Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Keragaman Morfologi Aksesi Buah Naga Merah Generasi F1
Tanaman buah naga banyak dikembangkan di Indonesia. Persilangan antar spesies pada buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dapat meningkatkan hasil dan keragaman keturunan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakter dan keragaman morfologi 10 aksesi tanaman buah naga merah generasi F1. Variabel pengamatan meliputi komponen batang dan duri. Analisis data dilakukan dengan metode statistika deskriptif, analisis ragam, uji DMRT α 5% dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman morfologi batang dan duri pada buah naga merah generasi F1. Keragaman dari 10 aksesi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok merujuk pada karakter morfologi batang dan duri. Terdapat korelasi antara tinggi gelombang dengan ukuran sudut dan jarak antar areola; antara tinggi gelombang dengan luas gelombang dan ukuran sudut; dan antara jumlah duri dengan diameter areola. Variabel posisi areola menjadi karakter penciri yang khas pada aksesi tanaman K1, dimana posisi areolanya berada di puncak gelombang berbeda dengan 9 aksesi lainnya yang posisi areolanya berada di samping turunan gelombang
STATUS PLASMA NUTFAH GEDI (ABELMOSCHUS MANIHOT L. MEDIK), POTENSINYA SEBAGAI SUMBER NUTRISI, DAN KAJIAN TINDAK AGRONOMINYA DALAM UPAYA OPTIMALISASI PRODUKSI
Penelitian awal dilakukan untuk mengkaji status tanaman gedi ditinjau dari keragaman plasma nutfah tanaman tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa kampung di Manokwari, Papua Barat pada bulan April s/d Juni 2015, menggunakan metode deskriptif dengan tehnik observasi lapang. Analisis data untuk mengamati kekerabatan antar aksesi dengan program ExcelStat. Berdasarkan hasil identifikasi terkumpul 30 aksesi gedi, dan hasil analisis kimia 5 aksesi gedi menunjukkan keragaman kadar fenol, protein dan mineral. Pembudidayaan gedi pada umumnya masih bersifat subsisten dan tradisional dan tanpa menerapkan tindak agronomi. Untuk mendapatkan teknik budidaya yang tepat, maka penelitian kedua dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh tindak agronomi (jarak tanam dan pemupukan serta evaluasi intensitas kerusakan hama), menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok. Perlakuan jarak tanam terdiri dari 0.5 m x 0.1 m, 0.75 m x 0.1 m dan 0.1 m x 0.1 m. Tindak agronomi lainnya berupa aplikasi dosis pupuk kotoran ayam, terdiri dari 0 kg/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha, 30 ton/ha, dan masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Pengamatan terhadap keberadaan hama dilakukan dengan dengan cara menghitung intensitas kerusakan pada masing-masing tanaman contoh (%). Data dianalisa secara statistik dengan menggunakan analisis ragam. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa dosis pupuk kotoran ayam 30 ton/ha menghasilkan pertumbuhan gedi terbaik dibandingkan dengan dosis lebih rendah. Bobot daun dan tinggi tanaman tertinggi dihasilkan oleh jarak tanam lebar (1 m x 1m), meskipun secara statistik tidak berbeda nyata pada umur 3 bulan setelah tanam. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap intensitas kerusakan hama, dimana semakin lebar jarak tanam semakin besar intensitas kerusakan akibat serangan hama pada umur 4 bulan setelah tanam
DISTRIBUSI DAN VARIASI MORFOLOGI CIPLUKAN (PHYSALIS SP.) DI LERENG GUNUNG KELUD, JAWA TIMUR
Tumbuhan ciplukan (Physalis sp.) potensial sebagai bahan baku obat. Keberadaannya yangsemakin langka, perlu mendapat perhatian dalam rangka pengembangan tumbuhan ini.Informasi keberadaan dan keanekaragaman Physalis sp. masih sangat terbatas. Penelitian inibertujuan untuk melihat keberadaan dan variasi morfologi Physalis sp. liar di lereng GunungKelud, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada stasiun pengamatandengan ketinggian 200- 400, 400-600, 600-800, 800-1.000 dan > 1.000 m dpl. Pengamatanmorfologi dilakukan dengan sistem skoring terhadap 29 unsur. Dari data kuantitatif diolahmenggunakan cluster analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Physalis sp.liar lebih mudah ditemukan pada ketinggian 400-600 m dpl. Ketinggian tempat tidakmempengaruhi variasi morfologi Physalis sp. liar
