Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    TANGGUNG JAWAB MENJALANKAN PROTOKOL KESEHATAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DITINJAU DARI PERSPEKTIF ETIKA KRISTEN

    No full text
    This article describes the various views of Christian ethicists about the concept of responsibility. The paper attempts to better understand the meaning of responsibility for Christians during the pandemic covid 19, particularly in carrying out health protocols. It is said that responsibility is relevant to human ethics, moral life, and actions revealed through His love. When the notion of responsibility is only associated with a mere duty ethic, it will be trapped in consequentialism. Responsibility in Christian ethics is the manifestation of good deeds based on the grace of faith. This is the essence of the Christian life. Responsibility in Christianity reflects loving God and neighbor, not just the right or wrong attitude, because this action does not affect the promise of salvation. From the theological perspective, responsibility is considered retrospective responsibility for past actions and the consequences before God. Artikel ini mendeskripsikan berbagai pandangan dari para etikus kristen tentang konsep tanggung jawab dari perspektif etika Kristen. Artikel ini berusaha memahami implikasi tanggung jawab bagi orang percaya di tengah pandemic Covid-19, khususnya dalam menjalankan protokol kesehatan. Dikatakan bahwa tanggung jawab memiliki relevansi bagi kehidupan etis-moral sebagai kesaksian menyatakan kasih Allah. Ketika seseorang melihat gagasan tanggung jawab hanya sebatas etika tugas semata maka akan terjebak dalam konsekuensialisme. Tanggung jawab dalam perspektif Etika Kristen adalah wujud dari perbuatan baik yang didasari iman yang diterima sebagai anugerah.tanggung jawab dalam kekristenan adalah cerminan mengasihi Allah dan sesama, bukan sekedar sikap yang benar atau tidak, karena perbuatan ini tidak mempengaruhi janji keselamatan. Dalam perspektif teologis, tanggung jawab terutama dilihat sebagai tanggung jawab retrospektif atas perbuatan di masa lalu dan konsekuensinya di hadapan Allah

    NILAI SEBUAH NAMA BAGI PEREMPUAN

    No full text
    Gender injustice is visible in the sexual division of labor and the mention of a married woman. Generally, the personal name of a married woman will be lost, replaced by her husband's name. This replacing name shows that there is also a pattern of ordination-subordination relationships between men and women in the family. This issue will focus on the discussion in this article, aiming that gender equality can be created starting from the smallest unit in society, namely the family. Using the phenomenological method, which departs from existing facts and then analyzes them with literature studies, this article shows that a person's name refers to a person. If someone's name replaces with another name, the person's identity will be lost and replaced by a new identity based on the new name. Then, if a married woman changes her name with her husband's name, the new name will lose her individuality. The results show that gender education has been carried out by each family through small things, especially in instilling the value of a personal name for a woman so that this will be a force to develop gender justice in society.Ketidakadilan gender tidak hanya tampak dalam fenomena pembagian kerja secara seksual melainkan tampak juga dalam penyebutan nama seorang perempuan yang sudah bersuami. Umumnya nama pribadi perempuan yang bersuami akan hilang digantikan dengan nama suami. Hal ini menunjukkan dalam keluarga pun terjadi pola hubungan ordinasi-subordinasi antara laki-laki dan perempuan. Masalah ini yang akan menjadi sorotan pembahasan dalam artikel ini, dengan tujuan agar kesetaraan gender dapat diciptakan yang dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Dengan menggunakan metode fenomenologi, yang berangkat dari kenyataan yang ada dan kemudian dianalisis dengan studi literatur, artikel ini memerlihatkan bahwa nama seseorang menunjuk pada pribadi. Jika nama dihilangkan dan diganti dengan nama lain, maka pribadi itu pun ikut hilang dan tergantikan berdasarkan nama yang baru. Hal ini harus diminimalisasi, jika perlu dihilangkan, dengan cara menyebut nama seorang istri berdasarkan namanya sendiri tanpa harus menggantikannya dengan nama suami. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan gender yang sudah dilakukan oleh setiap keluarga melalui hal yang kecil, terkhusus dalam menanamkan nilai nama pribadi bagi seorang perempuan sehingga ini akan menjadi kekuatan untuk menumbuhkembangkan keadilan gender dalam masyarakat

