eJournal Universitas Nusa Bangsa
Not a member yet
    534 research outputs found

    IDENTIFIKASI RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BOGOR DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

    Get PDF
    Salah satu darnpak perkembangan jumlah penduduk kota adalah terjadinya konversi lahan. Konversi ruang terbuka hijau (RTH) menjadi fasilitas bangunan menyebabkan terjadi pencemaran di kota.. Keberadaan RTH memiliki manfaat cukup besar dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup kota, seperti sebagai pengendali iklim mikro. Untuk itulah tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesesuaian luasan dan jenis RTH publik di Kota Bogor, mengidentifikasi distribusi RTH publik di Kota Bogor dan mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan dan kelestarian fungsi RTH publik di Kota Bogor. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan spasial kawasan RTH publik Kota Bogor menggunakan aplikasi SIG yaitu Arc GIS 10.1 dan citra satelit Ikonos tahun 2014 untuk penginderaan jauh. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas RTH publik yang ada di Kota Bogor adalah 1.199,42 Ha atau 10,12% dari luas kota hal ini belum sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, jenis RTH publik Kota Bogor yang terdiri dari 11 jenis RTH publik, presentase RTH publik per kecamatan di Kota Bogor, dan faktor yang berpengaruh pada keberadaan RTH publik

    PENGARUH PENCUCIAN TERHADAP KADAR KLORIDA PADA PROSES PEMBUATAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii

    Get PDF
    Washing Effects of Chloride Content in Process of Making Carrageenan of Seaweed, Eucheuma cottoniiThis study was conducted experimentally using Completely Randomized Design (CRD) with three (3) of standard treatments and three (3) replications. Stages of treatments included: Extraction of seaweed with three stages: extraction of seaweed with normal washing process, the twice extraction of the seaweed with laundering at the beginning, and four times extraction of the seaweed with the washing at the end. Drying of seaweed extraction, milling of dried seaweed to be come carrageenan, and filtering. Carrageenan screening results conducted to determine the yield, test physical parameters such as viscosity, pH, water content, the gel strength, and ash content. And also test the chemical parameters such as levels of sulphate and chloride levels (as cleaning KCl based). The results showed that the washing process four times in the end give chloride levels (as KCl based cleaning) was lowest with an average of 0,16%, compared to the treatment washing process twice in the beginning with an average of 0,33%. And the manual process of KCl based cleaning with an average of 0,49% therefore the normal process of providing value levels of chloride as KCl based cleaning was the highest. The results of the study concluded that the washing process at the beginning and at the end, affect the chloride levels based cleaning obtained at below 2%. The washing process that can be used for the manufacture of carrageenan of the seaweed (Eucheuma cottonii) were the best in the washing process four times at the end.Keywords: Eucheuma cottonii, leaching, chloride, carrageenan  ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) taraf perlakuan masing-masing 3 (tiga) kali ulangan. Tahapan kerja meliputi: Ekstraksi rumput laut dengan tiga tahapan yaitu ekstraksi rumput laut dengan proses pencucian normal, ekstraksi rumput laut dengan pencucian di awal sebanyak dua kali, dan ekstraksi rumput laut dengan pencucian di akhir sebanyak empat kali. Pengeringan hasil ekstraksi rumput laut, penggilingan rumput laut kering hingga menjadi karaginan, dan penyaringan. Hasil penyaringan karaginan dilakukan penentuan rendemen, uji parameter fisik seperti viskositas, pH, kadar air, kekuatan gel, dan kadar abu. Serta uji parameter kimia seperti kadar sulfat dan kadar klorida sebagai KCl dry based. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan proses pencucian empat kali di akhir memberikan nilai kadar klorida sebagai KCl dry based terendah dengan rata-rata 0,16%, dibandingkan dengan perlakuan proses pencucian dua kali di awal dengan rata-rata 0,33%, dan proses manual (sebagai KCl dry based) dengan nilai rata-rata 0,49%, jadi proses normal memberikan nilai kadar klorida (sebagai KCl dry based) yang menghasilkan nilai tertinggi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa proses pencucian di awal dan di akhir, berpengaruh terhadap kadar klorida dry based yang diperoleh yaitu di bawah 2 %. Proses pencucian yang dapat digunakan untuk pembuatan karaginan dari rumput laut Eucheuma cottonii yang terbaik yaitu proses pencucian empat kali di akhir.Kata kunci :  Eucheuma cottonii, pencucian, klorida, karagina