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN UKURAN SETEK UMBI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL GARUT (Marantha Arundinacea L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk hayati, pengaruh ukuran setek umbi, dan pengaruh interaksi antara pupuk hayati dan ukuran setek umbi terhadap pertumbuhan dan hasil garut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor yaitu pupuk hayati menggunakan biota max yang terdiri dari 2 taraf dan ukuran setek umbi yang terdiri atas 2 taraf. Analisis data menggunakan Analisis Ragam dan dilanjutkan denganUji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) pemberian pupuk hayati berpengaruh terhadap peningkatan jumlah daun, jumlah anakan total, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, jumlah umbi per rumpun, diameter umbi, panjang umbi, dan berat umbi per rumpun dibanding tanpa pemberian pupuk hayati, 2) penanaman garut menggunakan setek umbi 3 ruas berpengaruh terhadap peningkatan jumlah daun, jumlah anakan total, jumlah umbi dan berat umbi per rumpun dibanding menggunakan setek umbi dengan 2 ruas, dan 3)interaksi berpengaruh terhadap panjang umbi garut
PERTUMBUHAN BIBIT PISANG PASCA AKLIMATISASI DENGAN SISTEM HIDROPONIK
Bibit pisang hasil perbanyakan in vitro membutuhkan media tumbuh dan nutrisi yang optimum agar tumbuh normal pasca aklimatisasi. Sistem hidroponik dapat memberikan kondisi optimum untuk memacu pertumbuhan bibit. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan substrat dan komposisi nutrisi hidroponik yang memadai untuk pembibitan pisang Raja Bulu Kuning hasil perbanyakan in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta pada tahun 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu jenis substrat dan komposisi nutrisi, yang disusun secara faktorial. Hasil percobaan menunjukkan tidak terdapat interaksi antara jenis substrat dan komposisi nutrisi, tetapi jenis substrat berpengaruh terhadap semua variabel respon kecuali jumlah daun. Pertumbuhan bibit pisang dengan menggunakan substrat tangkai pakis cacah dan serat aren lebih baik dibandingkan substrat bagase, sedangkan komposisi nutrisi tidak berpengaruh terhadap semua variabel respon
Analisa Usaha Tani Jeruk Siam di Lahan Kering (Konawe Selatan) dan Lahan Pasang Surut (Batola)
Jeruk merupakan tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dengan BCR 1,8 pada skala 5 ha. Varietas jeruk yang banyak di tanam di Indonesia adalah siam, dimana dapat ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi. Pengembangan lahan jeruk siam pada lahan kering dan lahan pasang surut perlu untuk diperhatikan, mengingat terbatasnya lahan yang dapat digunakan saat ini. Menurut perhitungan Badan Litbang Pertanian pada tahun 2005, total pengembangan lahan jeruk di 10 provinsi ke depannya hanya tersedia 5,6 juta ha. Oleh karena itu dilakukan analisa usaha tani jeruk siam di Konawe Selatan, yang mewakili lahan kering dan di Batola, yang mewakili lahan pasang surut untuk melihat pendapatan usaha tani, titik impas dan komposisi biaya dari dua lokasi. Pengambilan data dilakukan melalui survey dan wawancara. Dari hasil analisis terlihat di pendapatan usaha tani tanaman jeruk lebih besar ketika di lakukan di lahan pasang surut, dimana komposisi biaya tenaga kerja telah diperhitungkan juga, berbeda dengan Konawe Selatan yang belum memasukkan biaya tenaga kerja. Ttitik impas lebih kecil juga didapatkan di lahan pasang surut
KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN FITOKIMIA TANAMAN MENIRAN (PHYLLANTHUS NIRURI L.)
Studi awal dalam budidaya tanaman adalah mengetahui karakterisasi tanaman tersebut. Karakterisasi tanaman meniran dari beberapa daerah penghasil simplisia meniran di Jawa Tengah perlu dilakukan untuk mengetahui tanaman meniran dengan kualitas baik. Penelitian karakterisasi meliputi karakterisasi morfologi (pengamatan makroskopis dan mikroskopis) dan karakterisasi fitokimia (paparan mutu simplisia, identifikasi flavonoid dan kadar flavonoid total). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan standar tanaman meniran sebagai bahan baku obat tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian menggunakan sampel meniran dari tiga daerah, yaitu Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo. Selanjutnya sampel tanaman meniran tersebut dikarakterisasi morfologi dan fitokimianya. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bahwa secara morfologi tanaman dari ketiga daerah tersebut telah terindentifikasi sebagai meniran dengan nama latin Phyllanthus niruri sedangkan secara fitokimia menunjukkan bahwa tanaman dari ketiga daerah sampel, memenuhi syarat simplisia standar Oleh karena itu bibit tanaman meniran dari ketiga daerah sampel dapat digunakan dalam budidaya tanaman meniran
Uji Ketahanan Enam Hibrida Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Terhadap Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.)
