eJournal Universitas Nusa Bangsa
Not a member yet
    534 research outputs found

    OPTIMASI PENAMBAHAN MADU SEBAGAI ZAT ANTI BAKTERI Staphylococcus aureus, PADA PRODUK SABUN MANDI CAIR

    Get PDF
    Optimization of the Addition of Honey as an agent of an Anti bacterial Agent Staphylococcus aureus in Production of Shower liquid soapThe study was begun with making the basic shower liquid soap, then aditing the honey with a variety of different concentrations. In this study, the addition of honey were 0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5% and 15%. After that tested the effectiveness of antibacterial agent microbiology. Then analyzing physical and chemical properties of liquid soap in accordance with SNI 06-4085-1996. The parameters tested were pH, viscosity, and density, test quantity foam, and test preferences. Optimal concentration of the addition of honey in a liquid bath soap to be able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus are at the level of 10%. When compared with Triclosan soap, shower liquid soap with the addition of honey 5% could compete with antibacterial properties of triclosan soap using a concentration of 0.3%. The addition of honey with various concentrations of honey affect the physical and chemical properties of liquid soap such as pH, viscosity, density, and the amount of foam.Keywords: Liquid Soap, Honey and bacteria Staphylococcus aureus   ABSTRAKPenelitian dimulai dengan melakukan pembuatan dasar sabun mandi cair, kemudian dilakukan penambahan madu dengan berbagai konsentrasi berbeda. Dalam penelitian ini dilakukan penambahan madu sampai lebih dari 5% yaitu 0%; 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5% dan 15%. Setelah itu dilakukan uji efektifitas dari zat antibakteri secara mikrobiologi. Kemudian dilakukan analisis terhadap sifat fisika dan kimia sabun mandi cair sesuai dengan SNI 06-4085-1996.  Parameter yang diuji adalah pH, viskositas, dan berat jenis, uji banyak busa, dan uji kesukaan. Konsentrasi optimal penambahan madu pada sabun mandi cair untuk bisa menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah pada taraf 10%. Bila dibandingkan dengan sabun Triclosan, sabun mandi cair dengan penambahan madu 5% dapat menyaingi sifat antibakteri dari sabun yang menggunakan Triclosan dengan konsentrasi 0,3%. Penambahan madu dengan berbagai konsentrasi berpengaruh kepada sifat fisika dan kimia dari sabun mandi cair seperti pH, viskositas, berat jenis, serta jumlah busa.Kata kunci :  Sabun Mandi Cair, Madu dan Bakteri Staphylococcus aureu

