Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
LAJU RESPIRASI, KANDUNGAN GULA DAN ASAM DARI BEBERAPA BUAH DAN SAYUR SELAMA MASA PENYIMPANAN DALAM ATMOSFIR TERMODIFIKASI
Beberapa buah (salak Pondoh dan pisang Raja) dan sayur (cabai merah dan terung) disimpandalam kontainer atmosfir termodifikasi dalam suhu ruang untuk mengetahui laju respirasi dankandungan gula dan asam dari masing-masing komoditas. Besarnya laju respirasi padakondisi atmosfir termodifikasi O2:CO2:N2=20:5:75 pada suhu ruang cabai merah besar, salakPondoh, pisang Raja dan terung berturut-turut adalah 40,96, 17,05, 21,56 dan 38, 58mg/kg/jam.Kandungan gula (oBrix) di awal penyimpanan masa penyimpanan mula-mula turun di harikedua kemudian terus naik hingga akhir penyimpanan, kecuali pada pisang Raja yang padahari kedua menunjukkan sedikit aktivitas klimakterik. Kandungan gula cabai merah antara12,2 hingga 15,6, salak Pondoh 10,0 hingga 15,4, pisang Raja 12,0 hingga 13,6 dan terung12,4 hingga 14,0 oBrix.Kandungan asam total (% v/v) pada cabai merah besar, salak Pondoh dan terungberturut-turutadalah 0,56—0,66, 0,28—0,42, dan 0,19—0,31%. Sedangkan pada pisang Raja, cenderungfluktuatif mengikuti pola klimakterisitasnya, tetapi berkisar pada angka 0,38—0,67%,kemudian cenderung menurun hingga 0,46% pada hari ke-6
Preferensi dan Keputusan Petani terhadap Pilihan Varietas Unggul Ubijalar di Lahan Pasang Surut
Penelitian dilakukan di Desa Sidomulyo dan , Barito Koala pada tahun 2016. Tujuan penelitan untuk mengidentifikasi karakteristik tanaman ubijalar yang disenangi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam memilih varietas unggul ubijalar. Pengambilan sampel dilakukan secara “purposive sampling” di ke dua lokasi penelitian. Masing-masing sebanyak 30 (tiga puluh) responden, sehingga total responden sebanyak 60 responden. Analisis data yang digunakan terdiri atas analisis tabulasi, dan analisis komponen utama (principal component analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani ubijalar mempunyai keuntungan yang tinggi.Petani responden Desa Sidomulyo menyatakan suka warna ubijalar varietas Kidal (100%/V2), namun pilihan petani (100%) sangat suka pada varietas V3 (Ayamurasakhi). Sedangkan petani responden Desa Simpangjaya suka warna kulit ubijalar pada varietas Shiroyutaka (V1), V2 (varietas Kidal), dan V3 (varietas Ayamurasaki), masing-masing 73,33%, 60%, dan 46,67%. Dalam menyikapi pemilihan varietas unggu ubijalar, petani dipengarugi beberapa faktor. Faktor utama atau yang sangat dominan dalam pemilihan varietas unggul sebagai prferensi adalah mudah memperoleh bibit, mempunyai daya tumbuh tinggi, produksi tinggi, mudah pemasarannya, warna kulit ubi dan warna daging. Faktor yang dominan sebagai faktor pelengkap adalah pengendalian hama penyakit, umur panen yang genjah, tekstur daging ubi yang sedikit berair dan jumlah ubi yang dihasilka
POTENSI HASIL PADI HIBRIDA F2 DENGAN VARIASI JARAK TANAM
Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Kebutuhan padi semakin meningkat sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi padi. Penanaman varietas unggul dan manajemen budidaya yang tepat diharapkan dapat meningkatkan hasil padi. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2016 sampai Juni 2016 di Lahan Pertanian Desa Joho, Mojolaban, Sukoharjo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor yaitu jarak tanam dan varietas. Jarak tanam memiliki 3 taraf yaitu 20x20 cm, 30x30 cm, legowo 2:1 dan faktor varietas dengan 3 taraf yaitu padi hibrida F2 galur 7203, padi hibrida F2 galur 1683, padi lokal varietas Sunggal. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat pengaruh beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Jarak tanam legowo 2:1 dengan padi hibrida F2 galur 1683 memberikan hasil per petak tertinggi yaitu 32,57 kg dibandingkan jarak tanam dan kedua varietas yang lain
ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI BAYAM CABUT (AMARANTHUS TRICOLOR) SECARA MONOKULTUR DI LAHAN PEKARANGAN
Lahan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan caramelakukan usahatani sayuran. Jenis-jenis sayuran yang biasa ditanam meliputi bayam,kangkung, sawi, cabai, terong, tomat dan lain sebagainya. Salah satu desa yang telahmemanfaatkan lahan pekarangan di kecamatan Kutowinangun adalah desa Babadsari. Lahanpekarangan di desa Babadsari cukup luas dan dimanfaatkan untuk melakukan usahatanisayuran. Salah satu jenis sayuran yang dominan dibudidayakan adalah bayam cabut secaramonokultur.Tujuan penelitian ini adalah i menganalisis usahatani bayam cabut sistem monokultur,kelayakan usaha dan kontribusi usahatani bayam cabut terhadap pendapatan petani. Metodepenelitian adalah survei dan analisis data secara deskriptif analitis. Sampel berjumlah 43petani, dan metode pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bayam cabut sistem monokultur di lahanpekarangan menguntungkan. Usahatani bayam cabut secara monokultur ditinjau darikelayakan usaha layak untuk diusahakan. Nilai R/C ratio sebesar 7,71 dan π/C sebesar 6,71.Kontribusi usahatani bayam cabut secara monokultur di lahan pekarangan terhadappendapatan keluarga petani sangat tinggi yaitu 81,29%
