value > 0,05, maka nilai tidak mempunyai pengaruh yang positif kepada kepuasan konsumen sehingga hipotesis nomer tiga ditolak. penulis memberi saran kepada Djamoean Cafe Pamekasan harus selalu menjaga kualitas cita rasa dan higenitas makanan dan minuman, serta memberikan porsi sajian yang cukup agar selalu memberikan kepuasan bagi pelanggan

    STUDI FENOMENOLOGI TENTANG GAMBARAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA PEDAGANG DI PASAR LEGI PASCA PERISTIWA KEBAKARAN

    Full text link
    The fire that occurred at Legi Market, Surakarta caused many losses suffered by almost all merchants in the market. The impact of the losses suffered is not only on the goods or the stalls burned, but also has an impact on the psychological state of the merchants. This research is a qualitative research using the method of phenomenological study. The purpose of this study was to describe the psychological well-being of Legi market merchants after the fire. Respondents or participants in this study were four individuals who met the criteria of being Legi Market merchants, affected by the Legi Market fire incident and had a non-coercive will by completing an informed consent to participate in the research, as well as four other important ones. The sampling technique used was purposive sampling. The data collection methods used were blank curriculum vitae, observation and interviews. The data analysis used in this study is the technique of Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results of the survey conducted among Legi Market merchants who were affected by the fire showed that all four respondents had good psychological well-being. All respondents complete aspects of psychological well-being. All respondents were able to come to terms with their situation after the fire incident and began to rise to achieve good psychological well-being in various ways. Keywords: psychological well-being; merchants; fire  Peristiwa kebakaran yang terjadi di Pasar Legi, Surakarta menimbulkan banyak kerugian yang dialami hampir seluruh pedagang pasar. Dampak kerugian yang dialami tidak hanya pada barang dagangan atau kios yang terbakar, namun berdampak juga pada keadaan psikologis pedagang. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi fenomenologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kesejahteraan psikologis pada pedagang di Pasar Legi pasca peristiwa kebakaran. Responden atau pertisipan dari penelitian ini berjumlah empat orang dengan kriteria merupakan pedagang Pasar Legi, terkena dampak dari peristiwa kebakaran Pasar Legi, dan memiliki kesediaan tanpa paksaan dengan mengisi informed consent untuk turut berpartisipasi dalam penelitian, serta empat orang significant others. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah blanko riwayat hidup, observasi, dan wawancara. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Interpretative Phenomenology Analysis (IPA). Hasil dari penelitian yang telah dilakukan kepada pedagang Pasar Legi yang terkena dampak peristiwa kebakaran, menunjukkan keempat responden telah memiliki kesejahteraan psikologis yang baik. Seluruh responden memenuhi aspek dari kesejahteraan psikologis. Seluruh responden dapat menerima keadaan dirinya setelah peristiwa kebakaran terjadi dan mulai bangkit untuk mencapai kesejahteraan psikologis yang baik dengan berbagai cara. Kata Kunci: kesejahteraan psikologis; pedagang; kebakara

    BODY IMAGE DAN SOCIAL COMPARISON DI ERA INSTAGRAM: STUDI KORELASI PADA EMERGING ADULTHOOD

    Full text link
    The development of information technology that attracts the interest of emerging adulthood is Instagram. Excessive use of Instagram allows the phenomenon of social comparison, it can affect body dissatisfaction, bring up negative moods, tend to make someone feel low self-esteem and make someone compare themselves with others, therefore social comparison can affect body image. This study aims to investigate the relationship between social comparison and body image among emerging adulthood Instagram users. The hypothesis proposed in this study is that social comparison will have a negative relationship with body image in emerging adulthood Instagram users. This study uses quantitative methods and sampling is done using proportional stratified random sampling technique. The subjects of this study were 329 emerging adulthood Instagram users at Universitas Setia Budi who were in the age range of 18-25 years. The data collection for the variables social comparison and body image was conducted using a likert scale questionnaire. The data analysis method used was Karl Pearson's product moment correlation using SPSS 25.0 for windows release. The results of the analysis showed a correlation coefficient of rxy = -0.790 with p = 0.000 (p <0.05). This proves that there is a significant negative relationship between social comparison and body image and therefore the hypothesis proposed in this study is accepted. The Rsquare value of 0.624  means that social comparison has an effective contribution of 62,4% to body image, with other factors being influenced by self-esteem, self-schema theory, perception, development, socio-cultural, gender, age, interpersonal relationships, mass media and family.Perkembangan teknologi informasi yang menjadi minat para emerging adulthood adalah media sosial Instagram. Penggunaan Instagram yang berlebihan memungkinkan fenomena social comparison, hal tersebut dapat berpengaruh pada ketidakpuasan tubuh, memunculkan suasana hati negatif, cenderung membuat seseorang merasa harga diri rendah dan membuat seseorang membandingkan diri sendiri dengan orang lain, sehingga social comparison dapat mempengaruhi body image. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara social comparison dengan body image pada emerging adulthood pengguna Instagram. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah social comparison memiliki hubungan negatif dengan body image pada emerging adulthood pengguna Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 329 emerging adulthood di Universitas Setia Budi pengguna Instagram yang berada pada rentang usia 18-25 tahun. Metode pengumpulan data pada variabel social comparison dan body image menggunakan skala likert. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan bantuan SPSS 25.0 for windows release. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi sebesar rxy= -0,790 dengan p=0,000 (p<0,05). Hal tersebut membuktikan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara social comparison dengan body image, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Nilai Rsquare sebesar 0,624 artinya Social Comparison memberi sumbangan efektif sebesar 62,4% terhadap Body Image. Faktor lainnya dipengaruhi oleh harga diri, self schema theory, persepsi, pekembangan, sosiokultural, jenis kelamin, usia, hubungan interpersonal, media massa dan keluarga

