Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
    730 research outputs found

    Pertumbuhan Empat Aksesi Iler (Coleus atropurpureus [L] Benth) pada Berbagai Ketinggian Tempat

    Get PDF
    Iler merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Upaya meningkatkan kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam tanaman iler perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang kesehatan. Menanam empat aksesi iler pada berbagai ketinggian tempat merupakan pendekatan yang dilakukan.  Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2018, lahan di 3 lokasi berdasarkan ketinggian tempat. Lokasi pertama di Desa Tegal Gedhe, Kecamatan Karanganyar dengan ketinggian tempat 182 m dpl serta jenis tanah Mediteran Coklat. Lokasi kedua pada ketinggian tempat 496 m dpl berlokasi di Desa Toh Kuning, Kecamatan Karangpandan dengan jenis tanah Mediteran Coklat Tua. Lokasi ketiga berada di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu dengan ketinggian tempat 1200 m dpl serta jenis tanah Andosol Coklat (BPS, 2014). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola tersarang (Nested) dengan empat kelompok tersarang dalam tiga lokasi tanam. Data diolah dengan menggunakan software SPSS.Empat aksesi iler yang ditanam pada tiga lokasi tanam mampu tumbuh dengan baik. Terbukti dengan adanya pengaruh lokasi, aksesi serta interaksi antara lokasi dan aksesi dengan variabel pertumbuhan iler. Iler yang ditanam pada dataran rendah menunjukkan tinggi tanaman paling tinggi 70.925 cm. Jumlah cabang iler paling banyak pada dataran tinggi yaitu 24.950. Umur berbunga paling tinggi di dataran tinggi dan dataran rendah. Aksesi dengan pertumbuhan terbaik terdapat pada aksesi UH. Aksesi UH (Ungu Hijau) menghasilkan tinggi tanaman tertinggi dibandingkan aksesi lain. Berat daun kering menunjukkan aksesi UH menghasilkan berat paling tinggi yaitu sebesar 23.581 g. Berat batang kering paling tinggi yaitu pada aksesi UH. Serta berat akar kering paling tinggi terdapat pada aksesi yang sama yaitu UH.Aksesi UH dapat digunakan sebagai aksesi yang akan digunakan sebagai bahan obat karena pertumbuhan vegetatif serta generatifnya mendukung, diharapkan memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang tinggi pula. Lokasi terbaik untuk pertumbuhan tanaman iler mulai dari paling baik adalah di dataran rendah kemudian di dataran tinggi dan terakhir adalah di dataran menengah.

    Keanekaragaman Serangga pada Tanaman Iler (Plectranthus atropurpureus Benth.) di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional

    Get PDF
    Serangga pada tanaman iler (Plectranthus atropurpureus Benth) ada beberapa macam peranannya. Ada yang sebagai hama (herbivora), musuh alami (karnivora), maupun pengurai (detritivor). Ada beranekaragam serangga yang ada pada tanaman iler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keanekaragaman serangga pada tanaman iler (Plectranthus atropurpureus Benth) di Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Metode pengambilan sampelnya menggunakan empat macam metode yaitu hand picking, yellow trap, pitfall trap, dan sweeping net. Variabel yang diamati adalah jumlah serangga berdasarkan famili dan ordo beserta  peranannya. Data yang diperoleh selanjutnya dianalis keanekaragamannya menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon Weiner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga pada tanaman iler mempunyai indeks keanekaragaman (H’) 1,120 atau mempunyai keanekaragaman yang sedang

    Luas Hawar sebagai Variabel Ketahanan Padi Berbasis Kehilangan Hasil oleh Infeksi Rhizoctonia Solani

    Get PDF
    Penyakit hawar pelepah daun (HPD)  yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani adalah salah satu penyakit penting yang dapat menyebabkan kehilangan hasil panen yang sangat berarti. Ketahanan menjadi salah satu pengendalian yang penting dalam pengelolaan HDP secara terpadu.  Umumnya kegiatan penapisan varietas tahan  terhadap HDP menggunakan keparahan penyakit sebagai variabel utama untuk menentukan klasisfikasi tingkat ketahanan/kerentahan varietas.  Keparahan penyakit yang digunakan berbasis skoring tinggi hawar dengan tinggi tanaman.  Hal ini akan menghadapi kendala dan kurang komparabel ketika antarvarietas secara genetika memiliki tinggi tanaman yang bervariasi secara berarti.  Hal ini menyebabkan hubungan kereratan antara keparahan penyakit dengan kehilangan hasil menjadi rendah.  Oleh karena itu perlu dicari alternatif variabel lain yang lebih erah hubungannya dengan kehilangan hasil oleh infeksi patogen HPD. Makalah ini melaporkan hasil analisis hubungan antara luas hawar pada pelepah dan daun terhadap kehilangan hasil. Data dikumpulkan berdasarkan inokulasi artifisual di rumah kaca pada Inpari13, IR64, Srikiti dan Padi Hitam. Luas hawar dan keparahan penyakit digunakan sebagai varibel bebas terhadap kehilangan hasil. Kedua variabel dilakukan pengukuran pada saat umur panen. Analisis hubungan luas hawar dan keparahan penyakit berdasarkan nilai koefisien determinasi dan korelasi regresi sederhana. Hasil korelasi antara keparahan penyakit dan kehilangan hasil menunjukkan nilai 0,333 yang artinya ada hubungan positif, sementara korelasi antara luas hawar dan kehilangan hasil menunjukkan nilai 0,52, dan korelasi tinggi tanaman dan kehilangan hasil menunjukkan  nilai 0,093. Dengan demikian, dapat disebutkan bahwa luas bercak lebih representatif digunakan sebagai variabel toleransi sebab koefisien korelasi seolah- olah semakin tinggi tanaman, keparahan penyakitnya semakin rendah. Karena keparahan penyakit yang semakin rendah maka toleransinya semakin tinggi

