Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
Paradigma dan Revolusi Sains (Telaah atas konsep pemikiran Thomas Samuel Kuhn dan implikasinya dalam teori belajar)
Abstrak: Perubahan radikal dalam sains pada awal Eropa modern berpengaruh amat besar terhadap riset-riset praktis dan konsep berikutnya tentang masyarakat dan manusia itu sendiri. Pola pengembangan yang khas dari sebuah kematangan sains adalah transisi berturutan dari satu paradigma ke paradigma lain melalui proses revolusi. Sains pada dasarnya lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya. Konsep sentral Kuhn adalah apa yang dinamakan dengan paradigma. Istilah paradigma identik dengan “skema” dalam teori belajar. Skema adalah suatu struktur mental atau kognisi yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema ini akan beradaptasi dan berubah seiring perkembangan mentalnya. Teori belajar, dimana pembelajar mengkonstruksi “skemaskemanya” dikenal dengan konstruktivisme. Abstrak: Perubahan radikal dalam sains pada awal Eropa modern berpengaruh amat besar terhadap riset-riset praktis dan konsep berikutnya tentang masyarakat dan manusia itu sendiri. Pola pengembangan yang khas dari sebuah kematangan sains adalah transisi berturutan dari satu paradigma ke paradigma lain melalui proses revolusi. Sains pada dasarnya lebih dicirikan oleh paradigma dan revolusi yang menyertainya. Konsep sentral Kuhn adalah apa yang dinamakan dengan paradigma. Istilah paradigma identik dengan “skema” dalam teori belajar. Skema adalah suatu struktur mental atau kognisi yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema ini akan beradaptasi dan berubah seiring perkembangan mentalnya. Teori belajar, dimana pembelajar mengkonstruksi “skemaskemanya” dikenal dengan konstruktivisme. Kata kunci: paradigma, skema, dan konstruktivisme
Pengaruh Kemampuan Penalaran Formal Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas II SMP Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa
Penelitian ini bersifat expost-facto yang bersifat korelasional dan bertujuan untuk mengetahui : (1) seberapa besar hasil belajar fisika siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa; (2) seberapa tingkat penalaran formal siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa; dan (3) apakah kemampuanpenalaran formal mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa . Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa tahun ajaran 2005/2006, sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 80 siswa dipilih dengan teknik random sampling. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah tes kemampuan formal dan tes hasil belajar fisika. Hasil penelitian menunjukkan : (1) hasil belajar fisika siswa sebesar 13,4 termasuk dalam kategori rendah, (2) kemampuan penalaran formal siswa sebesar 4,24, termasuk dalam kategori tahap awal dan (3) secara signifikan kemampuan penalaran formal berpengaruh positif terhadap hasil belajar fisika.Penelitian ini bersifat expost-facto yang bersifat korelasional dan bertujuan untuk mengetahui : (1) seberapa besar hasil belajar fisika siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa; (2) seberapa tingkat penalaran formal siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa; dan (3) apakah kemampuanpenalaran formal mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa Kabupaten Gowa . Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas II SMP Negeri I Sungguminasa tahun ajaran 2005/2006, sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 80 siswa dipilih dengan teknik random sampling. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah tes kemampuan formal dan tes hasil belajar fisika. Hasil penelitian menunjukkan : (1) hasil belajar fisika siswa sebesar 13,4 termasuk dalam kategori rendah, (2) kemampuan penalaran formal siswa sebesar 4,24, termasuk dalam kategori tahap awal dan (3) secara signifikan kemampuan penalaran formal berpengaruh positif terhadap hasil belajar fisika
Strategi Kepala Sekolah Menengah Atas dalam Menyiapkan Sekolah Penggerak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memformulasikan strategi kepala sekolah dalam menyiapkan Sekolah Penggerak terkait dengan: 1) penguatan SDM; 2) pembelajaran paradigma baru; dan 3) sarana prasarana. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dan berlokasi di SMAN 1 dan 2 Wonosari, Yogyakarta. Data primer diperoleh dari hasil observasi dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen arsip sekolah. Hasil penelitian menunjukkan: 1) strategi yang dilakukan oleh Kepala SMA Negeri 1 dan 2 Wonosari untuk meningkatkan kompetensi SDM adalah dengan mengusung konsep perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi (PPE); 2) strategi yang dilakukan oleh Kepala SMA Negeri 1 dan 2 Wonosari untuk mengelola pembelajaran paradigma baru adalah dengan menggunakan konsep student centered learning (SCL); dan 3)strategi yang dilakukan oleh Kepala SMA Negeri 1 dan 2 Wonosari untuk menyediakan sarana dan prasarana adalah dengan konsep 2P atau perencanaan dan pengadaan. Ketiga strategi tersebut dinilai paling efektif untuk menyiapkan Sekolah Penggerak.
