Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
Efektivitas Komunikasi dan Prestasi Belajar Mahasiswa pada Pendidikan Jarak Jauh (Kasus di Unit Program Belajar Jarak Jauh Jakarta)
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik demografi mahasiswa dalam kaitannya dengan indeks prestasi kumulatif (IPK), (2) mengkaji aktivitas komunikasi mahasiswa jika dikaitkan dengan IPK, dan (3) menganalisis efek komunikasi terhahap IPK. Metode analisis data yang dipergunakan adalah Chi Square dan CHAID.Penelitian ini dilaksanakan di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Jakarta menggunakan metode survai, dengan populasi sebesar 252 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposif sejumlah 78 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aspek demografi tidak berkaitan secara signifikan dengan perubahan pada perolehan IPK. (2) ada hubungan antara penggunaan informasi atau pesan dan IPK, (3) ada hubungan antara pemilihan media komunikasi dan IPK, serta ada hubungan antara perilaku komunikasi dan IPK. Responden yang mempunyai IPK sedang atau di atas 2.00 mempunyai ciri, selalumengerjakan tugas mandiri, selalu aktif dalam kelompok belajar, dan memilih media personal dengan datang langsung atau melalui telpon dalam melakukan komunikasi dengan sumber belajarnya. Adapun responden yang mempunyai IPK rendah atau di bawah 2.00 mempunyai ciri, tidak pernah mengerjakan tugas mandiri, tidak aktif mengikuti tutorial, jarang merencanakan mata kuliah setiap semesternya, dan memilih media untuk berkomunikasi melalui surat via pos.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik demografi mahasiswa dalam kaitannya dengan indeks prestasi kumulatif (IPK), (2) mengkaji aktivitas komunikasi mahasiswa jika dikaitkan dengan IPK, dan (3) menganalisis efek komunikasi terhahap IPK. Metode analisis data yang dipergunakan adalah Chi Square dan CHAID.Penelitian ini dilaksanakan di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Jakarta menggunakan metode survai, dengan populasi sebesar 252 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposif sejumlah 78 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aspek demografi tidak berkaitan secara signifikan dengan perubahan pada perolehan IPK. (2) ada hubungan antara penggunaan informasi atau pesan dan IPK, (3) ada hubungan antara pemilihan media komunikasi dan IPK, serta ada hubungan antara perilaku komunikasi dan IPK. Responden yang mempunyai IPK sedang atau di atas 2.00 mempunyai ciri, selalumengerjakan tugas mandiri, selalu aktif dalam kelompok belajar, dan memilih media personal dengan datang langsung atau melalui telpon dalam melakukan komunikasi dengan sumber belajarnya. Adapun responden yang mempunyai IPK rendah atau di bawah 2.00 mempunyai ciri, tidak pernah mengerjakan tugas mandiri, tidak aktif mengikuti tutorial, jarang merencanakan mata kuliah setiap semesternya, dan memilih media untuk berkomunikasi melalui surat via pos
IMPLEMENTASI PENILAIAN OTENTIK OLEH GURU BAHASA INGGRIS DI FLORES
Kegiatan pembelajaran yang baik dan bermakna juga memerlukan sebuah penilaian yang baik. Perencanaan dan proses pembelajaran harus diakhiri dengan sebuah tahapan penilaian yang berkualitas. Penelitian desain kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui praktik, masalah, dan kendala guru dalam kegiatan penilaian otentik. Penelitian melibatkan guru bahasa Inggris yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sekolah Bahasa Inggris di Flores. Data diambil dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa implementasi penilaian otentik untuk mata pelajaran bahasa Inggris belum berjalan dengan baik. Kesiapan guru terkait instrumen, penentuan tipe penilaian, dan prosedur penilaian menjadi masalah dalam penerapannya. Selain itu, alokasi waktu dan kemampuan siswa merupakan tantangan yang dihadapi guru dalam menjalankan proses penilaian. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan sebuah instrumen, penentuan tipe, dan prosedur penilaian dengan baik
Penerapan Satuan Kredit Semester (SKS) di Sekolah Menengah
