Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Evaluasi Galur-Galur Penyerbukan Sendiri Generasi S2 Jagung Manis (Zea mays var. saccharata Sturt.) : Review
Jagung manis (Zea mays var. saccharata Sturt.) banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia karena memiliki rasa yang manis, nilai ekonomis yang tinggi, juga memiliki masa produksi relatif lebih cepat dari jagung biasa. Peningkatan kualitas dan kuantitas jagung manis untuk memenuhi kebutuhan pasar dapat dilakukan dengan membentuk varietas unggul hibrida yang memiliki hasil dan produksi yang tinggi, tingkat kemanisan yang tinggi, penampilan yang baik dan tahan terhadap hama dan penyakit. Informasi tentang variabilitas fenotipik diperlukan sebagai acuan dalam proses membentuk jagung hibrida. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter agronomis dan nilai variabilitas dari galur-galur penyerbukan sendiri generasi S2 jagung manis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Hasil evaluasi yang dilakukan menunjukkan terdapat keragaman pada semua parameter pengamatan pada galur-galur yang berasal dari pedigree yang sama. Penilaian variabilitas fenotipik menunjukkan nilai yang luas pada karakter tinggi tanaman, umur bunga betina, umur bunga jantan, tinggi letak tongkol, berat tongkol dengan kelobot, berat tongkol tanpa kelobot, umur panen, dan panjang tongkol. Genotipe 926-4.5, 926-4.6, 989-2.2.9, INDx360/MM-1.4, INDx360/MM-1.9, Sby-1.1, Sby-1.3, Sby-1.5, Sby-2.4, SD-2.2.5 dan SD-2.2.6 memiliki penampilan agronomis yang baik dan dapat dilanjutkan untuk dievaluasi pada generasi selanjutnya
Cupcake Penuh Gizi dan Bebas Gluten berbasis Tepung Singkong dan Tepung Quinoa
Cupcake berbasis tepung singkong dan tepung quinoa diharapkan dapat menjadi kudapan yang sehat. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui proses pembuatan Cupcake berbasis tepung singkong dan tepung quinoa, 2) Mengetahui karakteristik Cupcake berbasis tepung singkong dan tepung quinoa, 3) Mengetahui daya terima masyarakat terhadap Cupcake berbasis tepung singkong dan tepung quinoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kepustakaan, eksperimen, uji hedonik, dokumentasi. Eksperimen pembuatan produk Cupcake dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Seni Kuliner AKS Ibu Kartini, Semarang. Prosentase perbandingan antara tepung singkong dan tepung quinoa sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Hasil penelitian ini menunjukan produk Cupcake berbasis tepung singkong dan tepung quinoa memiliki karakteristik sensori rasa manis, beraroma khas margarin dan tepung singkong, tekstur yang sedikit kasar karena tepung quinoa, warna kuning dan ada sedikit bintik-bintik hitam kecil karena chia seeds. Uji hedonik diikuti 25 panelis tidak terlatih, menyatakan bahwa perbandingan tepung singkong dan tepung quinoa 75%:25% merupakan Cupcake yang disukai dan diterima dengan baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada peluang inovasi dari Cupcake yang bebas dari gluten tetapi penuh gizi dengan bahan dasar tepung singkong dan tepung quinoa
Optimasi Akumulasi Satuan Panas sebagai Kriteria Panen Terukur Pisang Barangan
Tingkat kematangan buah pada saat dipetik menentukan kualitas dan umur simpan buah pisang. Umur petik buah pisang dapat ditentukan dengan akumulasi satuan panas. Percobaan ini bertujuan memantapkan satuan panas sebagai kriteria panen terukur untuk pisang Barangan dengan memperbandingkan lima waktu antesis. Percobaan dilaksanakan di Kebun Parakan Salak, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan April hingga Juni 2018. Percobaan dilakukan dalam rancangan acak lengkap yang terdiri atas 5 perlakuan waktu tagging yaitu bulan April minggu II, minggu III, minggu IV, Mei minggu I, dan minggu II. Tagging diterapkan pada 5 tandan sebagai ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu antesis memengaruhi kelunakan kulit buah, rasio padatan terlarut total (PTT) dan asam tertitrasi total (ATT), dan kandungan Vitamin C, namun tidak memengaruhi umur simpan, susut bobot, kelunakan daging buah, edible part, kandungan PTT dan kandungan ATT. Pisang Barangan dapat dipanen umur 78 hari setelah antesis pada akumulasi satuan panas 1203 – 1239 °C hari dan umur simpan mencapai 12 – 13 hari