    PENURUNAN KADAR AMONIAK DAN FOSFAT LIMBAH CAIR TAHU SECARA FOTO KATALITIK MENGGUNAKAN TiO2 DAN H2O2

    Get PDF
    Decreasing of Amoniac and Phosphate Content of Tofu Wastewater by photocatalytic Using TiO2 And H2O2          The research reduction of ammonia and phosphate content of photocatalytic tofu wastewater by using TiO2 and H2O2 had been done. The aim of this research is to find out the optimum concentration of TiO2 and H2O2, reaction time to decrease ammonia and phosphate in tofu wastewater after treatment with photocatalytic reaction. The photocatalytic reaction was used to degradation of ammonia and phosphate with the radiation by UV lamp, photocatalyst and oxidant. The results are shown that of ammonia content in artificial waste was decreased, variation in the concentration of TiO2, H2O2, and time obtained the optimum concentration of 50 mg/L, 140 mg/L and the optimum time for 60 minutes with a percentage 72,18%, 86,00%, and 83.11%. The decrease of phosphate content, that found of variation in the concentration of TiO2, H2O2, and time obtained the optimum concentration of 100 mg/L, 160 mg/L and the optimum time for 300 minutes with a percentage 79,34%, 77,59% and 78,12% respectively. The photocatalytic treatment of the tofu waste water carried out the addition with aeration. Measurement level of ammonia in tofu wastewater without aeration and with aeration a percentage of decreased are 56.5% and 66.14%. Measurement of phosphate without aeration and with aeration a percentage of decrease are 47.03% and 53.30%. Concluded, ammonia and phosphate content in tofu wastewater can be decreased by photocatalytic with UV rays. Keywords: tofu wastewater, photocatalytic, ammonia, phosphate, TiO2, H2O2  ABSTRAK          Penelitian tentang penurunan kadar amoniak dan fosfat limbah cair tahu secara foto katalitik menggunakan TiO2 dan H2O2 telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi TiO2 dan H2O2 optimum, dan waktu reaksi terbaik untuk penurunan amoniak dan fosfat limbah cair tahu setelah pengolahan dengan reaksi foto katalitik. Reaksi foto katalitik digunakan untuk mendegradasi amoniak dan fosfat dengan bantuan sinar ultra violet, fotokatalis dan oksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar amoniak pada limbah buatan dengan variasi konsentrasi TiO2 dan H2O2 didapatkan konsentrasi optimum sebesar 50 mg/L dan 140 mg/L dengan persentase penurunan sebesar 72,18% dan 86,00%. Penurunan kadar fosfat dengan variasi konsentrasi TiO2 dan H2O2 didapatkan konsentrasi optimum sebesar 100 mg/L dan 160 mg/L dengan persentase penurunan sebesar 79,34% dan 77,59%. Pada variasi waktu didapatkan waktu terbaik selama 60 menit pada amoniak dan 300 menit pada fosfat dengan persentase penurunan sebesar 83,11% dan 78,12%. Pada perlakuan foto katalitik terhadap limbah cair tahu dilakukan aerasi. Pengukuran kadar amoniak limbah cair tahu tanpa aerasi dan aerasi didapatkan persentase penurunannya sebesar 56,50% dan 66,14%. Pengukuran kadar fosfat limbah cair tahu tanpa aerasi dan aerasi didapatkan persentase penurunannya sebesar 47,03% dan 53,30%. Disimpulkan bahwa kadar amoniak dan fosfat limbah cair tahu terjadi penurunan secara foto katalitik dengan bantuan sinar UV. Kata Kunci: limbah cair tahu, foto katalitik, amoniak, fosfat, TiO2, H2O

    PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN INDUSTRI PENGGERGAJIAN KAYU DI KECAMATAN CIGUDEG KABUPATEN BOGOR

    Get PDF
    Proses penggergajian merupakan proses yang awal dalam merubah kayu, dari yang masih berbentuk log menjadi kayu gergajian yang berbentuk balok, papan, tiang, bantalan dan betuk sortimen lainya. Untuk kegiatan merubah log menjadi kayu gergajian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat semaksimal mungkin memberikan keuntungan yang signifikan, yaitu dengan memberikan efektivitas terhadap produktivitas dan rendemen penggergajian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata produktivitas per jam per mesin dan rata-rata rendemen industri penggergajian kayu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dimana data produksi dan rendemen dilakukan pengukuran langsung serta wawancara dengan pemilik industri dan operator penggergajian. Hasil penelitian menunjukan produktivitas industri penggergajian di Cigudeg sebesar 0.87 m3/mesin/jam dengan rendemen penggergajian 56.52 %

    PEMETAAN SEBARAN Invasive Alien Species (IAS) KONYAL (Passiflora suberosa L) DI RESORT PEMANGKUAN TAMAN NASIONAL MANDALAWANGI , TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

    Get PDF
    Konyal (Passiflora suberosa L) is one of the IAS species and it’s are very big influence on the growth of endemic species in RPTN Mandalawangi. Konyal spread very quickly and can kill their host trees pose a major threat to endemic plant species. In connection with the distribution konyal, it is necessary the existence of a preventive step to support konyal control is to map the distribution of konyal in RPTN Mandalawangi to determine priority areas that must be controlled immediately.Mapping the distribution of IAS konyal (Passiflora suberosa L) was conducted to determine and identify konyal (Passiflora suberosa L) and its distribution. Later this study is expected to be a reference for management to control the distribution of konyal (Passiflora suberosa L