Nematoda merupakan hama yang berpengaruh untuk tanaman tomat karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan penurunan hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan tomat hibrida potensial terhadap nematoda puru akar. Penelitian ini dilakukan di Rumah kaca Fakultas Pertanian UGM dan Labolatorium Nematologi Pertanian Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM mulai bulan Juli 2016 hingga April 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan masing-masing nomor 10 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan semua Hibrida yang diuji rentan terhadap serangan nematoda puru akar. Rerata nilai skoring akar tanaman tomat paling rendah dimiliki oleh Gamato 2 X CLN. Jumlah nematoda L2 dalam tanah, L2 dalam akar, dan nematoda betina dalam akar menunjukkan beda nyata antara tomat hibrida dibandingkan GM2 (kontrol) dan rerata jumlah nematoda paling rendah pada hibrida adalah Gamato 2 X CLN
Respon Pertumbuhan Tribulus terrestris Terhadap Cekaman Air dan Naungan
Tribulus terrestris merupakan tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan karena mempunyai khasiat meningkatkan gairah seks dan dapat meredakan stress. Tribulus dapat merangsang tubuh untuk membentuk hormon testosteron dan estrogen. Tanaman Tribulus terrestris di Indonesia masih belum banyak dikembangkan sehingga produksi tanaman tersebut masih terbatas. Mengingat banyak khasiatnya maka permintaan akan tanaman ini cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toleransi Tribulus terrestris terhadap tingkat cekaman air dan naungan serta mendapatkan tingkat cekaman air dan naungan yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil Tribulus terrestris. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar yang dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola tersarang dengan dua perlakuan yaitu tingkat cekaman air (tanpa cekaman, pemberian air 75% kapasitas lapang, pemberian air 50% kapasitas lapang dan pemberian air 25% kapasitas lapang) dan tingkat naungan (tanpa naungan, naungan 25%, naungan 50% dan naungan 75%). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan uji F taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan 25% memberikan hasil paling tinggi terhadap rata-rata panjang akar, tinggi tanaman, dan saat muncul bunga. Interaksi tingkat naungan 25% dan pemberian air 50% kapasitas lapang memberikan hasil tinggi pada berat kering tanaman
KERAGAMAN MORFOLOGI, PRODUKSI, DAN KANDUNGAN KIMIA PADI BERAS MERAH AKSESI MATESIH
Padi beras merah aksesi Matesih merupakan aksesi yang telah banyak dikembangkan di Matesih namun belum diketahui karakteristiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi, produksi, dan kandungan kimia padi beras merah aksesi Matesih dengan tiga varietas pembanding yaitu Cempo, Mandel, dan Pertiwi. Hasil pengamatan sifat kualitatif diolah dengan metode skoring, sedangkan sifat kuantitatif dianalisis statistik deskriptif kuantitatif sederhana untuk melihat sebaran data. Sifat kualitatif menunjukkan aksesi Matesih memiliki keragaman yang rendah dan hampir sama dengan ketiga varietas pembanding, sedangkan sifat kuantitatif menunjukkan bahwa aksesi Matesih masih memiliki keragaman yang tinggi. Keragaman tersebut terlihat pada panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, dan panjang malai. Produksi aksesi Matesih lebih baik daripada ketiga varietas pembandingnya, hal ini terlihat dari jumlah anakan, jumlah anakan produktif, berat gabah per rumpun, dan produksi per hektar yang lebih tinggi. Aksesi Matesih memiliki waktu berbunga dan umur panen yang lebih lambat daripada varietas Pertiwi. Kandungan kimia yang diamati yaitu kadar protein, amilosa, dan antosianin. Aksesi Matesih memiliki kandungan amilosa dan antosianin yang lebih tinggi daripada varietas Cempo dan Mandel, namun memilki kadar protein terendah