Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
    730 research outputs found

    Perbandingan Pemberian Pupuk Kompos dan Pupuk Kandang Terhadap Kualitas Simplisia Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pemberian pupuk kompos dan pupuk kandang terhadap kualitas simplisia purwoceng. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu. Pada penelitian ini tanaman purwoceng dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama diberikan pupuk kandang dan kelompok kedua diberikan pupuk kompos. Tanaman yang dianalisis dipanen pada umur 16 MST. Analisis yang dilakukan meliputi kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan kandungan stigmasterol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos mampu meningkatkan kadar sari dan kadar stigmasterol pada purwoceng yang dipanen pada umur 16 MST dibandingkan purwoceng yang dipupuk menggunakan pupuk kandang. Pemberian pupuk kompos memberikan pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan perlakuan menggunakan pupuk kandang.Kata kunci : purwoceng, pupuk kompos, pupuk kandang, kadar sari, kadar stigmastero

    Analisis Keuntungan Usaha Beternak Puyuh di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo

    Get PDF
    Kegiatan usaha yang menarik dikaji di subsektor peternakan adalah usaha agribisnis peternakan burung puyuh. Hal ini dilandasi beberapa alasan, yaitu: (1) periode siklus produksinya yang relatif pendek membuat perputaran modal relatif cepat, menjadikannya cocok untuk usaha peternakan rakyat; (2) usaha peternakan burung puyuh mempunyai kaitan yang luas baik kaitan ke belakang (backward linkage) maupun kaitan ke depan (forward linkage); (3) kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja secara ekstensif. Kecamatan Kokap merupakan salah satu kecamatan yang sudah memelihara ternak burung puyuh di Kabupaten Kulonprogo. Mencermati usaha ternak burung puyuh yang dilakukan oleh petani peternak di kecamatan Kokap bahwa, sumberdaya pakan yang masih menggunakan pakan jadi (pakan pabrik) dan belum memanfaatkan sumberdaya pakan lokal tentunya berpengaruh pada biaya pakan yang cukup besar. Dengan demikian petani peternak burung puyuh di Kecamatan Kokap masih tergantung pada pakan pabrik sehingga perlu dilakukan kajian melalui penelitian apakah usaha beternak burung puyuh yang dilakukan oleh petani peternak di kecamatan Kokap memberikan tingkat keuntungan atau sebaliknya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini ialah apakah usaha beternak burung puyuh memberikan keuntungan bagi petani peternak. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis besarnya keuntungan dan biaya produksi usaha ternak burung puyuh. Biaya produksi per 2000 ekor dari usaha ternak burung puyuh di Kecamatan Kokap terdiri biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total dalam usaha ini adalah sebesar Rp.168.907.818/periode produksi dengan rata-rata responden mengeluarkan biaya tunai sejumlah Rp.163.472.064,00/periode produksi. Biaya yang diperhitungkan dalam usaha ini sejumlah Rp.5.435.754,00/periode produksi dengan rata-rata responden mengeluarkan biaya tidak tetap sejumlah Rp.168.936.844. Keuntungan yang didapatkan peternak  populasi 2000 ekor pada usaha ternak burung puyuh di Kecamatan Kokap disepanjang satu periode produksi adalah sebesar Rp.29.566.214/periode produksi. Hasil analisis R/C atas biaya tunai     D.23   Vol 2, No. 1 (2018) E -ISSN: 2615-7721 P-ISSN: 2620-8512  menunjukkan hasil 1.21 dan R/C atas biaya total menunjukkan hasil 1.18. R/C menunjukkan bahwa setiap satu rupiah yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar R/C nya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap satu rupiah yang dikeluarkan peternak maka menghasilkan penerimaan sebesar 1.21 rupiah atas biaya tunai dan 1.28 rupiah atas biaya total. Usahatani burung puyuh efisien untuk diusahakan jika dilihat dari kedua R/C karena memiliki nilai lebih besar dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ternak burung puyuh yang dijalankan bisa memberikan manfaat atau keuntungan seperti apa yang diharapkan.  Kata Kunci: Analisis keuntungan, Burung puyuh 

