Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    Budaya Kerja dari Perspektif Kristen dan Implementasinya dalam Realisasi Dana Otonomi Khusus di Papua

    No full text
    Papua is one of the provinces that has received special autonomy funds from the Government of the Republic of Indonesia. This policy's main objective is to increase Papua's human development index. The fact is that the human development index in Papua has not increased significantly. This is related to the work culture of implementing the policy, which is not yet optimal. Given that some policy implementers are Christians, it is very important to explore the concept of work culture according to Christian teachings so that it can guide them. This research aims to explore Christian teachings about work culture and their relevance in the management of the special autonomy policy in Papua. The method used is a literature study. The results of the study show that there are four aspects of work culture in Christian teaching that are relevant to optimally implemented in implementing the special autonomy policy in Papua. The four work cultures are work motivation, work goals, work functions, and forms of work that are pleasing in the eyes of God.Papua adalah salah satu provinsi yang mendapatkan dana otonomi khusus. Tujuan  utama dari pelaksanaan kebijakan otonomi khusus yaitu untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia di Papua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran “kerja” ditinjau dari perspektif teologi terhadap etos kerja pada masa otonomi khusus di Papua.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dengan kajian pustaka yaitu hasil unduhan riset yang berbentuk e-jurnal yang aktual mengenai dinamika otsus di Papua. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada 4 jabaran “kerja” pada pandangan teologia yaitu motivasi kerja, tujuan kerja, fungsi kerja, dan bentuk-bentuk kerja. Jabaran “kerja” tersebut memberikan gambaran makna tersirat mengenai budaya kerja dan penerapan otsus di Papua

    Kasiturusan Sebagai Etika Solidaritas Sosial-Teologis Masyarakat Toraja

    No full text
    This research aims to explore Kasiturusan culture as the Ethics of Socio-Theological Solidarity in the life of the Toraja people. Kasiturusan culture in Toraja society is essential in maintaining the unity and togetherness of the Toraja people. But in today's modern life, the culture of Kasiturusan has begun to erode and fade. This research uses the deconstruction method, data collection techniques through interviews and observations, and books and supporting articles. The results obtained are that the Kasiturusan culture is a culture that unites and strengthens the solidarity of the Toraja people through the elements contained therein. This culture is a medium that brings the Toraja people into a strong alliance. The love of Christ Jesus given to His people makes sense of solidarity well entwined in a strong and solid foundation.Penelitian ini bertujuan untuk menggali budaya Kasiturusan sebagai Etika Solidaritas Sosio-Teologis dalam kehidupan masyarakat Toraja. Budaya kasiturusan dalam masyarakat Toraja sangat penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Toraja. Namun dalam kehidupan modern saat ini, budaya Kasiturusan sudah mulai terkikis dan pudar. Penelitian ini menggunakan metode dekonstruksi, teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi, serta buku dan artikel pendukung. Hasil yang diperoleh bahwa budaya Kasiturusan merupakan budaya yang mempersatukan dan mempererat solidaritas masyarakat Toraja melalui unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Budaya ini merupakan media yang membawa masyarakat Toraja ke dalam aliansi yang kuat. Kasih Kristus Yesus yang diberikan kepada umat-Nya membuat rasa solidaritas terjalin dengan baik dalam landasan yang kuat dan kokoh

