Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Reaksi Ketahanan Beberapa Genotipe Calon Varietas Jagung Hibrida terhadap Tiga Penyakit Utama Jagung
Tingkat ketahanan beberapa varietas jagung unggul nasional terhadap penyakit utama jagung masih bervariasi dan belum stabil sehingga kegiatan evaluasi ketahanan calon varietas jagung hibrida terhadap penyakit utama jagung dipandang perlu dilakukan sebagai upaya langkah awal dalam pengelolaan penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui reaksi ketahanan ketahanan genotipe calon varietas jagung hibrida terhadap penyakit utama jagung. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Balai Penelitian Tanaman Serealia di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan tanaman sumber inokulum patogen uji yang ditanam di sekeliling blok percobaan. Empat genotipe jagung yang diuji, yaitu CJH-01, CJH-02, CJH-03, dan CJH-04. Sedangkan varietas pembanding yang digunakan ialah varietas P36, PAC339, Anoman, Pulut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe calon jagung hibrida CJH-01 dan CJH-03 agak tahan terhadap penyakit hawar daun jagung dan karat daun, namun rentan dan sangat rentan terhadap penyakit bulai. Genotipe calon jagung hibrida CJH-02 memperlihatkan ketahanan secara konsisten baik terhadap bulai, hawar daun jagung, maupun karat daun
[Implementasi Urban Farming Berdasarkan Perspektif Political Ecology] : Review
Konsep urban farming telah digagas oleh berbagai aktor meliputi: pemerintah, sektor swasta, maupun kelompok masyarakat. Munculnya, peran urban farming terhadap ketahanan pangan rumah tangga berdasarkan perspektif political ecologydilihat dari implementasi urban farming di Kota Bandung yang terutama terkait dengan analisis interaksi pasar, layanan, dan institusi serta rantai pemasaran produk. Pada penelitian ini berguna untuk mengetahui analisis dalam melihat pelaksanaan urban farming di Kota Bandung yang digunakan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini membahas tentang perbedaan peran urban farming antara program pemerintah kota dan organisasi independen, dilihat dari sumber daya juga melalui kegagalan kebijakan dan kegagalan pasar. Kegagalan kebijakan disebabkan kebijakan pertanian yang digagas oleh Pemerintah Kota kurang berhasil dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung. Oleh karena itu dibutuhkan inovasi melalui urban farming yang dibentuk secara top down oleh Pemerintah Kota melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP). Sedangkan, kegagalan pasar terjadi pada urban farming di Kota Bandung dikarenakan ketidaknyamanan masyarakat terhadap produk yang beredar di pasar. Hal ini merupakan salah satu motif dominan munculnya urban farmingbottom up oleh kelompok organisasi independen. Sementara, sumber pemodalan urban farming yang dibentuk DKPP Kota Bandung adalah berupa sarana pendukung sarana tanam, instalasi hidroponik, dan pembuatan greenhouse, namun pemodalan urban farming yang dibentuk organisasi independen bersumber dari kontribusi anggota masyarakat koperasi dan dana bank. Serta, aspek penting yang dibutuhkan oleh kelompok organisasi independen yaitu mengefisienkan biaya operasional dengan mengetahui cara menggunakan kembali barang bekas menjadi barang-barang yang produktif
Kombinasi Bitrichompos dan Biochar untuk Meningkatkan Kualitas Tanah dan Produktivitas Tanaman Sawi (Brassica juncea) pada Tanah Masam
Penelitian kombinasi Bitricompos dan Biochar untuk meningkatkan kualitas tanah masam dan produktivitas tanaman sawi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanah masam dan produktivitas tanaman sawi Percobaan di susun dalam Rancangan Acak kelompok (RAK) dengan 4perlakuan dan 3 ulangan sehinga memperoleh 12 yunit percobaan. hasil rata-rata jumlah daun BC1 = 6,16 dengan dosis Bitrichompos 37,03 gram, biochar 12,96 gram dan tanah masam 3kg, jumlah daun BC2 = 6,34 dengan dosis Bitrichompos 46,29 gram, biochar 18,51 gram dan tanah masam 3 kg, jumlah daun BC3 = 6,38 dengan dosis perlakuan Bitrichompos 55,55 gram, biochar 24,07 gram dan tanah masam 3 kg, sedangkan jumlah daun BC0 = 3,80 Tampa perlakuan. Hasil tertinggi terdapat pada perlakuan BC3 dengan jumlah daun 6,38 dan yang terendah adalah BC0 hanya mencapai jumlah 3,80. Berat tanaman yang dimana berat rata-rata BC0 = 6,43 gram. BC1 = 14,87 gram, BC2 = 20,67 gram dan BC3 = 26,40 gram. Dan panjang akar perlakuan BC1 = 11,13 cm, BC2 = 11,60 cm BC3 = 11,67cm, BC0 = 5,20 cm. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan BC0 tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, berat tanaman dan panjang akar. Sedangkan BC3 berpengaruh nyata terdapat tingginya jumlah daun, berat tanaman dan panjang akar. Hasil terbaik dalam penelitian ini adalah BC3 dengan dosis kombinasi Bitrichompos 55,55 gram, biochar 24,07 gram per 3 kg tanah masam