    KEANEKARAGAMAN JENIS PAKAN BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus) PADA HABITAT RUMPANG DI RESORT CITELANG TAMAN NASIONAL UJUNG KULON PANDEGLANG BANTEN

    Get PDF
    Badak Jawa merupakan satwa endemik jawa yang dilindungi dalam Red List Data Book IUCN tahun 2008 dengan kategori critically endangered atau satwa yang terancam punah. Badak jawa juga terdaftar dalam Apendiks I CITES sebagai satwa yang tidak boleh diperdagangkan karena jumlahnya yang sudah sedikit. Badak jawa saat ini terkonsentrasi di wilayah Semenanjung ujung kulon dengan luasan 38.543 ha, Banyak hal yang mengancam keberadaan badak jawa saat ini, salah satunya jenis tanaman invansif langkap (Arenga obsitufolia) yang telah merambah di habitat badak jawa salah satunya di resort citelang dan mempengaruhi ketersediaan pakan badak jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekeragaman jenis pakan Badak Jawa di area  rumpang. Metode penelitian ini adalah pengambilan data vegetasi secara purposive sampling dengan menggunakan metode garis berpetak pada habitat rumpang wilayah Resort Citelang dengan intensitas sampel 0,5% dari luasan seluruh rumpang yang terdapat di wilayah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan tumbuhan pakan badak jawa yang didominasi oleh Tepus pada tingkat tumbuhan bawah dan Sulangkar di tingkat semai dan pancang, serta ditemukan tumbuhan invasif langkap pada setiap tingkat kecuali tingkat pohon

    Analisis Aksi Kolektif Pemasaran Dusung Buah-Buahan

    No full text
    Aksi kolektif diartikan sebagai suatu aksi yang dilakukan berkelompok (baik secara langsung maupun melalui suatu organisasi), untuk mencapai kepentingan bersama. Aksi kolektif akan mudah diidentifikasi ketika kelompok tersebut mendefinisikan secara jelas batasan/aturan yang menjadi bagian kelompok itu. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana menciptakan aksi kolektif diantara petani buah dalam upaya mengatasi masalah pemasaran buah local. Penelitian ini didesain dengan pendekatan studi kasus dimana pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD) dengan beberapa petani buah yang telah teridentifikasi. Analisis data menggunakan Ostrom’s design principles teori Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa saluran pemasaran hasil buah-buahan memiliki 2 skema pola pemasaran yaitu 1). Petani ke tengkulak/pengumpul langsung ke penjual di pasar dan berakhir di konsumen dan 2). Dari Petani langsung dijual ke konsumen. Sebagai upaya mengatasi persoalan pemasaran, petani sangat memerlukan katalisasi aksi kolektif dimana yang perlu dilakukan yaitu menghormati dan bekerja dengan institusi yang ada di sekitar petani, petani perlu menyatukan pengetahuan setempat yang mereka miliki dengan pengetahuan luar serta membuat mata rantai di antara para aktor yang berkepentingan bagi pengembangan dusun

    IDENTIFIKASI PENYAKIT LAYU PADA BIBIT GMELINA (Gmelina arborea Roxb.) DI PERSEMAIAN DAN UJI ANTAGONISME Trichoderma sp. SECARA IN-VITRO

