Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
HAMBATAN DAN SOLUSI PEMBELAJARAN JARAK JAUH PADA ERA PANDEMI COVID-19 DI JAWA TENGAH
Pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19 memerlukan penyesuaian, serta memiliki kelebihan dan kekurangan. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis hambatan dan keuntungan pembelajaran jarak jauh dan mengidentifikasi solusi untuk perbaikan pembelajaran jarak jauh pada era pandemi COVID-19 di Jawa Tengah. Tipe penelitian ini ialah deskriptif, dengan pendekatan mixed method kualitatif dan kuantitatif. Informan sebanyak 260 orang, dari unsur kepala sekolah, guru, dan perwakilan orang tua. Survei melibatkan 84 kepala sekolah, 831 guru, 4.124 orang tua, dan 10.048 siswa. Instrumen penelitian berupa panduan diskusi dan kuesioner. Analisis kualitatif menggunakan model interaktif, analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif (rerata dan persentase). Hasil penelitian menunjukkan sebagian siswa mengalami kesulitan akses internet karena kurangnya pembiayaan dan sinyal internet, sebagian guru kesulitan penguasaan teknologi. Selain itu, penyampaian materi menjadi terbatas, pendidikan karakter dan integritas siswa menjadi lemah. Di sisi lain, pembelajaran jarak jauh meningkatkan kompetensi, efisiensiwaktu, serta inovasi pembelajaran yang atraktif. Kesimpulan penelitian ini adalah masalah pembelajaran jarak jauh adalah kurangnya sarana, kurangnya penguasaan teknologi, paket data, jaringan/sinyal internet. Di sisi lain, kelebihannya adalah peningkatan kompetensi, inovasi pembelajaran, pengenalan metode baru, serta efisiensi. Solusi permasalahan PJJ adalah peningkatan kapasitas guru, perbaikan kurikulum, subsidi akses internet, dan inovasi pembelajaran seperti sistem blended learning, pengembangan aplikasi pembelajaran, penyesuaian kurikulum, dan metode pembelajaran baru.Abstract: Online learning during the Covid 19 pandemic had implications for the quality of education, on the other hand it led to innovation. The objectives of this study are: 1) To analyze the condition of senior high school in the Covid-19 pandemic era in Central Java (problems and progress); 2) Identifying the readiness of teachers and schools; 3) Identifying the need for quality education; and 4) Analyze the policies needed to improve the quality of education in the era of the Covid-19 pandemic. This research is descriptive, mixed method approach, qualitative and quantitative. This research involving 260 informants (principal, teachers, parents, and students). This study also used a survey method involving 84 principals, 831 teachers, 4,124 parents and 10,048 students. The data collection instruments were questionnaires and FGD. Qualitative analysis uses an interactive model developed by Miles and Huberman, quantitative analysis is descriptive, namely mean and percentage. The conclusions of this study: First, education in the Covid-19 pandemic era with a home learning strategy (daring) faces the problem of lack of facilities and infrastructure, mastery of technology, quota/internet data packages, internet network/signal. The advantages are increased mastery of technology, learning innovation, introduction of new methods, time/ energy/cost efficiency. Second, many teachers were not ready, but schools had also prepared adequate facilities, and encouraged new innovations. Third, what is needed to realize quality education through increasing the capacity of teachers, subsidizing facilities and infrastructure, improving the education system, and learning innovation. Fourth, the policy required is the implementation of a blended learning system, e-learning/LMS, curriculum adjustments, and encouraging innovation
UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DAN PERMASALAHANNYA
Pendidikan bermutu berperan penting untuk evolusi ekonomi dan pembangunan sosial suatu negara. Penelitian ini bertujuan untuk menggali upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah menengah pertama dan permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi multi kasus. Lokasi penelitian yaitu tiga sekolah menengah pertama di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi, Indonesia yang terletak di daerah pinggiran, semi kota dan kota. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semi terstruktur kepada kepala sekolah dan guru. Trianggulasi teknik dengan observasi tidak terstruktur dan member checks dilakukan untuk keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga sekolah berupaya meningkatkan mutu pendidikannya. Target mutu yang ingin ditingkatkan atau dicapai berbeda antarsekolah. Namun demikian, mereka menghadapi permasalahan dalam mencapai mutu yang ditargetkan. Permasalahan tersebut meliputi jumlah guru yang belum memadai dan komitmen kerja mereka yang rendah, sekolah pinggiran dan semi kota masih terkendala pada sarana dan prasarana yang belum memadai, dan pendanaan pendidikan yang belum mencukupi di tiap sekolah.
