Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    DAMPAK PERSEMBAHAN SUKARELA BAGI JEMAAT MISKIN DI GPIBK JEMAAT KALVARI SABANG

    No full text
    Today some churches do not prescribe tithing but voluntary offerings. This study intends to conduct a study of churches that set voluntary offerings to find out: 1) whether the offerings given are lower or higher than one-tenth of income; 2) are the percentages the same for all levels in the church. The research subject is the Indonesian Protestant Church in Banggai Islands (GPIBK), one of the churches that do not apply tithing offerings. The research focuses on one of the largest congregations in GPIBK, the Kalvari Sabang Congregation, located in Sabang, North Bulagi sub-district, Banggai Islands district Central Sulawesi province. The method used is quantitative with a comparative study approach. A comparison of offerings is made based on social class, namely upper class, middle class, and lower class. The control variables are the total monthly income, the total monthly offerings to the church, and the percentage of the total monthly offerings to the church to the total monthly income. The unit of analysis is the family. The total number of families involved was 28 families. The study results are as follows: first, the Kalvari Sabang congregation gives offerings exceeding one-tenth of their income every month. The upper-class average is 12.52%, the middle class is 21.79%, and the lower class is 30.17%. Second, the percentage of offerings from the lower class is higher than that of the middle and upper classes. The lower the social class, the higher the percentage of giving to the church. Di masa kini ada sebagian gereja yang tidak menetapkan pemberian persembahan persepuluhan, melainkan persembahan sukarela. Penelitian ini bermaksud melakukan kajian terhadap gereja yang menetapkan persembahan sukarela untuk mengetahui: 1) apakah persembahan yang diberikan lebih rendah atau lebih tinggi dari sepersepuluh pendapatan; 2) apakah persentasi tersebut sama bagi semua lapisan dalam jemaat? Subyek penelitian adalah Gereja Protestan Indonesia di Banggai Kepulauan (GPIBK) sebagai salah satu gereja yang tidak menerapkan persembahan persepuluhan. Fokus penelitian adalah salah satu jemaat terbesar di GPIBK yaitu Jemaat Kalvari Sabang yang berlokasi di kelurahan Sabang, kecamatan Bulagi Utara, kabupaten Banggai Kepulauan, propinsi Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan studi komparatif. Perbandingan persembahan dibuat berdasarkan kelas sosial yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Variabel kontrol adalah total pendapatan perbulan, total persembahan ke gereja per bulan, dan persentasi total persembahan ke gereja per bulan terhadap total pendapatan perbulan. Unit analisisnya adalah keluarga. Total keluarga yang dilibatkan berjumlah 28 keluarga. Hasil penelitian adalah: pertama, jemaat Kalvari Sabang memberi persembahan melebihi sepersepuluh dari pendapatan mereka setiap bulan.  Kelas atas rata-rata 12,52%, kelas menengah 21,79%, dan bawah 30,17%. Kedua, persentasi persembahan kelas bawah lebih tinggi dari kelas menengah dan kelas atas. Makin rendah kelas sosial, makin tinggi persentasi pemberian ke gereja

    PERSEPSI JEMAAT TENTANG KAUM DISABILITAS DAN AKSES MEREKA KE DALAM PELAYANAN GEREJA

    No full text
    This study explores the congregation's understanding of disability and their access to church services. The research subjects are taken from 53 congregations spread over 18 synods. The methodology used is descriptive qualitative with data collection techniques through open interviews, visiting participants directly, and communication technology media for participants who are not reached face to face. Six informants were involved in each congregation, consisting of one pastor and five church council members. The study suggests that churches view disability as stereotyping, stigmatizing, and harmful. The Church provides opportunities for disability involvement in ministry but in minimal opportunities. It provides normality criteria for people with disabilities to be able to serve. CHURCH MEMBERS PERCEPTION OF PEOPLE WITH DISABILITIES AND THEIR ACCESS TO CHURCH SERVICES.Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman jemaat tentang disabilitas dan akses mereka ke dalam pelayanan gereja. Subyek penelitian diambil dari 53 jemaat yang tersebar pada 18 sinode. Metodologi yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara terbuka, mendatangi langsung partisipan dan melalui media teknologi komunikasi bagi partisipan yang tidak terjangkau secara tatap muka. Informan yang dilibatkan pada setiap jemaat berjumlah 6 orang yang terdiri dari satu pendeta dan lima anggota majelis jemaat. Temuan penelitian ini menyatakan, gereja memandang disabilitas secara stereotipe, stigmatis dan kecenderungan memiliki penilaian negatif. Gereja memberikan kesempatan keterlibatan disabilitas dalam pelayanan, tetapi dalam kesempatan yang sangat terbatas. Ada kriteria-kriteria kenormalan yang digunakan bagi kaum disabilitas untuk dapat melayani

