Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    KONTEKSTUALISASI IBADAH PENGHIBURAN PADA TRADISI SLAMETAN ORANG MENINGGAL DALAM BUDAYA JAWA

    No full text
    For Javanese, ‘Slametan,’ the tradition of the dead, is a culture rooted in Javanese lives. This could be a challenge for those who became Christians because the tradition is not according to the Biblical principles regarding the condition of the dead. Therefore, this study aims to find a method that can link Javanese culture and Biblical principles so that there will be no distortion in social life and evangelistic efforts to preach the love of Jesus. A qualitative method is used in this study where observations and literature study collect data through books and journals related to the issues. So, as a result, the contextualization of consolation based on I Corinthians 9:20, the principle of “alike”, will be a method to eliminate the distortions by performing consolation service on the days when the Javanese practice the slametan tradition.Tradisi slametan orang meninggal bagi orang Jawa adalah budaya yang mengakar kuat dalam hidup orang Jawa, namun hal ini menjadi sebuah tantangan bagi orang Jawa yang sudah menjadi Kristen, di mana tradisi ini tidak selaras dengan prinsip Alkitab mengenai keadaan orang mati. Maka tujuan pembahasan ini adalah untuk mencari sebuah metode yang menjembatani antara budaya Jawa dengan prinsip Alkitab supaya tidak terjadi distorsi  dalam hidup bermasyarakat dan usaha penginjilan untuk memberitakan kasih Yesus. Pembahasan ini menggunakan metode kualitatif di mana pengumpulan data melalui observasi lapangan dan study pustaka melalui buku-buku dan jurnal-jurnal yang terkait dengan masalah penulisan. Maka hasilnya, kontekstualisasi ibadah penghiburan yang berprinsip pada I Korintus 9:20, yaitu prinsip “seperti”  akan menjadi metode untuk menghilangkan distorsi dengan cara melakukan ibadah penghiburan pada hari-hari orang Jawa melakukan tradisi slametan

    GEREJA BERMISI MELALUI MEDIA DIGITAL DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

    Get PDF
    The purpose is to describe the role of the media in supporting missions in the fourth industrial revolution. The cause of several studies found there are still some digital media users who are not wise in social media. One example is the outbreak of hate speech that played a more significant role in racial crime in 2019. Also, few social media and online communication users use their accounts to slander, bully, and spread fake news. For this reason, users must choose wisely in using their social media accounts. The method used is qualitative by collecting several references from library studies to produce several explanations that are discussed systematically. The results of this study indicate that the church needs to open up in terms of media development because this will be one of the most effective investments in protecting lives in the era of the fourth industrial revolution. Some strategies to communicate the gospel message that can intensify media services include live streaming sermons, recording sermon videos, and updating status through Facebook and Instagram. The conclusion is that media services are beneficial to reach every community but is challenging to achieve. But most of all, media service can aim to speed up the second coming of Jesus Christ. “And this gospel of the kingdom shall be preached in all the world for a witness to all nations; and then shall the end come.” (Matthew 24:14 - NKJV).Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan peranan media dalam mendukung pelayanan misi di era revolusi industri 4.0. Sebab dari beberapa penelitian yang dijumpai ternyata masih ada beberapa pengguna media digital yang tidak bijak dalam bersosial media. Salah satu contohnya yaitu mewabahnya ujaran kebencian yang memainkan peran yang lebih besar dalam kejahatan rasial pada tahun 2019. Selain itu, tak sedikit juga dari pengguna media sosial dan sarana komunikasi online lainnya menggunakan akun pribadinya untuk memfitnah, melakukan tindakan bullying, bahkan sampai menyebarkan berita hoax. Untuk itu, para pengguna diharapkan bersikap bijak dalam menggunakan akun media sosialnya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan cara mengumpulkan beberapa rujukan melalui studi kepustakaan sehingga menghasilkan beberapa penjelasan yang dibahas secara sistematis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa gereja perlu membuka diri dalam hal kemajuan perkembangan media sebab ini akan menjadi salah satu ladang pelayanan yang sangat efektif dalam menjangkau jiwa di era revolusi industri 4.0 ini. Beberapa strategi dalam mengkomunikasikan pesan Injil yang dapat dilakukan guna menggiatkan pelayanan media antara lain melalui khotbah live streaming, rekaman video khotbah, update status melalui Facebook dan Instagram. Kesimpulannya ialah pelayanan media sangat berguna untuk menjangkau setiap masyarakat yang sulit untuk dijangkau. Namun yang terutama ialah pelayanan media dapat bertujuan untuk mempercepat kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14)

    OBITUARI: AIMEE SEMPLE MC PHERSON (1890–1944)

