Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Respons Pertumbuhan Tanaman Indigofera (Indigofera tinctoria L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik dalam Sistem Agroforestry
Tanaman indigofera berpotensi digunakan sebagai bahan baku pewarna kain batik alami. Budidaya indigofera untuk menghasilkan pigmen indigo dipengaruhi oleh banyak sedikitnya intensitas cahaya. Pigmen indigo tertinggi sering didapatkan pada tanaman indigofera yang dibudidayakan pada daerah dengan intensitas cahaya yang rendah. Disisi lain, banyak lahan tegakan yang pengelolaannya kurang maksimal sehingga lahan tegakan tersebut berpotensi dikelola sebagai sistem agroforestry indigofera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan tanaman Indigofera dalam sistem agroforestry dengan pemberian pupuk organik kotoran hewan sebagai tambahan nutrisi. Luaran penelitian yang diharapkan adalah terbentuknya sistem agroforestry tanaman indigofera untuk meningkatkan produksi indigo sebagai bahan baku pewarna kain batin alami. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Tersarang dengan dua faktor. Faktor utama adalah jenis tegakan yang terdiri dari tiga level, yaitu tegakan sengon, tegakan campuran, dan tegakan durian. Faktor tersarang adalah jenis pupuk organik kotoran (POK) hewan yang terdiri dari tiga level, yaitu kontrol, POK sapi, POK kambing, POK ayam. Variabel yang diamati dalam penelitian yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan biomasa tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tegakan dan jenis pupuk organik kotoran hewan (tegakan) memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan biomasa tanaman. Respons pertumbuhan terbaik ditunjukkan pada tanaman Indigofera yang dibudidayakan di bawah tegakan sengon dengan pemberian pupuk organik kotoran ayam dapat mencapai tinggi tanaman 126 cm, jumlah daun 103,2 helai, luas daun 2,4 cm2, dan biomasa tanaman 16,147 gra
Sumber Daya Air di Pulau-Pulau Kecil : Pola Pemanfaatan Air di Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa
Taman Nasional Karimunjawa merupakan kepulauan yang terdapat di Pantai Utara Laut Jawa. Kepulauan ini dihuni oleh 9789 jiwa, dengan jumlah penduduk tersebut kebutuhan air menjadi tantangan dalam pemenuhannya. Di Kepulauan Karimunjawa terdapat satu Pulau yaitu Pulau Karimunjawa yang memiliki hutan hujan tropis dataran rendah pada ketinggian 506 dpl. Di dalam hutan ini terdapat sumber air yang digunakan oleh penduduk yang tinggal di Pulau Karimunjawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan air di Pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan adalah survei sumber air dan desk study. Survei dilakukan untuk mendapatkan data mengenai lokasi sumber air, debit air, pemanfaatan oleh masyarakat sekitar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil survei dapat diketahui bahwa terdapat 13 sumber mata air yang tersebar di Pulau Karimunjawa, enam diantaranya berada di dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa yaitu di Legon Lele, Cikmas, Makam Nyamplungan, Legon Goprak dan Alang-alang. Berdasarkan sistem zonasi Taman Nasional Karimunjawa, keenam sumber air tersebut berada di tiga zona yaitu Zona Pemanfaatan Darat, Zona Rimba, dan Zona Religi. Sumber air di pulau ini tidak memiliki cekungan air tanah, sehingga debit air berfluktuasi dengan bergantung pada curah hujan. Sumber air ini selain digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga dimanfaatkan untuk hotel, penginapan, lokasi wisata, warung makan, tempat ibadah, dan sekolah