Studi Pertumbuhan dan Hasil Minyak Atsiri Tiga Varietas Nilam (Pogostemon cablin Benth.) pada Berbagai Level Kadar Air Media
Tanaman Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minnyak atsiri yang banyak dibudidayakan di daerah tropis. Minyak nilam merupakan bahan baku yang banyak dibutuhkan pada berbagai industri parfum, kosmetik, dan obat-obatan. Kandungan minyak nilam yang masih tergolong rendah dapat ditingkatkan melalui pengelolaanair yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pertumbuha dan hasil minyak nilam dari beberapa varietas pada level pemberian air yang berbeda. Percobaan pot dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan. Faktor 1 merupakan varietas tanaman nilam yang terdiri Sidikalang, Patchoulina 1 dan Tetraploid. Faktor 2 merupakan level pemberian air berdasarkan kadar air media yang terdiri dari 25, 50, 75 dan 100% KL. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi yang nyata antara varietas dan kadar air media terhadap pertumbuhan tanaman nilam. Akan tetapi, secara terpisah varietas dan kadar air media memberikan pengaruh yang nyata. Pemberian air 50 dan 25% KL dapat menurunkan pertumbuhan vegetatif tanaman serta menurunkanbobot segar dan bobot kering terna. Penurunann level pemberian air dapat meningkatan kandunan minyak atsiri tanaman nilam. Hasil minyak Varietas Sidikalang tidak berbeda nyata pada berbagai level kadar air media. Sedangakan pada Varietas Patchoulina 1 hasil minyak tertinggi diperoleh pada perlakuan 100% KL. Pada Nilam Tetraploid, hasil minyak yang sedikit lebih tinggi diperoleh pada perlakuan kadar air media 75% KL meskipun belum berbeda nyata
Penyuluhan kepada Kelompok Wanita Tani dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Lokal di Nagari Tiku Selatan Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam
Pantai Pasir Tiku merupakan objek wisata yang terletak di Kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam. Saat ini kawasan wisata ini sedang melakukan pembenahan-pembenahan. Salah satunya masalah adalah belum tersedianya ciri khas tertentu berupa cinderamata, pernik-pernik atau ikon daerah tersebut sehingga menarik bagi para pengunjung. Padahal banyak yang dapat dijadikan sebagai cinderamata terutama dari potensi lokal seperti limbah kelapa dan kulit loka. Namun samapai saat ini kedua limbah yang banyak tersedia ini belum dapat dioptimalkan untuk bernilai ekonomis. Disamping itu adanya kelompok-kelompok masyarakat terutama wanita tani belum diberdayakan untuk memanfaatkan potensi lokal tersebut, padahal mereka memiliki waktu yang banyak dan memiliki potensi untuk diberdayakan. Untuk itu pengabdian masyarakat ini hadir dalam rangka memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal. Melalui penyuluhan kepada kelompok masyarakat wanita tani di Kecamatan Tanjung Mutiara diharapkan dapat memberikan pemahaman dan keterampilan kepada masyarakat. Penyuluhan dilaksanakan pada Tanggal 9 Oktober 2021 dengan materi penyuluhan pentingnya peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata serta pelatihan pemanfaatan potensi lokal dalam mendukung pengembangan pariwisata. Hasil penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat kelompok wanita tani untuk berkontribusi dalam pengembangan pariwisata di Kecamatan Tanjung Mutiara
Peran Perguruan Tinggi Pertanian dalam Penguatan Ketahanan Masyarakat Menghadapi Era New Normal
Peran Perguruan Tinggi Pertanian dalam Penguatan Ketahanan Masyarakat Menghadapi Era New Norma
Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada Produksi Bumbu Bubuk Instan “Meurasa” Masakan Khas Aceh
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini dituntut oleh pemerintah dan pelanggan
untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menerapkan sistem yang efektif untuk memenuhi
persyaratan GHP (Good Handling Practices) dan HACCP (Hazard Analisis Critical Control
Point) yang merupakan dasar untuk keamanan pangan. Industri makanan bertanggung jawab
untuk menerapkan HACCP. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menerapkan HACCP
pada proses produksi bumbu bubuk instan “Meurasa” masakan khas Aceh. Adapun kegiatan
yang dilakukan meliputi observasi secara langsung dan wawancara kepada pemilik usaha dan
pekerjanya, serta melakukan identifikasi dan analisis bahaya meliputi potensi bahaya fisik,
kimia dan biologi pada bahan baku, kemasan dan proses produksi. Kegiatan ini menghasilkan
temuan bahwa terdapat 3 jenis potensi bahaya yang ditinjau dari segi fisik, kimia dan biologi
terhadap aspek produksi pada pembuatan bumbu bubuk instan yaitu ada 5 tahap proses
