Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Dampak Kepemilikan Modal Sosial terhadap Keberlangsungan Usaha Sayur Organik (Studi pada PO. Sayur Organik Merbabu (SOM) dan Kelompok Tani Tranggulasi Kabupaten Semarang)
Keberhasilan sebuah usaha tidak lepas dari peran modal sosial dimana modal sosial sangat berpengaruh terhadap perkembangan sebuah bisnis. Dalam menjalankan usaha sayur organik pada PO Sayur Organik Merbabu dan Kelompok Tani Tranggulasi diperlukan sebuah pendekatan modal sosial agar kegiatan ini tetap berkelanjutan. Mengetahui modal sosial yang dimiliki pemilik usaha sayur organik yang dilihat dari bentuk-bentuk modal sosial yaitu: bonding social capital, bridging social capital dan linking social capital.Mengetahui dampak dari kepemilikan bentuk modal sosial terhadap keberlangsungan usaha sayur organik Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan 1) aspekBonding Social Capital di SOM melalui dukungan keluarga seperti keponakan dan sepupunya, sedangkan pada kelompok tani Tranggulasi aspekBonding Social Capital tidak terlihat. 2) Aspek Bridging Social Capital pada pihak SOM dan kelompok tani Tranggulasi sama-sama terlihat dengan menjaga hubungan baik dan kerjasama yang telah terjalin antara pemilik dengan karyawan, konsumen dan pemasok. 3) Aspek Linking Social Capital pada pihak SOM terlihat dikarenakan pihak SOM menggunakan modal secara mandiri dan bantuan dari campus Universitas Kristen Satya Wacana sedangkan pada kelompok tani Tranggulasi lebih terlihat hal ini dikarenakan pemilik mendapat bantuan dari pemerintah serta iuran dari kelompok. Keberlangsungan usaha sayur organik pada SOM dan Tranggulasi yang dilihat dari unsur modal, SDM dan pemasaran sangat berpengaruh dalam keberlanggsungan usaha hal ini dikarnakan tanpa ketiga aspek tersebut usaha yang dirintis tidak bisa berkembang dijaman yang semakin modern seperti sekarang ini, dan kedua usaha tersebut sama-sama saling mengembangkan ketiga aspek ini dalam usahanya sehingga usaha yang dirintis bisa berkembang sampai berdiri lebih dari lima tahun dan tetap populer dikalangan masyarakat hingga sekarang ini. Sehingga kepemilikan modal sosial(Bonding Social Capital, Bridging Social Capital, dan Linking Social Capital) dan aspek modal, SDM dan pemasaran sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha sayur organik yang ada pada pemilik SOM dan kelompok tani Tranggulasi
Inventarisasi Organisme Pengganggu Tanaman pada Koleksi Paku-pakuan (Pteridohphyta) di Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas - LIPI
Kebun raya merupakan suatu institusi yang bergerak dibidang konservasi ex-situ tumbuhan dataran tinggi basah. Fungsi utama dari pengoleksian tumbuhan yang ada di Kebun Raya Cibodas (KRC) adalah untuk melestarikan tumbuhan di luar habitat aslinya dari ancaman kepunahan yang terjadi di habitat aslinya. Disamping itu tumbuhan yang ditanam juga memiliki potensi nilai yang tinggi baik secara historis, ekonomis maupun potensi lain yang dapat dikembangkan di kemudian hari. Tumbuhan paku-pakuan di KRC banyak jenisnya baik koleksi maupun non koleksi. Dalam usaha pemeliharaan koleksi paku-pakuan terdapat masalah hama dan penyakit yang selalu muncul sehingga perlu mendapatkan perhatian dalam usaha pengendaliannya. Untuk memudahkan penanganannya maka diperlukan informasi dasar mengenai jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang. Sehubungan dengan hal itu maka diperlukan penelitian Inventarisasi Organisme Pengganggu Tanaman pada Koleksi Paku-pakuan di KRC. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis hama dan penyakit yang menyerang koleksi paku-pakuan KRC. Berdasarkan hasil penelitian tidak ditemukan hama yang menyerang koleksi paku-pakuan KRC. Adapun beberapa penyakit yang menyerang koleksi paku-pakuan KRC yaitu Bercak Daun Cercospora, Bercak Daun Septoria, Bercak Daun Altenaria, Bercak Daun Stigmina Dan Karat Daun. Penyakit tersebut teridentifikasi pada 17 spesies koleksi paku-pakuan KRC
Analisis Kualitas Kopi Arabika pada Petani Kopi Kabupaten Bondowoso dan Situbondo