Pengaruh Herbisida Parakuat Diklorida 135 G/L Terhadap Penekanan Gulma Pada Budidaya Kelapa Sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Kehadiran gulma pada pertanaman kelapa sawit merupakan salah satu kendala yang dapat mengurangi hasil panen, hal tersebut akibat adanya persaingan dalam pengambilan unsure hara, cahaya, ruang tumbuh, dan air. Selain gulma dapat berkompetisi secara fisik, gulma juga mampu berkompetisi secara kimia dengan dikeluarkannya zat alelopati. Sehubungan adanya kerugian langsung maupun tidak langsung akibat kehadiran gulma pada pertanaman budidaya, maka pengendalian gulma mutlak diperlukan. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu secara mekanis, kultur teknis, biologis, kimia dengan penggunaan herbisida, atau secara terpadu. Diantara berbagai macam cara pengendalian gulma yang paling banyak dilakukan dengan penggunaan herbisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan herbisida Parakuat diklorida 135 g/l untuk pengendalian gulma umum pada tanaman kelapa sawit TBM. Penelitian dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit di Cikelet, Garut Selatan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Percobaan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari Parakuat diklorida 135 g/l dengan dosis 405 g/ha; 540 g/ha; 675 g/ha; 810 g/ha; 945 g/ha; penyiangan secara manual dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida parakuat diklorida 135 g/l dosis 405-945 g/ha terbukti berpengaruh sangat baik dan efektif dalam mengendalikan gulma golongan daun lebar seperti Ageratum conyzoides, Galinsoga parviflora, Richardia brasiliensis, Borreria alata, dan gulma lainnya. Herbisida parakuat diklorida 135 g/l dosis 405-945 g/ha pada semua dosis yang diujikan tidak memperlihatkan gejala keracunan pada tanaman kelapa sawit belum menghasilkan
Potensi Media Tanam Ciplukan (Physalis angulata)
Ciplukan (Physalis angulata) adalah salah satu jenis tanaman herba annual keluarga Solanaceae. Khasiat ciplukan sebagai tanaman obat belum banyak diketahui masyarakat. Pengembangan potensi ciplukan dapat dilakukan dengan mengeksplor media tanam sesuai syarat tumbuh tanah yang dibutuhkan ciplukan. Artikel ini bertujuan untuk mengulas tentang potensi media tanam ciplukan untuk budidaya dan perbanyakan ciplukan. Ciplukan cocok hidup di tanah yang subur, gembur maupun tanah agak padat, tidak tergenang air, dan memiliki pH mendekati netral. Ciplukan mampu hidup pada dataran rendah, menengah dan tinggi hingga ketinggian sekitar 1500 m. Ciplukan memerlukan unsur fosfor, kalium dan terutama nitrogen untuk mendukung pertumbuhannya. Media tanam dengan tambahan bahan organik lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi ciplukan
Penambahan Campuran Asam Organik dengan Inulin dan Enzim Papain pada Ransum terhadap Pertumbuhan Tulang Kalkun Jantan Periode Pertumbuhan
Pertumbuhan tulang menjadi aspek yang sangat penting karena berfungsi untuk menopang tubuh dengan baik, terutama untuk kalkun yang mempunyai bobot badan yang besar. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengkaji pengaruh penambahan campuran asam organik dengan inulin dan enzim papain pada ransum terhadap pertumbuhan tulang kalkun jantan periode pertumbuhan. Materi penelitian yaitu kalkun jantan umur 12 minggu sebanyak 80 ekor dengan bobot rata-rata 1.165±62,24 g, campuran asam organik (asam laktat, asam propionat dan asam formiat) sebagai acidifier, inulin bersumber dari ekstrak akar sawi pahit, serta enzim papain diperoleh secara komersial. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan (masing-masing diisi 4 ekor). Perlakuan yang diterapkan meliputi T0 (ransum kontrol/RK), T1 (RK + acidifier 1%), T2 (RK + acidifier 1% + inulin 1,2%), T3 (RK + acidifier 1%+ enzim papain 0,15%) dan T4 (RK + acidifier 1% + inulin 1,2% + enzim papain 0,15%). Parameter yang diukur meliputi konsumsi kalsium, panjang dan bobot tulang femur dan tibia. Data dianalisis menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan uji beda nyata Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan campuran asam organik engan inulin dan enzim papain berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap konsumsi Ca, panjang tibia dan berat tibia, tetapi tidak berpengaruh (p>0,05) terhadap panjang dan berat femur. Kesimpulan adalah penambahan campuran asam organik 1% dengan inulin 1,2% dan enzim papain 0,15% (T4) pada ransum kalkun jantan periode pertumbuhan dapat meningkatkan konsumsi Ca yang diikuti pertumbuhan panjang dan berat tibia, walaupun panjang dan berat femur sama
[Keanekaragaman Herpetofauna Pada Kawasan Tahura Mangkunagoro I Karanganyar] : Review
