Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
KONDISI LAHAN KEBUN TEBU SETELAH PANEN DAN KARAKTERISTIK FISIK DAN MEKANIK SERASAH TEBUNYA
Telah disadari belakangan ini bahwa pembakaran tebu sebelum dan setelah panen dapatmerusak lingkungan hidup serta mengganggu kesehatan manusia di lingkungan perkebunantebu. Usaha-usaha untuk menangani serasah tebu yang jumlahnya sangat banyak, yangmengganggu proses budidaya tebu telah mulai dilakukan. Salah satunya adalah mencacahserasah tebu menjadi ukuran kecil untuk digunakan sebagai kompos, atau dibenamkankembali ke dalam tanah. Proses perancangan alat atau mesin yang berkaitan denganpenanganan serasah tebu tersebut membutuhkan data pendukung sifat fisik dan mekanikserasah tebu. Data tersebut akan sangat membantu dalam menghasilkan rancangan alat danmesin yang efektif dan efisien baik secara teknis maupun ekonomis. Metode Penelitian iniadalah analisis deskriptif yaitu melakukan pengukuran dan analisis data untuk mengetahuikondisi lahan dan karakteristik dari serasah tebu. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa lebarguludun 120 cm, jarak tanaman 120 cm dan tinggi guludan 20 cm. Kerapatan Kamba serasahtebu 7,71 kg/cm3, : panjang rata-rata pucuk 162.5 cm, jumlah rata-rata daun per pucuk 4.1lembar, lebar daun rata-rata 5.0 cm, tebal daun rata-rata 0.3 mm, diameter pangkal pucukrata-rata 21.3 mm, dan berat pucuk 57.3 gram.panjang daun 161.1 cm, lebar pangkal daun 4.4cm, lebar tengah daun 4.1 cm, lebar ujung daun 3.9 cm, tebal daun 0.3 mm, dan berat daun8.9 gram
Pemanfaatan Citra Satelit untuk Membangkitkan Informasi Suhu Udara guna Mendukung Pengelolaan Sumberdaya Air
Suhu udara merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menganalisis kebutuhan air tanaman. Terbatasnya jumlah stasiun iklim mengakibatkan tidak semua wilayah memiliki informasi suhu udara. Citra satelit yang memiliki spektrum gelombang elektromagnetik (band) red, near-infrared, dan thermal infrared dapat digunakan untuk membangkitkan informasi suhu udara sehingga menjadi solusi altenatif, salah satunya adalah citra satelit Moderate Resolution Imaging Spektroradiometer (MODIS). Informasi suhu udara dibangkitkan melalui pendekatan penutup lahan. Penelitian menunjukkan bahwa suhu udara di Manokwari yang dibangkitkan dari citra satelit berada pada kisaran 273 oK – 301 oK atau 0 oC – 28 oC dan umumnya lebih rendah dari hasil pengukuran pada stasiun iklim. Hal ini disebabkan suhu udara yang dibangkitkan dari citra satelit mengacu pada waktu perekaman oleh satelit dan perekaman citra satelit MODIS untuk kawasan Manokwari umumnya dilakukan pada puku 08.00 – 09.00 WIT. Berdasarkan metode RMSE, akurasi citra satelit MODIS dalam membangkitkan informasi suhu udara sebesar 84,32% dibanding metode pengukuran atau memiliki tingkat penyimpangan sebesar 15,68% sehingga citra satelit MODIS dapat digunakan sebagai solusi alternatif dalam membangkitkan informasi suhu udara
Analisis Kebutuhan Penyuluh Pertanian Mendukung Jawa Tengah Menjadi Lumbung Pangan Nasional
Pembangunan pertanian dan perkebunan kedepan dihadapkan pada berbagai tantangan, perubahan iklim ekstrim, perubahan dan perkembangan lingkungan yang dinamis, kemajuan teknologi informasi yang pesat, terbatasnya modal petani serta masih lemahnya kelembagaan petani. Mendukung tercapainya pembangunan pertanian di Jawa Tengah diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang handal. Penyuluh mempunyai tugas pokok melaksanakan penyuluhan. Penyuluh juga harus mampu berperan sebagai fasilitator dan inisiator sehingga dapat menolong petani dan keluarganya.Ketenagaan Penyuluhan di Provinsi Jawa tengah terdiri dari Penyuluh Pertanian (PP) PNS, Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP), Penyuluh Swadaya. Jumlahnya selalu berkurang dalam kurun waktu 5 tahun. Hal ini menjadi permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian. Pengkajian ini bertujuan untuk 1) menganalisis kondisi PP PNS di Jawa Tengah; 2) menganalisis kondisi THL TBPP di Jawa Tengah; 3) menganalisis pelaksanaan tupoksi PP di Jawa Tengah. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengambil kebijakan berkaitan dengan pengadaan ketenagaan penyuluh pertanian, penyelenggaraan program peningkatan kapasitas SDM Penyuluh pertanian untuk mendukung tercapainya pembangunan pertanian. Pengkajianini merupakan pengkajian deskriptif. Data yang digunakanberupa data sekunder.Hasil pengkajian diketahui bahwa jumlah penyuluh pertanian PNS di Jawa Tengah dalam kurun waktu 5 tahun 2013 s/d 2017 berkurang sebanyak 622 orang atau 26,37%.Sedangkan selama Januari– Desember2017 berkurang sebanyak 125 orang (14,64%). Jumlah THL TBPP di Jawa Tengah dalam kurun waktu 5 tahun selalu berkurang, setiap tahun rata-rata 30 orang, karena diterima pekerjaan ditempat lain, berusaha sendiri, meninggal dunia. Tingkat pendidikan terbanyak adalah SLTA. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pelaksanaan tupoksi dan kinerja THL TBPP. Jumlah wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) belum ideal, penyuluh rata-rata memiliki 2 wkpp dengan binaan kelompok 5 – 15 poktan dan 2 gapoktan. Tugas tambahan penyuluh lebih banyak dibandingkan dengan tupoksi sehingga pendampingan kelompok tidak maksimal.Saran yang dapat disampaikan penulis antara lain : pengadaan formasi penyuluh pertanian PNS masih diperlukan disesuaikan dengan analisis kebutuhan penyuluh pada masing-masing kabupaten/kota.THL TBPP dengan usia diatas 35 tahun perlu mendapatkan perhatian menjadi ASN sehingga dapat meningkatkan kinerjanya. Peningkatan kapasitas SDM Penyuluh baik PNS maupun THL TBPP diperlukan untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Optimalisasi peran penyuluh swadaya untuk mendukung terlaksananya penyelenggaraan penyuluhan di lapangan melalui pelatihan dan fasilitasi penyelenggaraan penyuluhan
PROSES PRODUKSI PUPUK ORGANIK LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DAN SAMPAH ORGANIK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji variasi komposisi bahan pupuk organik darilimbah rumah potong hewan (RPH) dan sampah organik serta metode pengomposannyauntuk menghasilkan pupuk organik sesuai dengan Standar kualitas menurut SNI nomor197030-2004 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor. 70 tahun 2011. Variasi komposisibahan yang dikaji yaitu; (A) 40% isi rumen :40% kotoran dan sisa pakan: 20% sampahorganik pasar; (B) 40% isi rumen : 20 % kotoran dan sisa pakan : 40% sampah organik pasar; (C) 20% isi rumen: 40% kotoran dan sisa pakan: 40% sampah organik pasar; (D) 60 % isirumen:20 % kotoran dan sisa pakan: 20 % sampah organik pasar; (E) 20 % isi rumen: 60 %kotoran dan sisa pakan :20 % sampah organik pasar; (F) 20 % isi rumen: 20 % kotoran dansisa pakan : 60 % sampah organik pasar. Sedangkan metode pengomposan yaitu metodeaerob dan anaerob. Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan parameterkuantitas dan kualitas kompos dengan SNI 197030-2004 dan Peraturan Menteri PertanianNo. 70 tahun 2011 untuk memberikan gambaran secara deskriptif mengenai kualitas komposyang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter kualitas kompos (Corganik,C/N rasio, pH dan unsur hara N, P, dan K), kecuali pH sudah memenuhi standaryang dipersyaratkan (SNI 197030-2004, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/2011).Kandungan C-organik, C/N rasio paling tinggi terdapat pada komposisi sampah organik pasar60% dan 60 % kotoran ternak dan sisa pakan, Kandungan N, P dan K tertinggi terdapat padakomposisi isi rumen 60 %. Proses pengomposan limbah RPH dan sampah organik pasardengan metode anaerob menghasilkan parameter kualitas kompos lebih baik dibandingdengan proses pengomposan metode aerob
