Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
Not a member yet
    114 research outputs found

    Analisis kriteria desain jalur pedestrian kawasan stasiun kereta api Padalarang

    Full text link
    Analysis of pedestrian design criteria of Padalarang railway station area The Padalarang sub urban is currently known as high mobility area. There are railway station and terminal for public transportation. Recently, Padalarang has decreasing its physical and visual quality due to the growth of informal housing, informal sector, traditional market and terminal. The Transit Oriented Development is an approach which integrates vehicle network system and pedestrian lane modes. These inappropriate growths generate a lot of environment problems. One of them is the lack of pedestrian lane and its linkage with housing, such as markets, stations, terminals and other public facilities, meanwhile pedestrian lanes have an important role for supporting their main activity. Especially pedestrian lanes in Indonesia which recently are still in ongoing debate as an important issue in town planning. This research will deliberate about the design criteria of pedestrian lane system become more walkable and responsive, which oriented to sidewalk users. This research was conducted through case study and data collecting by surveying, observing and mapping the physical condition of the area nearby railway station, terminal and traditional market. This study is expected to be able to help government and stakeholders as a reference in assembling the area around Padalarang railway station.Wilayah Padalarang saat ini dikenal sebagai kawasan bermobilitas tinggi. Di wilayah ini terdapat Stasiun Kereta Api dan terminal sebagai  titik simpul moda transportasi publik. Kawasan sekitar Stasiun Kereta Api ini mengalami penurunan kualitas fisik lingkungan dan visual akibat pertumbuhan bangunan liar, sektor informal, terutama dengan adanya fungsi pasardan terminal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan pengembangan yang berorientasi pada sistem transit (Transit Oriented Development), yang mengintegrasikan sistem jaringan jalan (moda transportasi massal dan pedestrian. Perkembangan tak teratur tersebut memicu permasalahan lingkungan kawasan. Salah satunya adalah jalur pedestrian yang kurang mendapatkan perhatian. Sementara  jalur pedestrian dalam konteks perumahan warga, pasar, stasiun dan terminal memiliki peran penting bagi mereka sebagai kegiatan utama. Jalur pedestrian  di Indonesia hingga kini masih selalu menjadi perdebatan yang belum selesai. Isu penting dalam merencanakan sistem jalur pedestrian dalam konsep pengembangan ini adalah bagaimana merencanakan jalur pedestrian yang walkable dan responsif, yaitu berorientasi pada pengguna trotoar. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan studi kasus di lapangan melalui survey, observasi dan mapping kondisi fisik lingkungan, serta wawancara para stakeholder. Hasil penelitian ini ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan perancang kebijakan dalam menata wilayah Stasiun Kereta Api Padalarang

    Kearifan Kaenbaun sebagai dasar konseptual pada tata spasial arsitektur permukiman suku Dawan di desa Kaenbaun

