Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
    730 research outputs found

    EFEKTIFITAS FASILITASI BP3K MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN NASIONAL DI KABUPATEN REMBANG

    Get PDF
    Mendukung program sawasembada pangan nasional, BP3K menjadi pusat koordinasi dariberbagai intitusi/lembaga, sehingga peran dan fungsinya perlu ditingkatkan. Kementerianpertanian melalui Badan PPSDM Pertanian menfasilitiasi kegiatan peningkatan kapasitasBP3K sebagai posko program dan pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian yangbertujuan untuk mendukung pencapaian target pembangunan pertanian swasembadaberkelanjutan padi jagung dan kedelai. Tujuan pengkajian adalah mengetahui efektifitasBP3K serta faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas kegiatan peningkatan kapasitasBP3K sebagai posko program dan pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian kecamatanmendukung swasembada pangan nasional di Kabupaten Rembang. Pengkajian kualitatifdengan pemilihan lokasi secara sengaja (purposive) yaitu Kabupaten Rembang, sebagaipopulasi BP3K. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara menggunakankuisioner. Data meliputi data primer dan sekunder, kemudian ditabulasi dan dianalisis secarakualitatif. Hasil pengkajian diketahui bahwa efektifitas BP3K di Kabupaten Rembang dariaspek sarana prasarana dan sumber daya manusia belum sesuai standar minimal yangpersyaratkan; aspek SDM jumlah penyuluh belum ideal serta kemampuan penyuluh beragamdalam pendampingi kelompok binaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kegiatanpeningkatan kapasitas BP3K meliputi aspek manajemen operasional BP3K sudah sesuaidengan Permentan; aspek Aktivitas meliputi temu teknis, kursus tani, rembug tani, FFD,Penyusunan RDKK, LAKU sangat bermanfaat dalam menggali permasalah, memecahkanpermasalah usaha tani, transfer informasi teknologi pertanian serta meningkatkanpengetahuan petani; aspek penyediaan data dan informasi sudah dapat dipenuhi meskipundengan keterbatasan sarpras dan SDM yang ada

    HASIL PADI, EMISI GAS RUMAH KACA DAN PRODUKTIVITAS AIR DARI PERLAKUAN PENGELOLAAN AIR DI LAHAN SAWAH

    Get PDF
    Penghematan air dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) tanpa mengurangi hasil padimerupakan teknik budidaya padi yang berkelanjutan. Teknik penghematan air belum banyakdiadopsi oleh petani di Indonesia karena berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh alternate wetting and drying (AWD) terhadap hasil padi, emisi GRKdan produktivitas air. Penelitian dilaksanakan pada MK I 2015 di lahan sawah tadah hujan,Jakenan-Pati, Jawa Tengah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3perlakuan yaitu 1) Pengairan tergenang secara terus menerus (continuous flooding/CF), 2)AWD15 cm, 3) AWD 25 cm. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamatimeliputi fluks GRK (CH4 dan N2O), tinggi muka air pH dan Eh, hasil dan komponen hasilpadi, jumlah air irigasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan AWD15 danAWD25 merupakan teknik pengairan yang aman untuk mengurangi emisi GRK tanpamengurangi hasil gabah. Perlakuan AWD15 dapat meningkatkan hasil gabah sebesar 4,4%dan produktivitas air sebesar 3,6 % dibandingkan dengan pengairan tergenang terus-menerus(CF). Perlakuan AWD15 dan AWD25 dapat menurunkan emisi gas CH4 masing-masingsebesar 30% dan 45% dibandingkan dengan pengairan tergenang

    Aplikasi Herbisida dan PGPR untuk Menekan Pertumbuhan Gulma Terhadap Hasil Produksi Tanaman Padi