    ANALISIS KETERKAITAN SEKTOR PERTANIAN DENGAN SEKTOR LAIN PADA PEREKONOMIAN PROVINSI JAWA TENGAH

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan ke belakang dan ke depan pada sektor pertanian dengan sektor lain dalam perekonomian di Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan data sekunder yaitu Tabel Input Output Jawa Tengah tahun 2013. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Input Output (IO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keterkaitan keterkaitan ke depan dan ke belakang sektor pertanian relatif masih lebih kecil dibandingkan dengan sektor lain dalam perekonomian. Artinya sektor pertanian masih tertinggal pembangunannya dibandingkan dengan sektor lain. Secara garis besar nilai keterkaitan ke belakang sektor pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan nilai keterkaitan ke depan karena pengembangan pada sektor pertanian lebih mengarah pada pemanfaatan input proses produksi dari sektor yang lain dibandingkan dengan menyediakan input untuk sektor lain. Nilai keterkaitan ke belakang pada sektor pertanian berada diperingkat kelima dari lima belas sektor yaitu subsektor peternakan. Jika output sektor peternakan naik maka input produksi dari subsektor peternakan diantaranya industri bibit ternak, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin ternak, serta alat-alat dan mesin peternak juga akan mengalami kenaikan permintaan. Pada nilai keterkaitan ke depan, sektor pertanian yaitu subsektor tanaman pangan menduduki posisi keenam dari lima belas sektor. Ketika output sektor pertanian seperti tanaman pangan meningkat maka akan meningkatkan sektor lain seperti sektor industri pengolahan yang menggunakan output sektor pertanian sebagai input produksi

    Studi Efisiensi Teknis Usahatani Tebu Tanam Awal dan Tebu Keprasan di Kabupaten Malang

    Get PDF
    Tebu merupakan bahan baku gula dimana sebagai sumber kalori dan berasa manis. Gula termasuk salah satu dari 9 bahan kebutuhan pokok dan juga bahan industri makanan dan minuman. Secara nasional konsumsi gula terus meningkat dari tahun ke tahun namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Salah satu penyebab adalah rendahnya produktivitas tebu dikarenakan tingginya porsi tebu keprasan. Upaya peningkatan produksi yang telah dilakukan antara lain dengan bongkar ratoon.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efisiensi teknis usahatani tebu berdasarkan sistem tanam dan tebu keprasan. Peneltian dilakukan di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur dan penentuan unit analisis dilakukan dengan non proportioned stratified random sampling berdasarkan sistem tanam dan keprasan dan diperoleh 172 petani tebu. Alat analisis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi stochastic frontier. Dari hasil analisis, rata- rata efisiensi teknis sistem  tebu tanam dan tebu keprasan berbeda nyata. Pada sistem tebu tanam lebih efisien dibandingkan tebu keprasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat frekuensi keprasan maka semakin rendah nilai efisiensinya. Sehingga upaya peningkatan produkstivitas tebu adalah pengkombinasian penggunaan input produksi dan integrasi dari hulu hingga hilir seperti penentuan rendemen dan varietas tebu yang diharapkan dapat mendorong peningkatan efisiensi dan produksi

    PENGGUNAAN FILTER ZEOLIT DAN KARBON AKTIF UNTUK MENURUNKAN SISA KLOR DAN PENINGKATAN pH AIR HUJAN: Studi Kasus di Gedung Fakultas Teknik Industri Pertanian Universitas Padjadjaran, Kecamatan Jatinangor

    Get PDF
    Konservasi air menjadi hal yang mendesak dengan dilakukan karena telah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas air. Salah satu upaya untuk memperoleh air siap minum adalah pengolahan air hujan sebagai bagian dari rain water harvesting. Kualitas air hujan yang tidak memenuhi  baku  mutu  air minum terutama  pH dan  kandungan  bakteri  e-coli memelukan perlakukan agar kedua parameter tersebut sesuai dengan baku mutu. Aplikasi klorin dapat menurunkan e-coli namun sisa klor tidak nyaman bagi pengguna. Penelitian ini menggunakan filter zeolite dan filter karbon aktif untuk menurunkan kadar sisa klor dan meningkatkan pH air. Penggunaan filter zeolite dan karbon aktif diharapkan mampu menurunkan sisa klor dan meningkatkan pH air. Hasil analisis menunjukkan bahwa filter zeolite dengan ukuran 2 kali filter housing 10 inci dan filter karbon aktif 3 kali filter housing mampu menurunkan sisa klor dan meningkatkan kadar pH menjadi kualitas air layak minum

