Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
Not a member yet
    114 research outputs found

    Pengaruh Pariwisata pada adaptasi fungsi, bentuk dan ruang arsitektur Puri, studi kasus: Puri Saren Agung Ubud

    Full text link
    Balinese Traditional Architecture is an architecture that grows and develops in the midst of its people. Efforts to safeguard Balinese culture (including its architecture) as a magnet (tourism) attraction have been carried out since the Dutch colonial government as "Baliseering", followed by the New Order Government through "Tourism-Culture" and the latest entering the 21st century with slogans "Ajeg Bali”. At the present time it cannot be denied that tourism is Bali's main commodity sector in the development effort and increasing the level of welfare of the people (including the Puri family). Puri is a palace and the center of government in the era of the kingdom in Bali. Puri has the essence and important role in the community until now. Some tourist activities within the castle include royal wedding, royal dinner, art performances & exhibitions, guest houses and so on. This condition resulted in the occurrence of an architectural adaptation of both the function, spatial structure and shape of the building according to the needs of tourists, while on the other hand there was an effort to maintain the existence of Balinese castle architecture. This study was designed using a qualitative method with a descriptive approach at Puri Saren Agung Ubud. Puri as an architectural object in the past and efforts to maintain its existence both at present and in the future can be seen as a factual and interesting topic for the development of traditional (traditional) architectural science, specifically related to the social and cultural development of Balinese society. © 2019 Rachmat BudihardjoArsitektur Tradisional Bali adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya. Upaya menjaga budaya Bali (termasuk arsitekturnya) sebagai daya tarik (magnet) pariwisata telah dilakukan sejak masa pemerintahan Kolonial Belanda dengan sebutan “Baliseering”, dilanjutkan oleh Pemerintahan Orde Baru melalui “Pariwisata-Budaya” dan yang terakhir memasuki abad ke-21 dengan slogan “Ajeg Bali. Pada saat kini tidak dapat dipungkiri lagi bahwasannya pariwisata menjadi sector komoditas utama Bali dalam upaya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (termasuk keluarga Puri). Puri merupakan istana sekaligus pusat pemerintahan pada era kerajaan di Bali. Puri memiliki esensi dan peran penting pada masyarakatnya sampai saat kini. Beberapa kegiatan wisatawan di dalam puri diantaranya royal wedding, royal dinner, art performance & exhibition, guest house dan lain sebagainya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya suatu adaptasi arsitektur baik pada fungsi, tata ruang maupun bentuk bangunan sesuai dengan kebutuhan wisatawan, sedangkan pada sisi yang lain adanya suatu upaya dari keluarga puri untuk tetap mempertahankan eksistensi arsitektur Bali. Penelitian ini dirancang menggunakan metoda kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan obyek Puri Saren Agung Ubud. Puri sebagai obyek arsitektur di masa lampau dan upaya untuk mempertahankan eksistensinya baik pada masa kini maupun waktu yang akan datang dipandang dapat menjadi topik yang faktual dan menarik bagi pengembangan ilmu pengetahuan arsitektur lokal (tradisional), khususnya terkait dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakat Bali. © 2019 Rachmat Budihardj

    MODAL SOSIAL: Studi tentang Kumpo Kampo sebagai Strategi Melestarikan Kohesivitas Pada Masyarakat Larantuka di Kabupaten Flores Timur.