Rancang program SKS telah diuji cobakan sejak tahun ajaran 2004/2005 pada 17 SMA di Mataram oleh Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan tiga SMA di DKI Jakarta pada tahun ajaran 2007/2008. Studi ini dilakukan untuk mengkaji penerapan SKS di Mataram dan Jakarta yang dilaksanakan pada tahun 2007. Sasaran studi berjumlah 64 orang yang terdiri dari staf dinas pendidikan yang menangani program SKS, kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru mata pelajaran dan pakar dari perguruan tinggi yang menjadi nara sumber atau patner sekolah. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket dan diskusi fokus secara kelompok. Teknik analisis data untuk memperoleh hasil kajian digunakan teknik analisis deskriptif. Hasil studi menunjukkan bahwa sekolah antusias melaksanakan SKS karena kemandirian peserta didik meningkat. Namun demikian, masih terdapat perbedaan dalam hal: (a) pelaksanaan SKS dan beban belajar SKS, (b) penerapan jumlah sks yang berbeda-beda, (c) program akselerasi dan pengayaan, (d) kurang tersedianya SDM di sekolah yang mampu untuk merancang kurikulum, (e) belum tersedianya buku petunjuk dari pemerintah, (f) belum terpenuhinya sarana dan prasaranan, (g) belum siapnya sistem adminstrasi sekolah, serta (h)beragamnya pemahaman stakeholder tentang SKS.Rancang program SKS telah diuji cobakan sejak tahun ajaran 2004/2005 pada 17 SMA di Mataram oleh Dinas Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan tiga SMA di DKI Jakarta pada tahun ajaran 2007/2008. Studi ini dilakukan untuk mengkaji penerapan SKS di Mataram dan Jakarta yang dilaksanakan pada tahun 2007. Sasaran studi berjumlah 64 orang yang terdiri dari staf dinas pendidikan yang menangani program SKS, kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru mata pelajaran dan pakar dari perguruan tinggi yang menjadi nara sumber atau patner sekolah. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket dan diskusi fokus secara kelompok. Teknik analisis data untuk memperoleh hasil kajian digunakan teknik analisis deskriptif. Hasil studi menunjukkan bahwa sekolah antusias melaksanakan SKS karena kemandirian peserta didik meningkat. Namun demikian, masih terdapat perbedaan dalam hal: (a) pelaksanaan SKS dan beban belajar SKS, (b) penerapan jumlah sks yang berbeda-beda, (c) program akselerasi dan pengayaan, (d) kurang tersedianya SDM di sekolah yang mampu untuk merancang kurikulum, (e) belum tersedianya buku petunjuk dari pemerintah, (f) belum terpenuhinya sarana dan prasaranan, (g) belum siapnya sistem adminstrasi sekolah, serta (h)beragamnya pemahaman stakeholder tentang SKS
Penelitian Sosial vis a vis Kebijakan Pendidikan
Kebijakan pendidikan dengan subyek peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan merupakan proses yang bersifat dinamis searah dengan perkembangan jaman dan kemajuan pendidikan. Untuk menetapkan kebijakan yang tepat sasaran diperlukan informasi yang up to date dan obyektif. Penelitian sosial dapat memainkan peran untuk menyediakan informasi yang bersifat up-to-date dan obyektif. Adanya dikotomi antara penelitian murni dan terapan, serta perbedaan circumtnaces antara peneliti sosial yang cenderung berasal dari perguruan tinggi dan birokrat yang menyebabkan terjadinya gap antara kedua belah pihak merupakan dua faktor yang menyebabkan rekomendasi penelitian sosial kurang dimanfaatkan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, tulisan ini mengemukan secara terpisah karakteristik penelitian sosial di satu pihak dan karakteristik kebijakan pendidikan di lain pihak. Berdasarkan pembahasan kedua karakterisktik tersebut maksimimalisasi sinergi penelitian sosial vis a vis kebijakan publik diusulkan sebagai cara untuk memaksimalisasikan pemanfaatan hasil penelitian sosial bagi perumusan kebijakan pendidikan.Kebijakan pendidikan dengan subyek peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan merupakan proses yang bersifat dinamis searah dengan perkembangan jaman dan kemajuan pendidikan. Untuk menetapkan kebijakan yang tepat sasaran diperlukan informasi yang up to date dan obyektif. Penelitian sosial dapat memainkan peran untuk menyediakan informasi yang bersifat up-to-date dan obyektif. Adanya dikotomi antara penelitian murni dan terapan, serta perbedaan circumtnaces antara peneliti sosial yang cenderung berasal dari perguruan tinggi dan birokrat yang menyebabkan terjadinya gap antara kedua belah pihak merupakan dua faktor yang menyebabkan rekomendasi penelitian sosial kurang dimanfaatkan. Untuk menjawab permasalahan tersebut, tulisan ini mengemukan secara terpisah karakteristik penelitian sosial di satu pihak dan karakteristik kebijakan pendidikan di lain pihak. Berdasarkan pembahasan kedua karakterisktik tersebut maksimimalisasi sinergi penelitian sosial vis a vis kebijakan publik diusulkan sebagai cara untuk memaksimalisasikan pemanfaatan hasil penelitian sosial bagi perumusan kebijakan pendidikan
Arah Kebijakan Pemanfaatan dan Penyaluran Dana Pendidikan pada Era Otonomi Daerah