    RELEVANSI KEMANDIRIAN HIDUP NAOMI DAN RUT TERHADAP KEHIDUPAN PEREMPUAN TORAJA

    No full text
    In Toraja society, women tend to be seen as unable to survive without a man. This study wants to explore the story of Ruth and Naomi based on the book of Ruth, who lost her husband but survived and fought for a better future in a patriarchal society. Based on this story, the writer wants to contextualize it by using a praxis model in the lives of Toraja women. The research method used is qualitative with a literature study approach. The results show that: 1) women can make the best decisions for their families and face the risks; 2) women can be responsible for their families; 3) women can formulate effective plans and strategies for a better family future. The lives of Naomi and Ruth provide a theological message that Toraja women who still live in a patriarchal culture can also live like them. Toraja women can live independently, lead families, and ultimately contribute to wider life in society.Dalam masyarakat Toraja perempuan cenderung dianggap tidak bertahan hidup tanpa seorang laki-laki. Penelitian ini ingin menggali kisah Rut dan Naomi berdasarkan kitab Rut yang kehilangan suami tetapi bertahan hidup dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik di tengah masyarakat yang patriakis. Berdasarkan kisah ini penulis hendak mengkontekstualisasikannya dengan menggunakan model praksis ke dalam kehidupan perempuan Toraja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) perempuan bisa mengambil keputusan terbaik bagi keluarganya dan menghadapi resikonya; 2) perempuan bisa bertanggung jawab atas keluarganya; 3) perempuan mampu menyusun rencana dan strategi yang efektif untuk masa depan keluarga yang lebih baik. Kehidupan Naomi dan Rut memberikan pesan teologis bahwa kaum perempuan Toraja yang masih hidup dalam budaya patriarki juga bisa hidup seperti mereka. Perempuan Toraja dapat hidup mandiri, memimpin keluarga, dan akhirnya berkontribusi bagi kehidupan yang lebih luas di masyarakat

    METODE PENGINJILAN TERHADAP ANAK PUNK DI KOMUNITAS CROSSLINE FAMILY

    No full text
    An evangelistic mission can be successful if it is carried out contextually. One of the mission agencies that has successfully carried out contextual evangelism is the Crossline Family, which carries out a mission to punk children. This study explores the evangelism method used by Crossline Family to punk children. The method used is descriptive qualitative. Informants are leaders and members of the Crossline Family. The writer collected data through interview techniques and analysis of the Crossline Family service journey history, which is documented via video. The study found that Crossline Family uses three methods in evangelizing punk children: 1) relate without judgment, 2) be proactive in being in the midst of their lives and be role models, and 3) convey God's Word through the genre of punk children's songs.Suatu misi penginjilan dapat berhasil apabila dilaksanakan secara kontekstual. Salah satu lembaga misi yang berhasil menjalankan penginjilan secara kontekstual adalah Crossline Family yang melaksanakan misi kepada anak punk. Penelitian ini bertujuan menggali metode penginjilan yang digunakan Crossline Family terhadap anak punk. Metode yang dipakai adalah kualitatif deskriptif. Informan adalah pemimpin dan anggota Crossline Family. Data diambil melalui teknik wawancara dan analisa sejarah perjalanan pelayanan Crossline Family yang telah didokumentasikan melalui video. Penelitian menemukan adanya tiga metode yang digunakan Crossline Family dalam penginjilan terhadap anak punk yaitu: 1) berelasi tanpa menghakimi, 2) pro-aktif berada di tengah-tengah kehidupan mereka dan menjadi teladan; 3) menyampaikan Firman Tuhan melalui genre lagu anak punk

    Hambatan Majelis Jemaat dalam Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga di PJM-PB Jemaat Korampotan Pondan

    No full text
    Domestic violence (KDRT) causes misery for victims, especially women and children. Therefore the church needs to be involved in efforts to overcome it. But the fact is that churches, in general, haven't done much about domestic violence. This research seeks to discover the church's obstacles in overcoming domestic violence through research in the Persekutuan Jemaat Mandiri Protestan Banggai (PJM-PB) Korampotan Pondan congregation. The method used is qualitative, with interviews as a data collection technique. Data were analyzed with reduction, display, and conclusions techniques. The results show two dominant obstacles for the MPH Congregation in overcoming domestic violence: 1) cultural factors, namely values that perceive domestic violence as a private family matter that others should not know about and interfere with; 2) lack of knowledge about domestic violence. The theological factors usually an obstacle for the church are not found in this study.Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menimbulkan kesengsaraan bagi korban, khususnya perempuan dan anak-anak. Karena itu gereja perlu terlibat dalam upaya mengatasinya. Namun faktanya gereja-gereja pada umumnya belum melakukan banyak hal terkait KDRT. Penelitian ini ingin mengetahui apa saja hambatan gereja dalam mengatasi KDRT melalui penelitian di jemaat Persekutuan Jemaat Mandiri Protestan Banggai (PJM-PB) Korampotan Pondan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisa dengan teknik reduksi, data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan adanya dua faktor dominan yang menjadi penghambat bagi MPH Jemaat dalam mengatasi KDRT: 1) faktor budaya, yaitu nilai yang menempatkan KDRT sebagai urusan pribadi keluarga yang tidak  boleh diketahui dan dicampuri pihak lain; 2) kurangnya pengetahuan mengenai KDRT. Faktor teologis yang biasanya menjadi hambatan bagi gereja dalam tidak ditemukan dalam penelitian ini

