Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI KEPMENDIKNAS DI DAERAH
Tujuan studi adalah memperoleh rekomendasi kebijakan dalam upaya meningkatkan implementasi Kepmendiknas No.120/U/2001 tentang Persyaratan Khusus Pengangkatan Pejabat Struktural Pengelola Pendidikan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Persyaratan dimaksud terdiri atas: pendidikan, pengalaman kerja, Diklat, dan penguasaan bahasa lnggris. Studi ini bersifat evaluatif, dilaksanakan di 24 kota/kabupaten. Responden studi terdiri atas: Sekda, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kasubdin Pendidikan Kabupaten/Kota. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam pengangkatan pejabat struktural pengelola pendidikan, belum semua pemerintahan kota/kabupaten mengimplementasikan Kepmendiknas No. 120/U/2001. Pada aspek pendidikan, hampir semua pejabat struktural di dinas pendidikan kotalkabupaten pada eselon II. III dan IV telah memiliki tingkat berpendidikan sesuai persyaratan. Namun demikian, sebagian pejabat tidak memiliki pengalaman pekerjaan/jabatan di bidang pendidikan dan pengalaman diktat Berdasarkan hasil studi direkomendasikan: (1) Depdiknas perlu meyakinkan pemerintah kota/kabupaten tentang kekuatan hukum Kepmendiknas, (2) dalam pengangkatan jabatan struktural pengelola pendidikan secara konsisten mengacu pada Kepmendiknas No.120/U/2001; dan (3) sosialisasi Kepmendiknas perlu dilakukan melalui cara, mekanisme, dan sasaran yang lebih baik di masa mendatang
TIPE PENILAIAN DAN PROSES PEMBAKUAN PEDOMAN PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN MUSIK
Tulisan ini ditujukan kepada para pendidik seni mulai menggunakan pedoman penilaian yang mengacu pada kaidah ilmu pengetahuan untuk mengeliminir faktor subyektivitas dan karakter seni, khususnya musik membutuhkan tipe-tipe penilaian yang sesuai. Oleh karena itu, penskoran, penilaian dan pelaporan hasil tes harus dilakukan dengan prosedur yang benar. Berdasarkan need assessÂment perlu dibenahi implementasi oleh para pendidik
PENGARUH PEMBERIAN TUTORIAL TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA DII PGSD FKIP-UT PADA MATA KULIAH KONSEP DASAR IPA 1
Artikel ini membahas hasil penelitian Pengaruh Pemberian Tutorial Terhadap hasil Belajar Mahasiswa D-11 PGSD FKIP-UT pada Mata Kuliah Konsep Dasar IPAI di Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2005 di Jakarta. Pemberian bantuan belajar (tutorial) bagi mahasiswa UT adalah sangat penting dan selalu diharapkan oleh mahasiswa. Dengan mengikuti tutorial mahasiswa dapat berdiskusi dan bertanya, tentang materi yang sulit dipelajari secara mandiri. Dalam kegiatan tutorial mahasiswa dapat saling memberikan pendapat tentang konsep-konsep IPA kepada teman dan bertanya kepada tutor. Pada awal kegiatan tutorial mahasiswa masih sulit menempatkan dirinya sebagai siswa/mahasiswa karena latar belakang mereka umumnya adalah guru yang biasa memimpin pembelajaran di kelasnya. Hal tersebut dapat segera diatasi oleh tutor sehingga dalam diskusi dan kerja kelompok mahasiswa sangat kompak dan saling membantu apabila ada teman satu kelompok mengalami kesulitan memahami materi IPA. Pada tes pertama nilai rata-rata mahasiswa mencapai 64,50, dan nilai rata-rata pada akhir tutorial 71,30. Pelaksanaan praktikum IPA mahasiswa dilakukan secara mandiri dan kelompok. Dengan bimbingan tutor dalam melaksanakan praktikum membuat mahasiswa bersemangat melakukan percobaan IPA dan aktif membahas hasil-hasil yang diperoleh pada percobaan IPA
PROBLEM BASED INSTRUCTION SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA
This research was conducted to prove the PBI model can improve learning outcomes, activities and responses of students in learning. The model is applied to two classes XI of High school in South Jakarta. The first is class-XI of IPA1 and the other is class-XI of IPA2. IPA1 given treatment by applying PBI learning model, while for class-XI IPA2 performed as conventional classical learning. After the application of learning models obtained PBI’s first treatment of Class-XI of IPA1 average value for the lowest pretes is 3.25 while the average value is the highest 6.75. Meanwhile, for class-XI of IPA2, value of the lowest average is 3.25 and the highest is 6.25. Posttes for first-class average score is 6.45 and the lowest the highest is 8.75, whereas for class XI posttes value IPA2 lowest average is 6.75 and the highest value of 9.00. In the second treatment available, IPA1 class-XI, the average value of the lowest student score is 5.00 and the highest average is 7.35, while for class-XI IPA2 average value is 6.45 the lowest and the highest is 8.5. In the third treatment results obtained pretes average grade XI of IPA1 lowest and the highest 3.25 for 4.25. and the average value posttes students obtained the lowest IPA1 is 7.25 and the highest 9.75. For class-XI IPA2 average score of students in the lowest pretes is 3.00 and the highest is 4.5. While the value posttes lowest average is 7.00 and the highest is 9.00. At first teachers were not used but the implementation of the third treatment teachers have mastered the learning model PBI well. Teachers have been able to design a model of the PBI with a good learning, teachers have been able to motivate students actively involved in problem-solving activities, define and organize learning tasks and determine the steps to solve the problem. Teachers motivate students to do reflection, and have been able to evaluate the process of investigations conducted so that students can understand their weaknesses and shortcomings of the reflection done. ABSTRAK  Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan model Problem Based Instructional (PBI) dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran. Model diterapkan pada 2 kelas XI paralel SMA Swasta di Jakarta Selatan. kelas XI IPA1 dan kelas XI IPA2 Siswa kelas XI IPA1 diberikan treatment dengan menerapkan model pembelajaran PBI sedangkan untuk kelas XI IPA2 dilakukan pembelajaran klasikal seperti biasa. Hasil penerapan model pembelajaran PBI treatment pertama diperoleh hasil Kelas XI IPA1 nilai rata-rata terendah untuk pretes 3,25 sedangkan nilai ratarata tertinggi 6,75. Sementara itu untuk kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 3,25 dan tertinggi 6,25. Postes untuk kelas pertama nilai rata-rata terendah 6,45 dan tertinggi 8,75, sedangkan postes untuk kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 6,75 dan nilai tertinggi sebesar 9,00. Pada treatment kedua kelas XI IPA1, nilai rata-rata siswa terendah 5,00 dan nilai rata-rata tertinggi 7,35, sedangkan kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 6,45 dan tertinggi 8,5. Pada treatment ketiga hasil pretes diperoleh nilai rata rata siswa kelas XI IPA1 terendah 3,25 dan tertinggi 4,25. Nilai rata-rata postes terendah yang diperoleh siswa 1 adalah 7,25 dan tertinggi 9,75. Untuk kelas XI IPA22 nilai rata-rata siswa pada pretes terendah 3,00 dan tertinggi 4,5 sedangkan nilai postes rata-rata terendah 7,00 dan tertinggi 9,00. Pada akhirnya, guru dapat merancang model pembelajaran PBI dengan baik dan dapat memotivasi siswa terlibat aktif pada kegiatan pemecahan masalah, mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar serta menentukan langkah-langkah memecahkan masalah
Evaluasi Proses Belajar Mengajar Senam melalui Masukan dan Proses Model Context, Input, Process and Product (CIPP) di SLTP Kota Manado 2001
Kenyataan lapangan membuktikan bahwa terjadinya kesenjangan antara tujuan khusus pengajaran dengan apa yang dikerjakan guru Pendidikan jasmani di lapangan menyebabkan prestasi akademik tidak dinyatakan secara jelas. Penekanan evaluasi proses belajar mengajar di sekolah adalah pada evaluasi formatif dan sumatif, tanpa disadari bahwa berbagai penyimpangan dan kekurangan sering dialami guru pendidikan jasmani dalam merencanakan program pengajaran senam dan mentransformasikan ke dalam proses belakar mengajar. Pembuatan satuan pengajaran hanya menitikberatkan pada input, proses, dan produk untuk memperbaiki hasil belajar mengajar melalui pengajaran remedial dan belajar tuntas, tai kenyataannya prestasi akademik tidak dapat dinyatakan secara jelas (intangibel). Di samping itu, satuan pengajaran di sekolah seolah-olah dianggap baku, walaupun tiap sekolah berbeda dan dilaksanakan hanya sebagai pertanggungjawaban administrasi tanpa dievaluasi