Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pertanian dengan Sistem Tumpangsari Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt.) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh waktu tanam terhadap pertumbuhan dan hasiltanamanjagung manisdankacang tanah pada Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pertanian Dengan Sistem Tumpangsari Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt.) dan Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.),serta menentukan Nilai NKL (Nisbah Kesetaraan Lahan) pada pola tanam tumpangsaridibandingkan dengan pola tanam monokultur.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Desember 2020, di kelurahan Sukajadi Anggut Bawah Kota Bengkulu, pada ketinggian 12 m dpl. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu sistem tumpangsari jagung manis dengan kacang tanah, yang ditanam pada 14, 28 hari sebelum tanam jagung manis. Data variabel dikumpulkan dan dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas tertinggi diperoleh pada perlakuan tanam serentak (T3) dengan nilai NKL sebesar 1,99, tetapi berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Sistem tumpangsari jagung manis dengan kacang tanah dengan berbagai waktu tanam lebih efisien dalam penggunaan lahan bila dibandingkan dengan monokultur dengan nilai NKL>1 pada semua perlakuan
Perbaikan Teknologi Budidaya Tanaman Jagung Bersari Bebas sebagai Upaya Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani
Rendahnya produksi akibat penguasaan terhadap teknologi budidaya jagung yang kurang memadai, pendapatan per kapita relatif rendah, pendidikan juga rendah dan sebagian besar berpendidikan Sekolah dasar ; Kesenjangan antara peneliti dengan penyuluh, sehingga menyebabkan informasi yang diterima petani terasa masih kurang; Pendapatan kelompoktani masih rendah akibat kualitas sumberdaya manusianya seperti pengetahuan, ketrampilan dan penerapan teknologi budidaya jagung rendah menyebabkan tingkat produksi pertanian relatif rendah; Peranan kelembagaan kelompoktani tidak efektif untuk aktifitas usaha tani dan rendahnya motivasi petani untuk berusahatani. Tujuan dari kegiatan ini yaitu: Memberikan bekal pengetahuan tentang dasar teori perbaikan teknologi budidaya dan pelaksanaanya di lapangan dalam bentuk Demontrasi Plot. Metode yang digunakan dalam penerapan program pengabdian kemiteraan ini adalah metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) atau Androgogi dengan menekankan pada partisipasi aktif dari peserta diskusi dan demontrasi lapang (Demplot). Hasil yang dicapai adalah: Pengetahuan petani tentang teknologi budidaya tanaman jagung bersari bebas telah bertambah dan Petani dapat mengenal serta membedakan produksi hasil tanaman jagung varietas Lamuru 7,475 ton/ha dengan Sukmaraga 7,247 ton/ha pada lingkungan tumbuh (Urea 150 kg/ha, Posnka 250 kg/ha dan pupuk organik 2000 kg/ha dengan jarak tanam (50x20)x100
Penanganan Pascapanen Penyimpanan Bawang Merah (Allium ascalonicum L) : Review
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi dan sangat penting untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan lainnya. Kebutuhan yang tidak terputus membutuhkan ketersedian stock yang menjamin dengan kualitas yang baik. Cara penyimpanan yang tepat dan baik sangat mempengaruhi ketersediaan stock. Masalah utama bawang merah yang sering menyebabkan fluktuasi harga yang tinggi di pasaran adalah merupakan tanaman musiman sehingga produksinya tidak merata losses yang mencapai 20-40% akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat. Selain itu bawang merah mudah rusak sehingga waktu penyimpanan pendek. Penurunan kualitas bawang merah terutama akibat tumbuhnya tunas dan terjadinya kebusukan. Tingkat kehilangan terutama terjadi pada proses pengeringan dan penyimpanan. Penyimpanan bawang merah bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang dapat memepngaruhi mutu bawang merah dan mengendalikan persediaan bawang merah secara kontinyu, sehingga akan mencegah fluktuasi harg