    Full text link
    The Research based on an intercultural contact approach is significant to study the traditional settlements and to support the preservation of local culture-based architecture in Indonesia. The Kaenbaun village inhabited by Dawan tribes is a vernacular village and organized based on local resources (physical-natural, technological, economic, social and cultural) fully. It is believed that even the ancestral spirits were involved in structuring settlements and the process of village life. The Kaenbaun's culture is a mixture of Dawan culture and the faith and dogma of the Catholic church which form Kaenbaun's wisdom and underlie the behavior of citizens and the spatial layout of Kaenbaun's settlements. The study was conducted by using field observation guided by Husserlian phenomenological paradigm.  The data were processed based on inductive-qualitative thinking by using the field notes taken from field research activities in 2004 to 2010.  Data were also supplemented by actual information gathered in 2010-2018 through digital media. The result showed that the local wisdom of Kaenbaun (Kaenbaun's wisdom) emerged from the Dawan culture with the acculturation of Catholic faith and dogma becoming a guideline for the behavior of citizens and the spatial structure of the Kaenbaun village settlement architecture. The Kaenbaun's wisdom is the concept of Kaenbaun's ideal life where humans live in harmony with their fellow humans, harmony with nature, blessed by their ancestors and blessed by God. © 2019 Yohanes Djarot Purbadi, Achmad Djunaedi, SudaryonoPenelitian berbasis pendekatan kontak antar budaya berpotensi penting untuk penelitian permukiman tradisional dan mendukung pelestarian arsitektur berbasis budaya lokal di Indonesia. Desa Kaenbaun yang dihuni orang-orang suku Dawan adalah desa vernakular, ditata berdasarkan sumberdaya lokal (fisik-alami, teknologi, ekonomi, sosial dan budaya) sepenuhnya, bahkan arwah nenek-moyang dilibatkan dalam penataan permukiman dan proses kehidupan desa. Budaya Kaenbaun adalah percampuran budaya Dawan dengan iman dan dogma gereja Katolik dan membentuk kearifan Kaenbaun, yang mendasari perilaku warga dan tata spasial permukiman Kaenbaun. Observasi lapangan dengan tuntunan paradigma fenomenologi Husserlian mendasari proses penelitian dalam tulisan ini. Pengolahan data berdasarkan proses berpikir induktif-kualitatif menggunakan catatan lapangan dari kegiatan penelitian lapangan pada tahun 2004 sd 2010, ditambahi informasi aktual yang dikumpulkan tahun 2010-2018 melalui media digital. Hasilnya, kearifan lokal Kaenbaun (kearifan Kaenbaun) muncul dari budaya Dawan yang bercampur dengan iman dan dogma Katolik, menjadi pedoman perilaku warga dan tatanan keruangan pada arsitektur permukiman desa Kaenbaun. Kearifan Kaenbaun adalah konsep hidup ideal orang Kaenbaun: manusia hidup dalam kerukunan dengan sesama saudara, harmoni dengan alam, direstui nenek-moyang dan diberkahi Tuhan. © 2019 Yohanes Djarot Purbadi, Achmad Djunaedi, Sudaryon

    Pendekatan antropologi sebagai penyeimbang model perhitungan jejak ekologis di Desa Wisata

    Full text link
    Tourism is currently experiencing a shift from mass tourism to special interest tourism focusing on nature and culture. In the context of preservation, rural tourism experiences a sharp pros and cons as supporting or inhibiting aspects of conservation. This study uses one of the environmental conservation evaluation instruments with an ecological footprint calculation model that analyzes quantitatively the aspects of transportation, water use, clothing use, recreation, food, garbage and shelter. Given the limitations of the ecological trace calculator model to be applied in tourism villages, the implementation of the model needs to be modified using the anthropological approach. The research method used is action research participation by measuring the impact of tourism activities in rural areas using simple indicators of ecological footprint calculations and equipped with in-depth interviews to explore aspects of collective behavior as the focus of the anthropological approach studied. Case studies include three villages in the Yogyakarta region, namely Pentingsari in Sleman regency, Lopati in Bantul and Kalibiru districts in Kulonprogo district. The results obtained are recommendations for anthropological approaches to evaluate the ecological footprint results so that they are more appropriate if they are used as an environmental conservation action plan in a tourist village with the emphasis on forming awareness of living with nature. © 2019 Anna Pudianti, Vincentia Reni VitasuryaPariwisata saat ini mengalami pergeseran dari pariwisata massal ke wisata minat khusus berfokus pada alam dan budaya. Dalam konteks pelestarian, pariwisata mengalami pro kontra yang cukup tajam sebagai pendukung pelestarian atau sebaliknya penghambat pelestarian. Penelitian ini menggunakan salah satu instrumen evaluasi pelestarian lingkungan dengan model perhitungan jejak ekologi yang menganalisis secara kuantitatif dari aspek transportasi, penggunaan air, penggunaan pakaian, rekreasi, makanan, sampah dan tempat tinggal. Mengingat keterbatasan model kalkulator jejak ekologi untuk diterapkan di desa Wisata, maka penerapan model perlu dilakukan modifikasi dengan menggunakan pendekatan antropologi. Metode penelitian yang dipergunakan adalah partisipasi riset aksi dengan mengukur dampak aktifitas wisata di perdesaan menggunakan indikator sederhana dari perhitungan jejak ekologi serta dilengkapi wawancara mendalam untuk mengeksplorasi aspek perilaku kolektif sebagai focus pendekatan antropologi yang diteliti. Studi kasus meliputi tiga desa di wilayah Yogyakarta yaitu Pentingsari di kabupaten Sleman, Lopati di kabupaten Bantul dan Kalibiru di kabupaten Kulonprogo. Hasil yang diperoleh adalah rekomendasi pendekatan antropologi untuk mengevaluasi hasil jejak ekologi agar lebih tepat jika digunakan sebagai rencana aksi pelestarian lingkungan di desa wisata dengan tekanan pada pembentukan kesadaran hidup bersama alam. © 2019 Anna Pudianti, Vincentia Reni Vitasury

