Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
    730 research outputs found

    Potential Financial feasibility Analysis of Soybean Tempe production in Madagascar based on Indonesian Soybean Tempe Home Industry

    Get PDF
    Originally from Indonesia, tempe is a traditional fermented soybean food. Madagascar has enormous potential for soybean production. However, there is a decline in production due to lack of product processing and marketing knowledge. The promotion of this commodity help to contribute to food security and to fight against malnutrition and poverty by improving the income of the actors. This research aim to analyze the soybean tempe business (small scale industry) in Surakarta city in order to introduce and implement that business in other countries. Madagascar is the target country in this research. A financial feasibility study was conducted to determine an eventual launch of soybean tempe business in Madagascar and to predict the market acceptance. The result shows that the average cost of soybean production in a month in Surakarta City is Rp13 751 786. The average revenue is Rp15 917 067, so that we get an average profit of Rp2 165 281 per month. The soybean tempe business is beneficial with a profitability value of 15.74%. The efficiency value is estimated at 1.16. Based on the local price in Madagascar and the analysis made in Indonesia, it was determined that the project need an initial investment of Rp14 661 638 for the launch of the business. The Benefit Cost Ratio (BRC), the Net Present Value (NPV) and the Internal Rate of Return (IRR) show that the soybean tempe business is clearly feasible in Madagascar. The comparative analysis of price reveal also that soybean tempe is a good alternative for the Malagasy people as it is far cheaper than the other food rich in protein. However, the sensitivity analysis highlighted that the business cannot resist to an increase of 10% of the soybean price or a decrease of 10% of the production or both

    Penyebaran dan Penggunaan Varietas Unggul Kedelai

    Get PDF
    Penggunaan benih bermutu di daerah sentra kedelai masih kurang optimal. Benih kedelai unggul bermutu dapat meningkatkan produksi kedelai pada jumlah optimal. Aspek sosial ekonomi mempengaruhi petani dalam penggunaan benih unggul di daerah sentra kedelai. Survey dilakukan dengan cara ‘Rapid Rural Appraisal (RRA)’ dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD)’ kepada  ‘key person’ sebagai obyek penelitian (petani, penyedia benih dan petugas terkait). Lokasi pada sentra produksi kedelai kabupaten Banyuwangi, Sampang, dan Lamongan. Analisis menggunakan analisis tabulasi dan diskriptif kualitatif. Hasil penelitian adalah 1) Banyaknya petani kedelai inovatif menggunakan benih Lokal atau varietas turunan dengan produktivitas rendah, karena tidak tersedianya benih kedelai bermutu; 2) Dengan kearifan lokalnya, petani kedelai inovatif dalam menghadapi kesulitan mendapatkan benih bermutu yaitu dengan melakukan penyimpanan benih kedelai dari hasil panen sendiri untuk dipergunakan sebagai benih              bahan tanam pada musim tanam yang akan datang.; 3) Rendahnya harga konsumsi kedelai mempengaruhi tingkat kemampuan petani akan membeli benih kedelai bermutu bersertifikat hanya sekitar Rp.8000-10.000/kg dengan daya tumbuh  85%-90%.; 4) Upaya pengadaan benih kedelai bermutu untuk meningkatan produksi kedelai di suatu wilayah merupakan komitmen bersama antara pemerintah pusat, daerah, terkait, penangkar kedelai, dan Gapoktan

    Aplikasi Mulsa pada Beberapa Tingkat Irigasi dan Pengolahan Tanah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium cepa L.)

