Ejournal Alma Ata University Yogyakarta
Not a member yet
1757 research outputs found
Sort by
EXPLORING THE INFLUENCE OF SOCIAL MEDIA MARKETING, EWOM, AND BRAND IMAGE IN INCREASING PURCHASE INTENTION FOR NPURE PRODUCTS ON TIKTOK (A CASE STUDY ON GEN Z IN YOGYAKARTA)
This study examines the influence of social media marketing, electronic word-of-mouth (eWOM), and brand image on purchase intention toward NPure skincare products on TikTok among Generation Z consumers in Yogyakarta. TikTok has become one of the most impactful digital platforms for shaping consumer perceptions, particularly in the beauty industry where short-video content, peer reviews, and influencer endorsements strongly affect purchasing behavior. Grounded in the Theory of Planned Behavior (TPB), this research adopts a quantitative approach with a causal explanatory design. Data were collected from 160 respondents using a purposive sampling technique targeting active TikTok users aged 13–28 who are familiar with NPure products. Measurement instruments were adapted from validated indicators and assessed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) to evaluate the relationships among variables. The results show that social media marketing, eWOM, and brand image each have a significant and positive effect on purchase intention. These findings highlight the effectiveness of TikTok as a marketing channel, demonstrating that engaging content, credible online reviews, and strong brand perceptions play essential roles in influencing consumer decisions. The study provides empirical insights into digital marketing practices in the skincare industry and reinforces the importance of integrating interactive social media strategies to enhance consumer purchasing interest
Alternatif Swamedikasi Sakit Kepala dengan Penggunaan Lilin Aromaterapi di Dukuh Butuh Lor, Triwidadi, Bantul, Yogyakarta
Salah satu bentuk dari Tri dharma Perguruan Tinggi adalah pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang mengambil peran penting pada masyarakat dukuh Butuh Lor, Kalurahan Triwidadi, Bantul, Yogyakarta dalam upaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai swamedikasi dan penggunaan lilin aromaterapi dalam penanganan keluhan sakit kepala. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk membantu masyarakat melakukan swamedikasi secara benar dan aman, memberikan informasi kepada masyarakat tentang salah satu alternatif penggunaan lilin aromaterapi untuk penanganan keluhan sakit kepala. Kegiatan ini terdiri ataÅŸ 5 tahapan yaitu mengundang peserta, pembuatan lilin aromaterapi, tanya jawab sebelum penyuluhan, pelaksanaan penyuluhan swamedikasi sakit kepala, KIE lilin aromaterapi dan evaluasi. Penyuluhan ini diberikan kepada sejumlah 30 orang ibu-ibu yang merupakan perwakilan dari masing-masing RT yang ada di dukuh Butuh Lor. Dari hasil penyuluhan tersebut, masyarakat sangat antusias mendengarkan dan mengajukan pertanyaan mengenai materi penyuluhan yang disampaikan. Sehingga pengetahuan mereka mengenai swamedikasi dan pemanfaatan lilin aromaterapi untuk mengatasi sakit kepala menjadi meningkat. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai topik yang disampaikan yang diharapkan dapat mengurangi resiko efek samping dan komplikasi kesehatan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat
Hubungan antara Kompetensi dengan Kinerja Tenaga Administrasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Kol.H.M. Syukur Jambi
Rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan yang kompleks dan dinamis sangat bergantung pada efisiensi operasional dan kualitas pelayanan yang tinggi. Studi pendahuluan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kol.H.M. Syukur Jambi mengindikasi adanya celah antara tingkat kompetensi yang diharapkan dengan tugas yang diemban oleh tenaga administrasi yang jadi pemicu pertanyaan mengenai dampak langsungnya terhadap kinerja secara keseluruhan. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menganalisis hubungan antara kompetensi dengan kinerja tenaga administrasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kol.H.M. Syukur Jambi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian correlational research dengan metode penelitian kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 102 responden yang merupakan tenaga administrasi di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kol.H.M. Syukur Jambi dengan teknik purposive sampling. Validitas instrumen diuji menggunakan metode Pearson dan Cronbach Alpha untuk reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Kendall Tau dengan bantuan SPSS 23 for windows. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kompetensi dan kinerja dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Nilai koefisien korelasi sebesar 0,341 menunjukkan arah korelasi positif yang bermakna peningkatan kompetensi berhubungan dengan peningkatan kinerja tenaga administrasi. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kompetensi berperan penting dalam peningkatan kinerja tenaga administrasi dan disarankan agar Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kol.H.M. Syukur Jambi untuk mengimplementasikan program pelatihan yang relevan dan meninjau penempatan posisi agar sesuai dengan kompetensi yang dimiliki, termasuk juga mempertimbangkan pengembangan kompetensi digital yang semakin relevan di lingkungan rumah sakit modern
HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DENGAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS X, BANTUL, YOGYAKARTA
Latar Belakang: Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antara lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api, runtuhan batuan. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan untuk mengantisipasi bencana secara terorganisir melalui langkah yang tepat dan memiliki daya guna. Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rentan. Ibu hamil yang tinggal di daerah rawan bencana diharapkan memiliki kesiapsiagaan bencana yang baik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self efficacy dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas X.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimental dengan desai cross sectional. Sampel berjumlah 77 ibu hamil yang di ambil melalui teknik purposive sampling. Data diambil melalui pembagian kuesioner kemudian di analisis menggunakan uji fisher exactHasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat self efficacy tinggi dan kesiapsiagaan bencana dalam kategori siap hasil uji Fisher Exact di dapat p value = 0,000 (p value < 0,005).Kesimpulan: Ada hubungan antara self efficacy dengan kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas X.Â
Pendidikan Karakter pada Pembelajaran Agama Islam untuk Anak Berkebutuhan Khusus Autism Spectrum Disorder (ASD) di SLB Mitra Ananda Karanganyar
Character education is a basic thing in education that will be achieved for every individual, including students with Autism Spectrum Disorder (ASD). This study aims to explore effective ways to internalize character education in Islamic religious education learning for children with special needs Autism Spectrum Disorder (ASD) and describe the learning media used by teachers and what character education values are achieved in Islamic religious education learning for children with special needs Autism Spectrum Disorder (ASD) at SLB Mitra Ananda. The type of research that the researcher conducted used a descriptive qualitative method. The data analysis used three activity paths, namely data reduction, data display, and drawing conclusions. This research was conducted at SLB Mitra Ananda Karanganyar. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. The subjects of the study were approximately 50 Autism Spectrum Disorder (ASD) students and the informants were Islamic religious education teachers, vice principals for curriculum, and principals. From the results of data analysis, it was concluded that character education in Islamic religious education learning for Autism Spectrum Disorder (ASD) students was implemented through various activities including through activities to get used to praying in congregation, learning to memorize prayers and short letters, learning to recite the Koran. These habits can provide reinforcement for the formation of children\u27s character education values. Then in delivering the material, the teacher uses visual learning media by utilizing concrete illustrated and audio-visual learning media by prioritizing the characteristics and needs of each student with special needs Autism Spectrum Disorder (ASD). The results of this study indicate the importance of providing reinforcement of strategic steps in Islamic religious education learning that can be achieved especially in developing character education values for students with special needs Autism Spectrum Disorder (ASD).Keyword: Religious Character Education, Islamic Religious Education, Autism Spectrum Disorder (ASD
