Electronic Journals of UIKA Bogor (Universitas Ibn Khaldun)
Not a member yet
6827 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI PENDAFTARAN TANAH WAKAF DI INDONESIA
Pendaftaran tanah wakaf di Indonesia merupakan elemen kunci dalam memberikan kepastian hukum atas tanah yang diwakafkan sekaligus memastikan pengelolaan yang optimal sesuai dengan syariat Islam dan hukum negara. Proses pendaftaran mencakup beberapa tahapan, mulai dari ikrar wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), pembuatan Akta Ikrar Wakaf (AIW), pengajuan dokumen ke Kantor Pertanahan, verifikasi dokumen, hingga penerbitan sertifikat tanah wakaf. Penelitian ini menganalisis prosedur pendaftaran tersebut, mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaannya serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas proses pendaftaran meskipun regulasi telah diatur dengan baik, terdapat beberapa hambatan, termasuk kurangnya kesadaran masyarakat, kompleksitas administrasi, dan adanya kasus tanah yang belum bersertifikat. Disarankan langkah-langkah strategis, seperti peningkatan edukasi, penyederhanaan prosedur administratif, digitalisasi sistem, dan penguatan peran nazhir untuk mendukung sistem pendaftaran tanah wakaf yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kata Kunci: Pendaftaran, tanah wakaf, Hukum Wakaf, Undang-Undang Wakaf, prosedur administratif
Analisis metode pendidikan adab anak kepada orang tua dalam kitab Adab Al Mufrad
Education of children's manners to parents is an important aspect in character building, but is often neglected in educational practices both at home and at school. This study aims to analyze the educational methods of children's manners to parents based on the perspective of the book of Adab al-Mufrad by Imam al-Bukhari. This research uses a qualitative approach with the content analysis method of the relevant hadith texts in the book. The results showed that there are twelve methods of adab education that can be applied to children, including: the method of interesting communication, prayer as a form of affection, the method of silence and listening, raising the voice in teaching, advice, parables, recording, exemplary, dialog (hiwar), reinforcement (takrir), stories, and the method of targhib and tarhib. All of these methods show that adab education in Islam is holistic and applicable. These findings can be utilized by parents and educators as guidelines in instilling the values of manners to children from an early age.
Abstrak
Pendidikan adab anak kepada orang tua merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter, namun sering terabaikan dalam praktik pendidikan baik di rumah maupun di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode pendidikan adab anak kepada orang tua berdasarkan perspektif kitab Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) terhadap teks-teks hadis yang relevan dalam kitab tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua belas metode pendidikan adab yang dapat diterapkan kepada anak, di antaranya: metode komunikasi yang menarik, doa sebagai bentuk kasih sayang, metode diam dan mendengarkan, mengeraskan suara dalam pengajaran, nasihat, perumpamaan, pencatatan, keteladanan, dialog (hiwar), penguatan (takrir), kisah, serta metode targhib dan tarhib. Keseluruhan metode ini menunjukkan bahwa pendidikan adab dalam Islam bersifat holistik dan aplikatif. Temuan ini dapat dimanfaatkan oleh orang tua dan pendidik sebagai pedoman dalam menanamkan nilai-nilai adab kepada anak sejak dini.Education of children's manners to parents is an important aspect in character building, but is often neglected in educational practices both at home and at school. This study aims to analyze the educational methods of children's manners to parents based on the perspective of the book of Adab al-Mufrad by Imam al-Bukhari. This research uses a qualitative approach with the content analysis method of the relevant hadith texts in the book. The results showed that there are twelve methods of adab education that can be applied to children, including: the method of interesting communication, prayer as a form of affection, the method of silence and listening, raising the voice in teaching, advice, parables, recording, exemplary, dialog (hiwar), reinforcement (takrir), stories, and the method of targhib and tarhib. All of these methods show that adab education in Islam is holistic and applicable. These findings can be utilized by parents and educators as guidelines in instilling the values of manners to children from an early age.
