Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Respon Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Varietas Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merr) terhadap Salinitas (NaCl)
Komoditas tanaman pangan yang terpenting setelah tanaman padi dan jagung yaitu tanaman kedelai (Glycine max L. Merr). Produktivitas kedelai masih rendah yang salah satu penyebabnya yaitu lahan budidaya semakin sedikit akibat dari alih fungsi lahan. Solusi yang digunakan yaitu pemanfaatan lahan-lahan marginal salah satunya adalah lahan pesisir pantai dengan permasalan tanah salin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tanaman kedelai (Glycine max L. Meer) terhadap salinitas serta mengetahui varietas yang toleran salinitas sehingga dapat digunakan sebagai informasi bagi para pemulia dan petani agar kegiatan pemuliaan tanaman kedelai serta kegiatan budidaya kedelai pada lahan salin dapat terlaksana dengan baik. Penelitian dilaksanakan di green house Agroekoteknologi Universitas Trunojoyo Madura dari bulan Januari sampai April 2020. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu konsentrasi NaCl meliputi kontrol (K0), 3000 ppm (K1), 4000 ppm (K2), 5000 ppm (K3), dan faktor kedua yaitu varietas kedelai meliputi grobogan (V1), burangrang (V2), anjasmoro (V3). Parameter pengamatan meliputi umur perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah polong, dan bobot polong pertanaman. Hasil data pengamatan dianalisi menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf uji F 5% yang dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi NaCl dengan perlakuan varietas. Perlakuan konsentrasi NaCl yang semakin tinggi menyebabkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai semakin rendah pada parameter umur perkecambahan, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah polong, dan bobot polong pertanaman. Varietas grobogan merupakan varietas yang secara umum cenderung memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan varietas lainnya
Analisis Faktor Kritis Sistem Integrasi Sawit-Sapi pada Pola Pemeliharaan Berbeda
Faktor kritis merupakan faktor yang dianggap rawan dan berpotensi besar menimbulkan kegagalan. Dalam berbagai pola pemeliharaan sapi potong, faktor kritis bisa berasal dari faktor pakan, bibit, modal, tenaga kerja/ SDM, lahan, kandang, musim, dan pasar. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sistem usaha integrasi kelapa sawit-sapi potong mulai massif dan banyak diadopsi oleh peternak sebagai dampak dari massifnya program diseminasi oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Namun sebagian besar diimplementasikan oleh petani kecil, dan kelompok tani dengan pola pemeliharaan yang berbeda-beda yakni pola ekstensif, semi intensif dan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor kritis sistem integrasi sawit-sapi pada pola pemeliharaan berbeda. Pengumpulan data melalui wawancara dengan 30 orang peternak pada masing-masing pola pemeliharaan, serta petugas lapang yang berwenang di lokasi setempat, menggunakan kuesioner. Selanjutnya data dianalisis menggunakan metode Failure Modes, Effects and Criticality Analysis (FMECA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kritis pada pola pemeliharaan intensif lebih banyak dan lebih kritis dibanding pola pemeliharaan semi intensif dan ekstensif
Dampak ENSO terhadap Produktivitas Padi di Kabupaten Situbondo
Peristiwa El-Nino Southern Oscillation (ENSO) memnpengaruhi produktivitas tanaman padi suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan mempelajari efek kejadian ENSO terhadap produktivitas tanaman padi dari 17 kecamatan di Situbondo, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan panjang musim hujan (PMH) mengalami perubahan signifikan di kecamatan Mlandingan, Arjasa, dan Asembagus, sedangkan panjang musim kemarau (PMK) berubah di kecamatan Mlandingan, Situbondo, Panji, dan Asembagus. Fenomena La-Nina (kuat) tahun 2010-2011 di Kecamatan Mangaran meningkatkan produktivitas sebesar 196,6% dari simpangan. Wilayah yang mengalami persentase perubahan paling tinggi saat La-Nina (sedang) tahun 2011-2012 adalah Kecamatan Suboh dengan kenaikan 62,3%, sebaliknya di Kecamatan Panji terjadi penurunan 58,2%. Hasil ini juga menunjukkan El-Nino tidak menunjukkan dampak signifikan terhadap produktivitas padi di seluruh kecamatan
Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang dan Pupuk Hayati Terhadap Pertumbuhan Bunga Pukul Delapan (Turnera subulata J.E. Smith)
