Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Peluang dan Tantangan Penggunaan Media Sosial sebagai Media Berbagi Pengetahuan bagi Petani
Media sosial terbukti efektif sebagai media berbagi pengetahuan dan diminati banyak kalangan. Di sisi lain, penggunaan media sosial oleh petani belum maksimal karena berbagai keterbatasan. Hal menarik untuk mengetahui gambaran peluang dan sekaligus tantangan yang dihadapi dari penggunaan media sosial sebagai media berbagi pengetahuan bagi petani. Makalah ini bertujuan memberikan gambaran singkat peluang dan tantangan penggunaan media sosial untuk berbagi pengetahuan oleh petani. Tulisan ini adalah studi literatur yang menyajikan artikel-artikel penelitian sepuluh tahun terakhir terkait topik yang bersumber dari scopus.com, sciencedirect.com, google scholar, dan crossref. Ada peluang dan sekaligus tantangan dalam penggunaan media sosial sebagai media berbagi pengetahuan bagi petani Gambaran singkat yang disampaikan pada makalah ini dapat menjadi salah satu referensi pengambilan keputusan terkait upaya peningkatan penggunaan media sosial oleh petani sebagai media berbagi pengetahuan
Respon Bibit Kakao (Theobroma Cacao L.) Klon Bl-50 Terhadap Pemberian Abu Boiler Sawit dan Kompos Paitan (Thitonia Diversifolia) pada Media Pembibitan
Pembibitan tanaman kakao ditentukan oleh kesuburan media tanam. Kesuburan media tanam dapat diperoleh dengan memanfaatkan abu boiler sawit dan kompos paitan. Penelitian dalam bentuk percobaan telah dilaksanakan di Rumah Kawat dan Laboratorium Fisiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, pada bulan Maret-Agustus 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi abu boiler sawit dan kompos paitan, mendapatkan dosis abu boiler terbaik dan dosis kompos paitan terbaik dalam pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) klon BL-50. Metode penelitian berbentuk percobaan dengan menggunakan Rancangan Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah dosis abu boiler sawit yang terdiri dari tiga taraf yaitu 300 g/polibag, 400 g/polibag dan 500 g/polibag. Faktor kedua adalah dosis kompos paitan yang terdiri dari tiga taraf yaitu 37.5 g/polibag, 50.0 g/polibag dan 62.5 g/polibag. Data dianalisis dengan uji F dan apabila nilai F hitung > dari F tabel 5% maka dilanjukan dengan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara dosis abu boiler sawit dan kompos paitan terhadap pertumbuhan bibit tanaman kakao, pemberian abu boiler sawit dengan dosis 300 g/polibag menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang terbaik, pemberian kompos paitan dengan dosis 62.5 g/polibag menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang terbaik
Proses Blansir Terhadap Kadar Abu, Kadar Sari, serta Cemaran Mikroba Simplisia Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers)
Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sudah dikenal oleh masyarakat. Tanaman perdu dan memanjat dari famili Euphorbiaceae telah digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi diabetes. Untuk menghasilkan bahan baku jamu brotowali yang berkualitas, maka proses penanganan pascapanen perlu dilakukan dengan tepat. Kendala yang dialami yaitu dalam proses pengeringan yaitu timbulnya jamur selama proses pengeringan berlangsung. Hal ini dapat meningkatkan cemaran mikroba pada simplisia yang dihasilkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan cemaran mikroba yaitu perlakuan blansir sebelum proses pengeringan. Akan tetapi perlu diperhatikan juga kualitas simplisia yang diperoleh (kadar sari dan kadar abu). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh waktu blansir yang tepat pada simplisia brotowali. Perlakuan blansir dilakukan dengan 6 (enam) variasi waktu blansir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar sari larut air tertinggi simplisia brotowali adalah perlakuan blansir satu menit, sementara kadar abu total terendah simplisia brotowali adalah perlakuan blansir lima menit. Waktu blansir yang disarankan pada proses pembuatan simplisia brotowali adalah dengan waktu blansir satu menit dengan nilai angka lempeng total terendah dan angka jamur masih memenuhi syarat yang ditetapkan
