Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Neraca Hara N, P, K Tanah dengan Pemangkasan dan Pembenaman Asystasia gangetica (L.) T. Anderson sebagai Tanaman Penutup Tanah
Kendala sistem pertanian di Indonesia sejauh ini adalah masalah penurunan produktivitas lahan pertanian karena sistem pertanaman monokultur dengan input pupuk dan pestisida yang cukup tinggi, sehingga banyak terjadi penurunan kualitas tanah seperti penurunan kandungan hara tanah. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memperbaiki dan mempertahankan produktivitas lahan pertanian melalui pemanfaatan tanaman penutup tanah yang mudah ditemukan di berbagai lahan pertanian seperti Asystasia gangetica (L.) T. Anderson. Penelitian bertujuan untuk mempelajari manfaat pemangkasan dan pembenaman A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah dalam meningkatkan ketersediaan C-organik, N, P, dan K tanah melalui neraca haranya. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara dari bulan Februari sampai Mei 2019 dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dan topografi datar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non-faktorial tiga ulangan dengan pemangkasan dan pembenaman sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah mampu meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara K tanah baik tanpa dipangkas maupun dipangkas dan dibenam. Sedangkan unsur hara N-total dan P tanah hanya meningkat dengan pemangkasan dan pembenaman A. gangetica pada umur 30 HST dan dibenam (P1) melalui neraca haranya
Pengembangan Aspek Kepemanduan Ekowisata Mangrove Kelompok Tani Hutan Mutiara Hijau 1 Pasir Sakti, Lampung Timur
Pengembangan pariwisata saat ini mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan, dimana sektor ekologi, sosial budaya, dan ekonomi dapat dijamin kelestariannya. Ekowisata merupakan jenis kegiatan wisata dengan menjaga kelestarian sumber daya, ditambahkan dengan berbagai teknik interpretasi objek sehingga setiap pengunjung mendapat pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan pentingnya kelestarian daya tarik. Pramuwisata (guide) sebagai pelaku pariwisata yang merupakan garda terdepan karena secara langsung bersentuhan dengan wisatawan. Dari para pramuwisata, wisatawan akan memperoleh informasi atau penjelasan tentang obyek atau destinasi. Oleh karenanya peran dan peranan pramuwisata sangat penting. Jika seorang pramuwisata salah memberikan informasi atau dalam memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standard operational procedure (SOP) maka citra daerah akan dipertaruhkan. Pengabdian dilaksanakan pada bulan April 2021 dengan metode ceramah dan praktik. Lokasi yang dipilih yaitu Hutan Mangrove Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Hasil dari pengabdian ini antara lain teridentifikasinya potensi pemandu wisata, kesepahaman para pihak yang terkait dalam membangun dan mengelola lokasi, serta terbentuknya kesiapan pelaku atau pengelola ekowisata mangrove Pasir Sakti menjadi pemandu wisata. Penggerak kegiatan dan pendampingan tata Kelola destinasi wisata masih cenderung dilaksanakan oleh pihak tertentu saja, sehingga kondisi ini menjadi factor yang mempengaruhi potensi ketersediaan dan kesiapan masyarakat sebagai pemandu pun terbilang rendah. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan semakin ditingkatkannya pemberdayaan dan penyadartahuan tentang ekowisata mangrove Pasir Sakti. selain penyuluhan dan pemaparan materi, sangat dibutuhkan pelatihan khusus untuk praktik menjadi pemandu di lapangan. Karena dirasakan oleh masyarakat bahwa praktik langsung dan pengalaman sangat membantu dalam menciptakan kesiapan, keberanian, serta percaya diri dalam mengelola pengunjung