Analisis Efisiensi Produksi Budidaya Ikan Nila Merah di Kabupaten Klaten
Ikan nila merah merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang potensial untuk dikembangkan di Jawa Tengah, terutama Kabupaten Klaten. Jumlah produksi ikan budidaya pada tahun 2016 merupakan jumlah produksi tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui besar biaya, penerimaan, dan pendapatan usaha budidaya ikan nila merah, (2) Untuk mengetahui faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi budidaya ikan nila merah, dan (3) Untuk mengetahui efisiensi produksi budidaya ikan nila merah di Kabupaten Klaten. Metode penelitian ini dilakukan dengan teknik survei. Pemilihan kecamatan dan desa sampel dilakukan dengan sengaja (purposive) berdasarkan kecamatan dan desa dengan sentra produksi ikan nila merah. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling dengan jumlah responden sebanyak 60 responden. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Metode analisis data: (1) Analisis usahatani budidaya ikan nila merah; (2) Analisis fungsi produksi Cobb-Douglas; (3) Analisis efisiensi produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan luas kolam pembudidaya ikan nila merah adalah sebesar 495,45 m2 dengan rata-rata biaya mengusahakan untuk satu periode pembesaranyang dilakukan selama 4 bulan sebesar Rp. 73.776.426,45; rata-rata penerimaan usaha per periode sebesar Rp. 86.542.666,67sehingga pendapatan rata-rata yang diterima oleh pembudidaya dalam usaha pembesaran ikan nila merah adalah Rp. 12.766.240,22per periode budidaya. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa penggunaan benih, pakan, dan tenagakerja berpengaruh nyata terhadap produksi ikan nila merah, sedangkan faktor luas kolam tidak berpengaruh nyata terhadap produksi ikan nila merah. Hasil analisis efisiensi produksi pada budidaya ikan nila di Kabupaten Klaten menunjukkan bahwa kombinasi faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyataterhadap produksi ikan nila merah berupa benih, pakan dan tenaga kerja belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi
STRATEGI BUDIDAYA PADI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI LAHAN TADAH HUJAN DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM
Salah satu isu strategis Kementerian Pertanian Indonesia adalah pemanfaatan lahan kering dan lahan tadah hujan untuk swasembada padi, jagung dan kedelai (pajale). Untuk memperoleh hasil yang optimal dari kedua lahan tersebut perlu diterapkan strategi dalam budidaya. Salah satunya melalui penerapan sistem budidaya yang berasal dari kearifan lokal masyarakat setempat. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peluang sistem budidaya di lahan tadah hujan dalam meningkatkan hasil padi dilakukan di Kebun Percobaan Jakenan-Balingtan pada tahun 2015/2016. Tujuh varietas padi unggul yang dilepas oleh Badan Litbang Pertanian, yaitu varietas Ciherang, Mekongga, Inpari 18, Inpari 13, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33 dan satu varietas yang dirakit oleh Institut Pertanian Bogor, yaitu IPB 3S, digunakan dalam penelitian ini. Tanaman padi ditanam pada petak percobaan berukuran 6 m x 5 m, disusun secara acak kelompok sebanyak tiga ulangan. Budidaya padi dilakukan melalui dua sistem, yaitu gogo rancah (gora) dan walik jerami (wajer). Gabah Kering Giling (GKG) diperoleh dari ubinan dengan luasan 4,2 m x 2,4 m dengan kadar air 14%. Untuk mengetahui emisi CH4 dari kedelapan varietas dilakukan pengukuran fluks CH4 dengan menggunakan alat penangkap gas rumah kaca (GRK) secara otomatis dan dianalisa dengan Gas Chromatography (GC) yang dilengkapi oleh Flame Ionization Detector (FID). Hasil penelitian menunjukkan bahwa GKG pada sistem gora lebih tinggi dari sistem wajer. Hasil rata-rata GKG tertinggi dihasilkan oleh varietas Inpari 32 (6,2 t/ha), diikuti oleh varietas Inpari 31 (5,3 t/ha) dan Mekongga (5,1 t/ha). Selain menghasilkan GKG tertinggi, varietas Inpari 32 dan Inpari 31 juga menghasilkan emisi CH4 tertinggi masing-masing yaitu 339 dan 290 kg ha-1 th-1, diikuti oleh varietas Ciherang, yaitu 277 kg ha-1 th-1. Sedangkan varietas Mekongga menghasilkan emisi CH4 terendah, yaitu 195 kg ha-1 th-1. Optimalisasi hasil padi di lahan tadah hujan sangat bergantung pada kondisi iklim, sistem budidaya dan pemilihanvarietas padi yang digunakan
