Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
    555 research outputs found

    The Practice and Challenges of Differentiated Instruction Implementation: A Case Study at SMP Islam de Green Camp

    Full text link
    This study explores the strategies employed by English teachers at SMP Islam De Green Camp, Tanjungpinang, for implementing Differentiated Instruction in alignment with the Kurikulum Merdeka in English classes, as well as the challenges they face in doing so. A descriptive qualitative approach was used, incorporating observations, interviews, questionnaires, and documentation. The participants included three English teachers, six inclusive students, and fifty-two regular students. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, which involves data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the implementation of Differentiated Instruction at this school is still developing, with content differentiation requiring further enhancement compared to other aspects of differentiation. Teachers are actively adapting teaching strategies, assessments, and classroom environments to meet diverse student needs. Key challenges include varying learning needs, students’ negative attitudes towards English, and limited vocabulary and memorization skills. Despite these obstacles, teachers remain committed to advancing the practice of Differentiated Instruction through professional development, collaboration, and innovative teaching methods. In conclusion, while the implementation of Differentiated Instruction at SMP Islam De Green Camp is progressing, ongoing efforts in professional development and resource allocation are crucial to fully realizing its potential to support diverse student needs within the Kurikulum Merdeka framework.This study explores the strategies employed by English teachers at SMP Islam De Green Camp, Tanjungpinang, for implementing Differentiated Instruction in alignment with the Kurikulum Merdeka in English classes, as well as the challenges they face in doing so. A descriptive qualitative approach was used, incorporating observations, interviews, questionnaires, and documentation. The participants included three English teachers, six inclusive students, and fifty-two regular students. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, which involves data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the implementation of Differentiated Instruction at this school is still developing, with content differentiation requiring further enhancement compared to other aspects of differentiation. Teachers are actively adapting teaching strategies, assessments, and classroom environments to meet diverse student needs. Key challenges include varying learning needs, students’ negative attitudes towards English, and limited vocabulary and memorization skills. Despite these obstacles, teachers remain committed to advancing the practice of Differentiated Instruction through professional development, collaboration, and innovative teaching methods. In conclusion, while the implementation of Differentiated Instruction at SMP Islam De Green Camp is progressing, ongoing efforts in professional development and resource allocation are crucial to fully realizing its potential to support diverse student needs within the Kurikulum Merdeka framework

    Front Cover

    No full text
    Front Cover Front Cover&nbsp

    Sistem Religi dan Makna pada Relief Yeh Pulu di Kabupaten Gianyar, Bali

    Full text link
    Kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh agama. Hal itu berlaku pula bagi kebudayaan Indonesia masa HinduBuddha. Studi ini meneliti relief Yeh Pulu dari sudut pandang agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem religi dan mengungkap makna yang terkandung dalam pahatan relief Yeh Pulu. Studi ini dilakukan dengan cara mengunjungi langsung ke Situs Yeh Pulu, lalu dilakukan pengamatan, pencatatan, dan pengambilan gambar. Data dianalisis mengunakan analisis kontekstual dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relief Yeh Pulu memiliki sembilan panil relief yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan masa lalu. Terdapat empat komponen sistem religi yang terkandung dalam rangkaian relief Yeh Pulu. Pertama, konsepsi ketuhanan diwujudkan dengan penggambaran tokoh Ganesha dan Krsna (Avatara Wisnu). Kedua, tokoh dan umat agama sejumlah 18 tokoh dengan rincian 12 laki-laki dan 6 perempuan. Ketiga, indikasi adanya upacara agama disimbolkan dengan keberadaan kendi yang keluar asapnya. Jenis upacara yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa, pendirian bangunan suci, penyucian bangunan suci, pemberian persembahan kepada rsi, dan praktik tantrayana. Keempat, sarana keagamaan yang digunakan adalah kendi, buyung, kayu/bambu, cangkul, tombak, tali, dan tongkat yang ujungnya seperti mangkuk. Makanan yang disajikan terbuat dari bahan tanaman dan hewan buruan. Makna yang terkandung dalam ukiran relief Yeh Pulu adalah siklus kehidupan, kegiatan keagamaan, kesuburan, dan keragaman.Kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh agama. Hal itu berlaku pula bagi kebudayaan Indonesia masa HinduBuddha. Studi ini meneliti relief Yeh Pulu dari sudut pandang agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem religi dan mengungkap makna yang terkandung dalam pahatan relief Yeh Pulu. Studi ini dilakukan dengan cara mengunjungi langsung ke Situs Yeh Pulu, lalu dilakukan pengamatan, pencatatan, dan pengambilan gambar. Data dianalisis mengunakan analisis kontekstual dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relief Yeh Pulu memiliki sembilan panil relief yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan masa lalu. Terdapat empat komponen sistem religi yang terkandung dalam rangkaian relief Yeh Pulu. Pertama, konsepsi ketuhanan diwujudkan dengan penggambaran tokoh Ganesha dan Krsna (Avatara Wisnu). Kedua, tokoh dan umat agama sejumlah 18 tokoh dengan rincian 12 laki-laki dan 6 perempuan. Ketiga, indikasi adanya upacara agama disimbolkan dengan keberadaan kendi yang keluar asapnya. Jenis upacara yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa, pendirian bangunan suci, penyucian bangunan suci, pemberian persembahan kepada rsi, dan praktik tantrayana. Keempat, sarana keagamaan yang digunakan adalah kendi, buyung, kayu/bambu, cangkul, tombak, tali, dan tongkat yang ujungnya seperti mangkuk. Makanan yang disajikan terbuat dari bahan tanaman dan hewan buruan. Makna yang terkandung dalam ukiran relief Yeh Pulu adalah siklus kehidupan, kegiatan keagamaan, kesuburan, dan keragaman