Bunga pukul delapan (Turnera subulata) merupakan tanaman yang memiliki banyak kegunaan sebagai tanaman hias, obat maupun refugia. Perbanyakan bunga pukul delapan menggunakan biji membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga dilakukan perbanyakan stek. Pemupukan merupakan salah satu upaya untuk menyediakan hara yang cukup bagi keberhasilan pertumbuhan stek bunga pukul delapan. Penggunaan pupuk kandang sapi dapat memperbaiki struktur tanah dan karakteristik tanah secara fisik, kimiawi maupun biologis. Pemberian kombinasi dengan pupuk hayati dapat meningkatkan mikroorganisme dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan pupuk kandang sapi dan dosis pupuk hayati yang dapat meningkatkan pertumbuhan bunga pukul delapan. Penelitian dilaksanakan pada Mei-Agustus 2021 di screen house Gedung C, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Penelitian menggunakan rancangan RAKL faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu perbandingan tanah dan pupuk kandang dengan 4 taraf yaitu kontrol, 3:1, 3:2, dan 3:3. Faktor kedua yaitu dosis pupuk hayati dengan 3 taraf yaitu kontrol, 15 L/ha, dan 20 L/ha. Penelitian menggunakan 12 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun dan jumlah bunga. Analisis data menggunakan analisis ragam, pada taraf 5 % dan jika terdapat pengaruh berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan hasil tertinggi pemberian pupuk kandang sapi pada perlakuan perbandingan tanah dan pupuk kandang 3:2 pada parameter tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun. Sedangkan pemberian pupuk hayati dengan hasil tertinggi pada perlakuan dosis 20 L/ha pada parameter tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah bunga. Tidak terdapat interaksi kedua perlakuan terhadap semua respon pertumbuhan bunga pukul delapan
Peningkatan Daya Saing dan Nilai Tambah Bawang Lokal Palu di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
Bawang merah lokal Palu merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Bawang lokal ini digunakan sebagai bahan baku produk bawang goreng. Meskipun memiliki keunggulan komparatif berupa tekstur bawang namun daya saing harus ditingkatkan agar bisa bersaing dengan produk bawang merah goreng daerah lain yang lebih kompetitif karena kualitas yang bagus dengan harga bersaing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu potensi peningkatan daya saing dan nilai tambah bawang lokal Palu di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Pengambilan data menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan analisis nilai tambah. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan daya saing bawang merah Palu dilaksanakan dengan cara pendekatan faktor produksi bahan baku sampai dengan proses pengolahan secara terpadu dalam satu lokasi dan dengan perluasan pemasaran secara online untuk menembus pasar di luar daerah. Penggunaan input rendah yang ramah lingkungan juga berpotensi sebagai trade mark untuk promosi bawang bawang lokal Palu.
Pendekatan Chi-Square pada Analisis Preferensi Konsumen terhadap Buah Durian di Ponorogo (Studi Kasus di Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut apa saja yang menjadi preferensi konsumen dalam keputusan pembelian buah durian dan atribut apa saja yang paling dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian buah durian di Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo.Penentuan sampel menggunakan judgement sampling (sampel keputusan) dengan jumlah sampel 100 responden. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari-Maret 2022. Data dianalisis menggunakan analisis chi-square dan analisis multi atribut fishbein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah durian yang menjadi preferensi konsumen di Kecamatan Ngebel adalah buah durian yang memiliki harga buah sedang (Rp.30.001-Rp.40.000), warna buah kuning, aroma buah sangat kuat, rasa buah manis/pahit, tekstur buah lembut/berserat, dan ukuran buah besar (3,1-4,0 kg). Atribut buah durian yang paling dipertimbangkan dalam keputusan pembelian buah durian berturut-turut di Kecamatan Ngebel adalah atribut rasa buah (3,85) aroma buah (3,72) tekstur buah (3,60) warna buah (3,60) ukuran buah (3,55) dan harga buah (3,41)
Model Rooftop yang Memanfaatkan Botol Bekas untuk Penanaman Kangkung Darat (Ipomea Reptans Poir) dengan Komposisi Media Tanam dan Dosis Pupuk Npk yang Berbeda
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kombinasi media tanam dengan dosis pupuk NPK pada model rooftop. Penelitian di laksanakan di atap green house lantai ke-3, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang. Penelitian dilakukan 02 Oktober sampai dengan 08 Nopember 2021. Percobaan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor I adalah komposisi media tanam (M) yang terdiri dari 3 level yaitu : M1 : tanah = 50 %, pasir = 25 %, kompos = 25 %; M2 : tanah = 25 %, pasir = 50 %, dan kompos = 25 %; dan M3 = tanah = 25 %, pasir = 25 %, dan kompos = 50 %. Faktor II dosis pupuk NPK (D) terdiri dari 5 level yaitu D0 = tanpa pupuk (kontrol), D1 = 1,5 g, D2 = 3 g, D3 = 2,25 g, dan D4= 4,5 g. Hasil Penelitian disimpulkan: 1). Model rooftop dengan pengaruh interaksi antara komposisi media tanam dan dosis pupuk NPK pada variabel jumlah daun umur 21, 28, dan 31 hst; serta luas daun umur 31 hst. Kombinasi perlakuan yang direkomendasikan adalah M3D3. 2). Pada variable bobot segar total dan bobot kering total tanaman secara terpisah tanpa pemberian pupuk NPK masih mampu memberikan pengaruh yang baik
Pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Sebagai Inokulan Fermentasi Limbah Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb) untuk Bahan Pakan Ternak
