Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    TEOLOGI PENGHORMATAN

    Get PDF
    This paper discusses relating to dialogue between Christianity and the Kembang Kuningan Rite. This rite is in the Polobogo Village area, Getasan District, Semarang Regency. Every month of the Jumadil Akhir in some “punden” (sacred tombs), a ritual is performed as part of the ceremony for the rite. The essence of the series of rituals carried out is to pray for ancestors and ask for blessings and safety for the community. Be unique when this ritual is performed by church members, who incidentally have a Christian identity, but also have an identity as a local community, using a qualitative approach and descriptive analysis method and the analysis of synthesis models. It was found that the theology of honor became a meeting point to dialogue Christian identity with the Kembang Kuningan riteTulisan ini membahas berkaitan dengan dialog antara kekristenan dengan Ritus Kembang Kuningan. Ritus ini ada di wilayah Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Setiap bulan Jumadil Akhir di beberapa punden (makam yang dikeramatkan), dilakukan ritual sebagai bagian upacara pada ritus tersebut. Esensi dari rangkaian ritual yang dilaksanakan yaitu untuk berdoa bagi leluhur serta memohon keberkahan dan keselamatan bagi masyarakat. Menjadi unik, ketika ritual ini dilakukan oleh warga gereja, yang notabene mempunyai identitas Kristen, namun juga mempunyai identitas sebagai warga masyarakat setempat. Dengan memakai pendekatan kualitatif dan metode deskriptif analisis, serta memakai analisis model sintesis. Di dapati bahwa teologi kehormatan menjadi titik temu, untuk mendialogkan identitas kekristenan dengan ritus Kembang Kuningan

    APOLOGETIKA DIALOGIS

    No full text
    Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU) is proliferating. PANGESTU claims that all religions are the same and are the essence of all formal religions' teachings. The postmodern context that upholds pluralism and truth relativism is challenging in proclaiming the Good News, especially for PANGESTU followers. Therefore, a new way of applying apologetics is needed to reach postmoderns. This study aimed to find the application of apologetics as a conversation model for the Good News in the PANGESTU mystical context. This study uses a qualitative approach. The method used is biblical hermeneutics and literature study. The researcher found "Dialogical Apologetics Olah Rasa" as a conversation model for Good News in the context of PANGESTU mysticism, which consists of 4 stages, namely: Stage I, Building dialogical relationships with PANGESTU followers; Stage II, Dialogical Apologetics Olah Rasa as the pre-news of the Good News; Stage III, Proclamation of the Good News; Stage IV, Dialogical Apologetics Olah Rasa as a Discipleship.    Aliran Kebatinan Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU) sedang berkembang pesat. PANGESTU mengklaim bahwa semua agama sama saja dan sebagai intisari ajaran semua agama formal. Konteks postmodern yang menjunjung tinggi pluralisme dan relativisme kebenaran merupakan tantangan dalam pemberitaan Kabar Baik khususnya kepada pengikut PANGESTU sehingga diperlukan cara baru dengan menerapkan apologetika untuk menjangkau kaum postmodern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan penerapan apologetika sebagai model percakapan Kabar Baik dalam konteks kebatinan PANGESTU. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan yaitu hermeneutika alkitabiah dan studi literatur. Peneliti menemukan “Apologetika Dialogis Olah Rasa” sebagai model percakapan Kabar Baik dalam konteks kebatinan PANGESTU, yang terdiri dari 4 tahap percakapan yaitu: Tahap I, Membangun relasi dialogis dengan pengikut PANGESTU; Tahap II, Apologetika dialogis olah rasa sebagai pra pemberitaan Kabar Baik; Tahap III, Proklamasi Kabar Baik; Tahap IV, Apologetika dialogis olah rasa sebagai pemuridan. &nbsp