    RITME HARIAN KONSUMSI OKSIGEN INDUK IKAN MAS Cyprinus carpio DENGAN FOTOPERIODE KONTINYU 24 JAM

    Get PDF
    DIEL RHYTHM OF OXYGEN CONSUMPTION ON ADULT COMMON CARP Cyprinus carpio WITH CONTINUOUS 24-HOURS PHOTOPERIOD         Some external factors could affect the metabolism rate of fish. One of them is photoperiod which related to the length of day and night in a day. Based on that correlation, the experiment was conducted to determine the effects of photoperiod manipulation to the diel rhythm of oxygen consumption on adult common carp Cyprinus carpio. The experimental fish (total length: 29.2 ± 0.4 cm, total weight: 1295.8 ± 56.1 g) was observed in respirometer which connected in a closed recirculation system. The study was conducted with three replications with one individu in each replication. The water temperature and closed recirculation system was maintained at 20.2 ± 0.3oC. The photoperiod was set to 24 hours light : 0 hours of dark by using fluorescent lamp which lit continuously. The results showed that during 24 hours observation at 24 hours light: 0 hours dark condition, adult common carp has an oxygen consumption range of 24.5 - 29.1 mg O2/kg/h at 20oC. The average value of the lowest oxygen consumption occurred at 02.00 and 17.00 (24.5 ± 1.9 mg O2/kg/h). Meanwhile, the highest oxygen consumption value was recorded at 06.00 (29.1 ± 1.7 mg O2/kg/h). Based on data of oxygen consumption obtained from this study, no significant difference found between oxygen consumption of adult common carp during day and night with photoperiod manipulation. The activity and metabolism of adult common carp have changed with the change of photoperiod.Keywords: Common carp, Cyprinus carpio, oxygen consumption, photoperiod. ABSTRAK          Beberapa faktor eksternal dapat mempengaruhi laju metabolisme pada ikan. Salah satu diantaranya adalah fotoperiode yang berkaitan dengan lamanya siang dan malam dalam satu hari. Berdasarkan korelasi tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh manipulasi fotoperiode terhadap ritme harian konsumsi oksigen pada induk ikan mas Cyprinus carpio. Ikan uji (panjang total 29,2 ± 0,4 cm; bobot total 1295,8 ± 56,1 g) diamati di dalam respirometer yang terhubung dalam sistem resirkulasi tertutup. Penelitian dilakukan dengan tiga ulangan dengan masing-masing jumlah induk ikan sebanyak satu ekor. Suhu air dan sistem resirkulasi tertutup diatur pada suhu 20,2 ± 0,3oC. Fotoperiode diatur pada kondisi 24 jam terang : 0 jam gelap dengan menggunakan lampu fluorescent yang dinyalakan secara kontinyu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama pengamatan 24 jam kondisi 24 jam terang : 0 jam gelap, induk ikan mas memiliki kisaran konsumsi oksigen sebesar 24,5 - 29,1 mg O2/kg/jam di 20oC. Nilai rata-rata konsumsi oksigen terendah terjadi pada jam 02.00 dan 17.00, yaitu 24,5 ± 1,9 mg O2/kg/jam. Sedangkan nilai konsumsi oksigen tertinggi tercatat pada jam 06.00, yaitu 29,1 ± 1,7 mg O2/kg/jam. Berdasarkan data konsumsi oksigen yang diperoleh dari penelitian ini, tidak ditemukan adanya perbedaan nyata antara konsumsi oksigen induk ikan mas saat siang dan malam hari dengan adanya manipulasi fotoperiode. Aktivitas dan metabolisme induk ikan mas mengalami perubahan dengan adanya perubahan fotoperiode.Kata kunci: Ikan mas, Cyprinus carpio, konsumsi oksigen, fotoperiode

    STABILISASI WARNA KAYU TUSAM (Pinus merkusii Jungh. & de Vriese) DAN KEMIRI (Aleurites moluccanus (L.)Willd.)