Potensi Limbah Ekstrak Air dari Malai Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L.) yang Diproduksi di Lahan Inceptisol sebagai Bioherbisida
Alelopati merupakan suatu penghambatan pertumbuhan tanaman karena adanya pelepasan racun di sekitarnya. Sorgum salah satu tanaman penghasil alelopati berupa senyawa alelokimia yang berpotensi sebagai bioherbisida. Aplikasi ekstrak air yang berasal dari malai tanaman sorgum yang diproduksi di lahan Inceptisol merupakan fenomena bioherbisida yang baru. Penelitian tentang sumber ekstrak air yang berasal dari limbah ekstrak sebagai bioherbisida belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi limbah ekstrak (ekstrak sekunder) malai sorgum sebagai bioherbisida. Penelitian dilaksanakan bulan Januari sampai Mei 2022, di Kelurahan Bentiring Permai Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal. Faktor tunggal berupa limbah ekstrak, terdiri atas konsentrasi 0 %, 10 %, 20 %, dan 30 %. Percobaan diulang 4 kali dan unit percobaan berupa cawan petri. Percobaan menggunakan metode bioassay pada cawan petri. Pada setiap cawan petri dituang 10 ml ekstrak air yang berasal dari limbah, disemai 20 biji kacang hijau varietas Vima 3 dan diinkubasi selama empat hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah ekstrak air yang berasal dari malai sorgum yang tidak mengalami fermentasi ini menghasilkan persentase perkecambahan normal lebih rendah dan perkecambahan abnormal lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak air yang berasal dari limbah ekstrak malai sorgum ini mempunyai potensi sebagai bioherbisida walaupun belum mendominasi terhadap variabel di percobaan ini. Oleh karena itu disarankan dilakukan percobaan dengan peningkatan konsentrasi di atas 30 % guna mengetahui potensi bioherbisida lebih lanjut
Karakteristik Mutu Pupuk Organik Cair Urin Kambing dan Responsnya terhadap Pertumbuhan Benih Kelapa Sawit di Pre- Nursery yang Dikombinasikan dengan Volume Irigasi yang Berbeda
Salah satu penentu keberhasilan dalam pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah tahapan pesemaian. Pesemaian bertujuan untuk menyiapkan tanaman agar mampu beradaptasi dan tumbuh sesuai dengan lingkungan tumbuhnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik mutu pupuk organik cair (POC) asal urin kambing serta menerangkan respons pertumbuhan benih kelapa sawit, khususnya di pre-nursery pada pemberian volume air irigasi dan dosis pupuk organik cair asal urin kambing yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial. Faktor pertama adalah volume air irigasi yang terdiri dari lima taraf perlakuan yaitu: kontrol, 100, 200, 300, dan 400 mL/hari. Faktor kedua adalah dosis POC urin kambing yang berbeda yang terdiri dari lima taraf perlakuan, yaitu: kontrol, 5, 10, 15, dan 20 mL/L air. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 75 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi perlakuan antara volume air irigasi dan dosis POC urin kambing yang berbeda memberikan interaksi yang tidak berbeda nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang benih kelapa sawit. Secara faktor tunggal, pemberian 10 mL/L air POC urin kambing menghasilkan jumlah daun benih kelapa sawit yang lebih banyak. Hasil analisis kandungan unsur hara urin kambing yaitu: C-organik dan total hara makro tidak memenuhi syarat minimal teknis POC, namun pH telah memenuhi syarat minimal teknis POC berdasarkan Permentan No. 261 Tahun 2019 tentang persyaratan teknis minimal pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah.
