eJournal Universitas Nusa Bangsa
Not a member yet
    534 research outputs found

    UJI KANDUNGAN HIDROKSIMETILFURFURAL (HMF) SEBAGAI PARAMETER KUALITAS MADU

    Get PDF
    Hydroxymethylfurfural Content Test as Parameter Quality of Honey            Determination hydroxymethylfurfural (HMF) levels in honey had been done refer to method in SNI 3545:2013.  Average of the HMF levels is 64,72 mg/kg whereas SNI decided maximal limit was 50 mg/kg so honey quality is not good enough.  To support testing result, calculation of reapeatabily with relative standard deviation (RSD) Horwitz and accuracy with % recovery was done. The result of reapeatabilty showed that analyst reapeatability was good because the relative standard deviation less than 2/3 RSD Horwitz.  The result of accuracy was good because both treatment gave recovery 89,28 % and 106,43 %, which in the range of acceptance recovery test for analite concentration about 50 mg/kg.Keywords : HMF, Hydroxymethylfurfural, Honey, Quality of Honey , Reapeatability, Accuracy  ABSTRAKPenentuan kadar hidroksimetilfurfural (HMF) pada madu telah dilakukan dengan metode yang mengacu pada SNI 3545:2013. Rata-rata hasil kandungan hidroksimetilfurfural adalah 64,72 mg/kg sedangkan batas maksimal yang ditetapkan SNI adalah 50 mg/kg sehingga kualitas contoh madu tersebut kurang baik.  Untuk menunjang hasil pengujian, maka dilakukan perhitungan repeatabilitas dengan menggunakan Standar Baku Relatif (SBR) Horwitz dan perhitungan akurasi menggunakan % perolehan kembali. Hasil perhitungan repeatabilitas menunjukkan bahwa repeatabilitas analisis HMF baik karena nilai simpangan baku lebih kecil dari 2/3 SBR Horwitz.  Perhitungan akurasi pun menunjukan hasil yang baik karena kedua perlakuan memberi hasil perolehan kembali sebesar 89,28 % dan 106,43 %, yang masuk kedalam batas keberterimaan uji perolehan kembali untuk konsentrasi analit dalam contoh sekitar 50 mg/kg.Kata Kunci : HMF, Hidroksimetilfurfural, Madu, Kualitas Madu, Reapitabilitas, Akuras

    TINGKAT KUALITAS KOTA DITINJAU BERDASARKAN KEBUTUHAN LUASAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA DEPOK

    Get PDF
    In a way, the city experienced rapid growth due to population dynamics, socioeconomic change, and from the interaction with the other regions. Population growth resulted in the densification of population and settlements rapid and uncontrolled in that part of town. The increasing demand for specialized space for resettlement and land up to the growing impact of environmental quality deterioration. Spatial Plan that was created was not able to prevent urban land conversion so that the presence of green open space (RTH) is threatened and the city is not pleasant to be around. The main problem is the reduction in the presence of RTH RTH due to limited land and inconsistent in applying the spatial. RTH is caused by a reduction in the conversion RTH function switch to another space allotment.According to Law no. 26 of 2007 of the act states that the proportion of green space of at least 30% of the area of the city. Urban green space consists of RTH Public Private dn, where the proportion of public green space is 20% and for RTH Privat is 10%. But the facts on the ground stated that the presence of green space that is far from ideal proportions, the dominant market power of changing land use so that the presence of green space terpingirkan even neglected its function and purpose. Development in urban areas continue to be implemented, see Depok as a buffer for the city which is the center of the capital Jakarta. Currently Depok City Government with the whole community is in it until the end of 2012, has fulfilled its obligation to build one of 3110.88 ha (15.48% of the area of the city of Depok) green open space in the city of Depok consisting RTH an area of 1855.15 hectares of public green space and an area of 1255.73 ha Privat

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK MASYARAKAT DENGAN PERAN PARTISIPASI DALAM PROGRAM GREEN WALL DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

