Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Karakterisasi Kemampuan Biokontrol Bakteri Endofit Indigenos untuk Pengendalian Ralstonia syzygii subsp. indonesiensis pada Cabai
Bakteri endofit hidup dalam jaringan tanaman tanpa menyebabkan gejala penyakit pada inang dan banyak dikembangkan sebagai agens hayati pengendalian berbagai penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri endofit indigenos dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri pada cabai dan mengkarakterisasi kemampuan biokontrol isolat terbaik secara in-vitro. Penelitian dilakukan menggunakan percobaan dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan dan 11 perlakuan (10 isolat bakteri endofit + kontrol). Parameter pengamatan yaitu kemampuan pengendalian penyakit layu bakteri secara in planta (insidensi dan severitas penyakit) dan karakter biokontrol (produksi protease, biosurfaktan, katalase, siderofor, antibiotik, HCN, ammonia dan hemolysin). Hasil penelitian didapatkan 10 isolat bakteri endofit indigenos mampu menekan perkembangan dan menghambat terjadinya penyakit layu bakteri pada cabai sampai 0% dengan efektivitas 100%. Karakterisasi isolat bakteri endofit indigenos secara in-vitro menunjukkan semua isolat mampu memproduksi protease, biosurfaktan dengan viskositas beragam, dan aktivitas katalase positif, 9 isolat mampu memproduksi siderofor, dan 8 isolat mampu menghasilkan antibiotik. Seluruh isolat tidak mampu memproduksi HCN dan ammonia. Semua isolat juga memiliki aktivitas hemolysin negatif yang mengindikasikan aktifitas patogenesitas negatif pada manusia. Isolat bakteri endofit SLBE 1.1 BB, SLBE 2.1 BB, SLBE 2.3 BB, SLBE 4.2 BB, SLBE 3.1 AP, AGBE 2.1 TL, SLBE 3.1 BB, dan AGBE 4.1 TL merupakan isolat yang paling banyak menunjukkan karakter biokontrol
Analisis Risiko Produksi, Harga dan Pendapatan Usahatani Salak di Kecamatan Turi Kabupaten Sleman
Perkembangan sektor pertanian tidak hanya komoditas tanaman pangan, tetapi juga tanaman perkebunan dan hortikultura. Salak merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dikembangkan di Kabupaten Sleman khususnya di Kecamatan Turi. Jenis salak yang banyak dibudidayakan adalah salak pondoh dan salak gading. Budidaya salak di Kecamatan Turi tidak terlepas dari beberapa kendala karena terdapat sebuah risiko produksi, harga dan pendapatan di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya dan pendapatan yang diperoleh petani salak pondoh dan gading; mengetahui tingkat risiko produksi, harga dan pendapatan usahatani salak pondoh dan gading; serta mengetahui upaya penanggulangan risiko tersebut. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa besarnya rata-rata biaya yang dikeluarkan petani salak pondoh yaitu Rp. 27.986.400/Ha dan salak gading sebesar Rp. 30.219.300/Ha. Rata-rata pendapatan yang diterima petani salak pondoh yaitu Rp. 18.434.800/Ha dan salak gading sebesar Rp. 37.313.600/Ha. Risiko produksi usahatani untuk luasan lahan 1 Ha salak pondoh adalah 0,04 dan salak gading sebesar 0,14. Risiko harga usahatani salak pondoh adalah 0,22 dan salak gading sebesar 0,1. Risiko pendapatan untuk luasan lahan 1 Ha usahatani salak pondoh adalah 0,82 dan salak gading sebesar 0,70. Usahatani salak pondoh lebih berisiko dibandingkan salak gading pada aspek harga dan pendapatan. Upaya penanggulangan risiko masih terdapat tidak kesesuaian dengan anjuran dari penyuluh pertanian. Penyuluhan pertanian yang lebih intensif perlu dilakukan agar upaya penanggulangan risiko semakin baik kedepannya
Identifikasi Karakter Agronomi Beberapa Genotipe Padi Lokal Potensial Barat Selatan-Aceh