    DAMPAK STRATEGI PEMBELAJARAN LEWAT VISUALISASI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA MASYARAKAT 5.0

    No full text
    Technological developments in the 21st century have made enormous changes in modern human civilization today. Internet technology has changed every human life using innovative technology in the palm. In the context of education, especially this visualization learning strategy, this is the impact of renewable learning strategies that help the world of education dashed, measurably and easily accessible anytime and anywhere. Research on the impact of learning strategies through visualization in Christian education in the era of Society 5.0 shows that the challenge of using innovative technology is one of the benefits both educators and students face to innovate in teaching. The most crucial question in education today is the impact of implementing effective visual learning strategies for students in the era of Society 5.0. The result is that the effectiveness of Christian religious education learning strategies through visualization can be measured by the method's ability to enable the target students to achieve the desired learning outcomes of instruction.  Perkembangan teknologi di abad ke-21 telah membuat perubahan yang sangat besar dalam peradaban manusia modern sekarang ini. Teknologi internet telah mengubah setiap kehidupan manusia menggunakan smart tekhnologi di dalam genggaman tangan. Dalam konteks pendidikan, khususnya strategi pembelajaran visualisasi ini menjadi dampak strategi pembelajaran terbarukan yang membantu dunia pendidikan berjalan dengan cepat, terukur dan mudah diakses kapan dan dimana saja. Penelitian terhadap dampak strategi pembelajaran lewat visualisasi dalam pendidikan agama Kristen di era Masyarakat (Society) 5.0 menunjukan bahwa tantangan penggunaan smart technology menjadi salah satu manfaat yang dihadapi baik pendidik dan peserta didik untuk berinovasi dalam melaksanakan pengajaran. Pertanyaan paling penting dalam pendidikan saat ini adalah bagaimana dampak menerapkan strategi pembelajaran lewat visualisasi yang efektif bagi peserta didik di era Masyarakat 5.0? Hasilnya adalah efektivitas strategi pembelajaran pendidikan agama Kristen lewat visualisasi dapat diukur dengan kemampuan metode dalam memungkinkan target peserta didik mencapai hasil belajar yang diinginkan instruksi

    Tinjauan buku: MEET GENERATION Z (Understanding and Reaching the New Post-Christian)

    No full text

    Tinjauan Buku: PEDOMAN PELAYANAN KRISTEN

    No full text

    KEKUATAN DAN TANTANGAN PENGAJARAN KRISTEN TENTANG PERNIKAHAN DALAM PERSPEKTIF JEMAAT GMAHK PUTRA AGUNG SURABAYA

    No full text
    This study aims to explore the congregation's understanding of the concept of marriage and to see the potential for divorce. The method used is a survey using a questionnaire. The research subjects were the Seventh-day Adventist Church, Putra Agung Congregation Jl. Karang Asem IV No. 6 Surabaya. The selected respondents were adult congregations, totalling 177 people. The sampling technique used was a quota sampling of 50% of the total adult congregations. The data were analyzed by making claims on the tendency of respondents' answers. The results show that the congregation's understanding of marriage is by Christian teachings, which highly respect marriage and reject divorce. However, the potential for divorce is still there, as seen from the small number of respondents who do not dare to ensure that they will not divorce if there are problems in the household.Penelitian ini bertujuan menggali pemahaman jemaat tentang konsep pernikahan yang serta melihat potensi terjadinya perceraian. Metode yang digunakan adalah survey dengan menggunakan kuesioner. Subyek penelitian adalah jemaat  Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Putra Agung Jl. Karang asem IV No 6 Surabaya. Responden yang dipilih adalah jemaat usia dewasa yang berjumlah 177 orang. Teknik pemilihan sampel menggunakan sampling kuota sebesar 50% dari total jumlah jemaat dewasa. Data dianalisa dengan membuat klaim terhadap kecenderungan jawaban responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman jemaat mengenai pernikahan sesuai dengan ajaran Kristen yang sangat menghormati pernikahan dan menolak perceraian. Namun demikian, potensi perceraian tetap ada yang terlihat dari adanya sebagian kecil responden yang tidak berani memastikan tidak akan melakukan perceraian jika ada masalah dalam rumah tangga

    Tinjauan Buku: MENAKAR COVID-19 SECARA TEOLOGIS

    No full text

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