Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Optimalisasi Taman Nglorog Rejo sebagai Upaya Meningkatkan Potensi Wisata Desa Jeblog
Perkembangan potensi wisata berbasis komunitas mulai mengalami perkembangan yang menggembirakan, dengan memaksimalkan potensi wisata lokal yang ada pada suatu wilayah termasuk desa. Wisata ini dapat berbentuk atraksi budaya, taman, pusat rekreasi dan edukasi ataupun wisata kuliner. Demikian pula bagi masyarakat Desa Jeblog, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten yang memiliki Taman Nglorog Rejo namun belum dikelola secara baik dan sempat terhenti karena pandemi. Potensi taman sebagai wahana bermain, rekreasi dan edukasi perlu dikelola secara lebih baik melalui optimalisasi taman desa sebagai upaya meningkatkan potensi wisata Desa Jeblog. Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali daya tarik Taman Nglorog Rejo serta upaya promosi melalui media sosial terutama instagram agar lebih dikenal oleh masyarakat, terutama warga Klaten. Optimalisasi taman dilakukan melalui program Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang berlangsung. Kegiatan dilakukan secara bertahap, yakni: survey lokasi, perancangan program serta pelaksanaan. Pelaksanaan kegiatan diwujudkan dalam bentuk: (1) pengecatan fasilitas taman; (2) penanaman apotek hidup; (3) pemasangan fasilitas seperti: tampah untuk hiasan dan hardware stiker sebagai penanda, pemasangan plang apotek hidup serta (4) pengambilan video promosi. Kegiatan optimalisasi taman ini menghasilkan bentuk taman yang dapat dijadikan tempat rekreasi ataupun belajar, khususnya mengenai tanaman apotek hidup serta tayangan promosi melalui media sosial
Aplikasi Irigasi Kapiler pada Budidaya Sayuran dalam Rangka Memperkuat Ketahanan Pangan
Dampak dari pandemik covid 19 sangat dirasakan oleh kelompok wanita tani Sauyunan dan
kelompok tani Sabilulungan, kelurahan Sumelap, kecamatan Tamansari kota Tasikmalaya
Jawa Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat: Aplikasi Irigasi Kapiler pada Budidaya
Sayuran, merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialami pada
saat pandemi oleh mitra kegiatan. Permasalahan tersebut ialah : ketahanan pangan yang
masih rendah karena masih lemahnya terhadap keterjangkauan pangan baik secara kuantitas
maupun kualitas, pengetahuan dan ketrampilan tentang penerapan teknik irigasi kapiler yang
sangat efisien dalam penggunaan air, waktu dan tenaga penyiraman untuk budidaya sayuran
yang belum mereka miliki. Selain itu, mereka sangat terbatas pengetahuannya tentang potensi
lahan pekarangan sebagai sumber pendapatan keluarga. Program pengabdian kepada
masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang teknik
irigasi kapiler pada budidaya sayuran, juga memotivasi mereka untuk menerapkannya di
lahan pekarangan sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan. Lebih jauh juga dapat
meningkatkan kesempatan kerja yang akan berdampak pada peningkatan pendapatan
keluarga. Manfaat kegiatan ini ialah penerapan teknik irigasi kapiler di lahan pekarangan
pada tanaman kangkung, tomat ,cabe, dll. Metode pelaksanaan melalui metode penyuluhan,
ceramah, diskusi, praktek dan evaluasi. Materi pelatihan aplikasi irigasi kapiler pada
budidaya sayuran, baik secara teori maupun praktek di lapangan dapat dipahami oleh para
peserta. Pengetahuan dan ketrampilan peserta kegiatan tentang teknik irigasi kapiler
meningkat. Para peserta mempunyai respon yang baik terhadap kegiatan pelatihan. Penerapan
teknik irigasi kapiler pada sayuran di pekarangan menarik minat masyarakat umum untuk
mencontoh dan menerapkannya
Pertumbuhan dan Kualitas Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas Medians pada Berbagai Dosis Pemberian Pupuk Nitrogen