    Get PDF
    Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi memiliki peran penting bagi kelestarian fungsi Kawasan tersebut. Efektifitas pengelolaan kawasan tersebut akan terganggu apabila rendahnya partisipasi tersebut.  Untuk itulah maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan karakteristik penggrap lahan dengan peran partisipasi dalam kegiatan Green Wall.Program Green wal ini bertujuan untuk untuk merestorasi areal perluasan yang sebelumnya berupa areal terdegradasi yang diakibatkan oleh aktivitas pertanian masyarkat lokal disekitar Kawasan konservasi. Metode penelitian ini adalah studi kasus dan menggunakan analisis distribusi frekuensi dengan tabulasi silang yang kemudian diuji dengan teknik Chi kuadrat (Chi Square). Hasil riset menunjukkan bahwa adanya hubungan keeratan antara karakreristik masyarakat dengan peran partisipasinya dan faktor yang berpengaruh adalah pengetahuan tentang Green Wall, luas garapan, alasan meninggalkan garapan, pendapatan per tahun responden, jenis kelamin, umur responden, pekerjaan responden, tingkat pendidikan responden, nilai aset/kekayaan, jumlah tanggungan keluarga dan identitas asal responden

    IDENTIFIKASI AKSES MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM (Studi kasus di Desa Karang Tengah Kecamatan Babakan madang Kabupaten Bogor)

    Get PDF
    Conservation areas have an important role for the preservation of the surrounding ecosystem. Nature Park is one of the areas Conservation Areas which have an important function for life support system, preserve the diversity of plant and animal species and sustainable use of natural resources and ecosystems. The existence of the community around the region have an important role for the preservation of the region. This study aims to identify the access made public in obtaining, control and manage access to the use of natural resources around the area. The method used is a case study, in which data collection is done through in-depth interviews and participant observation. Data were analyzed using the access theory results show that the public has access to the processing area where the land around Region Natural Park of Mount Pancar has a level of encroachment or work area without permission is still quite high. Public access and utilization of acquiring land is before the area designated as TWA and ruled for generations, land control is not done specifically and communities manage the land and the potential that exists with the mastery of the blocks that have a high potential of natural resources. Seen most percentage of land cultivated by the community that is in the block of Mount Pancar as much as 24.41% and at least at the block Paniisan only 5:08%

    POPULASI DAN POLA AKTIVITAS HARIAN BIAWAK AIR (Varanus salvator) DI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH PULAU BIAWAK, INDRAMAYU

    Get PDF
    Salah satu penyebaran biawak air di Pulau Jawa adalah di Pulau Biawak. Pulau Biawak merupakan Kawasan konservasi Laut daerah yang di kelola pemerintah daerah Indramayu dibawah kementerian Kelautan dan Perikanan. Satwa yang khas di Pulau ini adalah Biawak Air (Varanus salvator). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dan pola aktivitas harian biawak air di Pulau Biawak. Penelitian ini populasi menggunakan metode transek jalur yang dianalisa menggunakan metode King, sedangkan perilaku harian menggunakan metode ad liebitum dan focal animal sampling dengan menghitung frekuensi perilakunya. Dilakukan pencatatan suhu dan kelembaban sebagai faktor lingkungan dan analisis vegetasi sebagai habitat biawak air.Hasil penelitian menunjukkan populasi biawak air di Pulau Biawak berkisar antara 94,8 – 385,2 dengan rata rata populasi 240 individu dengan kepadatan populasinya adalah 2 ind/ha. Pada penelitian pola perilaku harian biawak air di Pulau Biawak menunjukkan perbedaan perilaku pada setiap kelas umurnya. Pada perilaku harian, perilaku makan di Pulau Biawak cenderung lebih rendah dibandingkan tempat lain, sedangkan sebaran temporal perilaku biawak air di Pulau Biawak tidak berbeda jauh dengan biawak air di tempat lain

    Keanekaragaman Jenis Burung di Taman Wisata Alam Gunung Pancar Provinsi Jawa Barat

