Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Sumber Protein Alternatif dari Serangga untuk Pakan Ternak Unggas
Salah satu dampak pandemi covid-19 saat ini adalah kecenderungan permasalahan dalam persediaan pangan dunia dalam waktu kedepan ini, dimana ada potensi terjadi krisis pangan. Semua pihak secara optimis diharapkan untuk berupaya menghindari hal tersebut dengan berbagai tindakan konkrit antara lain dengan menggunakan sumber-sumber daya lokal dalam memproduksi bahan pangan secara berkelanjutan. Review ini bertujuan untuk memaparkan secara ringkas potensi serangga sebagai sumber protein alternatif yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas. Keunggulan lain dari serangga sebagai pakan unggas adalah tingginya kandungan asam lemak tak jenuh, disamping itu sebagai pakan alternatif yang tidak berkompetisi sebagai pangan manusia. Metode yang digunakan adalah studi komparatif referensi inklusif dari data-base publik. Berbagai macam jenis serangga telah diidentifikasi memiliki kandungan nutrien penting terutama protein yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk ditambahkan dalam pakan ternak. Pemanfaatan serangga sebagai sumber protein bagi pakan ternak dapat mengurangi penggunaan bahan penyusun pakan ternak yang berkompetisi dengan kebutuhan manusia, terutama dimasa dimana bahan pangan sangat dibutuhkan oleh banyak orang, seperti beras, kedelai, tepung ikan. Kesimpulan yang ada bahwa semakin banyak serangga yang dapat didayagunakan sebagai pakan ternak maka akan semakin “menghemat” pemanfaatan bahan pakan yang digunakan sebagai pangan manusia
Pengaruh pupuk organik terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max L.) pada sistem tanpa olah tanah
Potensi hasil kedelai mampu optimal untuk dikembangkan dengan penggunaan sistem tanpa olah tanah yang banyak memberikan keuntungan dengan menekan input seperti biaya dan waktu panen. Upaya yang mengarah ke perbaikan terus dilakukan seperti pemanfaatan lahan bekas penanaman padi yang memanfaatkan potensi air dan pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis pupuk organik yang meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai pada sistem tanpa olah tanah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan 5 perlakuan dosis pupuk organik dan 5 ulangan. Perlakuan tersebut adalah P0 (tanpa pupuk organik), P1 ( pupuk organik 5 ton/ha), P2 (pupuk organik 10 ton/ha), P3 (pupuk organik 15 ton/ha), P4 (pupuk organik 20 ton/ha). Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman (Analysis of variance / ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan diuji lanjut dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf α 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk organik 5 ton/ha meningkatkan indeks luas daun (ILD), berat segar dan kering brangkasan serta berat hasil biji per tanaman dan per hektar
Pola Tanam Kedelai (Glycine max L.) Tanpa Olah Tanah Pada Bekas Rumpun Padi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memiliki nilai ekonomis penting di Indonesia. Tingkat produktivitas kedelai rendah dapat terjadi akibat dari degradasi lahan dan pola tanam yang kurang tepat. Salah satu usaha mempertahankan kualitas tanah dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT) dan inovasi teknik budidaya dengan perlakuan pola tanam pada bekas rumpun padi. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) 1 faktor dengan 4 perlakuan yaitu pola tanam antar baris, dalam baris, diagonal, dan pada bekas rumpun padi dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam kedelai pada bekas rumpun padi menunjukkan berat kering brangkasan lebih rendah daripada pola tanam antar baris, dalam baris, dan diagonal dikomponen pertumbuhan. Perlakuan pola tanam kedelai diagonal bekas rumpun padi menunjukkan hasil lebih rendah daripada pola tanam antar baris, dalam baris, dan pada bekas rumpun padi pada jumlah biji per polong dan berat 100 biji
Peran Teknologi Ozonisasi Dalam Mempertahankan Kesegaran dan Memperpanjang Masa Simpan Buah Nenas (Ananas Comosus (L) Merr.) : Review
Penanganan pascapanen hortikultura menjadi penting dalam memperpanjang umur simpan. Khususnya dalam upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing produk hortikultura di Indonesia. Penanganan pascapanen yang tepat perlu dilakukan untuk menjaga kesegaran buah. Selain itu, syarat penting yang perlu dipenuhi oleh para eksportir buah adalah buah aman dan bersih dari segala macam kontaminasi, baik mikroba, mikroorganisme patogen (bakteri, virus dan jamur) dan residu pestisida. Industri buah dan sayur memerlukan teknologi yang secara efektif dapat menginaktifasi patogen dan menghilangkan kontaminan – kontaminan, memastikan kesegaran buah dan yang tidak kalah penting adalah ramah lingkungan. Teknologi ozonisasi adalah salah satu teknologi yang dapat memperpanjang umur simpan buah, menjaga kesegaran produk, tidak mempengaruhi nilai gizi dan mampu melarutkan beberapa jenis pestisida dan ozon sendiri adalah antimikroba yang tidak meninggalkan residu. Tujuan dari review ini adalah untuk mengetahui hasil-hasil penelitian terdahulu yang telah mengaplikasikan teknik ozonisasi beserta dosis penggunaaannya sebagai salah satu teknologi dalam memperpanjang umur simpan buah nenas. Dari bebebera tulisan menunjukkan bahwa teknologi ozonisasi pada penanganan pascapanen pada buah nenas segar diyakini dapat menjaga kesegaran produk serta memperpanjang umur simpan dengan cara membunuh mikroorganisme dan meluruhkan residu pestisida yang ada pada buah. Dosis paparan yang direkomendasikan dari review ini adalah 1 mg/L dengan waktu 20 menit. Dosis tersebut diketahui dapat meluruhkan residu pestisida dan mikroorganisme yang masih tertinggal pada buah nenas.