    Get PDF
    Wood-Color Stabilization of Pine (Pinus merkusii Jungh. & de Vriese) and Pecan (Aleurites moluccanus (L.)Willd.)Wood Discoloration are generally caused by biological or non-biological factors in origin particulary for bright color wood such as pine and pecan. This paper evaluates the discoloration of normal pine wood (P. merkusii Jungh. & de Vriese) and pecan wood (Aleurites moluccanus (L.) Willd.) and find appropriate chemical treatments to maintain its natural wood color. Chemical treatments studied includes sodium suphite (SS), sodium bicarbonate (SB), sodium chloride (SC), stannous chloride(ST), and methylene bis thiocyanate (MBT) each solution with level of 2, 3, and 4%. Wood color value before and after chemical treatments were measured using CDX’s colour differencemeter based on three-dimensional color value CIELab (L*, a*, b*). Research showed that pine wood had a brightness value (L *) higher than the pecan wood. Value L * in between pine wood ranged from 70.6 to 78.1 (SB, Outdoor-MBT, indoor), while at pecan wood was from 56.6 to 72.6 (SB, Outdoor-Untreated). The value of the color difference (ΔE) obtained the highest onthe stannous chloride brushed wood and the lowest value was found on untreated. In other chemical treatment had a more low moreΔE value, thus maintaining the hearts potentially natural color of wood.Keywords: Wood species, brightness value (L*), color difference value (∆E*), color degradation, blue stain   ABSTRAKDegradasi warna disebabkan oleh faktor-faktor biologis atau non-biologis khususnya pada kayu berwarna cerah seperti pinus dan kemiri. Tulisan ini mengevaluasi degradasi warna kayu pinus (P. merkusii Jungh. & de Vriese) dan kayu kemiri (A. moluccanus (L.) Willd.) normal, dan mempelajari bahan kimia dan metode yang tepat untuk mempertahankan warna alami kayu. Larutan kimia yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sodium sulfit (SS), sodium bikarbonat (SB), sodium klorida (SC), stanium klorida (ST), dan metilen bistiosianat (MBT) masing-masing dengan kadar 2, 3, dan 4%. Nilai warna kayu sebelum dan sesudah perlakuan diukur menggunakan alat pengukur warna Colour Difference Meter CDX menggunakan sistem tiga dimensi CIE Lab (L*, a*, b*). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu tusam memiliki nilai kecerahan (L*) lebih tinggi dibandingkan dengan kayu kemiri. Nilai L* pada kayu tusam berkisar antara 70,6-78,1 (SB, di luar ruangan-MBT, di dalam ruangan), sedangkan pada kayu kemiri adalah 56,6-72,6 (SB, di luar ruangan-kontrol). Nilai perbedaan warna (ΔE) tertinggi didapatkan pada kayu yang dilabur stanium klorida dan nilai yang terendah dijumpai pada kontrol. Pada perlakuan kimia lainnya memiliki nilai ΔE lebih rendah, sehingga berpotensi dalam mempertahankan warna alami kayu.Kata kunci: Jenis kayu, nilai kecerahan, nilai perbedaan warna, degradasi warna, jamur bir

    PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DALAM AIR, KADAR PATI DAN KADAR LIGNIN TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK BAMBU AMPEL (Bambusa vulgaris Schard)

    Get PDF
    The effect of immersion time in the water, starch and lignin content physical and mechanical properties of Ampel bamboo (Bambusa vulgaris Schard)The studied effect of immersion time in the water on physical and mechanical properties of ampel bamboo had been studied  at the Forest Products Research and Development Center Bogor. Round Bamboo of ampel species (Bambusa vulgaris Schard) a length of 50 cm was immersed in running water, stagnant and in the sludge for 7, 14, 21 and 28 days. Then the changes in starch and lignin content, physical and mechanical properties were evaluated. The physical properties studied were evaluated density and moisture content, while mechanical properties were bending and parallel tensile strength of fiber. The results showed that the media and immersion time significantly affect the density and moisture content, but did not affect the physical and mechanical properties. Increased starch content in a variety of treatments, especially on immersion in water, otherwise the lignin content decreases, causing a decrease in the nature of Modulus of Elasticity (MOE) and Modulus of Rupture (MOR). Immersion in stagnant water better than by soaking in the mud and in running water.Keywords: Bambusa vulgaris Schard,  media, immersion time, physical and mechanical properties ABSTRAKPenelitian pengaruh waktu perendaman dalam air terhadap sifat fisik dan mekanik bambu ampel (bambusa vulgaris) telah dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor. Bambu bulat berukuran panjang 50 cm direndam dalam air mengalir, tergenang dan lumpur selama 7, 14, 21 dan 28 hari, kemudian diamati perubahan kadar pati,diuji sifat fisik dan mekaniknya. Sifat fisik yang diteliti adalah kerapatan dan kadar air, sedangkan sifat mekanik adalah keteguhan lentur dan tarik sejajar serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media dan waktu rendaman berpengaruh nyata terhadap kerapatan dan kadar air, tetapi tidak berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu yang diteliti. Kadar pati meningkat pada berbagai perlakuan terutama pada rendaman dalam air mengalir, sebaliknya kandungan lignin menurun sehingga menyebabkan penurunan sifat Modulus elastisitas (MOE) dan keteguhan lentur maksimum (MOR). Perendaman dalam air tergenang lebih baik dibandingkan dengan cara perendaman dalam lumpur maupun dalam air mengalir.Kata kunci : Bambusa vulgaris Schard, media, waktu perendaman, sifat fisis dan mekani