    Makna Berkat Allah Dalam I Raja-Raja 9:1-9

    No full text
    God's blessing is often understood as a gift, so it can make people not responsible for these blessings. In 1 Kings 9:1-9, there is a different teaching about God's blessings. This study aims to explore the meaning of God's blessing in 1 Kings 9:1-9 by using the exegesis method. The research results show that in 1 Kings 9:1-9 there are two meanings of blessing: unconditional and conditional. Because God loved Solomon, He blessed him with his glory and fame as the king of the kingdom of Israel. This is an unconditional blessing. But God also promised other blessings for Solomon and the Israelites. If they were obedient and loyal to Him, the kingdom of Israel would still be victorious. But if they disobey His orders, the kingdom's glory will be destroyed.Berkat Allah sering dipahami sebagai pemberian cuma-cuma dari Tuhan sehingga dapat menjadikan umat tidak bertanggung jawab terhadap berkat tersebut. Dalam 1 Raja-raja 9:1-9 terdapat pengajaran yang berbeda tentang berkat Tuhan. Penelitian ini bertujuan menggali makna berkat Allah dalam 1 Raja-raja 9:1-9 dengan menggunakan metode eksegese. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam 1 Raja-raja 9:1-9 terdapat dua makna berkat, yaitu berkat tak bersyarat dan berkat bersyarat. Karena Allah mengasihi Salomo maka Ia memberkatinya dengan kejayaan dan kemasyurannya sebagai raja bersama kerajaan Israel. Ini adalah berkat tak bersyarat. Namun Allah juga menjanjikan berkat yang lain bagi Salomo dan bangsa Israel. Jika mereka taat dan setia kepada-Nya kerajaan Israel akan tetap jaya. Namun jika mereka melanggar perintah-Nya maka kejayaan kerajaan itu akan hancur

    Kajian terhadap Tradisi Mohatu Suku Saluan di Desa Simpang II dari Perspektif Teologi Kristen

    No full text
    This paper aims to examine from the perspective of Christian theology the Mohatu tradition, which is still practiced among the Saluan tribe in Simpang II village. The Mohatu tradition is a ritual for releasing the spirits of the dead, carried out 16 days after death, by placing seven to nine types of garden produce on the deceased's grave. Then the spirits will no longer come to collect garden produce which can result in crop failure. The research method is ethnography, with in-depth interviews as a data collection technique. Data were analyzed with reduction, display, and conclusion techniques. The informants involved totaled 15, consisting of traditional leaders and community leaders of the Saluan tribe, as well as Pastors and Congregational Councils who serve in the Saluan tribe. The study results show that the Mohatu tradition is a medium for the Saluan tribe to deal with farmers' crop failures. In the Mohatu tradition, spirits are believed to remain in the world (graves) and carry out their usual activities, including gardening. Because of that, the spirits can still interfere with plantation activities. This tradition needs to be transformed because it has the potential to slow down the development and use of agricultural technology by the Saluan people. Transformation is possible with a religious approach through contextualizing Christian theology about death. In Christian theology, God has power over life and death. After humans die physically, their spirits will return to God, so no more spirits in this world can affect human life.  Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji dari perspektif teologi Kristen tradisi Mohatu yang masih dilaksanakan dalam kalangan suku Saluan di desa Simpang II. Tradisi Mohatu adalah upacara pelepasan arwah orang mati yang dilakukan enam belas hari setelah kematian seseorang. Upacara dilakukan dengan meletakan tujuh hingga sembilan jenis hasil kebun di atas kuburan almarhum/ah agar arwah tidak lagi datang ke kebun untuk mengambil hasil kebun yang dapat mengakibatkan petani gagal panen. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi  dengan wawancara mendalam sebagai teknik pengambilan data. Data dianalisa dengan teknik reduksi, display, kesimpulan. Informan yang dilibatkan berjumlah 15 orang yang terdiri dari tokoh adat dan tokoh masyarakat suku Saluan, juga Pendeta dan Majelis Jemaat yang pelayanan di suku Saluan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mohatu merupakan media suku Saluan untuk menghadapi bencana gagal panen para petani. Dalam tradisi Mohatu, arwah dipercaya tetap tinggal di dunia (kuburan) dan beraktifitas seperti biasa, termasuk berkebun. Karena itu arwah masih dapat mengganggu kegiatan perkebunan. Tradisi ini perlu ditransformasi karena berpotensi memperlambat pengembangan dan penggunaan teknologi pertanian suku Saluan. Transformasi sangat mungkin dilakukan dengan pendekatan agama melalui kontekstualisasi teologi Kristen tentang kematian. Dalam teologi Kristen, Tuhan berkuasa atas kehidupan dan kematian. Setelah manusia mati secara fisik, rohnya akan kembali kepada Tuhan, sehingga tidak ada lagi arwah di dunia ini yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia

    KREATIVITAS GURU PAK MENGAJAK SISWA HIDUP DALAM KASIH MENURUT 1 KORINTUS 13:4-7

    No full text
    Students need to have love because they will be more readily accepted by the environment and pleasing to God. For students to have love, they need to be encouraged by CE teachers, and for that, CE teachers need to have creativity in encouraging students to have love, as stated in 1 Corinthians 4-7. This study aims to determine the effect of teacher creativity in inviting students to live in love according to 1 Corinthians 4-7 and its implications for changes in student behavior at school. The research subject is SMA Cerdas Bangsa, Medan, North Sumatra. The type of this research is quantitative. The sample involved was 30 students from different classes who were chosen randomly. The data was taken by distributing questionnaires to students. The study results stated a positive and significant correlation between the creativity of the CE teacher and the student's ability to live in love and changes in student behavior. Para siswa sangat penting untuk memiliki kasih karena dengan itu mereka akan lebih mudah diterima oleh lingkungan dan berkenan di hadapan Tuhan. Agar para siswa memiliki kasih mereka perlu didorong oleh guru PAK dan untuk itu guru PAK perlu memiliki kreatifitas dalam mendorong para siswa memiliki kasih sebagaimana tercantum dalam 1 Korintus 4-7. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kreativitas guru dalam mengajak siswa untuk hidup di dalam kasih menurut 1 Korintus 4-7 dan implikasinya terhadap perubahan tingkah laku siswa di sekolah. Subyek penelitian adalah SMA Cerdas Bangsa, Medan, Sumatera Utara. Adapun jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Sample yang dilibatkan sebanyak 30 siswa dari kelas yang berbeda-beda dan dipilih secara random. Data diambil dengan penyebaran angket kepada siswa. Dari hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat korelasi positif dan berarti antara kreativitas guru PAK dengan kemampuan siswa hidup dalam kasih dan perubahan tingkah laku siswa

    KONSEP BAPTISAN DALAM KISAH PARA RASUL DAN EVALUASINYA TERHADAP PEMBAPTISAN VIRTUAL

    No full text
    One form of church service activity during social restrictions during the COVID-19 pandemic is online or virtual baptism. This virtual baptism has received criticism because it does not follow the Bible's teaching about baptism, especially the Acts concept. This study intends to reveal the Acts concept of baptism and then use it to evaluate the practice of virtual baptism. The research method used is a hermeneutic analysis using research results or studies from other researchers. The object of study is the narrative of the baptism of Peter, Philip, Ananias, and Paul. The results showed that: 1) firstly, baptism is a passive act, so it cannot be done only by the baptismal candidate; 2) baptism is carried out directly involving two parties, both the baptist and the person being baptized; 3) baptism must fulfill the koinonia in the worship of the people. Therefore, virtual baptism is irrelevant even in pandemic conditions.Salah satu bentuk kegiatan pelayanan gereja pada saat pembatasan sosial di masa pandemi covid-19 adalah baptisan online atau virtual. Baptisan virtual ini mendapatkan kritik dari kalangan tertentu karena dianggap tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab tentang baptisan. Penelitian ini bermaksud menganalisa konsep baptisan di dalam kitab Kisah Para Rasul yang merupakan kitab dengan banyak narasi tentang baptisan. Hasil dari analisa tersebut akan digunakan untuk mengevaluasi praktek baptisan virtual. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis hermeneutika dengan menggunakan juga hasil-hasil penelitian atau kajian dari peneliti lainnya. Obyek kajian adalah narasi baptisan Petrus, Filipus, Ananias, dan Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pertama baptisan merupakan tindakan pasif jadi tidak bisa dilakukan hanya oleh calon baptis; 2) pembaptisan dilakukan secara langsung yang melibatkan dua pihak, baik pembaptis maupun orang yang dibaptis; 3) baptisan harus memenuhi koinonia dalam peribadahan umat. Karena itu, baptisan virtual tidak relevan untuk dilakukan sekalipun dalam kondisi pandemi