Abstrak
Pendidikan adab anak kepada orang tua merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter, namun sering terabaikan dalam praktik pendidikan baik di rumah maupun di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode pendidikan adab anak kepada orang tua berdasarkan perspektif kitab Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) terhadap teks-teks hadis yang relevan dalam kitab tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua belas metode pendidikan adab yang dapat diterapkan kepada anak, di antaranya: metode komunikasi yang menarik, doa sebagai bentuk kasih sayang, metode diam dan mendengarkan, mengeraskan suara dalam pengajaran, nasihat, perumpamaan, pencatatan, keteladanan, dialog (hiwar), penguatan (takrir), kisah, serta metode targhib dan tarhib. Keseluruhan metode ini menunjukkan bahwa pendidikan adab dalam Islam bersifat holistik dan aplikatif. Temuan ini dapat dimanfaatkan oleh orang tua dan pendidik sebagai pedoman dalam menanamkan nilai-nilai adab kepada anak sejak dini
Upaya peningkatan motivasi kegiatan keagamaan melalui pembentukan suasana religius di SMP Muhammadiyah Adiwerna
In today’s digital era, religious education serves as an essential shield against various negative social phenomena. In the field of education, religious education is crucial not only to introduce norms and values but also to be internalized in daily life. To make religious education more impactful, it should go beyond theoretical instruction and be balanced with direct implementation. Religious activities in schools help create a religious atmosphere that enhances students’ motivation to learn.This study examines religious activities at Muhammadiyah Adiwerna Junior High School, Tegal Regency, using a descriptive qualitative approach. Data collection was conducted through direct observation and interviews with the principal, vice principal, religious subject teachers, and student representatives from grades 7, 8, and 9. The findings indicate that the school fosters religious values through activities such as 5S Culture (Smile, Greet, Salam, Politeness, and Courtesy), morning Quran recitation, Dhuha prayer, mandatory Dzuhur prayer in congregation, and utilizing the mosque as the center of religious education. These practices significantly enhance students’ motivation and positively impact their academic performance. This study highlights the importance of integrating religious education into daily school activities, demonstrating its role in shaping students' character and improving learning outcomes.
Abstrak
Di era digital saat ini, pendidikan agama berperan sebagai perisai penting terhadap berbagai fenomena sosial negatif. Dalam dunia pendidikan, pendidikan agama tidak hanya berfungsi untuk mengenalkan norma dan nilai, tetapi juga harus diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Agar lebih berpengaruh, pendidikan agama harus melampaui pembelajaran teoretis dan diseimbangkan dengan implementasi langsung. Kegiatan keagamaan di sekolah membantu menciptakan suasana religius yang meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini mengkaji kegiatan keagamaan di SMP Muhammadiyah Adiwerna, Kabupaten Tegal, dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung serta wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran agama, dan perwakilan siswa kelas 7, 8, dan 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah membangun nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan seperti Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), tadarus pagi, shalat Dhuha, shalat Zuhur berjamaah, serta menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan agama. Praktik-praktik ini secara signifikan meningkatkan motivasi siswa dan berdampak positif terhadap prestasi akademik mereka. Penelitian ini menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan agama ke dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yang berperan dalam pembentukan karakter siswa serta peningkatan hasil belajar.In today’s digital era, religious education serves as an essential shield against various negative social phenomena. In the field of education, religious education is crucial not only to introduce norms and values but also to be internalized in daily life. To make religious education more impactful, it should go beyond theoretical instruction and be balanced with direct implementation. Religious activities in schools help create a religious atmosphere that enhances students’ motivation to learn.This study examines religious activities at Muhammadiyah Adiwerna Junior High School, Tegal Regency, using a descriptive qualitative approach. Data collection was conducted through direct observation and interviews with the principal, vice principal, religious subject teachers, and student representatives from grades 7, 8, and 9. The findings indicate that the school fosters religious values through activities such as 5S Culture (Smile, Greet, Salam, Politeness, and Courtesy), morning Quran recitation, Dhuha prayer, mandatory Dzuhur prayer in congregation, and utilizing the mosque as the center of religious education. These practices significantly enhance students’ motivation and positively impact their academic performance. This study highlights the importance of integrating religious education into daily school activities, demonstrating its role in shaping students' character and improving learning outcomes.