Education plays an important role for the economic evolution and social development of a nation. This study aims to explore efforts to improve the quality of education in junior high schools and the problems they faced. This study applied a qualitative approach with a multi-case strategy. The research took place in three junior high schools in Tana Toraja Regency, Sulawesi, Indonesia. They were in different areas which are suburb, semi-city and city. Data collection was carried out by semi-structured in-depth interviews with school principals and teachers. Technical triangulation, which is unstructured observation and member checks, was used to validate the collected data. The results showed that the three schools were trying to improve the quality of their education. The quality targets to be improved or achieved were different between schools. However, they face problems in achieving the targeted quality. These problems include the inadequate number of teachers and their low work commitment, suburban and semi-urban schools that have inadequate facilities and infrastructure, and insufficient educational tests in schools.
Pendidikan bermutu berperan penting untuk evolusi ekonomi dan pembangunan sosial suatu negara. Penelitian ini bertujuan untuk menggali upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah menengah pertama dan permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi multi kasus. Lokasi penelitian yaitu tiga sekolah menengah pertama di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi, Indonesia yang terletak di daerah pinggiran, semi kota dan kota. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semi terstruktur kepada kepala sekolah dan guru. Trianggulasi teknik dengan observasi tidak terstruktur dan member checks dilakukan untuk keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga sekolah berupaya meningkatkan mutu pendidikannya. Target mutu yang ingin ditingkatkan atau dicapai berbeda antarsekolah. Namun demikian, mereka menghadapi permasalahan dalam mencapai mutu yang ditargetkan. Permasalahan tersebut meliputi jumlah guru yang belum memadai dan komitmen kerja mereka yang rendah, sekolah pinggiran dan semi kota masih terkendala pada sarana dan prasarana yang belum memadai, dan pendanaan pendidikan yang belum mencukupi di tiap sekolah.
Education plays an important role for the economic evolution and social development of a nation. This study aims to explore efforts to improve the quality of education in junior high schools and the problems they faced. This study applied a qualitative approach with a multi-case strategy. The research took place in three junior high schools in Tana Toraja Regency, Sulawesi, Indonesia. They were in different areas which are suburb, semi-city and city. Data collection was carried out by semi-structured in-depth interviews with school principals and teachers. Technical triangulation, which is unstructured observation and member checks, was used to validate the collected data. The results showed that the three schools were trying to improve the quality of their education. The quality targets to be improved or achieved were different between schools. However, they face problems in achieving the targeted quality. These problems include the inadequate number of teachers and their low work commitment, suburban and semi-urban schools that have inadequate facilities and infrastructure, and insufficient educational tests in schools.
 
PENGARUH PEMBELAJARAN LITERASI DIGITAL PADA KOMPETENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) CALON GURU
Saat ini guru dituntut memiliki kemampuan mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran untuk menjawab tantangan pembelajaran di abad 21. Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi TIK guru adalah dengan menerapkan pembelajaran literasi digital di perguruan tinggi yang mencetak lulusan calon guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran literasi digital pada kompetensi TIK mahasiswa calon guru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berupa survei kepada mahasiswa Program Studi Kependidikan sebagai calon guru dan selanjutnya dilakukan wawancara untuk proses triangulasi data. Subjek penelitian adalah mahasiswa calon guru di Universitas Negeri Semarang. Hasil survey menunjukan kedua kelompok responden memiliki kompetensi TIK yang baik. Namun setelah diteliti lebih dalam dari data triangulasi hasil wawancara komptensi TIK, calon guru yang telah memperoleh pembelajaran literasi digital lebih unggul pada aspek pemahaman TIK dalam pendidikan, organisasi, dan administrasi, dan pembejajaran guru profesional. Pengaruh pembelajaran digital terhadapkompetensi TIK calon guru pada ketiga aspek tersebut menjadi rekomendasi diterapkannya pembelajaran literasi digital pada perguruan tinggi yang mencetak calon guru.