    STRATEGI ORANG TUA KRISTEN DALAM MEMBANGUN DISIPLIN ANAK

    No full text
    This study intends to examine the strategies of parents in fostering child discipline in Christian families. The Bible places the primary responsibility for educating children on the parents. Children need discipline to shape their character. In addition, discipline is essential for children concerning social life, and discipline is the foundation children need to achieve their future. The method used is descriptive and literature review. The results show that parents play a role in building their children's discipline. They have to develop communication using the love language of their children by making themselves role models that can be emulated by their children, providing space for children to grow and explore themselves, and through action firm in love. Penelitian ini bermaksud mengkaji strategi orang tua dalam menumbuh kembangkan disiplin anak di keluarga Kristen. Alkitab meletakan tanggung jawab utama untuk mendidik anak ada pada orang tua. Anak-anak memerlukan disiplin untuk membentuk karakter mereka. Selain itu disiplin juga penting bagi anak dalam kaitan dengan kehidupan sosial dan disiplin merupakan fondasi yang sangat dibutuhkan anak untuk meraih masa depan mereka. Metode yang digunakan adalah deksriptif dan kajian literatur. Berdasarkan hasil pembahasan artikel ini tersimpulkan bahwa para orang tua berperan dalam membangun disiplin anak mereka yaitu melalui membangun komunikasi dengan menggunakan bahasa cinta dari anak mereka, dengan menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh oleh anaknya, memberikan ruang untuk anak bertumbuh serta mengeksplore dirinya, dan melalui tindakan tegas dalam kasih

    MISI MULTIKULTURAL YESUS KEPADA PEREMPUAN KANAAN BERDASARKAN MATIUS 15:21-28

    No full text
    This research is about Jesus' multicultural mission to Canaanite women based on Matthew 15:21-28. This study examines the nature and principles of the task carried out by Jesus to the Canaanite women. Interestingly, the church often considers Jesus' mission exclusively for the Jews. However, this case shows that the mission was opened to non-Jewish nations. By using qualitative research methods, this study obtained several conclusions. First, based on the description of the interpretation of Matthew 15:21-28 and taking into account the context and background of the Canaanite woman, it is clear that Jesus' ministry or mission to Canaanite women is clear is a multicultural mission. Second, Jesus' ministry to Canaanite women (Matt. 15:21-28) qualifies as a multicultural mission because it has fulfilled all theologies that are part of multicultural theology, such as relational, social, operational, moral, and transformational theology. Third, Jesus' ministry to the Canaanite woman (Matt. 15:21-28) fulfills every aspect of the Christocentric dimension in the construction of multicultural theology.   Penelitian ini tentang misi multikultural Yesus kepada perempuan Kanaan yang didasarkan pada teks Matius 15:21-28. Penelitian ini mengkaji natur hingga prinsip misi yang dilakukan oleh Yesus kepada perempuan Kanaan. Yang menarik di sini adalah seringkali gereja menganggap misi Yesus hanya diperuntukkan secara eksklusif kepada orang Yahudi. Namun dari kasus ini menunjukkan bahwa misi itu ternyata dibuka kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, maka penelitian ini mendapatkan beberapa kesimpulan. Pertama, berdasarkan uraian tafsiran terhadap teks Matius 15:21-28 dan dengan memperhatikan konteks serta latar belakang dari perempuan Kanaan itu, maka terlihat jelas bahwa pelayanan atau misi Yesus kepada perempuan Kanaan merupakan misi multikultural. Kedua, pelayanan Yesus kepada perempuan Kanaan (Mat. 15:21-28) secara prinsip memenuhi syarat dikategorikan sebagai misi multikultural. Oleh karena telah memenuhi semua teologi yang merupakan bagian dari teologi multikultural, seperti: teologi relasional, sosial, operasional, moral dan transformasional. Ketiga, pelayanan Yesus kepada perempuan Kanaan (Mat. 15:21-28) memenuhi setiap aspek dari dimensi kristosentris apabila dikaitkan dengan rancang-bangun teologi multikultural

    MEMAHAMI YOHANES 14:1-14 DENGAN TINJAUAN EKSEGETIS SOSIAL-SAINTIFIK

    No full text
    This study aims to understand John 14:1-14 by using the social-scientific exegetical method. The research prioritizes a historical review and explanation of historical writings on the Way and the Truth and Life from the Old Testament (OT) to New Testament (NT) times. Jesus is the way, the truth, and the life in the face of today's postmodern relativism. The results of the study conclude that "Jesus is life (eternal)" and "Jesus is the truth," where the Church and the people of Jesus (the Church) can dialogue and apply the relative truth in love, justice, and social liberation. Penelitian ini bertujuan memahami Yohanes 14: 1-14 dengan menggunakan metode eksegetis sosial-saintifik. Penelitian mengutamakan tinjauan historis dan eksegese terhadap karya penulisan-penulisan sejarah mengenai Jalan dan Kebenaran dan Hidup sejak zaman Perjanjian Lama (PL) hingga zaman Perjanjian Baru (PB). Yesus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup dalam rangka menghadapi relativisme postmodern zaman ini. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa “Yesus adalah hidup (kekal)“, dan “Yesus adalah kebenaran” di mana gereja dan umat Yesus (Gereja) mampu berdialog dan menerapkan kebenaran relatif di dalam kasih, keadilan dan pembebasan sosial