    Get PDF
              Gmelina seedlings which were 1.5 months age in the nursery Center for Reseacrh and Development Forests Bogor were attacked by wilt disease over 4.27%. The purpose of study were to determine the patoghens that cause the wilt disease in the nursery and to study the antagonist Trichoderma sp. against the pathogen causing wilt by in vitro as control efforts. The identification result of disease causing wilt on the gmelina seedlings was pathogenic fungus namely Fusariumi sp. The percentage of antagonist test on Trichoderma harzianum (THA) and Trichoderma Cipanas (TC) inhibiting against Fusarium sp. were 40.31% and 33.55%, respectively.Keywords: Antagonistic, gmelina seedlings, Fusarium sp., wilt diseaseABSTRAK          Bibit gmelina umur 1,5 bulan di persemaian Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor mengalami serangan penyakit layu dengan persentase serangan sebesar 4,27%. Penelitian dilakukan untuk mengetahui patogen yang menyebabkan penyakit layu tersebut di persemaian dan melakukan uji antagonis Trichoderma sp.dengan patogen penyebab layu secara in-vitro sebagai upaya pengendaliannya. Hasil identifikasi penyebab penyakit layu pada bibit gmelina adalah cendawan patogen yaitu Fusarium sp. Sedangkan hasil uji antagonisme Trichoderma sp. berturut-turut Trichoderma harzianum (THA) dan Trichoderma Cipanas (TC) memiliki daya hambat terhadap Fusarium sp. sebesar 40,31% dan 33,55%.Kata kunci: Antagonis, bibit gmelina,Fusarium sp., penyakit lay

    STUDI DINAMIKA SENYAWA FOSFAT DALAM KUALITAS AIR SUNGAI CILIWUNG HULU KOTA BOGOR

    Get PDF
    Study of Dynamics of Phosphate in the Water Quality in Bogor of Upstream Ciliwung RiverCiliwung River has existed and become an important part of the community since ancient period. Since 2009, the Ciliwung River has been polluted condition from upstream. One of the pollutant that could decrease the quality of river water was phosphate. Excessive phosphate level in water bodies caused nutrient enrichment conditions (eutrophication). The presence of nitrate supporting phosphate also caused algae blooming, one of the environmental problem. The research was conducted to determine the dynamics of the phosphate compound of Ciliwung River whether the pollution was reduced, same, or worse. The research included sampling of river water at three points of Katulampa, Pasar Bogor, and Warung Jambu River with sampling time interval of 8 hours in a day for 3 weeks in a row. The data of phosphate and nitrate concentration were measured and compared to the results in PP No.82 year 2001. The total of phosphate in Ciliwung river water has exceeded threshold level in accordance with the environmental quality standard of PP. 82 year 2001, and has been indicated to be in eutrophication condition.Keywords: Ciliwung River, Water Quality, Water Pollution, Phosphate.ABSTRAKSungai Ciliwung telah ada dan menjadi bagian penting masyarakat sejak zaman purba. Namun seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan pesat, sejak tahun 2009 Sungai Ciliwung telah tercemar dari hulu. Salah satu polutan yang bisa menurunkan kualitas air sungai adalah fosfat. Keberadaan fosfat yang berlebihan di badan air dapat menyebabkan kondisi pengayaan nutrisi (eutrofikasi), dan dengan dukungan nitrat dapat menyebabkan algae blooming yang menjadi salah satu masalah lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dinamika senyawa fosfat Sungai Ciliwung apakah pencemarannya berkurang, sama, atau lebih buruk. Ruang lingkup penelitian meliputi pengambilan sampel air sungai pada tiga titik Katulampa, Pasar Bogor, dan Warung Jambu dengan interval waktu sampling 8 jam dalam sehari, dan dilakukan setiap minggu selama 3 minggu berturut-turut. Kemudian dilakukan analisis sampel di laboratorium, serta interpretasi data dengan membandingkan hasilnya terhadap PP No.82 tahun 2001. Nilai total fosfat di air sungai Ciliwung Hulu tidak memenuhi standar kualitas lingkungan PP. 82 tahun 2001, dan diindikasikan berada dalam kondisi eutrofikasi.Kata kunci: Sungai Ciliwung, Kualitas Air, Polusi Air, Fosfat