In-Tek Biochar Limbah Biomassa Tongkol Jagung dan Alley Cropping pada Pertanaman Jagung di Desa Bangun Sari, Alternatif Perbaikan Kualitas Lahan di Masa Pandemi
Pengabdian kepada masyarakat (PKM) Bina Desa di Desa Bangunsari didasari keprihatinan pada kesejahteraan petani akibat rendahnya produktifitas tanaman jagung. Rendahnya produksi disebabkan lahan yang digunakan untuk budidaya jagung didominasi oleh lahan kering masam, dimana tanaman jagung sangat sensitif terhadap kemasaman tanah. Selain itu, lahan yang digunakan secara terus menerus menurun kesuburannya akibat menurunnya bahan organik tanah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya produksi jagung, yang merupakan tanaman utama di Desa Bangunsari. Padahal terdapat banyak potensi bahan organik di desa Bangunsari, diantaranya limbah biomassa tongkol jagung yang dengan sedikit sentuhan teknologi dapat diubah menjadi biochar (arang aktif). Potensi lain yang belum termanfaatkan adalah pohon legume, terutama Glyricideae. Glyricideae berpotensi menghasilkan biomassa dengan cepat dengan kandungan unsur N yang tinggi, sehingga dapat dijadikan penambah unsur N bagi tanaman dan sebagai pakan ternak. Pengetahuan petani yang minim mengenai biochar dan Glyricidae dapat ditingkatkan melalui penyuluhan (sosialisai) serta demplot inovasi teknologi (In-Tek) biochar dan integrasi tanaman jagung dan Glyricidae dalam bentuk alley cropping (pertanaman lorong). Sosialisasi dan demplot pemanfaatan limbah tongkol jagung menunjukkan hasil yang positif yang ditandai dengan meningkatnya pengetahuan dan keinginan petani untuk memanfaatkan limbah tongkol tanaman jagung untuk dijadikan biochar dan pemanfaatan Glyricidae sebagai tanaman pagar untuk model pertanaman alley cropping untuk meningkatkan produktifitas pertanaman jagung di Desa Bangunsari
Penyuluhan Pemanfaatan Lahan Peremajaan Kelapa Sawit Pada Masa Tanaman Belum Menghasilkan Di Kabupaten Muaro Jambi
Kabupaten Muaro Jambi merupakan daerah yang memiliki areal kelapa sawit seluas 186.416 ha yang terdiri dari 12,6% merupakan luas tanaman belum menghasilkan, 75,3% merupakan luas areal tanaman menghasilkan dan 12,1% merupakan luas areal tanaman rusak (Dinas Perkebunan, 2019). Target peremajaan dari kerangka Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menunjukkan bahwa terdapat 5 Kabupaten di Provinsi Jambi yang melakukan kegiatan peremajaan kelapa sawit tahun 2017, salah satunya adalah Muaro Jambi. Luas areal peremajaan yang baru dilaksanakan seluas 840ha dari luas 186.416 ha (Litbag Dirjebun Jambi 2019). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat lahan kelapa sawit yang masih dalam kondisi tanaman rusak atau belum diremajakan sebesar 185.576 ha. Kondisi ini terjadi diduga karena besarnya biaya peremajaan dan hilangnya pendapatan pada masa tanaman belum menghasilkan. Peremajaan kelapa sawit membutuhkan biaya sekitar Rp 43.000.000-Rp53.000.000/ha yang dimulai dari kegiatan persiapan lahan hingga pemeliharaan tanaman belum menghasilkan. Program hibah dana peremajaan yang diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar Rp 25.000.000/ha ternyata belum mampu memenuhi biaya peremajaan. Di sisi lain saat peremajaan berjalan sampai tanaman menghasilkan buah pasir, pekebun akan kehilangan pendapatan utama. Pemanfaatan lahan peremajaan merupakan salah satu alternatif dalam memberikan tambahan pendapatan dimana lahan peremajaan merupakan lahan yang berpotensi ekonomi dan dapat menjadi alternatif pendapatan pada masa tanaman belum menghasilkan dengan pilihan komoditas yang beragam. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pekebun kelapa sawit dalam memanfaatkan potensi ekonomi lahan peremajaan tanaman kelapa sawit. Pengetahuan yang diberikan diadopsi dari beberapa hasil kajian yang telah dilakukan dimana terdapat beberapa pilihan usahatani yang memberikan kelayakan usaha yang baik. Pilihan pada tanaman pangan berupa jagung pipil memberikan pendapatan sebesar Rp 1.680.522/ha/musimtanam. Tanaman Semangka memberikan pendapatan sebesar Rp 52.453.571/ha/musimtanam. Dan untuk tanaman serai wangi memberikan tingkat pendapatan sebesar Rp 5.630.000,- dimana dilakukan pengolahan yang menghasilkan minyak atsiri
Respon Kacang Panjang terhadap Pupuk Organik Cair Babandotan (Ageratum conyzoides)