    Kajian Teologis Terhadap Otoritas Ibu dalam Peran Membentuk Karakter Anak pada Keluarga Batak

    No full text
    This research aims to study from the perspective of Christian theology the concept of Batak culture regarding the authority of women as mothers in forming excellent characters in Batak families. The method used is qualitative. The research was conducted in Pematangsiantar in November-December 2022 with four informants. Two of them are female Batak leaders in the church and theological schools; the other two are youths from Batak families. This study found three roles of mothers who have authority in forming excellent characters in children. The three roles are sipartangiang (prayer), educating children to pray diligently, parsonduk bolon (preparing food needs), educating children to assume responsibility for life together, Ina Soripada (respectable mother), educating children to be polite, honest, and with integrity. Through these three roles, it appears that Batak mothers have the authority to carry out excellent character education for children. It is proven that children from families with such mothers have excellent characters that differ from their peers.Penelitian ini bertujuan melakukan kajian dari perspektif teologi Kristen terhadap konsep budaya Batak tentang otoritas perempuan sebagai Ibu dalam pembentukan karakter unggul dalam keluarga Batak. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian dilakukan di Pematangsiantar pada bulan Nopember-Desember 2022 dengan empat orang informan. Dua di antaranya adalah tokoh perempuan Batak di lingkungan gereja dan sekolah teologi, dua lainnya adalah pemuda dari keluarga Batak. Dari penelitian ini ditemukan adanya tiga peran ibu yang memiliki otoritas dalam pembentukan karakter unggul pada anak. Ketiga peran tersebut adalah sipartangiang (pendoa), mendidik anak-anak untuk rajin berdoa, parsonduk bolon (menyiapkan kebutuhan makanan), mendidik anak-anak untuk memikul tanggung jawab terhadap kehidupan bersama, Ina Soripada (Ibu yang terhormat), mendidik anak-anak untuk sopan, jujur, dan berintegritas. Melalui ketiga peran ini, nampak bahwa ibu Batak memiliki otoritas untuk menjalankan pendidikan karakter unggul bagi anak-anak. Terbukti bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga dengan ibu yang demikian memiliki karakter unggul yang berbeda-beda dari teman-teman sebayanya

    Pernikahan Beda Keyakinan Menurut I Korintus 7:12-16 dan Relevansinya dalam Pluralitas Agama di Indonesia

    No full text
    Amid a pluralistic Indonesian society in terms of religion, interfaith marriage has the potential to occur. But until now, interfaith marriage is still being debated among Christians. The Apostle Paul in 1 Cor 7:12-16 states the prohibition to divorce unbelieving spouses. The research aims to explore the meaning of the prohibition on divorcing non-believing spouses and its relevance to Christians in Indonesia. The method used is a qualitative approach to literature study. The results of the study show that: 1) Paul's prohibition on divorcing unbelieving spouses is due to the belief that the process of sanctification of unbelieving partners can occur in marriage; 2) concerning marriage, the main thing is the creation of peace; 3) Paul's teachings are very relevant to be applied among Christians in Indonesia in the form of acceptance of interfaith marriages, which can also be seen as part of the realization of peace.  Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk dari segi agama, pernikahan beda agama sangat potensial untuk terjadi. Namun hingga saat ini pernikahan beda agama masih menjadi perdebatan di kalangan umat Kristen. Rasul Paulus dalam 1 Kor 7:12-16 menyatakan larangan untuk menceraikan pasangan yang tidak beriman. Penelitian bertujuan untuk menggali makna larangan menceraikan pasangan yang tidak beriman tersebut dan relevansinya bagi umat Kristen di Indonesia. Metode yang dipakai adalah pendekatan kualitatif studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) larangan Paulus untuk menceraikan pasangan yang tidak beriman karena keyakinan bahwa proses pengudusan terhadap pasangan tidak beriman tersebut dapat terjadi dalam pernikahan; 2) dalam kaitan dengan pernikahan, hal yang utama adalah terciptanya damai sejahtera; 3) pengajaran Paulus tersebut sangat relevan diterapkan di kalangan umat Kristen di Indonesia dalam bentuk penerimaan terhadap pernikahan beda agama, yang juga dapat dilihat sebagai bagian dari perwujudan damai sejahtera