Implementasi Peran dan Fungsi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kabupaten Magelang
Upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional salahsatunya ditempuh dengan memperkuat balai penyuluhan pertanian (BPP). BPP sebagai pos simpul koordinasi pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di wilayah kecamatan. Peran dan fungsi BPP adalah menyelenggarakan dan menfasilitasi kegiatan penyuluhan. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui implementasi peran dan fungsi BPP di Kabupaten Magelang. Pengkajian dilakukan secara deskriptif dengan pemilihan lokasi secara purposive yaitu Kabupaten Magelang. Hasil pengkajian diketahui bahwa penyusunan programa penyuluhan pertanian tingkat kecamatan, ketersediaan sarana informasi di BPP, pengembangan kelembagaan petani di tingkat BPP, fungsi BPP untuk menfasilitasi percontohan, fungsi BPP sebagai tempat pertemuan, serta peran dan fungsi BPP secara keseluruhan di Kabupaten Magelang dalam kategori baik
Analisis Keragaan Pelaku Usaha Mikro Sektor Agribisnis Dalam Mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dan mengetahui karakteristik pelaku usaha mikro sektor agribisnis dalam mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro berdasarkan prinsip 5C di BRI Unit Baron. Penelitian ini dilakukan di Bank BRI Unit Baron Kanca Solo Slamet Riyadi pada tahun 2017 yaitu sejumlah 57 responden yang merupakan debitur realisasi KUR Mikro sektor agribisnis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik NonProbability Sampling - Sampling Jenuh. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis yang dilakukan dengan menganalisis dan menginterpretasikan arti data tersebut dengan mendeskripsikan atau menjelaskan. Berdasarkan analisis realisasi KUR sektor agribisnis di BRI Unit Baron, dapat diketahui mekanisme penyaluran KUR meliputi syarat dan ketentuan KUR Mikro serta tahapan penyaluran yaitu tahap pengajuan permohonan kredit, tahap analisis kredit, tahap pemberian putusan kredit, dan tahap realisasi pencairan kredit. Karakteristik pelaku usaha mikro agribisnis dalam mengakses KUR Mikro di BRI Unit Baron berdasarkan 5C memiliki “Character” yang baik sebesar 85,97 % dalam hal pembayaran kredit di tempat sebelumnya, dari prinsip “Capacity” sebagian besar responden memiliki pendapatan bersih sebesar Rp.1 Juta-2 Juta (40,35%) dengan penentuan jangka waktu 24 bulan (49,12%) responden, dari prinsip “Capital” sebagian besar responden memiliki aset kurang dari Rp.20 Juta (35,09%), dari prinsip “Collateral”sebesar 94,74% responden memberikan jaminan untuk diserahkan kepada pihak bank, dan dari prinsip “Condition” sebagian besar responden (38,60 %) memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun dan rata-rata memiliki pengalaman usaha selama 1 tahun
Pengaruh Ekstrak Kosmos Kuning (Cosmos Sulphureus Cav.) pada Perkecambahan Kedelai
Pemanfaatan alelokimia pada beberapa tanaman sebagai sumber bahan herbisida nabati sudah banyak dilakukan, salah satunya adalah kosmos kuning yang termasuk famili Compositae (Asteraceae) dan diduga memiliki potensi untuk dijadikan sebagai herbisida nabati karena mengandung senyawa fenol yang memiliki potensi alelokimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui potensi kosmos kuning sebagai salah satu sumber herbisida nabati. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dua factor yang terdiri dari sumber ekstrak organ tanaman sebagai faktor pertama berupa akar, batang, daun dansebagai factor kedua adalah konsentrasi ekstrak yaitu 1%, 5%, 10% serta kontrol yang terdiri dari tiga ulangan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Manajemen dan Produksi Tanaman UGM dan dilaksanakan di LPPT UGM untuk analisis total fenol. Penelitian dilaksanakan pada pada bulan April – Juli 2016.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kosmos kuning dari semua organ memiliki pH 5,1-5,8. Nilai daya hantar listrik dan potensial osmotik larutan ekstrak semua organ meningkat seiring bertambahnya konsentrasi. Daun memiliki nilai daya hantar listrik lebih tinggi dan potensial osmotik lebih rendah dibandingkan sumber lainnya pada konsentrasi yang sama. Analisis kandungan total fenol juga menunjukkan bahwa daun memiliki nilai tertinggi diikuti batang dan akar.. Ekstrak dengan sumber daun, batang, dan akar hingga konsentrasi 10% masih aman untuk diaplikasikan pada kedelai dan diketahui dapat memacu perkecambahan benih kedelai.