    Get PDF
    Kegiatan wisata maupun beralih fungsi kawasan mengakibatkan mata rantai kehidupan burung terganggu dan lingkungan hidup terputus serta mengalami ganguan perkembangan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan jumlah burung di Taman Wisata Alam Gunung Pancar Jawa. Metode penelitian ini adalah observasi perilaku satwa dan studi pustaka Analisis data mengunakan Indeks Shannon Weaner untuk identifikasi keanekaragaman jenis . Hasil penelitian menunjukan tercatat ada 22 jenis burung. Dari 22 Jenis terdapat satu jenis burung air yaitu Kreo Padi (Amaurornis phoenicurus) dan satu jenis merupakan raptor yaitu Elang Hitam (Ictinaetus malayensis). Keseluruhan avifauna tersebut terbagi kedalam 16 suku. Tiga dari 22 jenis tersebut merupakan jenis endemik Jawa, yaitu Perenjak Jawa (Prinia Familiaris), Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) dan Cekakak Jawa (Hacyon cyanoventris). Dari hasil identifikasi kepadatan total populasi burung di dominasi oleh burung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster). Untuk nilai dominasi jenis burung yang mendominasi di TWA Gunung Pancar yaitu burung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan nilai indeks dominasi sebesar 22,0%, Sedangkan keanekaragaman pada katagori sedang, produktivitas cukup, kondisi ekosistem cukup seimbang serta tekanan ekologis sedang. Untuk nilai kemerataan menunjukan bahwa keseluruhan habitat pengamatan burung memiliki nilai kemerataan yang rendah dan nilai kekayaan jenis rendah

    PARAMETER FISIKA DAN KIMIA AIR KOLAM IKAN NILA HITAM (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Physical and Chemical Parameters of Water Fish Pond Black Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Water is a natural resource that is essential for the survival of humans and other creatures, role of water is essential for life on earth, especially fish in the water habitat. Fish need a comfortable environment in order to be healthy and growing optimally. Therefore, the water, used as a habitat of life for the fish, have certain requirements. So the quality of the water must be very noted. Tilapia is a freshwater fish that has a great tolerance towards the environment, therefore it is highly appreciated by fish farmers in Indonesia.  Study of physical and chemical parameters in water of  tilapia fish pond was done due to lack of review of water quality of tilapia fish pond. The review is based on a sampling of water, i.e. morning and afternoon. A review of the pond water quality was expected to assist fish farmers got information about the qualities of water of tilapia fish pond in physical and chemical characteristics.  The method of this research was Grab (momentarily) methods in water sampling. Testing of water samples in physics done visually for color parameters, temperature using a thermometer device, and brightness parameters was using the secchi disk. In testing the chemical parameters were measurement of pH was using a pH meter Winkler method was done  for the parameters of dissolved oxygen (DO). Titrimetric method was done  for the parameters of  total hardness, and  carbon dioxide, whereas for ammonia parameter was done  by spectrophotometric method were measured using UV-Vissible. After testing all the parameters then interpretation was done for the parameter data.  The results showed the water quality of tilapia fish pond in the area Laladon – Bogor was not  yet qualified for a good fish pond water based on ISO 7550: 2009 Product ion of tilapia growing  level in calm water pond,  for parameter Ammonia levels should be <0.02 mg / L, and based on PPNo.8, on water Quality Standard by 2001. The difference in the parameter levels in the morning and during the day due to the process of respiration at night by the aquatic organisms that produce CO2 gas and the process of photosynthesis during the day by plankton, microalgae, and other aquatic plants to produce a compound O2. The existence of other human activities during the day also affects the difference in the data levels in the morning and day time.Keywords: Tilapia, pond water qualityABSTRAK Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya, Peranan air sangat penting bagi makhluk hidup di bumi terutama ikan yang berhabitat di dalam air. Ikan membutuhkan lingkungan yang nyaman agar dapat hidup sehat dan tumbuh secara optimal. Oleh karena itu  air yang digunakan sebagai sumber kehidupan bagi ikan, memiliki persyaratan tertentu. Sehingga kualitas dari air harus sangat di perhatikan. Ikan nila merupakan ikan air tawar yang memiliki nilai toleransi yang besar terhadap lingkungannya sehingga sangat diminati oleh petani ikan di Indonesia. Studi parameter fisika dan kimia pada air kolam ikan nila dilakukan karena kurangnya peninjauan terhadap kualitas air kolam ikan nila. Peninjauan tersebut dilakukan berdasarkan waktu pengambilan sampel air, yaitu pada pagi dan siang hari. Peninjauan kualitas air kolam diharapkan dapat membantu para petani ikan mendapatkan informasi mengenai kelayakan kolam ikan nila secara fisika dan kimia.  Metode yang dilakukan penelitian ini adalah metode Grab (sesaat) untuk pengambilan sampel air. Pengujian sampel air secara fisika dilakukan secara visual untuk parameter warna, suhu dengan menggunakan alat pengukur suhu, dan metode secchi disk untuk parameter kecerahan. Pada pengujian parameter kimia dilakukan pengukuran pH dengan alat pengukur pH. Metode Winkler dilakukan untuk parameter dissolved oxygen (DO). Metode titrimetrik dilakukan untuk parameter s kesadahan total, dan karbondioksida, sedangkan untuk parameter ammonia dilakukan dengan metode spektrofotometri yang diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vissible. Setelah dilakukan pengujian semua parameter maka dilakukan interpretasi data hasil penelitian.  Hasil penelitian menunjukan kualitas air kolam ikan nila di daerah Laladon – Bogor belum memenuhi syarat untuk air kolam ikan yang baik berdasarkan SNI 7550:2009 Produksi ikan nila tingkat  pembesaran di kolam air tenang, untuk parameter Ammonia dengan kadar <0,02 mg/L, dan  berdasarkan Baku Mutu PPNo.82 tahun 2001. Terjadinya perbedaan kadar pada pagi dan siang hari dikarenakan terjadinya proses respirasi pada malam hari oleh organisme air sehingga menghasilkan senyawa CO2 dan terjadinya proses fotosintesis pada siang hari oleh plankton, mikroalga, dan tanaman air lainnya sehingga menghasilkan senyawa O2. Adanya aktifitas lain pada siang hari juga mempengaruhi terjadinya perbedaan kadar pada pagi dan siang hari.Kata kunci : Ikan nila, Kualitas air kola