Provinsi Aceh memiliki banyak padi lokal yang masih dibudidayakan petani terutama di Wilayah Barat-Selatan Aceh, padi lokal tersebut perlu diidentifikasi karakter agronomi dan dimanfaatkan sebagai sumber gen dalam perakitan varietas unggul baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter agronomi dari genotipe potensial padi lokal di wilayah Barat-Selatan Aceh. Penelitan dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh Aceh Barat dari tanggal 21 Februari sampai dengan tanggal 04 Oktober 2018. Bahan penelitian adalah 7 genotipe padi lokal yang di peroleh dari sejumlah Kabupaten di Barat-Selatan Aceh yaitu: Ramos, Pala Gajah, Manyam U, Siputeh, Kepala Gidan Ginco,Tinggong, dan Sirende. Tanah aluvial, Pupuk kandang, pupuk urea, NPK dan pot ukuran 8 kg tanah. Pelaksanaan penelitian mulai dari perlakuan dan penyemaian benih, persiapan media tanam, penanaman, pemupukan, pemeliharaan dan panen. Pengamatan : Tinggi tanaman dan jumlah anakan per rumpun umur 45 HST, Umur berbunga, Tinggi tanaman saat panen, Jumlah anakan produktif, Umur panen, Panjang malai, Jumlah biji per malai, Presentase gabah bernas dan hampa dan Bobot 1000 butir gabah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter agronomi baik pertumbuhan dan hasil dari genotipe yang dicobakan. Dimana tinggi tanman umur 45 HST tertinggi pada genotipe Pala Gajah (134.17), Jumlah anakan umur 45 HST genotipe Siputeh (43.33), umur berbunga tercepat pada genotipe Manyam U (79 hari). Tinggi tanaman saat panen pada genotipe Siputeh (211.83), Jumlah anakan Produktif terbanyak pada genotipe Sirende (19.83), Umur panen tercepat tanaman padi ini terdapat pada genotipe Pala Gajah (132 hari). malai terpanjang terdapat pada genotipe Pala Gajah ( 26.60 cm ). jumlah biji permalai terbanyak genotipe Pala Gajah (388.10). persentase gabah bernas tertinggi terdapat pada genotipe Kepala Gidan Kinco persentase gabah hampa tertinggi terdapat pada genotipe Pala Gajah, Berat 1000 butir pada genotipe Manyam U. Genotipe-genotipe tersebut dijadikan sebagai tetua dalam perakitan varietas unggul baru
Kadar Hemoglobin, Hematokrit dan Leukosit Kalkun Fase Grower yang Diberi Gliricidia sepium dan Galinsoga parviflora sebagai Substitusi Poultry Meat Meal
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi poultry meat meal dengan tepung daun gamal (Gliricidia sepium) dan daun cekuti (Galinsoga parviflora) terhadap gambaran hematologi kalkun meliputi jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan leukosit. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu kalkun sebanyak 100 ekor umur 2,5 bulan dengan bobot badan 300 - 600g serta jenis kelamin unsex. Ransum penelitian menggunakan bahan-bahan antara lain daun gamal, daun cekuti, jagung giling, bekatul, bungkil kedelai, poultry meat meal (PMM) dan premix. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok. Kelompok didasarkan pada bobot badan dengan pembagian antara lain kelompok 1 (300–375g), kelompok 2 (376–450g), kelompok 3 (451–525g) dan kelompok 4 (526–600g). Perlakuan penelitian terdiri dari T0 (ransum basal), T1 (ransum mengandung 5% daun gamal+5% PMM), T2 (ransum mengandung 10% daun gamal+0% PMM), T3 (ransum mengandung 5% daun cekuti+5% PMM) dan T4 (ransum mengandung 10% daun cekuti+0% PMM). Parameter yang diamati yaitu jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan leukosit. Data yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan analisis sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi poultry meat meal dengan daun gamal dan daun cekuti tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rata-rata parameter yang diukur, dimana rata-rata yang diperoleh T0, T1, T2, T3, T4 berturut-turut untuk jumlah eritrosit 3,06; 3,08; 2,99; 3,36; 3,83 (×106/ml), hemoglobin yaitu 14,50; 15,63; 15,00; 15,81; 16,28 (g/dL), hematokrit yaitu 39,12; 39,37; 36,50; 44,12; 43,44 (%) serta leukosit yaitu 50,25; 53,88; 47,75; 61,13; dan 52,50 (×103/ml). Simpulan dari penelitian ini yaitu substitusi poultry meat meal dengan penggunaan daun gamal dan daun cekuti dengan taraf masing-masing 5% dan 10% tidak mempengaruhijumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan leukosit kalkun.
Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang
Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik daging kambing Jawarandu yang dipotong pada berbagai tingkat bobot potong dan lokasi otot berbeda. Materi penelitian berupa 20 ekor kambing Jawarandu yang diambil secara incidental sampling di RPH Bustaman Kota Semarang. Sampel daging diambil dari 2 lokasi otot, yaitu Bicep femoris (BF) dan Longissimus dorsi (LD). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental tersarang (lokasi otot tersarang pada bobot potong). Ada 4 kelompok bobot potong (BP), yaitu BP 1 rata-rata 6,16 ± 0,21 kg (CV = 3,47%), BP 2 rata-rata 11,00 ± 0,30 kg (CV = 2,76%), BP 3 rata-rata 16,14 ± 0,16 kg (CV = 1,02%), dan BP 4 rata-rata 20,89 ± 0,33 kg (CV = 1,58%). Parameter yang diamati adalah pH, susut masak dan daya ikat air daging. Data dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH dan susut masak daging, rata-rata pH dan susut masak daging hasil penelitian adalah 5,94 dan 30,17%. Daya ikat air daging pada semua bobot potong tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata sebesar 29,36%, sedangkan daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih besar (P<0,05) daripada otot BF (27,91%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak mempengaruhi pH dan susut masak daging. Perbedaan bobot potong juga tidak mempengaruhi daya ikat air daging, tetapi daging kambing Jawarandu pada otot LD memiliki daya ikat air yang lebih baik dari pada otot BF.
Persepsi dan Pola Perilaku Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Perkotaan sebagai Upaya Memperkuat Sistem Ketahanan Pangan Keluarga: Studi Kasus Kota Makassar Sulawesi Selatan
Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual Theory of Planned Behavior untuk menjelaskan pembentukan perilaku dalam pengembangan pertanian perkotaan. Tujuan penelitian adalah mempelajari pola pembentukan perilaku masyarakat dan faktor-faktor mempengaruhinya dalam pengembangan pertanian perkotaan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di kota Makassar. Penelitian survei analitis pendekatan kuantitatif menggunakan kuesioner tertutup terhadap variabel pembentuk perilaku: sikap, motivasi, norma subyektif, pengetahuan pertanian perkotaan, dan pengetahuan lingkungan. Jawaban setiap item instrumen menggunakan skala Likert. Sampel diambil secara probability sampling sebanyak 300 orang. Analisis model perilaku pengembangan pertanian perkotaan menggunakan Structural Equation Model (SEM) berbantukan software AMOS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan lingkungan secara kausal tidak menjadi faktor penggerak langsung terjadinya perilaku dan hanya berkontribusi melalui pembentukan sikap. Pengetahuan pertanian perkotaan secara kausal menjadi faktor penggerak langsung terjadinya perilaku pengembangan pertanian perkotaan. Selain itu, juga berpengaruh kuat sebagai faktor penggerak dengan arah hubungan positif terhadap munculnya motivasi, kepatuhan terhadap norma-norma subyektif dan perilaku pengembangan pertanian perkotaan. Motivasi secara kausal menjadi faktor penggerak secara langsung pembentukan sikap. Variabel sikap sebagai intervening terhadap variabel motivasi dan norma subyektif menuju pembentukan perilaku pengembangan pertanian perkotaan
Perbandingan Evapotranspirasi Potensial Untuk Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L.) Pada Sistem Pemanenan Air Limpasan di Lahan Kering Ciparanje