    No full text
    ABSTRAK Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas yang memiliki arti penting, terutama untuk masyarakat Indonesia, baik sebagai bumbu pelengkap maupun sebagai obat. Kebutuhan bawang merah terus meningkat maka perlu adanya terobosan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan produksi bawang merah. Budidaya bawang merah umumnya dilakukan pada lahan kering dan membutuhkan irigasi.  Penggunaan mulsa organik dapat menghemat penggunaan air dengan menekan laju evaporasi dari permukaan tanah. Air sering merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, terutama di daerah kering. Pengolahan tanah sangat penting untuk tanaman umbi, petani biasanya mengolah lahan dengan cangkul dan koret dengan kedalaman olah 10-30 cm. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September hingga Desember 2017 di Kebun Percobaan Gunung Gede Program Diploma IPB. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan mulsa organik pada beberapa tingkat pengolahan tanah dan irigasi terhadap produksi bawang merah. Penelitian menggunakan rancangan split plot. Penggunaan mulsa sebagai petak utama sedangkan pengolahan tanah dan irigasi sebagai anak petak. Faktor pengolahan tanah 2 taraf yaitu kedalaman 10 cm dan 20 cm, Faktor irigasi 4 taraf evaporasi yaitu 0.5E0, 1 E0, 1.5E0 dan 2E0 masing masing diulang 3 kali sehingga terdapat 48 petak percobaan. Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman contoh pada setiap petak percobaan yang berukuran 1.2 m x 8 m yang ditentukan secara acak. Hasil dari percobaan menunjukkan Pemberian mulsa pada budidaya bawang merah merupakan rekomendasi terbaik terlihat dari jumlah umbi yang lebih banyak walaupun untuk pertumbuhan tunas tidak nyata. Volume irigasi berpengaruh nyata di awal pertumbuhan tunas yaitu perlakuan 1.5 E0 di minggu ke 2 dan pada kombinasi perlakuan ternyata perlakuan mulsa memberikan panen ubinan tertinggi jika dikombinasikan dengan volume irigasi 1.5 E0 dan olah tanah 10 cm. Volume irigasi 0.5E0 dan 1E0 memberikan bobot umbi contoh terbaik. Pengolahan tanah 10 cm secara nyata memberikan bobot ubinan terbaik. Kata kunci : Evaporasi, umbi, lahan kerin

    POPULASI BAKTERI PADA TANAH TERKONTAMINASI LOGAM MERKURI (HG) PADA TANAH SAWAH DI LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT

    Get PDF
    Permasalahan lingkungan seperti tercemarnya tanah dan air akibat buangan industri, sertapenggunaan pestisida dan pupuk fosfat dalam kegiatan pertanian dapat mengakibatkanterakumulasinya logam berat pada tanah dan air. Mikroba yang berada didalam tanah banyakjenisnya, kemampuan mikroba untuk menyerap logam berat juga berbeda-beda. Beberapamikroba mampu beradaptasi dengan kondisi pencemaran, berkembang, dan ada juga yangmati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan populasi mikroba pada tanah sawahyang terkontaminasi logam merkuri (Hg) di Lombok Tengah. Media tanam dikontaminasi Hgsebanyak 2 mg/kg, kemudian ditanami padi varietas Ciherang, dan tanpa ditanami dengankondisi kelembaban tanah sama. Pada tanah awal dilakukan analisa sifat fisik dan kimia, sertajenis dan populasi bakteri yang ada. Selanjutnya dianalisa populasi dan jenis bakteri yangberkembang setelah tanaman dipanen. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan beberapa jenisbakteri dapat tumbuh baik pada kondisi tanah yang dicemari yaitu: Bacillus sp., Citrobactersp., Enterobacter sp., Azotobacter sp., Flavobacterium sp., Azospirilum sp., danStaphylococcus sp. dengan populasi tertinggi yaitu Azospirilum sp (1,7 x 109 cfu/ml)

    Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga Nelayan di Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara

    Get PDF
    Ketahanan pangan rumah tangga merupakan suatu kondisi terpenuhinya konsumsi pangan yang penting dalam konsep ketahanan pangan, sebab ketahanan pangan berpengaruh terhadap status gizi anggota keluarga yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu kelompok masyarakat yang diduga masih tergolong rawan pangan adalah nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat konsumsi energi dan protein, pangsa pengeluaran pangan, serta tingkat ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Penentuan sampel lokasi dan responden dilakukan dengan teknik purposive sampling. Total responden berjumlah 80 orang dengan 40 orang nelayan juragan dan 40 orang nelayan pandega. Data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Metode pengambilan data dengan wawancara, observasi, pencatatan, recall, dan dokumentasi. Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata konsumsi energi  rumah tangga nelayan sebesar 1.846 kkal/kapita/hari dengan tingkat konsumsi energi sebesar 83,03% termasuk dalam kategori sedang, dan konsumsi protein sebesar 57,4 gram/kapita/hari dengan tingkat konsumsi protein sebesar 94,66% termasuk kategori sedang. Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluran pangan dan pengeluaran non pangan. Pangsa pengeluaran pangan rumah tangga nelayan sebesar 48,20%, sedangkan pangsa pengeluaran non pangan sebesar 51,80%, artinya pangsa pengeluaran pangan kurang dari 60% pangsa pengeluaran non pangan yang menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan tinggi atau tahan pangan. Kondisi ketahanan pangan rumah tangga nelayan di Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara berdasarkan tingkatannya adalah tahan pangan sebesar 45% nelayan juragan dan sebanyak 30% nelayan pandega, rentan pangan sebesar 5% nelayan juragan dan 2,5% nelayan pandega, serta kurang pangan sebesar 50% nelayan juragan dan 67,5% nelayan pandega