    KAJIAN FENOMENOLOGI TERHADAP PAK ONLINE BAGI KAUM LANSIA DI GSRI JAKARTA DALAM MASA PANDEMI COVID-19

    No full text
    This study examines the perceptions and experiences of the elderly in providing online Christian religious education in churches as a result of social restrictions during the COVID-19 pandemic. The research subjects were the elderly at the Santapan Rohani Indonesia Church (GSRI) Jakarta. The method used is qualitative with a phenomenological approach. Data analysis used the technique proposed by Clark Moustakas, namely the synthesis and essence of meaning. The study results show that the elderly can enjoy online Christian religious education programs at the church even though they experience several challenges and limitations. Christian religious education activities online at the church can also meet the spiritual needs of the elderly. But to take part in such online activities requires extraordinary focus and sincerity. The online activities also cannot provide elements of face-to-face activities that they yearn for, so the elderly hope that the situation will improve soon and quickly return to face-to-face church activities. Penelitian ini mengkaji persepsi dan pengalaman lansia dalam penyelenggaraan pendidikan agama Kristen secara online di gereja sebagai dampak dari pembatasan sosial pada masa pandemi COVID-19. Subyek penelitian adalah lansia di Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Jakarta. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisis data menggunakan teknik yang dikemukakan oleh Clark Moustakas yaitu sintesis dan esensi makna. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kaum lansia dapat menikmati program pendidikan agama Kristen secara online di gereja walau mereka mengalami sejumlah tantangan dan keterbatasan. Kegiatan pendidikan agama Kristen secara online di gereja juga dapat memenuhi kebutuhan rohani para lansia. Tetapi untuk mengikuti kegiatan online seperti itu membutuhkan fokus dan kesungguhan yang luar biasa. Kegiatan online itu juga tidak bisa menghadirkan sejumlah elemen kegiatan tatap muka yang mereka rindukan, sehingga para lansia berharap situasi segera membaik dan mereka segera mengikuti kegiatan gereja secara tatap muka kembali

    Tinjauan Buku: PEDOMAN KHOTBAH LENGKAP

    No full text

    IMPLEMENTASI AMSAL 17:22 DI MASA PANDEMI COVID-19 SEBAGAI SATU CARA UNTUK MENAIKAN IMUN TUBUH

    No full text
    During a pandemic, the body's immune system is vital because it is the body's immune system that plays a role in fighting viruses and helping the body recover. The heart and mind are very influential on the body's immune system. Proverbs 17:22 records that the human heart and mind are persuasive. Based on this background, the purpose of this paper is to prove the truth of Proverbs 17:22 about a happy heart as a scientifically proven medicine that can affect the body's immune system. Then, Proverbs 17:22  can be implemented during the Covid-19 pandemic. The method used in this study is a qualitative method whose results are explained narratively with data collection techniques through literature study. The biblical text used as the basis will be interpreted using the hermeneutic approach. The results obtained from this study are that the text of Proverbs 17:22 can be scientifically proven. A happy heart and a good state of mind will increase the body's immune system to become the body's natural medicine. Vice versa, a heart filled with sadness and stress will trigger a weakening of the immune system to be vulnerable to disease. Thus the text of Proverbs 17:22 can be implemented or applied during the current Covid-19 pandemic.  Di masa pandemi imun tubuh menjadi hal yang sangat vital, sebab imun tubuhlah yang berperan dalam melawan virus dan membantu pemulihan tubuh. Hati dan pikiran adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap imun tubuh. Amsal 17:22 mencatat bahwa hati dan pikiran manusia sangat berpengaruh sekali. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penulisan ini adalah untuk membuktikan kebenaran dari Amsal 17:22 tentang hati yang gembira sebagai obat yang dibuktikan secara ilmiah yang dapat berpengaruh terhadap imun tubuh agar dapat diimplementasikan di masa pandemi Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif yang hasilnya diterangkan secara naratif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dan teks Alkitab yang dijadikan landasan akan ditafsirkan menggunakan metode hermeneutic. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah teks Amsal 17:22 dapat dibuktikan secara ilmiah dengan hasil bahwa hati gembira, situasi pikiran yang baik akan meningkatkan imun tubuh sehingga menjadi obat alami tubuh, demikian sebaliknya hati yang dipenuhi kesedihan, stress akan memicu melemahnya imun sehingga rentan terhadap penyakit. Dengan demikian teks Amsal 17:22 dapat diimplementasikan atau diterapkan pada masa pandemic Covid-19 saat ini

