Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
Not a member yet
    111 research outputs found

    Nilai Hospitalitas Kristen dalam Budaya Raputallang Pada Suku Toraja dan Relevansinya Terhadap Pencegahan Konflik

    No full text
    Social conflict often has a very negative impact on the community because it needs prevention efforts. One way is to develop the values of hospitality that exist in society. The Toraja people in South Sulawesi have hospitality values that live in the Raputallang culture. Hospitality values are very strong with Christian values. This study aims to explore the extent to which the relevance of Raputalllang's hospitality values is in preventing the emergence of social conflict in society. The research method used is a literature study of several published writings about Raputalllang culture. The study results show that Raputallang's hospitality values have four functions: problem-solving, self-introspection, social bonding, and social control. These four functions encourage every member of the Toraja community to continue to improve their ability to live in harmony with others in the midst of living together. This ability contributes to the prevention of social conflict in society.  Konflik sosial seringkali membawa dampak yang sangat negatif bagi masyarakat sebab itu perlu upaya pencegahan. Salah satu cara adalah dengan mengembangkan nilai-nilai hospitalitas yang ada di tengah-tengah masyarakat. Suku Toraja di Sulawesi Selatan memiliki nilai-nilai hospitalitas yang hidup dalam budaya Raputallang. Nilai-nilai hospitalitas ini sangat kental dengan nilai-nilai Kristen. Penelitian ini bertujuan menggali sejauhmana relevansi nilai-nilai hospitalitas Raputallang dalam mencegah timbulnya konflik sosial dalam masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka terhadap sejumlah tulisan yang telah diterbitkan tentang budaya Raputallang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai hospitalitas Raputallang memiliki empat fungsi yaitu sebagai penyelesaian masalah, intropeksi diri, perekat sosial, dan kontrol sosial. Keempat fungsi ini mendorong setiap anggota masyarakat Toraja untuk terus meningkatkan kemampuan hidup selaras dengan orang lain di tengah kehidupan bersama. Kemampuan inilah yang berkontribusi pada pencegahan terjadinya konflik sosial dalam masyarakat

    Persepsi Perempuan Di Jemaat Namaasi Meselesek Tentang Perceraian Akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga

    No full text
    Until now, the Church still prohibits divorce among its congregation. However, the fact is that the divorce rate continues to rise. One of the causes of divorce in Indonesia is domestic violence (KDRT), where the victims are mostly women. This research aims to determine the perceptions of Christian women in one of the local churches in Central Sulawesi regarding divorce due to domestic violence. The research method used is quantitative with a survey approach. Data was taken using a questionnaire, measured using a Likert scale with the options of Strongly Agree, Agree, Disagree and Strongly Disagree. Data were analyzed using descriptive analysis using the SPSS application. Of the 30 respondents who participated, the results found that respondents gave an average response of Agree to the statements: 1) there is no point in maintaining a marriage full of violence; 2) divorce is one way to end domestic violence; 3) divorce is the victim's courage to end domestic violence behavior; 4) the church's prohibition on divorce is one of the obstacles for victims to escape the shackles of domestic violence. From these results, it can be concluded that if, in dealing with the problem of domestic violence, the church only insists on prohibiting its citizens from divorcing without providing concrete solutions for victims of domestic violence, then the divorce ban will not be effective in reducing the rate of increase in the divorce rate among Christians.Gereja hingga saat ini masih melarang perceraian dilakukan warganya. Namun faktanya angka perceraian terus naik. Salah satu penyebab perceraian di Indonesia adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di mana korbannya sebagian besar adalah perempuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi perempuan Kristen di salah satu gereja lokal di Sulawesi Tengah tentang perceraian akibat KDRT. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantatif dengan pendekatan survey. Data diambil dengan angket, diukur menggunakan skala Likert dengan pilihan Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Data dianalisa dengan analisa deskriptif menggunakan aplikasi SPSS. Dari 30 responden yang berpartisipasi, hasilnya ditemukan bahwa responden memberikan tanggapan rata-rata Setuju untuk pernyataan: 1) tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan yang penuh dengan kekerasan; 2) perceraian adalah salah satu jalan keluar untuk mengakhiri KDRT; 3) perceraian merupakan keberanian korban untuk mengakhiri perilaku KDRT; 4) larangan gereja untuk bercerai merupakan salah satu hambatan bagi korban untuk melepaskan diri dari belenggu KDRT. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa apabila dalam menghadapi masalah KDRT gereja hanya bersikeras melarang warganya bercerai tanpa memberikan solusi yang konkrit bagi korban KDRT maka larangan perceraian tidak akan efektif untuk meredam laju kenaikan angka perceraian di kalangan umat Kristen