    SUBSTITUSI PUPUK ANORGANIK DENGAN PUPUK ORGANIK HASIL DEKOMPOSISI SAMPAH RUMAH TANGGA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG

    Get PDF
    Penggunaan  kompos sampah  rumah  tangga  hasil  dekomposisi  menggunakan  dekomposer berpotensi mengurangi kebutuhan pupuk anorganik. Penelitian bertujuan mempelajari penurunan nisbah C/N menggunakan dekomposer sehingga memenuhi syarat sebagai pupuk organik. Pupuk tersebut digunakan untuk menyubstitusi sebagian kebutuhan pupuk anorganik tanpa   menurunkan   pertumbuhan   dan   hasil.   Penelitian   diselenggarakan   menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan pengurangan dosis NPK dari 100% (dengan dan tanpa kompos berdekomposer) turun ke 75%, 50% dan 25%, tiga perlakuan terakhir masing-masing dikombinasikan dengan pemberian kompos, dengan dan tanpa perlakuan dekomposer. Hasil pengomposan dengan dekomposer selama 4-5 minggu mampu menurunkan nisbah   C/N menjadi 11-12%. Substitusi dosis NPK dengan kompos sampai batas tertentu tidak menurunkan pertumbuhan dan hasil jagung. Dosis NPK 50% dengan pemberian kompos meningkatkan berat segar per  tongkol menjadi 310 g, berat kering 221 g dan berat biji kering pipil 189 g tongkol-1

    KAJIAN KOMPOSISI MEDIA SEMAI TERHADAP PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media semai terhadap pertumbuhan beberapa varietas benih pepaya (Carica papaya L). Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2016 di Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo pada ketinggian tempat 100 m diatas permukaan laut. Penelitian  ini  menggunakan  metode  percobaan  faktorial  dengan  pola  Rancangan  Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan yang diulang empat kali. Adapun kedua faktor perlakuan tersebut yaitu faktor komposisi media semai (M) yang terdiri atas 3 macam perlakuan M1 (Tanah : arang sekam : pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:1), M2 (Tanah : arang sekam : pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:2) dan M3 (Tanah : arang sekam : pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:3). Faktor perlakuan kedua adalah macam varietas pepaya (F)  yang terdiri atas 3 macam perlakuan F1 (Varietas Calina), F2 (Varietas Bangkok) dan F3 (Varietas Red lady). Dari penelitian diperoleh hasil bahwa perlakuan komposisi media semai, berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan varietas beberapa  benih  pepaya  berpengaruh  sangat  nyata  terhadap  tinggi  tanaman  dan  berat brangkasan segar, dan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang akar, lingkar batang, jumlah daun dan berat brangkasan kering. Interaksi antara perlakuan komposisi media semai dan beberapa  varietas  benih  pepaya  tidak  berpengaruh  nyata  terhadap  panjang  akar,  lingka r batang, tinggi tanaman, jumlah daun, berat brangkasan segar dan berat brangkasan kering atau tidak ada interaksi   terhadap semua parameter. Pertumbuhan terbaik pada kombinasi M1F2 (komposisi media semai tanah : arang sekam : pupuk kompos  dengan perbandingan 1:1:1 dan varietas Bangkok) terbukti pada parameter panjang akar (29,35 cm), lingkar batang (2,13 cm), tinggi bibit (22,70 cm), berat brangkasan segar (18,25 g) dan berat brangkasan kering (5,15g)