Herpetofauna merupakan satwa melata yang bergerak dengan mengikutsertakan perut mereka. Reptilia dan Amfibi merupakan dua kelas dari herpetofauna. Satwa ini memiliki berbagai jenis habitat dan keberadaanya dapat menjadi bioindikator perubahan lingkungan. Kegiatan penangkapan berlebihan, rusaknya habitat, serangan penyakit, serta munculnya spesies invasif menjadi ancaman keberadaan herpetofauna di alam. Herpetofauna memiliki banyak manfaat sehingga perlu dilakukan inventarisasi terhadap satwa tersebut. Tujuan penelitian ini ialah inventarisasi dan identifikasi keanekaragaman herpetofauna di kawasan Tahura Mangkunagoro I pada bulan November hingga Desember 2021 dengan menggunakan metode VES dan Time Search. Hasil penelitian menunjukkan keanekaragaman jenis (H’) tergolong sedang (H’= 1,342 -1,912), indeks kekayaan jenis (R) tergolong rendah (1,251 -2,299), indeks kemerataan jenis (E) tergolong stabil dan merata (0,797 -0,968), sedangkan indeks dominansi jenis (C) tergolong rendah (0,211 -0,273). Pengetahuan masyarakat tentang herpetofauna di sekitar Tahura terbilang masih kurang, namun kesadaran masyarakat tentang kelestarian herpetofauna tergolong tinggi
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L.) Varietas Lumbu Hijau Terhadap Jenis Pupuk Kandang dan Pupuk Nitrogen
Produksi bawang putih di Indonesia masih belum mampu memenuhi konsumsi masyarakat dan 99 persen dipenuhi dari impor, yang dapat dipenuhi melalui perluasan lahan dan peningkatkan hasil melalui pemanfaatan sumberdaya lokal yaitu penggunaan jenis pupuk kandang dan jenis pupuk nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk untuk 1) mendapatkan jenis pupuk kandang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih, 2) mendapatkan jenis pupuk nitrogen yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih, 3) mendapatkan kombinasi jenis pupuk kandang dan pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang putih. Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah Desa Karangsari, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap pada bulan Januari sampai Mei 2020. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap faktorial 3 x 4. Faktor jenis pupuk kandang yang terdiri dari pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang kambing. Faktor jenis pupuk nitrogen yang terdiri dari tanpa nitrogen, pupuk urea, pupuk KNO3, dan kombinasi pupuk urea dan ZA. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, kehijauan daun, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tanaman kering, bobot umbi segar, bobot umbi kering, jumlah siung per umbi, hasil umbi segar, dan hasil umbi kering. Data pengamatan dianalisis dengan uji F dan dilanjut dengan Duncans Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa pupuk kandang kambing mampu memberikan nilai kehijauan daun tertinggi sebesar 42,08 unit. Jenis pupuk kandang ayam menghasilkan umbi segar dan hasil umbi kering 0,69 t/ha dan 0,283 t/ha atau 115 % dan 108, 9 %. Pupuk kandang sapi memberikan hasil umbi segar dan hasil umbi kering sebesar 0,65 t/ha dan 0,258 t/ha. Pupuk kandang kambing menghasilkan umbi segar dan hasil umbi kering 0,6 t/ha dan 0,28 t/ha setara dengan 107,69 % dan 105,5%. Pupuk kombinasi urea dan ZA meningkatkan tinggi tanaman tertinggi sebesar 37,36 cm/tan., bobot tanaman segar sebesar 4,24 g/tan., bobot umbi segar sebesar 1,86 g/tan., dan hasil umbi segar sebesar 0,79 t/ha dibandingkan tanpa nitrogen 0,58 t/ha dan 0,25 t/ha. Pupuk urea memberikan hasil umbi segar dan hasil umbi kering sebesar 0,62 t/ha dan 0,27 t/ha setara 106,89 % dan 108 %. Pupuk KNO3 menghasilkan umbi segar dan umbi kering sebesar 0,6 t/h dan 0,23 t/ha (103 % dan 108 %). Pupuk kombinasi urea dan ZA menghasilkan umbi segar dan umbi kering 0,79 t/h dan 0,35 t/ha (136 % dan 140 %). Pupuk kandang kambing dan pupuk KNO3 dengan dosis 30 t/ha dan 200 kg/ha mampu meningkatkan bobot tanaman segar tertinggi sebesar 5,13 g/tan. Pupuk kandang kambing dan pupuk KNO3 menghasilkan umbi segar dan umbi kering 0,73 t/ha dan 0,44 t/ha 137,73 % dan 209,5 %