    EKSPLORASI DOOMSCROLLING & SUBJECTIVEWELL-BEING PADA DEWASA AWAL PENGGUNA AKTIF MEDIA SOSIAL

    Full text link
    This study aims to explore how emerging adults make sense of doomscrolling behavior, its implications for their subjective well-being, and the coping strategies they employ. The focus of the research is on the subjective experiences of active social media users in engaging with doomscrolling and how they respond to its psychological impact. This qualitative study adopts a phenomenological approach, involving five participants who are active social media users (usage >4 hours/day) and have accounts across multiple platforms. Participants were selected using purposive sampling, and data were collected through semi-structured interviews. Data were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis. The findings reveal that doomscrolling is experienced as a response to curiosity, the need to stay socially connected, and the desire to obtain up-to-date information. While some participants perceived benefits such as increased awareness, negative consequences, including heightened anxiety, reduced positive emotions, and decreased productivity, were more prominent. Participants' subjective well-being was reflected in their affective experiences and life satisfaction while engaging in doomscrolling. Coping strategies included time management, limiting social media access, and seeking social support. These findings offer an in-depth understanding of doomscrolling dynamics within the Indonesian digital culture and provide a foundation for developing relevant psychological interventions.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana individu dewasa awal memaknai perilaku doomscrolling, serta dampaknya terhadap subjective well-being dan strategi koping yang digunakan. Fokus penelitian diarahkan pada pengalaman subjektif pengguna media sosial dalam menjalani doomscrolling dan cara mereka merespons dampaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan lima partisipan yang merupakan pengguna aktif media sosial (durasi >4 jam/hari) dan memiliki akun di berbagai platform. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dan data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur. Analisis data dilakukan dengan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling muncul sebagai respons terhadap rasa ingin tahu, kebutuhan untuk tetap terhubung secara sosial, dan keinginan memperoleh informasi terkini. Meskipun beberapa partisipan merasakan manfaat seperti bertambahnya wawasan, dampak negatif seperti meningkatnya kecemasan, menurunnya emosi positif, dan terganggunya produktivitas lebih dominan. Subjective well-being partisipan terefleksi dalam dinamika afektif dan kepuasan hidup yang mereka alami selama menjalani perilaku doomscrolling. Strategi koping yang digunakan antara lain manajemen waktu, pembatasan akses media sosial, dan pencarian dukungan sosial. Temuan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai dinamika doomscrolling dalam konteks budaya digital Indonesia serta memberikan dasar bagi pengembangan intervensi psikologis yang relevan

    Analisis Customer Journey Map untuk Meningkatkan Customer Experience pada Real Estate Marketplace

    Full text link
    The development of innovation in the property sector has driven the emergence of various property technology startups. A total of 32 startups have been established, 24% of which operate as marketplaces. One of the main challenges faced by property or real estate marketplaces is enhancing customer experience (CX), which plays a crucial role in the complex process of property transactions. This study aims to analyze the customer journey map (CJM) of a real estate marketplace startup, referred to as PT X. The suboptimal CX processes at PT X have led to a low transaction rate. This research comprises four main stages: data collection and processing, customer journey mapping, pain point analysis using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), and the development of improvement recommendations through a service blueprint. The study identifies two major pain points affecting CX: the presence of false or irrelevant information due to the absence of an automated data verification system, and a search algorithm that does not prioritize listings with complete information. The Risk Priority Numbers (RPN) for these pain points are 512 and 448, respectively. Based on the analysis, the proposed recommendations include developing an automated verification system to ensure data validity and optimizing the search algorithm to prioritize listings with high-quality information. The implementation of these recommendations is expected to address the issues, enhance PT X's platform competitiveness, and provide a better user experience in meeting property needs.Perkembangan inovasi pada sektor properti telah mendorong munculnya berbagai startup property technology. Dimana sebanyak 32 startup yang telah beroperasi, terdiri dari 24% startup yang berbentuk marketplace. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh marketplace properti atau real estate adalah peningkatan customer experience (CX) yang sangat penting dalam proses transaksi properti yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis customer journey map (CJM) pada marketplace real estate startup atau PT X. Kurang optimalnya proses CX pada PT X menyebabkan rendahnya tingkat transaksi yang ada. Metode penelitian ini terdiri dari empat tahap utama yaitu pengumpulan dan pengolahan data, pemetaan customer journey, analisis pain points menggunakan Failure Mode Effect Analysis (FMEA), serta perancangan rekomendasi perbaikan dengan service blueprint. Hasil penelitian mengidentifikasi dua pain points utama yang memengaruhi CX, yaitu informasi palsu dan tidak relevan akibat tidak adanya sistem verifikasi data otomatis, serta algoritma pencarian yang tidak memprioritaskan listing dengan informasi lengkap. Nilai RPN untuk masing-masing pain points adalah 512 dan 448. Berdasarkan hasil analisis, rekomendasi yang diusulkan meliputi pengembangan sistem verifikasi otomatis untuk memastikan keabsahan data dan optimisasi algoritma pencarian agar lebih mengutamakan listing dengan informasi berkualitas. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan, meningkatkan daya saing platform PT X, dan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan properti mereka

