Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI TEPUNG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas blackie) DENGAN VARIASI PROSES PENGERINGAN
Ubi jalar merupakan tanaman yang sangat familiar yang terdiri dari beberapa jenis. Jenisyang paling umum adalah ubi jalar putih, merah, ungu, kuning atau orange. Kelebihan dariubi jalar yang berwarna yaitu mengandung antioksidan. Ubi jalar ungu memiliki kelebihanlain yaitu kandungan antosianin yang merupakan salah satu senyawa antioksidan selainbetakaroten.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sifat fisikokimia dan sensori yang dimiliki olehtepung ubi jalar ungu (Ipomoea batatas blackie) dengan variasi proses pengeringan. Variasiproses pengeringannya meliputi pengeringan dengan sinar matahari tidak blanching, sinarmatahari blanching, kabinet dryer T50oC tidak blanching, kabinet dryer T50oC blanching,kabinet dryer T60oC tidak blanching, kabinet dryer T60oC blanching, kabinet dryer T70oCtidak blanching, dan kabinet dryer T70oC blanchin. Rancangan yang digunakan ialahRancangan Acak Lengkap variasi proses pengeringan. Data yang diperoleh dianalisis denganANOVA pada α 5% serta dilanjutkan uji DMRT apabila ada beda nyata.Hasil penelitian menunjukkan sifat kimia tepung ubi jalar ungu yang paling baik secaraumum adalah pengeringan dengan kabinet dryer T50oC tidak blanching memiliki sifat kadarair 5.84%, kadar abu 1.88%, kadar protein 3.21%, kadar lemak 1.27%, kadar karbohidrat87.79%, kadar antosianin 19.75 ppm, dan kadar pati 64.63%. Sifat fisik tepung ubi jalar unguyang paling bagus pada pengeringan dengan kabinet dryer T50oC tidak blanching memilikikelarutan 17.06%, daya serap air 1.69 ml/gr, bulk density 0.43 gr/ml, viskositas 7.84 cP, danrendemen 30.42%. Berdasarkan hasil uji sensori tepung ubi jalar ungu secara keseluruhanpanelis lebih menyukai tepung ubi jalar ungu dengan proses pengeringan Kabinet Dryer T50oC Tidak Blanching dengan skor 7,08 dan Kabinet Dryer T60oC Tidak Blanching denganskor 7,06 yang berarti suka. Berdasarkan sifat kimia, fisik maupun sensori tersebut dapatdiketahui bahwa proses pengeringan yang optimal pada pembuatan tepung ubi jalar ungudilihat dari segi sifat fisikokimia dan sensori adalah dengan proses pengeringan KabinetDryer T50oC Tidak Blanching
Aspek Kognitif Petani terhadap Burung Hantu sebagai Agensia Hayati Pengendalian Tikus di Daerah Istimewa Yogyakarta
Burung hantu (Tyto alba) telah diperkenalkan sebagai agensia hayati pengendalian tikus di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagaimanakah aspek kognisi petani terhadap manfaat burung hantu tersebut? untuk mengetahui hal itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui aspek kognitif petani terhadap burung hantu sebagai agensia hayati pengendalian tikus di Daerah ini. Penelitian dilakukan di Desa Sidorejo Kecamatan Godean Kabupaten Sleman, Desa Argorejo dan Argosari Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul dan Desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Penentuan lokasi penelitian secara purposif dengan pertimbangan di lokasi tersebut terdapat rumah burung hantu. Dari masing-masing kabupaten diambil sampel petani sebanyak 30 orang sehingga total sampel mencapai 90 orang. Penentuan sampel menggunakan metode acak sederhana. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik deskriptif dengan pendekatan skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor dari keseluruhan item pernyataan objek sikap adalah 3,2 dan dibulatkan menjadi 3 yang termasuk kategori kurang yakin, sehingga dapat disimpulkan bahwa petani padi sawah di DIY memiliki sikap kurang yakin dari aspek kognitif terhadap objek sikap manfaat burung hantu sebagai agensia hayati pengendalian tikus. dengan kata lain objek sikap tersebut kurang sejalan dengan pengetahuan dan atau pengalaman dimiliki petani