    Peningkatan Produktivitas dan Biomasa Ubi Kayu pada Berbagai Jenis dan Dosis Pupuk NPK serta Kendala Implementasinya

    Get PDF
    Peningkatan produktivitas ubi kayu merupakan wahana bagi petani untuk mencapai kenaikan pendapatan dan kesejahteraan. Pemupukan menjadi kunci dalam peningkatan produktivitas, agar seiring dengan peningkatan pendapatan maka diperlukan efisiensi. Serangkaian penelitian lapangan bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemupukan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil serta biomasa ubi kayu. Sepuluh perlakuan pemupukan dalam acak kelompok lengkap dengan tiga ulangan telah dilaksanakan di Wonogiri selama November 2013 hingga Oktober 2014, sedangkan di Blitar tiga demoplot dalam skala besar dilaksanakan mulai November 2014 hingga Oktober 2015, berlanjut hingga Februari 2017. Hasil Penelitian di Wonogiri menunjukkan bahwa pemupukan majemuk NPK Alternatif 2 pada dosis 600 kg/ha menghasilkan ubi tertinggi, yang diikuti total biomas, efektivitas, efisiensi serta nisbah efisiensi/efektivitas yang tertinggi pula. Sebagai konsekuensi hara NPK yang terangkut saat panen juga tertinggi yaitu sejumlah  222,31 kg N + 49,61 kg P + 392,13 kg K/ha.  Dengan indikator hasil analisis tanah kadar N sangat rendah (0,04 persen); P cukup (15,80 ppm Bray I) dan K tinggi (0,67 Cmol+/kg) maka untuk meningkatkan produktiivitas ubi kayu yang lebih tinggi dengan total biomasa > 100 t/ha perlu ditingkatkan dosis pemberian pupuk > 600 kg/ha khususnya Phonska maupun Pupuk NPK Alternatif 2. Tetapi dari implementasi dalam demoplot skala luas di Blitar, petani masih lebih memilih Phonska, karena mudah tersedia dan harga terjangkau. Rendahnya harga dan sulitnya pasar merupakan kendala utama bagi petani untuk melakukan pemupukan pada ubi kayu

    Respon Varietas Sawi (Brassica sinensis) terhadap Bahan Mikroorganisme Lokal (MOL): Bonggol Pisang, Limbah Buah dan Limbah Sayur

    Get PDF
    Kebutuhan masyarakat akan tanaman sawi semakin meningkat untuk seiringdengan pertambahan penduduk. Sawi dikonsumsi baik daun maupun bunganya dalam bentuk olahan maupun dalam bentuk olahan. Kendala yang dihadapi petani belakangan ini adalah masalah pupuk yaitu sulit  mendapatkan serta mahal.harganya[3]. Mikroorganisme lokal adalah kelompok mikroorganisme yang mampu menguraikan limbah organik menjadi pupuk organik cairsehingga bisadimanfaatkan oleh tanaman, murah harganya serta tidak mengakibatkan polusi lingkungan[1].Mikroorganiame lokal dapat dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair [2]. Bahan utama mikroorganisme lokal biasanya berasal dari karbo hidrat, selulose, glukose dan sumber mikroorganisme itu sendiri yang kemudian difermentasikan. Penelitian dilaksanakan untuk menguji respon varietas sawi terhadap bahan limbah mikroorganisme lokal (MOL). Merupakan percobaan faktorial yang disusun secara acak kelompok, faktor pertama adalah varietas sawi dan faktor kedua adalah macam bahan limbah organik. Hasil percobaan menunjukkan tidak terjadi interaksi antara varietas dan macam bahan limbah organik.Masing-masing varietas menujukkan respon berbeda terhadap perlakuan pemberian bahan limbah organik yang berbeda yang ditunjukkan oleh peubah pertumbuhan tanaman