    Get PDF
    Penurunan produksi padi akibat kompetisi dengan gulma masih tinggi yakni berkisar antara 6-87%. Penurunan produksi padi secara nasional sebagai akibat gangguan gulma mencapai 15-42% untuk padi sawah dan padi gogo 47-87%. Untuk memenuhi produksi padi nasional, direncanakan peningkatan produksi padi minimal 2,82% setiap tahunnya selama kurun waktu 2015-2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi herbisida dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial rancangan acak kelompok lengkap (Factorial Experiment Randomized Complete Block Design) yang terdiri dari dua faktor dengan 3 ulangan. Faktor yang pertama aplikasi dosis herbisida dengan 3 aras yaitu: H0 = 0 L/ha, H1 = 1,25 L/ha, dan H2 = 1,5 L/ha. Faktor yang kedua aplikasi PGPR dengan 3 aras yaitu : P0 = tanpa aplikasi, P1 = 1 kali aplikasi, dan P2 = 2 kali aplikasi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis keragamannya dengan menggunakan uji ANOVA 5%, bila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara aplikasi herbisida dan PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Tidak ada keracunan tanaman padi pada seluruh perlakuan herbisida. Perlakuan H2 memberikan persentase pengendalian gulma yang paling baik. Perlakuan H1 memberikan hasil GKG per hektar paling tinggi

    Pengaruh Pelatihan Inovasi Teknologi Produksi Umbi Mini Bawang Merah Asal Biji (True Seed Of Shallot/Tss) terhadap Peningkatan Pengetahuan Petani Bawang Merah di Kabupaten Grobogan

    Get PDF
    Dalam mendukung program strategi pengembangan komoditas hortikuktura terutama komoditas bawang merah, BPTP Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan telah  mengadakan kegiatan pelatihan terhadap petani bawang merah di Kabupaten Grobogan. Tujuan kegiatan adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan terhadap peningkatan pengetahuan petani bawang merah di Kabupaten Grobogan  mengenai inovasi teknologi produksi umbi mini bawang merah asal biji (True Seed of Shallot/TSS). Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan berupa pelatihan dengan ceramah, diskusi dan praktek yang dilaksanakan pada tanggal 8, 15, 22 Oktober, dan 5 November 2016 di Kabupaten Grobogan.Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner yang dibagikan kesetiap peserta pelatihan sebanyak 40 orang, dimana kuisioner diberikan pada saat sebelum pelatihan dilaksanakan dan pada saat pelatihan  telah dilaksanakan.  Perubahan pengetahuan petani peserta pelatihan akan digunakan sebagai indikator pengaruh pelatihan. Rata-rata peningkatan pengetahuan responden (petani) mengenai teknologi produksi umbi mini bawang merah asal biji (TSS) setelah mengikuti pelatihan mengalami peningkatan sebesar 33,6%.Untuk sikap dan respon secara umum dinilai pada kategori tinggi yaitu : (i) manfaat materi yang diberikan sebesar 83%; (ii) Kemudahan materi untuk diterapkan sebesar 78%; (iii) keuntungan materi jika diterapkan sebesar 93%; (iv). kesesuaian materi dengan kebutuhan usahatani sebesar 95%; (iv) kesukaan atau ketertarikan terhadap materi yang diberikan sebesar 95%; dan (v) keinginan untuk menerapkan materi yang diberikan sebesar 100%. Sedangkan respon yang dinilai pada kategori sedang yaitu ragam penerapan materi yang telah diberikan sebesar 45% yaitu responden (petani) berencana akan mencoba sendiri dan di kelompok tan

    Teknik Pemanenan Madu Hutan oleh Masyarakat di Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat

    Get PDF
    ABSTRAKPerburuan madu hutan sudah dilakukan sejak lama oleh masyarakat di sekitar hutan karena madu memiliki nilai yang sangat ekonomis.  Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terkait rangkaian aktivitas perburuan madu hutan di Pulau Moyo mulai dari persiapan sampai pada kegiatan pemanenannya.  Penelitian dilakukan dengan metode observasi/survei, wawancara dan diskusi dengan responden yang terkait dengan penelitian, responden penelitian sebanyak 20 orang yang ditentukan secara purposive sampling.  Hasil penelitian diketahui bahwa perburuan madu hutan di Pulau Moyo dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu periode Februari – Juni serta September – Desember.  80% responden mengatakan bahwa hasil berburu pada bulan Oktober – Desember lebih baik bila dibandingkan dengan periode waktu yang lain.  Kegiatan berburu dilakukan secara berkelompok yaitu rata-rata sebanyak 3 orang/kelompok, selama 3 – 7 hari. Pemanenan madu dilakukan secara tradisional dan perlengkapan yang digunakan adalah parang, pisau, ember, cabai hutan, ranting kering dan daun basah, tali nilon, baju dan celana panjang serta sarung untuk melindungi bagian tubuh dari serangan lebah.. Pemanenan madu akan dilakukan ketika menjumpai pohon sarang saat berburu, walaupun kondisi sarang belum siap untuk dipanen.  Pemanenan dilakukan dari pagi sampai sore hari, kecuali saat hujan dengan sistem pengasapan pada sarang yang akan dipanen, satu sarang membutuhkan waktu 20-30 menit.  Hasil berburu madu hutan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi masyarakat Pulau Moyo, harga jual Rp. 70.000,- perbotol. Rata-rata pendapatan dalam sekali berburu mencapai Rp. 1.160.000,- - 1.400.000,-/orang untuk 3 – 7 hari berburu. Aktivitas perburuan madu hutan memiliki beberapa resiko, 55% responden pernah kesasar (disorientasi lokasi), 30% responden pernah digigit satwa liar dan 15% responden mengatakan pernah terjatuh dari pohon sarang.

    Potensi Sengon dalam Sistem Agroforestri Berdasar Karateristik Pohon Bagi Ketersediaan Cahaya dan Nutrisi

    Get PDF
    Ancaman terhadap keamanan pangan karena alih fungsi lahan, perlu upaya melalui budidaya dibawah tegakan pohon. Pertanaman sengon akhir-akhir ini digemari baik oleh masyarakat maupun pengelola hutan negara. Penelitian bertujun untuk: 1) mendeteksi karakter sengon berdasar potensi cahaya dan nutrisi 2) menganalisis potensi lahan dibawah tegakan sengon guna budidaya tanaman pangan. Penelitian menggunakan metode survey melalui berbagai pengukuran dan analisis laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Lahan diantara tegakan sengon memiliki potensi sebagai lahan budidaya dalam sistem agroforestri. Cahaya lolos dari tajuk sengon umur 1,5 tahun, jarak 2 x 1,5 m (populasi 2850 pohon/ha) sebesar 15620 lux ( 27 % dari cahaya di luar tegakan). Seresah (daun dan ranting) luruh dari pohon setahun sebesar 2,8 kg, berdasar analisis kandungan N, P, dan K, berarti mengembalikan unsur tersebut pada tanah sekitar 1,7%, 0,05% dan 0,35%. Pemangkasan 1/3 tajuk bagian bawah sengon meningkatkan cahaya lolos 22%. Selain itu hasil pangkasan daun dan ranting sebesar 2,3 kg pohon-1 bermanfaat sebagai pupuk hijau. Analisis tanah dibawah tegakan sengon umur 1,5 tahun menunjukkan bahwa kriteria kesuburan termasuk rendah (N 0,25 %, P 7.15 ppm, K 0,28 me%, dan bahan organik/BO 2.54 %) berarti sumbangan pohon terhadap kesuburan belum tampak

    Keragaman Morfologi dan Persebaran Kultivar Pisang di Pekarangan (Studi Kasus: Sub DAS Samin)

    Get PDF
    Pisang memiliki persebaran yang luas dengan keragaman yang tinggi, tetapi masih sedikit informasi mengenai plasma nutfah pisang sehingga perlu adanya karakterisasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman kultivar pisang berdasarkan karakter morfologi dan persebarannya pada tiga jenis tanah di Sub DAS Samin. Observasi dilakukan terhadap tanaman pisang yang tumbuh di pekarangan pada tanah Mediteran, Latosol, dan Grumusol. Analisis data karakter morfologi menggunakan program NTSYS. Persebaran kultivar pisang pada tiap-tiap jenis tanah dianalisis menggunakan pendekatan nilai Frekuensi Relatif (FR). Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman kultivar pisang pada ketiga jenis tanah  berdasarkan karakter morfologi batang. Jumlah total kultivar pisang yang ditemukan  sebanyak 20, dengan persebaran pada tanah Mediteran terdapat 13 kultivar, Latosol 9 kultivar, dan Grumusol 9 kultivar. Kultivar pisang yang terbanyak ditemukan pada tanah Mediteran kultivar Ambon dan Raja Lele (FR 19,05%), pada tanah Latosol adalah Klutuk (FR 31,91%), dan pada tanah Grumusol kultivar Kepok (FR 45,88%)

