Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Strategi Pengembangan Usaha Tanaman Obat Keluarga melalui Digital Marketing Guna Mewujudkan Produk Unggul Desa yang Berdaya Saing
Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Desa Ngunut merupakan kelompok yang bergerak di bidang budidaya dan pengolahan tanaman obat keluarga (toga). Kelompok ini beranggotakan para kader penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga berjumlah 20 orang. Kelompok UPPKS Desa Ngunut telah melakukan produksi olahan toga sejak tahun 2016, tetapi value proposition produk masih rendah karena belum ada usaha pengembangan lebih lanjut sehingga keberjalanan usaha selama ini masih berlangsung bergantung pada ketua kelompok. Kegiatan pemberdayaan ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan usaha tanaman obat keluarga melalui digital marketing sehingga jangkauan pemasaran produk dapat lebih luas. Metode pemberdayaan yang digunakan yaitu participatory rural appraisal dengan tahapan (1) identifikasi potensi masalah dan kebutuhan masyarakat, (2) penyelarasan dengan program Desa Ngunut, (3) penyusunan program bersama masyarakat (4) pelaksanaan program, dan (5) monitoring dan evaluasi program. Hasil pengabdian masyarakat untuk pengembangan usaha tanaman obat keluarga meliputi kegiatan diversifikasi produk, perbaikan kemasan, pendaftaran merek dan P-IRT, pelatihan digital marketing, penggunaan sosial media dan marketplace untuk pemasaran, dan scale up kelembagaan. Berbagai strategi ini digunakan untuk mewujudkan produk unggulan desa yang memiliki daya saing. Kegiatan pengembangan ini memberikan dampak terhadap (1) volume penjualan mengalami kenaikan dari 15 kg setiap minggu menjadi 30 kg setiap minggu, dan (2) peningkatan pendapatan masyarakat menjadi 2 kali lipat setiap minggu
Pelatihan Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Berbasis Limbah Rumah Tangga sebagai Alternatif Penggunaan Pupuk Organik di Desa Uteunkot Cunda Lhokseumawe
Sampah merupakan limbah yang berasal dari sisa kegiatan sehari-hari manusia yang berbentuk padat dan cair. Salah satu sampah yang berbentuk padat adalah sampah dari sisa-sisa kulit buah-buahan dan sayur-sayuran yang dibuang ke tempat sampah, karena tidak digunakan dan diinginkan lagi oleh manusia. Salah satu manfaat yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah berupa sisa kulit buah-buahan, sayuran dan bahan organik lainnya adalah dapat dibuat sebagai Mikroorganisme Lokal (MOL). Disekitar kita banyak bahan-bahan yang dapat dibuat untuk MOL. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masyarakat di Desa Uteukot sudah mengelola sampah dengan baik seperti pemisahan sampah organik dan anorganik. Namun untuk pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik cair belum dilakukan. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan pembuatan pupuk organik cair yang bisa dijadikan sebagai penambah ketrampilan masyarakat dengan memanfaatkan bahan organik yang ada disekitarnya. Pelatihan bagi masyarakat di Desa Uteukot cunda Lhokseumawe untuk membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai alternatif dalam pembuatan pupuk organik cair ini dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan ketrampilam serta sumber pendapatan bagi masyarakat. Berdasarkan pengabdian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan pembuatan POC di Desa Uteunkot cunda Lhokseumawe mendapat respon positif bagi masyarakat dan dapat menambah pengetahuan terhadap pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai solusi pengelolaan sampah organic hasil dari sampah rumah tangga yang mempunyai banyak manfaat salah satunya untuk meningkatkan produksi pangan sehari-hari di Desa Uteunkot. Selain itu juga pengabdian ini membawa manfaat yang berkesinambungan bagi masyarakat, serta untuk memajukan Desa Uteunkot dalam kemandirian pangan
Budidaya Pisang pada Lahan Pekarangan Guna Menunjang Ekonomi Warga dalam Masa Pandemi di Desa Mlopoharjo, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan warga Desa Mlopoharjo khususnya kelompok tani yang tergabung dalam
Gapoktan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui metode penyuluhan budidaya pisang dan
implementasi atau praktik penanaman bibit pisang di lahan pekarangan, serta pembagian bibit
pisang dan pupuk organik. Partisipasi dan antusiasme warga sangat baik, kelompok mitra
berkontribusi aktif dalam pengadaan keperluan penyuluhan serta aktif berbagi pengalaman dalam
budidaya pisang. Dampak dari kegiatan penyuluhan mampu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan warga Desa Mlopoharjo dalam usaha budidaya pisang. Kegiatan penyuluhan
budidaya pisang di Balai Desa Mlopoharjo sangat bermanfaat dan diharapkan dapat
berkelanjutan
Analisis Peran Stakeholders dalam Pengelolaan Desa Wisata Randugede Hidden Paradise, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. : Review