Peternakan Kura-Kura dalam Ekonomi Covid dengan Hahslm 472319
Tujuan studi ini adalah untuk menganalisiskura-kura diternakkan dengan pendekatan Islam di situsi Pandemic Covid serta krisis ekonomi. Kura-kura merupakan hewan reptil yang sangat mudah dikenali karena mempunyai bentuk tubuh khas. Ciri khas yang dimiliki oleh kura-kura adalah adanya cangkang yang disebut karapas pada bagian dorsal dan plastron pada bagian vetral. Obyek penelitian ini adalah kura-kura dan Quran. Metodologi yang digunakan adalah refleksivitas dan similaritas. Hasil yang diperoleh adalah bahwa karapas kura-kura yang memiliki skats sebanyak 3 dan 1,9 merefleksikan nilai Islam dalam bilangan Hahslm 472319. Sedangkan marginal memiliki skats sebayak 24 dan 1 nuchal, sehingga berdigit 7 dimana 2+4+1=7. Rekomendasi adalah bahwa ulama Islam harus menggunakan teori Hahslm untuk mengintegrasikan studi konvensional. Covid berdampak besar terhadap ekonomi global dan sektor energi juga sangat dipengaruhi oleh pandemi. Penelitian ini mempelajari dampak dari Covid pada kinerja perusahaan di industri energi dan menemukan bahwa Covid telah memiliki efek negatif yang signifikan pada kinerja perusahaan pertanian dan peternakan
Strategi Pengelolaan Obyek dan Daya Tarik Wisata Trekking Mangrove Taman Nasional Karimunjawa
Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi yang terletak di utara Laut Jawa dengan luas kawasan mencapai 111.625 Ha. Kawasan ini memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, pantai, mangrove, terumbu karang, dan lamun. Mangrove yang berada di kawasan ini memiliki luas sekitar 222,2 Hektar. Berada dalam dua zona yaitu zona pemanfaatan dan zona rimba. Mangrove yang berada di zona pemanfaatan memiliki fasilitas berupa trekking mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan strategi pengelolaan obyek daya tarik wisata trekking mangrove. Metode yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD). Melalui diskusi terfokus ini terbahas isu-isu yang dihadapi pada pengelolaan trekking mangrove. Hasil FGD dianalisis menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities danThreats). Dari hasil analisis SWOT diketahui bahwa pengelolaan obyek dan daya tarik wisata trekking mangrove taman nasional karimunjawa terletak pada kuadran I yaitu pengembangan. Posisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang ada saat ini telah dilakukan dengan baik, namun terdapat ancaman yang harus dihadapi dalam pengelolaannya. Ancaman yang ada dapat dihadapi dengan menggunakan peluang yang ada. Jenis strategi yang harus dilakukan untuk mempertahankan kondisi saat ini adalah dengan menggunakan untuk mengambil keunggulan pada setiap kesempatan yang ada. Alternatif strategi SO adalah terjaminnya pengelolaan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Karimunjawa, terjaminnya sosialisasi peraturan perundangan, terjaganya kerja sama yang telah terjadi antara Balai Taman Nasional Karimunjawa dengan stakeholder, terjaminnya sarana dan prasarana wisata alam di trekking mangrove
Pengaruh Bahan Pembenah Tanah pada pH dan P Tersedia Tanah Sub-Optimal Ultisols Asal Jasinga Kabupaten Bogor
Aplikasi bahan pembenah tanah pada tanah-tanah sub-optimal seperti Ultisols di Indonesia perlu terus dilakukan. Hal ini ditujukan guna menunjang perbaikan kualitas lahan-lahan sub-optimal Ultisols secara langsung maupun tidak langsung baik dari segi fisika, kimia, dan biologi tanah. Telah dilakukan suatu penelitian awal pada Ultisols asal Jasinga Kabupaten Bogor Jawa Barat. Sampel tanah dianalisis secara lengkap kemudian diberikan perlakuan berupa bahan pembenah tanah. Tahap pertama menentukan kebutuhan kapur dengan nilai satuan bobot CaCO3 ha-1. Rancangan acak lengkap pola factorial digunakan pada tahap dua untuk menentukan pengaruh biochar dan pupuk P terhadap pH dan P tersedia tanah. Factor