Perkebunan rakyat (96% kopi) hanya mampu menyumbang 73% produksi kopi nasional. Berbeda sekali dengan perkebunan negara dan swasta dimana 4% lahan mampu menyumbang 27% produksi kopi nasional. Kondisi ini terjadi karena produktivitas perkebunan rakyat sangat rendah. Pemupukan merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi masyarakat. Kualitas buah kopi arabika berkaitan dengan produktivitas. Produktivitas tanaman dipengaruhi oleh kondisi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas biji kopi pada petani kopi Bondowoso dan Situbondo. Rancangan percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAK) 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu lokasi pengambilan sampel (Bondowoso dan Situbondo). Faktor ke dua yaitu petak Kebun Petani (petak petani 1, petak petani 2, petak petani 3, petak petani 4 dan petak petani 5. Penelitian dilakukan di Situbondo dan Bondowoso. Parameter yang diamati adalah bobot basah log kopi, volume log kopi, bobot kering log kopi, bobot kering biji kopi, bobot kering biji kopi, dan tanah (pH, N, P, dan K). Hasil penelitian menunjukkan jika secara umum kandungan P dan K pada Situbondo lebih tinggi dari pada Bondowoso, namun kandungan N, Bondowoso yang lebih tinggi. Lahan kopi yang tidak melakukan pemupukan kimiawi dan organik yang menjadi penentu kualitas buah kopi adalah ketersediaan nitrogen dalam tanah. Parameter kualitas buah paling baik terdapat pada lahan Bondowoso 5
[Pengaruh Kitosan terhadap Efektivitas Insektisida Nabati Daun Surian (Toona sureni)] : Review
Penggunaan insektisida nabati daun surian (Toona sureni) merupakan salah satu cara pengendalian ulat daun ungu (Doleschallia bisaltide). Penambahan bahan kitosan dalam insektisida nabati diharapkan dapat meningkatkan efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kitosan terhadap efektivitas insektisida nabati daun surian. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, terdiri dari : P0 : kontrol (10 ml ekstrak), P1 : 2 ekstrak : 1 kitosan (6.66 ml ekstrak + 3.33 ml kitosan), P2 : 1 ekstrak : 1 kitosan (5 ml ekstrak + 5 ml kitosan), P3 : 1 ekstrak : 2 kitosan (3.33 ml ekstrak + 6.66 ml kitosan), dan P4 : kitosan (10 ml kitosan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan mampu meningkatkan efektivitas insektisida nabati daun surian dalam mengendalikan ulat daun ungu pada perlakuan P2 dengan perbandingan ekstrak daun surian dan kitosan 1:1
Pengaruh Penambahan Tepung Beras Hitam (Oryza sativa L. indica) terhadap Mutu Sensoris, Kimia, Mikrobiologi, dan Umur Simpan Boba (Bubble Pearl)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung beras hitam pada boba terhadap mutu sensoris boba tepung beras hitam. Kemudian juga bertujuan untuk mengetahui mutu kimia, mikrobiologi, dan umur simpan pada boba tepung beras hitam dengan formulasi terpilih dan dibandingkan dengan boba yang dijual secara komersial. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu variasi proporsi tepung beras hitam dan tepung tapioka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa boba tepung beras hitam terpilih adalah boba dengan persentase penambahan tepung beras hitam sebanyak 15% karena mendapatkan bobot pada parameter aktivitas antioksidan dan sensoris yang paling besar. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa boba tepung beras hitam memiliki kadar air sebesar 10,24% (db); kadar abu 0,08% (db), kadar lemak 0,07% (db), kadar protein total 8,01 % (db); kadar karbohidrat 81,59% (db); dan aktivitas antioksidan 15,98%. Berdasarkan analisis mikrobiologi angka kapang khamir boba beras hitam adalah sebesar <25 cfu/g. Berdasarkan pendugaan umur simpan didapatkan hasil umur simpan boba tepung beras hitam yaitu 23 hari
[Pengendalian Hama Tikus pada Pertanaman Padi di Palur, Sukoharjo, Jawa Tengah] : Review
Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan yang memiliki arti serta peran yang penting bagi seluruh penduduk Indonesia. Padi merupakan salah satu bahan pangan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat di Indonesia. Produktivitas tanaman padi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang mempengaruhi produktivitas tanaman padi yaitu salah satunya populasi tikus sawah. Tikus sawah merupakan hama penting padi dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Lokasi pengamatan di lahan pertanaman padi di Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Palur, Sukoharjo, Jawa Tengah. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pengamatan hama secara langsung dan menentukan pengendalian yang tepat sesuai kondisi lahan. Hasil pengamatan menunjukkan, tikus sawah merupakan hama penting hama penting di lokasi penelitian dengan tingkat kerusakan yang parah dengan kerugian yang besar. Tikus sawah juga dapat berkembang biak dengan sangat cepat jadi populasinya akan bertambah dalam waktu yang singkat. Pengendalian populasi tikus sawah dilakukan dengan berbagai metode yaitu gropyokan, Trap Barrier System (TBS), dan pengemposan dengan serbuk belerang