    Pendidikan Kewirausahaan Bagi Mahasiswa Program Studi Teologi STT Star’s Lub Untuk Kemandirian Finansial Gereja

    No full text
    The Theological Department of Star's Lub Theological College (SLTC) has organized entrepreneurship education. One of the goals is to equip students to develop church entrepreneurship if they become pastors in the future. This study aims to determine the extent to which entrepreneurship education can provide students with the ability to build financial independence as part of church entrepreneurship. The research was conducted in two stages by combining qualitative and quantitative methods. The first stage examines the entrepreneurial abilities of 12 final-semester students who have completed entrepreneurship education, focusing on knowledge, skills, and entrepreneurial character. The method used is quantitative. The second stage uses a qualitative approach by examining the entrepreneurship education program organized by the Theological Department. The informants involved were the Chairperson of SLTC, the Deputy Head of Academic Affairs of SLTC, and lecturers in entrepreneurship courses. The results showed that the final semester students of SLTC did not yet have adequate abilities to develop the church's financial independence in the future. Entrepreneurship education is limited in curriculum, learning strategies, lecturers who support courses, and the entrepreneurial atmosphere.Program Studi (Prodi) Teologi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Star’s Lub telah menyelenggarakan pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswanya. Salah satu tujuannya adalah membekali mahasiswa kemampuan untuk mengembangkan kewirausahaan gereja bila kelak menjadi pendeta. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauhmana pendidikan kewirausahaan tersebut mampu membekali mahasiswa kemampuan untuk mengembangkan kemandirian finansial gereja sebagai bagian dari kewirausahaan gereja. Penelitian dilakukan dua tahap dengan menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Tahap pertama meneliti kemampuan kewirusahaan 12 mahasiswa semester akhir yang telah selesai mengikuti pendidikan kewirausahaan dengan fokus pada pengetahuan, keterampilan, dan karakter kewirausahaan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Tahap kedua menggunakan metode kualitatif dengan meneliti program pendidikan kewirausahaan yang diselenggarakan Prodi Teologi. Informan yang dilibatkan adalah Ketua STT Star’s Lub, Wakil Ketua Bidang Akademik STT Star’s Lub, dan dosen pengampu mata kuliah kewirausahaan. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa semester akhir STT Star’s Lub belum memiliki kemampuan yang memadai untuk kelak mengembangkan kemandirian finansial gereja. Hal tersebut disebabkan pendidikan kewirausahaan yang diselenggarakan juga masih terbatas dari segi kurikulum, strategi pembelajaran, dosen pengampu mata kuliah, dan atmosfer kewirausahaan

    KONSEP “PERIKHORESIS” DALAM PELAKSANAAN “GEREJA RUMAH” OLEH JEMAAT GMIT TALENALAIN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

    No full text
    The Covid-19 pandemic has had a profound impact on life, including the life of the church. The church requires the congregation to worship at home, not in the church building. This change in places of worship was followed by Christian families, particularly in the GMIT Talenalain congregation, although there were differences of opinion. Even though they worship at home, they miss worship in the church building. The theological understanding of home churches influences the difference in views about places of worship during the Covid-19 pandemic. This paper aims to show fluid or practical-operative ecclesiological concepts for the congregation during this pandemic. The extent to which the Christian family lives the concept of perichoresis in implementing the home church. This research uses a case study qualitative research method. The results show that the family interprets the home church as a communion of perichoresis Trinitarian praxis because it contains perichoretic values.Pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi kehidupan termasuk kehidupan bergereja. Salah satunya adalah gereja mengharuskan jemaat beribadah di rumah bukan lagi di gedung gereja. Perubahan tempat ibadah ini diikuti oleh keluarga-keluarga kristen secara khusus di jemaat GMIT Talenalain, walaupun ada perbedaan pandangan. Sekalipun mereka beribadah di rumah akan tetapi mereka sangat merindukan ibadah di gedung gereja. Perbedaan pandangan tentang tempat ibadah saat pandemi Covid-19 ini tentunya dipengaruhi oleh pemahaman teologis tentang gereja rumah atau di rumah. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukan konsep eklesiologis yang cair atau praktis-operatif bagi jemaat di tengah pandemi ini. Sejauhmana keluarga Kristen menghidupi konsep perikhoresis dalam pelaksanaan gereja rumah. Penelitiaan ini memakai metode penelitian kualitatif studi kasus. Hasilnya ditemui bahwa gereja rumah oleh keluarga dimaknai sebagai persekutuan praksis Trinitarian perikhoresis sebab di dalamnya terkandung nilai-nilai perikhoretik

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