Electronic Journals of UIKA Bogor (Universitas Ibn Khaldun)
Not a member yet
6827 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI ASAS GEODE TROUW TERHADAP PENYELESAIAN SENGKETA WANPRETASI DALAM NOMINAAT CONTRACT SECARA NON LITIGASI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran asas goede trouw atau iktikad baik dalam penyelesaian sengketa wanprestasi pada nominaat contract melalui pendekatan non-litigasi. Dalam konteks hukum perdata, asas ini merupakan prinsip fundamental yang menuntut para pihak untuk bertindak jujur, adil, dan saling menghormati dalam setiap tahapan perjanjian, mulai dari pembentukan hingga penyelesaian konflik. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan literatur terhadap peraturan perundang-undangan dan teori-teori hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan asas goede trouw dapat meningkatkan efektivitas penyelesaian sengketa non-litigasi seperti mediasi, negosiasi, arbitrase, dan konsiliasi. Selain itu, asas ini juga memperkuat legitimasi pertanggungjawaban hukum dalam kontrak bernama ketika terjadi wanprestasi. Penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi teoritis dalam pengembangan hukum kontrak di Indonesia, serta menjadi referensi praktis bagi para akademisi, praktisi hukum, dan pembuat kebijakan.
Kata Kunci : Goede Trouw, Wanprestasi, Kontrak Bernama, Non-Litigasi, Hukum Perdat
The Influence of the Merdeka Curriculum on the Digitalization of Religious Education Learning
The development of digital technology has driven significant transformations in Islamic Religious Education learning, particularly since the implementation of the Independent Curriculum. This study aims to analyze the influence of the Independent Curriculum on the digitalization of Islamic religious education learning, and how it shapes student behavior patterns, understanding of religious values, and engagement in the learning process. This study uses a qualitative approach with a literature review as the primary method, which examines various relevant literature on technology integration in religious learning. The results show that the Independent Curriculum encourages learning flexibility, strengthens digital competencies, and improves students' religious literacy through interactive media. However, challenges were also identified, such as the risk of exposure to negative content and the digital access gap. With the strategic role of teachers as facilitators and guides, digitalization in the Independent Curriculum has the potential to improve the quality of religious education relevant to the needs of the times
Love-Based Curriculum: Fostering Islamic Eco-theology Education in Madrasah: Fostering Islamic Eco-theology Education in Madrasah
Madrasahs have the potential to produce a generation of Muslims who care about nature conservation through a love-based curriculum that is integrated with Islamic ecotheology. This research aims to analyze the integration of ecotheological principles into the love-based curriculum in madrasah, as well as how strategies in implementing Islamic-based environmentally friendly education in learning in madrasah. This research uses a qualitative method with a literature study design. Based on the analysis of the love-based curriculum and Islamic ecotheology, there is a harmony of principles between the two, namely the principles of tauhid, khalîfah, amanah, mîzan, and rahmatan lil âlamîn. As for the implementation strategy of Islam-based environmentally friendly education through a love-based curriculum, educators can pay attention to several aspects such as teaching modules, participatory learning approaches and models, and learning evaluation. Environmentally friendly practices can take the form of intracurricular or extracurricular activities. This research proves that through the integration of Islamic ecotheology in a love-based curriculum, madrasas have the potential to produce a generation of Muslims who are aware of the importance of environmental conservatio
Strategies for strengthening attitudes of religious tolerance in students at junior high school
This study is motivated by the importance of strengthening tolerance in junior secondary schools as part of efforts to cultivate a generation capable of living harmoniously in a plural society. The research aims to analyze the strategies employed to strengthen tolerance at SMP Negeri 2 Somagede and to identify the supporting and inhibiting factors. A qualitative approach with a case study design was applied. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, simple questionnaires, and document analysis, and were examined using Miles and Huberman’s interactive analysis model. The findings reveal that tolerance is reinforced through four main strategies: institutional policies emphasizing anti-discrimination principles, integration of tolerance values into teaching subjects such as Civic Education, Islamic Education, and Bahasa Indonesia, inclusive extracurricular activities including Scouts, student councils, and cultural arts, as well as religious accommodations provided for minority students. Supporting factors include inclusive leadership from the principal, teachers’ commitment, and acceptance from the majority group, while inhibiting factors are related to limited facilities. The study concludes that tolerance building in schools requires a synergy of policy, pedagogy, extracurricular programs, and community support, ensuring that tolerance becomes a lived practice in students’ daily life.