Abstrak
Di era digital saat ini, pendidikan agama berperan sebagai perisai penting terhadap berbagai fenomena sosial negatif. Dalam dunia pendidikan, pendidikan agama tidak hanya berfungsi untuk mengenalkan norma dan nilai, tetapi juga harus diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Agar lebih berpengaruh, pendidikan agama harus melampaui pembelajaran teoretis dan diseimbangkan dengan implementasi langsung. Kegiatan keagamaan di sekolah membantu menciptakan suasana religius yang meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini mengkaji kegiatan keagamaan di SMP Muhammadiyah Adiwerna, Kabupaten Tegal, dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung serta wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran agama, dan perwakilan siswa kelas 7, 8, dan 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah membangun nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan seperti Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), tadarus pagi, shalat Dhuha, shalat Zuhur berjamaah, serta menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan agama. Praktik-praktik ini secara signifikan meningkatkan motivasi siswa dan berdampak positif terhadap prestasi akademik mereka. Penelitian ini menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan agama ke dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yang berperan dalam pembentukan karakter siswa serta peningkatan hasil belajar
MODEL PELATIHAN KESIAPAN KERJA BERBASIS GREEN SKILLS UNTUK MENYIAPKAN LULUSAN MEMASUKI DUNIA KERJA
This study examines the green skills-based job readiness training model to prepare graduates to enter the workforce in order to overcome the challenges of the transition to new environmentally friendly jobs through the Research & Development method or abbreviated as R & D, with a mixed methods approach (quantitative and qualitative) which aims to find an effective green skills-based job readiness training model to prepare graduates to enter the workforce, especially in various environmentally friendly job schemes. Through in-depth interviews, FGDs and questionnaires, this study found that respondents realized the importance of green skills-based job readiness training, felt its benefits, and showed a positive attitude towards the developed training model. The conceptual training model is based on rational aspects, assumptions, objectives, principles, strategies, procedures, competencies and success indicators. Meanwhile, the implementation of the training model refers to six main steps, namely getting started, planning, generation and evaluation of green productivity options, implementation of green productivity options, monitoring and review, and sustaining green productivity
Penguatan Profil Pelajar Pancasila: Implementasi, Tantangan, dan Dampaknya bagi Peserta Didik
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: 1) implementasi proyek penguatan profil pelajar Pancasila, 2) faktor pendukung dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan proyek tersebut, serta 3) dampak yang ditimbulkan terhadap peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) perencanaan proyek mengacu pada panduan resmi dengan pengembangan tiga tema utama, yaitu gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, dan kewirausahaan; 2) pelaksanaan proyek didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia yang memadai, alokasi dana khusus, sarana dan prasarana yang mendukung, serta partisipasi aktif peserta didik; 3) tantangan utama meliputi keterbatasan pengalaman guru dalam pembelajaran berbasis proyek dan minimnya keterlibatan mitra eksternal; 4) dampak positif proyek terlihat pada pengembangan bakat dan minat peserta didik, peningkatan rasa percaya diri, serta motivasi belajar yang lebih tinggi.
Kata kunci: penguatan profil; pelajar Pancasila; pembelajaran berbasis proyek.
Abstract
This study aims to describe: 1) the implementation of the Strengthening Pancasila Student Profile project, 2) the supporting factors and challenges faced during its execution, and 3) the impact on students. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and subsequently analyzed comprehensively. The findings reveal that: 1) project planning adheres to official guidelines, focusing on three main themes—sustainable lifestyles, local wisdom, and entrepreneurship; 2) project implementation is supported by adequate human resources, allocated funding, proper facilities, and active student participation; 3) the main challenges include teachers’ limited experience in project-based learning and the lack of external partner involvement; 4) the project positively impacts students by enhancing their talents and interests, boosting self-confidence, and increasing learning motivation.