Analisis Efisiensi Prosessing Biji Botani Bawang Merah/True Shallot Seed
Bawang merah merupakan komoditas strategis dan memiliki nilai ekonomis tinggi serta tidak dapat disubstitusi dengan komoditas lain di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi prosesing umbel kapsul bawang merah untuk menghasilkan biji yang dilakukan secara manual dan menggunakan alat. Penelitian dilakukan di KP. Margahayu Lembang, Balai penelitian Tanaman Sayuran selama bulan Juli hingga Desember 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang merupakan kombinasi dari 3 perlakuan pengeringan umbel kapsul (rumah kasa, ruang pengering pada suhu 30-35 0C, dan mesin pengering) dan 4 perlakuan pemecah umbel kapsul dan sortasi benih (pemecah kapsul manual+sortasi manual; pemecah kapsul manual +sortasi innower; mesin pemecah umbel kapsul bawang merah +sortasi manual; mesin pemecah umbel kapsul bawang merah +sortasi menggunakan winnower). Dari kombinasi tersebut, dihasilkan 12 perlakuan yang diulang 4 kali. Hasil menunjukkan prosesing benih yang paling efisien adalah perlakuan ruang pengering 30-35 0C + pemecah kapsul manual + winnower. Besaran benih yang dihasilkan 353,15 gr dengan daya kecambah 75%, kadar air 7,53 %, kemurnian fisik benih 99,91 % dan biaya prosesing Rp 500/gram
Peningkatan Kualitas UMKM dengan Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna di Desa Kota Pari
UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) adalah bisnis yang dijalankan individu, rumah tangga,
atau badan usaha ukuran kecil. Produk usaha lokal yang berkualitas salah satunya muncul dari
pengembangan potensi sumber daya yang terdapat di dalam sebuah Desa. Munculnya usahausaha dan objek wisata yang kemudian akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal
untuk mengolah potensi tersebut menjadi produk unggulan baru. Desa Kota Pari merupakan
daerah yang cukup terkenal dengan ekosistem hutan mangrove, berada di wilayah Kecamatan
Pantai Cermin yang memiliki garis pantai yang banyak dipenuhi oleh wisata pantai. Dari 11
Dusun yang ada di Desa Kota Pari, beberapa dusun memiliki unit usaha potensial yang dapat
tumbuh menjadi lebih baik jika dikembangkan dan dibina. Melalui program Wira Desa kami
mendampingi masyarakat untuk mengembangkan UMKM di Desa Kota Pari. Adapun UMKM
yang didampingi yaitu Pengerajin anyam pandan, Home Industri Udang Kecepe, Home
Industri Gula Merah, dan Ekowisata Mangrove Wong Polo. Aktivitas yang kami lakukan
berupa membantu proses peningkatan teknologi UMKM, seperti pembuatan langgeh, alat
penjemur udang kecepe, cetakan gula merah, dan lain-lainnya. Agar teknologi tepat guna bisa
di rasakan oleh UMKM kami memberikan beberapa saran untuk mengatasi permasalahan yang
ada dengan menggunakan teknologi tersebut. Kegiatan ini menunjukan hasil yang dibuktikan
dengan jadinya cetakan gula merah, pembuatan paper bag, logo, kemasan, dan sebagainya
Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produk Olahan Kelapa U Neulheu (Kelapa Sangrai Giling) sebagai Bumbu Masakan Khas Aceh
