Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Penambahan Air Kelapa dan IAA pada Pertumbuhan Tunas Pisang Raja Bulu secara In Vitro
Banana Raja bulu is one type of banana that has great export potential. The obstacles are slow growth and the limited number of seeds. In vitro propagation is an effort that is expected to overcome the problem. The research was conducted in Physiology and Biotechnology Laboratory of Faculty of Agriculture UNS March-July 2017. This research used Factorial Random Design (RAL), which consists of two factors. The first factor was the provision of coconut water consists of three levels, namely 50 ml/l, 100 ml/l, and 150 ml/l. The second factor was the Growth Controller (IAA) with four ie 0 ppm; 0,5 ppm; 1 ppm; and 1,5 ppm. The results showed that coconut water was able to increased the number of shoots, the number of roots, shoot height and accelerate the appearance of shoots, the appearance of roots on Raja bulu banana with a concentration of 100 ml/l as the best treatment that can increase these variables. IAA giving effect to the growth of Raja bulu banana. Coconut water 50 ml/l with IAA 0,5 ppm can increase the number of shoots
Strategi Komunikasi Pemasaran Terpadu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Bale Branti di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor internal dan faktor eksternal yang dimiliki oleh Bale Branti serta merumuskan strategi komunikasi pemasaran terpadu yang dapat diterapkan oleh Bale Branti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan purposive (sengaja), yaitu di BUMDes Bale Branti. Analisis data yang digunakan adalah (1) Matriks IFE dan Matriks EFE, (2) Matriks IE dan Matriks SWOT, (3) QSPM. Hasil penelitian menunjukkan analisis dari matriks IFE memiliki total nilai tertimbang sebesar 2,8918 mengindikasikan bahwa Bale Branti cukup kuat secara internal dalam memanfaatkan kekuatan dan mengatasi kelemahan yang dimiliki. Total nilai tertimbang faktor eksternal kunci adalah sebesar 2,7419. Hal ini mengindikasikan bahwa Bale Branti dapat memanfaatkan peluang yang sudah ada dalam mengantisipasi ancaman eksternal. Matriks SWOT menghasilkan beberapa alternatif strategi yang nantinya akan ditentukan daya tariknya pada matriks QSP sehingga diketahui prioritas strategi yaitu melakukan kegiatan promosi dengan masif dengan total nilai daya tarik 6,8191
Profil Performa Itik Tegal Jantan pada Sistem Pemeliharaan Intesif dan Semi intensif di KTT Bulusari Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang
Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi perbedaan performa itik Tegal jantan sebagai itik pedaging yang dipelihara secara intensif dan semi intensif di KTT Bulusari. Performa tersebut meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan (PBB), konversi pakan dan income over feed cost (IOFC). Selama pengamatan 42 hari diketahui bahwa dengan konsumsi pakan, konsumsi nutrisi dan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi serta aktifitas yang berbeda mengakibatkan itik Tegal yang dipelihara secara intensif lebih cepat mencapai bobot panen yaitu 994,28 gram sedangkan itik yang dipelihara secara semi intensif dapat mencapai bobot panen yaitu 1034,22 gram selama 60 hari pemeliharaan (P<0,05). Selama 1 tahun pemeliharaan diketahui bahwa pemeliharaan intensif dapat dilakukan 7 kali sedangkan pemeliharaan semi intensif 3 kali. Nilai IOFC itik yang dipelihara secara intensif mempunyai nilai 49.57% lebih tinggi dibandingkan nilai IOFC itik Tegal yang dipelihara secara semi intensif. Disimpulkan bahwa performa itik Tegal jantan yang dipelihara secara intensif lebih baik dibandingkan itik Tegal Jantan yang dipelihara secara semi intensif
Bobot Organ Limfoid dan Rasio Heterofil-Limfosit pada Kalkun yang Diberi Daun Gamal dan Cekuti sebagai Substitusi Poultry Meat Meal
ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggantian poultry meat meal (PMM) dengan tepung daun gamal dan cekuti terhadap ketahanan tubuh kalkun berdasarkan bobot relatif bursa, limpa, timus dan rasio heterofil-limfosit (H/L). Manfaat dari penelitian untuk meminimalisir biaya pengeluaran bahan pakan hewani yang mahal dengan sumber protein nabati yang tersedia lokal. Ternak yang digunakan adalah kalkun sebanyak 100 ekor unsex umur 2,5 bulan dan ransum mengandung tepung daun gamal serta cekuti. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan penelitian terdiri dari T0 (ransum kontrol dengan PMM sebagai sumber protein hewani), T1 (ransum dengan 5% tepung daun gamal sebagai pengganti PMM), T2 (ransum dengan 10% tepung daun gamal, tanpa PMM), T3 (ransum dengan 5% tepung daun cekuti sebagai pengganti PMM), dan T4 (ransum dengan 10% tepung daun cekuti, tanpa PMM). Pengelompokan berdasarkan bobot badan yaitu K1 (bobot 300 – 375 g), K2 (376 – 450 g), K3 (451 – 525 g), dan K4 (526 – 600 g). Data diolah menggunakan analysis of variance dan uji lanjut dengan duncan multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung daun gamal dan cekuti terhadap PMM tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot relatif timus dan bursa, tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot relatif limpa dan rasio H/L. Simpulan dari penelitian bahwa tepung daun gamal dan cekuti pada level 5% sebagai pengganti PMM menunjukkan ketahanan tubuh lebih baik dilihat dari penurunan rasio H/L dan bobot relatif limpa dengan bobot bursa fabrisius sama dengan kontrol.
Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Beberapa Isolat Bakteri Simbion Nematoda Entomopatogen
Pengembangan agensia hayati memegang peranan penting dalam konsep dasar Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan penggunaan agensia hayati nematoda entomopatogen (NEP). Kelebihan yang dimiliki oleh NEP adalah adanya simbiosis dengan bakteri simbion yang mengeluarkan toksin sehingga mampu melumpuhkan inangnya dengan cepat. Hingga saat ini penggunaan bakteri simbion nematoda entomopatogen menjadi agensia hayati dirasa belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian menggunakan bakteri simbion secara terpisah dengan nematoda. Hal ini untuk mengetahui karakterstik morfologi dan fisiologi bakteri simbion sehingga dapat dikembangkan sebagai agensia pengendali hayati dalam konsep PHT. Identifikasi dilakukan dengan melihat karakteristik morfologi dan fisiologi bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat isolat bakteri simbion terdapat tiga isolat bakteri yang menunjukkan karakteristik morfologi dan fisiologi dari bakteri Xenorhabdus sp. yaitu koloni cembung dapat meneruskan cahaya, bulat mengkilat, berlendir, serta tepi koloni rata, sedangkan satu isolat bakteri menunjukkan karakteristik morfologi dan fisiologi dari bakteri Bacillus sp. dengan koloni datar, sedikit berlendir dapat meneruskan cahaya, kesat dengan tepi koloni tidak rata. Keempat isolat bakteri memiliki pertumbuhan optimum pada kisaran pH 5-8 dengan kisaran suhu 25-
Pengaruh Pemberian Kulit Singkong Dan Bakteri Asam Laktat Sebagai Aditif Pakan Terhadap Deposisi Protein Daging Ayam Jawa Super
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan kulit singkong yang dikombinasikan dengan bakteri asam laktat terhadap deposisi protein daging ayam jawa super. Materi yang digunakan adalah 144 ekor day old chick (DOC) ayam jawa super unsex dengan dengan rata-rata bobot badan 34 ± 3,14 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan serta analisis data menggunakan analisis ragam. Ransum yang digunakan mengandung protein kasar 18,25% dan Energi metabolis 3378,91 kkal/kg. Perlakuan yang digunakan adalah kulit singkong yang dikombinasikan dengan bakteri asam laktat level berbeda (0 ml/kg pakan, 100 ml/kg pakan, 150 ml/kg pakan, 200 ml/kg pakan). Ransum perlakuan mengandung kulit singkong 6 gram dan 100 ml bakteri asam laktat dengan konsentrasi 108 CFU/ml. Parameter yang diamati adalah konsumsi protein, massa protein daging, dan deposisi protein daging. Massa protein daging diukur dari sampel daging paha dan dada setelah 6 minggu perlakuan dan dianalisis kadar proteinnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kulit singkong dan bakteri asam laktat pakan sebagai aditif pakan berperngaruh nyata sampai level 200ml/kg terhadap deposisi protein daging ayam jawa super. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian kulit singkong yang dikombinasikan dengan bakteri asam laktat sebai aditif pakan dapat meningkatkan konsumsi protein dan deposisi protein daging ayam jawa super
Komposisi Kimia Daging Kelinci New Zealand White Yang Mendapat Pakan Subtitusi Sargassum Sp Pada Level Yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas kimia daging kelinci yang diberi pakan dengan subtitusi Sargassum sp. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 24 ekor kelinci New Zealand White yang berumur 80 – 90 hari dengan bobot rata-rata 1736 ± 50 g (CV = 2,90%), Kelinci tersebut dikelompokkan menjadi 3 untuk perlakuan, masing-masing berisi 8 ekor sebagai ulangan. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 8 ulangan. Pakan perlakuan yang diberikan adalah T0 (pakan kontrol), T1 (pakan T0 subtitusi sargassum sp 4%) dan T2 (pakan T0 subtitusi sargassum sp 8%). Komposisi bahan pakan T0 terdiri dari sargassum sp, jagung kuning, bekatul, kulit kopi, molasses, mineral, garam, wheat bran, pollard dan kangkung. Pakan tersebut diramu untuk mendapatkan iso protein (16% PK). Pemeliharaan dengan pakan perlakuan selama 84 hari, untuk kemudian ternak dipotong sebanyak 4 ekor di setiap perlakuan. Analisis kandungan kimia daging dilakukan otot longissimus dorsi dan biceps femoris, untuk menentukan kadar air, abu, protein dan lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata (P>0,05) pada kadar air, abu dan protein jenis otot longissimus dorsi dan biceps femoris, namun berpengaruh pada kadar lemak di otot biceps femoris (P<0,01). Rata – rata kadar air LD adalah 72,46 - 73,04% (rerata = 72,78%) dan BF adalah 72,86 - 73,88% (rerata = 73,44%) , kadar abu LD adalah 2,28 - 2,83% (rerata = 2,51%) dan BF adalah 3,24 - 3,50% (rerata = 3,35%), kadar protein LD adalah 20,33 - 21,02% (rerata = 20,61%) dan BF adalah 19,80 - 21,23% (rerata = 20,73%), kadar lemak LD adalah 1,27 - 2,97% (rerata = 2,39%). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian sargassum sp hingga level 8% dalam ransum tidak mempengaruhi kualitas kimia daging secara keseluruhan, kecuali kadar lemak biceps femoris.