Uji Antagonis Bacillus sp. dan Pseudomonas Berfluorescens Asal Rhizosfer Bambu, Rumput Gajah dan Putri Malu Untuk Menekan Bakteri Ralstonia solanacearum Secara In-Vitro
Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum tergolong penyakit yang sulit dikendalikan maupun dimusnahkan karena mampu bertahan hidup di tanah cukup lama dengan penyebaran yang cepat melalui air, peralatan pertanian dan lainnya. Sehingga diperlukan cara-cara pengendalian yang ramah lingkungan dengan agens hayati berupa penggunaan antagonis yang berasal dari beberapa rhizosfer tanaman. Rhizosfer sangat banyak mengandung mikroorganisme yang berpotensi untuk menjadi agens antagonis dari pathogen tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui bakteri Bacillus sp. dan P. berfluorescens dari rhizosfer bambu, rumput gajah dan putri malu yang memiliki kemampuan dalam menghambat bakteri R. solanacearum. Metode yang dilakukan dengan mengambil sample isolat pathogen dari tanaman tomat yang bergejala layu bakteri R. solanacearum, diambil dari lahan Kelompok Tani di Karang Anyar, sedangkan isolate agens antagonis diambil dari rhizosfer tanaman bambu, rumput gajah dan putri malu diambil di daerah Palam, Guntung Manggis, Banjarbaru. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan 7 (tujuh) perlakuan dan 4 (empat) ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T1 (P. berfluorescens bamboo) dan T2 (Bacillus sp. Bamboo) berbeda nyata dalam menimbulkan zona hambat terhadap R. solanacearum sebesar 1.15 mm dan 0.64375 mm. Kesimpulan bahwa kemampuan Pseudomonas berfluorescens dan Bacillus sp. dari rhizosfer yang berbeda memiliki kemampuan menghambat yang tidak sama dengan zona hambat terlihat samar atau tipis
Pembudidayaan Lele Hemat Air dengan Sistem Bioflok Pada Kolam Terpal, di Kelompok Tani Pucangwolu-Giriwono, Kabupaten Wonogiri
Kegiatan pengabdian masyarakat melalui KKN ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan warga di Pucangwolu, Kelurahan Giriwono, Kabupaten Wonogiri dalam
pembudidayaan lele dengan sistem bioflok dengan kolam terpal. Keterbatasn lahan dan air
irigasi merupakan permasalahan yang dihadapi petani di lokasi kegiatan, terutama pada musim
kemarau. Salah satu pilihan agar petani mendapatkan sumber protein serta kesempatan
memperoleh pendapatan tambahan adalah membudidayakan lele. Adanya keterbatasan lahan
dan air di lingkungan Pucangwolu, maka pemeliharaan lele yang dilakukan pada kolam/bak
kecil dari terpal dengan sistem bioflok adalah pilihan yang tepat. Program ini dilakukan dengan
metode pelatihan dan percontohan. Pelatihan meliputi cara budidaya lele dengan sistem
bioflok, sedangkan percontohan dilakukan dengan pembuatan bak pemeliharaan dari terpal
ukuran 1,5 × 1 m. Tiga puluh buah kolam kecil terpal, dipasang pada lima anggota kelompok
tani. Sumberdaya probiotik menggunakan limbah organik rumah tangga dan mikroba efektif
yang ada di pasaran. Pemeliharaan lele sistem bioflok pada kolam terpal ini juga dikombinasi
dengan sayuran akuaponik. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat dalam membudidayakan lele dengan sistim bioflok yang hemat lahan
dan air. Pada kolam bioflok juga ditanam sayuran kangkung dengan sistem akuaponik. Melalui
kegiatan ini, masyarakat telah memiliki kesempatan untuk mendapatkan sumber pangan
alternatif dan juga ada harapan tambahan pendapatan baru di sela-sela pekerjaan pokok sebagai
petani atau pekerjaan lainny
Peningkatkan Efisiensi dan Higienitas Produksi Wedang Uwuh di UKM JD Wedang Uwuh Karanganyar Melalui Introduksi Mesin Pengering Rempah
Wedang Uwuh merupakan minuman yang terbuat dari seduhan simplisia rempah-rempah,
yaitu jahe, kayu secang, daun pandan, dan serai. Produk ini telah diproduksi oleh UKM JD
Wedang Uwuh sejak tahun 2018. Cita rasa menyegarkan dan khasiat rempahnya membuat
wedang uwuh diminati secara luas oleh konsumen di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sekitarnya.