    Karakteristik fasad bangunan Indis di kawasan jalan Prawitotaman Yogyakarta

    Full text link
    Prawirotaman, Yogyakarta has a unique characteristic with the facade of Indich buildings which used to be the house for Kraton warriors and continued to grow, so that many new buildings emerged with a modern style that could eliminate identity and characteristics in the Prawirotaman street area. Therefore, we need a comprehension of the façade characteristics for Indich buildings so that it can be used as an idea in the design of buildings in the future. This study uses the rationalistic paradigm with qualitative deductive methods. The results of the study show types in each element and the most dominant types including  limasan roof with the addition of a small roof (due to the addition of the front room) with clay tile, concrete material walls with cream or white color, the door uses 2 door leaves wood material combination glass rayban, glass massif window, elevation of the floor between 20-60 cm (requires stairs for access) and dominated by one-story buildings. Facade pattern of the entire Indich buildings in the Prawirotaman street area has an asymmetrical pattern but seems balanced and ornaments in the building are in the ventilation, while the column with firm lines and concrete material elements shows the different characteristics variables from the characteristics Indich building basic theory. Examples of the different elements are the windows and building patterns because of the current development and changed by building owners. © 2019 Dessy Anggraini, Dwita Hadi RahmiKawasan jalan Prawirotaman Yogyakarta memiliki karakteristik yang unik dengan fasad bangunan-bangunan Indis yang dulu merupakan rumah prajurit Kraton dan terus berkembang sehingga banyak bangunan baru yang muncul dengan gaya modern yang dapat menghilangkan identitas dan karakteristik di kawasan jalan Prawirotaman. Oleh karena itu diperlukan pemahaman mengenai karakteristik fasad bangunan Indis agar dapat dijadikan masukan dalam perancangan bangunan di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan paradigma rasionalistik dengan metode deduktif kualitatif. Hasil dari penelitian ditemukan tipe-tipe dalam setiap elemen dan ditemukan tipe yang paling dominan diantaranya; atap limasan dengan tambahan atap kecil (akibat penambahan ruang depan) dengan genteng tanah liat, dinding material beton dengan warna cream atau putih, pintu menggunakan 2 daun pintu material kayu kombinasi kaca rayban, Jendela kaca massif, peninggian lantai antara 20-60 cm (memerlukan tangga untuk akses masuk) dan didominasi dengan bangunan berlantai satu. Pola fasad keseluruhan bangunan Indis yang ada di kawasan jalan Prawirotaman memiliki pola yang asimetis namun terkesan seimbang dan ornamen pada bangunan terdapat pada bagian ventilasi, sedangkan kolom dengan unsur garis tegas dan material beton yang menunjukan adanya perbedaan karakteristik pada variabel dari teori karakteristik dasar bangunan Indis. Contoh elemen yang berbeda adalah jendela dan pola bangunan karena adanya perkembangan jaman dirubah oleh pemilik bangunan. © 2019 Dessy Anggraini, Dwita Hadi Rahm

    Hilangnya karakter pedestrian shopping street jalan Tunjungan akibat transformasi Surabaya sebagai Kota Metropolitan

