Universitas Sebelas Maret Surakarta, Fakultas Pertanian UNS: Journal Systems
Not a member yet
730 research outputs found
Sort by
Analisis Pengaruh Faktor Bauran Pemasaran 4p terhadap Keputusan Pembelian Beras Organik (Studi Kasus pada Brand Lokal Desaorganik.Id)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor bauran pemasaran 4P berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dan faktor apa yang paling dipertimbangkan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif. Data primer dan data sekunder digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan 120 sampel dengan analisis faktor. Hasil dari penelitian menunjukan karakteristik konsumen beras organik di Desaorganik.id sebagian besar perempuan, dengan tingkat pendidikan terakhir SMA, bekerja sebagai pegawai swasta, pendapatan sebesar Rp3.000.000,00- Rp4.800.000,00 sudah mengenal Desaorganik.id selama kurang dari 3 bulan melalui platform media sosial Instagram dan pernah membeli beras organik di Desaorganik.id sebanyak lebih dari 3 kali. Analisis faktor menggunakan 7 variabel yaitu warna, bentuk bulir, platform, aksesbilitas, keterjangkauan harga, harga sesuai kualitas, dan potongan harga. Ketujuh variable tersebut membentuk dua faktor inti yaitu faktor produk dan platform yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam membeli beras organik di Desaorganik.id. Variabel yang paling dominan yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian beras organik adalah platform dengan nilai beban faktor sebesar 0,911
Analisis Efisiensi Pemasaran Cabai Merah Keriting (Capsicum Annum L.) dan Cabai Rawit (Capsicum Frustescens L.) di Kelompok Tani Tranggulasi Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran, margin pemasaran dan bagian yang diterima petani (farmer’s share) dan perbedaan tingkat efisiensi pemasaran Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.) dan Cabai Rawit (Capsicum frustescens L.). Analisis data yang digunakan adalah analisis saluran pemasaran, analisis margin pemasaran dan farmer’s share serta efisiensi pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua saluran pemasaran cabai merah keriting (capsicum annum L.) dan cabai rawit (capsicum frustescens L). Nilai margin pemasaran cabai merah keriting saluran pemasaran tingkat I, di tingkat pedagang pengecer Rp. 2.500,-/Kg dan nilai farmer’s share 90,38%. Saluran pemasaran tingkat IIA, margin di tingkat pedagang besar Rp. 1.000,-/Kg dan di tingkat pedagang pengecer Rp. 3.500,-/Kg dan nilai farmer’s share 84,26%. Saluran pemasaran tingkat IIB di pasar modern, margin di tingkat pedagang besar Rp. 15.250,-/Kg, nilai margin pedagang pengecer Rp. 11.675,-/Kg, dan nilai farmer’s share 50,98%. Nilai margin pemasaran dan farmer’s share cabai rawit pada saluran pemasaran tingkat I di tingkat pedagang pengecer Rp. 3.000,-/Kg dan nilai farmer’s share 89,66%. Saluran pemasaran tingkat IIA di pasar tradisional margin di tingkat pedagang besar Rp. 1.500,-/Kg dan nilai margin di tingkat pedagang pengecer Rp. 4.000,-/Kg dan nilai farmer’s share pada saluran tingkat IIA di pasar tradisional 81,67%. Saluran pemasaran tingkat IIB di pasar modern margin di tingkat pedagang perantara I Rp. 16.250,-/Kg, nilai margin pedagang pengecer Rp. 11.000,-/Kg, dan nilai farmer’s share 52,40%. Efisiensi pemasaran cabai merah keriting dan cabai rawit pada ke tiga saluran sudah menunjukkan nilai yang kecil (<50)% yaitu sebesar 3,98% untuk cabai merah keriting dan 4,24 % untuk cabai rawit
Performans Reproduksi Sapi Induk di Provinsi Papua Barat
Performans reproduksi ternak yang tinggi disertai manajemen reproduksi yang baik akan menghasilkan efisiensi yang tinggi dengan produktivitas ternak yang tinggi pula, untuk mengetahui performans reproduksi sapi induk pada program UPSUS SIWAB Tahun 2017 di Provinsi Papua Barat, maka perlu dilakukan analisis parameter reproduksinya. Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Manokwari, Kabupaten Sorong dan Kabupaten Fakfak dengan metode deskriptif. Jumlah responden yaitu sebanyak 42 orang peternak dengan jumlah sampel sebanyak 113 sapi induk akseptor IB (total 10% dari populasi akseptor tiga lokasi). Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah non return rate (NRR), service per conception (S/C), conception rate (CR) dan calving rate (CvR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai NRR (84,96%), nilai SC (1,3), nilai CR (80,53%) dan nilai CvR (83,81%). Disimpulkan bahwa performans reproduksi sapi induk pada program UPSUS SIWAB Tahun 2017 di Provinsi Papua Barat dapat dikatakan sangat baik dan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan secara teoritis