Namun, efisiensi dan higienitas produksi masih menjadi tantangan UKM yang memproduksi
wedang uwuh dengan cara tradisional, termasuk UKM JD Wedang Uwuh. Pengeringan
simplisia rempah-rempah dengan panas matahari membutuhkan waktu lama, khususnya di
musim penghujan. Hal ini berpotensi menyebabkan kadar air dan umur simpan produk menjadi
beragam. Bahan yang dijemur di ruang terbuka juga berisiko terkena cemaran biologis maupun
kiwiawi dari lingkungan sekitar. Untuk memperbaiki efisiensi produksi dan menjamin
keamanan produk wedang uwuh, dilaksanakan program kemitraan berupa introduksi alat
pengering tipe rak yang dapat digunakan untuk mengeringkan berbagai macam rempah secara
tertutup dan terkendali. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembekalan pentingnya jaminan
mutu keamanan produk minuman rempah dan pengenalan alat pengering rempah. Setelah
melalui proses rancang bangun dan uji coba penggunaan, diperoleh susunan alat yang sesuai
dengan kebutuhan UKM. Selain dukungan alat untuk peningakatan kapasitas produksi, dari
program kemitraan ini UKM JD Wedang Uwuh juga mendapatkan manfaat berupa
keterampilan pengoperasian alat yang didukung pemahaman tentang urgensi higiene dan
keamanan pangan
Upaya Optimalisasi Peternakan Kambing Perah “Sapera” di Desa Purworejo Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen
Peternakan merupakan salah satu usaha yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat,
khususnya di pedesaan. Ternak yang cukup banyak dibudidayakan di Desa Purworejo,
Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah adalah kambing perah. Kambing
perah dipilih karena dianggap memiliki nilai jual hasil produksi susu yang cukup bagus dan
harga yang stabil. Permasalahan yang muncul ketikan beternak kambing perah adalah sistem
pemeliharaan hingga hasil akhir susu yang dihasilkan. Tujuan dari kegiatan pemberdayaan
masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi peternak lokal di desa
setempat untuk bisa memecahkan masalah mengenai produksi susu dan harapannya wilayah
desa setempat menjadi sentra kambing perah. Kegiatan dilaksanakan di Desa Purworejo,
Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini melibatkan kelompok mitra dalam
pelaksanaannya atau dengan menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA),
melalui kegiatan focus group discussion, penyuluhan, transfer teknologi tepat guna,
pendampingan dan percontohan. Hasil yang dicapai adalah terjadinya peningkatan
pengetahuan yang ditunjukkan dari peningkatan nilai pre-test dan post-test, sedangkan
peningkatan motivasi ditunjukkan dengan perubahan sikap peternak semakin open minded dan
melakukan praktek secara mandiri. Dampak ikutan dari kegiatan ini adalah masyarakat bisa
lebih mengerti mengenai manajemen pemeliharaan serta seluruh manajemen yang dibutuhkan
ketika beternak kambing perah dan dapat digunakan sebagai nilai tambah (value added) serta
meningkat perekonomian keluarga