Upaya untuk menekan biaya produksi salah satunya dengan meminimalisir kebutuhan biaya pakan, agar peternak mendapatkan keuntungan dari usaha peternakan. Salah satu cara untuk memenuhi ketersediaan bahan pakan secara kualitas dan kuantitas adalah dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian untuk dijadikan pakan ternak. Adapun parameter yang diamati pada penelitian ini adalah degradasi Protein Kasar (PK), Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui degradasi Protein Kasar (PK), Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFALEG (Limbah Ekstraksi Gambir) yang difermentasi dengan Mikroorganisme Lokal (MOL) in-vitro. Materi dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah LEG, MOL, air cucian beras, dedak halus, mikroba rumen, larutan buffer Mc Dougall, rak fermentasi, garam, gula merah, plastik dan seperangkat alat untuk uji in-vitro. Perlakuan yang diuji adalah faktor A: Penambahan dedak dalam LEG A1 (0% Dedak + 100% LEG), A2 (10% Dedak + 90% LEG), A3 (80% Dedak + 20% LEG) dan faktor B: lama fermentasi B1 (5 Hari), B2 (10 Hari), dan B3 (15 Hari). Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3x4 dengan 2 ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Apabila terdapat perbedaan antara perlakuan maka diuji lebih lanjut dengan Ducans Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan analisis statistik menunjukan bahwa penggunaan dedak dan lama fermentasi memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap degradasi PK di rumen in-vitro dan berpengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA.Kesimpulan dari penelitian ini adalah LEG yang difermentasi dengan MOL menunjukan hasil berbeda tidak nyata terhadap degradasi PK, sedangkan Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA meningkat dari LEG yang difermentasi dengan MOL tanpa penambahan dedak, sehingga dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminant
Ketersediaan Fosfor pada Tanah Bekas Tambang Emas Tercemar Merkuri (Availability of Phosphorus in Ex-Gold Mining Soil Contaminated with Mercury)
Fosfor merupakan unsur hara makro yang penting untuk pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Karena kompleksitasnya, interaksi fosfor dalam tanah terhadap Hg perlu dan terus diselidiki secara ekstensif akibat adanya pencemaran merkuri di sistem tanah Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Interaksi Hg-P dapat menyebabkan perubahan fisiologis, biokimia, dan metabolisme pada sistem tanah dan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan menganalisis tingkat interaksi merkuri dan fosfor pada tanah bekas tambang emas di Kabupaten Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel tanah berdasarkan random sampling pada kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm yang dilakukan dengan tiga dan lima ulangan sehingga total 54 sampel. Interaksi Hg-P dapat menjelaskan beberapa proses biogeokimia Hg pada tanah bekas tambang emas di Dharmasraya yang memiliki tingkat kesuburan yang rendah, dengan pH 4,03 satuan, KTK 6,97, BOT 6,88% ; P Total 2.98 mg kg-1 ; P tersedia 15.55 ppm, dan kadar Hg sangat tinggi 4,18 mg kg-1. Kadar Hg tanah pada lahan bekas tambang berkorelasi positif dengan BOT> KTK > pH > P Total, sedangkan berkorelasi negatif dan signifikan terhadap P tersedia, masing-masing r = 0,500 > 0,220 > 0,167 > 0,016; dan r = -0.275.Temuan ini menemukan bahwa akumulasi Hg dalam tanah dikaitkan dengan pembentukan terdapat interaksi antara mineral P, P larutan tanah dan P dikoloid tanah dengan korelasi antara konsentrasi Hg dan P Total dalam tanah (r = 0,089 atau Hg = 0.1018 (PT) + 2.5498; R² = 0.0079), sedangan terhadap P tersedia (r = - 0.275 atau -2.2038 (PA) + 24.764; R² = 0.0757)
Analisis Kemiskinan Petani Ubi Kayu: Implementasi Sustainable Development Goals (SDGs)
Kemiskinan menjadi isu penting bagi seluruh negara, tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan pertama yaitu “no poverty”. Ubi kayu memiliki peluang ekonomi dan berkontribusi dalam memastikan no poverty, no hunger. Kabupaten Wonogiri merupakan daerah penghasil ubi kayu terbanyak di Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pendapatan usahatani ubi kayu, mengetahui pendapatan rumah tangga petani ubi kayu, dan menganalisis kemiskinan petani ubi kayu sebagai implementasi Sustainable Development Goals (SDGs). Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis pendapatan usahatani ubi kayu, analisis pendapatan rumah tangga petani ubi kayu, analisis kemiskinan menggunakan Fosteer-Greer-Thorbecke (FGT). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendapatan usahatani ubi kayu adalah Rp12.863.134,00/MT atau Rp16.395.581,00/ha dan total pendapatan rumah tangga petani ubi kayu yaitu Rp23.881.236,00/MT. Tingkat kemiskinan P0 (headcount index) sebesar 0,23 dengan P1 (indeks kedalaman kemiskinan) 0,076 dan P2 (indeks keparahan kemiskinan) 0,025. Usahatani ubi kayu berkontribusi 53,86% terhadap pendapatan total rumah tangga dan dapat dijadikan komoditas dalam pembangunan pertanian untuk mengurangi kemiskinan. Rekomendasi dalam penelitian ini yaitu perlu adanya program pembangunan pertanian yang berfokus terhadap usahatani ubi kayu berupa pengembangan produk pasca usahatani yang diiringi dengan peningkatan teknologi hasil pertanian dengan harapan dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan berperan dalam pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)