Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
Not a member yet
    114 research outputs found

    Peran sanro bola dalam tradisi membangun rumah tradisional Bugis di Kabupaten Soppeng

    Full text link
    The role of sanro bola in construction of Bugis traditional house in Soppeng District The diversity of race and culture makes Indonesia a country with abundance of culture. Traditional houses which have diverse form are symbol and reflection of culture in every tribe in Indonesia. The shape and architectural value of traditional Bugis houses in Sulawesi Selatan which still remains thanks to the efforts of Bugis tribe community is an example of house-building culture which still exists today. The involvement of cultural leader such as Sanro bola in tradition of Bugis’ house-building culture is essential, because they have knowledge and experiences passed on through generations. This study aims to reveal the role of Sanro bola in preserving the traditional values of building a Bugis Soppeng house.  The method of this research is qualitative with explorative analysis. The result of the study revealed that the role of Sanro bola in the process of building a traditional Bugis Soppeng house divided into 6 aspects; as leader, material selection, considering about a good time and day, house orientation, constructing of traditional houses, and application of philosophy sulapa epapa'e. These six aspects are applied by Sanro bola in both physical and non-physical with the aim of providing direction and safety for the residents of the house.Persebaran suku dan budaya yang begitu beragam menjadikan Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya. Bentuk rumah tradisional yang beragam merupakan simbol dan cerminan budaya pada setiap suku yang ada di Indonesia. Bentuk dan nilai arsitektur rumah tradisional Bugis di Sulawesi Selatan yang masih bertahan karena peran penting masyarakat suku Bugis merupakan contoh nilai budaya membangun rumah yang masih terjaga. Keterlibatan salah satu tokoh masyarakat seperti  peran sanro bola dalam tradisi membangun rumah Bugis sangatlah penting karena ilmu dan pengalaman yang diterima diturunkan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran sanro bola dalam melestarikan nilai-nilai tradisi membangun rumah Bugis Soppeng. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksploratif. Hasil penelitian mengungkapkan peran sanro bola dalam proses tradisi membangun rumah tradisional Bugis Soppeng terbagi ke dalam 6 aspek yaitu pemimpin, pemilihan material, pemilihan waktu dan hari yang baik, arah orientasi rumah, mendirikan rumah dan penerapan filosofi sulapa eppa’e. Penerapan keenam aspek tersebut diterapkan oleh sanro bola secara fisik dan non fisik dengan tujuan untuk memberi arahan dan keselamatan bagi para penghuni rumah

    Ekspresi-dasar arsitektural pada bangunan pusat kebudayaan, objek studi: Volkstheater Sobokartti di Semarang, Indonesia

    Full text link
    Basic architectural expression of a cultural center, study object: Volkstheater Sobokartti in Semarang, Indonesia The absence of specific guidelines is the main reason that cultural centers in Indonesia were often using an existing building that is not designated as cultural center and/or are designed with modern styles that are completely different from the existing architectural styles. This research is specifically focused on the issue of basic architectural expression in the Volkstheater Sobokartti Cultural Center. The main purpose of this research is to reveal architectural meaning based on the basic-expression of the Volkstheater Sobokartti Cultural Center. This research utilized theories such as: cultural center, architectural expression, and interpretation of architectural meaning. These theories together with the study object are then analyzed and elaborated in-depth using architectural anatomy and ordering principles theories. This research succeeded in compiling a reference of basic architectural expression as a basis for designing and/or interpreting the meaning of a cultural center. The result of this research can be used as: a design input/consideration for architects and stakeholders in designing and/or interpreting the meaning of a cultural center for students, academicians, architects, and concerned community; a starting point for other similar research.Belum adanya pedoman khusus yang mengatur mengakibatkan pusat kebudayaan di Indonesia seringkali menggunakan bangunan eksisting yang tidak diperuntukkan sebagai pusat kebudayaan dan/atau dirancang dengan langgam modern yang benar-benar berbeda dari langgam arsitektur yang telah ada. Penelitian ini secara spesifik mengangkat isu ekspresi-dasar arsitektural pada bangunan Pusat Kebudayaan Volkstheater Sobokartti. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengungkap makna arsitektural berdasarkan ekspresi-dasar bangunan Pusat Kebudayaan Volkstheater Sobokartti. Penelitian ini menggunakan teori-teori: pusat kebudayaan, ekspresi arsitektural, interpretasi makna arsitektural. Teori-teori ini bersama dengan objek studi kemudian dianalisa dan dielaborasi secara mendalam menggunakan teori anatomi arsitektural dan prinsip penataan. Penelitian ini berhasil menghimpun acuan ekspresi-dasar arsitektural sebagai dasar merancang dan/atau membaca makna ekspresi bangunan pusat kebudayaan. Manfaat penelitian ini yaitu: dapat digunakan sebagai acuan bagi arsitek dan pemangku kepentingan dalam merancang pusat kebudayaan di Indonesia; metode untuk merancang atau membaca makna ekspresi pusat kebudayaan bagi mahasiswa, akademisi, arsitek, dan masyarakat dengan fokus studi yang bersangkutan; titik awal masukan untuk penelitian-penelitian lain sejenis bagi peneliti