    Full text link
    Abstrak       Pola kehidupan kolektif yang bersifat resiprokal berdasarkan hubungan kekerabatan,  persaudaraan, saling ketergantungan dan gotong-royong telah menjadi  ciri khas dari suatu komunitas masyarakat. Masyarakat Larantuka sebagai sebuah komunitas juga memiliki kekayaan budaya  yang berakar pada  hubungan  kekerabatan dan persaudaraan yang bersifat timbal balik. Hubungan sosial saling ketergantungan atau yang disebut dengan tradisi kumpo kampo, merupakan sebuah strategi kolektif melestarikan kohesisvitas yang bertujuan  merespon berbagai persoalan aktual yang dihadapi sehari-hari.       Tradisi ini meskipun mulai mengalami disfungsi di beberapa komunitas namun sebagain besar masyarakat masih tetap melestarikannya dan terus mengembangkannya mengikuti peradaban masyarakat Larantuka  sejak masa kerajaan sampai dengan   saat ini.  Interaksi sosial dalam rentang sejarah panjang telah menghasilkan suatu bentuk dan pola pikir bersama dalam menciptakan hubungan sosial saling ketergantungan yang makin erat  menjadi sebuah kekuatan efektif melestarikan kohesivitas sebagai modal sosial  masyarakatnya. Abstrak       Pola kehidupan kolektif yang bersifat resiprokal berdasarkan hubungan kekerabatan,  persaudaraan, saling ketergantungan dan gotong-royong telah menjadi  ciri khas dari suatu komunitas masyarakat. Masyarakat Larantuka sebagai sebuah komunitas juga memiliki kekayaan budaya  yang berakar pada  hubungan  kekerabatan dan persaudaraan yang bersifat timbal balik. Hubungan sosial saling ketergantungan atau yang disebut dengan tradisi kumpo kampo, merupakan sebuah strategi kolektif melestarikan kohesisvitas yang bertujuan  merespon berbagai persoalan aktual yang dihadapi sehari-hari.       Tradisi ini meskipun mulai mengalami disfungsi di beberapa komunitas namun sebagain besar masyarakat masih tetap melestarikannya dan terus mengembangkannya mengikuti peradaban masyarakat Larantuka  sejak masa kerajaan sampai dengan   saat ini.  Interaksi sosial dalam rentang sejarah panjang telah menghasilkan suatu bentuk dan pola pikir bersama dalam menciptakan hubungan sosial saling ketergantungan yang makin erat  menjadi sebuah kekuatan efektif melestarikan kohesivitas sebagai modal sosial  masyarakatnya.&nbsp

    BUNUK: PENGETAHUAN DAN PRAKTEK ATONI-METO DALAM TATA KELOLA HUTAN

    Full text link
    The implementation of todays forest management that based on formal-scientific knowledge and technical knowledge seems to fail to protect the forest from deforestation and the environmental damage. Decolonialisation of western knowledge could give an opportunity to identify and find the knowledge and practices of indigenous people in sustainable forest management. Forest management based on the indigenous knowledge and practices is believed easy to be accepted by the indigenous community due to the knowledge and practice is known and ‘lived’ by them. The Atoni Pah Meto from West Timor has their own customary law in forest management that is knows as Bunuk. In the installation of Bunuk, there is a concencus among the community members to protect and preserve the forest through the vow to the supreme one, the ruler of the earth and the ancestors, thus, bunuk is becoming a le’u (sacred). Thus, the Atoni Meto will not break the bunuk due to the secredness. Adapting the bunuk to the modern forest management in the Atoni Meto areas could be one of the best options in protecting and preserving the forest

    Koeksistensi alam dan budaya dalam arsitektur

    Full text link
    The existence of residential buildings scattered across the archipelago that has been present for centuries and leaves a long footprint both culturally and socially and integrated into the lives of those who have it has a wealth of extraordinary values ​​of local wisdom. This reality leads to the logical awareness of researchers and observers about the relationship of the concepts of culture and material culture that are not only to be studied and expressed textually but also important to be documented to add to the wealth of information and documentation of culture and architecture. assets that will ultimately contribute to its main mission of developing architectural science. Subroto (2008) states that basically science is used to explain the basic principles contained in knowledge that were previously known as important elements of science itself.  Keberadaan bangunan hunian yang terserak di kawasan kepulauan nusantara yang selama berabad abad hadir dan meninggalkan jejak panjang baik secara budaya maupun sosial dan menyatu dengan kehidupan masyarakat pemiliknya memiliki kekayaan nilai kearifan lokal yang luar biasa. Realitas ini membawa pada kesadaran logis para peneliti dan pemerhati hubungan budaya konsep dan budaya material yang tidak saja untuk dikaji dan diungkapkan secara tekstual namun juga penting untuk didokumentasikan dalam rangka menambah kekayaan informasi dan dokumentasi aset budaya dan arsitektur yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada misi utamanya yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan Arsitektur. Subroto (2008) menyatakan bahwa pada hakikatnya ilmu pengetahuan digunakan untuk menjelaskan prinsip dasar yang terkandung dalam pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya sebagai unsur penting dari ilmu pengetahuan itu sendiri