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan sikap toleransi di sekolah menengah pertama sebagai upaya membentuk generasi yang mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang plural. Tujuan penelitian adalah menganalisis strategi penguatan toleransi di SMP Negeri 2 Somagede serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, angket sederhana, serta telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penguatan toleransi dilaksanakan melalui empat jalur utama, yaitu kebijakan kelembagaan yang menekankan prinsip anti diskriminasi, integrasi nilai toleransi dalam pembelajaran PPKn, PAI, dan Bahasa Indonesia, kegiatan ekstrakurikuler yang inklusif seperti Pramuka, OSIS, dan seni budaya, serta akomodasi kebutuhan keagamaan siswa minoritas. Faktor pendukung mencakup kepemimpinan kepala sekolah yang inklusif, sikap guru, serta penerimaan sosial siswa mayoritas, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan fasilitas. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penguatan toleransi di sekolah menuntut keterpaduan antara kebijakan, pembelajaran, aktivitas kesiswaan, dan dukungan komunitas sehingga toleransi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.This study is motivated by the importance of strengthening tolerance in junior secondary schools as part of efforts to cultivate a generation capable of living harmoniously in a plural society. The research aims to analyze the strategies employed to strengthen tolerance at SMP Negeri 2 Somagede and to identify the supporting and inhibiting factors. A qualitative approach with a case study design was applied. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, simple questionnaires, and document analysis, and were examined using Miles and Huberman’s interactive analysis model. The findings reveal that tolerance is reinforced through four main strategies: institutional policies emphasizing anti-discrimination principles, integration of tolerance values into teaching subjects such as Civic Education, Islamic Education, and Bahasa Indonesia, inclusive extracurricular activities including Scouts, student councils, and cultural arts, as well as religious accommodations provided for minority students. Supporting factors include inclusive leadership from the principal, teachers’ commitment, and acceptance from the majority group, while inhibiting factors are related to limited facilities. The study concludes that tolerance building in schools requires a synergy of policy, pedagogy, extracurricular programs, and community support, ensuring that tolerance becomes a lived practice in students’ daily life.
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan sikap toleransi di sekolah menengah pertama sebagai upaya membentuk generasi yang mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang plural. Tujuan penelitian adalah menganalisis strategi penguatan toleransi di SMP Negeri 2 Somagede serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, angket sederhana, serta telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penguatan toleransi dilaksanakan melalui empat jalur utama, yaitu kebijakan kelembagaan yang menekankan prinsip anti diskriminasi, integrasi nilai toleransi dalam pembelajaran PPKn, PAI, dan Bahasa Indonesia, kegiatan ekstrakurikuler yang inklusif seperti Pramuka, OSIS, dan seni budaya, serta akomodasi kebutuhan keagamaan siswa minoritas. Faktor pendukung mencakup kepemimpinan kepala sekolah yang inklusif, sikap guru, serta penerimaan sosial siswa mayoritas, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan fasilitas. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penguatan toleransi di sekolah menuntut keterpaduan antara kebijakan, pembelajaran, aktivitas kesiswaan, dan dukungan komunitas sehingga toleransi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa
Innovating Islamic religious education methods through differentiated instruction: Enhancing learning motivation and understanding of religious concepts
Islamic Religious Education in elementary schools requires an adaptive instructional approach to address the diverse readiness levels and learning styles of students. This study aims to analyze the strategies employed by teachers in impelementing differentiated instruction and its impact on student’s learning motivation and religious character formation. A descriptive qualitative method was applied through observation, interviews and documentation involving sixth grade Islamic education classes. The findings reveal that teachers implemented differentiation in content, process, and product by adjusting to students’ Qur’an reading proficiency, learning style preferences, and personal interests. This strategy significantly enhanced students’ active participation, confidence in expressing opinions, and intrinsic motivation driven by spiritual awareness, as indicated by voluntary engagement in religious practices such as Dhuha prayer and independent Qur’an recitation. Moreover, religious character traits such as honesty, discipline, and responsibility were fostered through authentic and personalized learning experiences. The novelty of this study lies in its emphasis that differentiated instruction in Islamic Education functions not merely as an adaptive pedagogical technique but as an instrument of conscious and humanistic value internalization rather than compliance-based religiosity. These findings provide strategic implications for developing a more personal, inclusive, and spiritually grounded PAI learning model rooted in students’ individual fitrah.