    Kajian Terhadap Istilah Monogenēs dalam Injil Yohanes

    No full text
    This research explores whether the expression monogenes represents the meaning of a child, an only child, or whether it is intended to emphasize begotten children. This topic is important to research because errors in understanding the meaning of the expression monogenes will have implications for understanding Christology. The term monogenes has generated much debate. The most prominent discussion is whether this expression wants to emphasize only or only begotten. Therefore, the author seeks to find the answer through this research. The method used is a literature study focusing on the term monogenes used in the Gospel of John. The research results show that the term monogenes in the Gospel of John emphasizes the exclusive relationship between Jesus Christ and God the Father where this relationship does not have to be in the framework of a metaphysical relationship or begotten relationship - because that is not what the term monogenes wants to emphasize - but rather the specificity of that relationship later. At the same time, he noted that Jesus was essentially the same as the Father. The explanation above is based on the realization that the term monogenes does not come from the word genna but from the word genos.Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi ungkapan monogenes apakah merepresentasi makna anak satu-satunya, anak tunggal, ataukah hendak menegaskan tentang anak yang diperanakkan. Topik ini penting diteliti karena kekeliruan dalam memahami makna ungkapan monogenes ini akan berimplikasi pada pemahaman tentang Kristologi. Istilah monogenes telah menimbulkan banyak perdebatan. Perdebatan yang paling mengemuka adalah apakah ungkapan ini hendak menegaskan tentang only atau only begotten karena itu penulis ingin mencari jawabannya melalui penelitian ini. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan fokus pada istilah monogenes yang digunakan dalam Injil Yohanes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah monogenes dalam Injil Yohanes menekankan hubungan eksklusif antara Yesus Kristus dan Allah Bapa di mana hubungan tersebut tidak harus dalam kerangka hubungan metafisik atau hubungan yang diperanakkan – karena bukan itu yang ingin ditekankan oleh istilah monogenes – namun kekhasan hubungan tersebut nanti. Pada saat yang sama, ia menekankan bahwa Yesus pada dasarnya sama dengan Bapa. Penjelasan di atas didasarkan pada kesadaran bahwa istilah monogenes tidak berasal dari kata genna, melainkan dari kata genos

    Hambatan Anak Mengikuti Pembelajaran Di Sekolah Minggu Pada Gereja Kristen Indonesia Klasis Sentani

    No full text
    This research examines the role of parents and the church in fostering children's motivation to participate in learning at Sunday School at the Sentani Klasis Indonesian Christian Church. The research method used is a combination of quantitative and qualitative methods. The procedure for collecting data is through questionnaires, interviews, and observation techniques. Research participants were parents and Sunday School teachers, as well as 30 Sunday School children. The research results show that children are strongly motivated to participate in Sunday School learning but face several obstacles. The first obstacle is the lack of parental support in technical matters and in providing motivation. The second obstacle is the church's lack of optimal efforts to facilitate learning in Sunday School, from the curriculum not yet being implemented to the lack of available learning tools to the teacher's lack of skills in using creative learning methods. Apart from that, parents and teachers have not communicated intensively regarding Sunday School learning. Therefore, so that Sunday School learning at GKI Klasis Sentani can run well and motivate children to be more active in participating in Sunday School learning, parents and the church need to increase their respective roles well.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran orang tua dan gereja dalam menumbuhkan motivasi anak mengikuti pembelajaran di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia Klasis Sentani. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan metode kuantitatif dan kualitiatif. Prosedur dalam megumpulkan data yaitu melalui teknik angket, wawancara, dan observasi. Partisipan penelitian adalah orangtua dan guru Sekolah Minggu, serta 30 anak Sekolah Minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti pembelajaran di Sekolah Minggu namun mereka menghadapi sejumlah hambatan. Hambatan pertama adalah kurangnya dukungan orang tua, baik dalam hal-hal yang bersifat teknis maupun dalam pemberian motivasi. Hambatan kedua adalah belum optimalnya upaya gereja memfasilitasi pembelajaran di Sekolah Minggu, mulai dari belum diterapkannya kurikulum, minimnya perangkat pembelajaran yang tersedia, hingga kurangnya ketrampilan guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang kreatif. Selain itu, orang tua dan guru belum melakukan komunikasi yang intensif terkait dengan pembelajaran di Sekolah Minggu. Karena itu, agar pembelajaran Sekolah Minggu di GKI Klasis Sentani dapat berjalan dengan baik sehingga memotivasi anak-anak semakin giat mengikuti pembelajaran di Sekolah Minggu, maka orang tua dan gereja perlu meningkatkan peran masing-masing dengan baik