ANALISIS USAHATANI BIOFARMAKA (STUDI KASUS KELOMPOK TANI SRI GUNUNG DESA GUNUNG GAJAH KECAMATAN BAYAT KABUPATEN KLATEN)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis besarnya biaya,penerimaan,pendapatan, efisiensi usahatani dan risiko usahatani di kelompok tani Sri Gunung KabupatenKlaten. Metode dasar penelitian ini adalah deskriptif analitik. Metode penentuan lokasipenelitian secara purposive dengan metode sensus dengan jumlah 30 responden. Hasilpenelitian, biaya rata-rata yang dikeluarkan pada usahatani biofarmaka yaituRp.195.845,40/UT/MT. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh petani biofarmaka yaitu Rp.395.916,67/UT/MT. Pendapatan rata-rata yang diterima yaitu sebesar Rp.200.071,27/UT/MT. Efisiensi usaha (nilai R/C rasio) usahatani biofarmaka adalah Rp 2,02yang berarti setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan dalam usahatani biofarmaka akan didapatkanpenerimaan Rp. 2,02 dari biaya yang telah dikeluarkan. sehingga dapat dikatakan bahwausahatani biofarmaka kelompok tani sri gunung sudah efisien. Koefisien variasi pendapatansebesar 0,009 dengan batas bawah Rp. 196.070,25/UT/MT. Berdasarkan analisis risikopendapatan usahatani biofarmaka akan selalu untung (terhindar dari kerugian). Sedangkankoefisien variasi efisiensi sebesar 0,49. Hal ini berarti peluang menyimpang dari efisiensiyang dihadapi petani biofarmaka sebesar 49 %
PENGARUH BEBERAPA KOMPOSISI SUBSTRAT PADA BUDIDAYA SELADA SECARA HIDRPONIK
Selada (Lactuca sativa L.) merupakan sayuran yang memiliki prospek cukup cerah di masyarakat. Budidaya selada saat ini menghadapi berbagai masalah salah satunya penyempitan lahan. Hidroponik substrat dapat menjadi solusi untuk masalah keterbatasan lahan. Serat aren merupakan salah satu substrat yang berpotensi bisa digunakan untuk media hidroponik. Serat aren juga memiliki beberapa kelemahan yaitu kepadatan substrat yang rendah serta mudah lapuk dan rusak dan diperlukan penambahan substrat lain agar kepadatan serat batang aren bisa bertambah dan mampu menopang pertumbuhan tanaman selada. Penelitian ini bertujuan penelitian ini penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui kombinasi substrat yang memiliki kemampuan yang baik untuk budidaya selada. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2016 di Screenhouse Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Faktor perlakuan yang digunakan yaitu komposisi media tanam kombinasi substrat dan serat aren. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan media tanam berpengaruh pada tanaman. Pakis cacah memiliki hasil tertinggi pada variabel jumlah daun, luas daun, kadar klorofil, panjang akar dan volume akar. Media zeolit 100% memiliki hasil tertinggi pada variabel tinggi tanaman berat segar tanaman dan berat kering tanaman
KAJIAN PERUBAHAN PENGETAHUAN PENYELIA MITRA TANI SEBELUM DAN SESUDAH MENGIKUTI BIMBINGAN TEKNIS PENUMBUHAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN LAMPUNG
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pengetahuan Penyelia Mitra Tani (PMT)sebelum dan sesudah mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) penumbuhan dan pengembanganLKM-A Gapoktan yang dilakukan pada bulan Agustus 2016 di BPTP Lampung. Jumlahsampel 31 orang PMT. Pengumpulan data dilakukan menggunakan daftar pertanyaan yangsudah disiapkan dan analisis data dilakukan dengan Paired Sample T Test. Hasil kajianmenunjukkan bahwa rata-rata total skore pengetahuan PMT sebelum mengikuti Bimtek3,61dan sesudah mengikuti Bimtek meningkat menjadi 4,06atau meningkat 0,45 skala likert.Nilai korelasi antara kedua variabel sebelum dan sesudah Bimtek 0,268 dengan probabilitassebesar 0,146.Hasil pengujian Paired Sample T Test menunjukkan nilai t hitung harga mutlaksebesar – 4,030 dengan nilai probalititas pada uji dua sisi sebesar 0,000. Nilai t tabel padatingkat signifikansi 5% untuk uji dua sisi dengan df 30 (n-1) adalah 2,042. Karenat hitunglebih besar dari t tabel berarti rata-rata pengetahuan PMT tentang LKM-A sebelum dansesudah mengikuti bimbingan teknis tidak sama atau berbeda secara nyata. Nilai probabilitas0,000 atau lebih kecil dari 0,025 menunjukkanbahwa metode bimbingan teknis efektif untukmeningkatkan pengetahuan PMT dalam penumbuhan dan pengembangan LKM-A Gapokta