produksi yang dianggap sebagai Critical Control Point (CCP) di antaranya proses penerimaan
bahan baku, pencucian, pemasakan, pengeringan (pengovenan), dan pengemasan
Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Kelinci Pedaging di Nanang’s Rabbit Farm Desa Dangkel Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung
Kelinci merupakan satu usaha peternakan yang bisa menjadi peluang usaha cukup potensial saat ini, karena sudah banyak orang mulai mengkonsumsi daging kelinci, sehingga dapat memperoleh keuntungan yang besar, produktifitas yang cukup tinggi dan juga jangka waktu budidaya yang tidak lama. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan usaha ternak kelinci dari aspek finansial, dengan mengetahui dari Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Internal Rate of Return (IRR). Metode dasar dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Penentuan sampel responden di Nanang’s Rabbit Farm, Desa Dangkel, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode pengolahan dan analisis data menggunakan kreteria investasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa aspek finansial di lihat dari hasil yang diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 22.019.000, Net B/C sebesar 1,13, dan IRR sebesar 12,73% dengan acuan discount rate sebesar 9,12% yang di ambil dari suku bunga pinjaman Bank Persero. Disimpulkan bahwa Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Kelinci Pedaging Di Nanang’s Rabbit Farm Desa Dangkel Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung layak untuk di kembangkan
Pengaruh Perendaman Zat Pengatur Tumbuh Alami pada Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit TSS Bawang Merah
Penggunaan benih TSS (True Shallots Seeds) memiliki kendala yaitu rendahnya daya kecambah benih serta rendahnya pertumbuhan awal saat persemaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi penggunaan bahan ZPT alami serta pengaruh lama perendaman sebagai sumber ZPT alami guna meningkatkan daya perkecambahan dan pertumbuhan bibit bawang merah asal TSS. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama bahan perendaman dengan tiga taraf yaitu ekstrak tauge, urin sapi, dan air kelapa. Faktor kedua adalah lama perendaman dengan tiga taraf yaitu 2 jam, 4 jam dan 6 jam dengan variabel peubah yaitu kecepatan tumbuh benih, daya kecambah, vigor benih, panjang akar, jumlah akar, panjang daun jumlah daun, berat segar dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perendaman dalam bahan zat pengatur tumbuh alami dan lama perendaman terhadap komponen perkecambahan dan pertumbuhan bibit bawang merah (Allium cepa L. Aggregatum ) asal TSS. Semakin lama perendaman yang dilakukan dapat menurunkan vigor benih dan lama perendaman 2 jam lebih baik dibandingkan dengan lama perendaman 4 jam dan 6 jam. Perendaman menggunakan urin sapi meningkatkan panjang akar tanaman lebih baik dibandingkan ekstrak tauge dan urin sapi
[Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh Menghasilkan untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Pucuk Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze)] : Review
Pemangkasan pada tanaman teh menghasilkan merupakan upaya untuk merangsang pertumbuhan tunas baru dan menjaga agar bidang petik tetap rendah dan luas sehingga pemetikan dapat berlangsung secara efisien. Pada keadaan normal, pemangkasan dilakukan jika hasil pucuk mulai menurun, pertumbuhan pucuk burung meningkat dan tanaman sudah terlalu tinggi, sehingga sulit dilakukan pemetikan. Pemangkasan yang lazim dilakukan pada teh menghasilkan adalah jenis pangkasan ajir dan pangkasan bersih. Tinggi rendahnya pangkasan pada tanaman teh akan menentukan berat ringannya pangkasan. Ketinggian pangkasan dapat diatur sedemikian rupa pada kisaran 50-60 cm cm untuk menjaga agar tanaman mudah merecovery luka setelah pemangkasan. Penentuan kadar pati akar secara kuantitatif (laboratorium) dan kualitatif (tes iodin) dapat dilakukan untuk memastikan tanaman teh yang akan dipangkas dalam kondisi sehat. Hasil penelitian menunjukkan karbohidrat akar merupakan pasokan karbon penting untuk pertumbuhan kembali tanaman teh setelah dipangkas. Analisis pati akar baik secara kuantitatif dan kualitatif dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan pemangkasan. Kadar pati akar sebesar 12% merupakan nilai yang optimal untuk memulai dilkasanakan pemangkasan pada teh. Proses pemulihan tanaman teh setelah dipangkas sangat diperngaruhi faktor genetik, proses metabolisme selama proses pemulihan setelah pemangkasan, nutrisi /hara yang cukup dalam hal ini cadangan pati akar yang memadai sehingga pada saat tunas tumbuh tanaman tidak mengalami cekaman sekalipun dipangkas bersih dimana tidak disisakan daun untuk bisa berfotosintesis