Budidaya dan Pengendalian Hama pada Lily : Review
Lili merupakan tanaman hias yang banyak digemari karena memiliki banyak varietas, variasi warna bunga dan aroma wangi. Lily tumbuh pada daerah dataran tinggi yaitu 1000-1200 dpl dan suhu rendah. Lily dapat dibudidayakan baik secara vegetatif maupun generatif. Upaya pengembangan agribisnis lili masih dijumpai beberapa kendala, salah satunya gangguan hama penyakit. Hama yang ditemukan pada pengamatan pertanaman lily antara lain tungau umbi (Rhizoglyphus sp.), siput (Oxychilus cellarius), ulat (Spodoptera litoralis), kutu Kebul (Bemisia tabaci), dan uret (Scarabaeidae). Pengendalian yang dilakukan untuk menekan serangan hama antara lain menjaga kondisi lingkungan dengan penggunaan rumah kaca, adanya predator, serta penggunaan insektisida, moluskisida, dan akarisida
Fakta dan Budaya Ayam Kedu sebagai Potensi Lokal dan Sumber Protein Hewani : Review
Ayam lokal merupakan ayam yang berasal dari hasil domestikasi Ayam Hutan (Gallus gallus). Ayam Kedu termasuk ayam buras yang cukup potensial dijadikan sebagai ayam petelur dan pedaging karena karakteristiknya yang spesifik dan keunggulannya dibanding ayam lokal lainnya. Ayam Kedu termasuk beberapa jenisnya yaitu Ayam Kedu Hitam, Kedu putih dan Kedu lurik masing – masing memiliki kemampuan produktivitas yang berbeda, beberapa penelitian melaporkan bahwa rata – rata HDP (hen day production) Ayam Kedu lebih tinggi dibandingkan ayam lokal jenis lainnya. Salah satu jenis Ayam Kedu yang terkenal yaitu Ayam Kedu Hitam atau yang lebih dikenal dengan Ayam Cemani. Budaya yang berkembang di masyarakat terhadap Ayam Cemani yaitu ayam istimewa yang sering digunakan sebagai obat dan pelengkap ketika upacara tradisional. Melihat fakta dan budaya yang ada, tulisan ini bertujuan untuk mereview tentang fakta dan budaya dari berbagai hasil penelitian ayam kedu dalam upaya mengembangkan potensi lokal ayam. Pemanfaatan Ayam Kedu perlu dilakukan karena ayam lokal memiliki peranan yang cukup penting dalam penyediaannya sebagai pangan sumber protein hewani terlebih kandungan asam amino protein hewani yang lebih lengkap dibandingkan protein nabati
Kajian Kualitas Pemanenan Air Hujan yang Diberikan Pupuk AB Mix Pada Media Tanam Arang Sekam dan Zeolit Terhadap Pertumbuhan Fase Vegetatif Tanaman Tomat Red Pear (Lycopersicum Validum) Pada Saat Pandemik COVID-19
Pemanenan air hujan merupakan suatu upaya penampungan air hujan yang melimpah saat musim hujan agar dapat digunakan ketika musim kemarau untuk keperluan berbagai bidang salah satunya adalah sebagai sumber air irigasi pada budidaya tanaman. Teknik pemanenan air hujan yang dipakai menggunakan atap bangunan (rooftop rain water harvesting) sebagai tangkapan air (cathment area) kemudian disalurkan menggunakan talang dan ditampung kedalam sebuah tangki penampungan. Air tampungan dari hasil pemanenan kemudian dicampurkan dengan nutrisi AB Mix yang dijadikan air fertigasi tanaman tomat red pear. Budidaya tomat red pear menggunakan media tanam arang sekam dan zeolit dengan perbandingan 9:1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air dari pemanenan air hujan khususnya nilai pH, EC, TDS, TSS, DHL, kualitas air hujan yang diberi nutrisi AB Mix, pengaruh kualitas media tanam terhadap perkembangan tanaman tomat red pear. Penelitian ini dilaksanakan di greenhouse ALG, Universitas Padjadjaran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Hasil analisis pemanenan air hujan menurut asteria, (2019) nilai pH 7,12; TDS 13,5 mg/L; TSS 3,025 mg/L, DHL 31,9 dan kekeruhan 6,825 NTU serta EC senilai 22,075µS/cm, hasil penelitian kualitas air hujan yang diberikan pupuk AB Mix menunjukan nilai suhu larutan berkisar 22oC-28oC, nilai EC larutan berkisar 2,0-2,39 mS/mc dan kualitas media tanam arang sekam dan zeolite sangat baik untuk tomat red pear