Currently, teachers are required to have the ability to integrate ICT in learning to answer the challenges of learning in the 21st century. One of the efforts to improve teachers’ ICT competencies is to implement digital literacy learning in universities that produce prospective teacher graduates. This study aims to determine how the effect of digital literacy learning on the ICT competence of pre-service teacher students. The research uses a quantitative approach which is carried out in the form of a survey to students of the Education Study Program as pre-service teachers and then interviews are carried out for the data triangulation process. The research subjects were pre-service teacher students at Universitas Negeri Semarang. The survey questionnaire was developed based on the indicators of teacher ICT competence according to UNESCO which consists of 6 aspects. The survey results show that both groups of respondents have good ICT competencies. However, after a more in-depth investigation of the triangulation data from the ICT competency interviews, preservice teachers who have obtained digital literacy learning are superior in aspects of understanding ICT in education, organization and administration, and teaching professionalteachers. The influence of digital learning on the ICT competence of pre-service teachers in these three aspects becomes a recommendation for the implementation of digital literacy learning in universities that create pre-service teachers.Saat ini guru dituntut memiliki kemampuan mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran untuk menjawab tantangan pembelajaran di abad 21. Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi TIK guru adalah dengan menerapkan pembelajaran literasi digital di perguruan tinggi yang mencetak lulusan calon guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pembelajaran literasi digital pada kompetensi TIK mahasiswa calon guru. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berupa survei kepada mahasiswa Program Studi Kependidikan sebagai calon guru dan selanjutnya dilakukan wawancara untuk proses triangulasi data. Subjek penelitian adalah mahasiswa calon guru di Universitas Negeri Semarang. Hasil survey menunjukan kedua kelompok responden memiliki kompetensi TIK yang baik. Namun setelah diteliti lebih dalam dari data triangulasi hasil wawancara komptensi TIK, calon guru yang telah memperoleh pembelajaran literasi digital lebih unggul pada aspek pemahaman TIK dalam pendidikan, organisasi, dan administrasi, dan pembejajaran guru profesional. Pengaruh pembelajaran digital terhadap kompetensi TIK calon guru pada ketiga aspek tersebut menjadi rekomendasi diterapkannya pembelajaran literasi digital pada perguruan tinggi yang mencetak calon guru.
Currently, teachers are required to have the ability to integrate ICT in learning to answer the challenges of learning in the 21st century. One of the efforts to improve teachers’ ICT competencies is to implement digital literacy learning in universities that produce prospective teacher graduates. This study aims to determine how the effect of digital literacy learning on the ICT competence of pre-service teacher students. The research uses a quantitative approach which is carried out in the form of a survey to students of the Education Study Program as pre-service teachers and then interviews are carried out for the data triangulation process. The research subjects were pre-service teacher students at Universitas Negeri Semarang. The survey questionnaire was developed based on the indicators of teacher ICT competence according to UNESCO which consists of 6 aspects. The survey results show that both groups of respondents have good ICT competencies. However, after a more in-depth investigation of the triangulation data from the ICT competency interviews, preservice teachers who have obtained digital literacy learning are superior in aspects of understanding ICT in education, organization and administration, and teaching professionalteachers. The influence of digital learning on the ICT competence of pre-service teachers in these three aspects becomes a recommendation for the implementation of digital literacy learning in universities that create pre-service teachers
HUBUNGAN ANTARA TUNJANGAN PROFESI GURU DAN TAMBAHAN PENGHASILAN DENGAN CAPAIAN PEMBELAJARAN SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI
Kementerian Keuangan telah mengalokasikan tunjangan profesi guru dan tambahan penghasilan guru masing-masing sejak 2010 dan 2009. Tambahan penghasilan dan tunjangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan, kompetensi, dan profesionalisme guru sehingga dapat meningkatkan capaian pembelajaran siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tunjangan profesi guru dan tambahan penghasilan guru terhadap capaian pembelajaran siswa SMP Negeri di Indonesia tingkat kabupaten/kota tahun 2018-2019. Penelitian ini menggunakan analisis data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realisasi tunjangan profesi guru berhubungan positif dengan capaian pembelajaran siswa SMP Negeri. Sedangkan tambahan penghasilan tidak ada hubungannya. Variabel kontrol yang berhubungan dengan capaian pembelajaran siswa adalah rasio siswa-guru, persentase guru berpendidikan minimal sarjana, produk domestik regional bruto per kapita, dan angka harapan hidup. Sedangkan yang tidak berhubungan adalah rasio siswa-rombongan belajar dan persentase penduduk miskin. Tunjangan profesi guru secara tidak langsung meningkatkan capaian pembelajaran siswa melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Dengan koordinasi pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan realisasi anggaran tunjangan profesi guru, diharapkan akan meningkatkan kompetensi guru yang pada gilirannya akan meningkatkan capaian pembelajaran siswa.The Ministry of Finance of The Republic of Indonesia has allocated professional teacher allowance and additional income for teachers since 2010 and 2009, respectively. The additional income and allowances are expected to improve teacher welfare, competence, and professionalism so that student learning achievement will improve. This study aims to determine the relationship between professional teacher allowances as well as additional income for teachers and the student learning achievement of public junior high schools in Indonesia at the district level in 2018-2019 by applying quantitative panel data analysis. The results show that the budget realization of teacher professional allowances is positively related to the student learning achievement of public junior high schools. Whereas additional income has no relationship with the students’ achievement. The control variables related to student learning achievement are the student-teacher ratio, the percentage of teachers with at least a bachelor’s degree, per capita gross regional domestic product, and life expectancy. Meanwhile, the ratio of student-class and the percentage of poor people in the district have no relationship with the students’ achievement. Professional teacher allowances indirectly increase student learning achievement by improving teacher competence and performance. Coordination enhancement of central and local governments to increase the budget realization of professional teacher allowances is expected upgrading teachers’ competence and hence students’ learning achievement will improve
PHILOSOPHY OF FREEDOM TO LEARN IN THE PERSPECTIVE OF INDONESIA
Tujuan artikel ini adalah mengetahui hakikat dari merdeka belajar berdasarkan pemikiran merdeka belajar Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Dewantara dan mengetahui persamaan serta perbedaannya. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah metode sejarah yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, kiritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hakikat Merdeka belajar, berdasarkan pemikiran pendidikan para pendiri bangsa Indonesia, adalah mengakui hak-hak manusia secara kodrati untuk memperoleh pembelajaran dan pengelaman secara bebas yang bertujuan menciptakan manusia yang berkarakter, manusia baru dan masyarakat baru. Persamaan pemikiran merdeka belajar dari Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Dewantara adalah mendidik manusia dengan jiwa yang merdeka supaya menjadi manusia yang berkarakter, bersumber dari kebudayaan dan kandungan dari bangsanya sendiri, dan mempunyai objek pendidikan yaitu manusia. Sementara perbedaan dari pemikiran tokoh-tokoh terletak pada peruntukan merdeka belajar. Soekarno memandang merdeka belajar untuk menciptakan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Mohammad Hatta berpendapat bahwa merdeka belajar berperan dalam mengembangkan kemampuan peserta didik. Sjahrir menyatakan merdeka belajar untuk membangun stabilitas politik dan bukan menetapkan tujuan-tujuan pendidikan yang pragmatis. Ki Hadjar Dewantara berpandangan merdeka belajar sebagai pendidikan sesuai kodrat alam. Merdeka belajar mengakui kodrat manusia dan membebaskan manusia memperoleh pembelajaran dan pengalaman. Merdeka belajar diperuntukan sebagai pelaksanaan pembelajaran, pengembangan peserta didik, menciptakan stabilitas, dan pengakuan terhadap kodrat manusia.
