Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
PENGARUH UMUR PANEN DAN KECEPATAN PUTAR SILINDER PERONTOK TERHADAP KUALITAS BENIH PADI VARIETAS`SITUBAGENDIT
Proses panen dan pascapanen padi merupakan kegiatan penting dalam produksi benih.Ketidak tepatan penangannya dapat menurunkan kualitas benih padi.Informasi pengaruh umur panen dan kecepatan putar silinder mesin perontok terhadap mutu benih padi masih terbatas.Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh umur panen dan kecepatan putar silinder mesin perontok terhadap daya kecambah,kecepatan berkecambah,persentase kecambah abnormal ,T50,persentase gabah rusak .Percobaan lapangan ini menggunakan metode factorial (4x4) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dua. Faktor pertama adalah umur panen padi (U)yang terdiri atas 4 aras yaitu U1=110 hst,U2=115 hst , U3=120 dan U4=125 hst.Faktor kedua kecepatan putar silinder mesin perontok (T) terdiri 4 aras yaitu T1=500 rpm,T2=550 rpm,T3=600 rpm dan T4=650 rpm ,setiap perlakuan diulang 3 kali.Padi dipanen dengan cara potong tengah, kemudian dirontok dengan power thresher dan diukur kadar airnya (20 – 26 )%,kemudian gabah dijemur dengan sinar matahari sampai kadar air(KA) maximum 13 % (kadar air untuk syarat benih).Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kombinasi perlakuannya berpengaruh nyata terhadap daya kecambah dan ada interaksinya,tetapi tidak berbeda nyata dan tidak ada interaksinya terhadap parameter kecepatan berkecambah.Perlakuan umur panen terjadi penurunan nilai persentase kecambah abnormal dan kerusakan fisik benih setelah benih mengalami masak fisiologis tetapi tidak ada beda nyata pada perlakuan kecepatan putar silinder dan kedua perlakannya tidak ada interaksi. Perlakuan umur panen dan kecepatan silinder tidak ada beda nyata terhadap parameter T50 ,kecuali keterlambatan umur panen 5 hari (U=125 hst) terlihat nilanya lebih tinggi (tidak/kurang serempak tumbuhnya), namun kedua perlakuan tidak terjadi interaksi.
Pertumbuhan Bibit Kelor (Moringa oleifera Lamk) dari Biji dan Stek dengan Interval Pemberian Air yang Berbeda
Kelor (Moringa oleifera Lamk.) merupakan tanaman yang sangat bergizi dan mengandung zat nutrisi yang cukup tinggi serta memiliki berbagai manfaat potensial. Kelor tumbuh dengan mudah dan bisa dikembangbiakan dengan menggunakan biji dan stek. Tujuan percobaan untuk mengetahui prosentase tanaman hidup dan pertumbuhan bibit kelor dengan bahan tanam (bibit dan stek) dengan interval pemberian air yang berbeda. Percobaan dilakukan di rumah plastik di desa Telang, Kecamatan Kamal Bangkalan Madura pada bulan April-Mei 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi, petak utama : interval pemberian air yaitu A1: 2 hari, A2: 4 hari, dan A3: 8 hari sekali dan anak petak : bahan tanam yaitu B1: biji, B2: stek. Parameter pertumbuhan vegetatif yang diukur adalah pertambahan tinggi tanaman (cm), diameter batang (mm) dan jumlah daun. Hasilnya menunjukkan bahwa prosentase tanaman hidup dan pertumbuhan bibit tanaman kelor dari biji lebih baik pada awal pertumbuhan daripada bibit yang berasal dari stek. Hal ini disebabkan tanaman kelor yang diperbanyak dengan biji memiliki pertumbuhan yang lebih cepat pada pertumbuhan awal karena pertumbuhan akar lebih baik dan lebih banyak. Pertumbuhan kelor yang ditanam dengan biji lebih cepat daripada stek dapat dilihat dari pertumbuhan yang lebih tinggi pada parameter tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun tanaman