    ISOLASI DAN KARAKTERISASI KOLAGEN DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.)

    Get PDF
    Isolation and Characterization of Collagen from the Skin of Catfish (Pangasius sp.)           Skin of catfish is one of aquatic by-products which could be used as an alternative source of collagen. This research is aimed to isolate and characterize collagen from skin of catfish. Methods of  isolation of collagen included three stages, the first was deproteinization using NaOH solution with concentration of 0.05 M; 0.10 M; 0.15 M; 0.20 M for 12 hours, the second was soaking in CH3COOH solution with concentration of 0.05 M; 0.10 M; 0.15 M; and 0.20 M for 2 hours, and the third was extraction in water at a temperature of 40 0C for 2 hours; characterization of collagen was included chemical and physical properties. The results showed that the best extraction method ofcollagen from skin of catfish was soaking the skin in 0.05 M NaOH solution for 12 hours and soaking the skin in 0.05 M acetic acid for 2 hours. Extraction yields of collagen was 12.15%. Chemical characteristics included proximate and amino acid composition. Proximate value of collagen consisted of moisture was 6.55%, ash 1.80%,  protein 64.74% and fat 8.85%.  The major amino acid composition of collagen were glycine, proline, alanine, arginine and glutamate. Physical characteristics of collagen resulted from FTIR analysis showed amide A, amide B, amide I, amide II and amide III, triple helical structure of the amide I and amide III indicates that the compound produced was collagen; color analysis was 66.39%; thermal analysis showed a melting temperature peak was 154.47 0C and pH value was 5.34.Keywords : Catfish, isolation, characterization, collagen, skin ABSTRAK          Kulit ikan patin merupakan salah satu limbah hasil perairan yang dapat digunakan sebagai sumber alternatif kolagen. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan karakterisasi kolagen yang diperoleh dari kulit ikan patin. Isolasi kolagen yang dilakukan meliputi tiga tahap, yaitu tahap pertama adalah proses deproteinisasi menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi, yaitu 0,05 M; 0,10 M; 0,15 M; 0,20 M dan lama waktu perendaman selama 12 jam; tahap kedua, yaitu perendaman dalam larutan CH3COOH dengan empat konsentrasi CH3COOH yaitu 0,05 M; 0,10 M; 0,15 M; dan 0,20 M dan lama waktu perendaman selama 2 jam; dan tahap ketiga, yaitu ekstraksi dengan air pada suhu 40 0C selama 2 jam; serta karakterisasi kolagen yang dilakukan, meliputi sifat kimia dan fisik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ekstraksi kolagen dari kulit ikan patin  terbaik diperoleh melalui proses perendaman kulit dalam larutan NaOH 0,05 M selama 12 jam dan  perendaman kulit dalam asam asetat 0,05 M selama 2 jam.  Rendemen serbuk kolagen yang dihasilkan sebesar 12,15 %. Karakteristik kimia meliputi proksimat dan komposisi asam amino. Nilai proksimat kolagen terdiri dari kadar air 6,55 %,  abu 1,80 %, protein 64,74 % dan lemak 8,85 %. Komposisi asam amino yang dominan pada kolagen adalah glisina, prolina, alanina, arginina dan glutamat. Karakteristik fisik kolagen yang dihasilkan adalah analisis FTIR menunjukkan adanya gugus amida A, amida B, amida I, amida II dan amida III, struktur triple heliks pada amida I dan amida III mengindikasikan bahwa senyawa yang dihasilkan adalah kolagen; analisis warna  yaitu 66,39 %; analisis termal yang menunjukkan suhu puncak pelelehan adalah 154,47 0C dan nilai pH kolagen yaitu 5,34. Kata kunci : Ikan patin, isolasi, karakterisasi, kolagen, kulitÂ