[Kajian Sosial Ekonomi Petani Kelapa Sawit Bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari] : Review
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji kondisi sosial ekonomi petani kelapa sawit bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. 2) Menganalisis indikator sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dan kuantitatif menggunakan range skor, analisis pendapatan serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata luas lahan usahatani kelapa sawit 3,12 hektar dengan umur tanaman 10 tahun dan produksi 23.788 Kg/Ha/Tahun. Kajian sosial ekonomi secara umum menghasilkan klasifikasi baik dengan pendapatan usahatani sebesar Rp 72.015.450/Tahun/Petani dan luar usahatani sebesar Rp 11.461.849/Tahun/Petani. Indikator sosial ekonomi secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan petani yaitu luas lahan, biaya pupuk, biaya pestisida dan biaya tenaga kerja. Indikator yang tidak berpengaruh nyata adalah umur petani, tingkat pendidikan dan pengalaman berusahatani
Tingkat Kesejahteraan Petani Tebu (Saccharum officinarum L.) di Desa Tempaling Kecamatan PamotanKabupaten Rembang
Tebu merupakan tanaman perdagangan sehingga perlu adanya pemindahan dari produsen ke konsumen. Petani tebu menjual hasil tebunya ke pabrik gula untuk diolah menjadi gula putih kemudian dapat dikonsumsi oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kemitraan petani tebu dengan pabrik gula, mengetahui pendapatan, dan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani tebu. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif analisis. Metode sampel responden yang digunakan penelitian ini metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif, analisis pendapatan dan GSR (God Service Ratio), indikator BKKBN, dan PPP (Pangsa Pengeluaran Pangan) untuk menentukan tingkat kesejahteraan petani. Hasil penelitian menunjukkan petani tebu tidak bermitra dengan pabrik gula dalam menjual hasil panennya. Pendapatan petani tebu sebesar Rp 26.569.000/ Ha/musim panen, dengan besar biaya produksi Rp 9.136.000/Ha/musim panen, pendapatan lebih besar dari total biaya produksi yang artinya menguntungkan bagi petani. Tingkat kesejahteraan petani tebu dalam aspek sosial tergolong KS I yang artinya sejahtera tahap 1, berdasarkan aspek sosial kurang sejahtera dimana hasil GSR (Good Service Ratio) > 1 yang berarti ekonomi rumah tangga kurang sejahtera, sedangkan dari pangsa pengeluaran pangan <60%, artinya tahan pangan
Pengaruh Nisbah Pupuk ZA : KNO3 dan Macam Tiang Panjat terhadap Kadar NPK Jaringan Tanaman Lada Belum Menghasilkan
Amonium dan nitrat merupakan bentuk hara nitrogen dalam larutan tanah yang banyak diserap oleh tanaman. Efisiensi serapan N antara kedua bentuk pupuk N tersebut dipengaruhi oleh macam tanaman dan faktor lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio pupuk ZA : KNO3 terhadap kadar NPK dan efisiensi penggunaan N oleh tanaman lada yang belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di desa Kemuja kecamatan Mendobarat kabupaten Bangka pada bulan Pebruari - September 2018. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap sebanyak tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis tiang panjat meliputi tiang panjat mati, gamal, dan kapuk, sedangkan faktor kedua adalah rasio pupuk ZA : KNO3 yaitu 100 % KNO3, 100 % ZA, CaNH4NO3 (50 % NO3- : 50 % NH4+) , 75 % KNO3: 25 % ZA, 25 % KNO3: 75 % ZA. Varietas yang digunakan adalah Nyelungkup. Hasil penelitian diperoleh bahwa kadar NPK jaringan tanaman, efisiensi penggunaan pupuk N dan efisiensi ekonomi tidak dipengaruhi oleh interaksi antara macam tiang panjat dan rasio pupuk ZA : KNO3. Macam tiang panjat tidak berpengaruh terhadap kadar NPK jaringan tanaman. Tanaman lada menggunakan tiang panjat mati lebih efisien dan ekonomis dalam penggunaan N dibandingkan tanaman menggunakan tiang panjat hidup. Macam rasio bentuk pupuk ZA : KNO3 tidak berpengaruh terhadap kadar N, P dan K jaringan tanaman. Efisiensi penggunaan N tidak beda nyata antar macam rasio pupuk N namun pemberian ZA pada rasio yang lebih besar dari KNO3 lebih ekonomis.