Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    SAHALA: KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS MASYARAKAT BATAK DAN ALKITAB

    Get PDF
    This study is an effort to explore a more concrete and holistic understanding related to the existence and woman's role in Batak society. In reality, Batak has several terms which refer to the strong existence of women in Batak society. However, since the lineage is drawn from the male line, as is the case in a patriarchal culture, the strategic roles of women themselves often become neglected. This study conducted a constructive critical study to position women’s leadership in the context of the Batak community. It began by describing the actual conditions of women in the context of the Batak community. Furthermore, a constructive critical study was carried out by looking at religious literature and myth. The use of myths as study material is usually done in the study of the Sciences of Religions because people believe that myths contain teachings about the moral of a society, which are accepted and lived as teaching in daily life.  Through that, things can also be found to be learning for the future. The study of the Sciences of Religion also uses the Sociology of Religion to discuss humanity and religion. Theological reflection on specific texts in the Bible is carried out with a new perspective. This way is done to raise the strength of women. Of course, this study has already been finished by a deep and prolonged study, so what is presented here is the result of the researcher's recommendations only.Tulisan ini bertujuan menggali pemahaman yang lebih konkrit dan holistik  tentang eksistensi dan peran perempuan dalam masyarakat Batak. Dalam kenyataannya, Batak memiliki beberapa istilah yang menunjuk pada eksistensi yang kuat dari kaum perempuan dalam masyarakat  Batak. Namun demikian, mengingat  garis keturunan ditarik dari garis keturunan laki-laki sebagaimana lajimnya dalam budaya patriarki, maka peran-peran strategis kaum perempuan itu sendiri sering menjadi  terabaikan.  Dimulai dengan pemaparan kondisi riil perempuan dalam konteks masyarakat Batak. Selanjutnya telaah kritis konstruktif dilakukan dengan mencermati sastra-sastra keagamaan seperti halnya sebuah mitos. Penggunaan mitos sebagai bahan studi biasa dilakukan dalam  studi  Ilmu Agama-agama, karena banyak orang meyakini bahwa mitos memuat ajaran tentang moral suatu masyarakat, yang diterima dan dihidupi sebagai pengajaran dalam hidup sehari-hari. Melalui itu, dapat pula ditemukan hal-hal yang menjadi pembelajaran untuk masa yang akan datang. Kajian Ilmu Agama-agama juga menggunakan  pendekatan   Sosiologi Agama untuk  membahas tentang manusia dan agama itu sendiri. Refleksi teologis terhadap nats-nats tertentu dalam Alkitab dilakukan dengan perspektif baru, sehingga melalui tulisan ini ditemukan kekuatan lahiriah yang ditampilkan kaum perempuan dari kedalaman jiwanya, sahala-nya. Tentu saja kajian ini  telah melewati satu studi yang mendalam, sehingga apa yang dipaparkan di sini bukanlah hasil pemikiran subjektif penulis semata

    BELAJAR MENGHARGAI KEARIFAN LOKAL DARI YESUS DALAM MATIUS 22:32

    Get PDF
    Churches in Indonesia live in ethnical and cultural diversity. We can find much local wisdom which lately continues to preserve. But not all churches want to receive local wisdom because there is an opinion that local culture is contrary to the Christian faith. Therefore in this paper, I want to invite the churches in Indonesia to open space for local wisdom. My effort is encouraging the churches to look at the figure of Jesus, who popularized the local wisdom called the tradition of Theos Patros. Theos Patros tradition is the oldest tradition of the nation of Israel and has been known since the ancestors' era but is no longer popular in the time of Jesus. But Jesus re-popularized the tradition because that tradition has a high noble value in line with the emphasis of the Gospel of Matthew.Gereja-gereja di Indonesia hidup dalam keberagaman suku, agama dan budaya. Kita dapat menemukan berbagai kearifan lokal yang belakangan ini terus diupayakan untuk dilestarikan. Namun tidak semua gereja bersedia terbuka terhadap kearifan lokal karena adanya anggapan bahwa kebudayaan lokal bertentangan dengan iman Kristen. Oleh karena itu tulisan ini hendak mengajak gereja di Indonesia untuk membuka ruang terhadap kearifan lokal. Upaya tersebut penulis wujudkan dengan mengajak gereja untuk melihat kepada sosok Yesus yang memopulerkan kearifan lokal yakni tradisi Theos Patros. Tradisi Theos Patros merupakan tradisi tertua bangsa Israel yang sudah dikenal sejak era leluhur tetapi sudah tidak populer lagi di zaman Yesus. Namun Yesus memopulerkan kembali tradisi tersebut sebab di dalamnya memiliki nilai luhur yang tinggi yang sejalan dengan penekanan Injil Matius