Salah satu bentuk olahan kelapa yang berasal dari Aceh adalah kelapa sangrai giling (kelapa gongseng) atau u neulheu. U neulheu ini digunakan sebagai bumbu masak untuk menambah rasa, aroma dan kekentalan dari masakan khas Aceh. Hampir sebagian besar masakan Aceh menggunakan u neulheu seperti aneka gulai ayam, gulai itik, gulai daging, dan lain-lain. Permintaan u neulheu meningkat tajam pada bulan Maulid dan hari raya Islam. Prospek usaha u neulheu sangat menjanjikan, namun u neulheu hanya dapat dibeli di kedai atau pasar tradisional. Kemasan menggunakan plastik tipis yang sudah mudah rusak, tanpa indentitas apapun dan diikat dengan karet. Seringkali pada saat transportasi untuk dipasarkan ke kedai-kedai di pasar tradisional, beberapa bungkus u neulheu pecah sehingga minyaknya keluar dan mengotori bungkusan-bungkusan lain yang masih bagus. Oleh karena itu, perlu dilakukan transfer ilmu dan teknologi terhadap pengemasan u neulheu dengan melibatkan 3 mitra yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar. Melalui kegiatan pengabdian, tim pengabdi melakukan perbaikan kemasan, desain label kemasan, merancang plat penggongseng u neulheu. Mendesain label kemasan yang menarik yang menjadi identitas dari produk yang dihasilkan oleh ketiga mitra. Penggunaan kemasan cup dan pouch untuk pemasaran u neulheu di pasar modern dan pemasaan ke luar daerah telah dilakukan. Dari hasil kegiatan, terjadi peningkatan produksi u neulheu pada mitra 2 dan 3. Peningkatan jumlah produksi mitra 2 adalah 3 kali lebih banyak dibanding sebelum kegiatan, sedangkan mitra 3 adalah 6 kali lebih banyak dibanding sebelum kegiatan. Dengan peningkatan jumlah produksi u neulheu maka jumlah pendapatan mitra juga meningkat
Tradisi Panen Raya Guna Menunjang Branding Beras Organik di Desa Gentungan, Kabupaten Karanganyar
Desa Gentungan merupakan salah satu desa di Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Desa Gentungan memiliki potensi pertanian organik yang sangat besar. Desa Gentungan memiliki lahan pertanian organik 22 ha yang dikelola oleh Kelompok Tani Mulyo 1 yang beranggotakan 80 orang. Areal pertanaman padi organik telah memiliki sertifikasi organik sejak tahun 2010. Areal pertanaman padi organik dilengkapi dengan berbagai gazebo dan Wisata Pertanian Embung Setumpeng. Faktor pendukung lainnya yang sangat kuat yaitu modal sosial anggota Kelompok Tani Mulyo 1 yang senang gotong royong dan melestarikan tradisi lokal pertanian. Tradisi panen raya menjadi salah satu kearifan lokal Desa Gentungan. Tradisi panen raya akan menunjang branding pertanian organik Desa Gentungan. Kegiatan panen raya yang dilakukan meliputi pertunjukan reog, kirab gunungan tumpeng, pertunjukan wayang kisah pertanian organik, methik padi, dan kirab Mbok Sri kembali. Rangkaian panen raya dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi menggunakan metode participatory rural appraisal yang melibatkan seluruh anggota Kelompok Tani Mulyo 1 dari perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Panen raya ini bertujuan untuk meningkatkan branding beras organik Desa Gentungan dan meningkatkan daya tarik wisata pertanian Desa Gentungan. Hasil dari kegiatan ini yaitu peningkatan branding beras organik Desa Gentungan ke area Solo Raya melalui penawaran dalam kegiatan pameran UMKM dan pemasaran digital serta terjadi peningkatan pengunjung di Wisata Pertanian Embung Setumpeng menjadi 40 rombongan setiap pekannya
Pendampingan Meningkatkan Daya Saing Agroindustri Ubi Kayu di Desa Sigerongan Kecamatan Lingsar Lombok Barat