    SERANGAN BOKTOR (Xystrocera festiva Pascoe) DAN KARAT TUMOR (Uromycladium tepperianum (Sacc.) McAlpine) PADA SENGON (Falcataria mollucana (Miq.) DI PERKEBUNAN TEH CIATER

    Get PDF
              Sengon has become one of the preferred tree because it has many advantages over other commercial tree species. It was widely cultivated with a monoculture system, like agricultural cultivation. The consequence of monoculture planting system was the unstable microclimate environment, so the ecosystem was susceptible to the pest and disease explosion. As happens at the Ciater plantation site, sengon plants were attacked by pests and diseases. The purpose of research were to study the extent data and intensity of boktor pests and tumor rust disease, boktor pest and bioecological behavior causing tumor rust on sengon as a protective and shade plant. The percentage and intensity of attacks caused by boktor pests and tumor rust disease was relatively high. The lowest percentage of boktor attacks was 40% and the highest was 90%. It could be categorized as serious severity, even dead plants. The percentage and intensity of the attacks indicated that the pests living on sengon could thrive in suitable food sources. Likewise with the percentage and intensity of attacks caused by rust disease has reached 100%, so it could be categorized as the level of damage was high.Keywords: boktor pests, intensity of attack, percentage, sengon, tumor rust disease . ABSTRAK          Sengon salah satu pohon yang memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis pohon lainnya dan banyak dibudidayakan secara luas dengan sistem monokultur seperti budidaya pertanian. Konsekuensi sistem tanam monokultur adalah lingkungan mikroklimat yang tidak stabil, sehingga ekosistemnya rentan terhadap hama dan penyakit. Tujuan dari penelitian ini, untuk memperoleh data luas dan intensitas serangan hama boktor dan penyakit karat tumor, perilaku hama boktor dan bioekologi penyebab penyakit karat tumor pada sengon. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual setiap tegakan yang terserang oleh hama boktor dan penyakit karat tumor. Persentase dan intensitas serangan akibat hama dan penyakit ini relatif tinggi, untuk hama boktor persentase dan intensitas terendah 40% yang tertinggi 90%, sehingga dapat dikategorikan tingkat keparahan berat, bahkan ada tanaman yang mati. Persentase dan intensitas serangan tersebut menunjukkan bahwa hama yang hidup pada tegakan sengon berkembang dengan sumber makanan yang cocok. Begitu juga dengan persentase dan intensitas serangan akibat penyakit karat tumor sudah mencapai 100%, sehingga dapat dikategorikan tingkat keparahan yang tergolong berat. Kata Kunci : boktor, intensitas serangan, karat tumor, persentase serangan, sengon

    PERAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KELURAHAN SELOPURO KECAMATAN BATUWARNO KABUPATEN WONOGIRI

    Get PDF
    Peran modal sosial yang dimiliki masyarakat mendorong pengelolaan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menjelaskan peran modal sosial masyarakat dalam pengelolaan hutan rakyat di Kelurahan Selepuro Kecamatan Batuwarno Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survai, dimana pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara menggunakan kuesioner kepada responden. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran modal sosial masyarakat di Kelurahan Selopuro tergolong tinggi. Dengan demikian, peran modal sosial yang kuat akan mendorong pengelolaan hutan yang lebih baik