    EDITORIAL

    Full text link
    Program studi Administrasi Publik sebagai bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas Katolik Widya Mandira, akhirnya menerbitkan jurnal online edisi pertama pada Maret 2020.Jurnal ini diberi nama JAP UNWIRA. JAP merupakan singkatan dari Jurnal Administrasi Publik. KataUNWIRA adalah singkatan dari Universitas Widya Mandira. Nama jurnal dengan demikian melekat padakarakter institusi yang memiliki motto: “Ut Vitam Habeant Abundantius”.Tim redaksi pernah menerbitkan jurnal ilmiah program studi edisi Januari-Juni 2018, edisi cetakdengan nama jurnal yang sama seperti kali ini. Akan tetapi, karena keterbatasan sumber daya pengelolajurnal dan kekurangan artikel, maka sejak itu redaksi seolah mati suri karena tidak memublikasikan artikelsecara konsisten.Kali ini diinspirasi oleh semangat untuk meningkatkan karya akademik dosen, mahasiswa, peneliti,dan semua pihak yang memiliki passion pada publikasi ilmu-ilmu sosial, redaksi kembali hadir ke hadapanpembaca dengan enam artikel baik yang dihasilkan dari studi lapangan maupun kajian kepustakaan. Dalamsemangat yang tinggi ini pula redaksi berkomitmen untuk menerbitkan JAP UNWIRA secara konsisten danperiodik sebanyak dua kali dalam setahun yakni antara Januari-Juni dan Juli-Desember

    Inklusivitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Berbasis Partisipasi Masyarakat di Desa Air Mata, Kabupaten Kupang

    Full text link
    Community participation in the management of village allocation fund in the Village of Mata Air is still far from the requiredstandards. At the planning stage, the management of the fund is deemed as too “technocratic” in which only village elites areinvolved, while the poor segment of the village residents as well as women are not involved. At the implementation stage, thefund management has neither been institutionalized nor determined by the mobilization of government instruments andvillage administrative personnel. So far the community participation only goes in a spontaneous way and as such has reducedthe degree of inclusiveness. As a result, the continuity of villagers’ initiatives is cut off and therefore it does not nurture thesense of belonging in the whole village development. At the supervision level, the fund is controlled in a structural-hierarchicalway without involving the village residents. The residents are not given access to the village fund management. The villagehead, village finance technical executive, and the village treasurer are still considered the most responsible persons in themanagement of village allocation fund