Peran stakeholders dalam pengelolaan Desa Wisata Randugede Hidden Paradise (RHP) menjadi sangat penting, saat ini lokasi tersebut sedang populer dan menjadi sorotan sebagai destinasi wisata baru di Kabupaten Magetan. Peran yang baik antar stakeholders disana sangat diperlukan untuk mencapai sebuah tujuan bersama tanpa adanya konflik selama pembangunan desa wisata. Peran stakeholders selama pengembangan dan pengelolaan desa wisata dapat menciptakan output yang baik, maka manfaat sebesar-besarnya akan juga dapat dirasakan oleh masing-masing pihak. Stakeholders tersebut di kelompokkan menjadi tiga yaitu stakeholder primer, stakeholder kunci, stakeholder sekunder. Stakeholders primer terdiri dari penduduk atau masyarakat desa, stakeholder kunci terdiri dari pengelola desa wisata yaitu sub unit BUMDES Randugede yang bernama Randualas, investor, dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Magetan, sedangkan stakeholder sekunder terdiri dari Pemerintah Desa Randugede, komunitas swasta, biro perjalanan pariwisata dan media massa. Masing-masing stakeholders memiliki peran/posisinya sendiri dalam pengelolaan desa wisata, antara lain sebagai policy creator, koordinator, fasilitator, implementer, akselerator. Posisi tersebut pada intinya adalah menciptakan output atau manfaat dalam pengembangan dan pengelolaan sebuah desa wisata di Randugede Hidden Paradise
Eksplorasi Bakteri Endofit Indigenos untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Prenusery
Bakteri endofit hidup di dalam jaringan tanaman yang sehat dan berperan antara lain di dalam memacu pertumbuhan tanaman dengan menghasilkan senyawa-senyawa zat pengatur tumbuh, seperti IAA, GA3, dan Sitokinin. Tujuan penelitian untuk mendapatkan bakteri endofit indigenos untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit prenusery. Penelitian bersifat eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan yang terdiri 2 tahap yaitu 1.) Isolasi dan karakterisasi bakteri endofit indigenos asal Dharmasraya (Kecamatan Kota Besar, Asam Jujuhan, Kota Salak, Tiumang, Padang Laweh, Sitiung) dengan metode deskriptif. 2.) Seleksi isolat bakteri endofit indigenos sebagai pemacu pertumbuhan pada pembibitan awal kelapa sawit yang terdiri dari 16 perlakuan (BEA 1.2, BEA 1.3, BEA 2.1, BEA 2.2, BEA 3.2, BEA 3.3, BEB 1.1, BEB 3.1, BEC 2.1, BEC 3.1, BED 1.1, BEE 1.1, BEE 3.1, BEF 3.2. Hasil penelitian menunjukkan Isolat BEF 3.2 dan BEB 3.1, paling baik dalam memacu pertumbuhan bibit kelapa sawit dengan efektivitas 55,12% dan 65,78%
Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu pada Tanaman Sayuran di Desa Tanjung Baru Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir dalam Masa Pandemi Covid19 untuk Ketahanan Pangan
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan semua makhluk hidup yang dapat menimbulkan
kerugian tanaman. OPT tersebut terdiri dari hama, penyakit dan gulma. Semua jenis organisme
pengganggu tanaman yang dapat menimbulkan kerusakan fisik yang dianggap merugikan dan tidak
diinginkan kehadirannya dalam kegiatan bercocok tanam. Hama yang menyerang tanaman terdiri dari
serangga, tungau, vertebrata hama dan hewan lainnya. Serangga-serangga hama menyerang tanaman
dapat menimbulkan kerusakan baik secara kualitas maupun kuantitas. Hama, penyakit dan gulma
merupakan organisme yang merusak tanaman pada lahan petani yang dapat menimbulkan kerugian
secara ekonomis. Serangan OPT pada tanaman dari benih sampai pascpanen. Serangan serangga
hama ini dapat mengakibatkan penurunan produksi tanaman dan gagal panen. Pengendalian yang
sering dilakukan oleh petani dalam mengurangi serangan hama dan penyakit belum ramah
lingkungan. Pengendalian di lapangan perlu dilakukan pemahaman terhadap pengendalian yang
ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu pada produk pertani. Karena dalam kondisi masih
pandemic petani harus berhati-hati dalam melakukan pengendalian terhadap OPT dilapangan. Tujuan
pengabdian untuk memdapatkan metode pengelolaan hama dan penyakit terpadu pada tanaman
sayuran dalam masa pandemi covid-19 untuk ketahanan pangan. Untuk memberikan informasi
mengenai pengendalian yang ramah lingkungan. Metode dalam pengabdian ini dengan cara
mendatangi lahan-lahan petani kemudian melakukan penyuluhan mengenai hama, penyakit dan
gulma serta melakukan penyuluhan tentang pengendalian yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil
penyuluhan terhadap petani tanaman sayuran dalam melakukan pengendalian semuanya
menggunakan pestisida sintetik. Petani tidak mengetahui tentang pengendalian yang ramah
lingkungan mayoritas petani masih belum mengetahui tentang pengendalian tersebut. Kemudian
dilakukan penjelasan pengendalian yang ramah lingkungan seperti, musuh alami dan pestisida botani.