The correlation of antenatal care and nutrition parenting with stunting incidence in toddlers age 24-59 months
ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 21,6%. Faktor penyebab stunting antara lain karena kurangnya pemahaman orangtua dalam pemenuhan gizi sebelum dan saat hamil terutama pada masa 1000 HPK. Salah satu upaya meminimalisir terjadinya stunting adalah melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) pada masa kehamilan. Rangkaian kegiatan pemeriksaan ANC yang berpengaruh terhadap stunting adalah kelengkapan frekuensi kunjungan dan layanan 10T. Pola asuh orangtua terutama ibu dianggap penting dalam penentuan status gizi dan tumbuh kembang anak. Aspek pola asuh ibu yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah praktik pemberian makan yang meliputi pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI.Tujuan: Menganalisis hubungan antara ANC dan pola asuh gizi dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 111 balita usia 24-59 bulan yang dipilih melalui Simple Random Sampling, selama kurun waktu Januari-Maret 2023 di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember yang prevalensi balita stunting mencapai angka 34,4%. Penelitian ini dilakukan dengan observasi metode wawancara, pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung, kuesioner, formular dan food recall 2x24 jam. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian ini telah lolos uji etik penelitian kesehatan dengan nomor sertifikat No.63/KEPK/FKM-UNEJ/VI/2021.Hasil: Sebagian besar balita dalam penelitian ini memiliki status gizi (TB/U) dalam kategori stunting (66.7%). Balita stunting banyak terjadi pada balita perempuan dengan rentang usia 21-30 bulan. Balita stunting banyak terjadi pada ibu dengan usia 21-25 tahun, berpendidikan dasar, tingkat pengetahuan gizi kurang, tidak bekerja, jumlah anggota keluarga kecil, dan pendapatan keluarga > UMK. Tidak terdapat hubungan bermakna (p>0,05) antara ANC (p=0,544) dan pola asuh gizi (p=1,000) dengan kejadian stunting balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara ANC dan pola asuh gizi dengan kejadian stunting balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember. KATA KUNCI: stunting; ANC; pola asuh gizi  ABSTRACTBackground: The prevalence of stunting under five in Indonesia is 21,6%. Factors causing stunting include malnutrition before and during pregnancy, especially at 1000 HPK. One of the efforts to minimize stunting is to carry out pregnancy ANC. The series of ANC examinations that affect stunting is the completeness of the frequency of visits and 10T services. Parenting style is important in determining the nutritional status of children. Aspects of maternal parenting that influence stunting are the practice of exclusive breastfeeding and complementary breastfeeding.Objective: To analyze the relationship between the completeness of the frequency of visits and ANC 10T services and nutritional care patterns with the incidence of stunting in children aged 24-59 months.Methods: Observational analytic study with cross-sectional design. A sample of 111 toddlers aged 24-59 months were selected by Simple Random Sampling, starting from January to March 2023 in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency, where the stunting prevalence was 34.4%. Data were collected by observation of interview methods, direct measurement of weight and height, questionnaires, formulas and 2x24-hour food recalls. The results were analyzed using the chi-square test. This research has passed the health research ethics test with certificate number No.63/KEPK/FKM-UNEJ/VI/2021.Results: Most of the toddlers in this study had nutritional status (Height/Age) in the stunting category (66.7%) occurs in female infants aged 21-30 months, mothers aged 21-25 years, basic education, lack of nutrition knowledge, not working, small number of family members, and income family > UMK. There was no significant relationship (p>0.05) between ANC (p=0.544) and nutritional care (p=1.000) with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency.Conclusions: There is no significant relationship between ANC and nutritional care with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency. KEYWORDS: stunting; ANC; nutritional parentingReceived: 30 Dec 2024; Revised: 27 Aug 2024; Accepted: 22 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Effect of antioxidant dietary behaviour in smokers with chronic obstructive pulmonary disease risk during COVID-19 pandemic