Abstrak
Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar membutuhkan pendekatan pembelajaran yang adaptif untuk mengatasi tingkat kesiapan dan gaya belajar siswa yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan pengajaran berdiferensiasi dan dampaknya terhadap motivasi belajar dan pembentukan karakter religius siswa. Metode kualitatif deskriptif diterapkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang melibatkan kelas pendidikan agama Islam kelas enam. Temuan menunjukkan bahwa guru menerapkan diferensiasi dalam konten, proses, dan produk dengan menyesuaikan pada kemampuan membaca Al-Qur'an siswa, preferensi gaya belajar, dan minat pribadi. Strategi ini secara signifikan meningkatkan partisipasi aktif siswa, kepercayaan diri dalam menyampaikan pendapat, dan motivasi intrinsik yang didorong oleh kesadaran spiritual, seperti yang ditunjukkan oleh keterlibatan sukarela dalam praktik keagamaan seperti salat dhuha dan pembacaan Alquran secara mandiri. Selain itu, karakter religius seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dipupuk melalui pengalaman belajar yang otentik dan personal. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada penekanannya bahwa pengajaran berdiferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai teknik pedagogis yang adaptif, tetapi juga sebagai instrumen internalisasi nilai secara sadar dan humanis, bukan sebagai religiusitas berbasis kepatuhan. Temuan ini memberikan implikasi strategis untuk mengembangkan model pembelajaran PAI yang lebih personal, inklusif, dan berlandaskan spiritual yang berakar pada fitrah individu siswa.Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang adaptif untuk mengatasi keragaman kesiapan dan gaya belajar murid. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan dampaknya terhadap motivasi belajar serta pembentukan karakter religius murid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap guru dan murid kelas vi sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan diferensiasi pada aspek konten, proses dan produk yang disesuaikan dengan kemampuan membaca al-Qur’an, kecenderungan gaya belajar dan minat murid. Strategi ini terbukti meningkatkan partisipasi aktif, keberanian mengemukakan pendapat dan munculnya motivasi intrinsic berbasis kesadaran spiritual, ditunjukkan oleh inisiatif ibadah seperti shalat dhuha dan tilawah mandiri tanpa paksaan. Selain itu, karakter religius seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab terbentuk melalui pengalaman belajar yang autentik dan personal. Kebaruan penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dalam Pendidikan Agama Islam bukan hanya strategi teknis adaptif, namun instrumen internalisasi nilai religius yang humanistik dan berbasis kesadaran, bukan sekadar kepatuhan normatif. Temuan ini memberikan implikasi strategis bagi pengembangan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang lebih personal, inklusif dan spiritual berbasis fitrah murid
Comparative Study of Rigid Pavement Design of Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo Toll Road Using MDPJ 2017 and MDPJ 2024
The Solo-Yogyakarta-NYIA Kulon Progo Toll Road is one of Proyek Strategis Nasional (PSN) that has an important role in the smooth movement of traffic. The infrastructure development process must be carefully considered, especially at the planning stage. This paper analyzes the design of rigid pavement planning using MDPJ 2017 and MDPJ 2024 to determine the difference in design results and can be the best alternative design proposal so that it can provide a reference for pavement performance performance. In addition, an empirical mechanistic analysis was conducted using KENSLAB in the KENPAVE program. The program outputs stress, deflection, and service life prediction. The analysis results show that MDPJ 2017 and MPDJ 2024 with JSKN value of 125,538,693,248 have the same rigid pavement thickness value of 305 mm and with KENSLAB analysis, a service life of 1000 years is obtained. MDPJ 2017 and MPDJ 2024 do not produce significant differences, there are only differences in the tie bar spacing and dowel diameter. The different tie bar spacing and dowel diameters have little effect on the value difference in the KENPAVE output. However, the design with MDPJ 2024 has a slightly higher value than MDPJ 2017. Thus, alternative designs are needed to make the pavement performance more effective and efficient, including 200 mm, 185 mm, and 180 mm thick. From several alternative pavement designs, it is concluded that the design that produces the most optimal performance is alternative 3 with a layer arrangement of 180 mm thick slab, 100 mm LMC, and 150 mm LPA with a predicted service life of 48.2 years
Effect of Change Contract Order, Labor, Material, Tools to Time Delayu of Low-Rise State Building Project
Construction of state low-rise buildings in Pangkalpinang city is a common project that usually built by The Public Works Department of Pangkalpinang. The problem often faced by construction of state low-rise buildings projects at Pangkalpinang is the low performance of time (Delay). This condition be expected caused by Change Contract Order (CCO), man power, materials, and machine, This research aims to analyze the influence of those factors on delay time in state low-rise building construction projects. The analysis used in this research is multiple regression with SPSS. This research find that both and parsially the 4 (four) factors influence the time-performance (delay) of low-rise state building construction. Based on data analysis, the equation Y = 3.887+ 0.390 X1 + 0,278 X2 + 0,265 X3 + 0,341 X4. Based on the results of the Coefficient of Determination Test, simultaneously CCO Factors (X1), Manpower Factors (X2), Materials Factors (X3) and Machines Factors (X4) have an influence contribution of 74.0 % of Time Performance (Y). Meanwhile, for the results of the most dominant factor analysis using Beta Standardized x Zero-Order, it was found that the CCO Factor (X2) was the most dominant factor that could influence time performance with an influence value of 23.99%. Considerations in determining alternative solutions to control time performance in state low-rise building construction projects are carried out on the most dominant factor, namely the CCO Factor (X1).