    MAKNA DIALOG YESUS DENGAN FILIPUS DALAM YOHANES 14: 8-14

    Get PDF
    The text of John 14: 8-14 shows the confusion and failure of the disciples to understand Jesus's teaching. The text seems to contrast with the disciples' closeness to  Jesus. They should have understood Jesus' intentions faster because they had lived with Jesus for a long time in the ministry. On the contrary, this dialogue shows if there was a massive dividing wall between Jesus and the disciples. The main factor that prevented the disciples from understanding Jesus' teaching was that the disciples did not yet truly believe in the authority that Jesus had. The disciples are still bound by the OT conceptual understanding of how to see the Father through Theophany's revelation. Therefore, this article examines the meaning of the dialogue by conducting an exegesis analysis of each word and phrase to find the main message emphasized in the text.Teks Yohanes 14: 8-14 memperlihatkan adanya kebingungan dan kegagalan para murid memahami pengajaran Yesus. Hal ini bertolak belakang dengan situasi kedekatan para murid dengan Yesus. Seharusnya mereka lebih cepat memahami maksud Yesus karena mereka sudah lama hidup bersama Yesus dalam pelayanan. Namun sebaliknya dalam dialog ini justru memperlihatkan seperti adanya sebuah tembok pemisah yang sangat besar antara Yesus dengan para murid. Faktor utama yang menjadi penghalang para murid gagal memahami pengajaran Yesus adalah para murid belum percaya sungguh-sungguh otoritas yang dimiliki oleh Yesus. Para murid masih terikat dengan konsep pemahaman PL tentang cara melihat Bapa melalui penyataan yang bersifat Theofany. Oleh sebab itu, artikel ini berupaya mengkaji makna yang terkandung di dalam dialog tersebut dengan cara melakukan analisis eksegesis terhadap setiap kata dan frasa untuk menemukan pesan utama yang ditekankan di dalam teks

    PRAKTIK KEWIRAUSAHAAN GEREJA

    Get PDF
    This study aims to examine and describe the entrepreneurial practices of the Pentecostal church in alleviating poverty in Wamena. The method in this research is an explanatory sequential mixed method. It first conducts quantitative research, analyzes the results, and then arranges the results to explain them in more details with qualitative research. The sample is GPdI Elshaddai Wamena and GPdI Elroi Wamena purposively selected the congregations that did entrepreneurship practices. Data collection techniques are through questionnaires, observation, and interviews. Data is collected and analyzed quantitatively, through the relative frequency distribution table, and described qualitatively. The results showed 132 GPdI Elshaddai Wamena congregations and 156 GPdI Elroi Wamena congregations had practiced entrepreneurship in the church well. Entrepreneurship practices carried out by GPdI Elshaddai Wamena and GPdI Elroi Wamena have contributed to alleviating poverty in Wamena.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan praktik-praktik kewirausahaan gereja beraliran pentakostal dalam mengentaskan kemiskinan di Kota Wamena. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran sekuensial eksplanatori yakni metode di mana peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian kuantitatif, menganalisis hasil dan kemudian menyusun hasil untuk menerangkannya secara lebih terperinci dengan penelitian kualitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah GPdI Elshaddai Wamena dan GPdI Elroi Wamena yang dipilih secara purposif yakni jemaat yang melakukan praktik kewirausahaan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui angket, observasi dan wawancara. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara kuantitatif yakni melalui tabel distribusi frekuensi relatif, dan selanjutnya dideskripsikan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 132 orang jemaat GPdi Elshaddai Wamena dan 156 orang jemaat GPdI Elroi Wamena telah melakukan praktik kewirausahaan dalam jemaat dengan baik. Praktik-praktik kewirausahan yang dilakukan oleh GPdi Elshaddai Wamena dan GPdI Elroi Wamena telah berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan di Kota Wamena. &nbsp