Background: Smokers are at risk of Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)which has a risk of decreasing in quality of life because of lung function decline and smoking habits. Decreased lung function due to an increase in free radicals. Intake of foods that contain antioxidants can help reduce free radicals.Objectives: The research aimed to determine the effect of antioxidant intake (vitamins A, C, and E) on the development of COPD risk in active smokers.Methods: This study was conducted in May-July 2023 in Surabaya. This study used a cross-sectional design, with purposive sampling and snowball sampling methods. The subjects were adult active smokers. Antioxidant intake consisted of the intake consumed by subjects daily containing vitamins A, vitamin C, and vitamin E using the Food Frequency Questionnaire (FFQ) method to describe nutritional intake in a certain period. COPD risk assessment was measured using a pulmonary function test with spirometry, with an assessment of the ratio of forced expiratory volume in one second (FEV1) / forced vital capacity (FVC) below 0.70 defined as airflow limitation. The data were tested using the Spearman test to see the relationship between antioxidant intake from food and lung function.Results: This study involved 49 active smokers with COPD. Most subjects experienced deficiencies in vitamin A (77.55%), and vitamin C (87.76%), and all subjects experienced vitamin E deficiencies. The most consumed food containing vitamin A was palm oil, the most consumed food containing vitamin C was papaya, and the most consumed food containing vitamin E was chicken. There was no relationship between vitamin A and the development of COPD risk (Sig.=0.187; r=-0.192), but there was a significant relationship (weak negative) between vitamin C and the risk of developing COPD (Sig.=0.031; r=-0.309). All subjects had a deficiency of vitamin E.Conclusions: The lower the intake of vitamin C, the greater the risk of COPD which is characterized by decreased lung function
Relationship between vitamin D, vitamin C and blood glucose in patients with type 2 diabetes mellitus
ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi cukup dalam memproduksi insulin. Diabetes Melitus sebagai salah satu dari lima penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi sehingga diprioritaskan untuk pencegahan dan pengendaliannya. Beberapa penelitian vitamin D dan vitamin C menunjukkan kecendrungan variasi pro dan kontra dalam peningkatan sensitivitas insulin penderita Diabetes Melitus.Tujuan: mengetahui hubungan konsumsi vitamin D dan vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2 Rumah Sakit Umum Daerah Harapan dan Doa Kota Bengkulu.Metode: Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien diabetes melitus tipe 2. Sampel sebanyak 57 pasien dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Korelasi.Hasil: Uji korelasi vitamin D dengan glukosa darah menunjukkan nilai p = 0,238, sedangkan vitamin C dengan kadar glukosa darah adalah nilai p = 0,000.Kesimpulan: Tidak ada hubungan konsumsi vitamin D dengan kadar glukosa darah, namun ada hubungan konsumsi vitamin C dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan Diabetes Melitus tipe 2. KATA KUNCI: Vitamin D; Vitamin C; glukosa darah; Diabetes melitus tipe 2  ABSTRACTBackground: Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas no longer produces enough insulin. Diabetes mellitus is one of the five non-communicable diseases with the highest mortality rate, therefore, its prevention and control are prioritized. Several studies on vitamin D and vitamin C have shown varying trends in improving insulin sensitivity in people with diabetes mellitus.Objectives: To determine the relationship between vitamin D and vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus at Harapan dan Doa Regional General Hospital, Bengkulu City.Methods: The study design was an observational analytical study with a cross-sectional approach. The study population was patients with type 2 diabetes mellitus. A sample of 57 patients was selected using a purposive sampling technique. Data analysis used a correlation test.Results: The correlation test for vitamin D and blood glucose showed a p-value of 0.238, while the correlation between vitamin C and blood glucose levels showed a p-value of 0.000.Conclusions: There is no relationship between vitamin D consumption and blood glucose levels, but there is a relationship between vitamin C consumption and blood glucose levels in outpatients with type 2 diabetes mellitus. KEYWORDS: Vitamin D; Vitamin C; blood glucose; type 2 diabetes mellitu