Kacang panjang merupakan tanaman hortikultura yang dimanfaatkan buahnya. Salah satu cara meningkatkan hasil kacang panjang ialah dengan pupuk organik cair (POC), serta pemilihan varietas. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi POC yang optimum pada beberapa varietas kacang panjang, serta menentukan pertumbuhan dan hasil kacang panjang terbaik dari tiga varietas kacang panjang yang diuji. Percobaan dilakukan selama 62 hari dan waktu berakhir selama 3 bulan pada kacang panjang. Percobaan dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2019 di Rawa Makmur, Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor, faktor pertama adalah berbagai konsentrasi pupuk organik cair dan faktor kedua adalah tiga varietas kacang panjang. Dari kedua faktor diperoleh 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Pengamatan dilakukan pada seluruh variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, diameter batang, kehijauan daun, muncul berbunga, bobot panen, bobot buah perbuah, bobot buah pertanaman, panjang buah, jumlah buah, bobot segar tajuk, bobot segar akar bobot kering tajuk, bobot kering akar. Data yang diperoleh dianalisis varian (ANAVA) taraf 5%. Uji lanjut dilakukan dengan Polinomial Ortogonal. Hasil penelitian menunjukkan, konsentrasi POC Babandotan 200ml, 400ml, dan 600ml tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang panjang kecuali terhadap diameter batang, bobot kering tanaman, umur tanaman berbunga dan panjang buah. Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan dan hasil antara kacang panjang varietas Kanton, Borneo dan UBKP kecuali pada umur berbunga tanaman
Keputusan Pembelian Konsumen Terhadap Buah Pisang (Musa paradisiaca L.) Di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus
Pisang merupakan salah satu jenis buah yang sangat diminati masyarakat Indonesia. Banyaknya varietas buah pisang yang beredar di ritel–ritel buah akan mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah buah pisang merupakan buah yang sering dikonsumsi, jenis pisang yang paling disukai, alternatif pengganti buah pisang, dan mengidentifikasi faktor–faktor yang mempengaruhi konsumen terhadap jumlah pembelian buah pisang dilihat dari kualitas maupun kuantitas produk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan Accidental Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Metode pengumpulan data melalui wawancara dengan bantuan kuesioner. Analisis data menggunakan metode teknik tabulasi data, persentase dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah pisang adalah buah yang disukai dan sering dikonsumsi oleh konsumen Pasar Daerah di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus dengan jumlah 90% dari total 100 responden. Jenis pisang yang paling disukai atau menjadi pilihan konsumen adalah buah pisang raja dan pisang kepok dengan jumlah 54%. Alternatif pengganti buah pisang adalah buah jeruk siam dengan jumlah 79% dari 100 responden dan selain buah jeruk siam hanya ada 21%. Berdasarkan hasil regresi linier berganda diperoleh hasil Adjusted R square = 53,3. Besaran F hitung 19,814. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pembelian buah pisang adalah daya tarik produk meliputi: jenis buah pisang, rasa, warna kulit, ukuran, penampilan dan kebersihan, harga buah pisang, usia, jumlah anggota keluarga, pendapatan dan kebiasaan keluarga
Pemanfaatan Sampah Kota sebagai Bahan Baku Kompos di Kelompok Tani Bundo Saiyo Nagari Tarantang
Kelompok Tani Bundo Saiyo Nagari Tarantang berada di kawasan wisata Lembah Harau
Kabupaten Lima Puluh Kota, sehingga perlu dilakukan optimalisasi untuk mengembangkan
potensi yang dimiliki Nagari Tarantang. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan
pengelolaan dan pemanfaatan sampah kota menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai jual.
Dari kegiatan pengabdian di Kelompok Tani Bundo Saiyo ini diharapkan anggota kelompok
mengalami peningkatan pemahaman dan keterampilannya dalam memanfaatkan sampah kota
menjadi bahan dasar dalam pembuatan kompos sehingga dapat dimanfaatkan untuk
pertanaman yang dibudidayakan serta dapat meningkatkan kebersihan lingkungan sekitar.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan selama bulan Juni sampai Agustus 2021 dengan
tahapan kegiatan terdiri atas survei pendahuluan, penyuluhan dan praktik pembuatan kompos.