    Perubahan tata guna lahan kampung Prawirotaman kota Yogyakarta sebagai dampak keberadaan kawasan komersial

    Full text link
    Culture has a very important essence in people's lives. Values that lead to culture seem to be the “breath” for the survival of society. A well-developed culture that can be viewed from both physical and non-physical aspects inherited from generation to generation becomes a tradition that has strong local wisdom. Yet along with its development, its existence may undergo a shift. This condition may exist because of the presence of other cultures that intentionally brought by or unintentionally emerge along with the presence of immigrants. This study aims to identify the shifts of cultural values of the people in Prawirotaman Village, especially in the aspect of community economic activities, through several stages such as: (1) Mapping changes in residential spatial planning in Prawirotaman Village; (2) Exploring economic activities changes in Prawirotaman Village. The results of the study indicate a change in governance and use of land in Prawirotaman Village. This change indeed has implications to socio-economic activities and most particularly to economic or livelihood system. © 2019 Nino Ardhiansyah, Dhyah Ayu Retno Widyastuti, Elisabet Dita SeptiariKebudayaan memiliki esensi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai yang bermuara dalam kebudayaan seolah menjadi nafas bagi keberlangsungan hidup masyarakat. Budaya yang berkembang baik yang bisa ditinjau dari aspek fisik maupun non fisik secara turun-temurun diwarisi dalam masyarakat menjadi sebuah tradisi yang memiliki kearifan lokal yang kuat. Namun seiring perkembangannya keberadaannya dapat mengalami pergeseran. Kondisi ini bisa terjadi dengan hadirnya budaya lain baik yang secara sengaja dibawa maupun secara tidak sadar ada bersamaan dengan keberadaan pendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pergeseran nilai budaya masyarakat di Kampung Prawirotaman terutama dalam aspek aktivitas ekonomi masyarakat, melalui tahapan (1) Memetakan perubahan tata ruang hunian di Kampung Prawirotaman; (2) Menggali perubahan aktivitas ekonomi di Kampung Prawirotaman. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya perubahan tata kelola dan alih fungsi lahan di Kampung Prawirotaman. Perubahan ini secara nyata berimplikasi pada aktivitas sosial ekonomi yang secara spesifik dalam unsur budaya yakni terkait dengan sistem perekonomian atau mata pencaharian hidup. © 2019 Nino Ardhiansyah, Dhyah Ayu Retno Widyastuti, Elisabet Dita Septiar

    Pengaruh Disposisi Matematis Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa

    Full text link
    This study aims to determine the effect of students' mathematical dispositions on mathematical problem solving abilities of students in class VII of SMP. The type of research used is quantitative. The sample in this study was class VII A, amounting to 30 people who were selected using simple random sampling from 6 existing classes. The type of data in this research is primary data with data collection used using a disposition questionnaire consisting of 28 items and tests consisting of 5 items of description. Testing the hypothesis in this study using a simple regression test. After the data is analyzed the regression equation is obtained as follows: Y = 16,312 + 0.523X. before testing the hypothesis, the data normality test and linearity test were carried out. Based on the data analysis, it was found that the t-test = 3.296 with significance = 0.003 and table = 2.048. then t count = 3.296> 2.048 = t table means that data is normally distributed. To see the achievement of the disposition indicators of junior high school students in the junior high school class, the average of each indicator is calculated and the achievement of the mathematical disposition indicator is 50.08%. Whereas for grouping mathematical dispositions, problem solving abilities obtained the highest dispositions having an average of 63.04, moderate dispositions having an average of 43.56, and low dispositions having an average of 40.51. Thus, it can be concluded that there is an influence of mathematical disposition on mathematical problem solving abilities of students of junior high school class