    OBITUARI: YUSUF BILYARTA MANGUNWIJAYA

    Get PDF

    STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI PUSAT PENGEMBANGAN ANAK IO-0497 BENYAMIN OEBUFU

    No full text
    This study aims to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats and then determine the learning strategy of Christian Religious Education in PPA IO-0497 Benyamin Oebufu. This study used a qualitative method with a descriptive approach and data analysis using a SWOT analysis. The steps in this research are observation and literature study, problem identification and formulation, data collection, data processing, discussion, and conclusion drawing. The subjects in this study consisted of 2 management bodies and four mentors. The results showed that PPA IO-0497 Benyamin Oebufu had 11 strengths, eight weaknesses, six opportunities, and six threats. The results show that the position of the CRE learning strategy in PPA IO - 0497 Benyamin Oebufu is in the Quadrant I area, meaning that growth strategies are possible because strengths are more significant than weaknesses, and opportunities are more significant than threats. The CRE learning strategy at PPA IO-0497 Benyamin Oebufu is the integration of learning with God's Word, applying creative and engaging technology-based Bible learning, building a spiritual community to grow together, conducting competency-building training for mentors, and conducting pastoral counselling for children and parents.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman kemudian menentukan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di PPA IO-0497 Benyamin Oebufu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif serta analisis data menggunakan analisis SWOT. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah observasi dan studi literatur, identifikasi dan perumusan masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembahasan serta penarikan kesimpuan. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 6 orang yang terdiri dari 2 orang badan pengurus dan 4 orang mentor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPA IO-0497 Benyamin Oebufu memiliki 11 kekuatan, 8 kelemahan, 6 peluang dan 6 ancaman. Hasil matrix space analysis menunjukkan posisi strategi pembelajaran PAK di PPA IO - 0497 Benyamin Oebufu berada dalam wilayah Kuadran I, artinya strategi bertumbuh sangat dimungkinkan karena kekuatan lebih besar dari kelemahan dan peluang lebih besar dari ancaman. Strategi pembelajaran PAK di PPA IO-0497 Benyamin Oebufu adalah integrasi pembelajaran dengan Firman Tuhan, menerapkan pembelajaran Alkitab berbasis teknologi yang kreatif dan menarik, membangun komunitas rohani tumbuh bersama, mengadakan diklat peningkatan kompetensi bagi mentor serta melakukan pastoral konseling bagi anak dan orang tua

    PENGARUH KHOTBAH DALAM IBADAH MINGGU TERHADAP KEDEWASAAN IMAN JEMAAT DI GKSI MERAUKE

    No full text
    This study aims to determine the effect of sermons in Sunday worship on the maturity of the congregation's faith in the Gereja Kristen Indonesia Setia (GKSI) Merauke. The method used is quantitative. The hypothesis is that there is a positive and significant influence between the sermon in Sunday worship on faith maturity. The population is the GKSI Merauke congregation, amounting to 292 people with a sample of 30 people. The instrument used was a closed questionnaire. Validity is tested using the product-moment correlation formula. Data were analyzed using the correlation technique (rxy), tested for the significant relationship with the formula (t) and the test of determination (r2), and simple regression. The successful test was tested by F, and then to find out the effect regression equation was carried out with the formula Y = a + bX. The results showed the effect or r2 = 51% and significant influence or F count = 28.65 where it is known that F table = 4.17 and obtained the meaning of the simple regression equation Y = 7.25 + 0.87X. This study concludes that the sermon on Sunday worship positively and significantly affects the congregation's faith maturity.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh khotbah dalam ibadah Minggu terhadap kedewasaan iman jemaat di Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) Merauke. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Hipotesisnya adalah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara khotbah dalam ibadah Minggu terhadap kedewasaan iman. Populasi adalah jemaat GKSI Merauke yang berjumlah 292 orang dengan sampel 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup. Kesahihan diuji dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Data dianalisis dengan menggunakan tehnik korelasi (rxy), diuji signifikan hubungan dengan rumus (t) dan uji determinasi (r2) serta regresi sederhana. Uji keberhasilan diuji dengan F, kemudian untuk mengetahui persamaan regresi pengaruh dilakukan dengan rumus Y = a+ bX. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh atau r2 =  51% dan signifikan pengaruh atau F hitung = 28,65 di mana diketahui F tabel = 4,17 dan memperoleh keberartian persamaan regresi sederhana Y = 7,25 + 0,87X. Penelitian ini menyimpulkan bahwa khotbah dalam ibadah Minggu berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap kedewasaan iman jemaat