    Khotbah Humoris dari Perspektif Homiletika

    No full text
    Humour is commonly used in sermons. There are even preachers who are famous for always bringing fresh humour to their sermons. But is humour in line with the principles of homiletics? This research explores the idea of humorous preaching from a homiletic perspective. The method used is a literature study. As a result, the author found that humour positively impacts sermons because it can help the preacher creatively present teachings that attract attention and are easy for listeners to understand. However, on the other hand, excessive or misplaced use of humour can have negative impacts, including underestimating and weakening the spirit of the sermon, lack of assertiveness, being biased, changing form, and other adverse effects.Humor sudah biasa digunakan dalam khotbah. Bahkan ada pengkhotbah yang terkenal karena selalu membawakan humor-humor segar dalam khotbahnya. Namun apakah humor sejalan dengan prinsip dalam homiletika? Penelitian ini bertujuan untuk menggali gagasan tentang khotbah humoris dari perspektif homiletika. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasilnya penulis menemukan bahwa humor di satu membawa dampak positif bagi khotbah karena dapat membantu pengkhotbah menyajikan pengajaran-pengajaran dengan cara kreatif sehingga menarik perhatian dan mudah untuk dipahami oleh pendengar. Namun penggunaan di sisi lain, penggunaan humor yang berlebihan atau salah penempatan dapat membawa dampak negatif antara lain: meremehkan dan melemahkan jiwa khotbah, kurangnya ketegasan, menjadi bias, berubah bentuk, dan dampak negatif lainnya

    Peluang Dan Hambatan Pengadaan Program Kewirausahaan Di Jemaat Mandiri Protestan Nazareth Lonas

    No full text
    The church's economic development should be a concern of the church. PJM-PB Congregation Mandiri Protestant Nazareth Lonas does not yet have an entrepreneurial program to increase the congregation's finances, impacting the church's independence. This study aims to determine the opportunities and obstacles to procuring an entrepreneurship program at the PJM-PB Congregational Mandiri Protestant Nazareth Lonas. This research was conducted in two stages; first, the qualitative method was used to obtain in-depth information. Second is the quantitative method as a supporting method with data collection techniques using questionnaires and structured interviews. In this study, researchers also used a comparative study to compare the opportunities and obstacles of church entrepreneurship with control variables, theology, entrepreneurial knowledge, human resources, natural resources, availability of capital, and availability of working capital. The study results show that the PJM-PB of the Nazareth Lonas Protestant Independent Congregation already has enough opportunities to hold a church entrepreneurship program. This can be seen from the variables of theology, entrepreneurial knowledge, and availability of human and natural resources. Barriers exist in the variables of business capital and infrastructure. However, these obstacles will likely be overcome with the availability of opportunity variables.Pengembangan ekonomi jemaat seharusnya menjadi perhatian gereja. PJM-PB Jemaat Mandiri Protestan Nazareth Lonas belum memiliki program kewirausahaan dalam meningkatkan finansial jemaat yang berdampak pada kemandirian gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang dan hambatan pengadaan program kewirausahaan di PJM-PB Jemaat Mandiri Protestan Nazareth Lonas. Penelitian ini dilakukan dua tahap, tahap satu yaitu metode kualitatif yang digunakan sebagai metode untuk mendapatkan informasi yang mendalam. Tahap dua yaitu metode kuantitatif sebagai metode pendukung dengan teknik pengambilan data menggunakan kuesioner dan wawancara terstruktur. Dalam penelitian ini peneliti juga menggunakan studi komparatif yaitu untuk membandingkan peluang dan hambatan gereja berwirausaha dengan variabel kontrol yaitu teologis, pengetahuan kewirausahaan, sumber daya manusia, sumber daya alam, ketersediaan modal, ketersediaan modal usaha. Hasil penelitian menunjukan bahwa PJM-PB Jemaat Mandiri Protestan Nazareth Lonas sudah memiliki cukup peluang untuk mengadakan program kewirausahaan gereja, hal ini dapat dilihat dari variabel teologi, pengetahuan kewirausahaan, ketersediaan sumber daya manusia dan ketersediaan sumber daya alam. Hambatan ada pada variabel modal usaha dan sarana prasarana. Namun dengan ketersediaan variabel peluang, hambatan tersebut sangat mungkin untuk diatasi