 
Kajian Budaya Atas Kondisi Virtualitas Politik Mutakhir
Dunia politik dalam era virtualitas menampilkan dirinya dalam berbagai wujud penampakan: kebenaran, kepalsuan; permukaan, kedalaman; kejujuran, absurditas, esensi, ironi. Diperlukan metafora untuk memahami makna berbagai penampakan politik yang saling bertentangan itu. Makna politik dapat dibentangkan melalui metafora cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memberikan penerangan, semacam pelita yang mengantarkan manusia guna mendapatkan pencerahan. Pencerahan yang dikemukakan dalam buku ini ditampilkan dari tiga sudut pandang kajian, yakni pembahasan permasalahan politik dari segi cultural studies, metode semiotika, dan fenomenologi-hermeneutika. Buku ini merupakan upaya untuk menafsirkan fenomena-fenomena budaya politikterutama aktor-aktor politik-dengan menggunakan ketiga pendekatan tersebut.Dunia politik dalam era virtualitas menampilkan dirinya dalam berbagai wujud penampakan: kebenaran, kepalsuan; permukaan, kedalaman; kejujuran, absurditas, esensi, ironi. Diperlukan metafora untuk memahami makna berbagai penampakan politik yang saling bertentangan itu. Makna politik dapat dibentangkan melalui metafora cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memberikan penerangan, semacam pelita yang mengantarkan manusia guna mendapatkan pencerahan. Pencerahan yang dikemukakan dalam buku ini ditampilkan dari tiga sudut pandang kajian, yakni pembahasan permasalahan politik dari segi cultural studies, metode semiotika, dan fenomenologi-hermeneutika. Buku ini merupakan upaya untuk menafsirkan fenomena-fenomena budaya politikterutama aktor-aktor politik-dengan menggunakan ketiga pendekatan tersebut
Identitas Kerajaan Gowa Berdasarkan Koleksi Museum Balla Lompoa Sungguminasa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung pada seluruh koleksi di Museum Balla Lompa Sungguminasa sebagai sebuah identitas bagi Kerajaan Gowa pada masa lampau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahap yaitu studi pustaka berupa penelusuran sumber-sumber tertulis, dilanjutkan dengan observasi lapangan yang mencakup proses pencatatan atau pendeskripsian koleksi, serta dilengkapi dengan data hasil pemotretan. Seluruh data koleksi dianalisis untuk melihat atribut penting yang mampu merepresentasikan identitas sejarah dan budaya Kerajaan Gowa pada masa lampau. Identitas yang dimaksud adalah ciri khas dan karakter khusus yang membedakan Kerajaan Gowa dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. Melalui penelitian ini, diketahui bahwa koleksi di Museum Balla Lompoa Sungguminasa merepresentasikan identitas Kerajaan Gowa yang tercermin melalui nilai-nilai kemaritiman, kejayaan, etnisitas, religiositas, dan perjuangan
PENGARUH SERTIFIKASI PENDIDIK TERHADAP PENINGKATAN PUBLIKASI ILMIAH DOSEN DI PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA
Pemerintah Indonesia sejak tahun 2008 telah menerapkan kebijakan sertifikasi kepada dosen. Kebijakan sertifikasi dosen memiliki tujuan meningkatkan kinerja dosen sehingga tercapai tujuan peningkatan mutu pembelajaran di pendidikan tinggi. Studi ini bertujuan menganalisis dampak program sertifikasi pendidik terhadap kinerja dosen dengan membandingkan perbedaan kinerja dosen yang telah memiliki sertifikatpendidik dengan dosen yang tidak bersertifikat pendidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif menggunakan analisis data sekunder model Difference-in-Difference (DiD), Regression Discontinuity Design (RDD), dan survey online kepada dosen. Sementara itu,pendekatan kualitatif dilakukan dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan diskusi kelompok terpumpun yang dianalisis dengan metode tematik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian sertifikasi dosen dan tunjangan profesi berhubungan dengan peningkatan kinerja publikasi dosen meski masih belum optimal. Untuk meningkatkan dampak sertifikasi dosen, pemerintah dapat melakukan penguatan bagi dosen yang telah bersertifikat pendidik untuk memahami kinerja dosen yangditentukan. Di samping itu, pada pelaporan kinerja di dalam Laporan Kinerja Dosen (LKD) perlu ditambahkan angka pencapaian minimal untuk setiap jabatan dosen dan mencakup aspek Tri Dharma
Sejarah Rumah Tradisional Umah Pitu Ruang di Tanah Gayo, Aceh
This research discusses about umah pitu ruang found in the Gayo community in Tanah Gayo, Aceh. The purpose of the study is to describe the meaning umah pitu ruang and the history of the emergence of umah pitu ruang in the Gayo community. This study uses the historical method using five stages, namely topic selection, heuristics, verification, interpretation, and historiography. The results showed that umah pitu ruang is a series of words from the Gayo language, umah means house, pitu means seven, and space means space. Thus, umah pitu ruang can be interpreted as a house with seven rooms. The term umah itself is the influence of Austronesian traditions and languages. Umah pitu ruang is thought to have appeared hundreds of years ago long before the emergence of the Linge Kingdom. It all started with the arrival of the ancestors of the Gayo tribe who initially lived in baking pans but later built simple stilt houses. Over time, the number of residents, cultural, and customary knowledge that developed led to the emergence of umah pitu ruang