Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
111 research outputs found
Sort by
KEBUTUHAN PENDAMPINGAN PASTORAL UNTUK MENGATASI KECANDUAN GAME ONLINE REMAJA DI JEMAAT GMAHK PIONEER TOMPASO
The purpose of this study was to determine the importance of pastoral care for church youth who are addicted to online games. The method used is a survey with data collection techniques using a questionnaire with non-probability sampling. The number of questionnaires was collected from 66 respondents among the 130 congregations. The research subjects were the Pioneer Tompaso Seventh-day Adventist Church in Jl. Pemuda Desa Kamanga 2, Tompaso District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province. The data were analyzed according to the five respondents' preferences for the answers to the questionnaire, ranging from strongly agree to strongly disagree. The results show that 75.8% agree and strongly agree that online games have a terrible impact on their future, and 71.4% want to get rid of online game addiction. The results also show that 62.1% of respondents need pastoral assistance and trust the pastor's guidance and advice.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pentingnya pendampingan pastoral bagi remaja gereja yang kecanduan game online. Metode yang di gunakan adalah survey dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan non probability sampling. Jumlah kuesioner yang terkumpul adalah 66 dari populasi Jemaat yang aktif 130 orang. Subyek penelitian adalah Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Pioneer Tompaso Jl. Pemuda Desa Kamanga 2 Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Data di analisa sesuai dengan 5 preferensi responden atas jawaban kuisioner mulai dari sangat setuju sampai pada sangat tidak setuju. Hasil menunjukan 75.8% setuju dan sangat setuju bahwa game online berdampak buruk pada masa depan mereka dan 71.4% berkeinginan untuk terlepas dari kecanduan game online. Hasil juga menunjukan bahwa 62.1% responden membutuhkan pendampingan pastoral dan percaya kepada bimbingan dan nasehat pendet
SOCIAL ENTREPRENEURSHIP
This study aims to apply Paul's entrepreneurial characteristics as a form of Social Entrepreneurship for Christian entrepreneurs today. Researchers find that there is still little study of this matter so more in-depth research is needed. In addition, the existing studies generally only examine the extent of entrepreneurship. The authors used the research library and rhetorical criticism methods in this study to solve existing problems. The research problem that has been solved is applying Paul's entrepreneurial characteristics as a form of Social Entrepreneurship for Christian entrepreneurs today. The results of this study indicate that Christian entrepreneurs are social entrepreneurs who are required to be innovative, creative, brilliant in reading opportunities, helpful, and actively involved in social transformation, such as Paul's entrepreneurial characteristics.Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan karakteristik kewirausahaan Paulus sebagai wujud Social Enterpreneurship bagi wirausahawan Kristen masa kini. Peneliti mendapati bahwa kajian terhadap hal tersebut masih sedikit sehingga perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Di samping itu, kajian yang ada pada umumnya hanya mengkaji sebatas Enterpreneurship saja. Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode library reasech dan metode kritik retorik untuk memencahkan masalah yang ada. Adapun problem research yang dipecahkan adalah bagaimanakah penerapan karakteristik kewirausahaan Paulus sebagai wujud Social Enterpreneurship bagi wirausahawan Kristen masa kini? Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa wirausahawan Kristen pada dasarnya adalah Social Entrepreneur yang wajib memiliki inovasi, kreatif, cerdas membaca peluang, berjiwa penolong serta terlibat aktif dalam transformasi sosial seperti krakteristik kewirausahaan Paulus
PELAYANAN GEREJA TERHADAP KAUM LANSIA DI MASA PANDEMI COVID-19 DITINJAU DARI IBRANI 10:25
This study aimed to explain the extent of the physical condition of the elderly, the ability to understand technology, and the understanding of online worship towards online worship during the Covid-19 pandemic. The research method used is descriptive quantitative. The researcher conducted questionnaires and interviews with 50 elderly in the Seventh Day Adventist Magetan and Poncol churches in East Java. The results showed that the elderly had difficulty participating in online worship because their eyesight and hearing decreased. They did not have a smartphone and could not run them for worship. They are more likely to expect services at home and to be served through pastor dan elders visitation. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan sejauh mana kondisi fisik (mata dan telinga) lansia, kemampuan memahami teknologi, dan pemahaman ibadah online terhadap kebaktian online di masa pandemi covid-19. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif untuk melihat pemahaman lansia terhadap peribadatan online, teknologi, dan kondisi kesehatannya. Kuesioner dan wawancara dilakukan kepada 50 lansia di gereja Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Magetan dan Poncol, Jawa Timur. Hasil penelitian adalah lansia mengalami kesulitan mengikuti ibadah online karena penglihatan dan pendengarannya yang sudah menurun, tidak memiliki smartphone, dan tidak dapat menjalankan smartphone untuk berbakti. Mereka lebih mengharapkan kebaktian di rumah dan dilayani melalui perlawatan