    PAULUS SANG ENTREPRENEUR

    Get PDF
    This article examines Paul's independence as a Gospel Preacher who lives as an entrepreneur. The Apostle Paul, an apostle for Gentiles, has particular expertise in making tents - used as a support for funding - to help continue the preaching of the gospel. He does not want to burden the congregation he serves by funding the preaching of the gospel. His expertise is used as much as possible to sustain it in service. As an apostle, he is not ashamed to be forthright about what he is doing as a tent maker. And its primary purpose is the expertise to make tents used as a bridge for preaching the gospel. Thus there are at least two essential things obtained from this topic: first, the independence of funds as an evangelist, and second, expertise as a bridge of evangelism. The method of research conducted is qualitative. The study carries out a theological approach through biblical studies. In this research, the author will describe Paul as an entrepreneur and an entrepreneur of evangelistic bridges. The findings in this study showed that gospel preachers must emulate Paul, who made his expertise a pillar of service so that it did not burden the congregation served. The church must learn to accept the fact that there are pastors who live as entrepreneurs.Artikel ini ingin mengkaji tentang kemandirian Paulus sebagai Pemberita Injil yang hidup sebagai seorang entrepreneur. Rasul Paulus sebagai rasul bagi orang-orang non-Yahudi memiliki keahlian khusus dalam membuat tenda – dijadikan sebagai penopang pendanaan – sehingga dapat membantu dalam kelangsungan pemberitaan Injil. Ia tidak ingin memberatkan jemaat yang ia layani dalam hal pendanaan pemberitaan Injil. Keahlian yang ia miliki digunakan semaksimal mungkin untuk menopangnya dalam pelayanan. Sebagai rasul, ia tidak malu untuk berterus terang akan apa yang sedang kerjakan yaitu sebagai pembuat tenda. Tujuan utamanya adalah keahlian membuat tenda dipakainya sebagai jembatan untuk pemberitaan Injil. Dengan demikian setidaknya ada dua hal penting yang didapatkan dari topik ini yaitu: pertama, kemandirian dana sebagai penginjil, dan kedua, keahlian sebagai jembatan penginjilan. Metode penelitian yang dilakukan bersifat kualitatif dengan pendekatan teologis. Di dalam artikel ini, penulis memaparkan tentang Paulus sebagai seorang entrepreneur, dan entrepreneur sebagai jembatan penginjilan. Temuan dalam penelitian ini adalah pemberita Injil penting untuk meneladani Paulus yang menjadikan keahliannya sebagai penopang pelayanan, sehingga tidak menjadi beban bagi jemaat yang dilayani. Dari sini, Gereja perlu belajar menerima kenyataan bahwa ada pendeta (pelayan) yang hidup sebagai seorang entrepreneur

