Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) DARI BAGIAN BUAH YANG BERBEDA DENGAN PERENDAMAN AIR PANAS, H2SO4 DAN KNO3
Kemampuan benih pepaya untuk berkecambah dipengaruhi oleh resistensi senyawa fenolik yang dapat menghambat perkecambahan dan kendala lain yang disebabkan dormansi benih. Pesentase berkecambah benih disetiap bagian buah juga bervariasi mulai dari bagian pangkal, tengah maupun ujung buah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh letak benih pada buah dan macam perendaman terhadap viabilitas benih pepaya. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta pada bulan Maret sampai Juni 2016. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah bagian buah pepaya, yakni : B1 (ujung), B2 (tengah), dan B3 (pangkal). Faktor kedua adalah perendaman, ialah P1 (aquades), P2 (air panas 50o C), P3 (H2SO4 1 %), dan P4 (KNO3 10 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih pepaya bagian tengah buah memiliki viabilitas paling tinggi, perlakuan macam perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih pepaya
Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Pupuk Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kualitas Kedelai (Glycine max (L.) Merril)
Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas tanaman pangan ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Dalam memenuhi kekurangan dan kebutuhan kedelai maka pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendorong peningkatan produksi kedelai. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai, yaitu dengan pemberian pupuk. Penggunaan pupuk dalam peningkatan produksi kedelai memegang peranan penting, tetapi penggunaan pupuk anorganik yang terlalu banyak dan terus menerus tanpa mengembalikan bahan organik ke dalam tanah dapat mengganggu keseimbangan sifat tanah, sehingga akan menurunkan produktivitas lahan dan mempengaruhi produksi. Untuk mengatasi hal ini, maka perlu adanya penggunaan media campuran dengan bahan-bahan organik, seperti pupuk organik cair dan pupuk kotoran sapi dengan penambahan Trichoderma sp. untuk mencapai produksi tanaman kedelai menjadi optimal. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kombinasi perlakuan aplikasi pupuk organik cair dan pupuk kotoran sapi dengan Trichoderma sp. yang dapat meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedelai.Penelitian ini dilaksanakan di Agrotechnopark Jubung, Kabupaten Jember pada Juni 2016 sampai September 2016. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok secara faktorial 4 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor I adalah pupuk organik cair dengan 4 taraf (kontrol, 2,5 cc/liter, 5 cc/liter, dan 7,5 cc/liter) dan faktor II adalah pupuk kotoran sapi + Trichoderma sp. dengan 4 taraf (kontrol, 166 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag, 222 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag, dan 278 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag). Hasil percobaan menggunakan uji lanjut Duncan (DMRT 5 %) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara aplikasi pupuk organik cair dan aplikasi pupuk kotoran sapi + Trichoderma sp. berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah polong hampa, berat biji kering, berat 100 biji, dan berat berangkasan kering. Konsentrasi pupuk organik cair 7,5 cc/liter berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedelai. Dosis pupuk kotoran sapi 278 g/polybag + Trichoderma sp. 20 g/polybag berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedela
PEMANFAATAN BLOTONG LIMBAH PABRIK GULA TEBU UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DI DESA WONOSOCO KABUPATEN KUDUS