    Full text link
    In general, there are centers of commercial activity in a city. Through the patterns of development of commercial activities, a pedestrian shopping street typology which prioritizes pedestrians in its pattern and activity system was born. Jalan Tunjungan Surabaya represents this typology well because it was developed to be a pedestrian-based shopping area in Gemeente government era. Along with the development of Surabaya, the uniqueness of the urban artefact of Tunjungan area is transformed and being dominated by multi-storey buildings and Jalan Tunjungan became a city axis. The uniqueness of Jalan Tunjungan which was able to attract tourists is endangered due to the demands of Surabaya's economic development. Through a synchronic-diachronic approach with qualitative-descriptive methods, this study aims to identify patterns, types, and systems that create the physical-spatial characteristics of pedestrian shopping street in Jalan Tunjungan that has remained adapted and lost due to the transformation of Surabaya as a metropolitan city. Through comparative analysis, the findings conclude that the only thing remains is the linearity pattern of the building structure, while the type of road is adapted into one-way avenue with planned lane division and the addition of on-site parking system. Building types is adapted into commercial buildings. The characteristics of the arcades in some buildings are lost, the transportation system removes the passenger stop, the bridge is no longer being used, and the pedestrian pattern is disrupted due to the pattern of traffic. Jalan Tunjungan, which used to prioritize the experience of shopping by walking, has been degraded to a shopping street area. © 2019 Anneke Clauvinia Patriajaya, Yohanes Karyadi KusliansjahPada umumnya, kota memiliki kawasan yang dikembangkan sebagai pusat aktivitas komersial. Pola perkembangan aktivitas komersial melahirkan tipologi pedestrian shopping street yang mengutamakan pejalan kaki dalam pola dan sistem aktivitasnya. Jalan Tunjungan Surabaya merupakan contoh kawasan perbelanjaan berbasis pejalan kaki yang dikembangkan pada masa pemerintahan Gemeente. Sejalan dengan perkembangan kota Surabaya, keunikan urban artefak kawasan Tunjungan bertransformasi dan kini didominasi bangunan bertingkat serta Jalan Tunjungan berubah menjadi poros kota. Keunikan Jalan Tunjungan yang menjadi daya tarik wisata terancam punah akibat tekanan dan tuntutan perkembangan perekonomian Surabaya. Melalui pendekatan sinkronik-diakronik dengan metode kualitatif-deskriptif, kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola, tipe, dan sistem yang membentuk karakteristik fisik-spasial pedestrian shopping street Jalan Tunjungan yang bertahan, beradaptasi, dan hilang akibat transformasi Surabaya sebagai kota metropolitan. Dari analisa komparasi, ditemukan bahwa yang bertahan hanya pola linearitas tatanan bangunan. Tipe jalan beradaptasi menjadi avenue searah dengan pembagian lajur jelas dengan penambahan sistem perparkiran on site. Selain itu, tipe bangunan beradaptasi menjadi bangunan komersial. Karakteristik arcade di beberapa bangunan hilang, sistem transportasi menghilangkan halte penumpang, jembatan tidak lagi berfungsi, dan juga pola perparkiran  menganggu pola pedestrian. Jalan Tunjungan yang dulunya mengedepankan pengalaman berbelanja dan berjalan kaki mengalami degradasi menjadi area shopping street. © 2019 Anneke Clauvinia Patriajaya, Yohanes Karyadi Kusliansja

    PROBLEM POSING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IX-6 SMP12 TARAKAN

    Full text link
    Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus. Fokus pada penelitian ini adalah kemampuan siswa untuk mengajukkan masalah (soal) matematika dalam proses belajar mengajar matematika. Unit analisis dari penelitian ini adalah siswa kelas IX-6 SMP N 12 Tarakan yang sedang belajar matematika. Subjek penelitian yaitu 4 siswa yang dianggap mampu dan memiliki ketertarikan terhadap pelajaran matematika. Setelah dilakukan pengamatan berperanserta, wawancara tidak terstruktur, dan analisis dokumentasi diperoleh temuan bahwa keempat siswa belum terbiasa mengajukkan (membuat) soal matematika sendiri. Mereka masih bergantung pada soal yang ada pada buku paket atau soal yang ditulis oleh guru matematika di papan tulis