    Korelasi Level Substitusi Sargassum sp. dalam Ransum Terhadap Nilai Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Ternak Kelinci New Zealand White

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi rumput laut jenis Sargassum. Sp dalam ransum terhadap niali korelasi Protein (PK) dalam ransum terhadap nilai  kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik yang diberikan kepada ternak kelinci. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 8 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu T1 (ransum kontrol tanpa substitusi rumput laut), T2 (pakan kontrol substitusi 4% rumput laut), dan T3 (Pakan kontrol 8% rumput laut). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor kelinci dengan umur 3 bulan dengan bobot awal rata-rata 1.736 kg. Pakan dan feses yang dikumpulkan selama total koleksi kemudian di oven dan di tanur untuk mengetahui kadar Bahan Kering dan Bahan Organik. Parameter yang diamati yaitu Korelasi Protein dalam ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik serta Korelasi Pemberian level Sargassum yang bebeda terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik. Hasil dari analisis menunjukkan korelasi nilai Protein Kasar dalam Ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik menunjukan nilai -0.24 dan -0.11 , dan korelasi level Sargassum.sp terhadap tingkat Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik menunjukan nilai 0.06 dan -0.15. Hasil dari penelitian ini yaitu tidak adanya pengaruh yang nyata korelasi antara protein dalam ransum terhadap kecernaan bahan keirng dan bahan organic serta level substitusi Sargassum.sp yang berbeda menunjukan hasil korelasi yang sangat lemah terhadap kecernaan bahan kering sedangkan tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan organic. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa substitusi Sargassum.sp dalam ransum dengan level yang berbeda tidak mempengaruhi hubungan kecernaan bahan kering dan bahan organic serta tidak mempengaruhi nilai korelasi protein dalam ransum terhadap kecernaan bahan keirng dan bahan organic.

    Pengaruh Pemberian Aditif Pakan Berupa Kombinasi Kulit Singkong dan Bakteri Asam Laktat Terhadap Profil Lemak Darah Ayam Broiler

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat terhadap profil lemak darah ayam broiler. Penelitian menggunakan materi ayam broiler sebanyak 144 ekor dengan umur 1 hari atau day old chicken (DOC). Perlakuan yang diberikan yaitu berupa ransum basal tanpa aditif pakan  (T0), ransum basal + aditif pakan  50ml/kg ransum (T1), ransum basal + aditif pakan  100ml/kg ransum (T2) dan ransum basal + aditif pakan  150ml/kg ransum (T3). Bahan pakan yang digunakan dalam penelitian terdiri dari jagung, bekatul, bungkil kedelai, tepung ikan, meat bone meal (MBM), premix dan CaCO3. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan, menggunakan 24 unit percobaan dengan masing masing 6 ekor ayam broiler.  Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam pada taraf 5%. Parameter yang diamati yaitu kolesterol darah, trigleserida, HDL dan LDL darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat tidak berpengaruh nyata terhadap trigleserida, HDL dan LDL (P>0,05), sedangkan untuk kolesterol darah memberikan pengaruh nyata (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penambahan aditif pakan sebanyak 50 - 150 ml/kg dalam ransum dapat menurunkan kadar kolesterol darah ayam broiler

    Pengaruh Kombinasi Bentuk Talang dan Jarak Tanam terhadap Perakaran dan Hasil Tanaman Sawi Pakchoi (Brassica rapa L.) dengan Sistem Hidroponik NFT (Nutrient Film Technique)

    Get PDF
    Bentuk talang dan jarak tanam menjadi salah satu faktor abiotik yang berpengaruh terhadap perakaran dan hasil sawi Pakchoi secara hidroponik NFT. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi bentuk talang dan jarak tanam terhadap perakaran dan hasil sawi Pakchoi. Penelitian dilakukan di Plesungan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada bulan Mei hingga Juli 2018 di greenhouse. Terdapat enam perlakuan kombinasi bentuk talang persegi dan pipa paralon dengan jarak tanam 10cm, 15cm, 20cm. Perlakuan diulang empat kali sehingga didapatkan 24 satuan percobaan, ditata dengan Rancangan Acak Kelompok. Pengamatan meliputi panjang akar, berat kering akar, diameter bonggol, diameter tajuk dan berat segar tajuk. Data dianalisis menggunakan sidik ragam. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan uji BNJ dengan selang kepercayaan 5%. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi bentuk talang dan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap berat kering akar. Kombinasi paralon dengan jarak tanam 20cm menghasilkan berat segar tajuk 226,9g yang memenuhi kriteria layak jual