    PERSEPSI KELOMPOK TANI TERHADAP PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT “BUDIDAYA LEBAH MADU Apismellifera†DI TAHURA Ir. H. DJUANDA BANDUNG

    Get PDF
    One work program of the Central Management Forest ParkIr. H.Juandain 2013 is the empowerment of communities through activities Apismellifera bee keeping and mushroom cultivation tim berintended forrural communities around Forest ParkIr. H.Juandathe Village Langensari and Ciburial. The purpose of this researchis to find out the perceptions and attitudes offarmers' groups towards community empowerment programs around Forest Park. The results of the study explained that the perception of farmers' group is to agree with the holding of beekeeping program, where they already understand the importance of beekeeping for environmental conservation and increase their income. However, for the attitude of farmers' groups in the running in the category of low because farmers are not motivated to do beekeeping. due to limited feed, difficulties in the herd of bees, funding, technical assistance and efforts to address the threat

    PENGARUH LIMBAH CAIR TAMBANG BATUBARA TERHADAP KOMUNITAS MAKROZOOBENTHOS DI SUNGAI KARANG MUMUS

    Get PDF
    Limbah cair pertambangan batubara merupakan limbah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, termasuk komunitas makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk, mengetahui perbedaan komunitas makrozoobentos di bagian perairan Sungai dan mengetahui pengaruh limbah cair kegiatan pertambangan batubara pada kualitas perairan Sungai. Metode penelitian adalah penelitian kuatitatif dimana komunitas makrozoobentos yang diukur berdasarkan pengambilan sampel di lokasi stasiun-stasiun yang telah ditetapkan dan uji laboratorium. Pengolahan data mengunakan indeks Indeks Keanekaragaman (H'),Indeks Keanekaragaman Shannon – Wiene dan Indeks Dominansi (C). Hasil penelitian menunjukan bahwa limbah cair yang dihasilkan berperan dalam menurunkan kualitas air Sungai, ditandai dengan Indeks Keanekaragaman (H') pada stasiun I rata-rata 1,65 ; stasiun II Indeks Keanekaragaman (H') rata-rata 0; stasiun III Indeks Keanekaragaman (IT) rata-rata 1,08 ; stasiun IV Indeks Keanekaragaman (H') rata-rata 1,6 dan berdasarkan Indeks Keanekaragaman Shannon - Wiener diperoleh informasi bahwa stasiun I dan stasiun IV termasuk kategori perairan tercemar ringan, stasiun III termasuk kategori perairan tercemar sedang, dan stasiun II termasuk kategori perairan tercemar berat, perubahan parameter fisik kimiawi perairan akan mempengaruhi nilai indeks keanekaragaman jenis makrozoobentos dan indeks dominansi. Jenis makrozoobentos,  nilai Indeks Dominansi (C) rata-rata pada stasiun II merupakan nilai yang tertinggi yang didapatkan (C = 0,89), karena perairan air sungai sudah mulai terkena limbah pertambangan batubara, dan menyebabkan organisme makrozoobentos yang tidak toleran dengan pencemaran akan berpindah atau mati, sedangkan yang toleran terhadap pencemaran akan bertahan hidup. Jenis yang bertahan adalah kelompok Oligochaeta jenis Lumbriculus sp

    509

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Universitas Nusa Bangsa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