    Teori dalam penelitian arsitektur

    Full text link
    Theory in architectural research ”Teori” merupakan terminologi yang maknanya jarang dipahami dengan benar oleh para mahasiswa, dosen dan bahkan peneliti sekalipun. Gambaran mental yang mereka miliki tentang teori adalah sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, rumit, oleh karena itu dianggap sebagai hal yang patut dihindari. Seorang sosiolog terkenal Ian Craib (1984) dengan tepat memberikan gambaran tersebut: ”The very word “theory”sometimes seems to scare people … (Only) few people feel at home with theory or use it in a productive way”. Tidak dapat dibantah, teori mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penelitian di bidang ilmu apapun, termasuk penelitian di bidang arsitektur. Teori berperan untuk menjelaskan keterkaitan antara suatu fenomena dengan data empiris yang diamati dan dianalisis secara sistematis oleh peneliti. Kerlinger (1973) mendefinisikan teori sebagai ”seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang menyajikan gambaran sistematik tentang suatu fenomena beserta hubungan di antara variabel-variabelnya, dengan tujuan memberi penjelasan atau memprediksi tentang fenomena tersebut”. Lebih lanjut Neuman (2003) menjelaskan bahwa teori memiliki peran penting dalam mengkaitkan suatu hasil penelitian dengan sejumlah pengetahuan relevan yang telah disumbangkan oleh para peneliti sebelumnya, sehingga melalui penelitiannya seorang peneliti tidak hanya mampu melihat sebatang pohon, tetapi sebuah hutan yang dipenuhi dengan banyak pohon. Teori dengan kata lain berperan meningkatkan kesadaran peneliti terhadap interkonektisitas di antara data dan hasil penelitian. Sayangnya banyak peneliti yang tidak mampu secara eksplisit menentukan teori mana yang sesuai dengan penelitiannya, dan bagaimana teori tersebut harus digunakan. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi peneliti yang a-teoretis dan perannya hanya terbatas pada kolektor data empiris. Untuk meneliti tentang makna dalam arsitektur misalnya, seorang peneliti secara eksplisit harus menetapkan alternatif teori mana yang paling relevan baginya di antara sekian banyak teori yang telah berkembang, apakah teori strukturalisme, fenomenologi, pasca strukturalisme atau teori lainnya.”Teori” merupakan terminologi yang maknanya jarang dipahami dengan benar oleh para mahasiswa, dosen dan bahkan peneliti sekalipun. Gambaran mental yang mereka miliki tentang teori adalah sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, rumit, oleh karena itu dianggap sebagai hal yang patut dihindari. Seorang sosiolog terkenal Ian Craib (1984) dengan tepat memberikan gambaran tersebut: ”The very word “theory”sometimes seems to scare people … (Only) few people feel at home with theory or use it in a productive way”. Tidak dapat dibantah, teori mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penelitian di bidang ilmu apapun, termasuk penelitian di bidang arsitektur. Teori berperan untuk menjelaskan keterkaitan antara suatu fenomena dengan data empiris yang diamati dan dianalisis secara sistematis oleh peneliti. Kerlinger (1973) mendefinisikan teori sebagai ”seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang menyajikan gambaran sistematik tentang suatu fenomena beserta hubungan di antara variabel-variabelnya, dengan tujuan memberi penjelasan atau memprediksi tentang fenomena tersebut”. Lebih lanjut Neuman (2003) menjelaskan bahwa teori memiliki peran penting dalam mengkaitkan suatu hasil penelitian dengan sejumlah pengetahuan relevan yang telah disumbangkan oleh para peneliti sebelumnya, sehingga melalui penelitiannya seorang peneliti tidak hanya mampu melihat sebatang pohon, tetapi sebuah hutan yang dipenuhi dengan banyak pohon. Teori dengan kata lain berperan meningkatkan kesadaran peneliti terhadap interkonektisitas di antara data dan hasil penelitian. Sayangnya banyak peneliti yang tidak mampu secara eksplisit menentukan teori mana yang sesuai dengan penelitiannya, dan bagaimana teori tersebut harus digunakan. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi peneliti yang a-teoretis dan perannya hanya terbatas pada kolektor data empiris. Untuk meneliti tentang makna dalam arsitektur misalnya, seorang peneliti secara eksplisit harus menetapkan alternatif teori mana yang paling relevan baginya di antara sekian banyak teori yang telah berkembang, apakah teori strukturalisme, fenomenologi, pasca strukturalisme atau teori lainnya

    Preferensi dan Voting Behavior di Kalangan Mahasiswa Unwira Menjelang Pemilihan Umum Gubernur Provinsi NTT 2018

    Full text link
    Provincial general election to elect the governor of NTT has resulted in the installment of Victor Bungtilu Lasikodat as thegovernor of NTT and Joseph Naisoi as the vice governor. This result does not seem to accord with the expectation of the collegestudents, i.e., the students of Widya Mandira Catholic University to be specific. Through a questionnaire the students wereasked which of the candidates become their preference. It turned out that 44,77 percent of the students preferred MarianusSae-Emi Nomleni, followed by Benny Harman-Benny Litelnoni at the second place with 25,58 percent. Victor-Joseph camein the third place with 20,35 percent. Voters in the election were attracted by bombastic promises during the campaign butstudents were more attracted by the actual performance of the candidates either in the government or in the legislature. Morethan that the students are expecting that the future governor can take care of several urgent issues such as better prosperity(88,14 %), health (83,59 %), education (78,67%) and religious tolerance (78,0%) which they believed can be realized byMarianus Sae dan Emi Nomleni as their future governor and vice governor

    Hoaks, Politik dan Risiko Masyarakat Modern

    Full text link
    Indonesia’s social space in the past year has been filled with the phenomenon of hoax. The phenomenon of hoax develops alongwith the strengthening and thickening of the national political axis. Society is not treated by true news but it is filled withvarious emotional outbursts. The implication is that the community is divided into small groups based on interests. This causesthe social and cultural space to be rigid and inflexible. By Ulrich Beck, such phenomena are called risk society. Risks arise notonly because of technological developments in physical reason but also because of erroneous social and political practices. In itsdevelopment, Indonesian politics follows the trend of thickening into groups. A society divided into groups has the potential tostrengthen internal integration. As a result, the level of external adaptation is low. Politics is called the most vulnerable regionand is therefore responsible for social divisions. Because of politics, elements of society make social media not only a tool butalso their ultimate goal. There, the people practice various news provocation movements the truth of which cannot be verified.Such reality demands state responsibility in managing the media. Media management is not the same as controlling media.Managing the media is providing literacy education not only to the media and the political elite but also to the general public.Consequently, the logical reasoning for the existence of a civilized Indonesian society should be honed contiously