Pengaruh Konsentrasi Indole Butyric Acid dan Benzyl Amino Purine terhadap Pertumbuhan Eksplan Tunas Pisang Cavendish (Musa acuminata) Secara In Vitro
Zat pengatur tumbuh dalam kultur jaringan merupakan komponen penting untuk menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) and BAP (Benzyl Amino Purine) serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan eksplan tunas pisang Cavendish. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi pada bulan Juli hingga November 2021. Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah konsentrasi Indole Butyric Acid (IBA) yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, dan 1 ppm, faktor kedua adalah konsentrasi Benzyl Amino Purine (BAP) yaitu 0 ppm, 2 ppm, dan 4 ppm. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan dengan taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi IBA dan BAP terhadap jumlah tunas, panjang tunas, jumlah akar, panjang akar dan jumlah daun. Konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan eksplan tunas pisang Cavendish secara in vitro adalah IBA 0,5 ppm dan BAP 4 ppm
Potensi Isolat Bakteri Endofit Asal Tanaman Terung Sebagai Antifungi Jamur Patogen (Aspergillus sp. dan Fusarium sp.) pada Benih Jagung (Zea mays) di Penyimpanan
Jagung mempunyai peranan penting dalam penyediaan pangan di Indonesia, sebagai komoditas kedua setelah padi dan merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Produksi jagung nasional tahun 2014 adalah 19,0 dan terus meningkat sampai tahun 2018 menjadi 30 juta ton. Diperkirakan 58% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, 30% untuk pangan, sisanya untuk kebutuhan industri dan benih. Meskipun demikian, peningkatan produksi tersebut belum selaras dengan mutu benih karena sampai dengan saat masih banyak ditemukan patogen pada benih utamanya di simpanan. Beberapa patogen penting pada benih jagung di simpanan adalah Aspergillus sp. dan Fusarium sp. yang sangat menurunkan mutu benih karena menurunkan daya kecambah dan menyebabkan penyakit pada benih jagung. Pengendalian kedua patogen tersebut umumnya dilakukan menggunakan fungisida yang berdampak negatif terhadap benih sebagai bahan tanam sehingga digunakan bakteri endofit sebagai alternatif perlakuan pada benih untuk mengeliminir infeksi patogen. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi bakteri endofit dalam mengeliminir infeksi patogen Aspergillus sp. dan Fusarium sp. pada benih jagung di penyimpanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Tanaman Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur mulai Desember 2021 sampai dengan Februari 2022. Tahapan metode adalah meremajakan isolat bakteri endofit pada medium Nutrient Agar (NA) selanjutnya setelah tumbuh dan berumur 24 jam diperbanyak pada medium Nutrient Broth (NB). Benih jagung diambil dari tempat penyimpanan milik petani di Desa Kuwik, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri secara purposive. Perlakuan dilakukan menggunakan metode inkubasi pada kertas saring yaitu mensterilkan kertas saring, setelah steril melapiskan pada cawan Petri dan dilembabkan. Melakukan perendaman 10 benih jagung dalam 100 ml suspensi bakteri endofit (2,8 x 108cfu/ml) selama 30 menit selanjutnya menanam pada kertas saring, sebagai kontrol 10 benih direndam dalam 100 ml fungisida, menginkubasikan selama 6 hari. Pengamatan meliputi daya kecambah dan intensitas penyakit pada benih jagung. Hasil menunjukkan bahwa rerata perkecambahan adalah 90%, rerata intensitas penyakit adalah 6-10%
[Eksplorasi Jamur Endofit Asal Tanaman Cendana Santalum album L. di Sekitar Universitas Nusa Cendana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur] : Review
Cendana merupakan tanaman endemik asal NTT dan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena merupakan penghasil minyak atsiri dan merupakan hasil hutan bukan kayu yang potensial di NTT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi dan mengoleksi jamur endofit yang berada di dalam jaringan tanaman cendana di sekitaran Universitas Nusa Cendana. Pada penelitian ini, dilakukan eksplorasi terhadap jamur endofit pada daun dan batang tanaman cendana. Sampel tanaman cendana diambil dari Universitas Nusa Cendana dan penelitian telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana pada bulan Oktober hingga Desember 2021. Dipilih lima tanaman cendana sehat atau yang tidak bergejala penyakit dari lokasi tersebut untuk diambil daun dan batangnya. Penilitan ini dilakukan dengan mengisolasi sampel daun dan batang tanaman cendana sehat yang telah dipotong dan disterilkan pada media PDA. Apabila terdapat jamur yang tumbuh, dilakukan permurnian terhadap jamur yang terlihat berbeda secara makroskopis. Dari penelitian ini, diperoleh delapan isolat jamur endofit, terdiri dari genus Aspergillus, Gliocladium, Phoma, dan Trichoderma