PENGARUH PUPUK MIKROBA MULTIGUNA TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH TERPILIH, PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA SISTEM TANAM TUMPANGSARI KEDELAI – JAGUNG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk mikroba multiguna terhadap beberapa sifat kimia tanah terpilih, pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada sistem tanam tumpangsari kedelai-jagung. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian di Desa Karangwangkal, Purwokerto, sejak bulan Maret - Juli 2015. Penelitian ini merupakan penelitian lapang, yang disusun menggunakan rancangan petak terbagi. Faktor pertama sebagai main plot adalah penggunaan PMMG, terdiri dari tanpa PMMG dan menggunakan PMMG. Faktor kedua sebagai sub plot adalah dosis pupuk anorganik terdiri dari 0%, 50% dan 100% dosis pupuk anorganik dari rekomendasi. Pengamatan dilakukan pada kandungan N-total, pH, daya hantar listrik tanah, tinggi tanaman, diameter batang, indeks luas daun, laju pertumbuhan tanaman, laju asimilasi bersih, bobot tongkol per tanaman sampel, bobot tongkol per petak, dan bobot biji per petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan PMMG dapat meningkatkan kandungan N-total, pH dan daya hantar listrik tanah. Perlakuan PMMG berpengaruh nyata pada seluruh variabel pertumbuhan, namun tidak berpengaruh nyata pada variabel hasil
PENGEMBANGAN MODELAQUAPONICS MENUJU MASYARAKAT BERKEMAJUAN BERBASIS LINGKUNGAN DI DESA KEDUNGLO, KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN PURWOREJO
Desa Kedunglo merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Kemiri, kabupatenPurworejo yang memiliki potensi besar di sektor pertanian. Hal ini terbukti dari kecamatanKemiri merupakan salah satu kecamatan yang menjadi referensi pembibitan dengan kualitasbaik di area Purworejo. Selain itu juga kecamatan Kemiri memiliki lahan pertanian luas yangdapat dioptimalkan hasilnya. Salah satu teknologi yang mampu memanfaatkan lahan adalahaquaponics. Aquaponics merupakan teknologi yang mensimbiosiskan antara budidaya ikandan budidaya tanaman dalam satu tempat. Penerapan teknologi aquaponics memungkinkanpetani mendapatkan dua hasil sekaligus yaitu ikan dan tanaman. Pengabdian kepadamasyarakat yang dilakukan di desa Kedunglo, kecamatan Kemiri, kabupaten Purworejomemiliki tujuan mengenalkan pengetahuan tentang pengembangan model aquaponics kepadamasyarakat di desa Kedunglo kecamatan Kemiri kabupaten Purworejo. Metode yangdilakukan menggunakan penyuluhan dan praktik. Penyuluhan dengan upaya memberikangambaran jelas mengenai aquaponics kepada masyarakat petani khususnya ibu-ibu PKK danKWT, sedangkan praktik bertujuan untuk secara bersama-sama belajar merangkai alat danbahan pembuatan model aquaponics. Diharapkan dengan kedua metode ini masyarakat petanisemakin paham dengan aplikasi teknologi aquaponics. Hasil pengabdian kepada masyarakatpada pengembangan model aquaponic adalah pengembangan model aquaponics memilikibanyak manfaat karena mengintegrasikan teknologi budidaya ikan dan budidaya tanamansayuran atau buah-buahan sehingga petani mendapatkan dua keuntungan sekaligus
PERAN PEMIMPIN DESA MIYONO DAN PARTISIPASI PETANI DALAM PENYULUHAN PEMBUATAN KOMPOS DI KECAMATAN SEKAR KABUPATEN