pertama merupakan Biochar terdiri dari 4 taraf dosis (0, 5, 10, 15 t ha-1) sedangkan untuk factor kedua yaitu dosis pupuk P (0,100,200 kg ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik Ultisols Jasinga memiliki kesuburan yang rendah dengan pH tanah sangat masam yaitu pH 4.02 (H2O) dan 3.38 (KCl). Untuk meningkatkan pH Ultisols Jasinga pada kisaran pH 6, maka dibutuhkan kapur sebanyak 3 t ha-1. Terjadi interaksi antara aplikasi biochar dan pupuk P pada Ultisols dalam meningkatkan pH tanah dan P tersedia tanah. Penambahan biochar sebanyak 5 t ha-1 mampu meningkatkan pH tanah secara signifikan. Sedangkan aplikasi biochar dengan dosis 15 t ha-1 dengan pupuk P 200 kg ha-1 menunjukkan nilai tertinggi pada P tersedia tanah
Kajian Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kawista (Feronia Limonia (L.) Swingle)
Tanaman kawista adalah tanaman buah yang saat ini termasuk tanaman langka terancam punah, sehingga perlu upaya pelestarian dengan memperbanyak populasi tanaman. Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan tanaman adalah ketersediaan benih berkualitas dalam jumlah cukup dan tepat waktu. Sampai saat ini teknologi penyimpanan benih kawista belum tersedia, sehingga dibutuhkan kajian penyimpanan benih agar benih tersedia saat dibutuhkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap viabilitas dan vigor benih kawista. Penelitian merupakan percobaan faktorial dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama suhu penyimpanan, terdiri 3 level, yaitu 25-30 °C (suhu kamar), 18-19 °C (suhu ruang ber- AC), dan 7-9 °C (suhu kulkas). Faktor kedua lama penyimpanan, terdiri 3 level, yaitu 1, 2, dan 3 bulan. Hasil penelitian menunjukkan Suhu penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air benih kawista, semakin tinggi suhu penyimpanan menyebabkan kadar air semakin menurun. Lama penyimpanan berpengaruh terhadap kadar air benih, semakin lama benih disimpan menyebabkan kadar air semakin menurun. Tidak terdapat perbedaan perlakuan penyimpanan pada suhu 25-30 0C, suhu 18-19 0C dan suhu 7-9 0C sampai tiga bulan dengan tanpa penyimpanan terhadap viabilitas dan vigor benih kawista. Penyimpanan benih kawista pada suhu 25-30 0C (suhu kamar) dan 18-19 0C (suhu ruang ber-AC) memberikan viabilitas dan vigor lebih tinggi dibanding suhu 7-9 0C (suhu kulkas). Penyimpanan benih kawista selama dua bulan memberikan viabilitas dan vigor benih lebih tinggi dibandingkan penyimpanan satu dan tiga bulan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk penyimpanan benih kawista dilakukan pada suhu 25-30 0C (suhu kamar) atau 18-19 0C (suhu ruang ber-AC) dengan lama penyimpanan tidak lebih dari dua bulan
Distribusi Serapan Pb dan Pertumbuhan Tanaman Sayuran Daun dan Buah pada Pola Tanam Monokultur dan Tumpangsari
Tanaman sayuran merupakan subyek utama yang rentan terpapar logam Pb dalam dalam praktek budidaya intensif di lahan hortikultura. Sistem penanaman monokultur yang sering diterapkan, menambah potensi tinggi serapan logam Pb pada tanaman sayuran. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pola tanam monokultur dan tumpangsari terhadap pertumbuhan tanaman dan distribusi serapan Pb pada sayuran daun (petsai) dan buah (buncis) yang dikombinasikan dengan tanaman C. juncea L. sebagai tanaman sela. Pelaksanaan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari lima perlakuan yaitu monokultur sayuran petsai, monokultur sayuran buncis, monokultur C. juncea, tumpangsari petsai dengan C. juncea L., dan tumpangsari buncis dengan C. juncea L. Data pengamatan dianalisis ragam, dan dilanjutkan dengan uji orthogonal kontras jika terdapat pengaruh nyata perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan tanaman petsai dan buncis yang ditanam monokultur maupun tumpangsari menghasilkan jumlah daun dan panjang tanaman yang tidak berbeda nyata, sementara jumlah daun C. juncea monokultur lebih banyak dibanding yang ditanam