    Strategi adaptasi arsitektural pada rumah usaha di Jalan Tubagus Ismail, Bandung

    Full text link
    Architectural adaptation strategy of shophouses in Jalan Tubagus Ismail, Bandung The area in Jalan Tubagus Ismail, Bandung is a lush residential area that now has turned into a commercial area. In this area, many shophouses grow and develop spontaneously and responsively due to the presence of students from top educational institutions in Bandung City. The intensification of activities and the high demand of basic needs from resident students have resulted in various architectural adaptation strategies carried out by shophouse owners based on their perceptions, powers, and desires. This study aims to identify the architectural adaptation strategies of shophouses in Jalan Tubagus Ismail. The study was conducted using qualitative research method through spatial practice and representational space approach. The result of this study shows that there is a tendency of architectural adaptation strategies in terms of consideration of the suitability between types of business and location, space layout, building facade, and provision of shared facility. Economic force plays important role in the adaptation strategies, even though it is also found that the balance between economic desire and need for dwelling still exists. The study of adaptive architectural strategy is expected to be able to contribute on socio-spatial relation in architecture through socio-spatial practice and representational space.Kawasan di Jalan Tubagus Ismail, Bandung merupakan kawasan hunian yang telah berubah menjadi kawasan dengan fungsi komersial. Di kawasan ini banyak ditemukan rumah usaha yang tumbuh dan berkembang secara spontan dan responsif terhadap keberadaan mahasiswa dari institusi-institusi pendidikan besar di Kota Bandung. Semakin intensifnya aktivitas dan tingginya pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa mengakibatkan terjadinya berbagai strategi adaptasi arsitektural yang dilakukan oleh pengguna rumah usaha sesuai dengan persepsi, power, dan desire mereka masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi adaptasi arsitektural pada rumah usaha di Jalan Tubagus Ismail. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan spatial practice dan representational space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan strategi adaptasi arsitektural ditinjau dari pertimbangan terhadap kecocokan fungsi dengan lokasi usaha, layout ruang, tampak bangunan, dan penyediaan fasilitas bersama. Kekuatan ekonomi banyak berpengaruh dalam strategi adaptasi ini, meskipun tetap ditemukan keseimbangan antara hasrat ekonomis dengan kebutuhan berhuni dalam praktik ruang rumah usaha. Kajian terhadap strategi adaptasi arsitektural ini diharapkan mampu memberi kontribusi pada kajian sosio-spasial dalam arsitektur melalui telaah praktik spasial dan representasi ruang

    Front matter - Cover

    No full text

    Aktivitas di alun-alun sebagai ruang terbuka publik dengan konsep lapangan, kasus studi: Alun-alun Bandung

    Full text link
    Activity in Bandung city square as a public open space with open field concept Bandung city square is an icon of Bandung, known by the public as a public open space with a field in the middle. The shape of the square has changed to resemble a city park with the addition of new facilities in it such as seating area, play area, sport area and so on. The changes affect its function as public space and the activities formed in it. The purpose of this study is to identify patterns of activities and their correspondence with the shape of the square as a public space in the city of Bandung. This study is carried out through stages (1) mapping the functional area based on its physical arrangement; (2) identifying activities formed in it and (3) interviewing the users. The result of the study indicates that the types of activities in Bandung city square are more diverse due to the addition of seating area, play area and renewal of the concept of the field. But besides that, the placement of shade trees in each sitting area needs to be considered so that the square is not only active at night, but also during the daytime.Setiap Alun-alun merupakan salah satu bentuk dari ruang terbuka publik di tengah kota yang menjadi tempat berkumpulnya warga kota untuk melakukan berbagai macam kegiatan publik. Pada perkembangannya bentuk alun-alun mengalami perubahan dengan adanya penambahan area-area yang ditata menyerupai taman kota, terdapat tempat duduk, area bermain dan sebagainya. Perkembangan fisik alun-alun mempengaruhi pola dari aktivitas yang terjadi dan terbentuk di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola aktivitas yang terbentuk dari pengaruh penataan fisik di Alun-alun Kota Bandung, melalui tahan (1) memetakan area berdasarkan penataan fisiknya; (2) mengidentifikasi faktor utama dari penataan fisik yang mempengaruhi pola aktivitas. Hasil dan penelitian menunjukkan bahwa pola aktivitas yang terbentuk di Alun-alun Kota Bandung dipengaruhi oleh jenis furniture dan perletakkannya yang menjadi faktor utamanya

    110

    full texts

    114

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