PERTUMBUHAN TRIBULUS TERRESTRIS PADA BEBERAPA KONSENTRASI NAA DAN BAP IN VITRO
Tribulus terrestris merupakan tanaman yang tergolong dalam spesies Zygophyllaceae. T. terrestris dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Buah T. terrestris dimanfaatkan untuk menghambat pembentukan batu ginjal, mengobati diabetes, rematik, impotensi, penyakit jantung serta meningkatkan stamina tubuh. T. terrestris hanya dapat dibudidayakan pada musim tertentu. Perbanyakan tanaman dilakukan menggunakan biji. Teknologi yang dapat digunakan untuk memperbanyak T. terrestris adalah kultur jaringan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi, FP UNS Surakarta pada bulan Mei sampai November 2016. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah penambahan NAA pada konsentrasi 0; 0,5; 1; 1,5 ppm dan faktor kedua adalah penambahan BAP pada konsentrasi 0; 1; 2; 3 ppm. Data penelitian dianalisis secara deskriptif karena dari uji kenormalan data, data tidak dapat dianalisis menggunakan analisis ragam. Variabel pertumbuhan yang diamati adalah waktu muncul kalus, warna kalus, waktu muncul tunas, jumlah tunas, waktu muncul daun, jumlah daun, waktu muncul akar dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu muncul tunas paling cepat terdapat pada perlakuan NAA 1 ppm dan BAP 3 ppm dengan rata- rata waktu 38 HST. Perlakuan NAA 0,5 ppm dan BAP 3 ppm mampu memunculkan tunas paling banyak sejumlah 4 tunas. Perlakuan NAA 1,5 ppm dan BAP 0 ppm mampu memunculkan daun paling cepat 48 HST dan akar pada 63 HST serta memiliki jumlah akar yang paling banyak yaitu 5 buah
ANALISIS USAHA MINUMAN INSTAN BERBASIS BIOFARMAKA (STUDI KASUS KELOMPOK WANITA TANI SUBUR LESTARI KECAMATAN BAYAT KABUPATEN KLATEN)
Minuman instan berbasis biofarmaka termasuk dalam kategori pangan fungsional (foodsplement) yang berasal dari pengolahan tanaman biofarmaka dengan rempah- rempah(Winarti, 2005). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya, penerimaan,pendapatan, dan efisiensi usaha (R/C rasio dan B/C rasio) dari usaha minuman instan berbasisbiofarmaka di Kelompok Wanita Tani Subur Lestari Kabupaten Klaten. Metode dasarpenelitian ini adalah deskriptif analitik. Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secarapurposive dan metode penentuan sampel dilakukan dengan metode sensus dengan jumlah 25responden. Sumber data yaitu data primer dan sekunder. Analisis data yang digunakan adalah(1) biaya (2) penerimaan (3) pendapatan (4) efisiensi usaha. Hasil penelitian menunjukkanbahwa biaya eksplisit yang dikeluarkan dalam usaha minuman instan berbasis biofarmaka diKelompok Wanita Tani Subur Lestari Kabupaten Klaten sebesar Rp. 7.613.350 danpenerimaan yang diperoleh sebesar Rp. 9.9697.500, sehingga jumlah pendapatan dari usahaminuman instan berbasis biofarmaka sebesar Rp. 2.084.150. Nilai R/C rasio usaha minumaninstan berbasis biofarmaka sebesar 1,27 yang berarti bahwa setiap Rp. 100.000 yangdikeluarkan dalam usaha minuman instan berbasis biofarmaka akan diperoleh penerimaanRp. 127.000. Nilai B/C rasio usaha minuman instan berbasis biofarmaka sebesar 0,27 yangberarti bahwa setiap Rp. 100.000 yang dikeluarkan dalam usaha minuman instan berbasisbiofarmaka akan diperoleh pendapatan Rp. 27.000, sehingga dapat disimpulkan bahwa usahaminuman instan berbasis biofarmaka yang dijalankan oleh Kelompok Wanita Tani SuburLestari sudah efisien
KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI STEVIA TERHADAP TOTAL PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI STEVIA DI KABUPATEN KARANGANYAR
Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan usahatani stevia dan non stevia, besarnyakontribusi pendapatan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani stevia diKabupaten Karanganyar. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karanganyar denganmenggunakan metode deskriptif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja(purposive). Penentuan responden dilakukan secara sensus kepada 30 petani stevia yang adadi Kecamatan Tawangmangu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis usahatani,analisis kontribusi pendapatan, uji regresi metode OLS dengan uji signifikansi Ftabel 2,334pada tingkat signifikansi 5% dan ttabel 2,042 (tingkat signifikansi 5%), ttabel 1,697 (tingkatsignifikansi 10%). Hasil penelitian rata-rata pendapatan total usahatani dari stevia dankomoditas non stevia sebesar Rp 43.071.075,83, dimana pendapatan dari usahatani steviasebesar Rp 6.874.497,58 dan pendapatan dari usahatani non stevia sebesar Rp 36.196.578,25.Rata-rata kontribusi pendapatan usahatani stevia sebesar 15,96% dengan kategori sangatrendah. Pendapatan usahatani stevia tersebut dipengaruhi oleh faktor luas lahan (pada tingkatsignifikansi 5%) dan harga fungisida (pada tingkat signifikansi 10%). Sementara faktor hargabibit, harga pupuk kandang, upah tenaga kerja dan status kepemilikan lahan tidakberpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani stevia
Respons Jamur Tiram Putih dan Kuping terhadap Substrat dari Sampah Rumah Tangga Bervariasi Rasio C/N
Penelitian telah dilaksanakan untuk mengetahui respons dua jenis jamur kayu yaitu jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dan jamur kuping (Auricularia polytrica) terhadap berbagai rasio C/N substrat yang berasal dari sampah rumah tangga. Percobaan dilaksanakan mulai Juli sampai dengan Nopember 2017, di rumah jamur Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama jenis jamur terdiri lima taraf (jamur tiram putih, jamur tiram merah, jamur tiram coklat, jamur kuping, dan jamur shitake). Faktor kedua rasio C/N substrat terdiri empat taraf (15, 30, 45, dan 60). Hasil percobaan menunjukkan penggunaan sampah rumah tangga sebagai substrat tanam jamur yang terbaik untuk jamur tiram putih dan kuping adalah dengan rasio C/N 38,3 dan 39,9 karena mampu menunjukkan nilai efisiensi biologi yang tinggi
ANALISIS PARTISIPASI PETANI DALAM PEMANFAATAN BURUNG HANTU (Tyto alba) DI DESA TLOGOWERU KABUPATEN DEMAK
Participation became one of indicators that determine the ability and the success ofTlogoweru Village in the utilization of owl. Given the importance of participation, thisquantitative descriptive thesis research entitled “Analysis of Participation by Rice Farmer inUtilization of Owl (Tyto alba) in Tlogoweru Village, Demak Regency” aims to 1) know theinternal and external factors that influence farmer participation and 2) analyze the influenceof internal and external factors against farmer participation. The research was carried out inTlogoweru Village, Guntur District, Demak Regency from December 2014 until March 2015with 30 respondents. Retrieval of respondents performed with simple random samplingmethod and using the questionnaire as a tool of the interview. The obtained data were testedusing t-test, F-test, the classical assumptions test and analyzed by multiple linear regressionanalysis. Research result concluded that: 1. Simultaneously, internal factors (age, education,length of stay, occupation, number of rubuha) and external factors (leadership,communication, learning process) have real effect against participations. 2. While partially,the internal factors that influence against participation are age, education, length of stay,occupation and number of rubuha. From the external factors that influence participation areleadership and learning process