Respon Pertumbuhan Tribulus terrestris Terhadap Intensitas Cahaya dan Kadar NaCl
Tribulus terrestris merupakan tanaman yang mengandung berbagai macam komponen, antara lain saponin, flavonoid, dan asam amino untuk obat hipertensi serta jantung koroner. Ketersediaan tanaman Tribulus masih terbatas, karena budidaya Tribulus masih jarang dilakukan oleh petani. Pengelolaan budidaya Tribulus dengan pengaturan intensitas cahaya yang berbeda dan tanah salin akan dikaji pada penelitian ini yang diharapkan dapat diketahui tingkat toleransi intensitas cahaya dan kadar salinitas tanah pada budidaya Tribulus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya, pengaruh aplikasi NaCl dan interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan tanaman Tribulus. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2017 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UNS di Kecamatan Jumantono, Karanganyar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola tersarang dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah naungan dengan 4 taraf (0, 25, 50 dan 75%). Faktor kedua adalah kadar NaCl dengan empat taraf (0, 1.000, 2.000, dan 3.000 ppm). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan naungan 25% memberikan hasil paling besar terhadap rata-rata tinggi tanaman. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 1.000 ppm memberikan pertumbuhan paling lambat pada saat muncul bunga. Perlakuan naungan 50% dan kadar NaCl 3.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada panjang akar. Semua perlakuan naungan menghasilkan volume akar yang lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan tanpa naungan. Perlakuan tanpa naungan dan kadar NaCl 3.000 ppm memberikan pertumbuhan paling tinggi pada berat segar. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 1.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada berat segar. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 2.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada berat kering
PENGARUH JENIS PUPUK PADA BERBAGAI SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI
Tanaman padi ialah tanaman penghasil beras yang digunakan sebagai bahan pangan utama hampir 90% penduduk Indonesia. Untuk meningkatkan produksi padi memerlukan teknik budidaya yang tepat serta masukan hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan hasil padi yang maksimal. Penelitian bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan jenis pupuk anorganik yang dikombinasikan dengan pupuk organik pada berbagai sistem tanam jajar legowo terhadap pertumbunan dan hasil tanaman padi. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot acak kelompok (Split Plot Randomized Complete Design) dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama (main plot) adalah jenis pupuk, terdiri dari 3 aras yaitu P1= 100% pupuk anorganik (Phonska 600 kg/ha), P2: 50% pupuk anorganik + 10 ton/ha pupuk organik hayati BATAN dan P3: 50% pupuk anorganik + 10 ton/ha pupuk organik Faperta UPN “Veteran” Yogyakarta). Sebagai anak petak (sub plot) adalah sistem tanam jajar legowo, terdiri dari 3 aras yaitu: J1: Jajar Legowo 2: 1, J2: Jajar Legowo 3 : 1, dan J3: Jajar Legowo 4 : 1. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara jenis pupuk dan sistem tanam jajar legowo terhadap pertumbuhan dan hasil padi. Jenis pupuk 100% anorganik tidak berbeda nyata dengan 50% anorganik + organik BATAN dan 50% anorganik + organik FP UPN pada tinggi tanaman 56 hari setelah tanam, jumlah anakan produktif, panjang malai, bobot 1000 butir dan hasil. Ketiga sistem tanam jajar legowo tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tinggi tanaman; sistem tanam jajar legowo 4 : 1 memberikan jumlah anakan dan jumlah anakan produktif lebih banyak dibandingkan jajar legowo 2:1 dan 3:1. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 memberikan hasil paling tinggi dibanding sistem jajar legowo 3:1 dan 4:1