    PENGEMBANGAN PROGRAM EKOWISATA DI RESORT MANDALAWANGI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT

    Get PDF
    Development of Ecotourism Program at Resort of Mount Gede Pangrango Mandalawangi National Park (TNGGP) is done by optimizing the supply of tourist collaborated with tourist demand. Tourism resource most interesting at Resort Mandalawangi namely Puncak Gunung Gede - Pangrango then others are rare animals such as Leopards java (Panthera pardus) is the key species and Javan Gibbon (Hylobates Molloch) as a flagship species, as well as waterfalls, crater, Blue Lake, and Gayonggong Swamp. Social and cultural potential of a pattern of community life Sundanese-oriented agriculture as well as the existence of the mythical legend of the kingdom in TNGGP. Visitors dominant male, student status with the last education of SMP / MTs, 16-20-year-old, from Bekasi to have the motivation tends to settle for pleasure. Assess visitors tend not to know that TNGGP have ecotourism program that School Visit, Visit to School, Conservation Camp, Local Content Filling Material Environmental Education / Nature Conservation and Environmental Education for Teachers, Farmers, and the Young Generation. The concept of program development of ecotourism in Resort Mandalawangi using the theme "TNGGP, Cultured Conservation Area". This concept will focus on the utilization of resources and nature taking into consideration the safety of visitors as well as integrate with shades of Sundanese culture around tourism area Cibodas. Another aspect that needs to be developed to support the promotion of ecotourism programs, establish Sundanese cultural nuances and supporting infrastructure at KWC, strengthening human resources ecotourism program managers

    KANDUNGAN FITOKIMIA DAN SENYAWA KATINON PADA DAUN KHAT MERAH (Catha edulis)

    Get PDF
    Phytochemical Content and Katinon Coumpound in Red Khat (Catha edulis) Leaves          Khat Plant (Catha edulis) belongs to the Celastraceae family that originated in East Africa and the Arabian plateau. Khat plant has green leaves with finely toothed oval shape resembling betel leaves and fragrant. The active component Khat leaves was cathinone which is an alkaloids group. Cathinone which has the chemical formula of 2-amino-1-phenyl propanone is often referred to as a natural amphetamine because it produced effects like amphetamine that could penetrate the nervous system , adrenaline and as stimulant. The purpose of this study was to identify phytochemical compounds in red khat leaves (Catha edulis) using gas chromatography-mass spectra. The results showed that extracts of red leaf khat (Catha edulis) contained of secondary metabolites, they were alkaloids, phenolics, glycosides, steroids / triterpenoids, flavonoids, tannins and saponins. Based on the identification of khat leaf extract (Catha edulis) at pH 8, 9 and 10 showed the presence of katin compounds at different concentrations, while the cathinone compounds were not identified at all three types of the extract.Keywords : Catha edulis, phytochemical ,metabolite secondary, gas chromatography-mass spectra ABSTRAK          Tanaman Khat (Catha edulis) termasuk dalam famili Celastraceae yang berasal dari Afrika Timur dan dataran Arab. Tanaman Khat memiliki daun berwarna hijau bergerigi halus dengan bentuk oval menyerupai daun sirih, dan berbau harum.  Komponen aktif daun Khat yaitu katinona merupakan senyawa kimia golongan  alkaloid. Katinona dengan rumus kimia 2-amino-1-fenil propanon sering disebut sebagai amfetamin alami  karena menghasilkan efek seperti amfetamin yang bisa menembus susunan saraf pusat, memacu adrenalin dan stimulansia. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kandungan senyawa fitokimia dan katinon dalam daun khat merah (Catha edulis) menggunakan kromatografi gas spektra massa .Hasil penelitian menunjukan serbuk simplisia daun khat merah (Catha edulis) mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, fenolik, glikosida, steroid/triterpenoid, flavonoid, tanin serta saponin. Berdasarkan identifikasi ekstrak daun khat merah (Catha edulis) pada pH 8, 9 dan 10 menggunakan KG-SM menunjukan adanya senyawa katin pada konsentrasi yang berbeda, sedangkan senyawa katinona tidak ditemukan pada ke tiga jenis pH ekstrak tersebut.Kata kunci : Catha edulis, fitokimia, metabolit sekunder, kromatografi gas-spektra mass

    509

    full texts

    534

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Universitas Nusa Bangsa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