    Perspektif Teologi Kristen tentang Kekerasan Seksual Terhadap Istri (Marital Rape)

    No full text
    Marital rape is a form of violence against women that hurts the victim. The church needs to be involved in dealing with this violence, and for this, there needs to be an exceptional theological basis regarding marital rape. This research aims to describe Christian theology regarding marital rape, especially in the context of Christian marriage. The research method used is a literature study. The research results show that marital rape is very contrary to the Christian concept of marriage, which is based on love. In love, there is no justification for violence in any form. It even teaches explicitly the husband's obligation to love his wife as Christ loves His church (Ephesians 5:25-28). Likewise, in 1 Corinthians 7:3-5, the Bible teaches that husbands and wives should fulfill each other's sexual needs, but only with mutual consent and consideration of each other's feelings.Marital rape adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang membawa dampak buruk terhadap korban. Gereja perlu terlibat dalam menangani kekerasan ini dan untuk itu perlu ada landasan teologis khusus tentang marital rape. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teologi Kristen tentang marital rape, terutama dalam konteks pernikahan Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa marital rape sangat bertentangan dengan konsep pernikahan Kristen yang dilandaskan pada kasih. Dalam kasih tidak dibenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun. Bahkan secara spesifik diajarkan kewajiban suami untuk mengasihi isterinya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya (Efesus 5:25-28). Demikian pula, dalam 1 Korintus 7:3-5, Alkitab mengajarkan bahwa suami dan istri harus memenuhi kebutuhan seksual satu sama lain, namun hanya dengan persetujuan bersama dan mempertimbangkan perasaan satu sama lain

    Studi Evaluatif Terhadap Interpretasi Kaum Revisionis Tentang Homoseksualitas Berdasarkan Roma 1:26-27

    No full text
    This research is motivated by differences in views between revisionists and traditional understanding of the interpretation of Romans 1:26-27. The text in Romans 1:26-27 is traditionally considered and accepted as a text prohibiting even condemning LGBTIQ practices. However, the revisionists view that the acts condemned in Romans 1:26-27 do not refer to people with a homosexual orientation, but homosexuals committed by heterosexual people. This study aims to review the Bible's teaching on LGBTIQ to evaluate the revisionist interpretation of Romans 1:26-27. The approach in this research is qualitative research using hermeneutic methods and literature review. In the view of the revisionists, Romans 1: 26-27 discusses criticism of idol worship, criticism of heterosexuals, not homosexuals, discusses relationships that are unequal and driven by excessive lust. But looking back at Romans 1:26-27, LGBTIQ is a sin that violates God's law and not just as a punishment for idol worship. Paulus views LGBTIQ as a sin and deserves to receive the appropriate punishment for his mistakes. So, based on these findings, the revisionists were more influenced by presuppositions in reinterpreting Romans 1:26-27.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan antara kaum revisionis dan pemahaman secara tradisional dalam interpretasi Roma 1:26-27. Teks dalam Roma 1:26-27 secara tradisional dianggap dan diterima sebagai teks yang melarang bahkan mengutuk praktek LGBTIQ. Namun, kaum revisionis memandang bahwa tindakan yang dikecam dalam Roma 1:26-27 tidak merujuk pada orang-orang dengan orientasi homoseksual, tetapi homoseksual yang dilakukan oleh orang heteroseksual. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali ajaran Alkitab tentang LGBTIQ sebagai suatu evaluasi atas interpretasi kaum revisionis atas Roma 1:26-27. Metode penelitian yang digunakan adalah hermeneutik dan kajian pustaka. Dalam pandangan kaum revisionis Roma 1:26-27 membahas tentang kecaman terhadap penyembahan berhala, kecaman bagi kaum heteroseksual, bukan pada homoseksual, membahas tentang hubungan yang tidak seimbang dan didiorong oleh rasa nafsu yang berlebihan. Namun berdasarkan Roma 1:26-27, LGBTIQ adalah dosa yang melanggar hukum Allah dan bukan hanya sebagai hukuman atas penyembahan berhala. Paulus memandang LGBTIQ sebagai dosa dan pantas untuk menerima hukuman yang setimpal atas kesalahannya. Karena itu, kaum revisionis lebih dipengaruhi oleh presuposisi dalam mereinterpretasi Roma 1:26-27