    KEMAMPUAN MATEMATIS MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UHN DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA SEKOLAH SETINGKAT SMP DAN SMA

    Full text link
    Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif yang mendeskripsikan kemampuan matematis mahasiswa prodi pendidikan matematika FKIP UHN dalam menyelesaikan soal matematika sekolah setingkat SMP dan SMA. Subjek penelitian terdiri dari mahasiswa prodi pendidikan matematia FKIP yang diwakili oleh satu grup untuk setiap angkatan, dengan total sampel sebanyak 76 orang mahasiswa yang mengerjakan soal setingkat SMP dan 76 orang mahasiswa yang mengerjakan soal setingkat SMA.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan mahasiswa prodi pendidikan matematika FKIP UHN dalam menyelesaikan soal matematika sekolah setingkat SMP dan SMA masih sangat rendah, (2) skor maksimal yang diperoleh mahasiswa dalam mengerjakan soal matematika sekolah masih belum cukup memuaskan, sedangkan skor minimal yang diperoleh mahasiswa menunjukkan bahwa mahasiswa masih belum menguasai matematika sekolah, dan (3) mayoritas mahasiwa masih memiliki kemampuan yang berada di bawah skor 50 dari skor maksimal 100. Ketidakmampuan mahasiswa menyelesaikan soal matematika sekolah merupakan gambaran ketidakmampuan mahasiswa dalam menguasai materi matematika sekolah

    Architectural design symbolism Catholic Church of Saint Peter and the Virgin Mary Catholic Church Santa Grief Seven in Bandung

    Full text link
    As a place of holy worship, a Catholic Church should posses a sacred interior and exterior expression. Modernization has caused a good deal of this sacred expression of the Catholic Church to fade. As Catholic Church is a place of worship that supports all liturgical activities, semiotic theory are used to analyze and decipher its architecture to preserve sacredness. The research methodology that was employed was qualitative methods using Peirce’s semiotic principles and their implementation in Church architecture. The principle was then used to analyze two case studies in every detail of their draw up. The area of planning encompassed: (1) Scope of the surrounding environment; (2) Scope of the site; (3) Scope of the form. This analysis employed semiotic principles that were elaborated with Catholic Church principles to create a guideline in the architectural planning of a Catholic Church. The purpose of this research is to find the most dominant sacral expression between Santo Petrus Church and the Santa Perawan Maria Tujuh Kedukaan Church by means of the symbols attached to the architectural elements between these two Catholic Churches.Gereja Katolik sebagai tempat peribadatan harus memiliki ekspresi sakral baik secara eksterior maupun interior. Diduga modernisasi menyebabkan pudarnya ekspresi sakral pada Gereja Katolik. Mengingat Gereja katolik adalah bangunan ibadah yang mewadahi aktivitas liturgi, maka pembahasan menggunakan kajian semiotika untuk membaca tanda dan makna pada bentuk arsitektur agar dapat menjaga ekspresi sakralnya. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan prinsip semiotika Peirce dan penerapannya pada arsitektur Gereja. Prinsip tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis kedua kasus studi pada setiap lingkup perancangan. Lingkup perancangan meliputi: (1) Lingkup lingkungan sekitar; (2) Lingkup tapak; (3) Lingkup bentuk. Analisis ini menggunakan prinsip semiotika yang di elaborasi dengan prinsip Gereja Katolik untuk menghasilkan pedoman perancangan arsitektur Gereja Katolik. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan ekspresi sakral yang lebih dominan antara Gereja Santo Petrus dan Gereja Santa Maria Tujuh Kedukaan dari simbol-simbol yang melekat pada elemen arsitektur Gereja Katolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi sakral terdapat pada (1) Lingkup lingkungan sekitar; (2) Lingkup tapak; (3) Lingkup bentuk Gereja Santo Petrus lebih dominan dibandingkan Gereja Santa Perawan Maria Tujuh Kedukaan