[Perkembangan Penggunaan Big Data pada Bidang Pertanian di Indonesia] : Review
Sektor pertanian menghadapi banyak masalah, terutama di negara berkembang, dan masalah ini sangat membutuhkan solusi yang sangat tergantung pada kemanfaatan teknologi seperti data besar, mesin pertanian, dan inovasi modern lainnya. Tujuan review ini adalah mengkaji perkembangan penggunaan data besar dalam bidang pertanian di Indonesia, beberapa keunggulan dan kelemahan dan memberikan saran pengembangan penggunaan data besar di Indonesia. Hasil review lima aplikasi teknologi big data di Indonesia (HARA, E-Tani, Keraba Tani, KATAM dan Tandhur) menunjukkan bahwa aplikasi yang memanfaatkan big data tersebut masih dalam taraf awal pengembangan. Review ini memberikan rekomendasi aspek aspek yang secara potensial bisa dikembangkan
Analisis Pengaruh Media Sosial Terhadap Pengetahuan Produk Microgreens
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap pengetahuan produk microgreens dengan menggunakan beberapa komponen dari model AISAS (Attention, Interest, Search, Action dan Share). Responden dalam penelitian ini merupakan followers akun maupun grup di media sosial Instagram dan Facebook yang membagikan informasi dan menjual produk microgreens. Penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan metode sampel acak sederhana (simple random sampling). Penelitian ini menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) yang berbasis varians yaitu Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukan bahwa media sosial berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap faktor Attention, Interest dan Search. Interest dan search berpengaruh positif dan signifikan terhadap penambahan pengetahuan terkait produk microgreens. Hal ini dapat dijadikan acuan bagi para pelaku bisnis produk microgreens untuk mencari cara pemasaran yang paling efektif untuk menarik konsumen
Respon Pertumbuhan dan Hasil Kedelai di Lahan Rawa pada Dosis Pupuk Urea dan Abu Sekam yang Berbeda
Kedelai (Glycine max (L.) Merill) merupakan tanaman pangan yang penting bagi penduduk Indonesia karena memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai sumber protein nabati, bahan baku industri, bahan industri pangan dan sering dijadikan pakan ternak. Produksi kedelai terus menurun dari tahun ke tahun sehingga impor kedelai terus meningkat, hal tersebut menjadi tantangan dalam kegiatan pertanian. Peningkatan produktivitas kedelai Nasional dapat dilakukan salah satunya dengan cara budidaya ekstensifikasi pada lahan rawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara pupuk urea dan abu sekam padi, mendapatkan dosis pupuk urea dan dosis abu sekam padi optimal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada budidaya di lahan rawa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2020 hingga Maret 2021. Penelitian ini berupa percobaan lapangan bertempat di lahan Percobaan Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari dua faktor tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk urea yang terdiri atas 4 taraf yaitu : 0, 25 , 50 dan 75 kg/ha. Faktor kedua adalah dosis pupuk abu sekam padi yang terdiri atas 4 taraf yaitu : 0, 5 , 10 dan 15 ton/ha. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan analisis varian (ANOVA) pada taraf 5%. Dosis urea dan abu sekam padi yang menunjukkan pengaruh nyata di uji lanjut dengan Polynominal Orthogonal (PO). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara dosis pupuk urea dan abu sekam padi, dosis optimal pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada budidaya di lahan rawa belum diperoleh, rata-rata hasil kedelai yang diperoleh 3,04 ton/ha, dosis optimal abu sekam padi 8,37 ton/ha mampu meningkatkan bobot bintil akar kering sebesar 0,19 g, rata-rata hasil kedelai yang diperoleh sebesar 3,18 ton/ha
Pertumbuhan Bibit Tanaman Karet dalam Root Trainer dengan Pemberian Pupuk Daun dan Akar
Bibit tanaman karet dalam root trainer masih membutuhkan tambahan hara melalui pemupukan supaya dapat tumbuh dengan optimal. Salah satu faktor yang menentukan efektivitas pemupukan anorganik adalah cara pemupukan yang tepat. Cara pemupukan selain diberikan melalui akar dapat juga melalui daun maupun kombinasi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk daun dan pupuk akar terhadap pertumbuhan bibit tanaman karet dalam root trainer. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Unit Riset Bogor-Getas yang berlokasi di Salatiga, Jawa Tengah pada bulan April sampai September 2019. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 8 perlakuan dengan 9 ulangan. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas: 1)kontrol tanpa pemupukan, 2)pupuk akar, 3)pupuk daun setiap 5 hari, 4)pupuk daun setiap 5 hari + pupuk akar, 5)pupuk daun setiap 10 hari, 6)pupuk daun setiap 10 hari + pupuk akar, 7)pupuk daun setiap 15 hari, 8) pupuk daun setiap 15 hari + pupuk akar. Perlakuan pupuk akar diberikan pada frekuensi pemupukan setiap 15 hari. Kombinasi pemberian pupuk daun dengan pupuk akar menunjukkan peningkatan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, bobot tanaman, dan kandungan NP daun yang signifikan dibandingkan tanpa pemupukan tetapi tidak berbeda nyata dibandingkan pupuk akar saja. Sedangkan pemberian pupuk daun saja menunjukkan pertumbuhan bobot tanaman dan kandungan NP daun yang masih belum signifikan atau lebih rendah dibandingkan pemupukan akar. Efektivitas agronomi relatif tertinggi ditunjukkan pada pelakuan pupuk daun 15 hari + pupuk akar dengan EAR 117%. Hasil tersebut berarti bahwa pemberian pupuk daun setiap 15 hari dapat digunakan sebagai pelengkap pupuk akar dengan meningkatkan efektivitas agronomi relatif tanaman karet dalam pembibitan root trainer sebesar 17%