Curcumin compounds and total microorganisms in turmeric kombucha as a potential therapy in rats obesity model
ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi seperti diabetes melitus tipe 2, kardiovaskular, bahkan kanker. Terapi farmakologi obesitas seperti liraglutide dan orlistat dapat memberikan efek negatif pada tubuh seperti gangguan saluran pencernaan. Hal ini mendorong pengembangan terapi berbahan alami untuk obesitas. Kombucha dan kunyit kuning secara tunggal dilaporkan bersifat antioksidan dan mampu memperbaiki obesitas. Kombinasi kombucha kunyit kuning berpotensi dikembangkan sebagai minuman probiotik untuk obesitas karena senyawa bioaktif yang dikandungnya. Namun, eksplorasi fitokimia dan mikroorganisme pada turmeric kombucha masih sangat terbatas dan penelitian kombinasi kombucha kunyit kuning untuk obesitas belum pernah dilakukan sebelumnya.Tujuan: Mengeksplorasi kandungan fitokimia dan total mikroorganisme kombucha kunyit kuning dan kemampuannya untuk memperbaiki obesitas. Metode: Eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-post control group dan deskriptif observasional. Analisis kurkumin menggunakan KLT Densitometri. Mikroorganisme dianalisis dengan metode pour plate kemudian dihitung berdasarkan total plate count. Tikus model obesitas diberikan tiga variasi dosis kombucha kunyit kuning selama 28 hari dan dilakukan penilaian perubahan indeks Lee yang diuji statistik menggunakan Kruskal Wallis (p<0.05) dan Post hoc Dunn Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kandungan kurkumin pada kombucha kunyit kuning sebesar 0,73 mg/L dan total mikroorganisme sebesar 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha kunyit kuning memperbaiki indeks Lee tikus model obesitas dibanding kontrol negatif (p<0.05) dengan dosis paling efektif sebesar 4,4 ml/200 g/hari (dosis tertinggi di penelitian ini). Kesimpulan: Kombucha kunyit kuning memiliki kandungan kurkumin dan manfaat mikoorganisme yang dapat memperbaiki indeks Lee pada tikus model obesitas. Kata Kunci: kombucha kunyit kuning; kurkumin; mikroorganisme; obesitas   ABSTRACT Background: The prevalence of obesity has increased significantly in the last decade, raising the risk of complications such as type 2 diabetes, cardiovascular diseases, and even cancer. Pharmacological therapies for obesity, such as liraglutide and orlistat, can have negative effects on the body, including gastrointestinal disorders. This drives interest in the development of natural-based therapies for obesity. Kombucha and turmeric individually are known for their antioxidant properties and their ability to address obesity. The combination of turmeric kombucha has the potential to be developed as a probiotic drink for obesity due to the bioactive compounds it contains. However, research into the phytochemical profile and microorganisms in turmeric kombucha is still limited, and no studies have been conducted on the combination of turmeric kombucha for obesity treatment.Objectives: To explore the phytochemical content and total microorganisms in turmeric kombucha and to evaluate its potential in improving obesity treatment.Methods: Laboratory experiments were conducted with pre-post control group design and descriptive observational analysis. Curcumin levels were analysed using KLT Densitometry, while microorganisms were identified through the pour plate method and quantified via total plate count. Obese model rats received three different doses of turmeric kombucha over 28 days, and changes in their Lee index value were assessed and statistically analysed using Kruskal Wallis (p<0.05) and Post hoc Dunn Test. Results: The findings revealed that the curcumin concentration in turmeric kombucha was 0.73 mg/L and the total microorganisms were 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha yellow turmeric improved the Lee index of obese model rat compared to negative control (p<0.05) with the most effective dose being 4.4 ml/200 g/day (the highest dose in this study).Conclusions: Turmeric kombucha contains curcumin and beneficial microorganisms, which can improve the Lee index in obese model rats.Keywords: curcumin; obesity; microorganisms; turmeric kombucha Received: 17 Jan 2025; Revised: 20 Sep 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 202