    Pengaruh Model Pembelajaran Tutor Sebaya terhadap prestasi belajar matematika siswa

    Full text link
    This Main problem in this research that is about how execution of study model of tutor coeval on sub subjek of rectangular in SMP Negeri 20 Kupang city academic year 2017 / 2018.  The purpose this research is to know implementation of learning and the effect of learning model tutor coeval to achievement learn mathematics student’s on sub subjek of rectangular in SMP Negeri 20 Kupang city academic year 2017 / 2018.This research was conducted on VII grade student’s SMP Negeri 20 Kupang city which amounted  to 30 students selected randomly from 5 classes available.The instrument used in thes research are observation ,interview and achievement tes learn much as 30 problem item in from of double helix.Data analysis technique used in this research that is result of observation .result of interview,achievement of indicator and t-test. Based on the results of observation , result of interview,achievement of indicators,obtained achievement learn mathematics student are very good. While based on t-test calculation shows t count= 16,417 and the table = 2,045 at significance level 5% which means t count > t table, then Ho rejected Ha accepted. So it can be concluded that there is a significant influence on the use learnig model of tutor coeval

    Tentang Orkestra Para Penjilat

    No full text
    “Yang paling parah di antara binatang-binatang buas adalah sang Tiran, di antara binatang-binatang jinak adalah si Penjilat,” demikian awasan Filsuf Yunani Kuno, Plato, 2000 tahun silam. Awasan Plato dalam pidato-pidatonya kepada masyarakat Athena kala itu punya dua makna. Plato hendak mengingatkan bahwa, dalam hal perebutan kekuasan dan urusan hidup bersama dalam negara, jenis manusia yang harus diwaspadai adalah sang tiran. Yaitu seorang penguasa lalim dan sewenang-wenang. Penguasa yang merebut dan mengendalikan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan menghabisi musuh-musuhnya dengan cara-cara yang tidak sportif. Tetapi selain sang Tiran, menurut Plato, jenis manusia lainnya yang juga harus diwaspadai, adalah si Penjilat. Jenis manusia ini sangat oportunis. Ia sungguh berbahaya karena bisa hadir dalam banyak wajah. Di dunia politik, manusia jenis ini “master” dalam urusan konsolidasi kepentingan. Dengan orkestra ketundukan palsu di hadapan otoritas (pemegang kekuasaan), Ia bisa survival di segala macam cuaca politik. Senjata andalannya adalah kemunafikan

    The meaning of public space of Kupang City Nostalgia Park

    Full text link
    Kupang City Nostalgia Park became one of the characteristics of the city where the park is located in the city center and became the only representative representative park in the city of Kupang. But the soul is unreliable. Is Nostalgic Park able to give meaning to the initial concept of planning and development in order to provide broad benefits for the city of Kupang and its citizens. Therefore, the purpose of the study is to know the extent to which Nostalgia parks as a public space and how its meaning for the citizens of the city. This research was conducted by qualitative descriptive method. Observations were made in the park room at predetermined times to get an overview of the utilization pattern. The results show that the utilization of open space Nostalgia public park is still not maximized according to the initial concept, where the purpose of utilization of the park on a larger scale has not been integrated with the unsuccessful efforts to make the park as the lung of the city / forest city and has not given a democratic meaning to visitors park as a public open space that can be accessed by the visitors.Taman Nostalgia Kota Kupang menjadi salah satu ciri kota Kupang sebagai satu-satunya taman yang cukup representatif di kawasan Kota Kupang. Namun jiwa tempat merupakan kekuatan nonfisik yang mampu membentuk kesan dalam kota. Apakah taman Nostalgia berhasil memberi makna sebagaimana konsep awal perencanaan dan pembangunannya guna membawa manfaat yang luas bagi Kota Kupang dan warganya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan taman Nostalgia sebagai ruang publik dan bagaimana maknanya bagi warga kota. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pengamatan dilakukan diruang taman pada waktu-waktu yang telah ditentukan untuk mendapatkan gambaran pola pemanfaatannya. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang terbuka publik taman Nostalgia masih belum maksimal sesuai konsep awal, dimana tujuan pemanfaatan taman pada skala yang lebih besar belum tercapai ditandai dengan belum berhasilnya upaya menjadikan taman sebagai paru-paru kota/hutan kota dan belum memberi makna yang demokratis bagi pengunjung taman sebagai ruang terbuka publik yang bebas dan bisa diakses oleh semua warga terutama oleh pengunjung lanjut usia dan balita