KETERSEDIAAN UNSUR HARA MIKRO (FE, CU, ZN DAN MN) PADA LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA
Unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Zn, dan Mn sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanamansehingga berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui ketersediaan unsur Fe, Cu, Zn dan Mn pada lahan pertanian di KabupatenBanjarnegara, pola sebaran spasial dan korelasi unsur-unsur tersebut di dalam tanah.Pengambilan contoh tanah dilaksanakan di lahan pertanian baik lahan sawah, tegalan,maupun perkebunan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada tahun 2015 denganmetode survey. Kandungan unsur Fe, Cu, Zn dan Mn dianalisis dengan metode ekstraksiMehlich 3 dan pengukurannya menggunakan Atomic Absorption Spectrometry (AAS). Hasilpenelitian menunjukkan ketersediaan unsur Fe 80,8% berada pada rentang normal dan 19,2%dibawah rentang normal. Ketersediaan unsur Cu dan Zn berada di bawah rentang normal.Ketersediaan unsure Mn 4,57% berada pada rentang normal, 94,13% berada di bawahrentang normal, dan 1,30% berada di atas rentang normal. Pola sebaran spasial unsur Feterdistribusi normal dan mengumpul (Clustered), unsurMn, Zn, dan Cu terdistribusi tidaknormal dan mengumpul (Clustered). Unsur Cu memiliki korelasi yang positif sangat nyataantara dengan Fe, Mn, dan Zn
Tingkat Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Kegiatan Gelar Lapang Inovasi Pertanian (GLIP) di Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep
Gelar Lapang Inovasi Pertanian (GLIP) merupakan salah satu strategi untuk mrngkomunikasikan teknologi kepada petani dan stakeholder terkait agar terjadi penerapan inovasi. Keberhasilan kegiatan GLIP tentunya didukung oleh banyak faktor, salah satunya adalah penyuluh di Kecamatan Guluk-Guluk. Penyuluh diharapkan mampu mendampingi petani sehingga produktivitas padi meningkat. Peningkatan produktivitas hasil panen padi salah satunya didukung oleh kinerja penyuluh pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kinerja penyuluh dalam kegiatan GLIP di Kecamatan Guluk-Guluk. Metode pengambilan sampel menggunakan metode sensus sebanyak 3 penyuluh pendamping kegiatan GLIP. Analisis data menggunakan analisis Nilai Prestasi Kerja (NPK) berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 91/Permentan/OT.140/9/2013 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Penyuluh Pertanian. Hasil yang diperoleh dari analisis Nilai Prestasi Kerja adalah 64,28 yang menunjukkan bahwa kinerja penyuluh pada kegiatan GLIP berada pada kategori cukup
Analisis Pertumbuhan Tomat pada Aplikasi Zn Melalui Daun
Tomat merupakan komoditas yang digemari oleh masyarakat, namun produksi tomat kurang maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Kurang maksimalnya produksi tanaman tomat disebabkan karena berbagai faktor, misalnya tingkat kesuburan tanah, keadaan iklim yang tidak menentu, dan serangan hama. Untuk meningkatkan hasil produksinya, pada umumya petani melakukan pemupukan dengan pupuk yang mengandung hara makro. Akan tetapi unsur hara mikro sering kali diabaikan oleh para petani. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari petumbuhan tomat pada aplikasi Zn melalui daun. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2017 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama adalah jenis pupuk Zn yang terdiri dari dua jenis yaitu ZnSO4 dan ZnCl2. Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk yang terdiri lima taraf yaitu 0 ppm (kontrol), 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm dan 80 ppm. Setiap kombinasi perlakuan dalam penelitian ini diulang tiga kali. Analisis data dilakukan dengan analisis varian pada tingkat kepercayaan 95%. Jika terjadi beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple’s Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pemberian pupuk hara mikro Zn dengan berbagai dosis dapat meningkatkan rasio luas daun, laju pertumbuhan tanaman, dan rasio akar tajuk, namun tidak meningkatkan laju asimilasi bersih tanaman.