Snacking behavior among school-aged children in urban area
ABSTRAK Latar Belakang: Mengkonsumsi jajanan dalam sehari dapat memberikan kontribusi masukan energi selain mengonsumsi makanan utama. Namun perilaku jajanan pada anak sekolah di Indonesia menunjukkan beberapa kebiasaan yang tidak sehat seperti seringnya mengonsumsi jajanan berkalori tinggi dan minuman manis. Anak-anak di kota besar mempunyai risiko lebih tinggi mengalami obesitas karena tingginya konsumsi jajanan tidak sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku jajanan anak usia sekolah yang tinggal di perkotaan. Metode: Jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian merupakan anak usia sekolah dasar, berasal dari seluruh kelurahan di wilayah Bekasi sebagai salah satu kota megapolitan di Indonesia, meliputi kelurahan: Duren Jaya, Bekasi Jaya, Aren Jaya, dan Margahayu. Sebanyak 213 siswa mengikuti penelitian ini. Siswa diminta mengumpulkan data tentang karakteristik responden dan perilaku jajanan (menggunakan angket terstruktur dan angket frekuensi makanan). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 50,2% anak sering makan jajanan; 79,8% membeli makanan ringan dari kombinasi kantin sekolah, pedagang kaki lima, dan warung makan tetap; 70,4% membeli makanan ringan pada jam istirahat, setelah, dan sebelum sekolah; dan 75,5% menggunakan bahan kemasan plastik. Tidak terdapat hubungan antara hubungan jenis kelamin, kebiasaan sarapan pagi, uang jajan, pendidikan ibu, pendidikan ayah dengan frekuensi jajan (chi-square test menunjukan p-value: 0.175, 0.302, 0.269, 0.104, 0.247). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak usia sekolah dasar di Kota Bekasi sering mengonsumsi makanan jajanan, hanya 30% siswa yang tidak membeli makanan ringan di sekolah, dan 75% siswa terbiasa jajan makanan dengan kemasan plastik. Hampir 80% siswa terbiasa jajan di dua atau tiga tempat penyedia jajanan, seperti kantin sekolah, pedagang kaki lima, dan warung makan. Frekuensi jajan siswa tidak berhubungan dengan faktor yang berkaitan dengan karakteristik siswa dan pendidikan orang tua. KATA KUNCI: anak usia sekolah; area perkotaan;faktor penentu; perilaku jajan   ABSTRACT Background: During the day, snacks may contribute to energy input besides meals. However, snacking behavior among school children in Indonesia shows some unhealthy habits, such as frequent consumption of high-calorie snacks and sugary beverages. Children in big cities have a higher risk of obesity since they consume unhealthy snacks. Objectives: This study aims to see the snacking behavior of school-age children living in urban populations in Indonesia.Methods: The study is observational with a cross-sectional study design. Samples are school-age children taken from all urban villages in the Bekasi Area, a megapolitan city in Indonesia: Duren Jaya, Bekasi Jaya, Aren Jaya, and Margahayu. A total of 213 students joined the study. Students were asked to complete data about respondent characteristics and snacking behavior (using a structured questionnaire and food frequency questionnaire).Results: The results show that 50.2% of children often eat snacks; 79.8% buy snacks from a combination of school canteen, street vendors, and permanent food stalls; 70.4% buy snacks during break time, after, and before school; and 75.5% use plastic packaging material. There is no association of sex, breakfast habits, pocket money, mother education, and father education with snacking frequency (p-value: 0.175, 0.302, 0.269, 0.104, 0.247).Conclusions: This study shows that half of elementary school children in Bekasi City often consume snacks, only 30% of students do not buy snacks at school, and 75% of students are used to buying snacks in plastic packaging. Almost 80% of students were buying snacks at two or three food vendors, such as school canteens, street vendors, and food stalls. The frequency of snack consumption was not related to factors attributable to students’ characteristics and parents’ education. KEYWORDS: determinant factors; school-age children; snacking behavior; urban areaReceived: 14 Jan 2024; Revised: 05 Dec 2024; Accepted: 14 Feb 2025; Available online: 30 May 2025; Published: 31 Mar 2025