Di Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro setiap kepala keluarga diwajibkan mempunyaiternak sapi potong minimal sebanyak 1 ekor. Melimpahnya limbah kotoran ternak hanyaditumpuk begitu saja. Limbah peternakan menghasilkan gas-gas yang cepat menguap danmenimbulkan bau yang tidak sedap. Adanya ternak sapi memproduksi limbah ternak perlusentuhan teknologi kepada petani. Melalui penyuluhan mengenai pengolahan limbah ternakmenjadi kompos diharapkan mengubah perilaku peternak dalam mendukung pertanianorganik. Tujuan penelitian adalah : (1) Mengetahui peran pemimpin desa Miyono, dan (2)Mengetahui partisipasi petani dalam penyuluhan pembuatan kompos. Pemilihan desa iniberdasarkan survei pendahuluan yaitu pemimpin desa yang peduli lingkungan. Sampel yangdiambil sebanyak 40 orang dari jumlah populasi 360 orang. Peran pemimpin desa Miyonoyaitu telah berhasil mengadakan penyuluhan dan pelatihan pembuatan pupuk kompos.Pelaksanaan penyuluhan bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Dinas Sosial Tenaga Kerjadan Transmigrasi Kabupaten Bojonegoro. Keberhasilan penyuluhan ditunjukkan denganpartisipasi petani yang mengikuti pelatihan dan akhirnya permasalahan feses kotoran sapiyang menumpuk bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik padat. Selanjutnya komposdikelola oleh Gapoktan Tunas Harapan setiap harinya dapat membuat pupuk organik padatsebanyak 2 ton. Harapannya hasil penelitian ini dijadikan rekomendasi untuk pengembangankelembagaan sehingga mempunyai unit usahatani yaitu unit pengolahan limbah kotoranternak sapi
REMEDIASI RESIDU DIELDRIN DALAM TANAH DAN BERAS MENGGUNAKAN BIOCHAR MENDUKUNG UPAYA KEAMANAN PANGAN
Residu insektisida dalam tanah diperkirakan dapat berpindah ke dalam produk pertanianbersamaan dengan penyerapan unsur hara dari dalam tanah. Untuk menurunkan residuinsektisida di dalam tanah dapat dilakukan dengan remediasi. Penelitian telah dilakukan diDesa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang pada MK.I tahun 2015. Sebanyak 4 perlakuan,yaitu: (1) Urea biochar tempurung kerlapa+mikroba (UBTKM) rekomendasi KATAM, (2)Urea biochar tongkol jagung+mikroba (UBTJM) rekomendasi KATAM, (3) KATAM (300kg/ha urea dan 75 kg/haSP36), dan (4) Cara petani (350 kg/ha urea + 350 kg/ha phonska +350 kg/haZA). Hasl penelitian menunjukkan bahwa remediasi dieldrin menggunakanUAATKM dapat menurunkan residu dalam tanah sebesar 100%, sedangkan UAATJM danUBTJM dapat menurunkan residu dalam contoh beras sebesar 100%
SIKAP PETANI TERHADAP PROGRAM PUAP DI KECAMATAN BANSARI KABUPATEN TEMANGGUNG
Salah satu program Departemen Pertanian untuk membantu petani desa miskin yangmengalami kesulitan modal usaha, adalah dengan pengembangan Program Usaha AgribisnisPerdesaaan (PUAP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap petani terhadapprogram PUAP. Penelitian dilakukan di Desa Tlogowero Kecamatan Bansari KabupatenTemanggung. Teknik pengambilan responden dengan Proprosional Random Sampling,dengan total responden 36 petani. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara denganpanduan kuisioner. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan bantuantabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap kognitif petani dalam program PUAPtermasuk kategori tinggi. Sikap afektif petani terhadap program PUAP termasuk kategoritinggi. Sikap konatif petani terhadap program PUAP termasuk kategori sedang
Identifikasi Ketahanan Pangan Berdasar Aspek Akses Pangan di Kabupaten Batang