    HUBUNGAN PROKRASTINASI AKADEMIK DAN EFIKASI DIRI DENGAN KETIDAKJUJURAN AKADEMIK PADA MAHASISWA DI SURABAYA

    Full text link
    Universities are places where formal education can be found. Undergraduate students are the initial degree in taking education in college are generally aged 18-25 years, which means that in the review of developmental psychology students are in the emerging adulthood phase (Listyanti, 2012). Facts in the field found that students tend to commit dishonesty or cheating which is then called academic dishonesty (Fitriana & Baridwan, 2012). This study was conducted to determine the relationship between Academic Procrastination and Self-Efficacy with Academic Dishonesty in college students in Surabaya. This study used a correlational quantitative method. The sample in the study was 347 participants with the criteria of active students in Surabaya aged 18-25 years. The sampling technique used accidental sampling. Data analysis techniques using multiple regression analysis (R value = 0.462). Measurement of academic dishonesty data using a scale proposed by Lambert, academic procrastination using the Tuckman Procrastination Scale adapted by Suhadianto, measurement of self-efficacy data using Bandura's scale adapted by Kurniawan. The results show that there is a relationship between academic procrastination and self-efficacy with academic dishonesty (F value = 46.573 with a significance of 0.000). Partial test results show a significant positive relationship between academic procrastination and academic dishonesty (β value = 0.205). Then the self-efficacy variable with academic dishonesty has a positive relationship (β value = 0.255). Based on the results of the study, the author hopes that the subjects are able to minimize academic dishonesty behavior by managing their time also being confident in their own abilitiesPerguruan tinggi adalah tempat di mana pendidikan formal dapat ditemukan. Mahasiswa strata satu adalah gelar awal dalam menempuh pendidikan dibangku perkuliahan. Mahasiswa Strata Satu (S1) secara umum berusia 18-25 tahun yang artinya dalam tinjauan psikologi perkembangan mahasiswa berada pada fase dewasa awal (emerging adulthood) (Listyanti, 2012). Fakta pada lapangan ditemukan bahwa mahasiswa cenderung melakukan ketidakjujuran atau kecurangan yang kemudian disebut dengan ketidakjujuran akademik (Fitriana & Baridwan, 2012). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan Prokrastinasi Akademik dan Efikasi Diri dengan Ketidakjujuran Akademik pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Sampel pada penelitian sebanyak 347 partisipan dengan kriteria mahasiswa aktif di Surabaya berusia 18-25 Tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda (nilai R=0,462). Pengukuran data ketidakjujuran akademik menggunakan skala yang dikemukakan oleh Lambert, prokrastinasi akademik menggunakan skala Tuckman Procrastination Scale yang di adaptasi bahasa Indonesia oleh Suhadianto, pengukuran data efikasi diri menggunakan skala Bandura yang di adaptasi oleh Kurniawan. Hasil menunjukkan terdapat hubungan antara prokrastinasi akademik dan efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik (nilai F= 46,573 dengan signifikasi 0,000) yang berarti terdapat hubungan signifikan. Hasil uji parsial menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dan ketidakjujuran akademik (nilai β=0,205). Lalu variabel efikasi diri dengan ketidakjujuran akademik terdapat hubungan positif (nilai β=0,255). Berdasarkan hasil penelitian, penulis berharap subjek penelitian mampu meminimalisir perilaku ketidakjujuran akademik dengan mengatur waktu sebaik mungkin serta merasa yakin dengan kemampuan sendiri dan tidak mempengaruhi orang lain dalam berbuat tidak jujur secara akademik

    768

    full texts

    892

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Setia Budi Surakarta: USB e-journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