MODEL DIALOG IMAJINER ENTAS-ENTAS UNTUK MENGKOMUNIKASIKAN KRISTUS KEPADA MASYARAKAT TENGGER
Indonesia has a diversity of cultures, and each culture has its characteristics and these cultures cannot be eliminated. Simultaneously the Tengger Tribe has the privilege of entas culture, where this culture is a ritual that is held to commemorate the death and to ask the Supreme Court so that the spirits who have died get a good place. Based on these cultural features, Christianity must have a mission to communicate Christ to the Tengger Tribe. The mission can be carried out using apologetic dialogue. The apologetic dialogue is based on the conversational theory of evangelism from Geisler. The apologetic dialogue also refers to the God and Culture theory of Richard Neighbor. The apologetic dialogues are arranged in an imaginary dialogue that can be developed and practised by every believer. The purpose of this paper is, first, to know the biblical apologetic dialogue model. Second, knowing the context of entas- ter in the Tengger society. Third, obtain an imaginary Dialogue Model for communicating Christ to the Tengger community. Based on this research, the method used by the author is literature study and Bible study. The apologetic dialogue produced is expected to be a pre-evangelism for the Tengger society. Indonesia memiliki keragaman budaya dan setiap budaya memiliki ciri khas masing-masing dan budaya-budaya tersebut tidak bisa di hilangkan. Suku Tenggeradalah salah satu daerah yang memiliki keistimewaan dengan budayanya yang disebut entas-entas, Budaya ini merupakan ritual yang diadakan untuk memperingati kematian dan untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar arwah yang telah meninggal mendapat tempat yang baik. Agama Kristen perlu memiliki misi untuk mengkomunikasikan Kristus kepada Suku Tengger. Misi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan dialog apologetik. Metode yang digunakan penulis dalam penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi dan teologis. Pengumpulan data menggunakan studi literatur dan studi alkitab. Dialog apologetis disusun berdasarkan teori conversational evangelism dari Geisler. Dialog apologetik juga mengacu pada teori God and Culture dari Richard Neighbour. Dialog apologetik yang disusun dalam suatu dialog imajiner yang dapat dikembangkan dan dipraktikan oleh setiap orang percaya. Tujuan penulisan ini adalah memperoleh Model Dialog imajiner sebagai model untuk mengkomunikasikan Kristus pada masyarakat Tengger. Dialog apologetis yang dihasilkan berupa 12 butir pertanyaan model bertanya dan mengarahkan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu dialog pra-penginjilan yang efektif menjangkau masyarakat yang menghidupi kebudayaan terkhusus masyarakat Tengger.
 
ANALISIS TEOLOGIS MENGENAI BERIBADAH DI RUMAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA
Case COVID-19 (coronavirus) has become a global pandemic in Indonesia. To break the virus's spread, the government and church leaders carry out a social distancing process by encouraging church members to worship in their homes. This suggestion raises the pros and cons of the congregation. Most of the congregations have a dilemma about it. It is unusual worship, for they always do worship in church. Therefore, they need a theological answer as to whether worshipping at home is acceptable. This research aims to answer that dilemma by exploring the concept of worship in the Bible. The method used is hermeneutic with a textual and historical critique approach. As a result, worship at home does not reduce the essence of worship itself because the meaning of true worship is human life itself before God (Rom 12: 1-2). It should answer the pros and cons among congregation members about worship at home during the coronavirus pandemicKasus COVID-19 (virus corona) sudah menjadi pandemi global, secara khusus di Indonesia. Untuk memutus rantai penyebaran virus, pemerintah dan pimpinan gereja melakukan proses social distancing dengan menghimbau warga gereja melaksanakan ibadah di rumah masing-masing. Hal ini menimbulkan dilema di kalangan anggota jemaat karena selama ini mereka selalu beribadah di gereja. Mereka membutuhkan jawaban teologis apakah beribadah di rumah dapat diterima atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan jawaban tersebut. Metode yang digunakan adalah hermeneutika dengan pendekatan kritik teks dan kritik historis. Hasil penelitian adalah adalah bahwa pelaksanaan ibadah di rumah tidak mengurangi esensi ibadah itu sendiri, karena makna dari ibadah yang sejati adalah hidup manusia itu sendiri di hadapan Allah (Rm 12: 1-2). Dengan demikian sudah menjawab dilema yang terjadi mengenai penerapan ibadah di rumah saat pandemi COVID-19 di Indonesia
MEMAKNAI KEMARAHAN ALLAH DARI SUDUT PANDANG TEOLOGI PENTAKOSTA DI ERA POST MODERN