    UPAYA PREVENTIF GURU KRISTEN DALAM MENGHADAPI DEGRADASI MORAL ANAK

    Get PDF
    The current phenomenon of child delinquency leads to moral degradation. Children are no longer victims of violence but also become perpetrators. The emergence of cases of destruction, abuse, rape, and even murder carried out by children, shows the weakness of moral education in Indonesia. Two main factors influence, namely external and internal. There must be synergy between parents, teachers, and the community to educate children. In addition to moral education in the family and society, school becomes a parent's partner in educating and instilling moral values ​​in children in school. In this case, the teacher has a significant role in shaping the child into a moral person. Especially in this case, Christian teachers (Christian teachers) need to be aware of children's needs for moral values because these values ​​align with noble Christian values. This research is here to help Christian teachers by offering steps to teach moral values ​​to children in school. The author used the descriptive method so that readers could see a picture of the research results more closely. The efforts to overcome children's moral degradation in school include creating a moral community, designing shared moral discipline, upholding moral discipline, teaching conflict resolution, and guiding students.Fenomena kenakalan anak saat ini mengarah pada terjadinya degradasi moral. Hal ini nampak pada fakta bahwa anak bukan lagi menjadi korban namun juga menjadi pelaku. Munculnya kasus pengerusakan, aksi perundungan, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh anak, menunjukkan masih lemahnya pendidikan moral di Indonesia. Ada 2 faktor utama yaitu internal dan eksternal yang mempengaruhi. Perlu adanya sinergi antara orang tua, guru dan masyarakat untuk mendidik anak-anak. Selain pendidikan moral dalam keluarga dan masyarakat, sekolah menjadi partner orang tua untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai moral bagi anak di sekolah. Dalam hal inilah guru memiliki andil besar membentuk anak menjadi pribadi yang bermoral. Khususnya dalam hal ini guru Kristen (guru yang beragama Kristen) perlu memiliki kesadaran terhadap kebutuhan anak akan nilai-nilai moral, karena nilai-nilai tersebut sejalan dengan nilai-nilai Kristen yang luhur. Penelitian ini hadir untuk menolong para guru Kristen dengan menawarkan langkah-langkah untuk dapat mengajarkan nilai-nilai moral bagi anak di sekolah. Penulis menggunakan metode deskriptif sehingga pembaca dapat melihat gambaran hasil penelitian secara lebih lekat. Upaya untuk mengatasi degradasi moral anak di sekolah meliputi menciptakan komunitas moral, merancang disiplin moral bersama, menegakkan disiplin moral, mengajarkan resolusi konflik dan membimbing siswa

    ANALISIS TENTANG PEMAHAMAN IBADAH MENURUT MAZMUR 50 PADA MAHASISWA STAKN KUPANG

    Get PDF
    Worship is a basic need for every Christian to draw closer to God. Therefore we need a correct understanding of true worship. This study looks at the level of understanding of students of STAKN Kupang about true worship, that the true worship based on Psalm 50: 1-23 is giving thanks, paying vows, crying out, and living according to God's provision. This study uses a combination of research types. The qualitative method (exegesis) is carried out to get the indicators to be measured. Then proceed with a quantitative approach in the form of a survey to measure the level of student understanding of worship. The results showed that the price of t count = 19.576 and the cost of the t table for a one-tail test with DK 142 = 0.65566. The results of the calculation of the level of understanding of students of STAKN Kupang Semester V regarding the concept of worship, according to Psalm 50: 1-23, is 87.3%. Ibadah merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang Kristen untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Oleh karena itu perlu pemahaman yang benar tentang ibadah yang sejati itu. Penelitian ini melihat tingkat pemahaman mahasiswa STAKN Kupang tentang ibadah yang sejati, bahwa pada dasarnya ibadah yang benar menurut mazmur 50:1-23 adalah bersyukur, membayar nazar, berseru dan hidup menurut ketetapan Allah.  Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kombinasi. Metode kualitatif (Eksegesa) dilakukan untuk mendapatkan indikator yang akan diukur. Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan kuantitatif dalam bentuk survey untuk mengukur tingkat pemahaman mahasiswa tentang ibadah.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa harga t hitung = 19,576 dan harga t table untuk one tail test dengan dk 142 =0,65566. Adapun hasil perhitungan tingkat pemahaman Mahasiswa STAKN Kupang Semester V mengenai konsep ibadah menurut Mazmur 50:1-23 adalah sebesar 87,3 %