Pertumbuhan, hasil dan kualitas kentang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Nitrogen (N) adalah nutrisi tanaman yang sangat dinamis, sehingga aplikasinya merupakan tantangan dalam budidaya kentang olahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan dosis pupuk nitrogen yang mampu menghasilkan umbi dengan hasil tinggi dan memiliki kadar pati yang tinggi. Penelitian dilakukan secara eksperimen di lahan petani Desa Sumberejo – Batu pada ketinggian 690 m dari permukaan laut. Empat perlakuan dosis pemupukan nitrogen diterapkan , yaitu: dosis 40, 80, 120, 160 N kg ha-1. Setiap perlakuan dalam diulang enam kali. Sumber pupuk nitrogen yang digunakan berasal dari ZA. Pemberian pupuk ZA dilakukan 2 kali, yaitu: bersamaan waktu tanam dan 35 hari setelah tanam. Dalam percobaan ini menggunakan varietas Medians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum dengan meningkatnya dosis pupuk N maka tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan klorofil total akan meningkat, meskipun antara dosis 120 dan 160 N kg ha-1 tidak berbeda nyata. Meningkatnya pemberian pupuk N menyebabkan kadar air umbi semakin berkurang dan bobot kering umbi meningkat. Pemberian pupuk nitrogen dosis 115 kg ha-1 merupakan dosis optimal untuk menghasilkan umbi konsumsi dan kadar pati umbi yang maksimal. Hasil umbi konsumsi yang diperoleh sebesar 33.82 ton ha-1 dan kadar pati 16.33%
[Respons Pemberian Campuran Daun Lamtoro, Cangkang Telur dan Kulit Pisang terhadap Pertumbuhan dan Produksi Stevia]: Review
Tanaman Stevia merupakan tanaman yang daunnya dapat digunakan sebagai pemanis alami dengan kandungan nol kalori dan kadar kemanisan 300 kali dibandingkan gula tebu. Pemupukan merupakan salah satu upaya untuk memperoleh produksi yang optimal. Pupuk organik diperkaya memiliki kandungan unsur hara yang lengkap, sehingga cocok diaplikasikan pada budidaya stevia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pemberian campuran daun lamtoro, cangkang telur dan kulit pisang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman stevia. Penelitian ini dilakukan di Leuwiliang, Bogor mulai bulan Maret sampai Juni 2020, menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu: A0 (kontrol) : Urea 5 g/polybag, SP-36 1 g/polybag dan KCl 1 g/polybag , A1: 10 g/polybag pupuk organik, A2: 20 g/polybag pupuk organik, A3: 30 g/polybag pupuk organik, A4: 40 g/polybag pupuk organik, A5: 50 g/polybag pupuk organik. Pupuk organik daun lamtoro, cangkang telur dan kulit pisang dicampurkandengan perbandingan 1:1:1 untuk setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian campuran daun lamtoro, cangkang telur dan kulit pisang memiliki pengaruh yang sama dengan kontrol (pupuk anorganik), sehingga aplikasi pupuk organik pada tanaman stevia dianggap efektif dan mampu menggantikan aplikasi pupuk anorganik
Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kubis Bunga terhadap Naungan dan Pupuk NPK
Budidaya kubis bunga atau bunga kol di provinsi Riau tergolong rendah dan berfluktuatif. Selama ini petani di Riau umumnya membudidayakan kubis bunga di bawah naungan. Permasalahan yang akan dihadapi dalam budidaya tanaman di bawah naungan yaitu berkurangnya intensitas cahaya yang diterima tanaman sehingga dapat berimplikasi pada penghambatan pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu, peningkatan kuantitas dan kualitas hasil tanaman juga ditentukan oleh dosis pemupukan yang tepat. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi kubis bunga terhadap naungan dan dosis pupuk NPK. Metode yang digunakan adalah Rancangan Petak tersarang dengan tiga ulangan. Faktor pertama alias petak utama yaitu intensitas naungan dengan tiga taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan (0%), naungan 25%, dan naungan 55%. Faktor kedua atau anak petak yaitu dosis NPK 16:16:16 dengan empat taraf perlakuan, yaitu tanpa pupuk, NPK 3,7 g/tanaman, NPK 7,5 g/tanaman, dan NPK 11,2 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi pada perlakuan naungan dan pupuk NPK terhadap laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, lingkar krop dan berat krop per tanaman kubis bunga. Perlakuan naungan 0-25% memberikan produksi kubis bunga yang lebih tinggi yaitu 8.3-9.5 ton/ha dibandingkan naungan 55% (3.5 ton/ha). Pupuk NPK dengan dosis 7,5 g/tanaman mampu menunjang pertumbuhan dan produksi tanaman kubis bunga
Kadar Cu dan Pb pada Tanah Masam yang Dibioremediasi Menggunakan Jamur Mikoriza dan Pupuk Kandang Sapi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pH, kadar P-Total serta kadar logam kontaminan yang terdapat pada tanah masam sebelum dan sesudah penambahan jamur mikoriza serta penggunaan pupuk kandang sapi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kombinasi perlakuan, 3 kali ulangan serta 3 kelompok yaitu: M1 (kontrol/hanya menggunakan tanah masam), M2 (tanah masam dan pupuk kandang sapi), M3 (tanah masam dan mikoriza 20 gram/polybag) dan M4 (tanah masam, pupuk kandang sapi dan mikoriza 20 gram/polybag). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaplikasian pupuk kandang sapi dan jamur mikoriza pada tanah masam mampu meningkatkan pH tanah dari 4,51-5,82, kadar P total meningkat dari 4-12,12 ppm, Cu meningkat dari 11-38 ppm serta menurunkan kadar Pb dari 53-30 ppm dalam tanah masam setelah penanaman
Pengaruh Skarifikasi dan Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Pronojiwo (Sterculia javanica R. Br)
Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat herbal saat ini semakin meningkat. Peningkatan penggunaan tanaman obat antara lain adanya tren kembali ke alam (back to nature) sebagai bentuk kesadaran akan hidup sehat. Bibit merupakan penentu keberhasilan pada tanaman karena bibit bagian dari objek utama yang akan dikembangkan dalam proses budidaya. Hal utama yang harus di perhatikan dalam pembibitan adalah persiapan bibit hingga siap tanam. Permasalahan dalam proses pembibitan tanaman Sterculia javanica R adalah pematahan dormansi biji. Sterculia javanica R. Br memiliki kulit biji yang tebal, keras dan kedap yang menjadi penghalang mekanis masuknya air atau gas sehingga proses imbibisi sulit terjadi. Pematahan dormansi pada biji Sterculia javanica R. Br bertujuan untuk meningkatkan daya kecambah benih serta mengevaluasi pertumbuhan awal di pembibitan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknik mempercepat perkecambahan biji dan meningkatkan pertumbuhan bibit Sterculia javanica R. Br). Penelitian dilakukan di rumah pembibitanBalai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Karangpandan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap Pola Faktorial. Faktor pertama adalah perlakuan fisik yaitu tidak diskarifikasi (D0) dan diskarifikasi (D1) sedangkan faktor kedua adalah perendaman dalam air (P) yaitu meliput (P0) tanpa perendaman, (P1) perendaman 12 jam dan (P2) perendaman 24 jam. Benih yang telah diperlakukan di semaikan dalam polibag dengan media tanam dan pupuk kandang (1:1). Pengamatan dilakukan terhadap saat awal tumbuh, persentase perkecambahan, tinggi bibit, jumlah daun dan panjang akar pada umur 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh skarifikasi dan perendaman selama 24 jam terhadap perkecambahan benih pronojiwo (Sterculia javanica R. Br) memberikan hasil lebih baik yaitu saat awal tumbuh 20 hari, persentase perkecambahan 100%, tinggi bibit 14,0 cm, jumlah daun 8 dan panjang akar 7,0 c