    back cover

    No full text
    Back Cove

    Pengaruh Bantuan Operasional Sekolah terhadap Angka Partisipasi Sekolah Anak Penyandang Disabilitas di Kabupaten/Kota Indonesia

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan kepada Sekolah Luar Biasa (SLB) terhadap Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak disabilitas pada tingkat kabupaten/kota di tahun 2020-2021. Penelitian ini menggunakan metode analisis data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara dana BOS yang diberikan untuk SLB terhadap APS anak disabilitas. Adapun variabel independen yang berpengaruh signifikan yaitu persentase disabilitas berat, persentase disabilitas yang tinggal di wilayah urban, rasio ketersediaan sekolah inklusi, rata-rata lama sekolah, dan regional. Sedangkan variabel independen yang tidak signifikan yaitu variabel rasio guru-siswa SLB, rasio ketersediaan SLB, PDRB per kapita, dan usia harapan hidup. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya evaluasi terhadap program BOS untuk SLB dengan mempertimbangkan kebutuhan riil operasional di sekolah, jenjang pendidikan, dan jenis kebutuhan atau gangguan yang dialami oleh siswa penyandang disabilitas. Selain itu, perlu ditingkatkan bantuan untuk keluarga dengan anak penyandang disabilitas guna meringankan biaya personal pendidikan anak penyandang disabilitas.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan kepada Sekolah Luar Biasa (SLB) terhadap Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak disabilitas padatingkat kabupaten/kota di tahun 2020-2021. Penelitian ini menggunakan metode analisis data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara dana BOS yang diberikan untukSLB terhadap APS anak disabilitas. Adapun variabel independen yang berpengaruh signifikan yaitu persentase disabilitas berat, persentase disabilitas yang tinggal di wilayah urban, rasio ketersediaan sekolah inklusi,rata-rata lama sekolah, dan regional. Sedangkan variabel independen yang tidak signifikan yaitu variabel rasio guru-siswa SLB, rasio ketersediaan SLB, PDRB per kapita, dan usia harapan hidup. Hasil tersebut menunjukkanbahwa perlu adanya evaluasi terhadap program BOS untuk SLB dengan mempertimbangkan kebutuhan riil operasional di sekolah, jenjang pendidikan, dan jenis kebutuhan atau gangguan yang dialami oleh siswa penyandang disabilitas. Selain itu, perlu ditingkatkan bantuan untuk keluarga dengan anak penyandang disabilitas guna meringankan biaya personal pendidikan anak penyandang disabilitas

    Analisis Kategorisasi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Empat Sekolah Dasar di SD se-Gugus II Kapanewon Playen, Gunung Kidul

    No full text
    Berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa kelas empat sekolah dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.  Sampel penelitian sebanyak 61 siswa berasal dari SD se-gugus II Kapanewon Playen Kabupaten Gunungkidul , Daerah Istimewa Yogyakarta.  Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes dengan indikator menginterpretasi, menganalisis, dan mengevaluasi. Data dianalisis secara deskriptif yang mencakup ketiga indikator dengan kategori kategori sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor berpikir kritis siswa berada pada kategori cukup.  Lebih jauh, pada indikator menginterpretasi didominasi kategori cukup, pada indikator menganalisis didominasi kategori baik, dan  pada indikator mengevaluasi didominasi kategori cukup.  Dengan demikian,  kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV sekolah dasar tersebut berada pada kategori cukup.  Namun demikian, terdapat perbedaan kemampuan pada pada masing-masing indikator. Berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan abad 21. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa kelas empat sekolah dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.  Sampel penelitian sebanyak 61 siswa berasal dari SD se-gugus II Kapanewon Playen Kabupaten Gunungkidul , Daerah Istimewa Yogyakarta.  Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes dengan indikator menginterpretasi, menganalisis, dan mengevaluasi. Data dianalisis secara deskriptif yang mencakup ketiga indikator dengan kategori kategori sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor berpikir kritis siswa berada pada kategori cukup.  Lebih jauh, pada indikator menginterpretasi didominasi kategori cukup, pada indikator menganalisis didominasi kategori baik, dan  pada indikator mengevaluasi didominasi kategori cukup.  Dengan demikian,  kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV sekolah dasar tersebut berada pada kategori cukup.  Namun demikian, terdapat perbedaan kemampuan pada pada masing-masing indikator.&nbsp