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) arah kebijakan pengalokasian dan pemanfaatan sumber dana pendidikan, dan (2) model penyaluran dana pendidikan dari pemerintah pusat ke sekolah pada era otonomi daerah. Artikel ini dikembangkan dengan menggunakan studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) arah kebijakan Pengalokasian dan Pemanfaatan Sumber Dana Pendidikan masih perlu disempurnakan berkaitan dengan besaran dana yang diarahkan untuk memenuhi amanat UU No. 20 Tahun 2003 yakni sebesar 20% dari anggaran APBN dan APBD di luar gaji pegawai dan pendidikan kedinasan, dan (2) secara umum, model penyaluran dana pendidikan dari pemerintah pusat berupa dana block grant, dekonsentrasi (termasuk BOS/BKM), dana dari Depag, APBD Provinsi dan APBD Kota/Kabupaten, masih layak diterapkan untuk penyaluran dana pendidikan di sekolah dengan beberapa pembenahan, terutama dalam pemberdayaan Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten dalam ikut serta sebagai Pembina dan pengontrol pelaksanaan progam sekolah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) arah kebijakan pengalokasian dan pemanfaatan sumber dana pendidikan, dan (2) model penyaluran dana pendidikan dari pemerintah pusat ke sekolah pada era otonomi daerah. Artikel ini dikembangkan dengan menggunakan studi literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) arah kebijakan Pengalokasian dan Pemanfaatan Sumber Dana Pendidikan masih perlu disempurnakan berkaitan dengan besaran dana yang diarahkan untuk memenuhi amanat UU No. 20 Tahun 2003 yakni sebesar 20% dari anggaran APBN dan APBD di luar gaji pegawai dan pendidikan kedinasan, dan (2) secara umum, model penyaluran dana pendidikan dari pemerintah pusat berupa dana block grant, dekonsentrasi (termasuk BOS/BKM), dana dari Depag, APBD Provinsi dan APBD Kota/Kabupaten, masih layak diterapkan untuk penyaluran dana pendidikan di sekolah dengan beberapa pembenahan, terutama dalam pemberdayaan Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten dalam ikut serta sebagai Pembina dan pengontrol pelaksanaan progam sekolah
Pemahaman Guru Biologi SMA di Sekolah Penggerak DKI Jakarta terhadap Pendekatan Etnosains pada Kurikulum Merdeka
Tema kearifan lokal merupakan tema yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran sains seperti Biologi. Dalam proses pembelajaran, kearifan lokal terwujud dalam sebuah pendekatan, yaitu pendekatan etnosains. Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan persepsi guru terkait kearifan lokal dan etnosains dalam Kurikulum Merdeka. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen berupa wawancara mendalam. Populasi dalam penelitian adalah guru Biologi SMA yang menjadi Sekolah Penggerak di DKI Jakarta. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling dengan pertimbangan sampel yang bersedia sebagai responden. Transkrip wawancara kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik koding berbantuan software NVIVO 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami adanya perubahan kurikulum dan tema kearifan lokal menjadi tema yang direkomendasikan dalam Kurikulum Merdeka. Guru memahami bahwa kearifan lokal penting diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi tetapi mengalami kesulitan dalam mengintegrasikannya. Sebagian besar guru Biologi belum memahami istilah pendekatan etnosains karena istilah ini masih asing bagi guru. Selain itu, guru Biologi cenderung menggunakan asesmen sumatif walaupun dalam Kurikulum Merdeka terdapat asesmen diagnostik dan asesmen formatif.Penelitian ini bertujuan mendeksripsikan persepsi guru terkait kearifan lokal dan etnosains dalam Kurikulum Merdeka. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan instrumen berupa wawancara mendalam. Populasi dalam penelitian adalah guru Biologi SMA yang menjadi sekolah penggerak di DKI Jakarta. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling dengan pertimbangan sampel yang bersedia sebagai responden. Transkrip wawancara kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik koding berbantuan software NVIVO 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami adanya perubahan kurikulum dan tema kearifan lokal menjadi tema yang direkomendasikan dalam Kurikulum Merdeka. Guru memahami bahwa kearifan lokal penting diintegrasikan dalam pembelajaran Biologi tetapi mengalami kesulitan dalam mengintegrasikannya. Sebagian besar guru Biologi belum memahami istilah pendekatan etnosains karena istilah ini masih asing bagi guru. Selain itu, guru Biologi cenderung menggunakan asesmen sumatif walaupun dalam Kurikulum Merdeka terdapat asesmen diagnostik dan asesmen formatif
Hubungan Gotong-Royong dan Surat Al-Ashr