Analysis of the Utilization of LearningApps Media on the Understanding Ability of 2nd Grade Elementary Students on Pancasila Education Material “Symbols of Religious Diversity in Indonesia”
This study aims to analyze the use of interactive learning media LearningApps on the ability of 2nd grade elementary school students to understand the Pancasila education material on the symbols of religious diversity in Indonesia. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The results of the study indicate that the use of LearningApps significantly influences students' ability to understand the aspects of Bloom's taxonomy at levels C1 to C4, including the ability to remember, understand, apply, and analyze. This media encourages active participation, improves memory, strengthens learning concepts, and fosters an attitude of tolerance and mutual cooperation. The role of teachers is very important in facilitating the transition process from conventional to digital learning. LearningApps has been proven to be an interactive learning media that is in accordance with the characteristics of students at the elementary education level in the digital era
Optimalisasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Melalui Ajaran Tri Hita Karana untuk Meningkatkan Karakter Siswa di SDN 3 Renon Denpasar: Optimalisasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Melalui Ajaran Tri Hita Karana untuk Meningkatkan Karakter Siswa di SDN 3 Renon Denpasar
Penelitian ini bertjuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis strategi-strategi yang dapat diimplementasikan oleh pemimpin sekolah dalam mengoptimalkan kepemimpinan berbasis Tri Hita Karana. Metode penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan studi kasus untuk mendalami penerapan Tri Hita Karana dalam kepemimpinan sekolah di SD. Dengan cara ini, peneliti dapat mengumpulkan data yang mendalam mengenai praktik kepemimpinan, interaksi antara pemimpin dan stakeholder, serta dampaknya terhadap karakter siswa. Teknik pengumpulan data yakni wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua untuk mendapatkan perspektif yang beragam mengenai penerapan Tri Hita Karana. Observasi langsung di lingkungan sekolah untuk melihat interaksi dan praktik yang dilakukan dalam konteks Tri Hita Karana. Analisis dokumen, seperti visi dan misi sekolah, kurikulum, dan program pengembangan karakter. Hasil Penelitian ini adalah kepemimpinan Tri Hita Karana di sekolah tertuang di dalam Visi, ketercapaian indikator visi, misi, kegiatan pembelajaran, dan ekstrakulikuler yang diadakan oleh SDN 3 Renon Denpasar. Pada visi dan indikator ketercapaian dari visi SDN 3 Renon Denpasar telah mencerminkan konsep Tri Hita Karana, seperti parahyangan yakni: beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Pawongan prestasi akademik, terampil, berbudaya, berkebhinekaan global, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong dan kreatif. Pada kosep palemahan ikut serta dalam pelestarian lingkungan. Pada kegiatan pembelajaran aspek parahyangan terlihat ketika pelaksanaan kegiatan keagamaan, pawongan: kegiatan rapat oleh kepala sekolah dan kegiatan supervisi, kegiatan ekstrakulikuler tari, pramuka, dan pencak silat yang diikuti siswa SDN 3 Renon. Saran untuk penelitian selanjutnya dapat melaksanakan penelitian kuantitatif untuk memperoleh gambaran lebih konkret mengenai pelaksanaan kepemimpinan berbasis Tri Hita Karana terhadap karakter siswa sekolah dasar
Peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran di kelas
This article discusses the opportunities and challenges of using artificial intelligence (AI) in classroom learning. AI holds significant potential to improve the quality of education by providing virtual tutors, personalized learning, and enhancing learning efficiency. This technology allows students to learn in a more interactive, engaging, and tailored manner. However, there are several challenges in its implementation, such as the digital divide between urban and rural areas, data security issues, and the risk of over-reliance on technology. This study employs a literature review method to analyze data from various sources. The findings indicate that utilizing AI in education requires strong infrastructure support and a deep understanding from educators, students, and parents to ensure its optimal benefits. In conclusion, with proper and wise application, AI has the potential to create a more effective and relevant learning system in the digital era.