Kompos yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan oleh anggota Kelompok Tani Bundo Saiyo
untuk tambahan input pada budi daya yang dilakukannya dan diharapkan ke depannya kelompo
tani Bundo Saiyo dapat secara mandiri untuk menghasilkan kompos baik untuk memenuhi
kebutuhan usahatani dan juga untuk dipasarkan ke masyarakat luas
Penyuluhan Pembuatan Mikro Organisme Lokal dari Nasi Bekas pada Anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Desa Genengadal, Kec. Toroh Kab. Grobogan
Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan cara
pembuatan MOL dari nasi bekas kepada masyarakat Desa Genengadal melalui para anggota
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Desa Genengadal. Kegiatan pengabdian ini
dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan dengan mempraktekan cara membuat MOL dari
nasi bekas dan mengobservasi secara tidak struktur pada saat sesi tanya jawab untuk
mengetahui pengetahuan peserta setelah dilakukannya penyuluhan. Hasil dari demonstrasi
pada saat penyuluhan pembuatan Mikro Organisme Lokal dari nasi bekas dinyatakan berhasil
karena telah memenuhi tiga indikator yaitu bau seperti tapai, warna menjadi putih keruh, dan
pH dikisaran 4 dan hal tersebut masuk ke kategori baik. Sedangkan dampak pengetahuan
peserta setelah dilakukannya demonstrasi pembuatan MOL tersebut, 1. Pemahaman dari
peserta penyuluhan dinyatakan paham, tertarik dan ingin segera mengimplementasikan
pengetahuan tersebut. Karena selain menjelaskan, para mahasiswa juga menggunakan
volunteer dari peserta penyuluhan dan tidak lupa memberikan contoh MOL dari nasi bekas
yang sebelumnya telah dibuat. Kesimpulannya penyuluhan pembuatan Mikro Organisme
Lokal dari nasi bekas dinyatakan berhasil memberikan pengetahuan dan pilihan bagi
masyarakat dalam mengolah kesuburan tanah. Karena sebelumnya masyarakat telah memiliki
opsi berupa penggunaan pupuk kimia yang pastinya tidak ramah lingkungan dan pembuatan
MOL yang terbuat dari limbah keluarga selain nasi bekas
Produksi serta Aplikasi Pupuk Hayati Cair (PHC) untuk Meningkatkan Produksi Padi Sawah di Kelompok Tani Inayah Kenagarian Taram
Kelompok Tani Inayah di ketuai oleh bapak Zulkifli berkeinginan untuk memulai menerapkan
pertanian berwawasan lingkungan. Oleh sebab itu kami dari Politeknik Pertanian Negeri
Payakumbuh membantu keinginan petani untuk memproduksi pupuk hayati yang merupakan
sarana produksi yang sangat dibutuhkan dalam penerapan pertanian berwawasan lingkungan.
Pupuk hayati yang diproduksi terdiri dari bakteri konsorsium Bacillus cereus strain ATCC
14579, Bacillus subtillis subsp.subtilis strain 168, Bacillus siamensis strain KCTC13613,
Azotobacter sp., Pseudomonas fluorescens. Hasil penelitian yang sudah dilakukan
menunjukkan bahwa bakteri B. cereus strain ATCC 14579, B. subtillis subsp.subtilis strain
168, B. siamensis strain KCTC13613, P. fluorescens berpotensi sebagai biopestisida karena
mensekresikan enzim ekstra seluler (kitinase, celulase, protease). Keempat bakteri ini dapat
dijadikan sebagai biopestisida pengendali penyakit blas pada padi karena dapat menghambat
perkembangan jamur Pyricularaia oryzae dengan persentase daya hambat ≥ 75 %. Keempat
bakteri ini dapat mengikat N dari udara dan juga sebagai bakteri pelarut fosfat sehingga dapat
mengurangi penggunaan pupuk NPK kimia. Ke empat bakteri diformulasi dalam formula cair
yang terdiri dari air kelapa di tambah dengan molas. Hasil formulasi diaplikasikan pada padi
sawah dengan konsentrasi 20%. Aplikasi dilakukan pada saat tanam, diulangi pada saat
penyiangan. Hasil aplikasi menunjukan bahwa pupuk hayati cair (PHC) dapat meningkatkan
produksi padi sawah sebesar 60% jika dibanding tampa pemberian PHC