    Analisis Kebutuhan Penerapan PAIKEM Di Sekolah Minggu Pada Jemaat Genesis Wilayah Tobelo Kota

    No full text
    This research describes the need to apply the active, innovative, creative, effective, and fun learning (PAIKEM) methods in learning in Sunday School at the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH) Genesis Congregation Tobelo City Region. The method used is qualitative, with observation as a data collection technique. The object of observation is conveying God's word during Sunday School services. The results of the research show that the PAIKEM methods need to be applied in learning at the Sunday School at the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH) Genesis Congregation, Tobelo City Region because the method used is telling stories or lectures, resulting in Sunday School children quickly getting bored and not focused when learning about the word of God.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebutuhan penerapan metode pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) dalam pembelajaran di Sekolah Minggu (Sekolah Minggu ) pada Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) Jemaat Genesis Wilayah Tobelo Kota. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan observasi sebagai teknik pengambilan data. Obyek amatan adalah metode penyampaian firman Tuhan pada saat ibadah Sekolah Minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode PAIKEM sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran di Sekolah Minggu pada Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) Jemaat Genesis Wilayah Tobelo Kota karena metode yang digunakan adalah bercerita atau ceramah sehingga mengakibatkan anak-anak Sekolah Minggu cepat bosan dan tidak fokus saat pembelajaran tentang firman Tuhan

    Membangun Jalan Tengah Di Antara Kelompok Ekstrem Sebagai Salah Satu Model Moderasi Beragama Di Indonesia

    No full text
    Religious moderation relates to the middle way, harmony, and balance between religious extremes. The middle path of moderation is not mathematically middle, but harmony and balance are the best choices. In the Indonesian context, the struggle between religion and secularisation is a problem that needs to be answered. In the context of religious diversity, pluralism, and particularism are often in tension and blame each other. In the theology of religions, faith and rationalization often declare the other wrong. This article discusses moderation between these extremes with respect for their positions and deepening it as a contextual form of moderation in Indonesia. The research method used was qualitative, using library sources. This research aims to obtain a model of religious restraint in Indonesia by existing extremes. The research results show that moderation in Indonesia can be done by accommodating positive values ​​from these extremes. These results can answer the struggle regarding moderation in relations between religions and the state and in relations between religions.Moderasi beragama berkaitan dengan jalan tengah, harmoni dan keseimbangan di antara ekstrem keagamaan yang ada. Jalan tengah yang dimaksud bukan dalam pengertian titik tengah secara matematis, namun merupakan harmoni dan keseimbangan sebagai pilihan yang terbaik. Dalam konteks Indonesia, pergumulan antara agama dan sekularisasi adalah persoalan yang perlu dijawab. Dalam konteks kemajemukan agama, pluralisme dan partikularisme seringkali berada dalam ketegangan dan saling mempersalahkan. Dalam teologi agama-agama, keimanan dan rasionalisasi seringkali menyatakan yang lain sebagai yang salah. Artikel ini akan mengkaji moderasi di antara ekstrem-ekstrem tersebut dengan penghargaan pada posisi masing-masing dan mencoba melampauinya sebagai bentuk moderasi yang kontekstual di Indonesia. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi putaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh model moderasi beragama di Indonesia sesuai dengan ekstrem yang ada. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa moderasi di Indonesia bisa dilakukan dengan mengakomodasi nilai-nilai positif dari ekstrem-ekstrem tersebut. Temuan ini bisa menjawab pergumulan tentang moderasi dalam relasi agama dengan negara dan dalam relasi antar agama

    25

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