Perhitungan evapotranspirasi potensial (ETo) diaplikasikan pada tanaman jagung manis (Zea Mays L.). Penelitian ini menggunakan metode Evapotranspirasi yang direkomendasikan oleh FAO yaitu metode Penman-Monteith dan Penman Modifikasi untuk diterapkan pada sistem pemanenan air limpasan di lahan kering Ciparanje, Kabupaten Sumedang. Data masukan yang digunakan untuk kedua metode tersebut adalah data klimatologi yang meliputi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari dari stasiun klimatologi Faperta Unpad dari tahun 2008-2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata evapotranspirasi potensial untuk Metode Penman-Monteith dan Penman Modifikasi secara berturut-turut adalah 3,96 dan 5,28 sehingga terdapat perbedaan sebesar 74,97%. Korelasi atau hubungan antara kedua metode tersebut adalah 0,914 dan terdapat perbedaan yang signifikan antara Metode Penman-Monteith dan Metode Penman Modifikasi
Pengaruh Umur Panen terhadap Viabilitas Benih Gandum Tropis Varietas Dewata ( Triticum aestivum L.)
Gandum (Triticum aestivum L.) merupakan bahan pangan pokok di indonesia, untuk memenuhi kebutuhan gandum, pemerintah masih melakukan impor. Pengembangan gandum tropis untuk menunjang kebutuhan produksi pangan dari dalam negeri belum banyak dilakukan. Salah satu syarat untuk memproduksi tanaman adalah adanya benih yang bermutu tinggi. Benih yang bermutu tinggi dihasilkan dari biji yang sudah masak yang memiliki viabilitas atau daya berkecambah yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui viabilitas benih gandum pada berbagai umur panen dan untuk mengetahui umur panen manakah yang sudah memenuhi standar mutu benih. Penelitian dilakukan dilahan percobaan dengan ketinggian tempat ± 900 meter dpl dan di laboraturium benih Fakultas Pertanian dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan. Analisis data menggunakan analysis of variance (ANNOVA) yang kemudian dilakukan uji lanjut menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada selang kepercayaan 95%. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah kadar air, bobot 1000 biji, daya berkecambah, keserempakan tumbuh dan berat kering benih. Hasil penelitian menunjukan bahwa umur panen berpengaruh nyata pada kadar air, bobot 1000 biji, daya berkecambah keserempakan tumbuh dan berat kering benih. Pada perlakuan H5 umur panen 120 hari setelah tanam menghasilkan daya berkecambah 80,4% dan kadar air 11,148 % yang menunjukkan bahwa hasil tersebut sudah memenuhi kriteria mutu benih menurut standar FAO
Pengaruh Penambahan Kombinasi Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera) dan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Level Kolesterol, Trigliserida, LDL dan HDL Darah Ayam Broiler
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penambahan kombinasi tepung daun kelor (Moringa Oleifera) dan tepung bawang putih (Allium Sativum) dalam ransum terhadap kadar lemak darah ayam broiler. Penelitian menggunakan 96 ekor ayam broiler unsex strain Lohman dengan rataan bobot 37,43±2,48 gram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah T0: ransum kontrol, T1 : ransum + tepung daun kelor 1% atau sebanyak 10g/kg, T2 : ransum + tepung bawang putih 1% atau sebanyak 10g/kg, dan T3 : ransum + tepung daun kelor 1% atau sebanyak 10g/kg + tepung bawang putih 1% atau sebanyak 10g/kg. Parameter yang diukur adalah kadar kolesterol, trigliserida, LDL dan HDL darah ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh nyata (P>0,05) perlakuan terhadap kadar kolesterol, trigliserida, LDL dan HDL darah ayam broiler. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan kombinasi tepung daun kelor dan tepung bawang putih sebanyak 1% dalam ransum tidak mempengaruhi kadar lemak darah ayam broiler