    Human, nature, and architecture

    Full text link
    Human is the centre of natural exploitation and built environment, a belief that has been existed since the beginning of civilization when human started to adapt into the natural environment and to articulate nature into built-environment. Human as creator and innovator of the built environment put himself at the centre of the universe: geographically is at the middle ground in between the mountain and the waterfront, chronologically is in between the sunrise and the sunset, and ideologically is in between heaven above and underworld beneath the earth. He stands at the middle of circles that define inside and outside and denote sacred and profane. Water is the essence of life. Therefore, the forested hills and mountains that provide steady supply of fresh water are preserved and well protected, spiritually and physically. To ensure the continuous flow of the lifeline, the forests are protected against violations and destructions, through rituals and social rules. The choice of location for the built-up area of the settlement is carefully considered against natural and supra-natural factors, in order to ensure the harmonious relationships between human, nature, and the spirits. In rational sense, it is to ensure the survivability of the community’s existence and its livelihood. © 2019 Johannes WidodoHuman is the centre of natural exploitation and built environment, a belief that has been existed since the beginning of civilization when human started to adapt into the natural environment and to articulate nature into built-environment. Human as creator and innovator of the built environment put himself at the centre of the universe: geographically is at the middle ground in between the mountain and the waterfront, chronologically is in between the sunrise and the sunset, and ideologically is in between heaven above and underworld beneath the earth. He stands at the middle of circles that define inside and outside and denote sacred and profane. Water is the essence of life. Therefore, the forested hills and mountains that provide steady supply of fresh water are preserved and well protected, spiritually and physically. To ensure the continuous flow of the lifeline, the forests are protected against violations and destructions, through rituals and social rules. The choice of location for the built-up area of the settlement is carefully considered against natural and supra-natural factors, in order to ensure the harmonious relationships between human, nature, and the spirits. In rational sense, it is to ensure the survivability of the community’s existence and its livelihood. © 2019 Johannes Widod

    Tradisi pada rumah adat suku Ngalum Ok di era modernisasi

    Full text link
    Ngalum Ok is one among a large number of tribes in Indonesia. It is one of the major tribes in Papua and its members are those who inhabit Oksibil valley in Pegunungan Bintang Regency of Papua Province. The cultural values of this tribe are reflected in the form, function, and meaning of its traditional house architecture. In response to current developments that incline to modernization, attempts should be made to protect architecture of traditional house of Ngalum Ok Tribe, which is a cultural heritage for the present and future generations. To provide a coherent and complete macro and micro description about the traditional house of Ngalum Ok Tribe, a qualitative method with a descriptive structuralism approach is used. As the result indicates, this study has presented a clear and thorough description of form, function, and meaning of the traditional house of Ngalum Ok Tribe, which is a cultural heritage in this modern era for the present and future generations. © 2019 V. F. Agung Langgeng PrasetyoNegara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri dari beraneka ragam suku, bangsa, budaya, ras dan agama. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Ngalum Ok. Suku Ngalum Ok berada di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Suku Ngalum Ok merupakan salah satu suku besar di Papua, yang berdomisili di lembah Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. Sebagai salah satu suku tradisional yang ada di Papua, Suku Ngalum Ok memiliki nilai-nilai yang tercermin dalam arsitektur dan budayanya. Nilai-nilai tersebut dapat dilihat melalui aspek bentuk, aspek fungsi dan aspek makna yang terdapat pada rumah adat Suku Ngalum Ok. Melihat perkembangan jaman menuju era modernisasi, maka perlu diperhatikan warisan budaya bagi generasi masa sekarang dan masa depan khususnya berkaitan dengan budaya serta arsitektur rumah adat Suku Ngalum Ok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pedekatan deskriptif strukturalisme. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif strukturalisme, maka dapat memberikan gambaran dan uraian secara runtut serta lengkap baik secara makro maupun mikro tentang rumah adat Suku Ngalum Ok. Hasil akhir penelitian ini adalah wujud dari aspek bentuk, aspek fungsi dan aspek makna serta keterkaitannya dengan rumah adat Suku Ngalum Ok sebagai sebuah tradisi dan warisan budaya di era modernisasi bagi masa sekarang dan masa depan. © 2019 V. F. Agung Langgeng Prasety

    110

    full texts

    114

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Widya Mandira
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