    Sexuality Education for Early Childhood: Themes, Methods, and Perceptions of Raudhatul Athfal (RA) Educators

    Full text link
    Sexuality education equips children with knowledge about the functions of genital organs, help them maintain hygiene, and protect themselves from sexual violence. This study aims to investigate the themes, methods, and perceptions of educators regarding sexuality education. The research utilized a quantitative survey involving 247 educators. An online questionnaire with both closed and open-ended questions was employed as the research instrument, and the data were analyzed using descriptive statistical methods for closed questions and qualitative methods for open-ended questions. The content validity of the instrument was established through validation by psychologists, indicating that the questionnaire could be effectively used. The reliability of the instrument was assessed using Cronbach’s Alpha. The results indicated that the majority of respondents emphasized the importance of introducing sexuality education at an early stage. However, the lack of knowledge regarding suitable themes, limited teaching materials, and negative societal stigma were identified as significant challenges. Despite these obstacles, respondents acknowledged the importance of teaching various themes, such as protecting sensitive areas, maintaining the health and hygiene of genital organs, addressing religious norms related to interactions with the opposite sex, and respecting the privacy of others. Respondents suggested that the most effective methods for introducing these themes included the use of songs, fairy tales, and role-playing activities. The pedagogical implication of this study underscores the need to enhance educators’ knowledge about sexuality education and provide them with adequate teaching materials.Sexuality education equips children with knowledge about the functions of genital organs, help them maintain hygiene, and protect themselves from sexual violence. This study aims to investigate the themes, methods, and perceptions of educators regarding sexuality education. The research utilized a quantitative survey involving 247 educators. An online questionnaire with both closed and open-ended questions was employed as the research instrument, and the data were analyzed using descriptive statistical methods for closed questions and qualitative methods for open-ended questions. The content validity of the instrument was established through validation by psychologists, indicating that the questionnaire could be effectively used. The reliability of the instrument was assessed using Cronbach’s Alpha. The results indicated that the majority of respondents emphasized the importance of introducing sexuality education at an early stage. However, the lack of knowledge regarding suitable themes, limited teaching materials, and negative societal stigma were identified as significant challenges. Despite these obstacles, respondents acknowledged the importance of teaching various themes, such as protecting sensitive areas, maintaining the health and hygiene of genital organs, addressing religious norms related to interactions with the opposite sex, and respecting the privacy of others. Respondents suggested that the most effective methods for introducing these themes included the use of songs, fairy tales, and role-playing activities. The pedagogical implication of this study underscores the need to enhance educators’ knowledge about sexuality education and provide them with adequate teaching materials

    Daftar Isi, Editorial, Lembar Abstrak

    No full text
    Daftar Isi Daftar Isi&nbsp

    Pedoman Penulisan

    No full text
    Pedoman Penulisan&nbsp

    Pemanfaatan Fitur Pelatihan Mandiri dalam Memahami Kurikulum Merdeka

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk megetahui bagaimana respon dan pendapat para pendidik mengenai fitur Pelatihan Mandiri pada Platform Merdeka Mengajar. Lima aspek yang diteliti meliputi kemudahan akses, tampilan, konten/materi, keterampilan, dan kebermanfaatan. Metode penelitian berupa statistik deskriptif dengan teknik pengambilan data survei melalui kuesioner tertutup dengan menggunakan skala Likert. Subjek penelitian adalah pendidik di Sekolah Penggerak yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka di Kepulauan Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur Pelatihan Mandiri bagi para penggunanya mudah diakses, tampilan dapat menfasilitasi gaya belajar, topik yang disediakan beragam dan relevan dengan kebutuhan, memberikan kemudahan dalam menyelesaikan aksi nyata, dan membantu mendapatkan pemahaman utuh terkait implementasi kurikulum Merdeka. Dengan demikian, fitur Pelatihan Mandiri efektif digunakan sebagai platform pembelajaran mandiri untuk memahami dan mengimplementasikan Kurikulum MerdekaPenelitian ini bertujuan untuk megetahui bagaimana respon dan pendapat para pendidik mengenai fitur Pelatihan Mandiri pada Platform Merdeka Mengajar. Lima aspek yang diteliti meliputi kemudahan akses, tampilan, konten/materi, keterampilan, dan kebermanfaatan. Metode penelitian berupa statistik deskriptif dengan teknik pengambilan data survei melalui kuesioner tertutup dengan menggunakan skala Likert. Subjek penelitian adalah pendidik di Sekolah Penggerak yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka di Kepulauan Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur Pelatihan Mandiri bagi para penggunanya mudah diakses, tampilan dapat menfasilitasi gaya belajar, topik yang disediakan beragam dan relevan dengan kebutuhan, memberikan kemudahan dalam menyelesaikan aksi nyata, dan membantu mendapatkan pemahaman utuh terkait implementasi kurikulum Merdeka. Dengan demikian, fitur Pelatihan Mandiri efektif digunakan sebagai platform pembelajaran mandiri untuk memahami dan mengimplementasikan Kurikulum Merdek

    424

    full texts

    555

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