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN PRODUKSI PADI SAWAH DI DESA RAMBAH TENGAH BARAT KECAMATAN RAMBAH KABUPATEN ROKAN HULU

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani sawah dataran rendah di desaRambah Tengah Barat, tingkat produksi padi petani di dataran rendah dan karakteristikkorelasi petani dengan produksi padi dataran rendah. Metode dasar penelitian adalahdeskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian adalah Desa Rambah Tengah Barat KecamatanRambah Kabupaten Rokan Hulu. Data yang digunakan adalah primer dan sekunder. Analisisdata yang digunakan adalah korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan:mayoritas petani usia 40 keatas, tingkat pendidikan petani adalah sekolah dasar, mayoritasjumlah keluarga adalah 5, memiliki pengalaman yang cukup berkisar antara a 5-10 tahun danmemiliki lahan pertanian padi yang luas. Sedangkan tingkat produksi mayoritas petani adalah1-2 ton/ha. Hasil analisis data menyatakan bahwa ada korelasi positif dan signifikan antarakarakteristik petani (umur, pendidikan, tanggungan, pengalaman dan luas tanah) denganproduksi padi dataran rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian menggunakan rankSpearman yang ditunjukkan oleh hasil rho berturut-turut 0,933, 0,723, 0,865, 0,793 dan0,704, itu lebih besar dari r tabel adalah 0,364

    EMISI CH4 DAN HASIL GABAH PADA VARIETAS CIHERANG DENGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 2:1 DI LAHAN TADAH HUJAN

    Get PDF
    Lahan sawah merupakan sumber penghasil emisi CH4. Kondisi lingkungan pertanaman padi sawah yang tergenang (anaerob) merupakan kondisi optimum pembentukkan gas CH4. Selain itu, pengalolaan lahan dan teknik budidaya tanaman padi dapat mempengaruhi emisi CH4 yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika emisi CH4 dan hasil padi pada varietas Ciherang pada Musim Hujan 2014-2015 (MH 2014-2015) dan Musim Kemarau I 2015  (MK I 2015) dengan cara tanam Jajar  Legowo  2:1  di lahan  sawah tadah hujan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada bulan November 2014 - Maret 2015 untuk MH 2014-2015 dan Maret - Juli 2015 untuk MK I 2015, dengan  menerapkan  jajar  legowo  2:1.  Varietas yang digunakan  adalah  varietas Ciherang dengan variabel yang diamati adalah fluk CH4  dengan pengambilan sampel GRK terbatas, emisi CH4, hasil gabah, tinggi muka air tanah serta data iklim. Hasil penelitian menunjukkan emisi CH4  dan hasil padi yang dihasilkan pada MH 2014-2015 sebesar 216 kg CH4  ha-1 dengan hasil gabah 5,6 ton ha-1. Emisi CH4  dan hasil padi pada MK I 2015 sebesar 244 kgCH4 ha-1 dengan hasil gabah dan 4,2 ton ha-

    RESPON KUALITAS DAN HASIL PRODUKSI PADI PADA LAHAN NON-TOP SOIL TERHADAP APLIKASI EKSTRAK SEKAM

    Get PDF
    Data    luas  area  pertanian  di  Jawa  Timur  saja  pada  dari  tahun  ke  tahun  menunjukkan penurunan luas lahan. Penelitian dilaksanakan di daerah Patrang Kabupaten Jember Jawa Timur. Varietas padi yang digunakan dalah Sintanur. Bahan yang digunakan berupa sekam padi, tanah yang kehilangan top-soil dari area bekas galian batu bata, air, pestisida, pupuk Urea, SP-36 dan KCl, etanol, HCL 2%, reagen nelson, aquades, TCA dan BaOH. Pemberian ekstrak abu sekam menunjukkan pengaruh yang positif terhadap bobot biji per malai dan kandungan pati, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot 100 bulir biji

    644

    full texts

    730

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