Kegiatan pendampingan bertujuan untuk memfasilitasi perajin agroindustri ubi kayu untuk melakukan peningkatan daya saing produk olahan melalui penerapan teknologi pengemasan, teknik pengeringan yang sehat, mengenal networking dalam marketing product di pasar semi modern dan modrrn. Pendekatan yang diterapkan dalam pendampingan ini adalah pendekatan Kerjasama Triple P-Plus dengan Misi 3-B sebagai Alternatif Solusi. Masalahan yang dipaparkan di atas memerlukan cara cerdas untuk solusinya guna meningkatkan pendapatan rumah tangga perajin karena agroindustri ubi kayu merupakan andalan utama sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Sedangkan metode pelaksanaannya adalah Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan dengan menerapkan metode pengajaran orang dewasa (Adult education) dengan pendekatan kelompok melalui penerapan Focus Group Discussion (FGD) dipadukan dengan percontohan produksi agroindustry yang menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi (Participatory Action Research) dan praktek pengemasan produk dan diversifikasi produk. Hasil pendampingan menggambarkan bahwa agroindustry ubi kayu mengolah ubi kayu menjadi berbagai produk olahan siap saji seperti opak-opak dengan bentuk empat persegi, rengginang dan keripik yang belum disentuh oleh tekonologi pengirisan yang menghasilkan ketebalan yang seragaM. Pendampingan cara pengeringan dan teknik masak (menggoreng) dan pengemasan pada produk Opak dapat meningkatkan nilai jual produk yang diindikasikan dengan meningkatnya Total Revenue (TR) produk per satu kali proses produksi sebesar 35,71% dan peningkatan profit mencapai 79,10% per minggu dan per bulan. Pengemasan Opak tidak hanya berfungsi sebagai wadah, pelindung untuk menjadikan Opak lebih awet, tetapi berfungsi juga sebagai kenyamanan konsumen dan sarana promosi dan informasi, sehingga dapat meningkatkan nilai produk yang memiliki nilai jual yang tinggi. Peningkatan nilai produk setelah pengemasan mengindikasikan bahwa pengemasan berdampak pada pengembangan usaha yang berdaya saing walaupun masih dalam tataran local. Pengembangan produk olahan ubi kayu di Sigerongan secara higienes masih memerlukan intervensi pemerintah melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Kesehatan untuk memperoleh sertifikat Halal agar mampu bersaing secara luas dalam pasar global. Hasil Olahan ubi kayu di Sigerongan berpotensi menjadi Aikon Desa Sigerongan Lingsar Lombok Barat. Oleh karena itu, perlu Kerjasama yang solid antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk menciptakan produk yang berdaya saing tinggi yang Better Business untuk menuju Better Living (welfare) perajin
Peningkatan Produktifitas Ternak Kambing Melalui Penerapan Teknologi Pengolahan Pakan di Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus Kota Palembang
Permasalahan peternak kambing di desa Pulokerto Kecamatan Gandus Kota Palembang adalah
rendahnya tingkat pertambahan berat badan ternak dan seringnya terjadi kematian saat
kelahiran cempe. Dari hasil survei awal yang dilakukan langsung ke lapangan diketahui bahwa
peternak hanya memberi hijauan rumput lapangan saja untuk memenuhi konsumsi pakan
ternak dan hampir sebagian besar peternak belum memahami bagaimana memberi pakan yang
baik, berkualitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat
peternak di desa Pulokerto tentang cara dan pentingnya tekhnologi pengolahan pakan untuk
menjamin ketersediaan pakan ternak secara kontinyu baik secara kualitas maupun secara
kuantitas, salah satunya dengan pembuatan Silase Ransum Komplit. Metode kegiatan yang
dilakukan yaitu penyuluhan, demonstrasi dan pelatihan yang selanjutnya dilakukan evaluasi
terhadap hasil kegiatan. Data kegiatan pengabdian disampaikan dalam bentuk deskriptif.