[Ashitaba, potensi pemanfaatan sebagai obat tradisional di Indonesia] : Review
Ashitaba merupakan tanaman berkhasiat obat yang ditanam di Trawas, Mojokerto dan lereng gunung Rinjani, Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2000. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman sayur dan komoditas ekspor yang digunakan oleh industri obat dunia. Pengkajian terkait beragam khasiat tanaman Ashitaba dilakukan untuk melihat potensi pemanfaatan Ashitaba sebagai bahan baku obat di Indonesia. Proses review artikel dilakukan dengan metode systematic review. Sumber data primer berupa jurnal nasional, jurnal internasional, prosiding nasional dan prosiding internasional. Sumber data hasil penelusuran diskrining dengan menggunakan kriteria inklusi yaitu terbit dalam waktu 10 tahun terakhir. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Ashitaba memiliki kandungan senyawa berupa kalkon (chalcone) yang memiliki beragam aktivitas meliputi antibakteri, antioksidan, anti alergi, anti-aging, kebugaran, anti kanker dan tumor, pengatur gula darah, antiobesitas, antimalarial, anti hiperpigmentasi, protease sistein inhibitor, antitubercolosis, antiinflamasi dan antihipertensi. Ashitaba berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat, akan tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait tingkat keamanan dan formulasi yang tepat
Dinamika Hara N Akibat Pemberian Kompos Campuran Residu Kedelai dan Jerami Padi Pada Tanaman Padi Gogo
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos campuran residu kedelai dan jerami padi terhadap mineralisasi N, serapan N, dan efisiensi penggunaan N dengan indikator padi gogo. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan yaitu; D1 = kompos 100% residu kedelai; D2 = kompos 75% residu kedelai + 25% jerami padi; D3 = kompos 50% residu kedelai + 50% jerami padi; D4 = kompos 25% redisu kedelai + 75% jerami padi; D5 = kompos 100% jerami padi ditambah 2 perlakuan pembanding yaitu kontrol dan perlakuan NPK (D6). Hasil penelitian menunjukkan kompos campuran residu kedelai dan jerami padi memberikan dinamika mineralisasi N yang sama dimana mineral N kumulatif meningkat dengan meningkatnya residu kedelai dalam campuran selama masa inkubasi (1,2,4 dan 8 minggu). Perlakuan D1 (kompos 100% residu kedelai) menunjukkan kandungan mineral N tertinggi sebesar 1186,48 mg.pot-1. Serapan N, efisiensi penggunaan N dan hasil padi gogo tertinggi ditunjukkan pada perlakuan D4 masing-masing sebesar 380,79 mg pot-1, 41,49% dan 6,91 ton ha-
Efisiensi Teknis dan Skala Produksi Usahatani Ubi Kayu di Kabupaten Wonogiri
Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan sumber karbohidrat selain padi dan jagung di Indonesia. Kabupaten Wonogiri memiliki luas panen dan produksi ubi kayu tertinggi di Jawa Tengah. Namun, produktivitas ubi kayu di Wonogiri rendah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas, harus disertai dengan penggunaan sumber daya input yang efisien. Penurunan produktivitas disebabkan oleh inefisiensi teknis. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi teknis dan skala efisiensi ubi kayu di Kabupaten Wonogiri. Data primer dikumpulkan dari sampel berjumlah 74 petani ubi kayu di tiga kecamatan di Kabupaten Wonogiri yang dipilih dengan metode stratified random sampling, dan penentuan sampel dengan purposive sampling. Metode analisis data non parametrik yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi teknis dan skala produksi usahatani ubi kayu. Hasil analisis DEA menunjukkan bahwa nilai efisiensi teknis berada pada rentang 0,558 hingga 1 dengan asumsi variable return to scale (VRS). 22,97% petani ubi kayu memiliki nilai efisiensi teknis 1 yang menunjukkan sudah efisien, dengan nilai rata-rata efisiensi yaitu 0,823. Petani ubi kayu belum beroperasi pada skala optimal, dengan 86,49% pada skala IRS (increasing return to scale) dan 1,35% pada DRS (decreasing return to scale). Peningkatan efisiensi teknis untuk usahatani ubi kayu dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan input yang tidak efisien atau adanya input yang berlebih (input slack)