Peningkatan ketahanan pangan (food security) adalah salah satu dari program utama dalam pembangunan pertanian, selain pengembangan agribisnis.Penelitian memiliki tujuan untuk mengidentifikasi tipologi wilayah berdasarkan indikator ketahanan pangan pada tingkat wilayah desa. Penelitian dilakukan pada wilayah Kabupaten Batang. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang bersumber dari Dokumen Potensi Desa tahun 2016. Tahapan analisis dalam penelitian ini adalah penyusunan indikator ketahanan pangan, menghitung indeks masing-masing daerah dan disajikan dalam bentuk peta rawan pangan tingkat desa.Hasil penelitian indikator penduduk miskin di Kabupaten Batang menunjukan bahwa jumlah desa yang masuk sangat tahan pangan sebesar 50 persen, ini menunjukan bahwa desa yang berkategori sangat tahan pangan jumlahya sangat besar dari kategori lainnya. Sedangkan hasil analisis rumah tangga yang tidak mendapatkan akses listrik di Kabupaten Batang jumlahnya sangat kecil. Dari 284 desa yang ada di Kabupaten Batang, 149 desa telah mendapatkan akses listrik, dan hanya 99 desa yang tidak dapat akses listrik. Desa yang memilik persentase tertinggi rumah tangga yang tidak tersalur dengan aliran listrik PLN dan non PLN adalah Desa Pacet yang berada di wilayah Kecamatan Reban. Hasil analisis kondisi pendidikan penduduk umur lebih dari 15 tahun Di Kabupaten Batang sudah cukup baik, hasil tersebut didapat dari rata-rata seluruh wilayah sebesar 27,60 persen atau kondisi cukup tahan pangan
SUMBERDAYA INDUSTRI KELAPA SAWIT DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA DAGING SAPI NASIONAL
Indonesia masih belum mampu swasembada daging sapi hingga saat ini. Untuk mengembangkan peternakan sapi, ketersediaan pakan dan lahan menjadi faktor pembatas. Sementara itu industri perkebunan kelapa sawit mempunyai potensi untuk menyediakan pakan sapi. Biomassa dari industri perkebunan kelapa sawit yang dapat digunakan sebagai pakan ternak sapi adalah tanaman hijauan pada kebun kelapa sawit, daun dan pelepah hasil kegiatan panen, dan BIS dan solid dari kegiatan pengolahan kelapa sawit. Berdasarkan perhitungan dan assumsi, industri kelapa sawit Indonesia mampu menyediakan pakan sapi bagi 25 juta ekor dengan menggunakan daun dan pelepah sebagai hijauan, dan 19 juta ekor sapi dengan menggunakan solid sebagai bahan tambahan pakan ternak sapi. Model ISSE yang dikembangkan oleh PPKS membuktikan bahwa pemanfaatan sumberdaya industri perkebunan kelapa sawit dapat digunakan sebagai pakan untuk peternakan sapi.
Diversifikasi Produk Berbasis Sagu sebagai Alternatif Kemandirian Pangan di Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Meranti Propinsi Riau
Tanaman sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat. Sagu memegang peranan penting dalam penganekaragaman makanan untuk menunjang stabilitas pangan. Tanaman sagu merupakan salah satu tanaman pangan yang berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan di Indonesia, khususnya di Propinsi Riau Kabupaten Meranti. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi produk berbasis sagu dan bagaimana perilaku konsumen terhadap produk berbasis sagu. Metode yang digunakan adalah metode survey dan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Untuk kebutuhan penelitian maka sampel penelitian terbagi menjadi 2, yakni (1) sampel identifikasi produk yakni industri rumah tangga mengolah sagu dengan produk olahan mie sagu dan kerupuk sagu, dan (2) sampel perilaku konsumen yakni konsumen yang membeli produk olahan sagu dengan jumlah sampel seluruhnya 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi produk berbasis sagu di Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Meranti terdiri dari mie sagu, kerupuk sagu dan sagu rending. Mie sagu merupakan makanan terfavorit wisawatan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung di Kabupaten Kepulauan Meranti