Kemudian dilakukan evaluasi setelah penyuluhan petani sudah bisa membedakan musuh alami yang
tergolong predator dan parasitoid. Petani juga dapat membedakan serangga predator dan serangga
hama. Petani juga mengetahui tanaman-tanaman dapat dijadikan sebagai pestisida nabati
Pelatihan Pemantauan Kesehatan Hutan dan Penggunaan Software Penilaian Kesehatan Hutan di KTH Lestari Indah sebagai Upaya Mitigasi Bencana
Keberlangsungan sistem pengelolaan hutan mangrove yang berkelanjutan perlu diwujudkan dengan salah satunya mengetahui pentingnya pemantauan kesehatan hutan. Pengetahuan terkait kesehatan hutan diperlukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi gangguan atau kerusakan yang terjadi di hutan mangrove, sehingga perlu dilakukan pemantauan kesehatan hutan secara berkala. Selain itu, perlu adanya keterampilan dalam menggunakan aplikasi atau software merupakan faktor pendukung dalam mewujudkan hal tersebut. Pemantauan kesehatan hutan dan penggunaan software penilaian kesehatan hutan merupakan salah satu cara untuk mewujudkan kelestarian hutan mangrove dan sebagai upaya mitigasi bencana. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada anggota Kelompok Tani Hutan Lestari Indah terkait pemantauan kesehatan hutan mangrove dan penggunaan software penilaian kesehatan hutan (SIPUT). Kegiatan ini dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 24 Oktober 2021 di Wisata Hutan Mangrove, Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian yaitu metode ceramah dan praktik langsung. Berdasarkan hasil evaluasi dengan menggunakan instrumen Pre-test dan Post-test, terdapat peningkatan pengetahuan anggota KTH sebesar 13,06%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa adanya pemahaman yang cukup baik terhadap peserta pelatihan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan ini dapat membantu masyarakat dalam peningkatan pengetahuan dan partisipasi dalam pengelolaan hutan mangrove dan mewujudkan hutan mangrove yang berkelanjutan serta penggunaan software SIPUT merupakan media yang tepat untuk mempermudah penilaian kondisi kesehatan hutan mangrove
Teknologi Pembuatan Pupuk Bokashi Bermutu di Dusun Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang
Pupuk bokashi adalah jenis pupuk yang dibuat dengan menggunakan bantuan mikroorganisme
pengurai. Pupuk bokashi memiliki berbagai macam unsur hayati selain kotoran hewan sebagai
bahan baku utama, oleh sebab itu pupuk ini memiliki nilai lebih apabila dibandingkan dengan
pupuk kandang yang murni hanya menggunakan kotoran hewan. Dalam pembuatan pupuk
bokashi diperlukan ketelitian dalam proses fermentasi karena inti dari pembuatan pupuk ini
ada pada mikroorganisme sebagai mengurai kotoran hewan. Tujuan dari kegiatan pembuatan
bokashi agar masyarakat dapat mengaplikasikan teknik pembuatan pupuk bokashi di Dusun
Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Selanjutnya, masyarakat
dapat memperoleh keterampilan dalam pembuatan pupuk bokashi. Metode yang digunakan
adalah metode wawancara dan praktik secara langsung pembuatan pupuk bokashi, serta
praktek dalam proses pembuatan pupuk BOKASHI terdapat tujuh tahapan yaitu mulai dari
penggilingan, pengayakan, pemberian mikroorganisme lokal, pemberian pupuk dolomit,
penyiraman, pembalikan, dan yang terakhir adalah pengemasan. Hasil proses pembuatan
pupuk bokashi mulai dari penggilingan hingga siap untuk pengemasan pupuk bokhasi
memerlukan waktu kurang lebih hingga 1 bulan
Optimasi Teknik Sterilsasi dan Induksi Kalus Eksplan Daun Gloxinia speciosa secara In-Vitro Menggunakan BAP dan 2,4-D