Wonosoco merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus,yang secara geografis termasuk dalam kawasan perbukitan Kendeng Utara, yang dicirikandengan kondisi morfologis bentang lahan yang berupa jajaran perbukitan rendah,bergelombang dengan ketinggian sekitar 50-200 m dpl. Perbukitan Kendeng Utaramempunyai jenis tanah berkapur, yaitu jenis tanah hasil pelapukan dari batuan kapur (batuansedimen). Tanah berkapur yang ada di desa Wonosoco berwarna kehitaman, miskin unsurhara, sehingga dapat dikatakan tanahnya kurang subur. Adanya aktivitas manusia dalampengelolaan lahan di kawasan perbukitan Kendeng yang tidak memperhatikan kaidahkonservasi lahan, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan dan semakin hilangnyalapisan tanah yang subur. Akibatnya banyak terjadi lahan yang kritis di wilayah desaWonosoco. Untuk mengembalikan dan meningkatkan produktivitas lahan lahan dibutuhkanrehabilitasi dan input dari luar berupa pemberian unsur hara dari luar. Blotong merupakansalah satu limbah dari Pabrik Gula yang berasal dari proses pembuatan gula. Limbahberbentuk padat mengandung air, bentuknya menyerupai tanah, sebenarnya adalah serat tebuyang bercampur kotoran yang dipisahkan dari nira. Komposisi blotong terdiri dari sabut, waxdan fat kasar, protein kasar,gula, total abu, SiO2, CaO, P2O5 dan MgO. Komposisi iniberbeda prosentasenya dari satu PG dengan PG lainnya, bergantung pada asal prosespembuatan gula pasirnya Blotong berpotensi menjadi bahan baku pupuk organik, sebagaipenyubur atau untuk perbaikan struktur tanah terutama pada lahan kering karena blotongbanyak mengandung bahan penyubur tanah seperti Nitrogen, P2O5, CaO, humus dan lainlain
Evaluasi Nutrisi Hidroponik Alternatif Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun Jepang Varietas Roberto pada Hidroponik Irigasi Tetes Infus
Pemanfaatan hidroponik sebagai salah satu teknologi peningakatan produksi komoditas hortikultura sayuran-buah perkembangannya masih dihadapkan pada beberapa kendala, yaitu kendala teknis (penguasaan teknologinya), kendala ekonomis(biaya investasi awal, biaya produksi tinggi) dan aspek sosial (penerimaan masyarakat terhadap produk hasil hidroponik). Aspek ekonomi berperan besar terhadap keinginan masyarakat untuk menguasai teknologinya dan penerimaan masyarakat terhadap produk hasil hidroponik sebagai sumber pangan sehat. Upaya untuk meningkatkan nilai ekonomis agar bertanam secara hidroponik dapat menghasilkan keuntungan lebih besar adalah mengatur pemberian nutrisi tanaman dan pembuatan nutrisi dengan sumber bahan-bahan pupuk yang murah, mudah dijangkau dan tersedia di pelosok daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor, yaitu variasi nilai electrical conductivity (EC) formulasi nutrisi alternatif terdiri dari 6 taraf perlakuan ( EC 3,0; 3,2; 3,4; 3,6; 3,8; dan 4,0) mS cm-1. Evaluasi nutrisi hidroponik diukur berdasarkan respons terhadap tinggi tanaman, luas daun, berat buah per tanaman dan indeks panen. Hasil pengamatan utama kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam, apabila hasil analisis ragam taraf perlakuan berpengaruh nyata kemudian dilanjutkan dengan uji beda jarak Duncan pada taraf 5%. Sebagai penunjang penelitian dilakukan pengamatan terhadap suhu dan kelembaban di lokasi penelitian. Hasil penelitian pemberian variasi nilai EC nutrisi hidroponik alternatif berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan luas daun akan tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap berat buah per tanaman dan indeks panen. Pemberian EC 3,4 mS cm‑1 formulasi nutrisi alternatif memberikan hasil terbaik terhadap tinggi tanaman dan luas daun
DAYA SAING CPO INDONESIA
Indonesia sebagai produsen utama CPO (Crude Palm Oil) menghadapi tantangan danpersaingan untuk meningkatkan ekspor CPO ke negara importir. Kajian ini menganalisis dayasaing CPO Indonesia dibandingkan dengan negara produsen lain dengan menggunakananalsisi RCA (Revealed Comparatif Advantage) dan CMS (Constant Market Share). Hasilperhitungan analisis RCA menunjukan bahwa Indonesia berada posisi yang tertinggaldibandingkan negara Malaysia, Kolombia dan Thailand dan ridak memiliki daya saing secarakomparatif. Berdasarkan analisis CMS pertumbuhan ekspor CPO Indonesia berada dibawahrata-rata pertumbuhan CPO di tingkat dunia. Secara komposisi produk, Indonesia masihmemiliki nilai negatif. Indonesia memiliki nilai positif pada distribusi pasar di India danBelanda tetapi hanya memiliki daya saing positif di Pakistan. Beberapa hal yang perludilakukan untuk meningkatkan daya saing CPO antara lain: Pertama, perlu adanya sinergitaskebijakan pemerintah yang mendukung daya saing hilirisasi industri sawit. Kedua, Indonesialebih meningkatan kualitas CPO sesuai dengan standarisasi negara importir. Ketiga,peningkatan market intelligence diperlukan untuk distribusi pasar CPO yang lebih baik