Berdasar hasil evaluasi kegiatan yang dilakukan diperoleh kualitas silase yang dibuat
menunjukkan hasil yang baik secara organoleptik maupun secara kualitas berdasarkan analisa
proksimat dan van soest. Terdapat peningkatan bobot badan kambing setelah di berikan pakan
silase ransum komplit dengan peningkatan bobot badan rata-rata 110-208/ekor/hari. Penerapan
teknologi pembuatan silase ransum komplit setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut hampir 85%
peternak kambing di Desa Pulokerto telah menerapkan teknologi pembuatan silase ransum
komplit secara mandiri. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah kualitas silase ransum komplit
yang di lakukan di Desa Pulokerto sangat baik berdasarkan uji organoleptic, kualitas nilai gizi
dan penerapan secara in vivo serta mampu diaplikasikan oleh peternak
Potensi Budidaya Tanaman Hias di Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Bodas
Budidaya tanaman hias merupakan sektor yang cukup banyak dan sedang sangat diminati dalam
bidang pertanian. Kelurahan Kahuripan Kecamatan Tawang memiliki kelompok wanita tani (kwt)
yang bernama KWT Mawar Bodas, dan berkonsetrasi dalam bidang budidaya sayuran dan produk
olahannya seperti keripik bayam dan keripik bawang. Kelompok wanita tani mawar bodas ini
memiliki potensi untuk maju dalam bidang budidaya pertanian, namun keterbatasan pengetahuan
budidaya terutama budidaya tanaman hias menjadi kendala dalam kemajuan budidaya tanaman hias
dan produksinya, sehingga perlu diberikan sedikit arahan dari perguruan tinggi untuk dapat
mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, melalui penerapan teknologi tepat guna. Tujuan khusus
dari pengabdian ini adalah menerapkan teknologi perbanyakan tanaman dan olahan tanaman hias.
Tahapan awal sebelum perbanyakan tanaman hias adalah pengenalan berbagai macam tanaman hias
seperti tanaman hias daun, bunga, batang hingga tanaman hias fungsional. Perbanyakan tanaman hias
yang dilakukan menggunakan teknik perbanyakan stek daun dan stek batang dengan menggunakan
tambahan zat pengatur tumbuh. Selain itu juga dalam pengolahan tanaman hias yaitu menggunakan
tanaman telang, mint dan sereh yang dimanfaatkan sebagai minuman herbal. Hasil kuisioner yang
diberikan kepada anggota KWT mengenai pengetahuan, dan ketertarikan tanaman hias, menunjukkan
peningkatan sebesar 10%. Teknik perbanyakan yang dilakukan pada saat pendampingan 60%
memberikan respon mudah, 20% sangat mudah dan 20% menyatakan cukup mudah
Proses Identifikasi Komposisi Keripik Jamur Japigo pada Kelompok Usaha Jamur Gondangmanis
Jamur tiram merupakan salah satu produk pertanian yang mudah untuk dimanfaatkan. Salah satu cara pemanfaatan jamur tiram dengan mengolah menjadi produk makanan. Kelompok Usaha Pengolahan Jamur (KUPJ) Gondangmanis memanfaatkan jamur tiram menjadi produk berupa keripik jamur. Identifikasi komposisi keripik jamur dilakukan untuk (1) mengetahui komposisi keripik jamur yang ideal, (2) menentukan harga jual keripik jamur. Proses identifikasi komposisi jamur tiram (1) identifikasi resep keripik jamur, (2) penetapan resep keripik jamur, (3) penetapan teknologi atau pengolahan keripik jamur, (4) produksi keripik jamur, (5) pengemasan produk, (6) penetapan harga produk. Metode yang dilakukan yaitu Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menitikberatkan pada partisipasi anggota Kelompok Usaha Pengolahan Jamur Gondangmanis dalam pelaksanaannya dengan rangkaian kegiatan identifikasi harga bahan baku, pengolahan keripik jamur, pengemasan keripik jamur, dan penentuan harga keripik jamur. Pengukuran keberhasilan program dilakukan dengan perbandingan komposisi keripik jamur sebelum dan setelah program, beserta tingkat penguasaan teknik atau perubahan teknik penepungan dan penggorengan yang dilakukan oleh anggota KUPJ Gondangmanis. Hasil yang diperoleh berupa komposisi per jamur tiram 7 kilogram dibutuhkan tepung terigu 1,5 kilogram, tepung tapioka 1,5 kilogram, telur 0,5 kilogram, bawang putih 0,25 kilogram, garam 100 gram, lada 100 gram dan harga keripik jamur Rp 12.000 per 100 gram. Selain itu deperoleh peningkatan penguasaan teknik yang lebih baik oleh KUPJ Gondnagmanis sehingga menghasilkan keripik jamur yang memiliki daya serap pasar tinggi