Permintaan Pangan Hewani Rumah Tangga Perkotaan di Provinsi Jawa Tengah
Konsumsi protein sangat penting dalam pencegahan stunting pada balita, namun akses dalam konsumsi pangan hewani sebagai sumber utama protein terkendala pada harga pangan dan pendapatan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan harga dan pendapatan terhadap permintaan pangan hewani rumah tangga perkotaan di Provinsi Jawa Tengah. Data penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari SUSENAS Tahun 2016 dengan sampel sebanyak 13.328 rumah tangga. Analisis data menggunakan pendekatan model Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pangan hewani paling elastis terhadap perubahan harga adalah kelompok ikan dengan elastisitas permintaan sebesar 2.463%, diikuti daging sapi (2.410%), susu bubuk (1.416%), ayam (1.010%), dan telur (0.549%). Semua pangan hewani bersifat substitusi dengan kelompok pangan hewani lainnya, kecuali susu bersifat komplementer terhadap daging sapi. Kelompok pangan hewani yang paling sensitif terhadap perubahan pendapatan adalah daging sapi (2.219%) diikuti oleh susu, ikan dan daging ayam dengan elastisitas masing-masing sebesar 1.816%, 1.660% dan 1,336%, sehingga daging sapi merupakan pangan hewani paling mewah. Stabilitas kebijakan harga sangat penting untuk mempertahankan konsumsi pangan hewani dalam rangka pemenuhan protein sesuai angka kecukupan protein nasional
Analisis Kelembagaan Tataniaga Ubi Kayu dalam Pengendalian Lingkungan dan Peningkatan Pendapatan: Studi Kasus di DAS Bengawan Solo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah
Komoditas ubi kayu sering dikaitkan dengan masalah isu lingkungan karena sifat komoditas ini yang banyak diusahakan di daerah aliran sungai dengan teknik pengolahan yang mengurai tanah sehingga mudah terdegradasi dan menimbulkan dampak erosi dan sedimentasi. Tataniaga melibatkan banyak pihak yang terkait dalam merumuskan program, mulai dari proses produksi sampai pemasaran. Tujuan penelitian untuk (1) mengidentifikasi kelembagaan tataniaga ubi kayu dan posisi masing-masing lembaga dalam rantai saluran tataniaga ubi kayu, (2) menganalisis kelembagaan sebagai aktor penting dalam tataniaga ubi kayu, (3) mencari solusi untuk introduksi kelembagaan dalam tataniaga ubi kayu. Metode penelitian yang digunakan adalah proposive sampling dalam penentuan kecamatan dan desa, terpilih Kecamatan Ngadirojo dan Girimarto, petani ubi kayu diambil 40 petani secara simple random sampling dan kelembagaan tataniaga diambil secara snowball sampling berdasarkan pada saluran tataniaga ubi kayu yang ada. Metode analisis data dengan analisis frekuensi dan tabulasi sederhana, analisis deskriptif tentang peran dan fungsinya dalam tataniaga ubi kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis pasar ubi kayu yang ada di DAS Bengawan Solo Kabupaten Wonogiri yaitu (1) pasar ubi kayu basah, (2) pasar ubi kayu kering (gaplek), (3) pasar industri yang langsung masuk ke pabrik. Terdapat 4 saluran tataniaga ubi kayu, dengan kelembagaan yang dominan adalah pedagang besar karena dapat menentukan harga dan memiliki akses luas dan besar ke semua lini tataniaga ubi kayu, memiliki informasi lebih banyak dibandingkan dengan kelembagaan tataniaga ubi kayu lainnya, memiliki modal lebih besar, memiliki bargaining power untuk menentukan besarnya pasokan untuk bahan baku ubi kayu ke pabrik atau pasar industri. Peran kelembagaan tataniaga ubi kayu di DAS bengawan Solo Kabupaten Wonogiri menjadi satu mata rantai penting dalam tataniaga ubi kayu, tetapi disarankan perlunya instrumen kebijakan ditingkat daerah dan intervensi pengawasan supaya tataniaga ubi kayu efisien