Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
555 research outputs found
Sort by
Pemodelan Kemampuan Literasi Membaca Siswa di Indonesia dengan Pendekatan Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS)
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan literasi membaca siswa di Indonesia serta mengidentifikasi variabel penting yang memengaruhi kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan Multivariate Adaptive Regression Spline (MARS). Data yang digunakan adalah survei PISA Indonesia tahun 2022 dengan melibatkan 16 variabel prediktor dan 1 variabel respon. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kemampuan literasi membaca siswa Indonesia adalah 375,296, yang menempatkan Indonesia pada level 1c atau peringkat rendah. Dari 16 variabel prediktor, variabel indeks dukungan keluarga memiliki pengaruh terbesar terhadap skor literasi membaca PISA 2022 di Indonesia. Peningkatan indeks dukungan keluarga secara langsung dapat meningkatkan skor literasi membaca sebesar 33,921 pada setiap siswa di Indonesia. Selain itu, terdapat 4 variabel penting lainnya yang berinteraksi dengan indeks dukungan keluarga dalam memengaruhi skor literasi membaca yaitu status ekonomi, sosial, dan budaya keluarga,dukungan keluarga terhadap pembelajaran mandiri, ketersediaan sumber daya TIK, dan serta rasa ingin tahu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kemampuan literasi membaca siswa di Indonesia masih tergolong rendah dan variabel dukungan keluarga terbukti memiliki pengaruh paling besar terhadap skor literasi membaca disamping variabel lainnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa melalui berbagai intervensi kebijakan yang mempertimbangkan dukungan keluarga sebagai faktor utama.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan literasi membaca siswa di Indonesia serta mengidentifikasi variabel penting yang memengaruhi kemampuan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan Multivariate Adaptive Regression Spline (MARS). Data yang digunakan adalah survei PISA Indonesia tahun 2022 dengan melibatkan 16 variabel prediktor dan 1 variabel respon. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kemampuan literasi membaca siswa Indonesia adalah 375,296, yang menempatkan Indonesia pada level 1c atau peringkat rendah. Dari 16 variabel prediktor, variabel indeks dukungan keluarga memiliki pengaruh terbesar terhadap skor literasi membaca PISA 2022 di Indonesia. Peningkatan indeks dukungan keluarga secara langsung dapat meningkatkan skor literasi membaca sebesar 33,921 pada setiap siswa di Indonesia. Selain itu, terdapat 4 variabel penting lainnya yang berinteraksi dengan indeks dukungan keluarga dalam memengaruhi skor literasi membaca yaitu status ekonomi, sosial, dan budaya keluarga,dukungan keluarga terhadap pembelajaran mandiri, ketersediaan sumber daya TIK, dan serta rasa ingin tahu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kemampuan literasi membaca siswa di Indonesia masih tergolong rendah dan variabel dukungan keluarga terbukti memiliki pengaruh paling besar terhadap skor literasi membaca disamping variabel lainnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa melalui berbagai intervensi kebijakan yang mempertimbangkan dukungan keluarga sebagai faktor utama. 