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik sterilisasi yang tepat pada tanaman Gloxinia sp, serta mengetahui perbandingan konsentrasi BAP (Benzyl Amino Purin) dan 2,4 D (2,4-Dichlorophenoxyacetic acid) yang tepat untuk induksi kalus dari eksplan daun Gloxinia sp. Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Kultur Jaringan Instiper Yogyakarta Jl. Nangka II, Maguwoharjo,Yogyakarta pada bulan September 2020 sampai Januari 2021. Media dasar yang digunakan adalah media MS (Murashige and Skoog. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap 1 berupa optimasi metode sterilisasi eksplan daun Gloxinia sp menggunakan natrium hipoklorit 10%, 0,2% dan 2%, alkohol 70%, fungisida 0,1g/50ml, PPM 0,2 ml. Tahap kedua berupa induksi kalus pada media MS dengan penambahan hormon BAP dan 2,4 D. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor yang pertama adalah penambahan hormon BAP dengan 4 aras yaitu (0 ppm, 0,50 ppm, 1,5 ppm, 2,5 ppm) dan faktor kedua penambahan 2,4 D dengan 4 aras yaitu (0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm), tiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data hasil penelitian dengan parameter persentase keberhasilan teknik sterilisasi eksplan Gloxinia sp, persentase pencoklatan (browning) pada Eksplan daun Gloxinia sp dan persentase eksplan hidup dan tumbuh kalus dianalisis menggunakan aplikasi excel, sedangkan parameter tekstur dan warna kalus dianalisis menggunakan aplikasi color analysis. Hasil analisis menunjukan bahwa teknik sterilisasi yang tepat terdapat pada metode yang menggunakan bahan sterilan natrium hipoklorit 2% dan fungisida 0,1g dengan tingkat keberhasilan sebesar 68,8%. Perlakuan penambahan 2,4 D dengan konsentrasi 2 ppm pada media kultur menunjukan pembentukan kalus paling cepat yaitu 3 minggu setelah tanam
Karakteristik Sensori dan Daya Terima Roti Tawar dengan Penambahan Jantung Pisang
Penambahan Jantung Pisang pada pembuatan roti tawar diharapkan menjadi inovasi baru pada produk roti tawar yang tentunya lebih banyak memiliki manfaat. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui formula dan cara mengolah untuk membuat roti tawar jantung pisang. 2) Mengetahui karakteristik roti tawar jantung pisang. 3) Mengetahui daya terima masyarakat pada roti tawar jantung pisang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kepustakaan, dokumentasi, eksperimen, dan uji hedonik. Eksperimen pembuatan roti tawar jantung pisang dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Seni Kuliner Akademi Kesejahteraan Sosial Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, No. 77, Kelurahan Gajahmungkur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang. Eksperimen dilakukan sebanyak 3 kali percobaan, yaitu yang pertama menggantikan 20% dari total tepung terigu, yang kedua 30% dari total tepung terigu, yang ketiga 40% dari total tepung terigu. Dimana total tepung terigu yaitu 100% dari setiap formula resep roti tawar. Pengolahan roti tawar jantung pisang menggunakan sistem no time dough (cara cepat). Hasil penelitian ini menunjukkan produk roti tawar dengan penambahan jantung pisang memiliki karakteristik sensori meliputi rasa roti tawar pada umumnya, warna coklat keabuan lebih tua, keabuan agak tua, dan keabuan muda, aroma khas roti tawar, serta tekstur kurang lembut, lumayan lembut, dan lembut. Daya terima panelis terhadap produk roti tawar melalui hasil uji hedonik menunjukkan bahwa yang paling disukai panelis yaitu roti tawar dengan penambahan jantung pisang sebanyak 20% dan 30%