    DISKURSUS KERUKUNAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT KRISTEN DI INDONESIA:

    Get PDF
    After the 2019 National Election in Indonesia, which still left problems both essentialism and mechanism, this nation has been materially and immaterially drained. Later, the political elites who benefit the situation for their interest have been very annoying and disturbing. Therefore, the harmony among the religious people in Indonesia is triggered by differences in political views, even having to reduce religious narratives and diction which are then forced even if they are contrary to human values. As a result, the discourse of social harmony is initiated by the community figures through no-theme participation; it becomes a formula that must be immediately implemented in such way that the unity of the nation might be restored after having been torn apart by the different political view. The discourse of social harmony might be attached to the Christian perspective that offers a completely new idea in accordance to the context of the problems in Indonesia. Through the literacy method, the form of re-reading and re-checking the diction and the narration have been formulated and provided new meaning or discourse into the social harmony of the digital-era Indonesian people altogether. It might be concluded that holding no-theme participation with literacy skills mastery is important to conduct among the digital-era Indonesian people since the digital era itself might be considered as one of the contributing factors to the present problems (such as hoax, deception and hate speech) that have so widely spread that they start to erode the unity and the integrity of Indonesia.Pasca pemilu 2019 di Indonesia masih menyisakan persoalan baik esensialisme maupun mekanisme. Bangsa ini terkuras materil dan imateril. Ditambah adanya oknum-oknum elit yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politiknya. Kerukunan umat beragama di Indonesia retak hanya karea dipicu perbedaan pandangan politik. Narasi dan diksi keagamaan dipaksakan untuk dikemukakan walaupun berlawanan dengan nilai kemanusiaan. Maka dari itu diskursus kerukunan sosial yang diinisiasi oleh para tokoh masyarakat melalui partisipasi dengan dialog, menjadi formula yang urgen untuk diramu sedemikan rupa agar dapat merekakatkan kembali persatuan bangsa yang koyak oleh pilihan politik yang berbeda. Kemudian rumusan diskursus tentu kemelekatannya pada perspektif Kristen yang mencoba menawarkan gagasan segar terbarukan sesuai dengan konteks problematika di Indonesia. Dengan metode literasi, membaca ulang dan memeriksa kembali narasi dan diksi yang telah diformulasikan kemudian memberi wacana atau makna baru dalam kerukunan sosial pada masyarakat Indonesia pada era digital yang ditengarai menjadi salah satu variabel penyumbang persoalan yang ada (contonya: hoax, penyebaran isu bohong dan ujaran kebencian) yang merajalela sehingga menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia maka perlu ada rekonsiliasi pasca pemilu 2019

    KAJIAN BIBLIKA TENTANG YESUS SEBAGAI PINTU DAN GEMBALA MENURUT YOHANES 10:1-18

    Get PDF
    This paper examines two things, which is Jesus' statement about Himself in the Gospel of John and a statement that begins with: "I ..." (Greek: εγω ειμι = ego eimi). These two statements come out of the phrase "I am the door" and "I am the good shepherd." Theologically, especially in Christology, this emphasizes His personality as God, who can be an example of leadership in the church. The purpose is to describe Jesus' declaration that He is the door and the Good Shepherd in John 10: 1-18 and its implications for the ministers as church leaders. The methodology in this research is descriptive analysis. As a result, the two statements of Jesus in John 10: 1-18 reflect the example of Jesus as the Good Shepherd. Tulisan ini membahas dua hal, yaitu pernyataan Yesus tentang diri-Nya dalam Injil Yohanes dan pernyataan yang dimulai dengan: "Saya ..." (Yunani: εγω ειμι = ego eimi). Dari dua pernyataan itu terdapat ungkapan "Aku adalah pintunya" dan "Akulah gembala yang baik." Secara teologis, terutama Kristologi, ini menekankan kepribadian-Nya sebagai Allah yang dapat menjadi contoh kepemimpinan dalam gereja. Tujuannya adalah untuk menggambarkan pernyataan Yesus bahwa Dia adalah pintu dan gembala yang baik dalam Yohanes 10: 1-18 dan implikasinya bagi para pendeta sebagai pemimpin gereja. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasilnya, kedua pernyataan Yesus dalam Yohanes 10: 1-18  mencerminkan keteladanan Yesus sebagai gembala yang baik