Persepsi Pemuda Desa di Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali Terhadap Pekerjaan Sebagai Petani
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis persepsi pemuda desa terhadap pekerjaan sebagai petani, 2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya persepsi pemuda desa terhadap pekerjaan sebagai petani 3) menganalisis hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dengan persepsi pemuda desa terhadap pekerjaan sebagai petani. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik survei. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di Desa Jeron, Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali karena merupakan salah satu desa dengan luas lahan sawah terbesar kedua di Kecamatan Nogosari yaitu 289.510 Ha, namun memiliki 847 petani yang didominasi usia lanjut. Populasi dalam penelitian ini adalah 2.039 pemuda desa usia 17-35 tahun. Sampel yang digunakan sebanyak 80 pemuda desa usia 17-35 tahun, diambil melalui proportional random sampling. Untuk menguji hubungan digunakan analisis korelasi rank spearman dengan SPSS 23 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan 1) persepsi pemuda desa terhadap lingkungan kerja petani adalah netral, persepsi pemuda desa terhadap pendapatan petani adalah baik, dan persepsi pemuda desa terhadap status sosial petani adalah baik, 2) usia dengan kategori sangat rendah, tingkat pendidikan dengan kategori tinggi, status kepemilikan lahan dengan kategori rendah, sosialisasi pekerjaan dengan kategori rendah, dan akses terhadap informasi dengan kategori rendah, 3) terdapat satu variabel yang berhubungan secara signifikan yaitu tingkat pendidikan dengan persepsi pendapatan, sedangkan usia, luas kepemilikan lahan, sosialisasi pekerjaan dan akses terhadap informasi berhubungan secara tidak signifikan dengan persepsi pemuda desa baik terhadap lingkungan kerja, pendapatan maupun status sosial petani
Perkembangan Jaringan Adiposa pada Ternak Dalam Kaitan dengan Kualitas Produksi Daging: Review
Dewasa ini produk peternakan yang aman bagi konsumen, misalnya produk ternak yang tidak memiliki masa lemak yang tinggi telah menjadi suatu kriteria untuk konsumennya. Hal ini sangat berkaitan dengan aktifitas jaringan adiposa tubuh ternak. Penyusunan artikel review ini bertujuan untuk membahas tentang perkembangan jaringan adiposa dan peranannya dalam daging ternak. Metode yang digunakan dalam penyusunan review ini adalah studi komparatif referensi. Jaringan adiposa dibentuk melalui proses adipogenesis yang diawali dari proses proliferasi prekursor pre-adiposit dan diikuti oleh proses diferensiasi sel-sel tersebut. Proses diferensiasi ini pada hakekatnya telah terjad pada masa prenatus dan awal neonatus. Fungsi dari jaringan adiposa dewasa adalah untuk melakukan sintesis, akumulasi ataupun hidrolisis asam lemak yang terdapat dalam jaringan adiposa. Secara praktis jika konsumsi nutrien dalam ransum mengandung nilai energi lebih tinggi dari yang dibutuhkan maka kelebihan energi tersebut akan disimpan dijaringan adiposa dalam bentuk lemak. Semakin banyak lemak diakumulasi dalam jaringan adiposa maka ternak tersebut akan semakin memiliki tampilan tubuh yang gemuk. Tampilan ternak yang gemuk dapat menunjukkan ransum ternak yang didistribusi memiliki kandungan energi yang lebih tinggi dari pada yang dibutuhkan ternak yang berdampak pada penilaian kualitas produk ternak tersebut