Tujuan utama dari penulisan artikel ini adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap salah satu surat yang ada dalam Al Qur’an, yaitu surat Al-Ashr. Artikel ini menyandingkan konsep dalam surat Al-Ashr dengan konsep gotong-royong yang merupakan budaya dasar dari bangsa Indonesia. Artikel ini memperlihatkan bahwa gotong-royong sebagai budaya dasar bangsa Indonesia memiliki aplikasi yang dapat berimplikasi positif atau negatif, sementara surat Al-Ashr selalu memiliki aplikasi yang berimplikasi positif. Beberapa simpulan adalah (1) bangsa Indonesia masih memiliki budaya gotong-royong sebagai budaya dasar, bahkan manfaat (efek positifnya) masih bisa dideteksi dan dirasakan namun tidak bisa dipungkiri tentang adanya distorsi khususnya pada aplikasi dari budaya dasar ini; (2) Distorsi pada konsep gotong-royong terjadi karena perubahan rentang waktu yang berlaku bagi konsep. Semakin panjang rentang waktu yang berlaku pada konsep maka semakin konsep gotong-royong mendekati konsep awalnya. Saran untuk memperbaiki keadaan lapangan tentang penerapan konsep gotong-royong (yang cenderung menunjukkan adanya distorsi terutama pada aplikasinya) diberikan kepada masyarakat dengan kembali kepada konsep awal dari gotong-royong yang cenderung untuk selalu memiliki implikasi positif.Tujuan utama dari penulisan artikel ini adalah untuk meningkatkan pemahaman terhadap salah satu surat yang ada dalam Al Qur’an, yaitu surat Al-Ashr. Artikel ini menyandingkan konsep dalam surat Al-Ashr dengan konsep gotong-royong yang merupakan budaya dasar dari bangsa Indonesia. Artikel ini memperlihatkan bahwa gotong-royong sebagai budaya dasar bangsa Indonesia memiliki aplikasi yang dapat berimplikasi positif atau negatif, sementara surat Al-Ashr selalu memiliki aplikasi yang berimplikasi positif. Beberapa simpulan adalah (1) bangsa Indonesia masih memiliki budaya gotong-royong sebagai budaya dasar, bahkan manfaat (efek positifnya) masih bisa dideteksi dan dirasakan namun tidak bisa dipungkiri tentang adanya distorsi khususnya pada aplikasi dari budaya dasar ini; (2) Distorsi pada konsep gotong-royong terjadi karena perubahan rentang waktu yang berlaku bagi konsep. Semakin panjang rentang waktu yang berlaku pada konsep maka semakin konsep gotong-royong mendekati konsep awalnya. Saran untuk memperbaiki keadaan lapangan tentang penerapan konsep gotongroyong (yang cenderung menunjukkan adanya distorsi terutama pada aplikasinya) diberikan kepada masyarakat dengan kembali kepada konsep awal dari gotong-royong yang cenderung untuk selalu memiliki implikasi positif
Pemahaman Siswa SD dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Kalimat Terbuka (Studi Kasus di SDN 36 Pangkalpinang, Jln Arjuna, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Pangkal Balam. Pangkalpinang)
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri tentang pemahaman siswa kelas 2 SDN. 36 Pangkalpinang dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka, yang mencakup : (1) letak kesulitan siswa (2) Faktor-faktor penyebab kesulitan. Dari 20 orang siswa kelas 2 SDN 36 Pangkalpinang diambil 18 orang siswa sebagai sampel. Alat untuk mengetahui pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka, digunakan observasi, wawancara dan tes. Tes yang terdiri 8 butir soal yang dikembangkan dan telah diujicobakan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan hasilnyamenunjukkan bahwa : (1) letak kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka adalah kurangnya pengertian dan pemahaman siswa akan arti dan maksud soal yang berbentuk kalimat terbuka dan (2) salah satu penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka adalah kurangnya peragaan yang diberikan guru kepada siswa dalam menanamkan konsep yang berbentuk kalimat terbuka.Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri tentang pemahaman siswa kelas 2 SDN. 36 Pangkalpinang dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka, yang mencakup : (1) letak kesulitan siswa (2) Faktor-faktor penyebab kesulitan. Dari 20 orang siswa kelas 2 SDN 36 Pangkalpinang diambil 18 orang siswa sebagai sampel. Alat untuk mengetahui pemahaman siswa dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka, digunakan observasi, wawancara dan tes. Tes yang terdiri 8 butir soal yang dikembangkan dan telah diujicobakan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan hasilnyamenunjukkan bahwa : (1) letak kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka adalah kurangnya pengertian dan pemahaman siswa akan arti dan maksud soal yang berbentuk kalimat terbuka dan (2) salah satu penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal matematika yang berbentuk kalimat terbuka adalah kurangnya peragaan yang diberikan guru kepada siswa dalam menanamkan konsep yang berbentuk kalimat terbuka