    KAJIAN PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN EKOWISATA BAHARI DI PULAU PRAMUKA TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU

    Get PDF
    The study was conducted at Scout Island Thousand Islands National Park (TNKpS). This study educational facilitiesas well asto know the management and development of marine aims to explore the potential of ecotourism in marine TNKpS Scout Island as a tourist attraction and ecotourism in TNKpS Scout Island. Research activities carried out at Scout Island Thousand Islands National Park (TNKpS). Research conducted from March to April 2013. Data processing wasperformed using Travel Attractions Assessment (2007) and subsequently analyzed using SWOT. SWOT analysisis used to determine the priority of alternative strategies most appropriate development carried out with consideration of internal and external factors. Internal factors are the strengths and weaknesses while the external factors are opportunities and threats

    PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM KONSERVASI HUTAN MANGROVE DI WILAYAH TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

    Get PDF
    Salah satu aspek penting dari pembangunan berkelanjutan adalah partisipasi masyarakat lokal yang mengikuti. Di daerah perkotaan, partisipasi seperti itu diperlukan dalam konservasi hutan mangrove untuk mendukung pengembangan daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya konservasi yang dilakukan hutan bakau oleh masyarakat lokal yang berada di daerah perkotaan. Metode yang digunakan adalah studi kasus, di mana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menerapkan  pengetahuan  ekologi traisional dan  mendirikan  institusi  sehingga  pelestarian  mangrove tetap  terjaga. Pemerintah kota dan perusahaan lokal juga memainkan peran dengan mendukung upaya-upaya dibuat oleh komunitas loka

    POTENSI SERAPAN KARBON DI JALUR HIJAU KOTA BOGOR

    Get PDF
    Karbondioksida (CO2) di atmosfer dapat diserap oleh pohon melalui proses fotosintesis. Tanaman atau pohon berfungsi sebagai tempat penimbunan dan pengendapan karbon dan istilah ini di sebut rosot karbon. Keberadaan pohon di jaur hijau kawasan perkotaan memegang peranan penting sebagai serapan karbon. Untuk itulah maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah pohon, mengetahui jumlah emisi kendaraan bermotor serta mengetahui potensi serapan karbon. Penelitian menggunakan metode sensus terhadap tegakan yang ada. Untuk analisa data, perhitungan biomassa permukaan tegakan menggunakan persamaan allometrik untuk mengukur biomassa pohon dan   analisa serapan karbon dihitung dengan menggunakan formula carbon stock. Hasil penelitian menunjukakan bahwa potensi serapan karbon di jalur hijau Kota Bogor ditemukan 14 jenis pohon dengan jumlah pohon 1357 pohon yang terbagi dalam dua jalan yaitu jalan kh.sholeh iskadar yaitu sebanyak 523 dan di jalan pajajaran sebanyak 834. Total emisi kendaraan bermotor jalan kh.sholeh iskandar sebesar 31780 kg/jam sedangkan di jalan pajajaran sebesar 40908 kg/jam. Potensi serapan karbon sebesar 2317,03 kg, sedangkan di jalan pajajaran sebesar 7780,79 kg. Sisa emisi karbon dioksida di jalan kh.sholeh iskandar sebesar 29462,97 kg/jam serta  untuk kebutuhan pohon di jalan kh.sholeh iskandar sebanyak 6949 batang. Sisa emisi karbon dioksida di jalan pajajaran sebesar 33119.25 kg,jam  dan kebutuhan pohon di jalan pajajaran sebanyak 1348 batang

    509

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Universitas Nusa Bangsa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