    Analisis Daya Dukung Wilayah Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Gunungkidul

    Get PDF
    Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Gunung Kidul pada bulan Februari  hingga Maret Tahun 2018. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui potensi daya dukung pengembangan sapi potong berdasarkan pewilayahan dan daya dukung hijauan pakan di Kabupaten Gunung Kidul, Metode analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, dimana pemilihan lokasi penelitian dilakukan menurut metode purposive sampling, dengan pertimbangan wilayah ini merupakan wilayah dengan jumlah populasi sapi potong terbesar di Provinsi DIY. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder. Data sekunder terkait dengan topik penelitian bersumber dari: a) BPS Kabupaten Gunung Kidul, b) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, c) bahan bacaan dan hasil penelitian yang di terbitkan oleh lembaga resmi. Data kemudian diolah dan dianalisis melalui perhitungan Location Quotient (LQ), dan Indeks Daya Dukung lahan (IDD). Kabupaten Gunung Kidul ini memiliki luas sebesar 1.485,36 km2, tersebar pada 18 wilayah kecamatan. Pada tahun 2016 penduduk di Kabupaten Gunung Kidul sebesar 704.026 jiwa, dengan tingkat kepadatan pendudukper kecamatan sebesar rata-rata 473,98 jiwa/Km2. Populasi sapi potong pada tahun 2014-2016 seberturut-turut sebanyak 140.928 ekor, 147.195 ekor dan 148.586 ekor, dengan jumlah rumah tangga kabupaten sebanyak 206.708 kepala keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan basis (nilai LQ≥1 berada di 9 kecamatan yakni Purwosari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar dan Semin.  Nilai Indeks Daya Dukung lahan (IDD) diatas 2 berada di 11 Kecamatan dengan nilai tertinggi berada di Kecamatan Karangmojo sebesar 5,82. Dari hasil analisis satuan ternak, populasi ternak sapi potong sejumlah 107.027  ST, dimana daya tampung ternak sapi sebanyak 255.024 ST/tahun, apabila dikurangi dengan populasi ternak sapi potong yang ada maka potensi pengembangan sebesar 147.997 ST/tahun. Kesimpulan sebagai berikut; Indeks Daya Dukung (IDD) Lahan, di Kabupaten Gunung Kidul berada dalam kategori “aman” dengan nilai >2 untuk pengembangan sapi potong

    PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA (Lactuca sativa L.) DENGAN PEMUPUKAN NITROGEN DAN KAPUR LIMBAH LAS KARBIT

    Get PDF
    Selada   merupakan   tanaman   sayuran yang   mengandung gizi yang   cukup   tinggi dan mudah  dalam    budidayanya.  Permintaan    selada  cukup meningkat,  baik  pasar swalayan, restoran, maupun pasar  tradisional. Menurut  estimasi Bank Dunia  konsumsi  sayuran  dan buah akan  meningkat 3,9%  tiap  tahun  selama  kurun  waktu 1995 sampai dengan 2010. Meningkatnya konsumsi sayuran sesuai dengan pertambahan penduduk, baik secara Nasional maupun Global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara pupuk nitrogen dengan kapur limbah las karbit pada pertumbuhan dan hasil selada; dosis kapur dan nitrogen berapa yang   dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada terbaik. Metode yang digunakan adalah percobaan lapangan secara faktorial, terdiri dua faktor dengan rancangan acak lengkap. Faktor pertama adalah dosis kapur limbah las karbit dan factor ke dua adalah dosis pupuk nitrogen.   Hasil   penelitian   menujukkan   bahwa terjadi interaksi antara perlakuan dosis kapur limbah las karbid dengan dosis pupuk nitrogen; Kombinasi dosis kapur limbah las karbit 900 kg/ha. dan 150 kg/ha.  nitrogen dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada

    Peran Perguruan Tinggi dalam Penyiapan SDM untuk Ketahanan Pangan Nasional

    No full text
    N/

    644

    full texts

    730

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