    Tinjauan Pustaka : MENJELAJAH PERJANJIAN BARU JILID 2

    No full text
    This book does not spend time speculating on the author of each book and when it was written. Therefore, the reader will have more room to explore the context, intent, and theological message. Readers will be invited to think actively. Readers can carry out further study activities and develop their ideas about the world behind the NT letters. Every detail in each chapter can be used as material for learning and thinking alone and discussion with groups. Therefore, this book is very appropriate for readers who want more in-depth information from the Epistle and Revelation, with some prompts for further study at the end of the discussion of each chapter (Surat). Students and Lecturers of Theology, grades one to three, are urgent to read.Buku ini tidak menghabiskan waktu untuk berspekulasi tentang penulis tiap kitab dan waktu penulisannya. Karena itu, pembaca akan mempunyai lebih banyak ruang untuk menjelajahi konteks, maksud, dan pesan teologisnya. Pembaca akan diajak untuk berpikir secara aktif. Pembaca dapat melakukan kegiatan studi lebih lanjut dan mengembangkan ide-ide sendiri seputar dunia di balik surat-surat PB. Setiap detail di dalam tiap-tiap bab dapat dijadikan bahan belajar dan pemikiran sendiri maupun diskusi bersama kelompok. Sebab itu buku ini sangat tepat untuk pembaca yang menginginkan informasi lebih dalam dari Surat kiriman dan Wahyu, dengan beberapa pancingan untuk studi lanjut di bagian akhir pembahasan tiap bab (Surat). Mahasiswa dan Dosen Teologi strata satu hingga tiga sangat mendesak untuk membacanya

    TANTANGAN GEREJA DALAM MELAYANI PENDERITA GANGGUAN MENTAL DI GEREJA TORAJA JEMAAT FILADELFIA KONDONGAN

    No full text
    Everyone has the potential to experience mental disorders, both at mild and severe levels. People with mental disorders experience disturbances in thoughts, behaviors, and feelings that are manifested in the form of a set of symptoms or changes in behavior and can cause suffering and obstacles in carrying out people's functions as humans. The church has a vocation to minister to people with mental disorders so that they can live worthy lives in the image of God and be healed. However, to carry out this ministry, the church faces various obstacles. This study explores the church's challenges in serving people with mental disorders. The research subject is the Toraja Church of the Filadelfia Kondongan Congregation in Tana Toraja, South Sulawesi. The research method used is qualitative. There were six informants: one pastor, three church councils, and two family members of the sufferer. Data were collected by interviewing techniques and analyzed using reduction, display, and conclusion. The study results indicate that the current challenge is the lack of knowledge and understanding of mental disorders, which has resulted in not formulating and implementing concrete programs for people with mental disorders in the congregation.Dalam perjalanan kehidupan, setiap orang berpotensi mengalami gangguan mental baik pada taraf ringan maupun taraf berat. Penderita gangguan mental orang yang mengalami gangguan dalam pikiran perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala atau perbahan perilaku, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia. Gereja memiliki panggilan untuk memberikan pelayanan kepada para penderita gangguan mental agar bisa menjalani kehidupan yang layak sebagai gambar dan rupa Allah hingga mendapatkan kesembuhan. Namun untuk mewujudkan ini gereja menghadapi berbagai kendala. Penelitian ini bertujuan menggali tantangan yang dihadapi gereja dalam melayani penderita gangguan mental. Subyek penelitian adalah Gereja Toraja Jemaat Filadelfia Kondongan, di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Informan berjumlah enam orang yang terdiri atas satu orang pendeta, tiga majelis jemaat, dan dua anggota keluarga penderita. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan dianalisa dengan teknik redukasi, display, kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang gangguan mental  yang mengakibatkan belum dirumuskan dan dilakukannya program-program yang konkrit bagi penderita gangguan mental yang ada di jemaat. &nbsp

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