    Makna ruang jalan di Kota Lama Kupang menurut pengguna ruang pedagang informal dan formal

    Full text link
    The Space at Soekarno Street and Siliwangi Sreet in the Kota Lama Kupang area has existed since the establishment of Kupang city.  Since then, this space has developed into a trading area and played important role as economic and  social interaction instrument in the life of the people.   The long-lasting activities and usage of the space by users, especially by the informal and formal traders indicate how they give meaning to the space.  Finding the meaning of street space of Kota Lama will be benefitial in encouraging development sustainability and in contributing thoughts to the parties responsible for the continuing life at Kota Lama Kupang. The aim of this research was to find out the meanings of street space of Soekarno and Siliwangi Streets at Kota Lama Kupang and the underlying terms according to the space users of informal and formal sellers. The research employed qualitative approach with inductive analysis method. The informants were 24 informal sellers and four formal sellers who have been at the space for more than 15 years.  The finding of the research was the depth knowledge about the meaning of space according to the informal and formal sellers and the concept underlying their existence. There were two concepts of meanings of the space found, namely living survival and local life unity (community). Both concepts were supported by six themes, namely theme of economy, kinship, togetherness, bonding with the place, gender and annual event. It was concluded that the meaning of Space Street at Kota Lama Kupang was categorized as local meaning. © 2018 Yuliana Bhara Mberu, Yohanes Djarot PurbadiRuang jalan Soekarno dan Siliwangi pada kawasan Kota Lama Kupang, telah ada sejak terbentuknya kota Kupang dan berkembang menjadi kawasan perdagangan. Ruang jalan memiliki peranan yang sangat penting untuk kehidupan masyarakat sebagai sarana interaksi sosial ekonomi. Aktifitas-aktifitas yang terjadi dan bagaimana pengguna ruang khususnya pedagang informal dan formal bertahan selama bertahun-tahun adalah wujud mereka memberi makna. Menemukan makna ruang jalan Kota Lama bermanfaat untuk mendukung keberlanjutan pembangunan dan memberikan kontribusi pemikiran-pemikiran bagi pihak yang bertanggung jawab dalam keberlangsungan kehidupan di kota Lama Kupang. Tujuan penelitian ini adalah menemukan makna ruang jalan Soekarno dan Siliwangi di Kota Lama Kupang serta menemukan hal-hal yang melatar-belakanginya menurut pengguna ruang pedagang informal dan formal.Penelitian tentang makna ruang jalan di Kota Lama Kupang dilakukan dengan menggunakan paradigma Kualitatif dengan metode analisis induktif. Peneliti menemukan 24 informan pedagang informal dan empat diantaranya dari pedagang formal, yang telah lama berada pada ruang tersebut diatas 15an tahun. Hasil penelitian adalah pengetahuan mendalam tentang makna ruang menurut para pedagang informal dan formal serta temuan konsep yang mendasari keberadaan mereka. Ditemukan dua makna ruang yaitu makna bertahan hidup dan kesatuan hidup setempat (komunitas). Kedua konsep didukung oleh enam temuan tema yaitu tema ekonomi, kekerabatan, kebersamaan, keterikatan dengan tempat, gender dan event tahunan. Disimpulkan bahwa makna ruang ruang jalan di Kota Lama Kupang adalah makna lokal. © 2018 Yuliana Bhara Mberu, Yohanes Djarot Purbad

    110

    full texts

    114

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