Hubungan Kemiringan Lahan dengan Kadar Air Tanah dan Tampilan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan
Kemiringan lahan merupakan salah satu faktor pembatas kesesuaian lahan untuk pertumbuhan dan hasil tanaman. Untuk tanaman kelapa sawit, kemiringan lahan 30 persen merupakan batas kritis kesesuaian lahan karena memiliki intensitas faktor pembatas pertumbuhan yang berat. Penelitian bertujuan mengevaluasi hubungan antara kemiringan lahan dengan kadar air tanah, pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Lokasi penelitian terletak di Desa Talang Tengah 1, Kabupaten Bengkulu Tengah, sekitar 10 km sebelah utara Kota Bengkulu, berada pada ketinggian 100 m dari permukaan laut. Delapan tanaman kelapa sawit umur 15 tahun masing-masing dipilih secara purposif dari lahan dengan kemiringan 0, 8, 10, 15, 20 dan 30 persen. Kadar air tanah pada kedalaman 0-10 cm, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tandan buah segar (TBS) per tanaman serta bobot TBS diukur pada akhir musim hujan tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan lahan memiliki hubungan yang erat dan negatif dengan kadar air tanah dan tinggi tanaman, serta hubungan yang erat positif dengan jumlah dan bobot TBS. Kelapa sawit yang ditanam pada lahan yang lebih miring cenderung mempercepat pertambahan tinggi tanaman namun mengurangi jumlah dan bobot TBS dibandingkan lahan yang lebih datar. Kelembaban tanah pada jarak 2 m atau lebih dari batang kelapa sawit cenderung lebih rendah dibandingkan pada jarak 1 m dari pokok kelapa sawit
Pengaruh Penambahan Aditif Pakan berupa Kombinasi Kulit Singkong dan Bakteri Asam Laktat terhadap Profil Darah Merah pada Ayam Broiler
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengevaluasi penggunaan penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat terhadap profil darah merah (total eritrosit, hemoglobin dan hematoktit) ayam broiler. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah 144 ekor ekor day old chick (DOC) ayam broiler (unsex). Bahan pakan yang digunakan yaitu jagung, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, Meat Bone Meal (MBM) dan premix disusun menjadi ransum. Ayam broiler mendapat perlakuan ransum dengan penambahan aditif pakan yang dikombinasi dengan kulit singkong dan bakteri asam laktat pada umur 10 hari dan selama 4 minggu yang berupa T0 (ransum basal + tanpa sinbiotik ), T1 (ransum basal + sinbiotik 50 ml/kg), T2 (ransum basal + sinbiotik 100 ml/kg) dan T3 (ransum basal + sinbiotik 150 ml/kg). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 6 ulangan, setiap unit percobaan berisi 6 ekor ayam broiler. Materi untuk pengukuran parameter diambil 1 ekor ayam broiler secara acak dari setiap unit percobaan. Parameter yang diukur yaitu profil darah merah (total eritrosit, hemoglobin dan hematoktit) ayam broiler, data yang diperoleh selanjutnya dianalisis keragamannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap total eritrosit dan presentase hematokrit ayam broiler, namun tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar hemoglobin. Kesimpulan yang diperoleh yaitu, penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat sampai dengan hingga taraf pemberian 150 ml/kg secara umum tidak mengubah profil darah merah sehingga aman untuk digunakan sebagai bahan aditif pada ayam broiler