    Perubahan Kadar Protein, Kadar Serat, dan Kadar Fenol Selama Fermentasi Tempe Lamtoro (Leucaena leucocephala)

    Get PDF
    Tempe lamtoro atau sering disebut juga sebagai tempe mlanding merupakan makanan fermentasi tradisional yang dibuat dari biji lamtoro (Leucaena leucocephala) oleh mikrobia utama Rhizopus. Seperti pada fermentasi tempe kedelai, pada fermentasi tempe lamtoro ini diduga juga terjadi perubahan kadar senyawa gizi seperti protein total, protein terlarut, dan serat kasar, serta kadar senyawa fungsional seperti total fenol yang disebabkan oleh aktivitas mikrobia dari ragi tempe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kadar protein total,kadar protein terlarut, kadar serat kasar, dan kadar total fenolselama fermentasi tempe lamtoro. Fermentasi bijilamtoro dilakukan selama 36 jam dengan menggunakan inokulum ragi komersial “Raprima”. Setiap 6 jam dilakukan analisis kadar protein total,kadar protein terlarut, kadar serat kasar, dan kadar total fenol. Hasil penelitian menujukkan bahwa kadar protein total, kadar protein terlarut, dan kadar total fenol mengalami kenaikan selama fermentasi 36 jam, yaitu masing-masing dari 26,48 % (db) menjadi 34,39 % (db), dari 3,92 % (db) menjadi 7,28 % (db), dan dari  2,11 % (db) menjadi 3,28 % (db). Sedangkan kadar serat kasar mengalami penurunan selama fermentasi 36 jam, yaitu dari 9,29 % (db) menjadi 7,81 % (db)

    PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS PUPUK KANDANG DAN FREKUENSI PEMBERIAN PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA (PGPR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG MERAH (PHASEOLUS VULGARIS L.)

    Get PDF
    Kacang merah mempunyai nama ilmiah yang sama dengan kacang buncis yaitu Phaseolus vulgaris L. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang berlebih dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesuburan lahan. Salah satu upaya meningkatkan hasil kacang merah dan meningkatkan  kesuburan  lahan  adalah  pemberian  pupuk  kandang  dan   Plant  Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Penelitian bertujuan untuk memperoleh jenis pupuk kandang dan frekuensi aplikasi PGPR yang paling baik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil  tanaman  kacang  merah  (Phaseolus  vulgaris  L).  Metode  yang  digunakan  dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang disusun secara faktorial dengan dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama jenis pupuk kandang, yang terdiri atas pupuk kandang sapi 20 ton/ha (P1), pupuk kandang kambing 20 ton/ha (P2) dan pupuk kandang ayam 20 ton/ha (P3). Faktor kedua adalah frekuensi pemberian PGPR, yang terdiri atas 1 minggu sekali(F1), 2 minggu sekali (F2) dan 3 minggu sekali (F3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan pemberian jenis pupuk kandang dan frekuensi pemberian PGPR. Pemberian pupuk kandang ayam memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman, volume akar,  dan bobot biji per tanaman. Pemberian PGPR frekuensi 2 minggu sekali (F2) memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman, volume akar, jumlah polong per tanaman, dan  bobot polong per tanaman

    Tren Alih Fungsi Lahan Sawah di Kabupaten Klaten

    Get PDF
    Alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain. Alih fungsi lahan berdampak terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri atau perubahan atau penyesuaian penggunaan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tren alih fungsi lahan sawah selama 15 tahun terakhir di Kabupaten Klaten. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi data luas lahan sawah dari tahun 2002 – 2016 , metode analisis data menggunakan metode analisis pertumbuhan secara parsial dan kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tahun 2002 – 2016 alih fungsi lahan lahan sawah di Kabupaten Klaten sebesar 570 ha. Secara parsial laju tingkat pertumbuhan rata-rata lahan sawah sebesar -0,118 % per tahun, dan secara kontinu sejak tahun 2002 – 2016 laju tingkat pertumbuhan alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Klaten sebesar 1,9607 %. Artinya terjadi alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Klaten selama 15 tahun terakhir, hal ini disebabkan oleh adanya pembangunan industri-industri baru di Kabupaten Klaten, dimana pada tahun  2015 terjadi peningkatan jumlah industri sebanyak 156 industri.

    644

    full texts

    730

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