This article intends to give meaning to God's anger in the light of Pentecostal theology. The methodology used is text analysis and literature review. There are four examples of God's anger that were studied, namely God's anger towards Adam and Eve, God's anger towards the Israelites, the anger of the Lord Jesus towards the disciples, and the anger of the Lord Jesus towards the merchants in the Temple. The research results show that Allah is never angry for no apparent reason, and every anger of Allah is impacted. The causes of God's anger are disobedience, replacing God with other gods, injustice, and trading services. The impact of God's anger is separation from God, loss of the religious community, bringing God's judgment, and death.Artikel ini bermaksud memberi pemaknaan terhadap kemarahan Allah dalam sudut pandang teologi Pentakosta. Metodologi yang digunakan yaitu analisis teks dan kajian literatur. Ada empat contoh kemarahan Allah yang diteliti yaitu kemarahan Allah kepada Adam dan Hawa, kemarahan Allah kepada bangsa Israel, kemarahan Tuhan Yesus kepada para murid, dan kemarahan Tuhan Yesus kepada para pedagang di Bait Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Allah tidak pernah marah tanpa alasan yang jelas dan ada dampak dari setiap kemarahan Allah. Penyebab kemarahan Allah adalah ketidaktaatan, menggantikan Allah dengan ilah lain, ketidakadilan, dan memperjualbelikan pelayanan. Adapun dampak kemarahan Allah adalah keterpisahan dengan Allah, kehilangan komunitas ilahi, mendatangkan penghukuman Allah, dan kematian
IMPARTASI SPIRITUALITAS PEMUDA MELALUI PAWAI PASKAH DI GMIT JEMAAT EISLEBEN FATUMNANU
The Easter Parade is a routine church activity that demonstrates the story of misery, death, resurrection, and ascension of Jesus Christ. The aim is to awaken the congregation's memories of salvation committed by Jesus Christ. Specifically, it aims to impart the spirituality of the congregation. Through the parade, the congregation, especially church youths, are expected to have a religious orientation, seek God's wisdom, interact with others lovingly and believe in divine power and strength in their lives. This study aims to show the effect of the Easter march on youth spirituality in the Evangelical Christian Church in Timor, the Eisleben Fatu Manu Oinlasi Church, in 2019. The study was conducted with a quantitative approach. The sample in this study amounted to 40 youth. Research data were obtained using a questionnaire. Hypothesis testing uses simple linear regression analysis. The results showed the Easter parade in 2019 had a significant influence in imparting the spirituality of the youth of the Evangelical Masehi Church in Timor, the Eisleben Fatu Manu Church, amounting to 86.7%.Pawai Paskah merupakan kegiatan rutin gereja dalam mengenang karya keselamatan Yesus Kristus bagi setiap orang percaya. Secara khusus bertujuan untuk mengimpartasi spiritualitas jemaat. Melalui pawai paskah yang memeragakan kisah kesengsaraan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus, jemaat khususnya pemuda gereja diharapkan memiliki orientasi religius, berusaha mencari hikmat Allah, dan berinteraksi dengan sesama dengan penuh kasih serta berkeyakinan terhadap kekuasaan dan kekuatan ilahi dalam hidupnya. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh pawai paskah tahun 2019 terhadap spiritualitas pemuda di Gereja Masehi Injili di Timor Jemaat Eisleben Fatu Manu Oinlasi. Penelitian diilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian berjumlah 40 pemuda. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Uji hipotesis menggunakan analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan pawai paskah tahun 2019 memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengimpartasi spiritualitas pemuda Gereja Masei Injili di Timor Jemaat Eisleben Fatu Manu yakni sebesar 86,7 %
OTORITAS GURU PAK DAN ORANG TUA
The text of the Bible as the basis for implementing Christian Education (CE) has several parts that seem ambiguous in its actualization. It can be seen in three groups of CE teachers and parents with their respective understandings. The first group considers that discipline is part of realizing the authority of teachers and parents at home, which is accompanied by firm punishment. The second group believes that corporal punishment is not permitted, and the third group believes that strict discipline and corporal punishment must be implemented. Still, it needs to be accompanied by an educational aspect. If so, how should CE teachers and parents at home as educators respond to the ambiguity of Proverbs 13:24, which seems to suggest applying a strict discipline pattern? The author uses a qualitative method with a hermeneutic research library approach for text interpretation. So it can be concluded that PAK teachers and parents at home, as much as possible, apply educational patterns with a firm attitude towards children as students but still have a "loving" heart attitude in educating.Teks Kitab Suci sebagai landasan pelaksanaan pendidikan agama Kristen memiliki beberapa bagian yang terkesan ambigu dalam aktualisasinya. Hal ini Nampak pada tiga kelompok guru PAK dan orang tua dengan masing-masing pemahaman. Kelompok pertama menganggap bahwa disiplin sebagai bagian dari aktualisasi otoritas guru dan orang tua di rumah yang tegas dibarengi hukuman badan dibolehkan. Kelopmpok kedua menganggap bahwa hukuman badan tidak dibolehkan, dan kelompok ketiga menganggap bahwa pelaksanaan disiplin yang tegas dan hukuman badan harus dilakukan namun perlu dibarengi aspek mendidik. Jika demikian, bagaimana seharusnya guru PAK dan orang tua di rumah sebagai pendidik menyikapi sisi ambiguitas dari Amsal 13:24 yang terkesan menganjurkan untuk menerapkan pola disiplin yang tegas. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatanan studi pustaka yang bersifat hermeneutik guna interpretasi teks. Hasilnya disimpulkan bahwa guru PAK dan orang tua di rumah sedapatnya menerapkan pola pendidikan dengan sikap yang tegas terhadap anak sebagai peserta didik namun tetap memiliki sikap hati yang “mengasihi” dalam prinsip mendidik