    Pengaruh Pemberian Sargassum sp. pada Ransum Pakan terhadap Produksi Karkas dan Non Karkas Kelinci New Zealand White Jantan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji pengaruh penggunaan Sargassum sp terhadap produksi karkas dan non karkas kelinci. Materi yang digunakan adalah kelinci New Zealand White sebanyak 24 ekor berumur 80 – 90 hari dengan bobot rata - rata 1736  ± 50 g (CV = 2,90%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 8 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu T1 = ransum basal, T2 = ransum basal yang disubstitusi Sargassum sp. 4%, T3 = ransum basal yang disubstitusi Sargassum sp. 8%. Ransum basal terdiri dari jagung kuning, pollard, bungkil kedelai, wheat bran, bekatul, kulit kopi, bungkil kelapa, molases, mineral dan garam yang diformula untuk mendapat kandungan protein 16%. Parameter yang diamati adalah bobot potong, bobot karkas, bobot non karkas, persentase karkas dan konsumsi BK pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum pakan yang diberi penambahan Sargassum sp. dengan level berbeda tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada bobot potong (2199 – 2545 g; rata – rata = 2380 g), bobot karkas (1256 – 1427 g; rata – rata = 1336 g), bobot non karkas (943 – 1118 g; rata – rata = 1044 g), persentase karkas (55,29 - 57,12%; rata – rata = 56,16%) dan konsumsi BK pakan (81 – 96 g/hari; rata – rata = 89 g/hari). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian Sargassum sp. pada ransum pakan dengan level berbeda tidak mempengaruhi bobot potong, bobot karkas, bobot non karkas, persentase karkas dan konsumsi BK pakan.

    Total Bakteri Asam Laktat dan Coliform pada Ileum dan Sekum Ayam Broiler yang Diberi Level Ekstrak Tomat dan Dipapar E. coli

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak tomat dalam air minum terhadap total bakteri asam laktat dan coliform pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E. coli strain Avian Pathogenic Eschericia coli (APEC). Materi yang digunakan adalah 128 ekor day old chick (DOC) ayam broiler strain Lohman dengan bobot awal rata-rata 43,31 ± 3,34 g. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari T0 (0 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli), T1 (40 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli), T2 (80 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli) dan T3 (120 ml/hari ekstrak tomat + dipapar E. coli). Parameter yang diamati adalah total bakteri asam laktat dan coliform pada ileum dan sekum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tomat dalam air minum pada ayam broiler yang dipapar E. coli tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total bakteri asam laktat dan coliform pada ileum dan sekum. Kesimpulan penelitian ini yaitu pemberian ekstrak tomat dalam air minum belum mampu menurunkan bakteri coliform dan belum mampu meningkatkan bakteri asam laktat pada ileum dan sekum ayam broiler yang dipapar E. coli

    Penambahan Fitobiotik {Tepung Kulit Bawang Merah dan Kulit Bawang Putih} Sebagai Pakan Aditif Terhadap Performans Kalkun

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan sumber Fitobiotik (Tepung Kulit Bawang Merah dan Tepung Kulit Bawang Putih) dalam pakan yang dikombinasikan dengan probiotik Lactobacillus sp. terhadap performans pada kalkun. Penelitian dilaksanakan pada bulan September - Desember 2018 di Kandang Unggas dan Non Ruminansia, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.Materi penelitian menggunakan 144 ekor kalkun umur 2 minggu dengan rata-rata bobot badan 407,65 ± 39,49 g, Lactobacillus sp. dan ransum perlakuan yang tersusun dari jagung, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, meat bone meal, CaCO3, premix, Lisin dan MehioninPenelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan serta 4 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 6 ekor kalkun. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu T0= Pakan basal (Kontrol); T1=Pakan basal + 0,25 g kultur kering probiotik Lactobacillus Sp ;   T2 = Pakan basal  + 2 % Fitobiotik.; T3= T1 +  2 % Fitobiotik dan T4   = T2 + 0,5 g kultur kering probiotik Lactobacillus Sp dan T5= T2 + 0.75 g kultur kering probiotik Lactobacillus Sp.  Parameter penelitian yang diukur meliputi panjang vili usus halus, bobot relatif usus halus, panjang usus halus, pertambahan bobot badan kalkun dam konversi pakanHasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap performans pada kalkun, yang meliputi bobot badan, konversi pakan, dan panjang saluran pencernaan (usus halus)Simpulan dari hasil penelitian ini adalah pemberian pakan aditive menggunakan fitobiotik (Tepung Kulit Bawang Merah dan Tepung Kulit Bawang Putih)  dengan penambahan Lactobacillus sp. dapat meningkatkan bobot relatif dan panjang usus halus, panjang vili usus halus serta bobot karkas kalkun

    644

    full texts

    730

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