    PERCERAIAN WARGA GKJW DI KABUPATEN JEMBER

    Get PDF
    oai:ojs2.jurnal.sttstarslub.ac.id:article/5The congregation of Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) in Jember is the research subject, and an integral part of that divorce rate is rising. The teaching of the Christian faith is not to be divorced, but divorce occurs. In the 1970s, there were no divorces; however, in the 2000s, divorce befell the GKJW Christian family in Jember. The high divorce of church members in Jember in the 2000s became a challenge to Church service. The data from Jember Regency Population and Civil Registration Office aligns with the divorce in GKJW Congregations in Jember. What factors cause divorce in the GKJW Church in all of Jember District? Social supports, administrative requirements, and religious background are the main factors driving divorce. While supporting factors, husband and wife accountability, PIL or WIL, family conflicts, and communication are the stimulants of divorce. These social facts are intertwined in church service in a societal context. Institutionally or personally, church servants should prepare themselves and the “tools” of the services needed to prepare for possible problems. Warga Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di kabupaten Jember menjadi subjek penelitian dan bagian integral meningkatnya angka perceraian. Ajaran iman umat Kristen adalah tidak boleh bercerai, tetapi kenyataannya perceraian terjadi. Tahun 1970-an tidak ada perceraian, tetapi tahun 2000-an perceraian terjadi dalam keluarga Kristen GKJW di Jember. Tingginya perceraian warga gereja di Jember di tahun 2000-an menjadi tantangan pelayanan Gereja. Data perceraian Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Jember, sebanding lurus dengan perceraian di Jemaat-Jemaat GKJW Kabupaten Jember. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan perceraian di Jemaat GKJW se-Kabupaten Jember? Dukungan sosial, persyaratan administrasi, latar belakang agama, menjadi faktor utama penyebab perceraian. Sedang faktor pendukung, tanggung jawab suami isteri, PIL atau WIL, konflik keluarga dan komunikasi menjadi stimulan perceraian. Inilah fakta sosial yang berkelindan dalam pelayanan gereja dalam konteks bermasyarakat. Semestinya secara institusi ataupun personal pelayan gereja membekali diri dan mempersiapkan “piranti-piranti” pelayanan yang dibutuhkan, sebagai persiapan terhadap kemungkinan persoalan yang akan terjadi

    KEMANUNGGALAN DALAM YOHANES 15:7 SEBAGAI MISI KONTEKSTUAL KEPADA PENGANUT KEJAWEN

    Get PDF
    This article discusses the oneness in John 15:7 as a contextual mission attempt to the Kejawen practitioners. John 15:7 is explained that if humans are in God and God is in humans, then all that people want will be fulfilled. In the Kejawen teaching, there is also an understanding of oneness, called Manunggaling Kawula Gusti. The concept is also the unification between man and God. The merger of Man with God in this concept through the stages of changing human life. From that definition, the legacy in John 15:7 has similarities with those in the Manunggaling Kawula Gusti concept. For this reason, both can be compared by looking at their similarities and differences. The result obtained from this comparison can be used as a contextualization mission to the Kejawen believers. The method used in this study is qualitative research with the literature study approach and comparisons. Artikel ini membahas kemanunggalan di dalam Yohanes 15:7 sebagai upaya misi kontekstual kepada penganut ajaran Kejawen.  Di dalam teks ini dijelaskan apabila manusia di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam manusia, maka semua yang dikehendaki manusia akan dipenuhi.  Di dalam ajaran Kejawen juga terdapat pemahaman tentang kemanunggalan yaitu Manunggaling Kawula Gusti.  Di dalam konsep ini juga penyatuan antara manusia dengan Tuhan.  Penyatuan manusia dengan Tuhan di dalam konsep ini melalui tahapan perubahan hidup manusia.  Dari definisi yang ada, Kemanunggalan di dalam Yohanes 15:7 memiliki kesamaan dengan yang ada di Konsep Manunggaling Kawula Gusti.  Untuk itu, kedua hal ini dapat dilakukan perbandingan dengan melihat persamaan dan perbedaan di antara keduanya.  Hasil yang diperoleh dari perbandingan ini dapat digunakan sebagai misi kontekstualisasi kepada penganut kepercayaan Kejawen.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan komparasi (perbandingan)

    Tinjauan Buku: SAHALA, BAGI PEMIMPIN DULU DAN KINI

    Get PDF

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