Abstrak
Artikel ini membahas peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran di kelas. AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti menyediakan tutor virtual, personalisasi pembelajaran, dan efisiensi proses belajar. Teknologi ini memungkinkan siswa belajar secara lebih interaktif, menarik, dan sesuai kebutuhan mereka. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya, seperti kesenjangan akses digital antara daerah perkotaan dan pedesaan, keamanan data, dan risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk menganalisis data dari berbagai sumber. Hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan memerlukan dukungan infrastruktur yang baik dan pemahaman yang mendalam dari pendidik, siswa, dan orang tua agar teknologi ini dapat memberikan manfaat yang optimal. Kesimpulannya, dengan pemanfaatan yang bijak, AI berpotensi membantu menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan relevan di era digital.This article discusses the opportunities and challenges of using artificial intelligence (AI) in classroom learning. AI holds significant potential to improve the quality of education by providing virtual tutors, personalized learning, and enhancing learning efficiency. This technology allows students to learn in a more interactive, engaging, and tailored manner. However, there are several challenges in its implementation, such as the digital divide between urban and rural areas, data security issues, and the risk of over-reliance on technology. This study employs a literature review method to analyze data from various sources. The findings indicate that utilizing AI in education requires strong infrastructure support and a deep understanding from educators, students, and parents to ensure its optimal benefits. In conclusion, with proper and wise application, AI has the potential to create a more effective and relevant learning system in the digital era.
Abstrak
Artikel ini membahas peluang dan tantangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran di kelas. AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, seperti menyediakan tutor virtual, personalisasi pembelajaran, dan efisiensi proses belajar. Teknologi ini memungkinkan siswa belajar secara lebih interaktif, menarik, dan sesuai kebutuhan mereka. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya, seperti kesenjangan akses digital antara daerah perkotaan dan pedesaan, keamanan data, dan risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur untuk menganalisis data dari berbagai sumber. Hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan memerlukan dukungan infrastruktur yang baik dan pemahaman yang mendalam dari pendidik, siswa, dan orang tua agar teknologi ini dapat memberikan manfaat yang optimal. Kesimpulannya, dengan pemanfaatan yang bijak, AI berpotensi membantu menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif dan relevan di era digital
Peran Artificial Intelligence dalam meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam
Technology has a significant impact on the formation of morals, ethics, morals and individual norms, especially for children who are in the education process. Since the advent of technology, there appears to be a decline in morals among children, where many of them prefer to play games or use social media, such as TikTok, and focus on activities such as top ups, rather than undergoing education, both formal and non-formal. . Apart from that, the influence of the social environment makes them tend to ignore their parents. This research adopts a qualitative approach and aims to explore the role of Artificial Intelligence (AI) technology in improving the quality of Islamic religious education (PAI). With rapid progress in the field of AI, there is great potential that can be exploited to improve learning methods and increase access to information in the PAI context. This research examines how AI technology can contribute to improving the quality of PAI. Rapid technological developments provide opportunities for AI to revolutionize learning methods and interactions between educators and students. AI, as a field of science that focuses on developing computers and systems capable of carrying out tasks that require human intelligence, has the potential to provide significant benefits in education. In the context of basic education, the presence of AI can optimize the learning process. By utilizing AI technology, teachers can monitor individual student learning progress and identify weaknesses or special needs that need to be addressed. The AI system can also provide learning recommendations tailored to student needs, thereby increasing the effectiveness of the educational process.