IMPLEMENTASI PELATIHAN DESAIN GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL VISUAL PADA WARGA BELAJAR PAKET C DI PKBM NURUL ISLAM
Pendidikan nonformal memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. PKBM Nurul Islam telah mengimplementasikan pelatihan desain grafis untuk warga belajar Paket C, dengan tujuan membekali peserta dengan kemampuan dan keterampilan praktis dalam desain grafis. Pelatihan ini diselenggarakan di ruangan yang dilengkapi dengan komputer, AC, Wi-Fi, dan perangkat lunak CorelDraw. Proses pelatihan dimulai dengan tutor menjelaskan materi, kemudian warga belajar mempraktikkan apa yang telah dijelaskan. Namun, kemampuan warga belajar dalam memahami literasi digital masih terbatas, dengan hanya beberapa orang yang mampu memahami materi dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan dan memberikan respon terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai pelatihan desain grafis. Hasil pelatihan sangat positif, dengan beberapa peserta yang sudah mampu menghasilkan uang sendiri melalui keterampilan desain grafis yang mereka pelajari. Keberhasilan peserta ini membuktikan bahwa pelatihan desain grafis dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan peluang kerja bagi masyarakat. Dengan demikian, pendidikan nonformal dapat berperan penting dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat Indonesia di era teknologi saat ini.
Kata kunci: Pendidikan Nonformal, Pelatihan Desain Grafis, Literasi Digital Visua
IMPLEMENTASI STANDAR PROSES PENDIDIKAN KESETARAAN PAKET B DI SANGGAR KEGIATAN BELAJAR (SKB) KABUPATEN KARAWANG
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi standar proses pendidikan kesetaraan Paket B di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Karawang dan faktor-faktor yang mendukung serta menghambat keberhasilannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang memungkinkan peneliti untuk menggali pengalaman, persepsi, dan tantangan yang dihadapi oleh kepala sekolah, pendidik, dan peserta didik. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SKB telah berhasil mengimplementasikan kurikulum yang sesuai dengan pedoman nasional, dan proses perencanaan pembelajaran dilakukan dengan menyusun RPP yang sistematis. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka, kegiatan tutorial, dan pembelajaran mandiri dilakukan dengan baik, meskipun masih terdapat tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan kurangnya dukungan dari keluarga peserta didik. Faktor pendukung seperti sikap positif, motivasi belajar yang tinggi, serta dorongan dari teman sebaya sangat berperan dalam keberhasilan pembelajaran. Namun, perbaikan pada fasilitas pembelajaran dan peningkatan keterlibatan keluarga sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kesetaraan. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam perbaikan implementasi pendidikan kesetaraan di masa depan.
Kata Kunci: Pendidikan Kesetaraan, Standar Proses, Pelaksanaan Pembelajaran, SKB
Manajemen Ekstrakurikuler Dalam Meningkatkan Potensi Siswa Sekolah Dasar
Pengembangan potensi pada siswa sekolah dasar merupakan hal yang perlu menjadi perhatian di sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal. Pada usia sekolah dasar sekitar 6 – 12 tahun, merupakan masa-masa emas untuk pembinaan sejak dini, terlebih anak usia dasar belum mampu mengenali dan mengembangkan potensi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana bentuk manajemen ekstrakurikuler yang tepat sehingga dapat berperan dalam meningkatkan potensi siswa di sekolah dasar melalui studi literatur. Kajian ini dilakukan dengan menelaah berbagai sumber pustaka seperti jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen ekstrakurikuler yang efektif terdiri dari aspek perencanaan kegiatan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi/pengawasan. Sekolah yang melaksanakan kegiatan manajerial ekstrakurikuler dengan baik dapat menjadi sarana strategis dalam pengembangan minat, bakat, serta potensi siswa. Perencanaan yang sistematis, pelaksanaan yang partisipatif, serta evaluasi/pengawasan yang berkesinambungan menjadi elemen penting dalam menunjang keberhasilan program ekstrakurikuler. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler dapat berkontribusi secara signifikan dalam membentuk siswa yang berprestasi, kreatif, dan berkepribadian kuat