This article is to find out the philosophy of freedom to learn based on founders' thoughts both similarities and differences. I use historical method consisting of topic selection, heuristics, criticisms of sources, interpretation, and historiography. Freedom to learn, based on the educational ideas of the founding fathers of Indonesia, is recognizing human rights to gain free learning and experience to create human characters, new humans, and a new society. The similarity of freedom to learn is to educate humans with an independent spirit to become human beings with character, originating from the culture and content of their nation, and having an educational object (humans). Soekarno saw freedom to learn to create comfortable and enjoyable learning. Mohammad Hatta argues that freedom to learn plays a role in developing students' abilities. Sjahrir stated that he could learn to build political stability and not set pragmatic educational goals. Ki Hadjar Dewantara has the view that freedom to learn is education by nature. Freedom to learn recognizes human nature and frees humans to learn and experience. Freedom to learn is showed as the implementation of learning, the development of students, creating stability, and recognition of human nature. Tujuan artikel ini adalah mengetahui hakikat dari merdeka belajar berdasarkan pemikiran merdeka belajar Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Dewantara dan mengetahui persamaan serta perbedaannya. Metode yang digunakan pada artikel ini adalah metode sejarah yang terdiri dari pemilihan topik, heuristik, kiritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hakikat Merdeka belajar, berdasarkan pemikiran pendidikan para pendiri bangsa Indonesia, adalah mengakui hak-hak manusia secara kodrati untuk memperoleh pembelajaran dan pengelaman secara bebas yang bertujuan menciptakan manusia yang berkarakter, manusia baru dan masyarakat baru. Persamaan pemikiran merdeka belajar dari Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Dewantara adalah mendidik manusia dengan jiwa yang merdeka supaya menjadi manusia yang berkarakter, bersumber dari kebudayaan dan kandungan dari bangsanya sendiri, dan mempunyai objek pendidikan yaitu manusia. Sementara perbedaan dari pemikiran tokoh-tokoh terletak pada peruntukan merdeka belajar. Soekarno memandang merdeka belajar untuk menciptakan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Mohammad Hatta berpendapat bahwa merdeka belajar berperan dalam mengembangkan kemampuan peserta didik. Sjahrir menyatakan merdeka belajar untuk membangun stabilitas politik dan bukan menetapkan tujuan-tujuan pendidikan yang pragmatis. Ki Hadjar Dewantara berpandangan merdeka belajar sebagai pendidikan sesuai kodrat alam. Merdeka belajar mengakui kodrat manusia dan membebaskan manusia memperoleh pembelajaran dan pengalaman. Merdeka belajar diperuntukan sebagai pelaksanaan pembelajaran, pengembangan peserta didik, menciptakan stabilitas, dan pengakuan terhadap kodrat manusia.
This article is to find out the philosophy of freedom to learn based on founders' thoughts both similarities and differences. I use historical method consisting of topic selection, heuristics, criticisms of sources, interpretation, and historiography. Freedom to learn, based on the educational ideas of the founding fathers of Indonesia, is recognizing human rights to gain free learning and experience to create human characters, new humans, and a new society. The similarity of freedom to learn is to educate humans with an independent spirit to become human beings with character, originating from the culture and content of their nation, and having an educational object (humans). Soekarno saw freedom to learn to create comfortable and enjoyable learning. Mohammad Hatta argues that freedom to learn plays a role in developing students' abilities. Sjahrir stated that he could learn to build political stability and not set pragmatic educational goals. Ki Hadjar Dewantara has the view that freedom to learn is education by nature. Freedom to learn recognizes human nature and frees humans to learn and experience. Freedom to learn is showed as the implementation of learning, the development of students, creating stability, and recognition of human nature. 
INEQUALITY ACCESS TO EDUCATION IN EAST KALIMANTAN