    BERTEOLOGI KONTEKSTUAL DARI PERSPEKTIF ORANG KEI MELALUI KONSEP DUAD

    Get PDF
    The encounter between the official religion and local values also gives specificity to theology. It can be traced to the use of Duang and Duad terms, which the Kei people understand as God. Kei people know that God is present in everyday life, but His name is also very sacred, so it can not be called arbitrarily. Though they have embraced Christianity, they still believe in Duad in their cultural and diverse peculiarities. The method used is qualitative research with a contextual theological concept. The finding of this research is the Kei who have embraced Christianity remain confident in the Duad in their daily lives.Perjumpaan antara agama resmi dan nilai-nilai lokal turut memberikan kekhasan dalam berteologi. Hal ini dapat ditelusuri dalam penggunaan istilah Duang dan Duad yang dipahami oleh orang Kei sebagai Tuhan. Orang Kei, memahami bahwa Tuhan itu hadir dalam realitas hidup setiap hari tetapi juga namaNya sangat sakral, sehingga tidak bisa disebut secara sembarangan. Meskipun mereka telah menganut agama Kristen, mereka tetap percaya kepada Duad dalam kekhasan kebudayaan dan keberagaman mereka. Metode yang dipergunakan adalah penelitian kualitatif dengan konsep berteologi kontekstual. Temuan penelitian ini adalah orang Kei yang telah menganut agama Kristen masih tetap percaya kepada Duad dalam kehidupan mereka sehari-hari

    PERAN GEREJA DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM KEWIRAUSAHAAN DI ERA DIGITAL

    Get PDF
    In the digital era, the Church's role in developing entrepreneurial programs faces new challenges through the application. Many entrepreneurship development models include a church located in a mall. There are also cooperatives within the Church selling snacks, many small and medium businesses, food stalls, and others. The Church must be creative in developing entrepreneurship, especially in this digital era. The research method used in this article is a qualitative research method with descriptive analysis. The research found entrepreneurial diversity that showed numerous dissimilar things to one another. Therefore, the Church must be active in fulfilling spiritual and physical needs. Peran Gereja dalam mengembangkan program kewirausahaan dalam menghadapi era digital adalah mencoba tantangan baru melalui aplikasi. Banyak model pengembangan kewirausahaan misalnya, Gereja dengan mall satu lokasi. Ada juga koperasi, menjual makanan ringan, usaha kecil dan menengah, warung makan dan lain-lain. Gereja dituntut untuk kreatif dalam memngembangkan kewirausahaan, terutama di era digital ini. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode penelitian kualitatif. Di mana metode kualitatif bersifat deskriptif analisis. Peneliti menemukan keragaman kewirausahaan, sehingga tidak ada yang sama persis dengan yang lain. Karena itu, Gereja harus aktif baik dalam pemenuhan kebutuhan rohani maupun jasmani

    IMAN KRISTEN DAN BUDAYA POPULAR

    Get PDF
    Humans live in a particular cultural context; on the one side, culture is the result of human creativity, and on the other side, culture is also likely to affect humans. Currently, we are in a period of popular culture. The popular culture emphasizes pragmatic attitudes and is controlled by capitalism disguised. Christians can not be separated from the influence of popular culture. Christians are called to be able to behave in popular culture without leaving the Christian faith. This article aims to discover the relationship between the Christian faith and popular culture through a theological approach.Manusia hidup dalam konteks budaya tertentu, di satu sisi, budaya adalah hasil dari kreativitas manusia, tetapi di sisi lain, budaya juga cenderung mempengaruhi manusia. Saat ini kita berada dalam masa budaya populer, budaya populer menekankan sikap pragmatis dan dikendalikan oleh kapitalisme yang disamarkan, Orang Kristen tidak lepas dari pengaruh budaya populer, orang Kristen dipanggil untuk dapat berperilaku dalam budaya populer tanpa meninggalkan Iman Kristen, artikel ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana hubungan iman Kristen dan budaya popular melalui pendekatan teologis

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