Implementasi Kebijakan Penguatan Karakter: Studi Kasus pada Jenjang SMP di Kabupaten Lebak
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi program penguatan karakter pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Lebak, mengidentifikasi penghambat implementasi, dan menyusun rekomendasi strategi untuk mempercepat implementasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus dan subjek penelitian yaitu para pemangku kepentingan pada jenjang sekolah SMP di Kabupaten Lebak, Banten. Sumber data penelitian adalah wawancara terhadap informan, studi dokumentasi, dan angket/kuesioner yang dianalisis berdasarkan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak belum memiliki dokumen kebijakan yang dapat digunakan sebagai acuan perencanaan anggaran dan program penguatan karakter sehingga intervensi lanjutan pemerintah daerah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak masih terbatas. Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan pemahaman guru terhadap pembiasaan nilai-nilai profil pelajar Pancasila dan terbatasnya partisipasi aktif orang tua dan komunitas dalam penguatan karakter di dalam dan luar sekolah. Untuk itu, diperlukan strategi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu advokasi penyusunan dokumen kebijakan penguatan karakter, peningkatan kapasitas guru, serta pelibatan aktif orang tua dan mitra pendidikan. Kesimpulan, Implementasi kebijakan penguatan karakter pada Jenjang SMP di Kabupaten Lebak membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan tersebut diperlukan penyusunan kebijakan yang lebih dan jelas dan terustuktur di samping peningkatan kapasitas semua pihak terkait.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi program penguatan karakter pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Lebak, mengidentifikasi penghambat implementasi, dan menyusun rekomendasi strategi untuk mempercepat implementasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus dan subjek penelitian yaitu para pemangku kepentingan pada jenjang sekolah SMP di Kabupaten Lebak, Banten. Sumber data penelitian adalah wawancara terhadap informan, studi dokumentasi, dan angket/kuesioner yang dianalisis berdasarkan model implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak belum memiliki dokumen kebijakan yang dapat digunakan sebagai acuan perencanaan anggaran dan program penguatan karakter sehingga intervensi lanjutan pemerintah daerah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak masih terbatas. Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan pemahaman guru terhadap pembiasaan nilai-nilai profil pelajar Pancasila dan terbatasnya partisipasi aktif orang tua dan komunitas dalam penguatan karakter di dalam dan luar sekolah. Untuk itu, diperlukan strategi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu advokasi penyusunan dokumen kebijakan penguatan karakter, peningkatan kapasitas guru, serta pelibatan aktif orang tua dan mitra pendidikan. Kesimpulan, Implementasi kebijakan penguatan karakter pada Jenjang SMP di Kabupaten Lebak membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Untuk mendukung keberhasilan implementasi kebijakan tersebut diperlukan penyusunan kebijakan yang lebih dan jelas dan terustuktur di samping peningkatan kapasitas semua pihak terkait
Persepsi Guru terhadap Pemanfaatan ChatGPT dalam Mengem bangankan Soal Literasi Membaca: Studi Kasus pada Sekolah Menengah di Provinsi Riau
Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi guru terhadap pemanfaatan ChatGPT dalam merancang soal literasi membaca dan mengkaji prompt yang digunakan guru untuk merancang soal. Penelitian ini menerapkan instrumen kuesioner dan wawancara dengan melibatkan 120 guru Bahasa Indonesia yang ada di Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap pemanfaatan ChatGPT dalam merancang soal literasi membaca rata-rata bersifat positif. Dengan menggunakan prompt yang telah didesain dengan baik, guru dapat membuat soal literasi membaca yang kompleks. Namun demikian, peran esensial guru tidak dapat digantikan dengan adanya ChatGPT. Kesimpulan, di tengah respon positif terhadap kemanfaatan ChatGPT, guru harus terampil dalam mengevaluasi soal literasi membaca yang dihasilkan dari ChatGPT dan menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa.Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi guru terhadap pemanfaatan ChatGPT dalam merancang soal literasi membaca dan mengkaji prompt yang digunakan guru untuk merancang soal. Penelitian ini menerapkan instrumen kuesioner dan wawancara dengan melibatkan 120 guru Bahasa Indonesia yang ada di Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap pemanfaatan ChatGPT dalam merancang soal literasi membaca rata-rata bersifat positif. Dengan menggunakan prompt yang telah didesain dengan baik, guru dapat membuat soal literasi membaca yang kompleks. Namun demikian, peran esensial guru tidak dapat digantikan dengan adanya ChatGPT. Kesimpulan, di tengah respon positif terhadap kemanfaatan ChatGPT, guru harus terampil dalam mengevaluasi soal literasi membaca yang dihasilkan dari ChatGPT dan menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa
Karakteristik Penduduk Miskin dalam Hubungannya dengan Partisipasi pada Perguruan Tinggi di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum dan variabel yang memengaruhi partisipasi perguruan tinggi pada kelompok 20% penduduk termiskin di Indonesia tahun 2023. Penelitian kuantitatif ini menggunakan data yang bersumber dari Susenas Maret 2023 dan dianalisis menggunakan regresi logistik biner. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hanya 32,28% penduduk miskin yang berpartisipasi dalam perguruan tinggi. Variabel yang signifikan berpengaruh terhadap status partisipasi penduduk miskin pada perguruan tinggi di antaranya tingkat pendidikan kepala rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, status bekerja penduduk, jenis kelamin, dan status penerimaan Program Indonesia Pintar (PIP). Temuan dalam penelitian ini adalah penduduk miskin yang menerima PIP memiliki kecenderungan paling besar untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak terkait perlu memperluas beasiswa dan informasi beasiswa perguruan tinggi terhadap penduduk miskin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum dan variabel yang memengaruhi partisipasi perguruan tinggi pada kelompok 20% penduduk termiskin di Indonesia tahun 2023. Penelitian kuantitatif ini menggunakan data yang bersumber dari Susenas Maret 2023 dan dianalisis menggunakan regresi logistik biner. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa hanya 32,28% penduduk miskin yang berpartisipasi dalam perguruan tinggi. Variabel yang signifikan berpengaruh terhadap status partisipasi penduduk miskin pada perguruan tinggi di antaranya tingkat pendidikan kepala rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, status bekerja penduduk, jenis kelamin, dan status penerimaan Program Indonesia Pintar (PIP). Temuan dalam penelitian ini adalah penduduk miskin yang menerima PIP memiliki kecenderungan paling besar untuk berpartisipasi. Oleh karena itu, pemerintah dan pihak terkait perlu memperluas beasiswa dan informasi beasiswa perguruan tinggi terhadap penduduk miskin
Daftar Isi, Editorial, Lembar Abstrak
Daftar Isi, Editorial, Lembar Abstrak Daftar Isi, Editorial, Lembar Abstrak 
Persepsi Calon Guru Sekolah Dasar Terhadap Pengajaran Folklor: Studi Kasus pada Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi calon guru sekolah dasar mengenai relevansi folklor pada pembelajaran pada masa kini dan masa yang akan datang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif. Informan penelitian ini adalah calon guru sekolah dasar. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara individu dengan teknik semi terstruktur. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis yang digunakan ialah teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para calon guru mempersepsikan folklor memiliki urgensi untuk diajarkan di sekolah dasar khususnya dalam pembelajaran sastra karena memiliki nilai didaktis terutama dalam pendidikan karakter dan merupakan salah satu upaya dalam pelestarian budaya. Namun, sebagian calon guru lebih memilih sastra modern sebagai bahan ajar karena ceritanya lebih menarik dan lebih kontekstual dengan perkembangan zaman. Temuan tersebut mengindikasikan calon guru sekolah dasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai pembelajaran folklore di sekolah. Kesimpulan, baik folklor maupun sastra modern memiliki potensi yang sama untuk diajarkan kepada peserta didik karena keduanya memberikan nilai edukatif yang relevan terutama dalam pengembangan karakter. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara folklor dan sastra modern dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar untuk menciptakan keseimbangan antara pengajaran nilai lokal dan kontekstualisasi zaman modern.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi calon guru sekolah dasar mengenai relevansi folklor pada pembelajaran pada masa kini dan masa yang akan datang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deksriptif. Informan penelitian ini adalah calon guru sekolah dasar. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara individu dengan teknik semi terstruktur. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis yang digunakan ialah teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para calon guru mempersepsikan folklor memiliki urgensi untuk diajarkan di sekolah dasar khususnya dalam pembelajaran sastra karena memiliki nilai didaktis terutama dalam pendidikan karakter dan merupakan salah satu upaya dalam pelestarian budaya. Namun, sebagian calon guru lebih memilih sastra modern sebagai bahan ajar karena ceritanya lebih menarik dan lebih kontekstual dengan perkembangan zaman. Temuan tersebut mengindikasikan calon guru sekolah dasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai pembelajaran folklore di sekolah. Kesimpulan, baik folklor maupun sastra modern memiliki potensi yang sama untuk diajarkan kepada peserta didik karena keduanya memberikan nilai edukatif yang relevan terutama dalam pengembangan karakter. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara folklor dan sastra modern dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar untuk menciptakan keseimbangan antara pengajaran nilai lokal dan kontekstualisasi zaman modern
Desain Instrumen Pengukuran Literasi Lingkungan Siswa SMA dengan Menggubakan Pendekatan Model Rasch
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen pengukuran literasi lingkungan siswa dengan menggunakan pendekatan model Rasch serta mengetahui gambaran secara umum tingkat literasi lingkungan siswa berdasarkan instrumen pengukuran yang dikembangkan. Jenis penelitian ini ialah penelitian dan pengembangan dengan mengadaptasi model pengembangan Mark Wilson. Subjek ujicoba dalam penelitian ini ialah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri kelas XI yang terdapat di Kabupaten Gowa sebanyak 350 responden yang tersebar dari 5 sekolah Negeri. Pemilihan sampel menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup dua jenis yaitu lembar validasi ahli dan instrumen pengukuran yang dikembangkan. Teknik analisis adalah analisis validitas isi menggunakan formula Aiken V dan analisis karakteristik butir menggunakan model Rasch. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dalam analisis validitas Aiken V terdapat 45 butir yang memiliki nilai indeks V > 0,60. Kemudian, dalam analisis karakteristik butir menggunakan model Rasch menunjukkan bahwa terdapat 38 butir yang fit. Pada ujicoba instrument tes literasi lingkungan yang dikembangkan diketahui bahwa pada umumnya siswa berada pada pengelompokan abilitas yang rendah. Kesimpulan, pengembangan instrumen layak digunakan untuk mengukur literasi lingkungan dan pada umumnya tingkat kecakapan literasi lingkungan siswa dikategorikan rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya upaya lebih lanjut kebijakan pendidikan untuk meningkatkan literasi lingkungan dan tanggung jawab di kalangan generasi muda.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen pengukuran literasi lingkungan siswa dengan menggunakan pendekatan model Rasch serta mengetahui gambaran secara umum tingkat literasi lingkungan siswa berdasarkan instrumen pengukuran yang dikembangkan. Jenis penelitian ini ialah penelitian dan pengembangan dengan mengadaptasi model pengembangan Mark Wilson. Subjek ujicoba dalam penelitian ini ialah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri kelas XI yang terdapat di Kabupaten Gowa sebanyak 350 responden yang tersebar dari 5 sekolah Negeri. Pemilihan sampel menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini mencakup dua jenis yaitu lembar validasi ahli dan instrumen pengukuran yang dikembangkan. Teknik analisis adalah analisis validitas isi menggunakan formula Aiken V dan analisis karakteristik butir menggunakan model Rasch. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dalam analisis validitas Aiken V terdapat 45 butir yang memiliki nilai indeks V > 0,60. Kemudian, dalam analisis karakteristik butir menggunakan model Rasch menunjukkan bahwa terdapat 38 butir yang fit. Pada ujicoba instrument tes literasi lingkungan yang dikembangkan diketahui bahwa pada umumnya siswa berada pada pengelompokan abilitas yang rendah. Kesimpulan, pengembangan instrumen layak digunakan untuk mengukur literasi lingkungan dan pada umumnya tingkat kecakapan literasi lingkungan siswa dikategorikan rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya upaya lebih lanjut kebijakan pendidikan untuk meningkatkan literasi lingkungan dan tanggung jawab di kalangan generasi muda