Artikel ini bertujuan mengukur kesempatan anak usia 7-18 tahun di Kalimantan Timur dalam mendapatkan akses pendidikan. Pengukuran kesempatan menggunakan Human Opportunity Index (HOI)yang dikembangkan oleh Bank Dunia. Indeks ini digunakan untuk melihat keadaan di luar kendali seorang anak dan menentukan kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan. Hasil analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2020 menunjukkan hampir seluruh anak usia 7-15 tahun di Kalimantan Timur telah dapat mengakses pendidikan dasar. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan kesempatan terhadap akses pendidikan menengah pada anak usia 16-18 tahun. Tidak terdapat perbedaan akses pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan di kedua jenjang pendidikan. Faktor latar belakang keluarga, yakni pendidikan kepala keluarga dan kondisi ekonomi, serta tempat tinggal anak menjadi faktor yang berpengaruh terhadap ketimpangan akses menuju pendidikan menengah. Tingkat ketimpangan akses pendidikan menengah lebih rendah di wilayah perdesaan dibandingkan wilayah perkotaan. Reformasi kebijakan di bidang pendidikan sangat diperlukan untuk menghilangkan keterkaitan antara akses pendidikan anak dengan keadaan di luar kontrol seorang anak, seperti latar belakang keluarga atau tempat tinggal. Kebijakan yang bisa diambil antara lain memperbanyak jumlah sekolah menengah, serta meningkatkan akses transportasi dan infrastruktur jalan untuk mempermudah akses pendidikan.Artikel ini bertujuan mengukur kesempatan anak usia 7-18 tahun di Kalimantan Timur dalam mendapatkan akses pendidikan. Pengukuran kesempatan menggunakan Human Opportunity Index (HOI)yang dikembangkan oleh Bank Dunia. Indeks ini digunakan untuk melihat keadaan di luar kendali seorang anak dan menentukan kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan. Hasil analisis data Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2020 menunjukkan hampir seluruh anak usia 7-15 tahun di Kalimantan Timur telah dapat mengakses pendidikan dasar. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan kesempatan terhadap akses pendidikan menengah pada anak usia 16-18 tahun. Tidak terdapat perbedaan akses pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan di kedua jenjang pendidikan. Faktor latar belakang keluarga, yakni pendidikan kepala keluarga dan kondisi ekonomi, serta tempat tinggal anak menjadi faktor yang berpengaruh terhadap ketimpangan akses menuju pendidikan menengah. Tingkat ketimpangan akses pendidikan menengah lebih rendah di wilayah perdesaan dibandingkan wilayah perkotaan. Reformasi kebijakan di bidang pendidikan sangat diperlukan untuk menghilangkan keterkaitan antara akses pendidikan anak dengan keadaan di luar kontrol seorang anak, seperti latar belakang keluarga atau tempat tinggal. Kebijakan yang bisa diambil antara lain memperbanyak jumlah sekolah menengah, serta meningkatkan akses transportasi dan infrastruktur jalan untuk mempermudah akses pendidikan
PEMBELAJARAN STEAM DI SEKOLAH DASAR : IMPLEMENTASI DAN TANTANGAN
Pembelajaran STEAM berperan penting dalam pendidikan abad 21. Guru sebagai salah satu aspek kunci dari implementasi pendidikan memegang peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran STEAM. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplor implementasi pembelajaran STEAM di sekolah dasar dan tantangan apa saja yang dihadapi guru sekolah dasar dalam implementasi STEAM. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Sebanyak 32 guru sekolah dasar daerah Jawa Barat dan Banten menjadi partisipan dalam penelitian ini. Proses pengumpulan data dilakukan melalui angket mengenai implementasi pembelajaran STEAM dan tantangan pembelajaran STEAM. Hasil penelitian menunjukan bahwa guru telah mengimplementasikan pembelajaran STEAM dengan mempraktikkan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik, pembelajaran dengan model inkuiri dan berbasis masalah, evaluasi, refleksi, kolaborasi, serta melaksanakan pembelajaran yang terintegrasi baik secara konten maupun keterampilan. Adapun tantangan yang diungkapkan guru dalam implementasi pembelajaran STEAM adalah tantangan pedagogik, teknis, fasilitas, sumber pembelajaran STEAM dan waktu pelaksanaan STEAM. Dapat disimpulkan bahwa guru telah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran STEAM. Akan tetapi, perlu diadakan pelatihan teknis untuk guru berkaitan dengan teknis implementasi STEAM dan penyediaan fasilitas penunjang terutama fasilitas berbasis teknologi untuk mendukung implementasi STEAM di sekolah dasar
HUBUNGAN ANTARA KEGIATAN LITERASI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 107 JAKARTA
Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah bergulir selama lima tahun sehingga program ini perlu dievaluasi keberhasilannya di ranah satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kegiatan literasi terhadap prestasi belajar siswa di SMP Negeri 107 Jakarta. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII dan kelas IX berjumlah 216 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh kegiatan literasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 107 Jakarta. Kegiatan literasi yang telah berjalan juga kurang efektif karena 1) siswa terlalu berfokus pada kegiatan merangkum daripada memahami bacaan, 2) tidak semua guru melakukan kegiatan tindak lanjut berupa tanggapan secara lisan dan tulisan, 3) tidak semua siswa memiliki kemampuan menggunakan strategi membaca, 4) tidak semua siswa menggunakan strategi membaca untuk memahami teks, dan 5) jumlah siswa yang menggunakan sumber nonpelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran belum terlalu banyak