Abstrak
Teknologi memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan akhlak, etika, moral, dan norma individu, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam proses pendidikan. Sejak hadirnya teknologi, tampak adanya penurunan moral di kalangan anak-anak, di mana banyak dari mereka lebih memilih untuk bermain game atau menggunakan media sosial, seperti TikTok, serta berfokus pada aktivitas seperti top up, ketimbang menjalani pendidikan, baik formal maupun non-formal. Selain itu, pengaruh lingkungan sosial membuat mereka cenderung mengabaikan orang tua. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dan bertujuan untuk mengeksplorasi peran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam (PAI). Dengan kemajuan yang pesat dalam bidang AI, terdapat potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki metode pembelajaran serta meningkatkan akses informasi dalam konteks PAI. Penelitian ini mengkaji bagaimana teknologi AI dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas PAI. Perkembangan teknologi yang pesat memberi peluang bagi AI untuk merevolusi metode pembelajaran dan interaksi antara pendidik dan peserta didik. AI, sebagai bidang ilmu yang berfokus pada pengembangan komputer dan sistem yang mampu menjalankan tugas yang memerlukan kecerdasan manusia, berpotensi memberikan manfaat signifikan dalam pendidikan. Dalam konteks pendidikan dasar, kehadiran AI dapat mengoptimalkan proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi AI, guru dapat memantau kemajuan belajar siswa secara individual dan mengidentifikasi kelemahan atau kebutuhan khusus yang perlu diatasi. Sistem AI pun dapat memberikan rekomendasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga meningkatkan efektivitas proses pendidikan.Technology has a significant impact on the formation of morals, ethics, morals and individual norms, especially for children who are in the education process. Since the advent of technology, there appears to be a decline in morals among children, where many of them prefer to play games or use social media, such as TikTok, and focus on activities such as top ups, rather than undergoing education, both formal and non-formal. . Apart from that, the influence of the social environment makes them tend to ignore their parents. This research adopts a qualitative approach and aims to explore the role of Artificial Intelligence (AI) technology in improving the quality of Islamic religious education (PAI). With rapid progress in the field of AI, there is great potential that can be exploited to improve learning methods and increase access to information in the PAI context. This research examines how AI technology can contribute to improving the quality of PAI. Rapid technological developments provide opportunities for AI to revolutionize learning methods and interactions between educators and students. AI, as a field of science that focuses on developing computers and systems capable of carrying out tasks that require human intelligence, has the potential to provide significant benefits in education. In the context of basic education, the presence of AI can optimize the learning process. By utilizing AI technology, teachers can monitor individual student learning progress and identify weaknesses or special needs that need to be addressed. The AI system can also provide learning recommendations tailored to student needs, thereby increasing the effectiveness of the educational process.
Abstrak
Teknologi memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan akhlak, etika, moral, dan norma individu, terutama bagi anak-anak yang sedang dalam proses pendidikan. Sejak hadirnya teknologi, tampak adanya penurunan moral di kalangan anak-anak, di mana banyak dari mereka lebih memilih untuk bermain game atau menggunakan media sosial, seperti TikTok, serta berfokus pada aktivitas seperti top up, ketimbang menjalani pendidikan, baik formal maupun non-formal. Selain itu, pengaruh lingkungan sosial membuat mereka cenderung mengabaikan orang tua. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dan bertujuan untuk mengeksplorasi peran teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dalam meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam (PAI). Dengan kemajuan yang pesat dalam bidang AI, terdapat potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki metode pembelajaran serta meningkatkan akses informasi dalam konteks PAI. Penelitian ini mengkaji bagaimana teknologi AI dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas PAI. Perkembangan teknologi yang pesat memberi peluang bagi AI untuk merevolusi metode pembelajaran dan interaksi antara pendidik dan peserta didik. AI, sebagai bidang ilmu yang berfokus pada pengembangan komputer dan sistem yang mampu menjalankan tugas yang memerlukan kecerdasan manusia, berpotensi memberikan manfaat signifikan dalam pendidikan. Dalam konteks pendidikan dasar, kehadiran AI dapat mengoptimalkan proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi AI, guru dapat memantau kemajuan belajar siswa secara individual dan mengidentifikasi kelemahan atau kebutuhan khusus yang perlu diatasi. Sistem AI pun dapat memberikan rekomendasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa, sehingga meningkatkan efektivitas proses pendidikan
Kurikulum merdeka: Apa yang salah? Tinjauan literatur terhadap kelemahan dan tantangannya
The “Merdeka Curriculum” is Indonesia’s latest educational policy initiative designed to address 21st-century learning demands. This curriculum emphasizes learning flexibility, differentiation, and character development through the Project to Strengthen the Pancasila Student Profile. However, its implementation in schools still faces significant challenges. This study aims to identify and analyze the weaknesses and obstacles of the Merdeka Curriculum by conducting a systematic literature review (SLR) of 20 verified scientific articles published between 2021 and 2024. The PRISMA method was employed to select and thematically analyze the literature. The review revealed five major challenges: (1) teachers’ lack of readiness to understand and apply the curriculum’s principles, (2) infrastructure inequality, especially in underdeveloped regions, (3) unclear policy direction and the absence of a proper transition period, (4) unresolved administrative burdens on teachers, and (5) difficulties in integrating the Pancasila Student Profile values into daily instruction. The study concludes that the Merdeka Curriculum is not yet fully prepared for national-scale implementation without comprehensive support in terms of teacher capacity, school facilities, and regulatory reform. This review provides reflective insights for shaping future education policy that is more contextual, equitable, and sustainable.