SKLEROTIA DAN LUAS BERCAK SEBAGAI VARIABEL KETAHANAN PADI TERHADAP HAWAR PELEPAH DAUN
Hawar pelepah daun merupakan salah satu penyakit yang menyerang padi pada berbagai stadia pertumbuhan yang menyebabkan menurunnya kuantitas dan kualitas panen. Salah satu tanda penyakit hawar pelepah daun adalah sklerotia dan gejala penyakitnya berupa bercak di permukaan daun yang belum banyak digunakan untuk mengevaluasi ketahanan varietas padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan padi dilihat dari jumlah sclerotia dan luas bercak sebagai opsi variabel untuk menguji ketahanan varietas padi. Penelitian dilaksanakan di Dukuh Durenan Desa Joho Kecamatan Mojolaban Sukoharjo. Varietas yang paling tahan terhadap penyakit hawar pelepah daun yaitu varietas Padi Hitam yang menunjukkan nilai yang paling rendah dalam luas bercak yang timbul dan jumlah sklerotia
SISTEM PEMBIBITAN TANAMAN KARET DENGAN ROOT TRAINER
Pembibitan tanaman karet di Indonesia saat ini dilakukan umumnya dengan stump okulasi mata tidur (OMT) dan pembuatan bibit polibeg tanam benih langsung (tabela). Kedua sistem pembibitan tersebut menggunakan wadah media berupa plastik polibeg dan media campuran topsoil dan pupuk kandang dengan perbandingan tertentu. Penggunaan polibeg dan topsoil seringkali menyebabkan (1) akar tunggang mengalami coiling, (2) perakaran bibit tidak berkembang maksimal karena topsoil terlalu padat, (3) membutuhkan banyak tenaga kerja dalam pengelolaannya sehingga menyebabkan biaya produksi tinggi, (4) bobot polibeg dan media topsoil yang berat membatasi kapasitas jumlah bibit yang dapat diangkut saat didistribusikan atau diangkut sehingga efisiensi biaya pengangkutan rendah, dan (5) penggunaan topsoil yang dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Root trainer dikembangkan sebagai wadah yang lebih baik dari polibeg. Root trainer terbuat dari bahan keras dan di dalamnya terdapat beberapa tonjolan vertikal yang berfungsi mengarahkan pertumbuhan akar lurus ke bawah dan mencegah terjadinya pertumbuhan akar secara spiral. Penggunaan root trainer harus diikuti dengan pemilihan media tanam yang sesuai agar bibit tumbuh dengan baik serta efisien penanganannya. Media tersebut dapat berupa serbuk sabut kelapa, gambut rawa, sekam atau arang sekam, limbah padat olahan jamu, dan blotong. Penggunaan root trainer dengan media-media tersebut dapat menciptakan perakaran bibit yang baik, padat dan lebih tahan dari kerusakan, sehingga tanaman karet dapat segera tumbuh dengan jagur setelah ditanam di kebun produksi. Selain itu, penggunaan root trainer juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengusahaan bibit tanaman karet, termasuk dalam transportasi bibit ke kebun produksi
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adopsi Petani terhadap Penerapan Sistem Pertanian Jajar Legowo di Desa Barukan Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh usia, tingkat pendidikan, pengalaman usaha tani, luas lahan ,dan karakteristik inovasi terhadap adopsi sistem pertaniaan jajar legowo 4:1 oleh petani di desa barukan kecataman tengaran kabupaten semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juli sampai agustus 2017 di kelompok rukun santoso tani yang mendapatkan pelatihan pengembangan sistem pertanian jajar legowo di kelurahan barukan kecamatan tengaran kabupaten semarang, daerah ini dipilih secara purposive (sengaja). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan data melalui wawancara, observasi dan pencatatan yakni dengan seluruh anggota kelompok tani rukun santoso sejumlah 60 orang. Analisis data menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama usaha tani dan karakteristik inovasi berpengaruh nyata (signifikan) terhadap adopsi teknologi jajar legowo 4:1 di desa barukan kecamatan tengaran kabupaten semarang dalam hal ini dapat dibuktikan dengan nilai signifikansinya < 0,05 dimana nilai signifikansi lama usaha tani nilai wald sebesar 4,019 dengan nilai signifikansi sebesar 0,045 < 0,05 dan karakteristik inovasi nilai wald sebesar 15,482 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Sedangkan Usia, Tingkat pendidikan, dan Luas lahan tidak berpengaruh signifikan terhadap adopsi teknologi jajar legowo 4:1
PENGARUH KADAR ARSEN TINGGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH
Akhir-akhir ini ketahanan pangan dihadapkan pada permasalahan lingkungan yang mendapat perhatian serius, antara lain pemanasan global dan perubahan iklim, pencemaran bahan beracun berbahaya di lahan pertanian seperti bahan agrokimia (pupuk dan pestisida) dan logam berat. EPA (Environmental Protection Agency) menerangkan bahwa Arsen (As) bentuk organik (mengandung karbon), misalnya monosodium methanearsenate dan dinatrium methanearsenate digunakan dalam pestisida untuk aplikasi pertanian. Salah satu dampak dari paparan pestisida yangmengandung Arsen (As) adalah anemia. Mengingat beras masih merupakan makanan pokok di Indonesia, penelitian ini perlu dilakukan. Dengan mengetahui kandungan As dalam beras yang dihasilkan dari lahan sawah yang terkontaminasi As, maka dapat diketahui sejauh mana beras tersebut aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah kontaminasi Arsen (L) yaitu tanpa kontaminasi arsen (L1) dan kontaminasi 20 ppm As (L2) dan faktor kedua adalah jenis tanah sawah (T) yaitu tanah Lombok (T1), tanah Karanganyar (T2), dan tanah Pati (T3)kemudian tanah ditimbang sekitar 10 kg berat kering, kemudian dikontaminasidengan logam berat As sebanyak 20 ppm dalam bentuk As2O5 in H2O lalu diinkubasi kurang lebih selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam berat arsen yang tinggi dalam tanah mempengaruhi pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan dan biomassa) dan kualitas tanaman padi
Identifikasi Pelaku Jaringan Rantai Pasok Buah Mahkota Dewa di Kabupaten Kulon Progo
Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pelaku dan jaringan rantai pasok buah mahkota dewa di Kabupaten Kulon Progo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Kulon Progo karena di wilayah tersebut merupakan sentra produksi buah mahkota dewa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu di Kabupaten Kulon Progo terdapat satu perusahaan yang mengolah buah mahkota dewa menjadi teh mahkota dewa. Data yang digunakan berupa data primer yang dianalisis secara deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam pelaku dalam jaringan rantai pasok buah mahkota dewa di Kabupaten Kulon Progo, yaitu petani, pedagang pengumpul, perusahaan (PT Salama Nusantara), agen, konsumen. Jenis kelamin petani jumlahnya seimbang antara laki-laki dan perempuan. Sebaran umur petani merata dari usia muda sampai tua dengan status mayoritas sudah menikah. Tingkat pendidikan petani berada pada tingkat SD dan SMA. Petani mayoritas melakukan panen dua kali dalam satu tahun. Jumlah penjualan kurang dari 25 kilogram sekali penjualan. Bentuk penjualan sebagian besar bentuk segar, jika berbentuk kering sudah dipotong. Cara pembayaran dilakukan tunai dengan harga jual Rp 2.500 untuk bentuk segar dan Rp 25.000 untuk kering dan dipotong. PT Salama Nusantara mengolah buah mahkota dewa menjadi teh mahkota dewa dengan kemasan plastik dan karton. Distributor teh mahkota dewa sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, berusia muda, dan tingkat pendidikan SD. Konsumen teh mahkota dewa sebagian besar berusia muda,dengan jenis kelamin hampir seimbang jumlahnya antara laki-laki dan perempuan. Tingkat pendidikan konsumen sebagian besar SMA dan bekerja sebagai pedagang dengan pendapatan tiga sampai empat juta rupiah.