    No full text

    Tinjauan Buku: GEMBALA YANG MENGAJAR

    No full text

    PROSES PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF MARTIN BUBER

    No full text
    Divorce in Indonesia is increasing from time to time. This is an indisputable social fact. This research will analyze how the divorce process occurs and how a husband or wife sees their partner from Martin Buber's perspective through a philosophical approach. Divorce is a process leading to separation. Starting from a crisis and prolonged domestic conflict, in the end, it brings a new "perspective" towards their partner. In Buber's perspective, the husband and wife relationship could be said to be in the I-Thou pattern before the conflict. Husbands or wives see their partner as a self-image of their existence as a person, but the family crisis leads them to the I-It pattern, which sees partners as things. The crisis impacts changing the pattern of relations from integrative relationships to segregative and separate ones. The separation between husband and wife begins with self-construction by the "strong" party to their partner, who is in an inferior position. This negative self-construction creeps into a social construction, which impacts the stigmatization of the inferior as the party to blame—this stigma against a partner as "It" facilitates the separation process that leads to divorce.Perceraian di Indonesia semakin meningkat dari waktu ke waktu. Ini merupakan fakta sosial yang tidak terbantahkan. Melalui pendekatan filosofis penelitian ini akan menganalisa bagaimana proses perceraian terjadi dan bagaimana suami atau istri melihat pasangannya dalam perspektif Martin Buber. Perceraian adalah sebuah proses menuju perpisahan. Bermula dari sebuah krisis dan konflik rumah tangga yang berkepanjangan, pada akhirnya menghadirkan “sudut pandang” baru terhadap pasangannya. Sebelum konflik, dalam perspektif Buber, relasi suami istri dapat disebut berada pada pola I-Thou. Suami atau istri melihat pasangannya sebagai gambar diri atas keberadaannya sebagai seorang pribadi, tetapi krisis keluarga membawanya pada pola I-It yang memandang pasangan sebagai things. Krisis berdampak pada perubahan pola relasi dari relasi yang bersifat integratif menuju pola relasi segregatif dan sparatif. Proses perpisahan suami istri tersebut dimulai dengan adanya konstruksi diri oleh pihak yang “kuat” kepada pasangannya yang berada pada posisi inferior. Konstruksi diri negatif ini menjalar menjadi konstruksi sosial yang berdampak pada stigmatisasi pihak inferior sebagai pihak yang patut dipersalahkan. Stigma terhadap pasangan sebagai It inilah yang memperlancar proses separasi yang berujung pada perceraian

    MAKNA FENOMENA KEMATIAN MASSAL DI TENGAH PANDEMI COVID-19 BERDASARKAN REFLEKSI DARI AYUB 1: 1-22

    No full text
    The phenomenon of mass death that occurred amid the Covid-19 pandemic made people reflect on death's meaning. Job 1: 1-22 contained a reflection on death when Job lost all of his children simultaneously to death. This research's main objective is to find the meaning of the phenomenon of mass death amid a pandemic based on the book Job 1: 1-22. The method used is qualitative, with a phenomenological and hermeneutic approach. This study found the meaning of mass death amid the Covid-19 pandemic based on Job 1: 1-22 is 1). the form of God's power, which must be recognized and accepted by humans; 2). the test of faith that God allows to occur in human life.Fenomena kematian massal yang terjadi di tengah pandemi Covid-19 membuat manusia merefleksikan kembali makna kematian. Ayub 1: 1-22 berisi refleksi tentang kematian saat Ayub kehilangan semua anaknya secara bersamaan karena kematin. Tujuan utama penelitian ini adalah menemukan makna fenomena kematian massal di tengah pandemi berdasarkan kitab Ayub 1: 1-22. Metode yang dipakai ialah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan hermeneutika. Studi ini menemukan memaknai kematian massal di tengah pandemi covid-19 berdasar Ayub 1:1-22 adalah: 1). wujud dari kekuasaan Tuhan yang harus diakui dan diterima oleh manusia; 2). ujian iman yang diijinkan Tuhan untuk terjadi dalam kehidupan manusia

    TINJAUAN BUKU: EVANGELIKAL, SAKRAMENTAL DAN PENTAKOSTAL

    No full text

    PERTOBATAN DIALOGIS

    Get PDF
    The word "dog" in Mark 7:24-30 is characterized by colonizing, dictators, and feudal who want to separate a person on a social, religious, and racial basis. The postcolonial study is the right approach to uncover the complicated of Jesus ' experience with the Syro-Phoenician woman, remembering that the Gospel of Mark was written during the turbulent time of colonial politics, circa 70 CE. The text and context of Mark become integral to the colonization process. The authority of Jesus symbolically as ruler acted superior over the Syro-Phoenician woman, weak and unclean. The authoritative rule over the weak produces stereotypical prejudices and presumptions. At first, they view each other from different places, from their perspective cultural perception rooms, searching for the exact meeting point and establishing bilateral agreements. In the end, they recognize one another, which resulted in repentance.Kata “anjing” dalam Markus 7:24-30 adalah tindakan yang bercirikan kolonialisme, diktatorisme dan feodalistik yang ingin memisahkan seseorang secara sosial, agama dan rasial. Studi postkolonial menjadi pendekatan yang tepat untuk menguak keruwetan perjumpaan Yesus dengan perempuan Siro-Fenisia, mengingat Injil Markus ditulis pada waktu pergolakan politik colonial, sekitar tahun 70 M. Itu artimya teks dan konteks Markus menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses kolonisasi. Otoritas Yesus secara simbolik sebagai penguasa bertindak superioritas atas perempuan Siro-Fenisia, perempuan lemah dan najis. Pihak yang kuat berkuasa atas yang lemah sehingga menghasilkan prasangka dan praduga stereotype. Semula saling memandang dari tempat yang berbeda, dari ruangan persepsi kultural masing-masing, mencari titik temu yang sama, membangun persetujuan bilateral dan berakhir pada saling mengakui yang menghasilkan pertobatan. &nbsp

    PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN BAGI WARGA GEREJA DI ERA DIGITAL

    Get PDF
    In this study, the author studied education for church members: the role of the church in building and empowering the economy of the church member in the digital era. This study departs from the writer's observation empirically, where the church today only focuses on the spiritual side without thinking about the church member's life. The author emphasized in this paper that the church is not only present as preachers and prayer for the church members, but the church must provide a solution to the problems faced by the church members. The method used in this study is the qualitative research method. The author examines the church's role in building and empowering the economy of the church members in the digital era. The author's analysis process uses various reliable sources and electronic resources to support the writer's analysis. The results show that by utilizing technology as a business opportunity, the church could reducing the unemployment and poverty of the church members. The purpose of this study is to encourage every church to have a qualified innovation in answering the challenges in the digital era as an opportunity to create employment for church members.Dalam tulis ini, penulis melakukan kajian terhadap Pendidikan Bagi Warga Gereja: Peran gereja dalam membangun dan memberdayakan ekonomi jemaat di era digital. Kajian ini berangkat dari pengamatan penulis secara empiris dimana gereja hari-hari ini hanya bergerak dari sisi rohani tanpa memikirkan keberlajutan kehidupan jemaat. Penulis menekankan dalam tulisan ini bahwa gereja tidak hanya hadir sebagai pengkhotbah dan pendoa kepada jemaat tetapi gereja harus memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh jemaat dalam bergereja. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, penulis mengkaji Peran gereja dalam membangun dan memberdayakan ekonomi jemaat di era digital. Proses analisis yang dilakukan oleh penulis adalah menggunakan berbagai sumber pustaka maupun elektronik yang terpercaya untuk mendukung analisis penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dengan memanfaatkan teknologi sebagai peluang usaha, gereja ikut mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan warga gereja. Tujuan dari tulisan ini adalah upaya mendorong setiap gereja untuk memiliki inovasi yang mumpuni dalam menjawab tantangan yang ada di era digital sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja bagi warga jemaat

    GEREJA SEBAGAI PERSEKUTUAN PERSAHABATAN YANG TERBUKA MENURUT JÜRGEN MOLTMANN

    Get PDF
    Using a qualitative descriptive approach, this article shows that according to Moltmann, the church concept of fellowship or Koinonia is too often based on uniformity. Against the Koinonia model, Moltmann raised the biblical concept of the importance of strangers, travellers, outcasts, and sinners. According to Moltmann, the church cannot be a boat of sameness in navigating the ocean of diversity. Therefore, Moltmann offers the concept of a trinitarian partnership based on friendship. For Moltmann, the good news about Koinonia from the Triune God is not marked by friendship in uniformity but by a bond that unites, respects, and embraces differences. True Koinonia means more than just accepting and embracing tension and conflict. True Koinonia is about accepting and embracing each other (and God). The ultimate sign of true Koinonia is friendship. Moltmann emphasized the church's call to be an open fellowship of friendship by promoting freedom, equality, and love. Moltmann, at the same time, put forward a criticism of the church structure, which - in Moltmann's terms - was built on the principle of monotheistic hierarchy, which was loaded with oppression. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, artikel ini memperlihatkan bahwa menurut Moltmann, konsep gereja sebagai persekutuan atau koinonia terlalu sering didasarkan pada keseragaman. Terhadap model koinonia tersebut, Moltmann mengangkat konsep Alkitabiah tentang arti penting dari orang asing dan musafir, orang buangan dan pendosa. Menurut Moltmann, gereja tidak bisa menjadi sebuah perahu kesamaan (a boat of sameness) dalam mengarungi lautan keberbedaan. Oleh karena itu, Moltmann menawarkan konsep persekutuan trinitaris yang berdasar pada persahabatan.  Bagi Moltmann, kabar baik tentang koinonia dari Allah Tritunggal tidak ditandai oleh persahabatan keseragaman, tetapi oleh persahabatan yang menyatukan, menghormati dan mencakup perbedaan. Koinonia sejati berarti lebih dari sekadar menerima dan merangkul ketegangan dan konflik. Koinonia sejati adalah tentang menerima dan memeluk satu sama lain (dan juga Allah). Tanda pamungkas dari koinonia sejati adalah persahabatan. Moltmann menekankan panggilan gereja untuk menjadi persekutuan persahabatan (friendship koinonia) yang terbuka dengan mengedepankan kebebasan, kesetaraan dan cinta kasih. Moltmann sekaligus mengajukan kritik terhadap struktur gereja yang – dalam istilah Moltmann – dibangun dengan prinsip hierarkhi monoteis yang justru sarat dengan penindasa

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