Abstrak
Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan kurikulum terbaru yang diusung pemerintah Indonesia untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Kurikulum ini menekankan fleksibilitas pembelajaran, diferensiasi, serta penguatan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Namun demikian, implementasinya di lapangan masih menuai berbagai persoalan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kelemahan serta tantangan pelaksanaan Kurikulum Merdeka berdasarkan tinjauan sistematis terhadap 20 artikel ilmiah terverifikasi yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2021–2024. Pendekatan yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan metode PRISMA untuk menyaring dan menganalisis data literatur secara tematik. Hasil kajian menemukan lima tema utama tantangan, yaitu: (1) ketidaksiapan guru dalam memahami dan menerapkan prinsip kurikulum, (2) ketimpangan infrastruktur, khususnya di daerah 3T, (3) ketidakjelasan arah kebijakan dan minimnya masa transisi, (4) beban administratif guru yang belum terselesaikan, dan (5) kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran. Kesimpulan kajian ini menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya siap diimplementasikan secara nasional tanpa dukungan menyeluruh terhadap kapasitas guru, fasilitas sekolah, serta perbaikan regulasi dan evaluasi. Kajian ini memberikan dasar reflektif bagi perumusan kebijakan pendidikan yang lebih kontekstual, adil, dan berkelanjutan di masa mendatangThe “Merdeka Curriculum” is Indonesia’s latest educational policy initiative designed to address 21st-century learning demands. This curriculum emphasizes learning flexibility, differentiation, and character development through the Project to Strengthen the Pancasila Student Profile. However, its implementation in schools still faces significant challenges. This study aims to identify and analyze the weaknesses and obstacles of the Merdeka Curriculum by conducting a systematic literature review (SLR) of 20 verified scientific articles published between 2021 and 2024. The PRISMA method was employed to select and thematically analyze the literature. The review revealed five major challenges: (1) teachers’ lack of readiness to understand and apply the curriculum’s principles, (2) infrastructure inequality, especially in underdeveloped regions, (3) unclear policy direction and the absence of a proper transition period, (4) unresolved administrative burdens on teachers, and (5) difficulties in integrating the Pancasila Student Profile values into daily instruction. The study concludes that the Merdeka Curriculum is not yet fully prepared for national-scale implementation without comprehensive support in terms of teacher capacity, school facilities, and regulatory reform. This review provides reflective insights for shaping future education policy that is more contextual, equitable, and sustainable.
Abstrak
Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan kurikulum terbaru yang diusung pemerintah Indonesia untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Kurikulum ini menekankan fleksibilitas pembelajaran, diferensiasi, serta penguatan karakter melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Namun demikian, implementasinya di lapangan masih menuai berbagai persoalan. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kelemahan serta tantangan pelaksanaan Kurikulum Merdeka berdasarkan tinjauan sistematis terhadap 20 artikel ilmiah terverifikasi yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2021–2024. Pendekatan yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan metode PRISMA untuk menyaring dan menganalisis data literatur secara tematik. Hasil kajian menemukan lima tema utama tantangan, yaitu: (1) ketidaksiapan guru dalam memahami dan menerapkan prinsip kurikulum, (2) ketimpangan infrastruktur, khususnya di daerah 3T, (3) ketidakjelasan arah kebijakan dan minimnya masa transisi, (4) beban administratif guru yang belum terselesaikan, dan (5) kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran. Kesimpulan kajian ini menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka belum sepenuhnya siap diimplementasikan secara nasional tanpa dukungan menyeluruh terhadap kapasitas guru, fasilitas sekolah, serta perbaikan regulasi dan evaluasi. Kajian ini memberikan dasar reflektif bagi perumusan kebijakan pendidikan yang lebih kontekstual, adil, dan berkelanjutan di masa mendatan