tumpangsari. Luas daun petsai monokultur lebih tinggi dibanding yang ditanam tumpangsari, sedangkan luas daun tanaman buncis dan C. juncea yang ditanam monokultur maupun tumpangsari tidak berbeda nyata. Distribusi konsentrasi Pb pada organ tanaman petsai, buncis dan C. juncea menunjukkan hasil yang beragam. Pada petsai yang ditanam tumpangsari, konsentrasi Pb di akar dan batang lebih rendah, sebaliknya di organ daun, konsentrasi Pb lebih besar. Pada buncis tumpangsari, konsentrasi Pb di batang lebih tinggi, namun di daun lebih rendah, sedangkan di akar tidak jauh berbeda antara monokultur dan tumpangsari. Pada C. juncea tumpangsari, konsentrasi Pb di akar, batang dan daun secara umum lebih rendah dibanding C. juncea monokultur. Diperlukan penelitian lanjutan dengan pola tanam berbeda antara sayuran dengan C. juncea L. untuk mengetahui efektivitas penurunan serapan logam pada sayuran
Analisis Beberapa Hara Kompos Limbah Rumah Tangga sebagai Pupuk Organik
Sampah dan limbah telah menjadi permasalahan dunia. Limbah organik rumah tangga dapat dijadikan kompos yang memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh SNI. Tujuan penelitian untuk mengetahui analisis beberapa hara kompos limbah rumah tangga sebagai pupuk organik. Penelitian dilaksanakan pada November 2019 sampai Januari 2020 di Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Ungaran, Jawa Tengah.. Analisis kompos meliputi: analisis kadar air, pH, Rasio C/N, C-organik, N-organik, Kalium (K2O) dan Fosfor (P2O5). Kompos limbah rumah tangga pada penelitian ini secara fisik sudah memenuhi kriteria SNI 19-7030-2004 dan Permentan SR. 140/10/2011. Namun untuk kandungan hara Kalium sedikit di bawah standar dan pH kompos terlalu basa sehingga belum memenuhi standar kualitas SNI 19-7030-2004 dan Permentan SR. 140/10/2011
Pengembangan Produk Unggulan Daerah Agroindustri Kopi Melalui Penerapan Teknik Produksi Bersih di Kecamatan Panti Kabupaten Jember
Kopi Jember cukup dikenal dikalangan masyarakat, di Jawa Timur potensinya ke dua setelah
Malang. Kecamatan Panti, merupakan salah satu daerah penghasil kopi rakyat dengan luasan
wilayah 160.71 km2 terdiri dari 6 dusun, posisinya berada sekitar 17 km dari pusat kota Jember.
Luasan tersebut selain untuk pemukiman sebagian besar merupakan lahan pertanian (kopi).
Kesejahteraan masyarakat umumnya terkendala dengan permasalahan kompleks minimnya
manajemen usahatani menyangkut musim panen kopi yang hanya setahun sekali, selanjutnya
petani hanya bergantung pada hasil pekarangan dan tegalan. Pada musim panen banyak limbah
padat dan cair, setiap pengolahan 1 ton kopi umumnya menghasilkan rendemen biji kopi 40%,
limbah padat 38,4%, limbah cair 2946 liter. Limbah padat mengandung beberapa zat kimia
beracun (alkaloid, tanin, dan polifenol). Pemahaman masyarakat terhadap penerapan
agroindustri berwawasan lingkungan (Sustainable Agriculture) masih sangat rendah, belum
tersentuh inovasi teknologi ditingkat proses produksi, maupun pengelolaan limbah terhadap
kelestarian lingkungan, rendahnya tingkat pendidikan pada sumberdaya manusia. Solusi tepat
POLIJE melalui desiminasi pengabdian PPPUD agroindustri kopi melalui inovasi teknik
“Produksi bersih”, mampu meningkatkan produksi kopi rakyat secara kuantitas dan kualitas
memenuhi standar produk unggulan, memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi
dalam jangka panjang, mencegah/memperlambat proses degradasi sumber daya alam melalui
penerapan daur ulang limbah dan memanfaatankannya menjadi produk turunan yang
bermanfaat. Target akhir tercapai peningkatan kualitas produk kopi Panti sebagai produk
unggulan; dihasilkan produk turunan kopi sebagai hasil sampingan produksi bersih kopi,
performansi lingkungan baik, sehat dan terpelihara sumber daya alamnya, terjadi peningkatan
keuntungan komparatif/kesejahteraan masyarakat petani secara berkesinambungan, terbentuk
desa wisata sebagai wadah promosi dan pemasaran hasil.